Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

.

Fate by Takara Rei

.

Chapter 4 - Berawal dari Kehangatan

Eren berjalan gusar menyusuri koridor lantai satu rumah sakit. Pintu dengan name tag bertuliskan dr. Erwin Smith ia lewatkan begitu saja. Tujuannya saat ini adalah ruang penyimpanan peralatan kesehatan. Berharap dapat menemukan apa saja yang bisa menutupi tanda tak terhormat di lehernya. Eren tak mau siapapun yang melihatnya dengan tanda itu akan menjadi salah paham.

.

.

.

BRAK!

"Woi!" teriak salah satu petugas -dengan rambut sedikit menyerupai botak- terkejut mendapati sosok dengan peluh bercucuran dan nafas terengah-engah, mendobrak pintu ruangan dengan pose tangan membentang.
"Plester! Perban ! Apa saja!" teriak Eren heboh kalang kabut.
"Oi tenang Eren! Kau membuat kami semua kaget tau! Dasar bodoh!" balas Jean sambil memungut beberapa bungkus pil yang tercecer. Tentu saja kedatangan Eren yang tidak keren membuat semua orang terkejut, termasuk Jean hingga beberapa bungkus pil di tangannya terlempar begitu saja.
"Ada apa Eren? Tenanglah dulu.." ucap gadis kuncir kuda yang diketahui bernama Sasha. Ia mencoba menarik dan menghembuskan nafas, mengisyaratkan Eren untuk melakukan hal yang sama.
Eren tidak mengacuhkannya. Begitupula petugas lain yang sibuk dengan urusan masing-masing tanpa memperdulikan Jaeger muda yang koar-koar gak jelas.
"Ayolah. Siapa saja. Aku hanya butuh plester luka.." ucapnya -memohon- dengan tangan yang masih bertengger menutupi tanda -luka- di leher.

Sebenarnya jika Eren mau, ia bisa mengorbankan sejam waktunya untuk mencari sebuah plester luka di ruang penyimpanan -yang notabenenya memiliki luas yang sama dengan auditorium universitasnya dulu. Ya, kalau mau. Sayang Eren tak punya banyak waktu mengingat hasil lab untuk dr. Smith masih bertengger manis dalam genggamannya. Yang lebih parah lagi, ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di ruangan tersebut, sehingga tentu saja ia tidak hapal dengan isinya. Jangankan untuk menghapal isinya, melihat banyaknya deretan lemari serta rak penyimpanan yang dilengkapi sistem sterilisasi saja sudah sukses membuatnya takjub sekaligus pening tujuh keliling. Tentunya hanya sang petugaslah yang hapal dengan seluruh isi maupun tata letak di ruang tersebut. Dan mereka yang cuek seharusnya segera bangun dan membantu mencarikan plester luka untuk Eren.

"Nyari plester luka aja toa-nya satu ruangan. Nih!" petugas botak berbadan mungil -yang diketahui bernama Connie- menghampiri Eren, sambil menyodorkan serenteng plester luka dari sakunya.
Demi kotoran titan, Eren syok. Seumur hidup, ia belum pernah melihat plester luka mengerikan seperti itu. "Hah?! Apaan nih?! Gak mau! Memangnya aku bocah pakai begituan!" ujar Eren ketus, menolak mentah-mentah kebaikan seorang Connie Springer yang ternyata memberikan plester luka bermotif kepala-kepala dari berbagai jenis titan dengan berbagai ekspresi. Sungguh naas Eren tak sanggup menghargainya, padahal kebaikan itu hanya muncul sekitar satu windu sekali.

Connie mendecak kesal, "Memangnya kenapa? Aku punyanya yang begini saja! Setidaknya lebih mending daripada tidak sama sekali!"
Asli, emosi Connie mulai tersulut melihat Eren yang hanya bisa mewek-mewek mulut bebek. Ia hanya mendengus pendek lalu melanjutkan kembali acara mencak-mencaknya pada Eren, yang sempat bersambung di tengah jalan. "Kau luka apa memangnya? Besar atau kecil? Kalau luka kecil mah diludahin aja sembuh!" Connie ketus lagi, sembari menyimpan kembali plester luka -anak-anak- ke dalam saku seragamnya. Masa bodo dengan bocah sialan yang satu ini.

