Chapter 3-B: We Don't Know The Answer


.

.

"Ooooooo!"

Semangat mereka kembali berkobar, menyerang musuh tanpa ampun hingga membuat mereka semua kewalahan. Tapi meski begitu sudah banyak orang-orang Dragneel yang terluka dan bahkan Natsu sendiri sudah mendapatkan banyak luka. Natsu memerintahkan pada yang terluka parah dan masih bisa berjalan untuk menuju unit medis. Sementara mereka yang hanya mengalami luka ringan harus tetap ditempat dan menghabisi musuh.

Sial. Meski jumlahnya sedikit mereka cukup gigih dan terus menyerang meskipun sudah terluka. Jika begini, mereka tidak akan sempat menuju divisi dua. Bagaimana jika musuh sudah memasuki benteng?!

Karena memikirkannya Natsu lengah, ia tidak sadar seseorang kini sudah mengincarnya dari arah samping.

"Celaka!"

Set! Zringg!

Natsu terkejut saat Igneel kini menahan pedang dari orang yang baru saja akan menebasnya itu.

"Apa yang kau pikirkan disaat seperti ini?! Jumlah musuh sudah berkurang. Tapi itu masih belum cukup. Segera habisi mereka!"

"Maafkan aku!"

Dengan itu Natsu pun kembali fokus pada musuh yang ada dihadapannya. Ia dan semua prajuritnya terus berjuang. Demi Gray dan yang lainnya juga.

Saat ini Natsu tak memikirkan apapun. Ia terlalu fokus untuk menyerang mereka semua. Dan tanpa mereka sadari, musuh dihadapan mereka kini sudah tergeletak tak berdaya. Tak ada satupun dari mereka yang mampu berdiri. Itu artinya mereka telah menang.

Natsu segera menyuruh sebagian pasukannya untuk tetap tinggal dan mengikat mereka. Memastikan bahwa orang-orang ini tidak memasuki gerbang klan ataupun kembali menyerang mereka.

Setelah komando yang berikutnya dari Natsu, mereka semua berbondong-bondong menyerbu kearah utara.

Setibanya disana, Gray benar-benar dalam keadaan terdesak. Hampir setengah dari pasukannya telah dikalahkan. Mereka terpukul mundur hingga pertarungan terjadi di mulut gerbang.

"Ini kesempatan kita! Kepung mereka!"

Drap.. Drap.. Drap..

Divisi Natsu berlari mengepung lawan. Membuat mereka kini terlihat kebingungan. Mereka pikir bisa memasuki benteng dan menghancurkan segalanya agar Dragneel mau menyerah. Tapi siapa sangka Dragneel malah mengepung dari arah belakang.

"Maaf, aku terlambat Gray!" ujar Natsu sambil mulai menebas musuhnya.

"Jangan mengatakan itu seolah aku akan menyebutmu pahlawan!" balas Gray.

Meski bala bantuan telah datang, tetap saja mereka kini telah memasuki benteng. Jika pasukan Gray dihabisi seperti ini, mereka semua pasti akan membantai seluruh unit medis dan tidak ada lagi cara untuk mengobati mereka.

Pertarungan sudah berlangsung sangat lama. Sial. Mereka jauh lebih kuat dari yang diperkirakan.

Gray mulai panik. Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak mungkin memaksa prajuritnya yang sudah terluka parah untuk tetap bertarung. Apapun yang terjadi ia dan yang masih tersisa harus melindungi unit medis yang juga tengah berjuang menyembuhkan yang terluka.

"Seraaaangg!"

Natsu dan Gray menoleh kearah selatan, saat suara gagah dari seorang perempuan yang sangat mereka kenal itu terdengar.

"Erza!"

Terlihatlah Erza dan seluruh pasukannya berlari menuju kesana. Rupanya Erza memiliki taktik yang bagus untuk menyerbu mereka dari dalam melalui gerbang selatan yang langsung menuju ke gerbang utara. Ini bagus. Musuh benar-benar terkepung sekarang.

Kembali fokus, kini Gray sedang berhadapan dengan seorang laki-laki dengan wajah penuh tindikan dan Natsu tengah saling mengunci pedang dengan seorang pria paruh baya dengan ekor mata yang terlihat melengkung.

Pria itu mendorong pedangnya dengan kuat, membuat Natsu terdorong kebelakang dan pedangnya hampir mengenai dirinya sendiri.

Sial. Dia kuat sekali.

