ONE MORE TIME .

.
Tao's Diary .

.
Dear diary,
Aku tidak terbiasa dengan sehari tanpa kabar dari mu. Namun sejak kemarin satu pesan ku hanya kau balas dengan dingin.
Aku tak suka itu. Dulu saat aku membalas pesan mu dengan dingin kau akan marah pada ku. Apa aku boleh melakukan hal yang sama?
Tapi apa aku masih berhak marah atas pesan mu yang dingin itu?
Aku ingin marah tapi aku tidak bisa marah pada mu. Aku terlalu menyayangi mu. Yang bisa ku laku kan saat ini hanya menangis, menangis dan menangis. Mengingat sedikit saja kenangan bersama mu hanya akan membuat ku kembali menangis. Seperti saat ini. Aku menulis dengan air mata yang tak berhenti mengalir, hidung ku tak bisa berfungsi dengan benar karena tersumbat. Aku tau kau tak suka aku menangis karena hanya akan membebani mu. Tapi air mata ini mengalir dengan sendirinya. Aku hanya bisa terus menyekanya dan berharap air mata ku dapat berhenti sebelum habis.

Apakah kau akan sungguh-sungguh pergi meninggalkan ku?
Aku tak pernah sekalipun membayangkan waktu itu akan terjadi. Yang selalu ku bayangkan adalah aku dapat bersama mu untuk waktu yang lama. Sejak dulu aku tak pernah membayangkan akan kesedihan seperti yang ku rasakan sekarang. Hanya kebahagiaan dan senyuman mu yang selalu ada. Ya, karena selama ini aku hanya memikirkan diri ku sendiri.

.

Kesedihan yang kau rasakan tak pernah kau tunjukkan pada ku. Apa aku tak bisa dipercaya? Apa begitu sulit menceritakannya pada ku?
Kau tau sejak dulu, aku bukanlah orang yang peka. Dan aku menyadarinya.
Seharusnya kau menceritakan apa yang sebenarnya sedang kau rasakan agar aku faham. Aku tak pandai membaca raut wajah, aku tak bisa membedakan mana yang baik dan tidak, aku hanya bisa mengandalkan perasaan yang sebenarnya tak dapat diandalkan.
Aku terlalu buta akan perasaan orang lain, tapi aku berusaha. Berusaha untuk dapat memahami. Tapi aku memang bodoh. Aku tetap tak dapat memahami perasaan mu. Aku tetap buta dengan kesedihan mu. Aku buta akan dunia luar. Hanya diri ku yang sanggup ku pahami.

.

Dulu kau pernah bercerita.
Kau bermimpi aku meminta putus, menyudahi hubungan kita. Kau menangis. Aku juga menangis.
Aku menenangkan diri mu yang masih saja menangis, padahal aku juga melakukan hal yang sama. Aku terlalu takut jika mimpi mu menjadi kenyataan. Aku tak mungkin menginginkan akhir dari hubungan ini. Yang ku hawatirkan dari mimpi mu adalah sebaliknya.
Kau yang mengakhirinya.
Fikiran itu selalu menjadi mimpi buruk ku. Dan selama beberapa hari ini setiap aku memejamkan mata, mimpi itu terus muncul.
Aku takut.
Aku takut bila mimpi itu menjadi kenyataan.
Aku takut bila mimpi indah ku selama ini harus hancur.
Aku takut tak dapat membagi lagi semua rasa di hati ku pada mu.
Aku takut akan semua hal buruk yang akan terjadi.

.

Aku pengecut.
Kau tau itu.
Aku bodoh.
Sangat.
Aku pecundang.
Memang.
Aku tidak peka.
Sejak dulu.
Aku menyebalkan.
Semua orang juga tau itu.
Aku mudah diperdaya.
Aku baru menyadarinya dari mu.
Aku tak memiliki perasaan.
Tapi aku menyayangi mu.

.

Hanya dengan menulis aku bisa mengungkapkan semuanya. Hanya dengan menulis aku dapat terbuka. Hanya dengan ini aku dapat menjelaskan.
Maaf jika hanya dengan ini kau mau mendengarkan ku.

.

TBC