"Oi Eren! Memangnya kau bisa luka eh?" Jean terkekeh. Sempat saja si muka kuda ini mengejek Eren dikala sibuk dengan beberapa bungkus pil-nya.
"Cerewet!" Eren cemberut, entah mengapa ia merasa tidak punya teman untuk kali ini.
"Sudahlah. Eren ini plester lukanya. Kau bisa ambil sesuai keperluan." Sasha menyerahkan kotak besar berisikan plester luka berbagai ukuran dan fungsi -yang tentunya tanpa motif.

.

.

.

Alhasil keterlambatan Eren pun membuahkan ceramahan panjang plus tugas tambahan dari dr. Smith.

.

.

.

Tik. Tik. Srshhh.

Hujan deras, lembur, untung bawa payung.

Benar-benar hari ini. Berbagai tugas dijejalkan begitu saja oleh sang dokter klimis padanya. Eren hanya bisa pasrah karena nyatanya ia-memang-bersalah.
Eren membereskan seragamnya ke dalam loker, diliriknya jam besar yang menggantung di dinding sudah menunjukkan pukul 09:00 malam. Rumah sakit telah sepi. 'Hah, aku harus segera pulang..' Diambilnya payung silver dari tempat penitipan payung -yang memang disediakan pihak rumah sakit- lalu mengganti sepatu pantofelnya dengan sepatu kets agar tidak kotor terkena cipratan hujan.

.

Eren berjalan perlahan, takut-takut tergelincir karena jalanan memang sedang licin akibat hujan deras. Baru saja ia melewati gerbang megah rumah sakit, ia teringat sesuatu.
"Ah kartuku.."
Rasanya Eren ingin menangis, mengapa ia baru ingat sekarang. Sontak ia memutar badan, melangkahkan kakinya kembali menuju satu tempat di rumah sakit. Namun langkahnya terhenti di tengah jalan. "Hujan deras begini, memangnya dia masih disana?" ia nampak menimbang-nimbang, takut-takut dipermainkan lagi. "Ah! Apa salahnya memastikan!" ketus Eren, kembali melanjutkan langkahnya yang dipercepat.

.

Sampai. Taman rumah sakit tampak gelap. Hanya remang-remang lampu taman yang sedikit membantu penglihatan. Diarahkannya pandangan menyortir seluruh penjuru taman.
"Tuh kan gak ada!" rutuk Eren pada dirinya sendiri. Eren yang merasa dipermainkan kini siap melangkahkan kakinya meninggalkan taman, sebelum menangkap suara pergerakan dari..bangku taman-kah?

Eren kembali memastikan pendengarannya. Kali ini pendengarannya menangkap suara yang lemah.
"Haacihh!"
'Suara bersin? Dari mana? Malam-malam begini? Siapa?' Eren bergumam dalam hati. Mencoba menjawab rasa penasarannya, ia melangkahkan kakinya untuk memastikan sesuatu ataupun seseorang di balik bangku taman yang terletak membelakanginya. Sambil komat-kamit merapal mantra -takutnya setan-, ia melongokkan kepalanya menuju bangku taman.
"Eh?!" mata Eren membulat sempurna mendapati sosok di hadapannya.

"..."
"Meonggg"
Makhluk mungil dengan bulu hitam yang lepek terkena hujan meringkuk kedinginan di sudut bangku.
"Oh kucing." Merasa kasihan diambilnya kucing itu, kemudian diletakkannya pada pos kecil dekat pepohonan agar terlindung dari hujan deras. Eren bisa saja membawa kucing itu pulang dan merawatnya. Sayang, peraturan di apartemennya melarang untuk memelihara kucing demi kenyamanan para penghuni.

Tu-tunggu dulu. Lalu suara bersin yang didengarnya tadi, suara siapa?

"Kau datang bocah."

