Kagome mengendap-ngendap di antara dedaun pepohonan yang rimbun. Dengan hati-hati dia mengambil langkah dan mulai membidikan anak panahnya kepada siluman yang tengah mengamuk di bawahnya. Sudah empat hari semenjak dia pergi dari kelompok Kouga dan memutuskan untuk pergi mencari Shikon no Tama sendirian. Kini Kagome sudah mengantongi dua buah pecahan Shikon no Tama dan ini adalah pecahan ketiga yang Kagome incar. Sangat kebetulan memang Kagome mendapatkan pecahan Shiko no Tama begitu cepat, namun hal itu bagi Kagome adalah sebuah keberuntungan mengingat persiapan Kagome yang begitu minim dan kemampuan Kagome yang tidak begitu hebat dibandingkan teman-temannya dan Kouga.

Kagome membidikan anak panahnya ke dada siluman tersebut dan langsung melepasnya dengan mantap. Anak panah tersebut memang menancap ke dada siluman itu namun itu tidak cukup untuk merobohkannya. Kagome yang menyadari hal itu bersiap-siap untuk melepaskan anak panah kedua namun sebelum dia selesai memasang anak panah pada busurnya, pohon yang menjadi tempatnya bersembunyi diserang oleh siluman itu yang menyadari kehadiran Kagome. Kagome kehilangan keseimbangannnya dan ikut terjatuh bersama pohon ini. Namun Kagome tidak mau berakhir seperti itu, dengan mantap dia menginjak dahan yang berada paling dekat dengannya dan langsung melompat lalu melepaskan anak panahnya ke arah siluman tersebut. Walau tidak yakin dengan apa yang dilakukannya tadi, Kagome berharap serangannya tadi dapat melumpuhkan sang siluman. Dan benar saja, anak panah yang Kagome lepas tadi mendarat di kepala sang siluman yang langsung roboh. Kagome tidak tahu apakah siluman tersebut mati atau hanya pingsan, tapi satu yang Kagome tahu bahwa dia harus cepat-cepat mengambil pecahan Shikon no Tama yang tertanam di lengan kiri siluman tersebut sebelum dugaan paling terburuk terjadi –sang siluman hanya pingsan dan dia bisa terbangun kapan saja!

Setelah mendapatkan pecahan Shikon no Tama dan menaruhnya di botol kecil, Kagome langsung pergi dari tempat itu sejauh-jauhnya dan berakhir di pinggiran sungai. Aliran air di sungai ini tidak begitu deras sehingga Kagome memutuskan untuk membasuh wajahnya dan mencelupkan kakinya.

"Ah, segarnya!"

Selama beberapa menit Kagome membiarkan dirinya seperti ini. Menikmati kesegaran udara dan dinginnya air sungai yang menerpa kedua kakinya sampai ketenangan tersebut terusik oleh suara perut yang mita segera diisni.

"Haaahh! Lapar! Aku harus mencari makanan nih!"

Kagome bangun dari duduknya dan mengelap kakinya yang basah kemudian memakai kembali sepatunya. Setelah semuanya beres, Kagome meninggalkan pinggiran sungai itu dan kembali melanjutkan perjalanannya. Tujuannya sekarang adalah mencari desa terdekat!

Setelah 25 menit berjalan, akhirnya Kagome menemuka sebuah desa. Dalam perjalanan, Kagome sering bertemu dengan beberapa siluman. Namun dirinya tidak mau terlibat terlalu jauh dengan siluman yang tidak memiliki Shikon no Tama karena jika dia terluka, hal tersebut akan menjadi sebuah petunjuk bagi Inuyasha dan Kouga untuk menemukan dirinya.

Kagome memasuki desa tersebut dan langsung mencari sebuah tempat persinggahan karena rumah makan di zaman ini sangat jarang ada kecuali di kota –atau bisa dibilang desa yang lebih besar dan banyak penduduknya. Setelah berkeliling, akhirnya kagome menemukan sebuah penginapan yang cukup sederhana. Pemilik penginapannya pun ramah dan Kagome memutuskan untuk menginap satu malam saja. Setelah diantar oleh pemilik penginapan ke kamar, Kagome segera merebahkan tubuhnya. Sungguh sangat melelahkan perjalanan yang dialami Kagome. Sudah tiga hari ini dia harus tidur di alam terbuka dengan tingkat keawasannya yang tinggi. Hal itu menyebabkan dia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Ingin sekali dia tinggal di penginapan ini untuk waktu yang cukup lama, namun dia hanya mempunyai uang untuk membayar penginapan sampai besok. Akhirnya dengan berat hati besok malam dia harus tidur di alam terbuka lagi.

Kagome mengerjapkan matanya sebentar lalu tersentak bangun. Haaa…! Hari sudah gelap, dirinya ketiduran! Padahal dia berencana mau mandi dulu lalu makan lalu tidur, tapi kenapa urutan rencananya kini malah terbalik!

Kagome seger keluar dari kamar dan menuju tempat makan. Tadi siang Kagome sempat diberitahu dimana letak ruang makannya jadi dia tidak perlu bertanya lagi jika ingin ke ruang makan. Namun sesampainya di sana, Kagome hanya mendapatkan ruangan yang kosong dengan meja yang kosong juga.

'Apa sih yang aku harapkan? Kan sudah pantasnya tidak ada makanan jam segini!' batin Kagome.

