(Scattering golden petals) / If we can map out all of Earth's mysteries,

Namaku Hatsune Miku, mungkin kalian sudah tahu dari awal namaku, tapi ini penting untuk mengetahui namaku langsung dariku. Huh, sekarang aku sedang duduk di dalam perpustakaan sekolah aku sedang memikirkan sesuatu—sesuatu agar klub ini tidak ditutup, oh ya aku ini ketua klub tempat para semua kutu buku berkumpul, dan aku ini adalah seorang kutu buku. Saat Luka menembakku aku kaget, jujur saja baru pertama kali aku berpacaran—dengan cewek pula.

"Hei Miku!" Seseorang mendobrak pintu perpustakaan, aku langsung mengalihkan pandanganku kearah orang yang mendobrak pintu itu.

"A-ada apa?" Tanya ku kepada orang itu.

"Setelah ini, kita berkunjung kerumah Luka-chan," Jawabnya.

"Ke-kenapa tiba-tiba?" Tanyaku lagi.

"Sudahlah, turuti saja!" Dia menutup pintu perpustakaan dan melangkah pergi dari tempat ini. Orang itu, dia… dia adalah sepupuku… atau saudaraku? Ah? Entahlah. Tapi intinya orang tua kami bersaudara, maksudku ibuku dan ayahnya adalah sepasang kembar.

.

MY LOVE STORY : chapter 4

Vocaloid © Yamaha, Crypton, etc.

VERY SLOW UPDATE

.

.

(If you look back, there's a dazzling prairie) / We will be able to go to any place we want.

Langit biru, awan putih, burung-burung yang berterbangan, angin yang berhembus pelan yang bisa membuat perasaan kita damai dan nyaman. Semua hilang. Semua itu telah ditutupi selimut abu-abu, yang berwarna monoton. Hujan akan turun.

"….hiks"

5 menit

4

3

2

Tes—

—Tes—

Hujan…akhirnya hujan pun turun membasahi bumi yang tenang dan damai. Bukankah hujan itu berkah dari Kami-sama? Ya, itu benar.

"Hiks…" Suara isak tangis seorang gadis dapat didengar dari arah pemakaman yang beberapa hari yang lalu seseorang dimakamkan disana. "…hiks…" tampak orang itu sedang menggenggam sebuket bunga yang sudah layu. Sungguh malang.

"?" Seseorang yang mempunyai rambut senada dengan orang yang sedang menangis itu melangkah menuju tempat dimana seseorang sedang menangisi sesuatu hal, yang sudah pasti itu sia-sia. "Kakak…," ucap orang itu lembut.

"…hiks… Lu-Luki…" Luka mengalihkan pandangannya kearah adiknya Luki. "Ada apa, Luki?"

"Sudah dua hari Luka-nee disini terus, Luka-nee pasti lapar dan lelah, ayo pulang?" Tawar Luki kepada Luka.

"TIDAK! AKU MASIH INGIN DISINI LEBIH LAMA LAGI!" Teriak Luka, kau tahu? Luka sedang stress.

"KAKAK! IBU SUDAH MENINGGAL RELAKAN SAJA! INI BUKAN SALAH KAKAK!" Luki balas berteriak dengan kerasnya.

"…" Luka terdiam, matanya menatap adiknya yang masih kecil, adiknya yang sudah berani meneriakinya. "Luki…maafkan aku… aku memang egois, ayo pulang," Ucap Luka lembut, sembari berdiri dari duduknya.

(If light shines from the crevice of clouds) / We spent our lives with anticipations and hopes,

Luka memperhatikan rumahnya yang sekarang hanya ada dia, adiknya dan ayahnya. Sepi memang, tapi apa boleh buat. Semuanya telah direncanakan Kami-sama. Luka, beranjak menuju kamarnya. Apa yang terjadi hari ini disimpannya dalam-dalam kesebuah kotak memori, dengan wajah sendu, Luka kembali melanjutkan menulis komiknya. Setelah sekian lama menulis apa yang terjadi hari ini dan kemarin, perasaan lelah merasuki Luka. Akhirnya, Luka memutuskan untuk tidur sebentar.

Sakine Meiko, sedang membuntuti seseorang, baru saja dia mendapat kabar duka dari wali kelasnya tentang orang tua Luka—tepatnya Ibu Luka—yang baru saja meninggal kemarin. Tapi, membuntuti dan mendapat kabar duka? Itu bukan suatu hal yang ada hubungannya bukan? Meiko menahan napasnya, ketika orang yang sedang dia buntuti berhenti tiba-tiba dan berbalik badan. Meiko segera berpura-pura sedang mencari semut di dinding sekolah.

Orang itu menaikkan sebelah alisnya, kemudian tertawa. "Hahaha…aneh sekali, membuntuti orang tapi berpura-pura mencari sesuatu di dinding?" tanyanya.