Tap. Tap. Srek. Langkah berat yang bergesekan dengan guguran daun momijisukses mengundang perhatian. Eren menoleh. Mendapati sosok pucat -yang sejak tadi mengamatinya- muncul dari balik pohon maple dengan rambut berantakan hampir menutupi mata serta baju yang basah kuyup.
"Setan!" Eren terkejut, refleks menutup matanya.
"Ini aku bocah." Sosok itu menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari, menampakkan death glare pada bocah yang baru saja mengatainya tanpa rasa berdosa.
"EEHHH?! Kenapa.." Eren melongo tak percaya mendapati yang dikenalnya itu masih menunggunya.
"Apa? Aku hanya menepati janjiku." jawabnya cuek. "Tapi kau telat bocah."
"Um, anu tugas tambahann.." Eren bangkit dari posisi jongkoknya -setelah memastikan si kucing baik-baik saja.

Pria itu hanya memperhatikan pergerakan si bocah lugu penyayang binatang dengan ekspresi datarnya -seperti biasa.
"Apa kau datang untuk mengambil kartumu atau..menemuiku?" tanya pria itu tanpa melepas pandangan dari Eren, menunggu jawaban. Sesekali mencuri pandang ke sebuah benda coklat yang tertempel pada leher jenjang si bocah. Yang ditatap demikian tentunya merasa risih.
"Mengambil kartuku tentu saja. Bisa kau kembalikan sekarang? Aku harus segera pulang." Eren to the point saja, tak peduli jika dirinya dianggap tidak sopan karena ia hanya ingin segera pulang.
"Semudah itu? Setelah kau membuatku menunggu dan..haaaciihhh!"
Eren hampir saja tertawa mendengar bersin yang menurutnya berlebihan untuk pria dengan wajah serata penggilesan, sebelum akhirnya ia sadar dan memutuskan menelan tawanya begitu saja.

.

.

Jeda sejenak hanya diisi dengan diam. Eren dengan payungnya yang melindunginya dari rintik hujan dan pria itu dengan perlindungan seadanya oleh dedauan pohon maple yang justru membuatnya tambah basah kuyup. Tak terbesit di pikiran si bocah untuk membagi sedikit perlindungannya pada pria itu. Sungguh kepolosan si bocah ini membuat siapa saja ingin mencubitnya.

Pria itu masih diam, tubuhnya gemetar menahan kedinginan. Ia bersandar pada batang pohon yang basah sambil menggosokkan kedua telapak tangannya, memandang ke arah taman namun tetap memperhatikan Eren melalui sudut matanya.
Eren merasa gelisah. Ia ingin memulai perbincangan, namun ditahannya kembali. Eren benar-benar tidak tahan dengan jeda yang didominasi kesunyian. Digaruknya tengkuk yang sebenarnya tidak gatal. Bingung, Eren memutuskan memberanikan diri untuk memulai perbincangan kembali.
"Um, maaf..ini sudah malam, kau tidak pulang? Lagipula sudah kedinginan tuh.." Eren nyengir masam. Sejak kapan ia sok akrab begini pada orang asing yang dalam sehari telah bertemu dengannya beberapa kali?!

Pria itu hanya merespon pertanyaan Eren dengan satu lirikan, membuat yang dilirik hanya mengerutkan dahi tak mengeri.
"Kau..ikut denganku." jawab pria itu lirih.
"Ee-eh? Kenapa?"
Eren terkejut. Pria itu tiba-tiba saja menggenggam erat tangan kanannya. Eren dapat merasakan suhu dingin dari tangan pria itu menjalar cepat ke tangannya.

"..."
"Tahan. Biarkan aku menghangatkan diri sebentar."
Eren merasa aneh. Ia seolah tunduk pada perintah mutlak pria di hadapannya, sama sekali tak memberontak. 'Ada apa dengan pria ini dan juga dirinya?' gumamnya dalam hati. Pria itu memejamkan mata, merasakan suhu hangat dari tangan bocah yang kini dalam genggamannya. Eren bisa melihat wajah tenang pria itu, dihiasi surai hitamnya yang perlahan berterbangan tertiup angin. Wajah yang sangat berbeda dengan ketika ia membuka matanya.

.

.

.

Hujan deras perlahan mereda, menyisakan rintik gerimis serta deru angin yang terdengar jelas mengisi kesunyian. Menggugurkan daun-daun momiji yang menjadi latar dua insan sejenis yang terpaku dalam sebuah genggaman singkat.

