"The Lion"
VKook fict
Mr. Alien And Mr. Bunny
Warning!
Yaoi, BL, BxB...
Maybe this fict has a mature content...
If you don't like the pairing, just close this page immidiately...
You've been warned baby...
.
.
.
Suara derap langkah kaki terdengar mendekat. Membuat dirinya semakin panik karena ia yakin itu adalah Jungkook. Dan benar saja. Sosok cantik yang muncul itu terlihat panik dengan handuk yang tersampir di bahunya. Menatap tak percaya dirinya yang terduduk di lantai.
"EOMMAAAAAAAAAAA!"
.
.
.
Jungkook menjerit keras. Suaranya terdengar melengking hingga membuat pemuda tampan yang basah kuyup dihadapannya terlonjak.
Yeah, siapapun pasti akan bereaksi sama jika berada di posisi yang sama dengan pemuda kelinci itu. Melihat tiba-tiba ada seorang laki-laki matang di kamar mandimu dengan tubuh basah dan -ahem- telanjang bulat. Orang gila pun pasti akan terkejut.
"SIAPA KAU HAH?! S-SIAPA?!"
Dengan tangan bergetar Jungkook meraih sisir dan sikat gigi yang berada di wastafel di sebelah tempatnya jatuh terduduk. Mengacungkan dua benda itu seolah sedang membawa pisau. Mengundang tatapan polos si pemuda tan yang masih terdiam di posisinya. Memperhatikan bagaimana Jungkook bertindak yang entah mengapa membuatnya sedikit merasa lucu.
Bagaimana bisa Tuannya bersikap begini menggemaskannya.
"YA! A-APA YANG KAU LIHAT HAH?! JAWAB AKU! S-SIAPA KAU!"
Perlahan sosok pemuda tan bertelinga hewan itu menegakkan posisinya. Duduk dengan memeluk lutut hingga bagian berbahaya dari tubuh atletisnya terhalang. Sepasang netra sewarna emasnya memandang kearah Jungkook. Seolah meminta pemuda kelinci itu untuk menatapnya dengan tenang.
"T-ae..."
Sebuah kata terucap dari belah bibir itu. Menghantarkan gelenyar aneh pada hati Jungkook. Ia bersumpah suara itu adalah suara berat yang penuh dengan aura dominan yang mengintimidasi. Tak asing bahkan dapat ia ingat dengan baik dalam memorinya.
Suara itu, terdengar mirip dengan auman singa jantannya. Singa yang terluka dan menyusut menjadi bayi. Singa yang seharusnya berada di-
"MUSTAHIL!"
-kamar mandinya.
Bruk!
Jungkook jatuh terduduk. Kedua kakinya terasa amat lemas hingga tak lagi dapat menopang tubuhnya. Terlalu banyak kejutan yang diterimanya hingga otaknya susah memproses satu hal pun.
Terlalu aneh. Terlalu mendadak. Terlalu ajaib untuk diterima oleh akal sehatnya.
"M-master..."
Sosok bernama Tae itu bergerak pelan. Merangkak mendekati Jungkook dan mengulurkan jemarinya. Menyentuh lembut pipi tembam si pemuda kelinci dan menatapnya dengan pandangan polos.
Sepasang manik mereka bertemu. Dan lagi, Jungkook seakan merasa tersedot dalam lingkaran emas milik si pemuda asing. Netra itu sama persis, pandanganya pun terasa sama. Hanya saja dalam sosok yang berbeda. Singa buas yang hampir menerkamnya, kini berubah menjadi sosok seorang pemuda tampan dengan aura dominan yang kentara. Juga sepasang telinga dan ekor animal pada tubuh kecokelatannya.
Lick!
Dengan tiba-tiba, Tae menjilat lembut sudut bibir si kelinci manis ini. Membuat sang empunya membola tak percaya sangking terkejutnya. Demi apapun! Baru kali ini ia mendapat perlakuan tak senonoh begini!
"Master Jungkook! Terima kasih!"