"Maaf nona,"

Kagome kaget dan langsung membalikan badannya. Dilihat bibi pemilik penginapan berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Sejenak Kagome kira yang memanggilnya tadi adalah hantu karena penginapan di sini cukup sunyi.

"Maaf mengagetkan nona," ucap bibi tersebut meminta maaf.

"I-iie, daijobu desu," sahut Kagome.

"Tadi saat saya memanggil nona untuk makan malam tidak ada sahutan dari dalam kamar. Lalu saya sedikit melihat ke dalam kamar dan mendapatkan nona sedang tertidur pulas," ucap sang bibi panjang lebar.

"Go-gomen ne," kini Kagome yang berbalik meminta maaf.

Sang bibi hanya tesenyum lembut dan membelai tangan Kagome, "Sekarang pergilah mandi. Makanan segera bibi siapkan".

"Eehh?" Kagome melongo mendengar ucapan bibi barusan. Tidak percaya, sungguh tidak percaya! Baik sekali bibi itu mau repot-repot dengan orang seperti Kagome.

"Bibi sudah terbiasa dengan pengembara sepertimu, nak," lanjut sang bibi seakan mengerti arti dari wajah Kagome. Kagome pun mengangguk mengerti dan segera bersiap-siap untuk pergi mandi di pemandian air panas terbuka.

'Malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan!' teriak Kagome girang dalam hati.

xxXxx

Kagome keluar dari kamarnya dengan memakai kimono dan berjalan menuju ruang makan dengan sedikit bersenandung riang. Saat Kagome melewati sebuah ruangan yang entah tidak tau ruangan apa itu, dirinya berhenti dan mendengar percakapan yang sedang berlangsung. Bukannya menguping, hanya saja suara mereka terlalu kencang untuk penginapan yang sedang sepi.

"Akhir-akhir ini banyak sekali penculikan yang korbannya adalah para gadis," ucap suara satu.

"Iya, terakhir aku dengar penculikan tersebut di desa sebelah. Korbannya adalah teman dari gadis yang sebelumnya diculik juga," timpal suara dua.

"Temannya?"

"Kalau tidak salah temannya itu adalah seorang miko di desa tersebut".

'Penculikan…? Miko…? Apakah ini ada hubungannya dengan siluman-siluman yang memiliki Shikon no Tama…?'

"Permisi," Kagome mendorong pintu kertas ruangan itu dan membuat dua wanita paruh baya tersebut terlonjak kaget. "Maaf mengganggu, bisakah kalian memberitahu dimana desa tersebut?"

"Desa?" ucap wanita yang rambutnya hampir memutih yang diyakini Kagome adalah si suara kedua. "Hoo, maksudmu desa yang terjadi penculikan itu?"

Kagome mengangguk.

"Apakah kau baru saja menguping, anak muda?" ucap yang lainnya.

"Go-gomen ne…" ujar Kagome sambil membungkukkan badannya. "Aku tidak sengaja mendengarnya karena suara kalian terdengar dari luar."

Kedua wanita itu refleks menutup mulutnya dan saling berpandangan. Lalu mereka tertawa dan menyuruh Kagome mengangkat wajahnya. Mereka juga meminta maaf. Kagome hanya melongo melihat tingkah laku mereka.

"Jika kau ingin pergi ke desa itu, saat kau keluar dari desa ini teruslah berjalan ke arah barat selama 45 menit dan kamu akan menemukan desa yang sedang kami bicarakan itu. Tetapi perjalanan menuju desa itu cukup berbahaya karena banyak siluman-siluman yang suka berkeliaran. Jadi sebaiknya kau urungkan niatmu itu, nak," jelas sang suara dua.

Kagome hanya tersenyum menanggapi penjelasan tadi dan membungkuk mengucapakan terima kasih lalu pergi menuju ruang makan. Kagome yakin, bahwa kali ini dia pasti akan berhasil seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Dengan hati yang sudah mantap, saat dia terbangun besok dia akan langsung menuju desa itu.

xxXxx

Ternyata apa yag diucapkan oleh wanita itu benar. Banyak sekali siluman berkeliaran dalam perjalanan menuju desa tersebut. Kagome tidak yakin dia akan sampai di desa itu sebelum malam. Kagome tetap mempertahankan caranya –yaitu menghindari pertempuran dengan siluman yang tidak memiliki Shiko no Tama.

Kagome yang sedang duduk-duduk di dahan pohon langsung menegang begitu dia mencium sesuatu yang tidak biasa. Nafasnya naik-turun dengan lambat. Dia yakin, bahwa ada siluman yang sangat dekat dengan dirinya.

"Bau darah dari miko penjaga Shikon no Tama memang berbeda".

Kagome refleks menolehkan kepalanya. Kagome tidak mengenali sosok yang berada di hadapannya tapi satu hal yang Kagome tahu bahwa sosok di hadapannya itu adalah seekor siluman. Dengan sangat hati-hati Kagome mengambil anak panahnya dan dia berencana dengan sekali gerakan dia akan menyerang siluman di hadapannya itu. Namun nasib berkata lain, saat Kagome hendak membidiknya, pandangan Kagome memudar dan menjadi gelap.

xxXxx

Inuyasha melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan Sango, Miroku dan Shippo yang tertinggal jauh di belakangnya. Inuyasha juga menghabisi siluman-siluman 'kebetulan lewat' dengan sekali tebasan. Sango, Miroku dan Shippo hanya menahan nafasnya setiap Inuyasha menghabisi para siluman tersebut tanpa menyisakan bagian untuk mereka. Mereka tahu bahwa ada hal urgent yang sedang tejadi, namun bersikap ceroboh dan terburu-buru bukanlah hal yang tepat.

