Update-ny mungkin sekarang per minggu, tapi gak tepat juga... Kadang-kadang males sih... :P
Kali ini agak pendek, entah kenapa ak makin males dan makin lama makin banyak ulangan... T.T
Timelinenya sebelum ketemu Tsuna dkk...
Terus, ak lupa ngasih profile OC, sebagian liat aja d profile ak...
Klo sikapnya, dia tenang dan kalem kykny cukup jelas...
Balesan review :
Selamat membaca aja, makasih udah baca dan udah review... ^_^
Disclaimer:
KHR milik Amano Akira, OC milik Author
Ch.4 Meeting
-Yamamoto's POV-
Lagi-lagi aku melihatnya hari ini.
Setiap kali kegiatan klub baseball berjalan pada hari Kamis dan Jumat, aku selalu melihatnya di sana. Seorang anak perempuan tepat di atas ruang kelasku.
Dari lapangan baseball aku dapat melihatnya dengan jelas, rambutnya tidak terlalu panjang dan berwarna hitam. Ia juga merupakan anak dari angkatanku tetapi aku tidak pernah melihatnya di jam pelajaran karena ia berbeda kelas denganku.
Entah kenapa pandangannnya selalu mengarah ke lapangan ini, aku tidak tahu tapi tatapannya selalu terlihat sedih dan kesepian.
Sampai suatu hari aku ditugaskan untuk menaruh barang di gudang lantai atas. Melewati ruangan tersebut, aku memutuskan untuk setidaknya menyapanya.
Setelah menyelesaikan tugasku, aku membuka pintu di ruangan tersebut. Saat itu, aku baru menyadari, bahwa ia sebenarnya menggunakan sebuah kursi roda. Mendengar suara pintu, ia segera menengok ke arahku.
Aku tersenyum kepadanya, iapun membalas tersenyum. Tetapi, aku dapat melihat dengan jelas bahwa ia sedikit memaksakan senyumnya.
"Perkenalkan, namaku Yamamoto Takeshi."
"Aku, Nishizaki Nanaki. Salam kenal." jawab anak itu.
Kami berdua terdiam sesaat, memang aku memutuskan untuk menyapanya. Tetapi aku tidak pernh memikirkan apa yang harus aku katakan kepadanya.
"Sedang apa kau di sini? Bukankah latihan sedang berlangsung?" tanya Nanaki.
"Tadi aku disuruh oleh senpai untuk membereskan peralatan."
Lagi-lagi keadaan menjadi canggung.
"Oh ya, aku sering melihatmu di sini. Memangnya apa yang selalu kau lakukan di sini?"
"Hmm? Bukankah kau dapat melihatnya dengan jelas?"
Aku sedikit bingung, lalu aku menengok ke kiri dan ke kanan melihat banyak peralatan menggambar seperti kuas dan kanvas di sekitar. Aku mengintip ke luar dan di depan kelas itu tertulis "Art Club".
"Ah! Maaf, aku tidak menyadarinya."
Aku segera meminta maaf sambil menggaruk-garuk kepalaku.
"Ahahaha, tidak apa-apa. Kau orang yang lucu ya, Yamamoto-kun." Nanaki tertawa, tetapi bagaimanapun juga aku tidak melihatnya benar-benar bahagia.
Tidak lama kemudian, ia kembali melihat ke arah lapangan baseball.
"Yamamoto-kun, kau suka baseball?"
"Tentu saja."
Aku tidak begitu mengerti maksud pertanyaannya, tetapi tentu saja aku menyukai baseball.
"Iya, ya. Kalau tidak kau tidak akan masuk klub baseball. Bodohnya aku."
"Kau juga suka baseball, Nishizaki?"
Ia terlihat semakin sedih ketika aku melontarkan pertanyaan tersebut, ia membalikkan kepalanya kembali ke arahku dan tersenyum kecil.
"Panggil saja aku Nanaki, Yamamoto-kun." jawabnya, "Tentu saja, aku juga menyukainya."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak ikut bergabung dengan kami saja?"
Ia terdiam, sepertinya aku menanyakan pertanyaan yang salah.
"Sayang sekali itu tidak mungkin. Kau lihat keadaanku kan? Berjalan pun aku tak bisa, apalagi bermain baseball."
"Kenapa?"
Sepertinya ia agak tercengang mendengar respon dariku.
"Tidak dapat berjalan bukan artinya kau tidak dapat bermain bukan? Dengan kedua tanganmu kau masih dapat menggambar, berarti kau juga masih dapat melempar dan menangkap bola menggunakan kedua tanganmu itu."