Pemuda animal itu berujar dengan suara bassnya. Telinganya bergerak lucu dan ekornya bergoyang kekanan dan kekiri dengan cepat. Tubuhnya mendekat dan memeluk bahu sempit Jungkook penuh sayang. Menatap si cantik Jeon yang masih sibuk terdiam di tempatnya.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa Tae! Mulai hari ini, Tae berjanji akan menjadi anak baik untuk Master!"
Jantung Jungkook berdegup cepat. Pemuda ini bisa merasakan pening hebat menyerang kepalanya. Pandangannya mulai mengabur dan ia bisa merasakan tetesan air kental mengalir membasahi philtrumnya.
Bruk!
Jeon Jungkook pingsan dalam dekapan Tae. Hidungnya berdarah. Mimisan karena perlakuan pemuda aneh setengah hewan yang menatap panik dirinya.
.
.
.
"Ughhhhh~~~"
Gerungan pelan terlontar dari bibir merah muda pemuda cantik ini. Perlahan doe pekatnya terbuka. Mengerjap-erjap pelan menyesuaikan kondisi cahaya yang ada. Dengan teramat sangat pelan, ia berusaha bangkit dari tidurnya. Menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang dan memperhatikan sekitarnya.
Ia berada di kamar tidur kakak sepupunya. Tidak ada satupun hal aneh yang menangkap indera pengelihatannya. Membuatnya yakin bahwa apa yang dialaminya beberapa saat atau jam lalu adalah sebuah mimpi belaka. Yeah, setidaknya begitu sebelum suara pintu yang terbuka segera menarik atensinya.
"Oh Dewa... Tenyata semuanya bukan mimpi..."
Jungkook pasrah. Sudah terlalu menyerah meyakinkam dirinya bahwa apa yang ia alami dalam kurun waktu kurang dari tiga hari ini adalah bagian dari delusinya. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menyangkal keberadaan Tae. Dan sepertinya, ia harus bertanggung jawab atas tindakan heroiknya tempo hari.
"Master... Sudah bangun?"
Pemuda tampan itu berujar heboh. Menatap Jungkook yang bersandar dengan sepasang manik indahnya. Ekornya bergerak-gerak tak karuan. Menandakan betapa excitednya manusia setengah hewan ini pada pemuda cantik dihadapannya.
"Air.. Aku butuh air..."
Mendengar Jungkook berujar, dengan cepat beranjak dari tempatnya berdiri menuju nakas. Meraih botol berisi air mineral dan memperhatikannya dalam. Membuat Jungkook mengernyitkan sebelah alisnya.
Singa jantan itu terlihat bingung. Jemarinya menggenggam erat sisi botol dan sepasang matanya menatap aneh air yang berada dalam tabung plastik itu. Mengocoknya dan merengut kesal karena demi apapun ia tak bisa membuat air di dalam botol itu untuk keluar.
"M-master..."
Jungkook menghela nafasnya pelan. Mengulurkan telapaknya pertanda meminta Tae untuk menyerahkan botol itu padanya. Memutar tutup plastiknya dengan mudah kemudia menegak isinya. Sedikit melirik kearah si tampan yang terlihat melongo dengan pandangan takjub padanya.
"Woah... Begitu caranya..." gumam pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Jungkook.
"Kau benar-benar tidak tahu cara membuka tutup botol?"
Pertanyaan Jungkook membuat si tampan tersadar. Menatap Masternya dengan pandangan polos, kemudian menganggukkan kepalanya. Mengundang tawa sedih dari belah bibir Jungkook.
"Ya Tuhan... Apakah aku gila? Atau memang makhluk aneh sepertimu itu nyata? Ah, tentu saja kau nyata... Kau bahkan menjilat bibirku tadi! Hal apa yang sebenarnya kuragukan?! Kenapa semuanya menjadi aneh dan rumit begini sih?!"
Pemuda kelinci ini meledak. Berteriak seraya menatap tajam Tae dan menuding pemuda itu dengan lengkingan suaranya. Ia terlalu bingung. Ia butuh penjelasan konkret. Ia memendam semuanya, bahkan tak berani bercerita pada kakak sepupunya. Dan sekarang anak singa itu berubah jadi seorang manusia dewasa dengan tubuh sempurna dan tambahan telinga serta ekor hewan.
Hal gila apa lagi yang akan terjadi berikutnya? Manusia dengan tubuh setengah hewan?!
