Catch Me, If You Can
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, Mushi cuma numpang minjem
Rated T
Pairing : SasufemNaru
Genre : Romance, Family,Drama, a Little Bit Humor
Warning : Typo, OOC, OC dan teman-teman lainnya, semoga bisa dimengerti.
Informasi Umur :
Sasuke : 27 tahun
Naruto : 26 tahun
Menma : 7 tahun
OOoOoOoOoOOoOoOoOOoO
Chapter 4 : Something Weird?
Oke, sekarang tubuhnya benar-benar kaku. Dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Demi dewa Neptunus, bisakah ada yang menjelaskan keadaannya yang di alaminya sekarang?! Antara panik, bingung, dan takut. Semua bercampur aduk menjadi satu. Tubuhnya yang sedikit gemetar dan takut untuk bergerak sesenti pun.
Membuang jauh-jauh aroma mint yang mulai menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Sumpah Naruto kalang kabut! Lihat, kedua tangan kekar yang kini memenjara tubuhnya. Membuatnya harus berciuman dengan dada bidang di hadapannya. Kedua manik Saphire yang mengerjap tiada henti. Masih mencoba menyambungkan sel-sel otaknya kembali. Berimajinasi bahwa yang di rasakannya sekarang ini pasti hanya mimpi.
Ya, mimpi!
"Kemana saja kau selama ini, Dobe?"
Dan mimpi itu langsung bubar sekejap saat mendengar suara baritone serak itu berbicara. Naruto tidak paham dan semakin salah paham saat salah satu tangan Sasuke perlahan naik dan mengusap punggungnya, tubuh yang lebih tinggi darinya makin menunduk, dan wajah laki-laki tampan itu mencoba untuk menenggelamkan diri di perpotongan lehernya.
Jujur, napas Sasuke menerpa lehernya saat itu juga. Sang Uzumaki merinding geli. Kedua tangannya yang mencoba mendorong tubuh tegap di depannya, namun gagal saat pertahan tubuhnya tiba-tiba melemah ketika-
Cup-
Oke! Ini makin aneh, Sasuke mengecup leher jenjangnya tiba-tiba. Ini Uchiha bungsu mau apa?! Panik bertambah horror.
Seolah-olah sang raven tahu sekali dimana letak kelemahannya. Ya, pada leher, Naruto anti sekali pada orang yang suka menjahili lehernya seperti ini. Mencium dan membuatnya berteriak kecil tanpa sadar, bahkan kakinya pun ikut lemas.
"Hyaa! A..apa yang kau lakukan Sasuke-san?! Sadarlah?!" mendorong lebih kuat,
"Aku mencarimu kemana-mana. Seluruh Konoha, bahkan keluar negeri dan kau masih tidak kutemukan." Seperti mengidahkan teriakannya. Sasuke tidak menghentikan kegiatannya. Bahkan semakin menjadi-jadi, diiringi suara serak.
Naruto bisa merasakan lehernya memanas, seperti setetes air mengenainya. Alis wanita pirang itu mengernyit bingung. Laki-laki ini menangis lagi? Setelah memeluknya, mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui dan memanggilnya dengan nama 'Dobe'
"Sekarang kau berada di hadapanku tiba-tiba..setelah menghilang selama…lima tahun."
"…."
Perlahan otak jenius Naruto kembali terhubung, mengerjap singkat. Wanita ini mulai mengerti alur perkataan Sasuke. Mencoba menggerakkan tubuhnya, dan samar-samar dirinya dapat mencium aroma alcohol dari bibir sang Uchiha. Membuatnya sedikit bergidik-
Pantas, Sasuke tiba-tiba bersikap aneh seperti ini.
'Dia mabuk? Dan mengira aku ini istrinya?' membatin cepat, dirinya mencoba lepas dari kesalahpahaman Sasuke. Mendorong tubuh kekar itu perlahan, pendengaran yang masih bisa menangkap jelas isak tangis pelan dari Sasuke.
"Kau mabuk, Sasuke-san. Sadarlah."
"Dobe, jangan meninggalkanku dan Menma lagi." Mendengar suara dingin yang kini berubah serak. Diiringi permohonan yang sukses membuat Naruto merasa iba. Ia harus membawa Sasuke kembali ke kamarnya. Membiarkan laki-laki dalam keadaan mabuk dan menangis? Naruto tidak tega.
