Kita Dijodohkan
Naruto Masashi Kishimoto
.
.
Chapter 4.
"S-sebenernya. Aah.. Jadi begini Hinata—"
Oke bagaimana mulai nya ya, aku akan jujur atau sedikit aku bubuhi kebohongan manis. Aku tidak sejahat itu, pasalnya aku tau bagaimana rasanya dibohongi. Ya Tuhan berilah keberanian padaku.
"A-aku kemarin membantu Sakura. Mobilnya mogok di tengah jalan. Dia sendirian"
Hinata menatapku dan tatapan itu perlahan beralih. Aku terus mengamatinya dan mencoba mengartikan ekspresinya. Dia melihatku sesaat lalu buang pandangan, jadi.. Salahku dimana? Aku sudah jujur. Dan dia.. aku tidak paham dia. Lalu apa maksud Sakura untuk mengembalikan payung di depan Hinata. Konyol sekali.
"Sou.. sou. Uum, sendirian ya?" Ucapnya sengaja terlihat dibiasakan. Lalu jari jarinya dengan gopoh merogoh tas kecilnya dan mengambil smartphone. "Sepertinya aku ada janji, aku duluan." Lalu dia beranjak pergi.
"Hinata!" panggilku. Mencoba menyusul.
"Naruto.." Cegah Sakura, lenganku dipegangnya. "Hentikan!"
"Apa?! Mau mu apa.."
"Aku.. hanya rindu orang yang pernah hadir dihidupku."
Aku menatapnya. Kasian karena mantan gadisku telah merasakan rindu yang berat. Perlahan, aku lepas pegangan tangannya dari lenganku. "Memang kita tidak akan pernah tau apa yang kemudian terjadi, tetapi putus adalah bagian dari cinta-cintaan."
"Naruto.. Aku.."
"Sudahlah."
Aku tidak tau kemana Hinata pergi, tapi firasatku selalu saja salah. Aku pikir Hinata sengaja pulang dengan busway atau bagaimana, aku sudah mencarinya dimana-mana. Tanya kepada teman satu fakultasnya pun nihil. Tapi ku pikir ada satu tempat yang belum aku cek.
Atap.
Mataku menangkap siluet gadis berambut panjang.
"Hinata.. kau baik?"
"Uum iya" suaranya serak parau.
"Aku pikir kau ada urusan tadi." Aku hanya akan pura-pura menjadi laki-laki yang tidak tahu menahu walau aku paham betul perasaannya.
"Disini urusanku bersama angin."
"Hoo souka. Hm, kau tidak sedang cemburu, 'kan?"
"Nani?!" Dia berbalik menatapku. Intonasinya tinggi. Agak marah atau dia lagi ngambek saja sekarang. "Cemburu itu hanya untuk orang yang nggak percaya diri"
"Lalu?"
"Dan sekarang aku sedang tidak percaya diri."
Aku tersenyum geli. Wajahnya memerah, dan pasti memanas. "Kenapa tidak percaya diri?"
"Aaah, gak peduli lagi, mau balik ke apartement. Besok pura-pura saja hubungan kita berakhir"
Apakah itu bagian dari pernyataan perasaan? Atau …
Entahlah.
Hinata bangkit lalu beranjak meninggalkan atap, menuruni tangga. Sementara aku masih senyum-senyum sendiri karena tingkahnya. Saat itu, aku pribadi tak tau apalagi yang aku inginkan. Barangkali hanya ingin oksigen & tetap bernapas agar bisa bersamanya setiap saat.
-.-.-
-Kita Dijodohkan-
-.-.-
Beberapa hari kemudian dan disaat acara fakultas kami berlawanan, aku hanya duduk santai di kantin. Hanya melihat lihat atau barangkali mengawasi dia dari orang-orang yang menyakitinya.
Aku memesan satu mangkuk ramen untuk menemaniku mengecek timeline group sekolah yang menyiarkan berita terupdate tentang Shikamaru yang kabarnya kalah debat dengan gadis asal asrama wanita.
Mataku tiba-tiba mengawal Sakura, gadis itu. A-ah, dimana arah jalannya.. Astaga dia menuju ke Hinata. Apa yang dia rencanakan.
"Uum, hai Hinata" aku mengawasinya dari jauh.
"Oh, hai." Hinata meraih tangannya dan menyalaminya.
"Aku ingin minta maaf soal kemarin. Sungguh, aku tidak ada maksud."