"Inuyasha!" panggil Miroku. "Hei, Inuyasha!"

Tidak ada jawaban. Inuyasha semakin mempercepat langkahnya.

"Baka!" Miroku membuka segel pada tangan kanannya dan mengarahkan ke arah Inuyasha. Inuyasha yang pikirannya kini terfokus dengan satu alasan merasa bahwa ada sesuatu yang menarik dirinya dan sekelilingnya. Saat Inuyasha membalikkan tubuhnya dirinya tercengang dengan apa yang dilakukan Miroku.

"Hei, mau apa kau? Hentikan tindakanmu itu, pendeta cabul!" protes Inuyasha.

Miroku menghentikan tindakannya tersebut dan langsung menutup lubang angin miliknya. Inuyasha yang sudah tidak mendapatkan gaya tarik lagi langsung jatuh terjerembab ke tanah.

"Jika aku tidak melakukan ini kau tidak akan berhenti," ucap Miroku sambil merapihkan segel lubang angin miliknya.

"Cih!" Inuyasha bangun dari jatuhnya dan bersiap-siap untuk berlari lagi namun Sango memanggilnya sehingga hal itu ia urungkan.

"Ada apa?" sahut Inuyasha sedikit jengkel.

"Kami tahu bahwa kau khawatir dengan Kagome, tapi kami bukan kau yang sanggup berlari sejauh ini," ujar Sango.

"Tapi kan kau tidak berlari, Sango?" tukas Inuyasha.

"Sudahlah yang penting kita istirahat dulu," ucap Miroku menyela sekaligus mencegah pertumpahan darah di antara Sango dan Inuyasha.

"Kita harus cepat-cepat menyelamatkan Kagome, kalau tidak…"

"Kalau tidak, apa?" ucap Miroku memotong perkataan Inuyasha. "Bukankan bersikap terburu-buru seperti ini juga bisa membahayakan nona Kagome?"

"Tapi…"

"Apakah kau tidak percaya dengan nona Kagome? Aku yakin, dia bisa sedikit bertahan lebih lama untuk menunggu kita," Miroku menepuk pundak Inuyasha dan meninggalkan mereka untuk mencari tempat yang aman untuk bermalam malam ini. Matahari hampir tenggelam, meninggalkan semburat cahanya yang berwarna orange yang masih menggantung di kaki langit. Sango, Shippo dan Kirara menyusul Miroku yang telah menemukan tempat untuk bermalam nanti dan membantunya mempersiapkan tempat itu agar menjadi tempat yang layak. Inuyasha pun akhirnya menyusul setelah beberapa menit berdiri mematung dan berpikir apa yang dikatakan Miroku tadi ada benarnya juga.

Kini malam sudah benar-benar turun. Tidak ada lagi semburat orange di kaki langit yang ada kini hanya ada langit gelap yang dihiasi bintang-bintang yang bersinar. Inuyasha yang tengah berbaring di tanah menatap langit berbintang sementara yang lainnya sudah jatuh tertidur. Mungkin kelakuannya tadi sedikit berlebihan –berlari tanpa memikiran yang lain— karena saat mereka menemukan tempat untuk beristirahat mereka langsung tertidur begitu Miroku menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.

"Kagome…"

Entah kenapa bagian dada sebelah kirinya langsung berdenyut nyeri begitu dia menyebut nama Kagome. Dia menyesal, sungguh menyesal. Seharusnya dia tidak menuruti permintaan Kagome dan tidak meninggalkannya, seharusnya dia terus bersama Kagome, menjaga Kagome yang sedang terluka, bukannya meninggalkannya karena emosi yang sesaat.

"Katakan itu sekali lagi di depan Kikyo…"

Inuyasha teringat perkataan Kagome tempo hari. Jika ia sanggup mengatakan 'ya' maka kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Jika ia sanggup mengatakan 'ya' maka ia tidak harus kehilangan Kagome dengan cara yang seperti ini. Jika ia sanggup mengatkan 'ya' maka Kagome seharusnya tidak diculik oleh Naraku. Ya, Kagome diculik oleh Naraku. Dan naasnya hal itu diketahui oleh Inuyasha saat tidak sengaja bertemu dengan Kagura –atau bisa dibilang Kaguralah yang mencari dirinya.

Hening. Hanya ada suara dari kayu yang sedang terbakar dan beberapa suara jangkrik yang sahut-menyahut. Inuyasha mencoba tidur namun tidak bisa. Yang sekarang dalam pikirannya adalah Kagome dan pertemuan tidak sengaja-nya dengan Kagura.

"Seharusnya kau tidak ceroboh dengan membiarkan seorang reinkarnasi dari miko penjaga Shiko no Tama sendirian…"

"Bukankah hanya dia yang bisa merasakan dimana Shikon no Tama berada…"

"Dialah yang dibutuhkan Naraku untuk membangkitkan siluman yang tersegel oleh ayahmu dulu…"

"…yang dibutuhkan hanyalah darahnya…"

xxXxx

Kagome membuka matanya. Sakit. Itulah hal pertama yang dapat ia rasakan setelah dirinya tidak sadarkan diri. Tangannya kesemutan dan kakinya terasa kebas. Saat dirinya sudah sadar sepenuhnya, dia baru tahu bahwa tangan dan kakinya terikat.