Natsu terus berusaha sekuat tenaga untuk mendorong balik.

"Natsu! Dia adalah Metalicana!" teriak Igneel pada Natsu tanpa sedikitpun beralih dari musuhnya.

Metalicana? Jadi pria ini adalah pemimpin klan Redfox? Ini bagus. Jika Natsu bisa menjatuhkannya tanpa membunuhnya, mungkin mereka bisa menjadikannya sebagai tawanan.

"Aku mulai membara!" Natsu tersenyum sumringah, tiba-tiba saja semangatnya meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Ia mendorong pedangnya, dan membalik keadaan. Dengan lihai ia kembali mengayunkan pedangnya, sebisa mungkin berusaha melukai pria bernama Metalicana itu dengan membabi buta.

Seketika Metalicana dibuat kewalahan dengan semangat anak muda dihadapannya ini.

Lalu dengan tiba-tiba, ia mengayunkan pedangnya dengan begitu keras dan menebas lengan kiri Natsu.

"Arrghh!"

Natsu mengerang kesakitan, memegangi lengan kirinya yang kini mengeluarkan banyak darah karena terluka cukup dalam.

Metalicana tersenyum puas. "Semangatmu itu tidak ada gunanya, anak muda."

"Gh.." Natsu masih kesakitan. Namun kemudian ia menyeringai.

"Kau terlalu menikmatinya dan terkecoh dengan lukaku. Selama tanganku yang menggenggam pedang ini baik-baik saja, semuanya tidak ada artinya!"

Tiiingg! Zzttt!

Natsu memukul keras pedang Metalicana dengan pedangnya. Membuat pedang itu melayang diudara kemudian tertancap ditanah. Itu karena Metalicana sedang lengah.

Bagus, ia tanpa senjata sekarang.

Dengan cepat Natsu membekuk Metalicana dengan mejerat lehernya dengan lengan kirinya, kemudian mengarahkan ujung pedangnya tepat didepan lehernya. Metalicana tak bisa berkutik sekarang. Bergerak sedikit, atau pedang itu benar-benar akan menembus lehernya.

Seketika prajurit Redfox menghentikan semua serangan begitu melihat nyawa pemimpin mereka yang kini bisa melayang kapan saja.

Hening..

"Lepaskan ayahku!" laki-laki bertindik yang sedang Gray hadapi itu berteriak. Jadi dia anaknya?

"Kau lengah!"

Tanpa pikir panjang Gray memanfaatkan kesempatan itu, menghujamkan pedang pada laki-laki bertindik itu tepat di perut bagian kanannya, membuatnya jatuh tersungkur setelahnya.

"Gajeel-"

Metalicana langsung kembali terdiam saat Natsu kini sudah menempelkan ujung pedangnya. Semua prajurit Redfox hanya mematung ditempat. Dua orang dengan kedudukan paling penting dalam klannya kini sudah tak bisa berbuat apapun.

"Jangan pedulikan kami! Serang terus!" titah Metalicana.

Namun karena kesetiaan mereka, tak satupun dari prajurit itu yang berani menyerang.

"Kami tidak mencari darah! Kami semua mencari perdamaian! Turunkan senjata kalian dan jadilah sekutu kami! Kami membutuhkan kekuatan kalian untuk perdamaian itu sendiri! Aku mohon, demi nyawa pemimpin kalian. Jadilah sekutu kami dan bentuklah perdamaian bersama kami!"

Teriak Natsu lantang. Semua prajurit Redfox kini terheran-heran. Mereka sudah menyerang Dragneel dan mereka malah diminta untuk menjadi sekutu, apa ini sungguhan? Bagaimana jika semua itu hanya kedok untuk mengambil alih kekuasaan dan sumber daya yang mereka miliki? Bahkan meskipun itu demi nyawa pemimpin mereka, mereka masih tak bisa mempercayainya.

"Aku tidak ingin ada lagi darah yang tumpah. Kumohon, mari berdamai dan jadilah sekutu! Akan kita bentuk aliansi terkuat yang pernah ada demi menaklukkan seluruh klan dan membentuk kerajaan damai!"

"Kerajaan? Hal konyol seperti itu hanyalah mimpi! Selama mereka masih hidup di dunia ini, tak akan ada yang namanya perdamaian! Perdamaian hanyalah mimpi!" teriak Metalicana dalam bekukan Natsu. Baginya perkataan Natsu itu hanyalah omong kosong.