"Ooh, tidak apa-apa. Aku tidak menanggapinya secara serius. Lagian kami juga sudah baikan" ucapnya dengan senyum hingga matanya menyipit. Apa?! Dia bohong.
"Syukurlah. Kau paham pastinya, bagaimana kita dulu bersama-sama lalu saat ini.."
Eh, apa maksudnya mengungkit masa lalu?
"Watashi mou, Sakura. Tidak ada orang yang terbiasa dengan kehilangan." Hinata memegang pundak Sakura. Lalu tersenyum hangat. "Aku merasa sedih untuk apa yang hilang, tapi kupikir mungkin ada pelajaran yang bisa kita dapati dari situ." Lalu dia mengambil tas dan beranjak pergi.
Sebenarnya apa yang dia lakukan. Mengatakan jika hubungan kami berakhir lalu berbohong jika kami baik-baik saja. Aku bebanar benar tidak mengerti arahnya. Yang ku pikirkan adalah satu inti bahwa dia cemas jika aku pergi darinya. Dia benar-benar kebalikanku, saat ini bisa dibilang hubungan kita sedang 'break out'. Sangat menyedihkan.
Tapi bisa apa.
Beginilah..
Sedikit cemas, banyak rindunya.
Aku melanjutkan makan ramen yang mulai mendingin, membuat ramen lezat ini menjadi gemuk dan hambar.
"Naruto.. Kita bicara sebentar oke?"
Aku mendongak menatapnya. Sakura tiba-tiba berada tepat didepanku.
"Eh, sudah lama kita tidak nongkrong disini." Sakura membuka pembicaraan. Mulai menarik kursi dan duduk didepanku yang dibuat senyaman mungkin olehnya.
"Kau mau bicara serius apa ngobrol?"
"Gommen. Anu.. soal kemarin a-aku minta m-maaf."
"Tak masalah, lagian aku bisa mengatasinya."
Dia menatapku dalam, seolah olah menyalurkan kata rindu dan ingin bersatu kembali. "Naruto—"
"Sakura." Aku memotongnya. Memegang tangannya. "Percayalah, aku pernah kau buat bahagia. Dulu"
"Sekarang?"
"Tidak Sakura. Kau bukan lagi yang dulu.."
"Aku mungkin bukan aku yg dulu. Bukan lagi yang selalu berdua denganmu. Waktu telah membawa aku pergi. Tapi perasaanku tetap saja kepadamu."
"Sekarang beda cerita, takdirku tak lagi denganmu. Maaf."
"Jadi, kau pilih dia. Cepat sekali move on-nya"
"Bukan. Bukan melupakan, tapi menghilangkan rasa."
"Oh, sou." Ucapnya sendu. "Aku gak akan maksa. Tapi, bukankah aku ini masih bisa jadi temanmu?"
Aku tidak menjawab, cukup lama. Entahlah, aku ragu karena berpindah status hubungan yang pernah melalui masa-masa gejolak cinta itu memang akan selalu beda dan akan tidak asik lagi.
"Hm, kau 'kan memang temanku dari dulu"
Aku memberikan senyum lebarku dan dia terlihat lega.
Gadis seperti Sakura adalah orang yang aku suka. Terlebih lagi dia adalah pribadi yang ramah, apa adanya, dan selalu saja menjadi sesuatu untuk memacu semangatku. Tapi orang yang aku cinta adalah Hinata. Dia orang yang membuat hatiku berdebar dan aku selalu ingin disampingnya dan aku ingin hidup lama dibumi untuk membuatnya bahagia.
Entah aku harus merasa bahagia atau ikut sedih bila dia memaksa untuk menghilangkan rasa cinta nya terhadapku demi selalu bersama.
Aku tahu dia tegar.
Aku tahu dia saat ini berharap. Tapi dia harus tahu kapan untuk berhenti.
Aku pikir Sakura itu bijaksana, tapi saat ini dia sedang satu langkah menujunya. Semoga dia bisa membedakan mana persahabatan dan asmara. Aku percaya dia.
"Nih permen." Ucap Sakura sambil menyodorkan permen mint.
Buat apa, lagian aku tidak suka permen pedas. "Aku ambil."
"Makan sekarang."
Aku menatapnya. "O-oke." Aku membuka bungkus dan memasukkan permen kedalam mulutku. "Pedeeesss… kamving!"
Sakura tertawa nyaring. "Apa? Biarin, biar kamu tau rasanya."
"Uuughh.. gila."