"Master Jeon..."
Tae berujar pelan. Meraih jemari Jungkook yang berada di depan wajahnya dan menggengamnya. Menatap manik kelam Jungkook dengan pandangan sedih. Merasa amat bersalah karena telah membuat kejutan paling membingungkan untuk penyelamatnya.
"Maafkan aku..."
Jungkook terdiam. Biar bagaimanapun, Tae tidak bersalah. Sama sekali. Pemuda itu datang karena Jungkook yang mengundang. Jungkook yang naif karena telah membuat keputusan sendiri untuk mengambil dan merawat Tae. Pada dasarnya, semuanya adalah salahnya sendiri.
"Aku tahu kau bingung dan terkejut karena keberadaanku... Karena perubahanku yang tidak menentu... Aku berjanji akan menjelaskan semuanya padamu... Tapi kau harus tenang..."
Perlahan Jungkook menghela nafasnya. Menarik jemarinya yang berada dalam genggaman tangan besar si tampan. Entah mengapa dadanya berdebar pelan. Mendengar bagaimana pemuda tan itu berujar dan memandangnya membuat perasaannya tenang, namun tersengat di waktu yang bersamaan.
"I-itu memang harus! Kau... Berhutang banyak sekali penjelasan padaku..."
Tae mengangguk-angguk. Tersenyum lebar saat melihat Tuannya sudah tenang. Ekor panjangnya bergerak-gerak pelan. Tanda bahwa suasana hatinya sangat baik.
"D-dan... Berhenti memanggilku dengan sebutan Master! A-aku tidak suka!"
"B-baiklah... Jungkook-ah?"
"Begitu lebih baik..."
KRIUKKK~~~
Bunyi gerungan perut itu membuat Jungkook yang awalnya terdiam menoleh pada pemuda tampan yang berada di sisi tempat tidurnya. Mengangkat sebelah alisnya saat menangkap ekspresi malu-malu singa jantan itu.
"Kau lapar?" tanya Jungkook seraya menyibak selimutnya. Menuruni ranjang kemudian berjalan menuju pemuda tan itu.
"Ummm... Apakah... Aku boleh meminta... Sedikit makanan?"
Jungkook tersenyum. Setidaknya, Tae bukanlah manusia liar yang akan mempersulit keadaannya. Pemuda cantik ini meraih jemari Tae. Menggenggamnya lembut, kemudian menariknya pelan hingga pemuda itu bangkit dan melangkah mengikutinya.
"Aku akan memasakkanmu sesuatu... Kajja!"
.
.
.
Jungkook tersenyum. Menatap gemas Tae yang tampak bersemangat melihat hidangan yang mengepul dihadapannya. Karena belum sempat belanja, ia terpaksa hanya memasak ramyeon instan dengan sayuran dan telur saja. Kakak sepupunya itu, biarpun seorang dokter tapi jarang memasak dan makan dirumah. Jungkook sudah teramat hafal dengan kebiasaan wanita cantik itu untuk memesan makanan.
"Woahh! Baunya harum!" ujar Tae dengan maniknya yang berbinar. Telinga dan ekornya bergerak cepat. Membuatnya terlihat menggemaskan meski wajahnya tampan dan tubuhnya -ahem- begitu atletis.
"Ini namanya ramyeon... Makanan wajib disaat darurat..." jelas Jungkook seraya terkekeh. Menyumpitkan gulungan mie yang mengepul itu untuk Tae dan menuangkan kuahnya. Menyerahkan mangkuk yang sudah terisi pada sang empunya kemudian mengambil bagiannya.
Tae terlihat menatap sebentar mangkuknya. Rautnya terlihat bingung. Dengan perlahan ia mengulurkan jemarinya. Meraup untaian mie panas di depannya dan-
PRAK!
"Arghhh!"
"Astaga Tae! Apa yang kau lakukan?!"
Jungkook terkejut. Sepasang doenya menatap panik Tae yang memegangi tangannya yang memerah. Melirik kearah mie yang tumpah di meja dan mangkuk pemuda itu yang bergeser dari tempatnya.