'Setidaknya dia tidak sadar kalau ini aku, obat itu. Aku harus meminumnya sekali lagi.' Mengangguk kecil, setelah perlahan ia berhasil melepaskan pelukan Sasuke. Tubuh yang mulai terhuyung itu kini sengaja ia senderkan di dekat dinding. Dan dirinya yang kembali ke dalam kamar dengan cepat-
'Tunggu sebentar di sini.' Naruto tidak takut jika ingin menolong orang lain, sekarang kekuatannya sudah terkumpul. Jadi kalau nanti ada kejadian-kejadian aneh yang menimpanya. Setidaknya ia masih ada kekuatan untuk melawan. Itu lebih baik daripada membiarkan Sasuke di sana, pingsan tanpa ada yang tahu. Dan kalau Menma melihat keadaan sang ayah nanti, bisa-bisa anak itu menangis panik.
Menutup pintu kamar sejenak, berada di ruangan yang gelap dan tetap menjaga-jaga agar Menma tidak terbangun, tanpa menunggu lebih lama tangannya mengambil ramuan obat di kantung celana.
Membuka tutup ramuan tersebut dan menegaknya pelan, kembali mengidahkan rasa pahit dan asam yang menjalari indra perasanya. Sedikit mengernyit tidak suka, beberapa detik terdiam. Menunggu ramuan itu bekerja-
'Ayo cepatlah!' menggerutu kecil-
"…"
"…"
Sampai-
Poff!
Kabut putih itu muncul lagi, menyelimuti tubuh Naruto. Mengubahnya kembali menjadi sesosok wanita berambut coklat dalam sekejap. Bibir itu tersenyum dan helaan napas lega terdengar.
Setidaknya ramuan Profesornya masih berfungsi dengan baik dan sekarang Naruto sudah bisa menghitung seberapa lama ramuan obat itu bekerja-
"Tujuh jam, hm? Lama juga. Berarti ramuan ini akan berhenti bekerja saat jam enam pagi nanti. Aku harus bangun lebih cepat dari semua orang di rumah ini kalau begitu~" bergumam pelan, menganggukkan kepalanya paham. Cepat-cepat menyembunyikan kembali botol yang sudah ia gunakan di dalam kantung.
Sebelum sang Uchiha bungsu pingsan di luar sana, tentunya.
Bergegas memutar kembali kenop pintu yang ia tutup tadi. Memperhatikan dengan jelas Sasuke yang kini berdiri menyender di dekat dinding, dengan salah satu tangan yang memegang kepalanya. Wajah yang memperlihatkan betapa sakitnya pusing akibat efek meminum alcohol. Naruto sedikit lega karena sepertinya kesadaran Sasuke perlahan kembali.
Laki-laki itu mengerang sakit, tidak bisa berdiri tegap dan menutup matanya sekilas. Mendengar suara deritan pintu, wajahnya mengadah. Menatap tubuh wanita berambut coklat di sana dengan kedua manik Onyxnya.
"…" tidak mau berbicara apa-apa dan hanya diam, mencoba untuk berjalan. Tapi apa daya tubuh itu malah terhuyung hampir jatuh kalau bukan Kitsune yang menyangga tubuhnya.
"Hati-hati, Uchiha-san. Anda sedang mabuk berat." Berujar singkat, mengalungkan salah satu tangan Sasuke di lehernya, dan mengidahkan pandangan dingin sang Uchiha.
"Aku bisa berjalan sendiri." Laki-laki itu akhirnya berbicara.
"Dan melihatmu tersungkur di lantai bawah esok hari? Kupikir tidak, Uchiha-san." Menjawab ucapan Sasuke dengan lancar, memang sedikit berat membopong tubuh yang lebih tinggi darinya, di tambah lagi seorang laki-laki seumuran dengannya. Tapi mau bagaimana lagi, Naruto bukan wanita yang jahat. Ingat itu.
"Ck," decakan kesal muncul di bibir sang Uchiha. Merasa terpojok dengan ucapan Kitsune, membiarkan tubuhnya di papah oleh wanita di sampingnya.
"Tolong beritahu dimana kamarmu, dan aku akan mengantarkan sampai ke sana." Kembali berbicara,
"….." tapi sepertinya perkataannya tidak mendapat respon yang baik dari sang Uchiha. Lihatlah sekarang, saat manik yang kembali berubah warna menjadi coklat itu melirik ke arah Sasuke.