5 menit berlalu. Pria itu membuka matanya lalu menebarkan senyum tipis dalam sekejap, membuat Eren menelan ludah. Takjub.
"Ayo." pria itu menarik tangan Eren agar mengikutinya, membuat Eren hampir saja terjatuh kalau saja ia tak mampu menjaga keseimbangan.
"Kemana?"
"Ikut saja."
Miris. Eren mendapat jawaban singkat. Namun ia tak berkenan untuk berkomentar ataupun cerewet seperti biasanya. Pria itu mempercepat langkahnya, sembari menggandeng erat tangan si bocah agar tak terlepas. Sedangkan Eren hanya bisa mengikuti pria asing -yang menuntunnya entah kemana- dalam diam.

.

.

.

.

To be continued

A/N : Huaahh, megap-megap nyari oksigen :v Rasanya disini bang Levi mulai OOC ya? '-' (perasaan saya aja kali) dan Eren mulai terpikat sama bang Levi? Entahlah. Biarkan waktu yang menjawabnya~
Jujur saja chapter ini benar-benar menguras tenaga lahir dan batin #lebay. Saya ngebut buatnya soalnya pas udah buat setengah chapter ini, tiba-tiba hp mati dan data hilang, ngulang deh dari awal :') Selain itu, meres otak juga buat mikirin scene romancenya di chapter ini, semoga feelnya bisa sampai ke pembaca dan tidak terkesan terburu-buru '-'b
Dan juga gomen kalo deskripsi mengenai ruang penyimpanan peralatan kesehatan yang kurang atau mungkin tidak sesuai dengan kenyataannya karena deskripsinya hanya berdasarkan imajinasi saya sendiri '-'v

- Untuk dialognya Connie Springer yang nyuruh eren ngeludahin lukanya #wkwkjorokdeh saya kutip dari manga Snk vol 10 dengan sedikit perubahan dimana aslinya sebenarnya dialog itu ditujukan buat Ymir waktu minta Christa ngobatin luka goresannya. Sumpah dialog Connie sukses membuat saya ngakak. '3'

- Sekedar informasi untuk daun momiji. Sebenarnya momiji bukanlah nama daun. Momiji memiliki arti perubahan warna daun pada pohon. Daun tersebut berasal dari pohon maple yang biasa disebut Japanese Maple dan memiliki nama ilmiah Acer palmatum. Daunnya akan berubah warna orange kecoklatan atau kemerahan saat musim gugur. Biasanya daun ini muncul di beberapa anime atau manga sebagai background karena keindahannya. Biasanya dapat ditemui di taman, kuil, jalan dan berbagai tempat umum.

Terakhir, terima kasih bagi para readers yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan meninggalkan review di chapter sebelumnya #peluk Gomen karena baru sempat balas reviewnya disini.

Hikaru Rikou : awkwkw, arigatou sudah meluangkan waktu utk membaca dan meninggalkan review. Semoga doamu supaya mereka pacaran terwujud nak '-'b ini lanjutannya jangan penasaran lagi ya ^.^

Yamada Kim Naho-chan : Haloo, salam kenal juga XD ini sudah dilanjutkan semoga bisa menghibur ya. ikuti terus kelanjutannya XD arigatouuu

Zora Fujoshi : Lemon? Entahlah saya masih newbie kak '-'v . ini sudah dilanjutkan semoga menghibur :D - Akan saya usahakan updatenya gak kelamaan '-'b arigatouuu

keshi. shiro : Wah..arigatou sudah meninggalkan review di setiap chapter. mungkin levi jatuh cinta pada pandangan pertama /? awkwk entah kenapa saya pengen aja supaya levi sedikit OOC, kasian atuh Erennya nanti gak betah di cuekin mulu *eh. ini sudah dilanjutkan ya, enjoy reading XD

Nenehcabill : arigatou atas support dan sarannya ^^ gomen kalo chapter sebelumnya kependekan. semoga chapter ini gak terlalu pendek dan bisa menghibur XD enjoy reading :3

Dan terima kasih juga bagi para pembaca lainnya yang sudah mau mampir. Mungkin sekian dari Takara, sampai jumpa di chapter berikutnya~

Berkenan meninggalkan review? :3