Pagi ini Mingyu bangun tanpa Wonwoo lagi disebelahnya. Tempat tidur yang dipakai Wonwoo pun sama dingin seperti kemarin saat Mingyu merabanya.

Mingyu menghela nafas. Rasanya sama saja saat mereka masih di Paris. Jarang menghabiskan waktu bersama, padahal tinggal satu atap.

Mingyu bangkit dari tempat tidur, berniat langsung mandi. Namun, bunyi ponsel membuatnya berhenti melangkah. Ada satu pesan masuk dari adiknya, Dongjin.

Hyung, kalau sedang luang datanglah kemari. Ibu katanya ingin dibuatkan kue dari buah!

Mingyu tersenyum, membalas pesan adiknya seadanya

Ya, aku akan kesana.

.

.

Open You © darkestlake

Akhir-akhir ini saya lagi sedih mikirin meanie dan idk why

.

.

"Wonwoo!"

Wonwoo sendiri terkejut bukan main saat melihat ibunya melambaikan tangan di lokasi pemotretan kali ini, "I-Ibu?!" -kenapa bisa ada disini?

"Ibu mendapatkan job untuk menggarap busana katalog musim dingin majalah Vgue. Astaga, kenapa tidak kepikiran sama sekali kalau mereka mengunakanmu sebagai model ya, padahal mereka sudah bilang kalau modelnya dari Paris." Nyonya Jeon tertawa senang, sementara putranya malah terlihat terganggu.

"Kuharap, busana buatan Ibu tidak aneh-aneh."

"Ini musim dingin, Wonwoo. Mana mungkin ibu membuat pakaian yang memperlihatkan bahu atau punggungmu. Tenang saja."

Syukurlah kalau begitu. Wonwoo ingat ada bekas ciuman yang belum hilang disana.

Wonwoo mengikuti ibunya untuk melihat busana yang akan ia gunakan. Simpel dan berkelas. Ciri-ciri busana buatan ibunya tidak pernah berubah, selera busana Wonwoo pun paling besar dipengaruhi oleh ibunya. Sejak kecil selalu mengikuti ibu, panutan bagi Wonwoo memang hanya ibu.

"Sesi pemotretan ini tidak akan lama, mungkin jam dua belas siang kau sudah selesai, sayang." Nyonya Jeon membuka lemarinya, "Nah, pilihlah busana mana yg ingin kau pilih dari koleksi ibu, ibu yakin dengan seleramu."

Wonwoo tersenyum lebar, "Ah, bagus! Aku akan memilihnya sendiri kalau begitu."

Nyonya Jeon tertawa kecil, "Jam makan siang nanti kau harus makan siang dengan ibu, dan kau yang harus bayar."

.

.

"Dongjin, kau tidak masuk sekolah?"

Dongjin melambaikan tangannya sambil makan nastar di depan televisi, tidak menatap kakak yang baru saja datang dan bertanya, "Aku masuk kelas sore. Semua guru yang mengajar hari ini ada keperluan jadi aku dan teman sekelas akan masuk jam 5 sore."

Mingyu mendengus, memilih masuk ke dalam.

Tidak menyadari adiknya meliriknya dengan tatapan curiga.

"Hyung, kemana temanmu? Apa dia tidak ikut?" Dongjin bertanya setengah berseru karena jarak antara ia dan Mingyu yang baru saja masuk ke dapur untuk minum segelas air.

"Tidak. Dia ada pekerjaan hari ini."

Dongjin melirik lagi kearah kakaknya yang memilih bergabung dengannya di sofa untuk menonton tv. Cuma perasaannya saja atau memang suasana hati Mingyu sedang tidak baik hari ini?

"Ibu kemana?"

"Sedang ke pasar. Kan ibu yang ingin mengajakmu membuat kue, jadi tadi pagi ibu ribut meminta ayah mengantarnya ke pasar untuk membeli bahan-bahannya."

Mingyu tertawa mendengarnya, "Pasti ribut sekali."

Dongjin merasa sedikit lega setelah mendengar Mingyu tertawa. Ia menggigiti nastar, berpikir apakah sebaiknya ia bertanya atau tidak.

"Hyung, boleh aku bertanya sesuatu?"

Mingyu menjawab tanpa menatap adiknya—sepenuhnya fokus ke televisi, "Tentu saja. Kau mau bertanya apa?"

"Sebenarnya apa hubungan hyung dengan temanmu yang model itu? Apa kalian yakin kalian hanya teman?"

Mingyu yang sebelumnya setengah tertawa karena acara tv mendadak berubah ekspresi. Ia menoleh kepada Dongjin, menatapnya lekat dalam beberapa detik tanpa bicara sebelum kemudian Mingyu tersenyum.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"

Dongjin menatap kakak lelakinya balik, "Aku tahu bahwa dunia modeling di Paris itu sangat glamor, mewah, bebas… semua Negara barat seperti itu, hyung."