"Karena itu.. karena itu aku masih hidup untuk mewujudkan mimpi itu."

Metalicana membelalakkan matanya. Ia menatap Natsu yang kini juga menatpnya. Didalam tatapan itu ia bisa melihat, sebuah tekad dan harapan yang tak pernah goyah. Meski begitu semuanya sudah terlambat. Dragneel sudah terlanjur melukai orang-orangnya.

"Lalu bagaimana dengan orang-orangku yang sudah kalian lukai?!"

"Kami tidak akan melakukannya jika kau tidak membahayakan anggota klan kami dan membuat kekacauan disini. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Akan kukerahkan seluruh tenaga medis untuk mengobati mereka. Akan aku berikan apapun yang kau mau. Aku mohon.. jadilah sekutu!"

"Aku tidak punya alasan untuk mempercayaimu!"

Natsu terdiam cukup lama. Ia kemudian melepaskan Metalicana, menyerahkan pedangnya membuat semua orang kini kembali bingung dengan apa yang akan Natsu lakukan.

"Jika kau masih tidak bisa mempercayaiku dan tidak bisa memaafkan Dragneel karena sudah melukai orang-orangmu.. maka sebagai gantinya, kau bisa mengambil kepalaku."

Semua orang tercengang.

Natsu benar-benar tidak main-main dengan perkataannya. Bukan hanya itu, tatapannya kini terlihat begitu tajam tanpa sedikitpun keraguan yang terlihat disana. Keberanian Natsu, benar-benar membuat Metalicana tak bisa berbuat apa-apa.

Ia kini menjatuhkan pedang Natsu, membuat semua prajurit Dragneel tersenyum lega. Mereka pikir Metalicana akan memenggal kepala Natsu sebelum menjadi sekutu mereka.

"Buktikan bahwa tekadmu itu bukan omong kosong."

Setelah berkata demikian, Metalicana memerintahkan seluruh prajuritnya untuk meninggalkan tempat itu dan kembali ke benteng mereka tanpa perlawanan dan membiarkan yang terluka untuk dirawat disini sesuai dengan perkataan Natsu yang akan bertanggung jawab untuk semuanya.

Kini Ia berpapasan dengan Igneel.

"Datanglah ketempatku bersama dengan putramu dan juga orang-orangku ini. Aku akan menjadi sekutumu, Igneel." Katanya.

"Dialah putraku."

"?"

"Pemuda yang menodongkan pedangnya padamu itu."

Mendengarnya membuat Metalicana terkejut, pantas saja ia seperti merasakan sebuah deja vu dengan semangat dan juga keberanian yang ada pada Natsu. Ia kemudian tersenyum.

"Kau punya putra yang luar biasa. Perdamaian yang dia katakan itu.. Aku akan menantikannya."

Setelah itu, Metalicana dan semua orang Redfox yang masih baik-baik saja pun pergi meninggalkan wilayah Dragneel, bertepatan dengan matahari terbit pagi itu.

"Kau berhasil, Natsu." Erza tersenyum.

Ya, mereka berhasil. Redfox akan menjadi sekutu mereka.

Natsu terkapar ditanah, rasanya begitu melelahkan. Meski begitu kini ia tersenyum senang kearah matahari terbit yang begitu hangat pagi itu. Burung-burung pun berkicau riang seolah ikut bergembira atas kemenangan mereka.

"Aku mau tidur sekarang." Natsu kini memejamkan matanya, tanpa peduli bahwa tempatnya berbaring itu adalah tanah.

"Kurasa aku juga." Sahut Gray yang kini ikut berbaring disamping Natsu.

"Kailan harus menyembuhkan luka kalian dulu dasar bodoh!" Erza kemudian langsung menyeret keduanya dengan kasar tak peduli dengan luka-luka mereka

itu.

.

.

.

Dengan sebuah nampan berisikan berbagai macam makanan, Erza kini melangkahkan kakinya menuju kamar Natsu. Sudah tiga jam setelah perang itu berakhir dan Natsu adalah tokoh kemenangan pada perang kali ini. Ia sedang berada di kamarnya dan ia butuh makan sekarang.

Krieeet!

"Natsu."

Erza diam ditempat melihat seisi kamar Natsu yang terlihat kosong.

Kemana bocah itu? Batinnya tak habis pikir dengan Natsu yang pergi seenaknya lagi. Sejam yang lalu dia ada disini dan sekarang sudah menghilang entah kemana dengan lukanya yang seperti itu? Ternyata ia memang harus memberi pelajaran pada Natsu.