"Nih, aku juga makan." Dia menunjukkan permen rasa gingseng dan memasukkan kedalam mulutnya. "Kali aja berguna."
Aku suka caranya mengembalikan suasana. Dia benar-benar ahli.
-.-.-
-Kita Dijodohkan-
-.-.-
Tepat 4 minggu setelah kejadian sebelumnya.
Saat ini aku duduk santai di ayunan dan sesekali membandulkan ayunan dengan kakiku. Sementara fikiranku melamun entah kemana.
'besok pura-pura saja hubungan kita berakhir'
Aaih.. Sejujurnya kita ini masih ada hubungan atau tidak? Eh wait. Kita 'kan terikat benang perjodohan. Kok jadi gue pikirin banget ini hubungan, yang sejujurnya aku terseret sendiri ke hubungan ini.
Berfikir. Berfikir.
Aku menjentikkan jariku. Chat dia sajalah! Bodo amat jika dikacang yang penting rinduku tersampaikan.
Naruto Uzumaki : Hoii
Jantungku berdegub, takut bila dia tidak membacanya, takut bila dia sengaja mengacangi aku. Tapi yang aku tahu Hinata bukanlah seperti itu. Kecuali kalau dia lagi badmood.
Setengah jam. Sial.
Aku menghela nafas, tiba tiba aku menyesal karena mengirim pesan.
Tapi, tak lama kemudian. Sebuah notifikasi muncul, notifikasi yang aku tunggu dari tadi. Rasanya ingin teriak dan gulung-gulung di rumput.
Hinata Hyuuga send a sticker.
Ouh.
Naruto Uzumaki : Di rumah?
Semoga dibales. Semoga dibales. Jangan dibaca saja, bales! Aih rasanya aku seperti gila saja.
Hinata Hyuuga send a sticker.
Oh please. Apa tidak ada kalimat lain yang ingin kau ungkapkan hah, Hinata?! Hargain apa kalau aku bikin topik. Jangan kirim sticker panda hode!
Naruto Uzumaki : Keyboardmu rusak, hah?
Beberapa menit kemudian dia tidak membalas pesanku. Lalu yang kudapatkan adalah tanda 'read'. Sialan! Kamving! Pepes onta! Panda arab!
"Naruto."
Aku terjengat, "hah?!" oh sialan. Tou-san ku satu satunya ini sengaja bikin aku jantungan apa gimana. "Tou-san... Ngapain?"
"Tou-san liatin dari tadi muka mu masam terus."
"Eh tou-san, kalau dulu waktu pesan Tou-san gak dibales sama Kaa-san, apa yang Tou-san lakukan?"
"Yaa samperin ke rumah."
Ada benarnya.
Yeah, mau gimana lagi. Tidak ada cara lain untuk membuat hubungan kami membaik selain berkomunikasi langsung. Tanpa fikir panjang, aku langsung bangkit dan langsung cabut ke garasi dan mengendarai mobilku menuju apartemen Hinata.
Aku menghubunginya saat sampai didepan apartement Hinata.
Ya. Tentu, ke apartement nya mau dimana lagi. Aku ingat betul 4 minggu lalu dia ingin balik ke apartemennya. Tanpa banyak basa-basi aku menaiki tangga dan menuju depan apartemennya.
Aku mengirimi dia pesan, belum, belum aku kirim. Tidak, rencanaku adalah dia harus menemuiku dulu dan jika dia membaca pesanku sebelum dia membuka pintu pasti dia tidak akan membukakan pintu. Marvelous!
Ayo kita akukan.
Tok tok tok!
Hinata seperti biasa membukakan pintu. Dengan sigap dan cepat aku mendorong pintu lebih lebar dan memaksa masuk. Aku tutup pintunya dengan segera aku mengunci Hinata dengan kedua tanganku. Tangan kanan ku berada diatas bahunya. Dan tangan kiriku memegang pinggulnya.
Gadis manis didepanku hanya menggunakan singlet tipis yang longgar. Bagus. Empat minggu tidak bertemu dan hasratku memuncak.
"Shit.."
"Ouh. Kau memekik, Nona manis."
"Oh yeah, lalu apa? Kau datang kemari dan tidak mengirimi ku pesan?"
"Sudah." Jawabku enteng.
Hinata melirik handphonenya yang menyala, manampilkan notifikasi 1 pesan masuk dan tandanya itu dariku.
"Oh, kapan kau mengirimnya?"