"Kau makan dengan tangan?! Astaga apa kau idiot?! Ramyeon itu baru saja matang! Bahkan kuahnya masih mendidih!"
"M-maaf..."
Dengan sigap, pemuda cantik ini segera berlari ke dapur. Membuka kotak obat yang tergantung di dinding dan mengeluarkan salep dingin serta handuk basah. Kembali menghampiri Tae yang meringis dan meraih jemari pemuda itu.
"Tahan sedikit..."
Jungkook mengusap ruam merah di kulit Tae dengan lembut. Membersihkannya dari kuah ramyeon, kemudian membalurkan gel bening pereda luka pada permukaan kulit si tampan. Sesekali meniup-niupnya pelan demi mengurangi rasa perihnya.
"Kalau kau bingung, kau bisa bertanya... Bukannya bertindak nekat..." ujar Jungkook menahan kesal. Tak habis pikir dengan otak makhluk aneh didepannya.
"Aku... Hanya tidak ingin kau merasa aku makhluk yang sangat aneh... Melihatmu memandangku saat berusaha membuka botol dikamar tadi saja... Sudah membuat aku malu..."
Ada sebersit perasaan tak enak hati yang pemuda cantik ini rasakan saat Tae berujar hal itu padanya. Ternyata sikapnya tadi membuat pemuda itu merasa malu dan minder. Jungkook semakin merasa penasaran pada masa lalu Tae. Tubuhnya tidak normal, itu sudah jelas. Tapi apa mungkin sikap dan pengetahuannya juga tidak seperti manusia pada umumnya?
Seperti Tarzan mungkin?
"Aku... Sudah lupa, bagaimana rasanya menjadi seorang manusia..."
Raut pemuda itu terlihat sedih. Hanya sekilas kemudian bibirnya kembali melengkungkan senyuman untuk Jungkook. Menatap miris mangkuknya dan meja yang terlihat berantakan karena ulahnya.
Jungkook memang penasaran dengan segala hal yang berhubungan dengan Tae. Namun memintanya untuk bercerita saat ini bukanlah waktu yang tepat. Maka dengan perlahan, ia menarik sebuah kursi. Duduk di sebelah Tae, kemudian meraih sumpit pemuda itu.
"Sudahlah... Lupakan saja yang tadi... Aku akan menyuapimu..."
Tae mengangguk patuh. Membuka mulutnya saat Jungkook menyuapkan ramyeon untuknya. Seketika raut sedih pemuda tampan itu berubah. Cerah kala makanan itu menyapa lidahnya.
"Ini enaaaak! Wuah! Ini bahkan lebih enak dari kelinci liar di hutan itu! Hebaaat!"
"Sebegitu tidak tahunyakah kau dengan dunia ini Tae? Kau seperti alien asing yang terdampat di bumi..."
"Jungkook-ah! Apakah besok-besok aku bisa makan ramyeon lagi?"
Jungkook tersadar. Mengerjap pelan dan memandang Tae yang menatapnya penuh harap. Tersenyum manis seray kembali menyuapkan makanan bagi singa jantan itu.
"Tentu saja... Aku akan memasakkan ramyeon untukmu kapanpun kau mau..."
"Terimakasih Jungkook-ah!"
.
.
.
"Masih tidak ada kabar dari Jungkook?"
Namjoon bertanya pelan. Menatap Jimin yang terlihat uring-uringan di sofa. Kini mereka berada di ruangan khusus kampus yang biasa mereka jadikan tempat berkumpul. Liburan mereka sudah usai kemarin dan hari ini mereka kembali pada aktifitas masing-masing.
"Belum... Jungkook sama sekali tidak membuka pesanku... Bahkan dia sama sekali tidak membuka pesan di grup chat kita..."
BLUGH!
"Yak! Siapa yang berani-beraninya melempar bantal ke mukaku!" pekik Jimin marah saat merasakan benda empuk yang mendarat tepat di wajahnya.
"Aku... Kenapa? Kau mau protes?"
Seketika Jimin mengatupkan kedua belah bibir tebalnya. Meringis saat melihat sang pelaku yang menatapnya tajam. Siapa lagi yang akan bersikap seenaknya dan mengeluarkan ucapan pedas selain si manis Yoongi. Pemuda itu terlihat kesal, meski tidak tampak pada wajahnya, namun siapapun tahu bahwa sosok mungil itu tengah dilanda bad mood.