"Persiapkan dirimu, Natsu Dragneel!"

.

.

Sementara itu yang Erza cari seperti biasa kini berada didekat air terjun didalam hutan. Terduduk sambil menyilangkan tangannya yang penuh dengan perban itu gelisah menunggu seseorang. Siapa lagi jika bukan Lucy? Ia ingin menceritakan banyak hal padanya hari ini.

"Selamat pagi, Natsu."

Setelah cukup lama menunggu akhirnya suara lembut dari gadis yang ia tunggu-tunggu itu pun terdengar. Mereka tidak pernah membuat janji sebelumnya tapi entah mengapa mereka selalu datang kesini disaat yang bersamaan.

"Yo, Luce!" Natsu menunjukkan grinsnya.

Namun bukannya balas tersenyum, Lucy kini melebarkan matanya terlihat begitu tercengang dengan Natsu yang hampir seluruh tubuhnya kini dibalut dengan perban.

"Natsu ada apa denganmu?!" ia duduk di samping Natsu dan mulai panik.

"Tidak usah memasang wajah seperti itu. Aku baru saja memenangkan perangku!" Natsu kembali nyengir lebar.

Perang? Memenangkan?

Seketika Lucy teringat akan berita invasi langsung Redfox ke Dragneel itu. Jadi Redfox sudah menyerang mereka? Dan mereka memenangkannya?

Lucy menganga lebar. Ternyata Dragneel memang sekuat yang dibicarakan.

"Perang? Kapan?" Lucy terheran-heran. Pasalnya Natsu masih baik-baik saja saat mereka bertemu kemarin.

"Mereka menyerang kami menjelang tengah malam. Lalu kami bertarung sampai pagi." Jawab Natsu.

Jadi mereka bertarung sampai pagi? Yang benar saja! Itu berarti Natsu sama sekali belum beristirahat. Laki-laki tangguh macam apa dia ini.

"Lalu apa yang terjadi setelah kalian menang?" tanya Lucy.

"Kau tau? Mereka bersedia menjadi sekutu kami dan akan meminjamkan kekuatannya untuk meraih perdamaian bersama-sama. Bukankah ini luar biasa Luce?" Ujar Natsu girang.

Lucy terhenyak. Dragneel akan bergabung denan Redfox? Sekuat apa mereka nantinya? Tidak, bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang.

Saat ini Natsu sedang terluka, ia juga sangat lelah setelah berperang berjam-jam dari malam hingga pagi tiba. Dia butuh istirahat. Tapi bagaimana untuk mengatakannya?

"Natsu.." panggilnya.

Natsu hanya menatapnya dengan tatapan –ada apa-

"Kau pasti lelah karena sudah berperang sepanjang malam. Apa kau tidak ingin istirahat saja dulu?" tanyanya dengan wajahnya yang entah mengapa terlihat malu-malu.

"Tidak juga. Berada disini sudah membuatku nyaman. Aku juga merasa lega karena bisa menemuimu." Natsu tersenyum.

Perkataannya itu sukses membuat wajah Lucy bersemu merah. Natsu merasa lega karena bisa menemuniya? Apa maksudnya? Lucy berteriak dalam pikirannya sendiri.

"Tetap saja, kau butuh istirahat."

"A-aku tau rasa lelahmu itu mungkin tidak bisa dihilangkan dengan cepat t-tapi.." lanjut Lucy dengan terbata-bata.

"Ada apa? katakan saja."

"M-maukah kau tidur di pangkuanku?"

Natsu hanya menatapnya heran. Beberapa saat kemudian terlihat wajah keduanya kini memerah.

Dan saat ini, Lucy tengah merutuki kebodohannya yang sudah mengatakan hal yang paling tidak bisa dia katakan itu. Apa-apaan dengan meminta Natsu tidur dipangkuannya seperti itu? Natsu pasti akan menertawainya dan menganggapnya aneh sekarang.

Syut

"Apa seperti ini?"

Lucy benar-benar terkejut saat tanpa mengatakan apapun Natsu langsung meletakkan kepalanya diatas pangkuan Lucy.

Ia menatap Natsu dengan wajah berbinar, tak menyangka bahwa Natsu benar-benar melakukan ini tanpa menertawakannya terlebih dahulu.

"B-bolehkah aku mengusap rambutmu?"