"3 detik sebelum kau membukakan pintu." Jawabku sambil berbisik mendekat ke daun telinganya. "Lalu apa kau tidak merindukanku? Membicarakan hal itu membuatku merasa bergairah dan aku selalu mengingatmu!"
"Ya, aku tau, jika tidak kau tidak akan seperti ini! Sepertinya…" Hinata menutup mulut. Dia pasti sangat mengerti bahwa setelah ini aku akan menciumnya.
Aku terkekeh, "Kau sudah sangat hafal dengan watakku! Aku tidak akan melakukan hal yang sama kecuali saat kita berada di atas tempat tidur. Jadi ku rasa aku akan melakukan hal lain yang belum pernah ku lakukan seperti…"
Hinata memotong ucapanku dengan teriakan panjang tertahan.
Tangan kananku yang sedari tadi memegang bahu Hinata kini meremas payudara Hinata, meraba perut Hinata dan bibirku mencium bibir hinata dengan bergairah. "Aahnn.."
Sambil menciumnya aku menurunkan bra yang ia pakai dan mulai meremasnya dengan kenikmatan. "Aaahh.."
Aku menghisap bibir atasnya lalu sesekali menggigit pelan bibirnya. Tanganku menggerayah kebawah, dan memasukkan jariku dalam dirinya. Tubuh Hinata bergetar hebat, aku bisa merasakannya, kini tangannya meremas dadaku dan mencengkeram pakaianku kuat-kuat. Aku merasakan seluruh tubuh Hinata bersandar padaku penuh penyerahan.
"Aaah.. U-uugh." Lenguhnya.
"Kau sudah menyakitiku kali ini! Kau melanggar hak hak reproduksiku!" protesnya lemah. Hinata menengadahkan kepalanya untuk menyerangku dengan tatapanya. "Kalau kau fikir kali ini aku menikmatinya, kau salah! Keluarkan tanganmu, aku bersumpah ini sangat sakit, Uzumaki!"
"Lalu kau akan menuntutku?"
Aku menekannya lebih dalam, aku hanya ingin Hinata kesakitan. Sialan gairah seks ini sungguh menyiksaku. Ini pertama kalinya aku memaksa seseorang untuk melakukan seks.
"Aakhh… ku mohon hentikan. Aku sudah tidak sanggup lagi menahannya!"
Tubuh Hinata sudah sangat lemah dan tidak bertenaga. Aku melihat sesuatu yang mengalir di pipinya, Hinata menangis? Apakah sesakit itu? Gairahku padam secara tiba-tiba, Aku melepaskan Hinata dengan erangan yang tertahan karena dia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang di keluhkanya.
Hinata merapatkan kedua pahanya kuat-kuat. "Aakkh, s-sakitnya tidak bisa hilang!"
Aku meremas tangan Hinata, aku juga kebingungan. Kenapa bisa seperti ini. Tanpa fikir panjang aku membopong nya menuju tempat tidur.
"Tahanlah, aku akan menghubungi dokter"
.
.
"Anda tidak bisa memaksa pasangan anda untuk melakukan treatment-treatmentseks pada saat dia sedang tidak menginginkanya. Itu sangatmenyakitinya, hal itu bisa menyebabkan pendarahan seperti sekarang yangdalam dunia kedokteran kita sebut dengan Vaginimus. Tapi anda tidak perlumerasa khawatir karena tidak ada yang terluka. Pasangan anda hanya sedangmengalami stress dan kelelahan. Dan dapat di pastikan akan segera pulih dalambeberapa hari."
Aku menghirup nafas sebanyak banyaknya. Aku benar-benar tidak tahu tentang Vaginimus atau semacamnya, aku juga tidak menduga jika kejadian seperti ini akan terjadi. Aku tidak seharusnya memaksa Hinata. Lalu, bagamana jika orangtuanya tahu tentang ini?
Double shit.
Harusnya aku pikir panjang dulu.
Wajah Hinata yang pucat dan di infus dengan sekantong darah membuatku semakin bersalah. Gommen Hinata-chan..
.
.
.
.
TBC
-.-.-
Gommen buat readers lama nunggu. Sankyou yang udh alert dan favorite. Sankyou dukungannya, wakakak. Terharu gue /plak.
Dan sangat maaf sekali jika setiap chapter rada gak nyambung. Sebenernya ada setiap chapter yang gue skip kejadiannya pake tanda 3 streep (-) pas di enter jadi garis lurus dan pas di publish hilang. Mohon dimaklumi.
Promo dikit. Id-Line rp; Pandarab_ :v