"Ukh!" Kagome meringis begitu ia gerakan tangannya. Sepertinya pergelangan tangan Kagome terluka akibat gesekan dengan tali yang mengikatnya kuat. Walau dia terluka, dia yakin pasti hanya luka kecil padahal dia berharap dapat mengeluarkan darah dari luka tersebut karena dengan begitu darah yang dikeluarkan Kagome akan menjadi sebuah petunjuk bagi Inuyasha dan Kouga.

"Aku tidak akan membiarkanmu membuang darah secara percuma"

Kagome mendongak mentapa sosok siluman yang membuatnya tidak sadarkan diri tadi. Ditatapnya sebal siluman tersebut dan terus menggerakan tangannya. Walau sakit dia harus melakukan itu. Melihat Kagome yang keras kepala, sang siluman mendekati Kagome dan berjongkok. Menatap Kagome sebentar lalu menyentuh dagu Kagome dan mendongakkan wajahnya. Sang siluman tersebut memandang lurus ke arah mata Kagome. Kagome tidak mau kalah dengan perlakuan siluman di depannya dengan balas menatap sang siluman dengan tatapan yang tajam.

"Percuma kau menyiksa dirimu dengan cara seperti itu. Jika kau mau mengeluarkan darahmu ada waktunya, jadi hentikanlah karena hal itu tidak berguna"

"Eh…?"

Sang siluman tersebut melenggang meninggalkan Kagome. Kagome sendiri masih mencerna perkataan sang siluman tadi. Saat dia mencapai sebuah kesimpulan final, tiba-tiba wajahnya memucat. Bukannya berhenti seperti apa yang dikatakan siluman tadi, Kagome terus menggerakan tangannya. Tapi tujuannya sekarang berbeda. Melarikan diri!

"Hei!" teriak Kagome. "Siapa kau?" dasar siluman kagak sopan, lanjutnya dalam hati. Kagome tidak berani melanjutkan perkataannya. Takut hal itu memacu emosi sang siluman dan hal tersebut berarti menjadi perkataan terakhir Kagome.

Siluman tersebut menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Kagome. Melihat wajah Kagome yang ketakutan, kebingungan, kesal, membuat siluman tersebut tertawa dalam hati dan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kagome lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi. Kagome yang mendapatkan tanggapan yang diluar dugaan hanya melongo lalu menggeram marah.

"Kembali kau, siluman! Jawab pertanyaanku, hei! Dasar siluman nggak sopan!"

(Ampun dah Kagome, mana ada Siluman yang sopan, heh?)

xxXxx

"Sebelum melanjutkan perjalanan, ada yang ingin kutanyakan kepadamu, Inuyasha," ucap Miroku.

Yang diajak bicara sibuk dengan kegiatannya sendiri –duduk di atas pohon sambil melamun. Miroku yang gemas dengan kelakuan Inuyasha dan hanya mendapat tanggapan 'Hn' yang keluar dari mulutnya bersiap-siap membuka segel di tangan kanannya. Menyadari Miroku ingin melakukan hal yang berbahaya, Inuyasha langsung menanggapi perkataan Miroku ditambah dengan umpatan-umpatan yang biasa keluar dari mulut Inuyasha.

"Apa yang mau kau bicarakan, hah? Cih, dasar pendeta cabul!"

Merasa dapat tanggapan, Miroku tidak jadi membuka segel lubang angin miliknya dan beralih menatap Inuyasha kembali.

"Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan nona Kagome? Lalu apa yang kau bicarakan dengan nona Kagome tempo hari di rumahnya?"

"Sejak kapan kau menjadi cerewet seperti perempuan, heh?"

"Sudahlah! Jawab saja pertanyaanku!"

"Apakah itu pe…"

"Ini penting Inuyasha!" tukas Miroku memotong ucapan Inuyasha. "Ini penting! Aku tidak mau melanjutkan perjalanan tanpa mengetahui alasannya –selain alasan nona Kagome diculik!"

Inuyasha membalas tatapan Miroku. Tidak biasanya Miroku menuntut seperti ini. Biasanya Sangolah yang terlalu banyak menanyakan ini-itu kepadanya. Tapi kenapa sekarang Miroku juga ikut-ikutan ya?

Inuyasha menghela nafas panjang lalu mengalihkan tatapan matanya, "Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan dia".

"Eh…?"

"Untuk kejadian tempo hari, dia hanya memintaku untuk tidak menemuinya lagi".

"Ehhh?"

Kini gantian Miroku yang tidak mengerti. Jika Inuyasha sama tidak mengertinya dengan dirinya dan yang lain, lalu apa yang sebenarnya terjadi.

'Berarti hanya nona Kagome saja yang dapat menjelaskan ini semua,' batin Miroku. "Ayo kita lanjutkan perjalanan kita, Inuyasha!" ujar Miroku.

Miroku membalikan badan dan berjalan meninggalkan Inuyasha. Yang diajak hanya diam melongo melihat tingkah laku Miroku yang tidak biasa.

'Apakah kau kerasukan setan, heh Miroku' ucap Inuyasha dalam hati dengan nada sedikit mengejek.

Inuyasha turun dari pohon dan mengikuti Miroku yang sudah jauh di depan. Di sana sudah menunggu Sango, Shippo dan Kirara. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya ke Mizuumi Village.

xxXxx

Mizuumi Village adalah desa yang cukup padat penduduknya. Banyak toko-toko kecil yang menjual makanan di sini dan satu toko besar yang menjual kain yang merupakan bahan untuk dijadikan kimono. Namun desa ini tidak terlepas dari kuil-kuil yang mengelilingi Mizuumi Village yang tersebar di gunung dan perbukitan yang mengitari Mizuumi Village. Nama Mizuumi Village sendiri diambil dari sebuah danau besar yang terdapat di utara desa dan diyakini penduduk sebagai danau yang pernah dipakai oleh para dewa.

