Chapter 4
Erina merenung diatas kasurnya, seperti biasa dia masih betah memeluk bantal kesayangannya(untung Souma ngak tahu).
"Erina, aku.. menyukaimu"
Jantung Erina lansung meledak seperti bom atom yang meledakkan kota Hiroshima dan Nagasaki. Wajahnya lansung panas dan mendidih saat membayangkan kejadian semalam.
"Bodoh! Aku benar-benar bodoh! Aku telah melakukanya! Akhh!" jeritnya lalu memukul-mukul bantal kesayangannya itu gemas, ia terus memukul sampai malunya mereda. Erina mengusap hidungnya dengan punggung tangan, ia masih belum bisa melupakan kenangan itu. Perkataan Souma seteleh 'itu' membuatnya tidak bisa berhenti untuk memompakan jantung yang cepat sehingga wajahnya selalu merah padam.
Tiba-tiba, tanpa ketukan pintu terlebih dahulu, Ishiki Satoshi selaku orang paling senior diasrama membuka pintu kamarnya dan membuat Erina jadi salah tingkah.
"Nakiri-san, apa kau lagi sakit? Wajahmu merah sekali?!" tanya pria itu lembut dengan nada kekhawatiran, Erina menepuk pelan pipinya dan menggeleng.
"A-a-ku hanya tadi olahraga makanya merah begini.." tukasnya dan membuat membuat mulut Satoshi melafalkan huruf O.
"Nakiri-san, boleh aku bertanya sedikit?" pintanya pelan lalu melirik keluar kamar, memastikan tidak ada orang disekitar mereka.
"Ya?" Erina mengangguk lalu memasang wajah penasaran, Satoshi pun tersenyum lalu menengkerkan tangan kirinya kesaku celana.
"Aku hanya ingin pengakuanmu dan aku janji tidak akan memberitahu siapapun tentangmu.." Erina menerka-nerka ucapannya, apakah Satoshi sedang membicarakan masalah sekolah atau pribadi?!
"Apa kau dan Souma-kun... sepasang kekasih?!" sambungnya lalu tersenyum lebar penuh arti, Erina terkejut dengan melebarkan matanya. Wajahnya lansung merah lagi dan segera menukasnya.
"Apa yang membuat kau berpikir begitu Ishiki-senpai?! Aku tidak-"
"Aku bilang tadi hanya ingin pengakuanmu, Nakiri-san.." Satoshi menyela hingga membuat Erina tidak bisa berkata apa-apa. Tapi, apakah Satoshi yang sama-sama menduduki kursi Elite Ten ini dapa dipercaya?! Erina mulai berpikir keras untuk memutuskan.
Hisako, dengan secepatnya melangkah menuju kamar Erina untuk menemuinya dan meminta maaf karena kemarin tidak bisa berkunjung. Saat akan sampai, tiba-iba ia menghentikan langkahnya saat melihat Satoshi tengah berada di kamar Erina, ia mencoba bersembunyi dibalik daun pintu yang terbuka. Ia tidak tahu kenapa harus sembunyi tapi pembicaraan mereka sepertinya serius.
"Ya, kami memang telah menjadi sepasang kekasih.." ujar Erina dengan nada tegas, Satoshi pun mengendus kecil masih dengan senyumnya. Hisako berkedul alis tidak mengerti, apakah Erina yang dikaguminya telah punya pacar? Siapa lelaki yang telah merebut hati putri Tootsuki tersebut?
"Aku hanya ingin memastikan saja, soalnya kalian akhir-akhir ini tampak menjanggal dipikiranku, terutama... ah sudahlah.." Satoshi mengibas tangannya untuk segera melupakan ucapannya barusan. Erina makin tidak karuan dengan pemikiran cowok aneh itu.
"Ya! Aku sudah mengatakannya, jadi jangan katakan pada siapa-siapa ya?!" Erina mengingatkan, Satoshi mengangguk paham.
"Tenang saja! Aku tidak akan memberitahu pada siapapun kok, terutama kepada ayahmu.. Yah, takutnya Souma-kun dipukuli ayahmu.. hahahah" Satoshi tertawa renyah, Erina hanya memanyunkan bibirnya. Hisako lansung terkaget, Souma? Maksudnya Yukihira-kun?! Apakah Erina dan Souma pacaran?! Hisako menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan tidak percaya. Jantungnya berdebar kencang tidak menentu, seperti mendapatkan sengatan listrik yang kuat.
"Hah! Kalau begitu aku permisi dulu.." Satoshi izin pamit dan melangkah keluar dari kamar putri Tootsuki tersebut.
Hisako terkejut dan segera berlari agar Satoshi tidak tahu bahwa ia ikut mendengar, akhirnya ia tidak jadi menemui Erina.
Nasib Kurokiba~
"Nona, jemput aku.." Kurokiba tampak lusuh sambil jongkok didepan gerbang asrama. Padahal sudah pagi, tapi Alice tidak kunjung datang menjemputnya. Megumi yang setia menemani Kurokiba balik menepuk lelaki bertubuh kekar tersebut untuk bersabar.
~~o0o~~
Penghuni asrama polar star berkumpul bersama di kamarnya cowok kacamata cerewet (Marui) seperti biasanya, bahkan Erina ikut berkumpul.
"Hei Yukihira-chi! Menurutmu, masakan terenak yang pernah kau makan itu seperti apa?" tanya gadis pirang dikucir mode 2 konde itu penasaran kepada Souma yang sibuk mengaduk cumi kering dengan selai Stowberry yang aneh. Souma pun menghentikan aktifitasnya dan tersenyum.