"A-ah... Yoongi hyung..."
"Jungkook sedang sibuk... Ia pindah ke tempat Hyoneul noona... Jadi tidak sempat membalas pesanmu..." ujar Yoongi malas. Mendudukkan tubuh mungilnya disebelah Jimin, kemudian menyandarkan diri. "Kau itu terlalu mendrama Park Jimin.. Bersikaplah elit sedikit... Dunia takkan berakhir hanya karena Jungkook menghilang selama dua hari..."
"Tapi aku merindukan Jungkookku hyung... Tentu saja tidak mendapatkan kabar selama dua hari membuatku khawatir..."
Yoongi mendengus. Berdebat dengan Jimin adalah hal paling melelahkan di dunia. Apalagi jika menyangkut Jungkook. Jadi pemuda manis ini memutuskan untuk mengalihkan atensinya pada Namjoon.
"Bagaimana progres pembangunan barmu? Sudah ada kemajuan?"
"Lebih dari apa yang kukira... Mereka bekerja dengan cepat... Kalau perkiraanku tidak salah, aku sudah bisa menggelar openingnya akhir bulan ini..."
Namjoon tersenyum. Dengan bersemangat mengeluarkan tabnya dan menunjukkan desain ruangan bar yang tengah dibangunnya. Meminta pendapat pemuda manis itu.
Setidaknya tidak akan ada perdebatan diantar Jimin dan Yoongi. Kepalanya tidak siap untuk mendengar adu mulut yang bahkan lebih mengerikan dari perdebatan para penegak hukum di salah satu acara yang selalu ditonton ayahnya setiap malam.
Bisa dilihatnya Jimin kembali berkutat dengan ponselnya. Merengut sambil sesekali mengeluarkan omelan kesal mengenai Jungkook.
"Dasar manusia batu..." kekehnya kemudian kembali fokus pada proyeknya bersama Yoongi.
.
.
.
"Woah! Jungkook-ah! Lihat! Singa betina itu mengejar sebuah kijang! Woah!"
Jungkook hanya bisa ber-sweatdrop ria di tempatnya. Menatap jengah Tae yang terlihat antusias melihat adegan buru berburu yang disiarkan oleh National Geographic Channel pada layar besar disana.
Singa jantan itu terlihat fokus. Menyentuhkan telapaknya pada layar besar itu seolah ikut mengejar si kijang. Memekik kagum saat sang predator berhasil melumpuhkan hewan herbivora itu hanya dengan sebuah terkaman.
"Woah! Hebat! Woah!"
Ekor Tae terlihat bergerak-gerak cepat. Pun kedua telinga animalnya. Menunjukkan betapa senangnya suasana hatinya. Sedangkan Jungkook sama sekali tidak mengalihkan atensi kedua manik cantiknya pada makhluk aneh itu. Menerka-nerka apa yang sebenarnya dia pikirkan dan dia rasakan saat melihat "dunia" yang berbeda dengan apa yang selama ini ia tinggali.
"Ya! Itu hanya acara televisi! Menyingkirlah sedikit dari sana! Matamu bisa sakit nanti!"
Pemuda tampan itu terlihat sama sekali tidak bergeming. Semakin menempelkan pipinya pada layar itu dan mengundang pekikan tidak suka dari Jungkook.
"Ya! Menyingkir dari sana! Ya!"
Dengan kesal pemuda kelinci ini beranjak dari tempatnya. Menarik paksa telinga Tae hingga singa itu memekik kesakitan dan terpaksa menggeser posisinya demi menyelamatkan indera pendengarannya yang berharga itu.
"Awww! Ampun! Ashhhh! Appo~~~~"
Tae merengek pelan. Tarikan Jungkook benar-benar tak main-main kuatnya. Jika telinganya tidak memiliki bulu, mungkin warnanya telah berubah menjadi merah sekarang.
"Kalau kubilang jangan ya jangan! Kau tidak tahu apa bahaya menonton dengan jarak sedekat itu? Lagipula itu cuma gambar yang bergerak! Apa bagusnya sih?!"