"Memang desa yang indah, namun perjalanan menuju ke sini harus berani menaruhkan nyawa," ujar Miroku sambil membuka topi capingnya.

"Apakah benar Kagome ada di desa ini?" ujar Shippo.

"Apakah kita hanya dijebak oleh Kagura saja?" timpal Sango.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Miroku sibuk memperhatikan gadis-gadis desa yang kebetulan berpapasan dengannya dan Inuyasha hanya diam saja. Sango merasa kesal karena tidak ada tanggapan dari pertanyaannya tadi ditambah dengan kelakuan Miroku yang kumat jika bertemu dengan gadis-gadis lain.

"Akh! Hentikanlah tingkah konyolmu, Miroku!" tukas Sango yang melihat Miroku sudah merayu gadis lain. Namun yang dipanggil tidak mendengar dan terus melancarkan serangan gombalnya. Hal itu membuat kesabaran Sango habis dan mendaratkan pukulan di kepala sang pendeta lalu menyeretnya dengan tidak elit mengikuti Inuyasha yang berjalan di depan.

"No-nona Sango…"

"Diamlah! Kita ke sini untuk menyelamatkan Kagome bukan ingin menonton tingkah konyolmu itu!" ujar Sango gusar.

Shippo hanya menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran mereka dua. Tidakkah kalian menyadari pertengkaran kalian itu seperi pertengkaran suami-istri? Batin Shippo.

"Aku tidak bisa merasakan kehadiran Kagome di desa ini," ujar Inuyasha.

Sango, Miroku dan Shippo menghentikan langkahnya dan beralih memandang Inuyasha.

"Benarkah itu, Inuyasha?" Tanya Shippo memastika bahwa pendengarannya tadi tidak salah.

Inuyasha menganggukan kepalannya. Kini wajah mereka diliputi oleh kecemasan. Cemas bahwa yang dikatakan Sango benar –bahwa ini semua hanya jebakan Kagura. Namun Inuyasha merasa bahwa apa yang dikatakan Kagura benar karena Kagura sendiri membenci Naraku dan ingin segera bebas darinya.

"Mungkin Kagome-chan sedang berada dalam sebuah kekkai," ujar Sango berpositif thinking.

"Ya, mungkin saja," ucap Miroku menimpali. Sango juga menganggukan kepalanya. Mereka semua tahu itu hanya sebuah prediksi namun disaat seperti ini, pikiran positif sangat diperlukan.

"Mungkin kau benar, Sango," sahut Inuyasha. "Carilah penginapan, aku masih ingin berkeliling".

Inuyasha lalu berlari meninggalkan mereka dan lenyap diantara kerumunan orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Seperti yang dikatakan Inuyasha, Sango segera mencari penginapan karena dirinya juga sudah lelah karena perjalanan yang cukup panjang ini.

xxXxx

Malam kini turun di Mizuumi Village. Inuyasha masih memandang barat langit yang baru saja membenamkan matahari. Inuyasha perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju satu-satunya penginapan di Mizuumi Village. Tadi saat dia berkeliling desa, dia tidak menemukan petunjuk apapun tentang kehadiran Kagome. Sungguh, saat ini pikiran Inuyasha sedang kalut.

Saat Inuyasha melintasi hutan yang berada di sebelah timur desa, tidak sengaja matanya menangkap sebuah cahaya yang melesat. Cahaya tersebut tidak hanya satu, banyak sekali cahaya yang lewat namun masih bisa dihitung jari oleh Inuyasha. Akhirnya Inuyasha mengikuti cahaya tersebut karena Inuyasha ingin membuktikan apakah dugaannya benar atau tidak.

Sementara itu di penginapan…

Shippo sedang bermain dengan Kirara dan Sango sedang mengelap Hiraikotsu-nya sampai ketenangan tersebut terusik oleh kedatangan Miroku. Miroku membuka pintu kertas dengan hentakan yang cukup keras dan hal itu berhasil mengagetkan orang yang berada di dalam ruangan.

"Cepatlah keluar!" ucap Miroku. Tanpa banyak tanya, Sango dan Shippo langsung menuruti perintah Miroku. Kirara mengikuti dari belakang. Sesampainya di luar penginapan, Sango tersentak kaget begitu juga Shippo. Sango tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini, padahal tadi sore desa ini masih sangat ramai dengan orang yang berlalu-lalang dan penjual yang meneriakan barang dagangannya, tapi kini belum ada satu jam penuh malam turun ke bumi, desa ini sudah seperti desa hantu. Tidak ada orang yang lewat bahkan kucing saja memilih untuk tidur meringkuk di pelataran toko-toko yang telah tutup.

"Apa yang terjadi sebenarnya," gumam Sango.

"Sebaiknya anda tidak memilih untuk berpergian pada malam hari, tuan dan nona pengembara"

Sango menolehkan kepalanya ke asal suara yang berada di belakangnya, begitu juga Miroku dan Shippo. Ternyata hanya bibi pemilik penginapan ini.

"Sebenarnya apa…"

"Masuklah, nak," ucap bibi memotong perkataan Sango. "Akan bibi jelaskan di dalam".