"Aku tidak mengerti maksudmu." Mingyu pura-pura bodoh.

"Modeling Paris sangat maju, tapi pergaulan disana juga tidak terjaga. Banyak kaum LGBT dan pendukungnya, lagipula Perancis melegalkan hubungan sesama jenis. Aku hanya… hanya khawatir kalau memang benar hyung berpacaran dengan Wonwoo-hyung sesuai perkiraanku."

Mingyu mati langkah. Bagaimana lagi caranya untuk mengelak? Bukan mengelak dari Dongjin, tapi mengelak dari kenyataan bahwa kemungkinan untuknya bisa serius dengan Wonwoo akan sangat tipis. Bagaimana caranya mengelak dari hatinya yang selalu mengatakan bahwa ia mencintai Wonwoo tapi bersamaan dengan itu juga mengatakan bahwa yang ia lakukan adalah salah? Ia asli keturunan timur. Orangtuanya pun pasti berharap untuk memiliki cucu darinya.

Ibu selalu mengajariku bahwa cinta tidak pernah salah. Aku tidak salah bukan? Mencintai seseorang itu tidak salah bukan?

Mingyu seolah meyakinkan hatinya.

Padahal sejujurnya ia hanya menghindar untuk menghadapi dirinya sendiri.

"Hyung?" Dongjin mulai merasa bingung karena Mingyu cukup lama tidak bicara. Ketika ia sudah mulai khawatir, Mingyu kembali menoleh kepadanya dan tersenyum.

"Tolong rahasiakan hal ini, Dongjin."

Dongjin sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi.

.

.

Moccalatte dan sepotong shortcake sudah ada di depan Wonwoo. Nyonya Jeon punya pesanan yang sama dengannya. Pemotretan untuk katalog musim dingin selesai setengah jam yang lalu dan Nyonya Jeon langsung membawa putranya untuk pergi ke kafe terdekat.

"Coba ceritakan Paris pada ibu. Ibu sangat ingin kesana tapi sepertinya belum ada waktu untuk itu." Nyonya Jeon memulai pembicaraan sambil memotong shortcake. Wonwoo terlihat semangat dan mulai bercerita.

"Awalnya aku sangat bingung akan seperti apa aku disana nanti, Bu. Tapi, Paris adalah kota yang menyenangkan. Ibu harus kesana sesekali." Wonwoo tertawa lalu menyuap potongan pertama cake ke mulutnya.

"Syukurlah jika kau merasa senang berada di sana." Nyonya Jeon tersenyum, "Ibu juga merasa tenang setelah mendengar dari Mingyu bahwa kau baik-baik saja di sana. Kau juga tidak terlibat pergaulan yang jelek atau menyimpang."

Wonwoo kaget sebentar, terkejut dengan arah pembicaraan ibunya. "Memangnya Mingyu bilang apa?"

"Kau masih sehat dari obat-obatan dan pergaulan seperti itu. Sesungguhnya ibu khawatir kalau kau akan masuk dalam kaum LGBT. Dunia modeling, artis dan pers disana rentan dengan hal itu. Terutama karena disana melegalkan hubungan sesama jenis. Ibu hanya ingin kau ingat bahwa kau adalah satu-satunya anak dalam keluarga kita, kau satu-satunya penerus. Ibu ingin yang terbaik untukmu."

Wonwoo merasa potongan shortcake selanjutnya hambar. "Oh, jadi dia bilang begitu?"

Dia menyembunyikannya. Bagaimana perasaannya saat ibu bicara seperti ini padanya?

"Iya." Nyonya Jeon masih tersenyum, "Dengar, Wonwoo. Kau memang masih muda, tapi kau sudah dewasa. Mungkin tidak lama lagi kau akan menikah, jika hari itu tiba, pulanglah dan menetaplah di Korea. Ibu ingin sekali menimang anakmu ketika sudah tidak bisa lagi merancang dan membuat busana. Ibu juga ingin memasak bersama menantu yang cantik, membayangkannya saja membuatku bahagia sekali."

Wonwoo melihat ibunya tertawa dengan sedikit air mata, "Ah, ibu benar-benar merindukanmu sampai-sampai bicara sebanyak ini. Maafkan ibu, ibu hanya ingin bicara sebanyak mungkin denganmu sebelum kau kembali ke Paris nanti."

Wonwoo menggenggam tangan ibunya, "Aku juga sangat merindukan ibu. Tidak usah khawatir selama aku di Paris, aku akan selalu baik-baik saja."

Mungkin…

.

.

Wonwoo datang di apartemen lebih dulu daripada Mingyu. Merebahkan dirinya di sofa, Wonwoo melirik jam.

Masih jam tiga sore.