Lelaki tampan ini menunduk dalam mendengar Jungkook memarahinya. Naluri hewaninya bekerja dengan cepat. Membuatnya menyesal dan dilanda takut karena kemarahan sang Tuan.
"M-maaf... A-aku hanya... Merasa... Rindu saat melihat gambar itu..."
"A-aku janji tidak akan melakukannya lagi! Sungguh!"
Jungkook menghela nafasnya pelan. Ini tidak akan berjalan dengan mudah. Ibarat merawat bayi, Tae mungkin adalah salah satunya. Pemuda itu benar-benar buta teknologi. Bersikap selayaknya manusia asing yang terdampar di dunia aneh. Bahkan lebih mengerikan dari orang kampung yang pindah ke kota metropolitan.
"Sudahlah... Ini sudah malam... Lebih baik kita tidur..."
Jungkook memberikan gesture bagi Tae untuk mengikutinya. Melangkah menuju kamar Hyoneul dan menutup pintunya cepat. Jangan harap pemuda kelinci ini akan membiarkan si tampan tidur sendiri. Ia tak mau bangun dengan segala kekacauan yang bisa mendatangkan masalah baru dalam hidupnya.
Perlahan pemuda kelinci ini menarik jemari Tae dan membawa sosok itu ke kamar mandi. Meraih dua sikat gigi yang ada di washtafel dan memberikan pasta gigi diatasnya.
"Kau harus menyikat gigimu sebelum tidur... Cha! Ini milikmu..."
Si tampan meraih benda yang diberikan oleh Jungkook. Memperhatikan bagaimana pemuda cantik itu memakainya dan mulai meniru. Sedikit kesusahan mengingat ia tidak terbiasa, atau mungkin sangat jarang melakukan kegiatan ini.
"S-seperti ini?"
Jungkook mengangguk pelan. Ikut menggenggam jemari Tae dan menggerakkannya lembut. Membimbing pemuda tampan itu agar bisa melakukannya dengan benar.
"Gerakkan sikatnya keatas dan kebawah... Pastikan seluruh gigimu tersikat.. Kata eomma, sisa makanan yang menempel itu bisa membuat gigimu sakit dan mulutmu bau... Jadi kau harus selalu menyikat gigi saat malam... Okay?"
Tae mengangguk patuh. Tersenyum menawan hingga sepasang netranya membentuk sabit indah. Memancing debaran dan gelenyar aneh yang dirasakan oleh si manis Jungkook.
Setelah selesai dengan aktifitas menyikat gigi dan mencuci kaki, Jungkook membawa singa tampan itu untuk berbaring di ranjang. Menyiapkan beberapa peralatan medis yang berada dalam nakas kemudian ikut naik dan duduk di sebelah si tampan.
"Jungkook-ah... Mau... A-apa?" tanya pemuda itu takut-takut kala melihat Jungkook yang menyingkap kausnya. Menyentuh plester yang menempel pada perutnya.
"Perbanmu harus diganti Tae... Aku harus memberikan obat pada lukamu agar cepat kering dan menutup..."
Dengan telaten, pemuda ini membuka lapisan kain penutup luka itu. Sedikit melirik kearah Tae yang meringis pelan saat merasaka perih pada perutnya.
Jungkook mulai bekerja. Membersihkan luka makhluk tampan itu dengan alkohol dan membalurkan obat merah. Menutupnya kembali dengan plester yang baru, setelahnya merapikan peralatannya.
"Cha... Sudah selesai... Kau boleh tidur sekarang Tae..." ujar Jungkook dengan senyumannya. Beranjak naik keatas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan bedcover tebal.
"A-aku... Boleh tidur disini?"
Pertanyaan itu membuat si manis menaikkan sebelah alisnya. Menatap penuh minat pada singa jantan yang terlihat menunduk di sebelahnya. Manik emas itu bergerak tak menentu. Seperti tengah merasakan sebuah kepanikan yang dipendam terlalu lama.
"Memangnya kau mau tidur dimana lagi? Di lantai?"