Seperti tersihir, mereka langsung mengikuti perkataan bibi penginapan tersebut. Miroku menutup pintu penginapan dan menyusul Sango dan Shippo yang sudah jalan lebih dulu dan memasuki sebuah ruangan.

"Kalian duduklah, sebentar lagi makan malam segera siap," ujar sang bibi sambil meninggalkan mereka di ruang makan.

"Desa ini aneh," ujar Shippo. Yang lainnya mengangguk setuju.

SREEKK!

Bibi penginapan muncul dengan pegawai-pegawainya yang membawa nampan yang berisi makan malam Sango, Miroku dan Shippo. Pegawai-pegawai tersebut masing-masing menaruh di depan Sango, Miroku dan Shippo lalu keluar dan menutup kembali pintunya menyisakan sang bibi penginapan yang kini tinggal dengan mereka.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan desa ini, bi," Tanya Sango tidak sabaran.

Bibi penginapan tersebut memandang Sango, Miroku, Shippo dan Kirara secara bergantian, "Jika boleh, apa yang sedang kalian lakukan di desa ini?" ujar sang bibi balik bertanya.

"Kami sedang mencari teman kami yang diculik," sahut Miroku.

Bibi tersebut tersenyum, "Itulah alasan kenapa desa ini jadi sepi begitu malam sudah turun".

"Maksud bibi?" ujar Shippo yang tidak mengerti.

"Sudah banyak kasus penculikan yang melibatkan gadis-gadis di desa ini. Desa ini terkenal karena kuil-kuil yang tersebar di sekeliling desa dan danau yang ada di utara desa dan juga desa yang memiliki gadis miko terbanyak. Kasus penculikan yang terjadi akhir-akhir ini melibatkan gadis miko sebagai korbannya dan penculikan tersebut terjadi pada malam hari. Bukan hanya miko saja, tetapi orang-orang yang memiliki hubungan dengan gadis miko yang diculik akan terkena imbasnya juga," jelas bibi panjang lebar.

"Apakah sudah ada tindak lanjut dari kasus ini, bi?" Tanya Sango.

"Sudah, namun hasilnya nihil. Korban yang diculik jika masih hidup tidak ada yang kembali dan jika sudah mati jasadnya sama sekali tidak ditemukan dan penduduk di desa ini meyakini bahwa semua yang terjadi belakangan ini akibat ulah siluman yang tersegel jauh di dalam pegunungan yang mengelilingi desa ini".

"Sokka, jadi…"

BUUMMM!

Miroku belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika suara berdebum keras itu terdengar. Seluruh penghuni penginapan langsung tunggang langgang keluar rumah kecuali mereka. Sango membantu bibi penginapan berdiri karena saat suara tersebut terdengar, tanah yang mereka injak bergetar seiring dengan suaranya dan membuat keseimbangan mereka goyah. Miroku membuat aba-aba saat dia pikir keadaan sudah aman untuk keluar rumah. Saat mereka sampai di pintu utama penginapan, seluruh penduduk Mizuumi Village sudah tumpah ruah ke luar membuat jalanan menjadi sumpek karena manusia yang berkumpul disana.

"Inuyasha…"

Sango baru teringat dengan baka-inu satu itu. Tadi dia pamit hanya berkeliling desa saja, namun sampai sekarang dia belum kembali. Sango juga bodoh karena tidak ingat Inuyasha sama sekali sampai kejadian suara yang seperti bom itu.

"Ada apa ini?" teriak Shippo sambil menutup kedua telinganya. Keadaan di jalanan pun tidak kalah riuh karena mereka saling berbicara satu sama lain.

"Sepertinya asal suara tadi berasal dari danau yang berada di sebelah utara desa," ujar bibi.

Benar saja, saat mereka menengok ke arah utara desa, terdapat cahaya yang begitu menyilaukan dan langsung hilang begitu saja. Lalu disusul oleh perpaduan warna merah-orange yang menyala-nyala di udara. Hutan utara desa terbakar!

"Jangan-jangan, siluman itu sudah bangkit!"

Seorang penduduk yang tidak jauh dari tempat Miroku, Sango, Shippo dan bibi pemilik penginapan berdiri, berteriak seperti itu. Dan langsung saja hal itu memicu kekacauan terjadi. Penduduk langsung berlari mencoba menyelamatkan dirinya, keluarganya dan harta mereka. Miroku merasa ini semua harus segera diakhiri, maka dari itu dia pamit kepada bibi pemilik penginapan dan langsung berlari menuju utara desa. Tidak begitu lama, Sango dan Shippo menyusul Miroku yang sudah lebih dulu pergi.

xxXxx

Inuyasha terus mengikuti cahaya yang berada tidak jauh di depannya. Semakin dia mendekati cahaya tersebut, semakin dia tahu apa cahaya yang melayang itu. Ternyata itu adalah siluman pembawa roh milik Kikyo. Jika siluman tersebut berada disini, bukankah Kikyo pasti berada disini juga?

Inuyasha menghentikan langkahnya begitu dia bisa melihat jelas pemandangan yang ada di depannya dengan jelas. Walau Inuyasha berhenti sedikit jauh dari objek yang dia amati, dia masih bisa melihat dengan jelas objek tersebut.

"Kikyo…?" gumam Inuyasha berbisik.

"Keluarlah, Inuyasha! Bukan gayamu bersembunyi seperti pengecut!"