Wonwoo pergi ke dapur untuk melihat isi kulkas. Rupanya Mingyu masih menyisakan sup kimchi sisa semalam, Wonwoo akan memanaskannya nanti. Perutnya masih belum terlalu lapar.

"Ibu juga ingin memasak bersama menantu yang cantik, membayangkannya saja membuatku bahagia sekali."

"Suatu saat ibu bisa memasak bersama Mingyu—" Wonwoo menghela nafasnya, "Tapi, dia tidak cantik."

Dan Mingyu adalah seorang lelaki, Wonwoo.

"Wonwoo? Kau sudah pulang?"

Mingyu tanpa disangka-sangka sudah ada di apartemen. Wonwoo menyambutnya sambil tersenyum dan mereka berciuman sebentar.

"Eh, itu apa?" Wonwoo melirik ke bungkusan yang dibawa oleh Mingyu. Mingyu lalu mengajaknya untuk duduk lalu membuka bungkusan itu di meja makan.

"Tadi ibuku memasakkan samgyetang* dan dia menyuruhku untuk membawakan seporsi untukmu."

Makanan itu dipindahkan ke panci kecil. Uapnya masih terasa hangat dan Wonwoo tiba-tiba merasa perutnya lapar sekali sekarang—padahal aslinya hanya kepingin.

"Mau dimakan sekarang?" tanya Mingyu.

"Boleh. Kau juga ya? Tadi aku sudah makan cake bersama ibuku, aku tidak bisa menghabiskan satu ayam sendiri."

"Ibumu?" Mingyu melirik Wonwoo, "Kenapa bisa?"

"Yah, ternyata yang menggarap busana katalog itu adalah ibuku. Aku juga tidak menyangka." Wonwoo menyendok kuah dari panci dan mencicipinya, "Ah, enak sekali."

"Jangan ragukan masakan ibuku." Mingyu bicara dengan bangga.

Wonwoo tidak mendengarkan, hanya cepat ingin segera makan.

Sekitaran lima belas menit, samgyetang habis dimakan berdua. Wonwoo tumben sekali menawarkan diri untuk mencuci peralatan makan. Mingyu hanya tertawa, membantu merapikan dan membawa peralatan bekas makan itu ke wastafel.

"Mingyu, apa kemarin kau ada bertemu dengan ibuku?"

"Iya. Beliau mengantarkanku ke toko yang menjual perlengkapan kue." Mingyu kembali duduk di kursi makan sambil memperhatikan punggung Wonwoo, "Apa beliau bercerita tentang itu?"

"Iya, dia juga becerita tentang apa yang kalian bicarakan."

Mingyu terdiam. Wonwoo juga tidak mengeluarkan suara lagi hingga peralatan makan yang harus ia cuci telah habis. Wonwoo berbalik dan tersenyum pada Mingyu.

Mingyu tiba-tiba berdiri, mendekat pada Wonwoo lalu mulai menciumnya. Satu tangan Wonwoo ditahan ketika Wonwoo yang kaget seperti ingin menolak ciuman itu.

Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga Wonwoo merasa lututnya seperti kehilangan tulang. Mingyu menahannya, lalu membiarkan Wonwoo memeluk erat lehernya sementara kedua tungkai model mendapatkan tempat untuk melingkar di pinggangnya. Mingyu menciumi leher Wonwoo selagi berjalan menuju kamar.

Punggung Wonwoo sudah menyentuh kasur dan Mingyu ada diatasnya. Ciuman mereka dimulai lagi dan Mingyu memang terlihat sedikit tidak sabar kali ini.

"Mingyu—" Wonwoo mengeluarkan satu lenguhan ketika Mingyu menarik celananya, "Kemarin kita baru saja—" satu lenguhan yang lebih tinggi terdengar. Mingyu melipat paha Wonwoo keatas dan mulai menciumi bagian dalamnya.

"Kau keberatan?" Mingyu bertanya dengan suara rendah, dan sedikit suram. Wonwoo menelan ludah, pacarnya sedang tidak menginginkan penolakan.

"Tidak, lupakan saja."

Mingyu kali ini menggarap bagian atasnya. Wonwoo bukanlah pacar yang pasif, ia pelan menggerakkan pinggul dan meskipun gerakannya tidak menyentuh Mingyu, Mingyu bisa melihatnya. Ketika Mingyu melirik bagian bawahnya, Wonwoo melepaskan kancingnya satu per satu.

"Mingyu—" Wonwoo nyaris bangkit saat merasakan keras mulai menemukan jalan masuk di bagian bawah, pemuda itu meringis. Tidak ada lubrikasi, tidak menggunakan kondom. "Ugh— kau!"

Mingyu menyeka dahi pacarnya yang basah karena keringat kemudian mengecupnya, "Aku lakukan langsung."