Tanpa diduga, pemuda tampan itu mengangguk. Turun dari ranjang Jungkook dan merebahkan dirinya di lantai yang dingin. Sikapnya benar-benar aneh hingga membuat Jungkook jadi panik sendiri.
"Ya! Tae! Apa yang kau lakukan disana?!"
Tae tidak bergeming sama sekali. Tubuh tingginya meringkuk. Gemetar untuk sebuah alasan yang sama sekali tidak diketahui si manis. Terlihat buliran peluh mulai membasahi tubuhnya. Tanda bahwa ia sedang merasakan sesuatu yang tidak baik.
Melihat Tae begitu ketakutan, Jungkook memutuskan untuk menghampiri makhluk itu. Mengulurkan jemarinya untuk menyentuh lembut surai ikal keemasan di hadapannya.
"T-tae... K-kau tidak apa?"
"T-tidak Professor Park! Tae berjanji akan tidur disini... Tae tidak akan naik ke atas ranjang lagi!"
"Jangan hukum... J-jangan hukum Tae..."
"Tae akan jadi anak baik... Tae berjanji... Ampuni Tae Professor... A-ampun..."
Jungkook benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana. Singa itu benar-benar ketakutan. Semakin meringkuk dan menggeleng pelan. Mencoba menolak sentuhan si manis yang membuatnya panik.
"Tae sadarlah! Kau kenapa?"
"J-jangan sentuh! Tae mohon! Tae tidak akan nakal lagi!"
"Ya! Sadarlah Tae! Ta-"
Bruak!
"Arghhh!"
Dengan tiba-tiba, pemuda tampan itu bangkit dan menerjang tubuh Jungkook. Mengukung si manis di bawah tubuhnya dan menatapnya marah. Manik emasnya menghunus tajam dan geraman kesal terdengar dari bibirnya. Menakutkan.
Pemuda manis ini menahan nafasnya. Nyalinya ciut saat melihat Tae yang tampak begitu murka. Persis seperti saat ia mengahadapi si singa besar di hutan. Memacu kerja jantungnya berdebar dengan begitu keras dan keringat dingin mengalir membasahi pelipisnya.
Melihat sosok Jungkook yang terlihat ketakutan, perlahan manik tajam itu melembut. Seakan baru saja tersadar dari mimpi buruk, tubuh tan itu segera menyingkir. Beringsut duduk di pojok kamar dan memeluk lututnya.
"M-maafkan aku... Maafkan aku..."
Jeon Jungkook masih terdiam di tempatnya. Menatap tidak mengerti dengan semua yang terjadi hari ini. Namun satu yang ia tahu tentang Tae adalah, pemuda itu memiliki trauma dan kenangan yang sangat buruk di masa lalunya.
Trauma yang berkaitan dengan wujud anehnya, sikap kampungannya, dan kepribadian serta emosinya yang tidak menentu.
Perlahan Jeon Jungkook bangkit. Menghampiri Tae yang merutuk dirinya sendiri dan menarik lengan kekar itu. Membawa tubuh rapuh sang predator kedalam pelukan hangatnya.
"Gwenchana Tae... Gwenchana... Kau tidak bersalah... Aku tidak akan marah padamu..."
Pemuda cantik ini berujar pelan. Memberika usapan-usapan lembut pada punggung lebar Tae. Berharap makhluk itu akan berangsur tenang.
"A-aku... J-jungkook-ah a-aku..."
"Tidak apa-apa... Kau tidak perlu bercerita sekarang... Aku akan menunggu sampai kau siap menjelaskan semuanya Tae... Aku takkan marah padamu... Sungguh..."
Perlahan nafas pemuda tampan itu berangsur teratur. Kepalanya bersandar pada bahu Jungkook dan lengannya balas memeluk tubuh indah pemuda manis itu. Mencari kenyamanan disana.
Jungkook hanya membiarkan Tae memeluknya. Terus mengucapkan kata-kata penenang meski hati dan pikirannya terus bertanya-tanya. Mengabaikan bahunya yang perlahan basah karena perbuatan singa jantan itu. Menangis diam-diam.
"Tae... Sebenarnya, kau ini apa?"
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Bacotan Author:
Aku tahu Agustus ke Desember itu lama...