Kyaah Lucy! kau benar-benar sudah mengatakan hal-hal memalukan! Lucy meneriaki dirinya sendiri. Tapi ia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk melakukan itu. Ia sangat ingin membuat Natsu nyaman dan bisa beristirahat.

"Hmm.." Natsu hanya bergumam sebagai ganti dari kata iya.

Dengan tangan yang sedikit gemetaran Lucy mulai menyentuh helaian pinkish Natsu. Sudah ia duga rambutnya benar-benar sangat lembut. Sial. Jantungnya kini berdegup begitu kencang. Bagaimana jika Natsu mendengarnya.

"Rasanya nyaman sekali." Natsu memejamkan matanya.

Lucy kembali merona saat Natsu mengatakannya. Benarkah? Itu berarti Natsu dengan senang hati menerima perlakuannya ini. Ia merasa begitu senang sekarang.

"Lalu apa rencanamu setelah kalian menjadi sekutu?" tanya Lucy membuka pembicaraan baru yang sebenarnya sudah mereka bicarakan tadi.

Natsu yang masih menikmati sensasi menenangkan dikepalanya itu terdiam cukup lama. Namun akhirnya dia menjawab.

"Tentu saja kami akan membuat aliansi baru untuk menaklukkan klan besar yang lain dan mengajak mereka untuk berdamai selamanya." Jawab Natsu.

Lucy tertawa kecil, jawabannya itu begitu sederhana seperti jawaban yang ia dapat dari seorang anak kecil. Tapi itu tidak masalah baginya.

Ia tersenyum lembut. Natsu benar-benar melakukannya. Ia membuktikkan perkataannya untuk membawa semua orang menuju perdamaian dan juga cinta. Ini akan menjadi langkah pertama Natsu dalam hal itu. Mereka sama-sama tidak tau hal apa yang akan menghalangi jalan mereka nantinya. Tapi Lucy yakin, orang seperti Natsu akan terus melangkah maju dan menghadapi segalanya demi mimpinya itu.

Itu karena Natsu adalah orang yang baik, dan ia mempercayai Natsu lebih dari ia mempercayai dirinya sendiri. Meskipun ia tau, suatu saat nanti mereka pasti akan bertemu di medan perang.

"Natsu, bagaimana jika suatu saat nanti kita berhadapan di medan perang?"

Natsu terkejut saat tiba-tiba Lucy menanyakan hal itu. Apa yang harus ia jawab?

"Entahlah.. aku tidak yakin apakah aku akan sanggup melukaimu.." jawab Natsu.

Sanggup atau tidaknya Natsu melukai Lucy, pada akhirnya Natsu akan tetap membunuhnya, untuk membalaskan kematian ibunya. Lucy tau itu.

"Aku sangat ingin klan-klan itu mau untuk berdamai tanpa jalan kekerasan. Dengan begitu, kita berdua tidak akan bertemu di medan perang sebagai musuh."

Lucy tertegun. Apa Natsu mengatakan semua itu karena Natsu benar-benar tidak ingin melukai dirinya?

"Terima kasih, Natsu." gumamnya pelan.

"He? Untuk apa?" Natsu bingung.

"Terima kasih telah melakukan segalanya demi mimpi kita berdua. Aku merasa malu karena tidak bisa melakukan apapun demi perdamaian itu. Maaf karena sudah melimpahkan semua beban ini padamu. Padahal aku berjanji untuk mencarinya bersamamu. Tapi pada akhirnya kau berjuang sendirian.."

Natsu membuka matanya, menatap mata Lucy yang kini terlihat berkaca. Untuk apa dia menangis?

"Jangan sedih seperti itu Luce. Kau berada di pihakku saja itu sudah cukup." Natsu tersenyum manis, sangat menawan.

Lucy hanya menatapnya ragu. Benarkah Natsu tidak keberatan dengan hal ini? Kenapa Natsu begitu baik padanya? Padahal dia hanyalah orang asing.

Ini mungkin terdengar konyol, tapi apakah Lucy boleh mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia mulai menyukai Natsu? Apa itu boleh?

Lucy yang masih bingung itu hanya terus menggerakkan telapak tangannya untuk mengelus rambut Natsu yang kini kembali memejamkan matanya.

Apakah ini wajah Natsu saat sedang tertidur? Dia sangat manis, dan juga polos. Tapi dibalik semua itu dia adalah pria kuat yang tak pernah goyah dalam mengejar mimpinya. Bagi Lucy, Natsu sudah seperti harapan itu sendiri. Harapan yang suatu saat pasti akan mengalahkan kebencian dan keputusasaan.