Inuyasha kaget karena Kikyo bisa merasakan kehadirannya dan juga Inuyasa sedikit kesal karena dia dipanggil pengecut oleh orang yang dulu pernah mengisi salah satu ruang dihatinya. Tunggu, sepertinya perasaan itu masih ada, walaupun sebesar satu butir beras. Ya, Inuyasha masih mencintai Kikyo.

"Apa yang sedang kau lakukan disini, Kikyo?" Tanya Inuyasha.

Kikyo menatap Inuyasha, "Mencari Shikon no Tama dan juga mengumpulkan jiwa-jiwa gadis miko yang telah mati".

"Miko…?"

"Kau tidak tahu, Inuyasha? Jika kau tidak tahu hal itu, untuk apa kau ke desa ini?"

"Itu…"

Hening. Inuyasha tidak melanjutkan ucapannya. Dia bingung harus menjawab apa. Jika Kikyo menanyakan untuk apa kehadirannya ada di desa ini, berarti dia belum tahu tentang Kagome.

"Mencari Shikon no Tama, tentunya," akhirnya hanya ini yang bisa ia katakan. Namun tidak ada tanggapan dari yang diajak bicara. Kikyo sibuk dengan siluman-silumannya.

"Apakah memang kau harus mengambil jiwa-jiwa itu?" ujar Inuyasha memecahkan keheningan yang sempat menyapa mereka. Dan lagi Kikyo tidak menanggapi perkataan Inuyasha, hanya saja Kikyo memandang Inuyasha dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan. Kikyo lalu menghampiri Inuyasha dan tiba-tiba memeluknya. Inuyasha kaget dengan sikap Kikyo yang tiba-tiba itu. Dirinya bingung harus bersikap seperti apa. Lama mereka seperti itu, akhirnya Inuyasha membalas pelukan Kikyo.

"Aku mengumpulkan jiwa-jiwa itu untuk tetap bertahan di dunia ini, tubuh yang terbuat dari tanah dan tulang ini tidak bisa bergerak bebas tanpa jiwa-jiwa itu dan juga untuk bertemu denganmu," ucap Kikyo. Kikyo mendongakkan kepalanya. Menatap Inuyasha yang lebih tinggi darinya. Entah karena apa jarak diantara mereka semakin mengecil, wajah mereka semakin dekat dan mereka bisa merasakan nafas mereka masing-masing dan dalam hitungan detik bibir mereka saling bertautan.

Dalam, ciuman mereka semakin dalam. Inuyasha merindukan ini. Merindukan harum tubuh Kikyo. Walau sekarang tubuh Kikyo dibuat dari tanah dan tulang, Inuyasha tidak merasa jijik karena apapun yang terjadi Kikyo tetaplah gadis yang dulu dan mungkin sampai sekarang dia cintai.

"Dari dulu aku ingin melakukan ini denganmu," ucap Kikyo.

Inuyasha seperti terhipnotis, malam ini dia benar-benar ingin bersama Kikyo, hanya bersamanya tanpa seorang pun yang mengganggu. Wajah Inuyasha melembut dan hal itu membuat Kikyo terkejut karena Inuyasha jarang sekali menampakkan wajah seperti itu. Untuk kali kedua wajah mereka mendekat, sampai…

BUUMM!

Inuyasha dan Kikyo langsung menarik diri dan mencari sumber dari suara tersebut. Inuyasha segera berlari menuju utara desa begitu dia melihat api menyala disana. Begitu juga Kikyo. Namun Kikyo mengambil jalan lain karena dia tahu Inuyasha pasti bersama dengan teman-temannya dan dia tidak mau bertemu dengan mereka.

-At North Village-

Kagome meringis kesakitan karena luka di tangan kirinya. Ingin sekali dia menahan darah yang keluar dari tangan kirinya itu, namun tangan kanannya yang bebas tengah ditahan oleh tangan siluman yang menculiknya. Siluman itu terus menggenggam luka Kagome kuat agar darah yang dikeluarkan semakin banyak dan hal itu membuat Kagome berteriak karena sakitnya yang teramat sangat.

"Kenapa…kau tidak bunuh…saja…aku…" ucap Kagome dengan nafas yang tersengal.

"Tidak, itu tidak boleh terjadi," sahut siluman itu dan memindahkan tangan kirinya tadi yang tengah menekan luka Kagome ke pundak kanan Kagome. Sedetik Kagome berpikir bahwa siksaan ini telah berakhir, namun Kagome salah. Siluman itu menyingkirkan rambut Kagome dari pundak, kemudian dia melanjutkan menekan luka Kagome lagi dan lebih parahnya siluman itu menciumi leher Kagome.

"Sebelum bangkitnya Ashura, seorang miko yang dibutuhkan dalam kebangkitannya tidak boleh mati," ucapnya disela-sela kagiatannya menciumi Kagome.

Kagome merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia tidak dapat berkutik padahal ada seekor siluman yang tengah menyiuminya. Saat ini yang Kagome pikirkan hanya satu, yaitu siluman tersebut segera membunuhnya setelah semua ini selesai.

Pandangan Kagome kabur karena air mata. Sungguh, dia lebih memilih mati dibandingkan dilecehkan seperti ini.

BUUUMMM!

Air di bawah Kagome bergolak hebat menimbulkan getaran yang cukup besar. Walau dia dan siluman itu tengah melayang di udara, Kagome dapat merasakannya.

'Kali ini apa lagi,' batin Kagome.

