tentang mulut yang tidak pernah menutup dan telinga yang tidak pernah tertutup
Sebagian besar orang memang sudah tahu kalau sosok Mikagane Len sebenarnya adalah sepupu dekat dari Kagamine Rin. Seluruh penampilan mereka sama. Dan salahkan kepada gen orang tua mereka yang kembar. Rambut pirang keemasan yang berkilau kapan pun, iris sebiru langit yang amat indah, kulit putih porselen bagaikan boneka kaca, wajah bulat manis yang memesona. Penampilan luar mirip, tapi jelas, isinya berbeda jauh.
Kalau seorang Kagamine Rin banyak bicara, maka Mikagane Len adalah sosok diam tanpa suara. Bahkan orang yang baru pertama kali melihat mereka berdua tahu hal itu.
Kemampuan Len jauh di atas rata-rata. Dia mampu menebak sesuatu hanya dengan melihatnya sekilas, memperkirakan semua yang akan terjadi di masa mendatang, dengan tepat, tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.
Oke. Dia pendiam. Kalian bisa menyimpulkan sifat utama dari seorang Mikagane Len.
Dan juga... termasuk seorang pendengar yang amat sangat baik.
Mulut Rin adalah tipe mulut yang tidak akan pernah menutup, kecuali jika sang pemilik ingin. Dan resiko yang harus selalu dihadapi oleh Len adalah menjadi telinga yang tidak akan pernah menutup.
Mereka berkebalikan. Tentu saja. Tidak sama. Memangnya di dunia ini ada yang sama begitu?
Karena itulah, seperti siang yang sudah dilalui Len selama tujuh belas tahun, dia berada di kamar dengan warna kuning yang dominan, menatap gadis kuning di hadapannya dalam diam, mendengarkan semua ocehannya tanpa perlu mengatakan satu pun.
Sebuah hukum yang berlaku di kamar seorang Kagamine Rin: menyela ucapannya, kau mati.
Karena itulah, Len lebih memilih untuk tidak menutup telinganya dan menutup mulutnya selama percakapan mereka berlangsung.
"Kasane Teto yang itu, Len! Masa kau tidak tahu sih?"
Apakah Len sudah mulai boleh bicara disini? Pemuda pirang itu baru saja ingin membuka mulutnya ketika kalimat lain mulai keluar lagi.
"Kasane! Kau dengar aku kan? Kasane yang itu! Yang itu!"
Len mengangguk pelan. Dia memang tahu siapa Kasane yang dimaksud oleh Rin. Composer lagu favorit Rin sekaligus orang yang menjadi panutan Rin selama tujuh belas tahun lamanya, Kasane Tedd.
"Kasane Tedd maksudmu?"
"Iyalah! Memangnya ada Kasane yang lain?"
Apa gadis itu lupa bahwa dia barusan memberitahu Len tentang Kasane (yang lain) Teto?
Len menatap sepupunya yang manis dalam diam kemudian mengangguk pasrah. "Lalu?"
"Jadi, Teto-chan itu anak Kasane Tedd-sama!" pekik Rin dengan suaranya yang nyaring.
Sekarang, Len harus membuat keputusan singkat untuk mulai menutup telinganya sendiri sebelum pada akhirnya suara Rin mampu melukai dinding gendang telinganya.
"Tapi, kalau begitu, si Teto yang kau maksud ini bukan anak kandung dari Kasane Tedd kan? Seingatku Kasane Tedd belum..."
"Kenapa kau yang jadi sok tahu, Len?"
Len menutup mulutnya lagi. Seharusnya, dia ingat hukum yang berlaku ketika dia berada di dekat Rin.
"Kasane Tedd-sama meninggal lima tahun yang lalu. Dia memang berpisah dengan putri kandungnya sejak Teto-chan kecil."
"Kenapa?"
"Memangnya aku tahu segalanya, Len? Ya, tidaklah! Aku memang fans Kasane Tedd-sama, tapi aku bukan stalker miliknya!"
Len menarik napas panjang, masih mencoba bersabar. "Kau bisa tanya dengan si Teto ini kan?"
"Kau tidak dengar ceritaku dari tadi memangnya?"
Iris biru Len menyipit saat suara nyaring Rin terdengar teralu jelas di gendang telinganya. "Aku dari tadi memang mendengarmu, Rin."
"Aah, Len! Kau itu payah sekali ya! Kujelaskan sekali lagi, Teto-chan itu sama sekali bukan tipe anak yang mau berteman. Semacam anti sosial begitu!"
Len tahu itu. Rin sudah berapa kali mengatakannya tadi. "Iya, aku tahu, Rin. Karena itulah, kenapa kau tidak mencoba terus dan terus hingga si Teto ini mau berteman denganmu?"
"Kau pikir aku muka tembok?"
Sejujurnya, selama tujuh belas tahun ini, Mikagane memang selalu berpikir bahwa Kagamine Rin memang bermuka tembok. "Lantas kau ingin bagaimana, Rin?"
"Kenapa kau selalu banyak bertanya, Len? Kan aku duluan tadi yang bertanya."
Len menghela napas panjang. Dia harus ekstra bersabar dalam hal ini. "Yap. Kau mau bagaimana sekarang?"
"Tetap mendekatinya tentu saja! Kau pikir aku akan melewatkan kesempatan untuk mengenal Kasane Tedd-sama lebih dalam lagi apa?"
Seharusnya, Len tidak bertanya.