Sang empunya masih mengerang sakit, memegang kepalanya yang berdenyut. Wajah yang memerah serta pandangan yang buram membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
Alhasil Naruto menghela napas panjang, tidak ada cara lain lagi. Tubuhnya yang mulai lelah memapah tubuh Sasuke, Naruto sudah mencoba mencari-cari bahkan menebak dimana kamar Sasuke, tapi dia tidak menemukannya. Mengira bahwa kamar sang Uchiha ada di dekat kamar Menma, seperti yang ia lihat tadi saat Sasuke keluar dari sebuah kamar. Ternyata itu adalah ruangan kerjanya.
Banyak sekali pintu ruangan di sini, dan dia harus mencarinya sendiri. Bukan sambil memapah tubuh laki-laki raven ini bolak-balik ke sana kemari.
'Aku harus membaringkannya di sofa.' Mencari kembali tempat untuk berbaring. Dan sepertinya pikirannya di kabulkan. Manik Coklat itu melihat jelas dua buah sofa besar tertata rapi di depan sana. Tetap berada di lantai atas, lengkap dengan meja dan lampu temaram kecil terletak rapi di samping sofa.
'Itu dia!' sedikit tersenyum dalam hati. Menatap sekilas Sasuke yang masih mengerang sakit. Ia mempercepat langkahnya.
"Lebih baik aku membaringkanmu di sofa itu dulu, Uchiha-san."
.
.
.
.
.
.
Pundak yang sedikit pegal membuat Naruto harus merenggangkan tubuhnya sejenak. Lega karena berhasil membaringkan tubuh Sasuke di atas sofa. Dan sekarang lihatlah, sang Uchiha dengan wajah dingin dan datarnya kini tak bisa berkutik. Salah satu tangan berada di atas wajahnya, erangan pelan terdengar dari bibirnya.
Yap, Sasuke benar-benar mabuk. Naruto jadi membuang jauh-jauh praduga yang sempat terlintas di kepalanya tadi. Saat laki-laki raven itu memeluknya tiba-tiba, menggumamkan panggilan 'Dobe' bahkan menangis. Shock tentu saja menyaksikan sendiri kondisi lemah sang Uchiha di depan matanya.
Wajah yang terlihat angkuh itu kini memudar sepenuhnya. Kedua manik coklatnya memandang singkat, nada menyayat hati tadi sukses membuatnya tak tega.
Sebegitu rindunya kah Sasuke pada istrinya? Tentu saja, kehilangan sang istri selama lima tahun. Membuat perasaan itu berkumpul terus menerus dan akhirnya membuncah. Sasuke yang tidak tahan, dan mengambil jalan dengan cara meminum alcohol.
Helaan napas panjang terdengar pelan, membatin diiringi langkah kakinya yang mulai mencari kembali dimana kamar Sasuke.
'Hh, kenapa laki-laki suka sekali melarikan diri dari masalah dengan cara mabuk-mabukan.'
OooOoooOOOoOoOoOoOoO
Melangkahkan kakinya, dengan kedua manik yang teliti mencari dan membuka setiap pintu kamar. Sejak beberapa menit lalu, ia berhasil membuka dua kamar dari enam pintu kamar yang berada di lantai atas. Mengerang dalam hati, kenapa mansion sebesar ini memiliki banyak sekali pintu kamar? Apa karena banyaknya maid atau penjaga kebun yang bekerja di sini? Tapi bukannya mereka pasti punya asrama atau rumah khusus bagi pekerja. Ah dia bingung!
"….."
Kamar ketiga mencari tidak berhasil, dia malah menemukan sebuah ruangan kosong.
Berdoa dalam hati, menatap lekat pintu berwarna coklat di hadapannya sekarang. Harap-harap cemas, kalau inilah kamar Sasuke. Tanpa aba-aba, tangan jenjangnya memutar kenop pintu.
Ini kamar keempat-
Dan sepertinya matanya mulai mengantuk sekarang. Jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua belas membuat uapan kecil keluar dari bibirnya.
'Ayolah!'
Krek-
Suara deritan pintu terbuka, diiringi dengan wajah Naruto yang menyembul dari balik pintu. Indra penciumannya langsung mencium aroma mint menguar dari kamar ini. Senyuman kecil lolos dengan cepat.
Sorak-sorak gembira terdengar-
"Pasti ini ruangannya!"
Aroma mint yang menguar sudah menjadi ciri khas Sasuke, mengingat kalau beberapa kali ia mencium aroma itu dari tubuh sang Uchiha. Walaupun kamar yang gelap tanpa penerangan, tapi ia tahu. Meraba-raba dinding, mencari saklar lampu,
"Ketemu."