Meiko merah padam, ditatapnya orang itu dengan sinis. "Aku terpaksa," ucap Meiko. "Kau Hatsune Miku 'kan? Sudah dengar kabar itu?"

Orang yang dibuntuti Meiko—Hatsune Miku—menatap Meiko, kemudian mengangguk pelan. "Ya, orang tua Luka, sudah meninggal," ucapnya. "Aku akan berkunjung ke sana bersama Rin."

Meiko menggaruk belakang kepalanya, 'Rin katanya, dia akan pergi bersama dengan Rin? ada hubungan apa dia dengan Rin? Dari mana dia mengetahui Rin?' tanyanya kepada dirinya sendiri. Dia arahkan telunjuknya ke hidung Miku, "Hei! Dari mana kau mengenal Rin?"

Miku menunjuk dirinya sendiri, sebelum dia menjawab. Orang yang sedang ditanyakan tiba-tiba datang menutup mulut Miku. "!"

"Bukankah kita harus segera pergi ke rumah Luka, Miku?" Miku mengangguk.

"Aku ikut Rin!" teriak Meiko. "Sebagai seorang pelindung Luka, aku harus ikut untuk mengunjungi Luka," ucap Meiko mantap.

"Pelindung? Bukankah kau itu su—" sebelum Rin mengatakan 'suka' buru-buru Meiko menyeret Rin dan Miku keluar dari sekolah. Dan mengancam untuk mengganggu Miku jika Rin berani mengatakan rahasia kecilnya didepan Miku.

(Your whole body floats in midair) / But who is the one that grants them?

Mereka bertiga—Meiko, Miku, dan Rin—kini berada di depan rumah Luka, dengan pelan mereka mengetuk pintu rumah Luka. Tak lama kemudian, seorang pemuda berambut merah muda membuka pintu rumah. Ditatapnya ketiga orang itu, mereka bertiga tersenyum.

"Mencari kakak?" tanyanya.

"Ya! Lukanya ada 'kan?" tanya Meiko.

Pemuda berambut merah muda itu mengangguk kecil. "Masuklah, kakakku ada di dalam kamarnya."

Mereka bertiga memasuki rumah Luka dan segera berlari menuju kamar Luka, mengetuk kecil pintu kamar Luka sebelum masuk kedalamnya. Meiko dengan segera menuju tempat tidur Luka, dimana Luka sedang tertidur. Miku memperhatikan berbagai macam buku sastra di sana. Sementara Rin, hanya duduk dikursi yang sering Luka gunakan untuk duduk sambil menulis komik. Meiko mencubit pipi Luka pelan, sambil tersenyum.

Dengan wajah tanpa dosa Luka terbangun, wajah polosnya membuat ketiga orang yang ada di sana berblushing ria, dengan kaget Luka mendorong Meiko menjauh dari tempat tidurnya. "Kyaaa!" teriaknya.

"Ugh," rintih Meiko sambil mengelus punggungnya yang menabrak lantai. "Luka, sakit tahu!"

Rin mentertawakan Meiko. "Kekuatan yang hebat Luka!"

Miku tersenyum kecil melihat tingkah Luka. Luka menatap mereka bertiga bergantian, menarik napasnya dan bangkit dari tempat tidur. Luka memberikan tangannya untuk membantu Meiko berdiri. Meiko menyambutnya dengan senang hati. "Kalian ini mengagetkanku saja," ucapnya.

Miku menatap Luka—yang sedang tidak memperhatikannya, kemudian memperhatikan sebuah foto seorang gadis berambut merah muda yang sedang tersenyum bersama seorang gadis berambut coklat. "Kalian sudah berteman lama ya?" tanya Miku tiba-tiba.

Luka menoleh, dan melihat fotonya bersama dengan Meiko. "Ah, kami berteman sejak kecil," jelas Luka.

"Pantas saja Meiko su—" Rin mendapat glare dari Meiko. Buru-buru dia berpaling dan menunjuk Miku, entah apa maksudnya. Miku yang ditunjuk Rin refleks menunjuk Rin kembali. Sementara Meiko dan Luka yang melihat itu tertawa bersama.

"Aku akan menulisnya ke dalam komik, hahaha."

"JANGAN!"

"Hahaha!"

(Kindness is invisible wings) / Until the end of time,

To be continued…

.

.

A/N: Sorry for the late update, saya akhir-akhir ini kena WB, dan sibuk tak menentu. Banyak PR yang harus dikerjakan, maklumlah… saya sekolah di sekolah unggul, jurusan IPA. Terus, saya punya tekad buat mengejar nilai sampai 9,99 hahaha. Tapi, sepertinya gak mungkin karena saya payah dalam biologi dan sejarah (kok malah curhat?)

untuk cerita ini saya hanya bisa buat 1000 wordsatau lebihper chapter, sementara untuk fic lain saya belum bisa update, maafkan saya.

Review, please?