Saat itu, hanya hal itu yang terpikir di dalam kepalaku.
Ia kembali terdiam, sepertinya ia benar-benar tidak menyangka akan jawabanku.
"Ahahaha, benar juga ya. Kau benar-benar orang yang lucu."
Ia kembali tertawa, entah kenapa kali ini aku dapat melihat sedikit kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
"Terima kasih, Yamamoto-kun."
"Eh, iya, sama-sama."
Kenyataanya, aku tidak mengerti apa maksudnya berterima kasih kepadaku, tetapi lebih baik aku membalasnya.
Mendengar jawabanku, ia tertawa kembali. tetapi aku tetap tidak mengerti karena itu aku hanya bisa tertawa juga.
Tidak lama, aku mendengar suara dari arah lapangan, aku segera mencoba melihat ke arah lapangan dan melihat para anggota klub sedang memulai latihannya.
"Gawat! Latihan sudah dimulai, kalau begitu aku pergi terlebih dahulu ya."
"Eh, tunggu!"
Ia memanggilku tepat sebelum aku melewati pintu ruangan tersebut. Aku segera menengok kembali sebelum melangkahkan kakiku keluar ruangan.
"Kembalilah ke sini besok sebelum kegiatan klub."
"Baik."
Aku hanya menjawabnya singkat, bahkan aku tidak terlalu memikirkan arti perkataannya dan segera kembali ke lapangan.
Setelah itu pada sisa hari itu aku tidak melihatnya di ruangan itu.
Keesokan harinya...
Jam pelajaran sudah selesai, sebentar lagi kegiatan klub baseball akan dimulai. Untung saja aku mengingat perkataannya kemarin, sebelum kegiatan dimulai aku segera pergi ke ruangan tersebut.
Sesampainya, aku pun segera membuka pintu dan menemukan Nanaki seperti biasa di dekat jendela. Mendengar suara pintu dibuka ia segera menengok ke arahku.
"Selamat siang, Yamamoto-kun."
"Iya, siang juga. Jadi untuk apa aku kau memanggilku ke sini?"
"Sebenarnya aku ingin minta tolong sesuatu."
Nanaki menjalankan kursi rodanya perlahan-lahan ke arahku. Kursi roda miliknya tidak otomatis, ia mendorong sendiri rodanya dengan kedua tangannya.
"Tolong bantu aku turun ya?"
"Eh?"
"Maksudku, ini kan lantai 3, bantu aku turun ya. Susah untuk turun sendirian dari lantai 3 ke lantai 1 menggunakan kursi roda." lanjutnya.
"Oh iya, baiklah."
Aku segera berjalan ke belakangnya dan mendorong kursi rodanya. Ia pun segera menengok ke arahku dan tersenyum.
"Terima kasih."
"Tidak apa-apa."
Sekolah Namimori tidak menyediakan fasilitas untuk penyandang cacat, karena itu menaiki dan menuruni tangga menggunakan kursi roda sangatlah sulit.
Tetapi aku tetap membantunya menuruni tangga, perlahan-lahan akhirnya kami pun tiba di lantai 1.
"Terima kasih, Yamamoto-kun. Maafkan aku telah merepotkanmu."
"Tidak masalah, kau boleh meminta bantuanku kapa saja."
"Dari sini, aku sendiri saja."
"Benarkah, kau bisa sendiri?"
"Tenang saja, kalau lantai 1 tidak ada masalah bagiku. Lagipula sebentar lagi kegiatan klub dimulai bukan?"
"Ah benar juga! Kalau begitu aku duluan ya, Nanaki!"
Aku segera mengucapkan salam dan melangkah pergi, setelah itu aku tidak melihat lagi ke mana ia pergi.
Di lapangan para anggota sudah berkumpul, kegiatan akan segera dimulai dan aku tiba di sana tepat waktu.
"Semuanya, berbaris!"
Sang pelatih memberikan komando.
"Perhatian semuanya, mulai hari ini kita akan kedatangan teman baru dan ia akan bekerja sebagai manager tim baseball mulai saat ini juga. Ah, waktu yang sangat tepat, ia baru saja datang. Silahkan oerkenalkan dirimu."
Seseorang masuk ke lapangan baseball dari luar, aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena aku berada di barisan yang agak belakang. Tetapi dengan kursi roda itu aku dapat segera mengetahui siapa orang tersebut.
"Namaku Nishizaki Nanaki dari kelas 1-B, mulai hari ini aku akan menjadi manager klub baseball, salam kenal."
End Of Chapter 4
Pendek dan belom selesai, chapter depan masih ngelanjutin masa lalunya.
R&R^_^