Wonwoo berusaha keras untuk menyetabilkan nafas ketika Mingyu sudah masuk seluruhnya. Mingyu membawanya lagi dalam sebuah ciuman, punggung telanjang dibiarkan jadi landasan jemari Wonwoo untuk memainkan jari dan mendaratkan kuku. Mingyu mulai bergerak pelan dan statis.

"Aku hanya… hanya khawatir kalau memang benar hyung berpacaran dengan Wonwoo-hyung sesuai perkiraanku."

Sial, kenapa Mingyu harus teringat perkataan Dongjin?

Aku tidak salah, aku tidak salah. Ini tidak salah.

Mingyu semakin cepat dan kacau. Suara Wonwoo naik turun tidak karuan. Mingyu menahan satu kaki Wonwoo dan bergerak makin ke dalam.

"Mungkin tidak lama lagi kau akan menikah, jika hari itu tiba, pulanglah dan menetaplah di Korea. Ibu ingin sekali menimang anakmu ketika sudah tidak bisa lagi merancang dan membuat busana. Ibu juga ingin memasak bersama menantu yang cantik, membayangkannya saja membuatku bahagia sekali."

Wonwoo menggigit bibir. Ia ingat perkataan ibunya. Pegangannya di punggung Mingyu semakin kuat dan ia ikut bergerak bersama dengan lelaki di atasnya.

Keduanya datang hampir bersamaan. Mingyu baru saja ingin mencium Wonwoo ketika Wonwoo menahan wajahnya dan menutupi wajahnya sendiri dengan tangan yang lain. Air lolos dari ujung matanya dan Mingyu melihatnya.

"Apakah aku menyakitimu?" Mingyu menyisihkan tangan itu dan ia bisa melihat Wonwoo memang menangis tanpa terisak.

"Tidak—" suaranya serak, "—kau tidak pernah menyakitiku."

"Lalu kenapa?"

"Keadaan ini yang menyakitiku—"

Beban pikiran yang sama. Tuntutan yang mereka terima juga sama. Mingyu tahu persis bahwa Wonwoo juga membicarakan hal yang sama dengan apa yang ia bicarakan dengan Nyonya Jeon kemarin, dan kelihatannya Wonwoo lebih banyak mendapatkan tambahan wejangan. Anak satu-satunya, harapan keluarga, dan belok menjadi gay pasti sama sekali tidak pernah diharapkan orangtuanya.

Dongjin sudah mengetahui hubungannya dangan Wonwoo dan adiknya itu belum bisa tersenyum padanya sampai saat Mingyu pamit untuk kembali ke apartemen.

Mingyu menarik lengan Wonwoo dan mengungkungnya dalam pelukan. Ia tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan.

"Mingyu, apakah kau ingin kita berakhir?"

Mingyu menggeleng, "Tidak."

Atau mungkin belum.

Wonwoo bersandar di bahunya, "Lalu harus seperti apa?"

Mingyu tidak tahu harus menjawab apa. Jika ia meminta Wonwoo bertahan, akankah Wonwoo sanggup bertahan? Lebih banyak tekanan yang datang pada Wonwoo. Tapi, sejujurnya ketidak yakinan ada lebih banyak dalam dirinya. Mingyu tidak ingin Wonwoo terlalu banyak menerima luka, ia tidak ingin Wonwoo terlalu ditekan oleh pikirannya sendiri. Tapi apa yang harus ia lakukan?

"Mingyu?" Wonwoo menunggu jawaban.

Mingyu mengecup dahinya.

"Aku tidak tahu."

.

.

-to be continued

*samgyetang: sup ayam gingseng, yang dibikin dari ayam muda yang dimasak utuh, dan biasanya satu ayam itu dimakan oleh satu orang dan fix saya laper;;

;; heyo, saya akhirnya update ini dan siapa yang udh liat fancam mingyu-wonwoo jedotan jidat di encore concert? Yakin itu tangannya wonwoo udah terpapar iler mingew. Penuh mingerms, ewh /slapped

Big thanks for: GameSML, xppatrash, 1004, Ourwonu, XiayuweLiu, Firdha858, Jeoan022, tinkuerbxlle, Kwa's Orange Sky, kwonhosh, n2ame, Calum'sNoona, Baby Hanna, TKTOPKID, dyahsekar, nisaditta, jsh hong95, A Y P, xsxsso, lulu-shi, Yeri960, cassiesvt, Anna-Love 17Carats, Karina, kookies, meanislave, vibrrratoseh, peachpetals, jxngwoo, svtmeanie, Muel bin mingyu, Ihfaherdiati395, msr1205, peachpeach, dyorarawr, kxmyhxnx, kkwonzz, Gigi onta, driccha thanks for review, review lagi ya WAHAHAHA/?

Tamban, 14 Februari 2016

darkestlake