Maafkan aku untuk late update yang... Ugh... Benar-benar late...
Moodswing bener-bener menggangu dan orang-orang dikantor dan dirumah bener-bener mancing sabarku...
Banyak masalah, stress, dan akhirnya kena writer block ringan...
Aku akan berusaha update cepat...
Semoga aja bisa...
Doakan aku supaya nggak kena males ya...
Sumpah aku butuh penyemangat buat sekedar ngetik...
Ini aneh nggak sih?
.
.
.
Review's Replies:
Hirahirama: Terimakasih mau sabar menanti ff karatan ini... :*
Autvmn21: Kalo aku sebisa mungkin nahan pingsan... Kapan lagi cyn bisa dapet pemandangan Hot macem si Tete... XD
dhankim: Tete punya kotak2 kok meski samar... *kemudianlirikMAMA2016*
Mara997: Pada kenyataannya si Tete lebih polos dan bocah dari wujudnya... ENCEHNYA MASIH LAMA OI! *slap*
nitanit: makasiiih... :*
Viyomi: Pertanyaan pintar kamu bakal terjawab sedikit demi sedikit... Yang sabar ya... :*
shemdoch: nanti aku pergi ke mak erot biar panjang *eh* :P
Rizuku: Terimakasih buat semangatnya~~~ :*
Kira : Kalo ada baby Lion kayak Tete udah aku invansi buat diriku sendiri~~~ Aku yg bikin aja emesh sendiri... XD
whalme160700: JungShook... Aku suka ekspresinya Jeka kalo kaget... Tete agresif? UHUK! *seketikabatuk*
chuacu: semoga makin penasaran dan selalu nunggu kelanjutannya... ;)
pelufect: Akan kuusahakan fast update... Terima kasih sudah mau baca ff abal ini... :*
TemeLoveDobeChan: Semua sayang dedek! *teamnuna*
kimriiin: Iya no era... Jekanya juga no era... yg masih fluffy unyu emesh gitu... Aku juga suka tete N.O era... Gans2 bandel...
d14napink: terimakasih untuk masukannya... terimakasih juga untuk review dan pujiannya yang luar biasa... aku turut berduka untuk author itu dan aku mulai memikirkan tentang saran kamu... pokoknya makasih ya untuk masukannya~~ saranghaeee!
VKookKookV: Terimakasih untuk reviewnya! Terimakasih untuk semangatnya! :*
hlyeyenpls: ANU MELE YANG DITUNGGUIN! *slap* XD
Suni Mozaa: TBC adalah saat dimana author sudah tak sanggup melnjutkan ketikan pada episode ini... T_T
TaeKookLove: Astagaaaa... Ini 3k aja aku setengah mati ngetiknya... Apalagi 8 k.. Kasihanilah hamba~~~ T-T
Kapairy: Kepengen melihata Tae... *ketawasetan*
secretVK: kenapa endingnya? Unyu kaaaan? XD
Sabrina Putri: Karena jadi manusia, telanjang, dan ganssss~~~ *lapidung*
Leettlestar: Diterkam Tae yg jadi manusia mah enak.. Percaya deh... *slap*
Ran1314: Ada kok pasti... Tapi step by step yaaa~~~ :)
Taenonimous: Terimakasih udah selalu menanti Fict ini... Akan aku usahakan fast update... *kiss*
sekarzane: Kookie itu dedek goals~~~ Pengen punya yg kayak dia tapi... *sigh*
miyuki94-411: Hehehe... Sebenernya saya juga baru berani ini bikin VKook... Ternyata responnya bagus... Tetap pantengin fict ini ya~~ *kiss*
vkooktrash: iya.. itu si TaeTae... :)
iusernem: Seketika aku pundung mikir kalo khayalannya ketinggian... Waks... Makasih senpai dah mau mampir~~~ *cipok*
Phcxxi: sudah dilanjut ya~~ :*
Wu She-Lay: Done sayang~~~ :*
.
.
.
Please kindy check another VKook fict in my acc...
Aku baru update fict VKook baru... Judulnya Miracles In December...
Terimakasih untuk semua review dan dukungannya...
Sampai ketemu di Chapter selanjutnya...
Aku sayang kalian~~~