"Makanan paling nikmat! Saat aku mencipipinya, rasanya sangat manis dan warna merahnya juga cantik.. bahkan tubuhku sampai bergoyang menikmatinya.." jelas Souma lalu melontarkan senyum menggoda kearah Erina. Yang disinggung lansung merah padam dan kesal.
"Mati saja kau bodoh!" samburnya lalu menjewer telinga lebar milik pemuda tidak tahu malu itu kesal. Souma hanya meringis kesakitan.
"Ah.. lagi-lagi mereka bertengkar.." keluh Yoshino lalu dipanguti oleh yang lainnya.
~~o0o~~
"Nona.. kenapa kau tidak menjemputku?!" Kurokiba yang diantar Megumi ke kediaman Nakiri kini tengah menghadapi Alice dengan penampilan lusuh dan pucat. Berpisah dengan Alice 1 hari saja sudah membuatnya kurang gizi, sepertinya Kurokiba terjangkit sindrom 'Alice complex'. Alice hanya tertawa mengingat ia lupa membawa ajudannya itu pulang bersamanya waktu itu, tapi ia juga berterima kasih kepada Megumi karena telah mengantarnya.
"Bodoh! Seharusnya kau berinsiatif sendiri untuk pergi kemari, bukan malah merepotkan Tadokoro-san!" ujar Alice lalu tersenyum kepada Megumi. Megumi hanya menyeringai, tapi entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia melihat sosok Alice yang lain, dibalik senyum cantiknya ada kesedihan yang tersirat disana. Apakah Alice punya masalah? Tapi Megumi memilih diam tanpa bertanya apa-apa.
~o0o~
"Eh? Hisoko tidak datang lagi? Kenapa?!" Souma terkejut saat Erina dikamarnya menyatakan kalau sekretarisnya Hisako tidak muncul selama 2 hari ini, ia tidak tahu kenapa.
"Mungkin aku harus menemuinya untuk memastikan keadaanya.." Souma berdiri dari duduknya tapi Erina menahan gerakan pemuda itu spontan.
"Aku cuma memberitahu kalau ia tidak muncul lagi, bukan menyuruhmu untuk kesana!" cegat Erina dengan wajah sebalnya, Souma hanya memiringkan kepala.
"Kenapa tidak? Dia kan juga temanku.." tukasnya lalu kembali duduk disamping gadis itu. Erina mendengus tidak suka.
"Akhir-akhir ini kau tampak akrab dengannya! Bahkan dulu waktu festival kemarin. Padahal sebelumnya dia juga ikut membencimu, memangnya apa yang kau lakukan padanya sampai dia berubah begitu?!" tanya Erina lalu menekukan alisnya. Souma terdiam mencoba mengingat-ingat dan akhirnya menggehela nafas.
"Tidak ada, dari dulu aku merasa kami sudah berteman.." jawabnya lalu menggaruk tengkuknya. Erina hanya menghela nafas.
"Dasar ngak peka! Apa kau selalu tidak peka terhadap perasaan seseorang?! Bahkan Tadokoro dan Ikumi terlihat akrab denganmu.. Dasar tukang gombal!" umpat Erina lagi lalu mengibas surai pirang yang menganggu bahunya. Souma mengerinyit alis heran, lalu tak lama ia pun tertawa.
"Apa kau cemburu kalau aku dekat-dekat dengan gadis lain selain kamu Erina?" tanyanya lalu tersenyum lebar. Erina masih cemberut dengan rona merah dipipinya.
"Buat apa cemburu?!" tukasnya, Souma pun meraih kepala gadis itu dan menempelkan jidad mereka bersama sehingga mata mereka saling bertemu, Erina terbelalak dengan rona jelas dipipinya.
"Kemana perginya sisi Erina-chan yang cantik seperti kemarin malam?!" tanyanya dengan senyum dan membuat Erina makin berdebar.
"Dan percayalah, satu-satunya gadis yang kulirik hanya dirimu Erina.." lanjutnya lalu mengelus surai pirang miliknya. Erina sontak merah padam ketika Souma benar-benar berhasil membuatnya gelisah tak menentu, jantung berdebar dan tatapan malunya tak dapat disembunyikan lagi.
Souma menggigit gemas hidung mancung miliknya dan sedikit mencolek bibirnya, Erina sampai menekukan alisnya kesal dikerjai lagi. Ia pun gemas dan memukul pemuda jahil itu dengan bantal. Ia tidak tahan lagi dengan tindakan bodoh kekasihnya itu.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Souma-kun bodoh!" teriaknya kesal, Souma hanya berusaha menangkis serangan gadis itu sambil tertawa.
Megumi yang kebetulan lewat didepan kamar Erina itu pun jadi terbelalak kaget dengan keributan yang terjadi didalamnya.
"E-erina-san.. apa kau baik-baik saja?!" tanyanya khawatir, tapi Erina maupun Souma tidak mendengarnya dan terus bergelut. Mereka tampak menikmati pertengkaran tersebut.
"Kyaa!" karena terlalu berlebihan, Erina sampai tersandung lalu menindih Souma hingga meraka saling bertemu lagi. Kini Souma memanfaatkan kesempatan ini, ia pun melumat bibir gadis itu dan meraih tengkuknya agar memperdalam ciuman. Erina hanya terdiam dan menutup kelopak matanya untuk lebih menikmati ciuman. Sedangkan diluar sana..
"Duh.. Apakah Erina-san baik-baik saja?! Dia sampai berteriak.." Megumi khawatir, ia begitu mencemaskan keadaan Erina didalam. Dan tanpa ragu, ia mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut.
TBC
A/N: yey, setelah UTS saya lansung update.. TvT saya telah menanam benih harem untuk Souma, yah.. pengennya ngak harem cuma kebuat aja oleh saya TvT
See you next chapter.. ada 'ehem'nya. TvT