Tangan Lucy berhenti bergerak, saat kini ia bisa mendengar suara dengkuran halus dari Natsu. Apakah dia benar-benar tertidur? Lucy hanya bisa tersneyum.

"Beristirahatlah, aku akan menjagamu sampai kau terbangun, Natsu."

Lucy menatap wajah Natsu lekat-lekat. Dia memiliki mata yang begitu tajam, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan ia juga mempunyai dagu runcing dengan rahang yang terlihat begitu tegas, sangat tampan.

Ia kemudian mendongak, langit terlihat tak berawan dan hembusan angin terasa begitu menyejukkan pagi itu. Rasanya, cuaca selalu bersahabat setiap kali mereka bertemu disini.

"Luce.."

Lucy terkejut saat Natsu tiba-tiba memanggilnya.

"N-Natsu, kau masih belum tidur?!" ujarnya terbata.

"Memangnya siapa yang tidur? Aku hanya memejamkan mataku saja." Natsu nyengir kuda.

Wajah Lucy memerah. Jadi dia tidak tidur? Lalu bagaimana jika dia mengetahui bahwa Lucy diam-diam mengamati wajahnya tadi?! Itu sangat memalukan hingga membuat wajah Lucy kini mulai berasap.

"Luce, kenapa wajahmu seperti itu?" Masih diatas pangkuan Lucy, Natsu mengamati wajah Lucy yang terlihat benar-benar Lucu.

'Luce'?

"Natsu, kenapa kau selalu memanggilku dengan 'Luce'? Apa kau salah dengar saat aku memperkenalkan diri waktu itu?" tanya Lucy.

Natsu mengedipkan matanya berulang kali. Ia juga baru sadar dengan hal itu. Sebenarnya ia tidak punya alasan tertentu. Hanya saja ia merasa lebih mudah memanggilnya dengan sebutan itu ketimbang memanggilnya dengan 'Lucy'.

"Anggap saja itu panggilan spesial dariku."

Natsu kembali menunjukkan cengirannya membuat Lucy lagi-lagi merona. Ia terlalu senang karena bukan hanya baik padanya, Natsu bahkan memberinya panggilan spesial. Lucy rasa dirinya benar-benar menyukai Natsu.

"K-kenapa kau tadi memanggilku? Kau ingin mengatakan sesuatu kan?" Lucy mengalihkan pembicaraan. Karena jika terus seperti ini ia pasti akan terus salah tingkah.

"Ah, aku baru ingat."

"Aku tadi lupa menceritakan padamu kalau aku berperang sebagai komandan pasukan dari divisi keempat pasukan kami. Bukankah itu terdengar keren?" ujar Natsu dengan memasang wajah super bangga itu.

Natsu menjadi komandan pasukan?

"Benarkah? Diusiamu yang masih sangat muda?" tanya Lucy tak percaya dan Natsu hanya mengangguk.

"Komandan divisi ketiga adalah Erza dan Gray yang kedua." Sambungnya.

Lucy terpaku mendengarnya. Bahkan Erza dan Gray juga? Seperapa kuatkan pemuda-pemuda ini? Jika itu dirinya mungkin tidak akan sanggup. Bukan hanya itu, dengan komandan pasukan yang masih sangat muda Dragneel telah memenangkan peperangan dengan skala yang bisa dibilang besar itu.

Ini bukan soal pengalaman ataupun pengetahuan yang luas tentang peperangan. Semua ini karena tekad yang kuat dan juga kepercayaan satu sama lain, yang membuat mereka begitu kuat dan pantang menyerah.

"Dan apa kau juga tau?"

"Tau apa?"

"Besok aku akan pergi untuk menandatangani perjanjian damai dengan klan yang menyerang kami itu, dan setelahnya kami benar-benar akan menjadi sekutu."

Lucy hanya terdiam. Mendengarnya membuatnya merasa iri pada Natsu. Kehidupannya perlahan-lahan berjalan seperti yang ia inginkan. Tidak seperti dirinya yang terus dikekang dan tidak bisa melakukan apapun.

"Natsu.. kenapa kau menceritakan semua ini padaku?" tanyanya.

"Memangnya kenapa? Itu karena aku memang datang kesini untuk menceritakannya padamu. Aku merasa nyaman setelah membagi semuanya denganmu." Natsu tersenyum.