Siluman tersebut menghentikan segala aktifitasnya. Menghentikan menyiumi Kagome dan menekan luka Kagome juga melepaskan tangan kanan Kagome. Kagome sebenarnya ingin melarikan diri mengingat ada kesempatan untuk melakukannya, namun dirinya terlalu lelah untuk melakukannya, bahkan untuk bernafas saja dia mengandalkan sisa-sisa energinya.

"HAHAHAHAHAHAHA! AKHIRNYA DIA BANGKIT!"

Kagome merinding mendengar suara siluman itu yang menggema di hutan ini. Kagome mendapat firasat, setelah ini akan terjadi hal yang sangat mengerikan dan benar saja air yang berada di bawahnya tiba-tiba membentuk pusaran yang melawan gravitasi. Tidak lama, pusaran tersebut segera kembali ke bawah dan air dipermukaan danau kembali tenang.

"Nah, untuk penutupnya…"

"KAGOME!"

Kagome menoleh mencari sumber suara yang memanggilnya tadi. Inuyasha.

"Baka…" ujar Kagome lirih. Kesadarannya sudah menurun karena dia kehilangan darah yang cukup banyak.

"Kusoooo!"

Inuyasha menarik tessaiganya dan langsung menyerang siluman tersebut. Saat Inuyasha hendak mengeluarkan 'Kaze no Kizuato', dia harus mengurungkan niatnya tersebut karena siluman itu menjadikan Kagome sebagai tamengnya.

"Cih! Lepaskan Kagome!"

"Khukhukhu, melepaskannya, heh? Akan kulepaskan setelah ini!"

Siluman tersebut tiba-tiba menusuk Kagome dan menjatuhkannya ke danau di bawah mereka. Inuyasha terpana dengan kejadian yang baru saja terjadi. Baru saja dia bertemu dengan Kagome dan dia harus melihat Kagome yang seperti itu.

"Gyahahahahaha! Dan itu adalah penutupnya!" ujar siluman itu.

Inuyasha tidak bisa mendekati danau tersebut karena danau itu dilindungi oleh kekkai. Dirinya mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan Kagome, bersamaan dengan itu Inuyasha mendoakan keselamatan Kagome.

Saat tubuh Kagome jatuh ke danau dan lenyap, seketika air di danau itu langsung membuncah keluar. Siluman yang beberapa detik lalu masih menyandera Kagome kini tertawa lepas –senang— karena apa yang diinginkannya terkabul.

Ashura telah bangkit kembali.

Langsung saja siluman itu membakar hutan di sekelilingnya. Kini hutan utara sudah seperti lautan api.

"Cih!" Inuyasha berdecih.

Namun tawa siluman tersebut tidak berlangsung lama. Sebuah anak panah menancap tepat di dada kirinya. Tempat dimana Shikon no Tama tertanam. Inuyasha mengenali anak panah itu.

Kikyo…

Pasti Kikyo berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kekkai yang membatasi Inuyasha hilang begitu siluman itu jatuh ke danau. Inuyasha langsung mendekati danau tersebut dan hendak menolong Kagome namun Inuyasha lagi-lagi terhalang oleh siluman yang baru saja terbangun itu.

Ashura…

Siluman yang pernah disegel oleh ayahnya dulu. Siluman dengan sayap besar seperti naga namun tubuh dan wajahnya menyerupai manusia. Matanya putih tidak berpupil, rambutnya panjang dan keras hingga mampu menembus tanah. Dia memiliki satu tanduk di kepalanya dan selebihnya tubuhnya hampir seperti manusia.

"Cih!"

Inuyasha memandang Ashura yang lebih besar dari dirinya. Memang Inuyasha sudah biasa melawan siluman-siluman yang ukuran tubuhnya lebih besar darinya atau biasa disebut dengan siluman raksasa, namun saat memandang Ashura, Inuyasha merasakan hawa yang berbeda. Ada sesuatu dengan siluman tersebut namun Inuyasha tidak bisa memahami lebih jauh sesuatu itu. Dan tiba-tiba serangan pertama dari Ashura muncul.

Ashura mengarahkan tangannya ke Inuyasha dan menyerang Inuyasha dengan kukunya yang memanjang. Refleks Inuyasha menghindar dan saat dia mendaratkan kakinya tidak sengaja Inuyasha kehilangan keseimbangannya dan jatuh terpeleset.

'Cih! Aku tidak fokus sehingga tidak menyadari serangannya tadi!'

"Inuyasha!"

Sango, Miroku dan Shippo datang. Mereka langsung membantu Inuyasha berdiri.

"Bagaimana kalian bisa sampai kesini? Bukankah hutan ini sudah menjadi lautan api?" Tanya Inuyasha.

"Para penduduk desa bergotong royong memadami apinya," sahut Miroku. "Mereka tidak akan membiarkan hutan mereka terbakar –walau aku tahu hal itu memakan waktu yang cukup lama untuk memadamkannya".

"Inuyasha, mana Kagome?" Tanya Shippo.

Inuyasha tidak langsung menjawab pertanyaan Shippo, cukup lama dia terdiam lalu Inuyasha memandang Shippo, Sango dan Miroku secara bergantian lalu mengalihkan pandangannya ke arah danau. Sango yang langsung mengerti langsung menutup mulutnya tidak percaya, mata Shippo memanas mendapat jawaban yang diluar dugaan sedangkan Miroku terus menatap danau dan Ashura bergantian.

"Tidak mungkin…" ucap Shippo dengan nafas tercekat.