"Apa kau tidak takut? Bagaimana jika aku mengkhianatimu dan membocorkan semua informasi ini pada klanku? Bagaimana jika aku hanya memanfaatkanmu saja? Klanmu bisa hancur karena dirimu sendiri yang sudah menceritakan semuanya pada orang asing sepertiku! Apa kau tidak takut?"

Lucy menatap langsung ke onyx Natsu, mencari-cari keraguan disana namun tidak ia temukan. Apakah Natsu benar-benar tidak takut?

"Hee, aku tidak tau jika kau orangnya seperti itu." Natsu terlihat santai.

"Bukan begitu Natsu! Bukan itu masalahnya.." Lucy berusaha membuat Natsu mengerti.

"Masalahnya adalah, Luce yang kukenal bukanlah seorang yang menyebabkan peperangan terjadi. Jika kau adalah mata-mata, bukankah tujuanmu adalah mencari celah untuk menyerang kami? Kau bukan orang yang seperti itu. Kau hanya seorang gadis polos yang tidak menyukai peperangan."

Jawaban Natsu membuat Lucy tak dapat mengatakan apapun. Mungkin yang Natsu katakan memang benar, tapi apakah Natsu benar-benar tidak memiliki kecurigaan pada dirinya sebagai orang asing? Ia hanya tidak ingin Natsu menjadi terlalu percaya padanya. Karena ia yakin kepercayaannya itu suatu hari akan benar-benar menyakitkan baginya begitu mengetahui Lucy adalah putri dari pemimpin klan Heartfilia. Ia tidak ingin Natsu tersakiti karena hal itu.

"Kenapa?... kenapa kau begitu mempercayaiku Natsu? Aku hanya orang asing." Lucy menatap Natsu, menuntut alasan selogis mungkin dari pria berambut salam yang kini berbaring dipangkuannya ini.

Cukup lama.. Natsu terdiam. Namun akhirnya ia menjawab.

"Lalu kenapa kau begitu mempercayaiku, Luce? Aku hanya orang asing."

Jawaban yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan dari Natsu itu kembali membuat Lucy kehabisan kata-kata. Pertanyaan Natsu itu kini terus berputar dikepalanya, mengelilingi seluruh otaknya mencari-cari jawaban atas pertanyaan itu namun sama sekali tak ditemukan.

Lucy benar-benar tidak tau jawabannya. Apa.. apa yang membuatnya begitu mempercayai Natsu? Ia hanya orang asing.

"Aku tidak tau jawabannya."

Mendengarnya membuat Natsu tersenyum. Sudah ia duga, Lucy benar-benar polos dan sangat manis.

"Aku juga sama. Aku tidak tau jawabannya." Kata Natsu.

Lucy terheran, bagaimana bisa Natsu terus menunjukkan cengiran seperti itu sejak tadi?

"Kau aneh." Katanya yang kini membuang muka kearah lain.

"Apanya yang aneh?"

"Tidak bukan apa-apa."

Tap..

Lucy terkejut saat Natsu kini menyentuh pipinya, mengelusnya lembut menggunakan ibu jarinya. Apa yang sedang ia lakukan?

Ditatapnya Natsu yang kini menatapnya dengan begitu lembut, membuat onyxnya itu kini seolah menenggelamkan Lucy dalam tatapannya yang terlihat tanpa dasar.

Natsu tersenyum lembut.

"Seperti itu juga tidak masalah.."

To Be Continue

.

.

.

Ekhem, cek, cek, 1, 2 dicoba :v

Author pikir mungkin beberapa diantara kalian bakal bingung kenapa ada dua bagian di chap ini.

itu karen author merasa chap ini punya dua judul dan author bingung banget buat nentuin yang mana yang harus dipake.

Wordnya juga mungkin terlalu banyak buat dijadiin satu chapter. Dan juga terlalu gimana gitu kalo ngepost chap 3 dan 4 dalam waktu bersamaan. Karena itu keputusan terakhir author adalah membagi dua chapter 3 dengan judul yang berbeda. Hahahahah! *plakk plakk*

Yaah yaa yaa! Gimana chapter ini? konfilk pertama udah muncul dan sepertinya cukup memeres(?) otak author sampe kering /dasar amatiran baru ginian aja lebay/ :v

Apa momen NaLu-nya juga masih kurang?

Your review will be good for the next chapter guys ^^