Menyalakan kembali lampu ruangan, membuat sinar putihnya menyinari seluruh kamar. Menyipit singkat, pandangan yang ia dapatkan pertama kali adalah sebuah tempat tidur dengan ukuran king size, yang terbalut dengan selimut elegan, tertata rapi. Aksesoris yang menghiasi ruangan juga tak luput dari pandangannya. Sebuah lemari pakaian yang besar, dan rak dengan televisi di atasnya. Oh jangan lupakan satu buah ac yang mendinginkan ruangan. Benar-benar ruangan exclusive. Naruto jadi berdecak tanpa sadar.
'Ck, ck kamar seorang Uchiha dan laboratorium Profesor memang tidak bisa saling di bandingkan.' Ujarnya dalam hati, sebelum tersadar sepenuhnya.
"….."
Hampir saja ia melupakan Sasuke-
'Aish! Jangan sampai dia pingsan di sana!' membalikkan tubuhnya cepat, dan kembali menghampiri tubuh Sasuke tak jauh dari tempatnya. Masih dengan posisi setia terbaring tanpa daya.
"Uchiha-san, hh akhirnya aku menemukan kamarmu juga. Ayo kuantarkan," berujar singkat, dan mencoba mengangkat tubuh itu sekali lagi.
Tapi-
Plak-
Manik Naruto membulat kaget, sedikit mendelik saat tangannya di tepis cepat oleh sang Uchiha. Laki-laki raven itu malah semakin menyamankan posisinya di sofa.
"Pergi. Jangan ganggu aku." Suara baritone serak yang berkata cepat. Seolah mengusirnya. Membuat kedutan amarah terpampang setia di wajah sang wanita coklat.
"….." terdiam masih kaget, menatap laki-laki yang kini mengacuhkannya. Kedutan itu makin terlihat. Bibir yang menganga, dan tarikan bibir sinis perlahan muncul.
'Kh, apa dia bilang? Aku? Mengganggunya?! Setelah dia memelukku tanpa ijin dan aku mau membantunya kembali ke kamar? Pantat ayam ini mengatakan aku menganggunya?!' Tidak terima, ya Naruto benar-benar tidak terima mendengar pernyataan sepihak Sasuke.
Dirinya yang rela mengusir rasa kantuk hanya untuk membantu Sasuke, dan sekarang dia dianggap pengganggu?!
Tidak bisa!
Tanpa aba-aba-
"Apa kau bilang-" tidak bisa menahan amarah-
Sasuke yang masih samar-sama mendengar ucapan Kitsune mencoba tidak peduli-
Ya, sebelum-
Bletak!
Sebuah pukulan melayang ke puncak kepala Sasuke-
"Berhentilah bersikap sok kuat Sasuke Uchiha! Sekarang kau diam, tutup mulutmu dan biarkan aku memapahmu ke kamar! Berhenti menggerutu dan menganggapku pengganggu kalau kau tidak ingin pukulan mengerikan andalanku mendarat lagi di kepala bodohmu!"
"….."
Tertegun, kedua manik Onyx itu menatap dengan jelas. Wanita berambut coklat yang berdiri di sampingnya, dengan kedua tangan mengepal keras, teriakan kecil, dan wajah menahan amarah. Kepalanya terasa sakit saat merasakan pukulan itu.
"Cepat kemarikan lenganmu, dan jangan banyak bicara atau kau akan membangunkan Menma!"
"…"
Sasuke merasa dejavu, jujur ia pernah merasakan kejadian ini sebelumnya. Hal yang sampai sekarang pun masih sangat ia ingat. Pukulan istrinya yang melayang tepat ke arah kepalanya di karenakan dulu ia sempat memaksakan diri untuk bekerja dalam keadaan tubuh yang tidak sehat.
Kata-kata itu-
Kata-kata yang di ucapkan Kitsune dan sang istri sangat mirip, bahkan memiliki arti yang sama.
"Hentikan sikap sok kuatmu itu Teme! Sudah tahu sakit dan sekarang memaksakan diri untuk bekerja! Kalau kau melangkahkan kakimu dari kamar satu kali lagi, maka aku tidak akan segan-segan mendaratkan pukulan mautku ini pada kepala pantat ayammu! Mengerti?!"
Kepala yang berdenyut sakit membuat pikirannya terganggu, alhasil berniat untuk memikirkan kembali rasa dejavu yang ia rasakan tadi. Tapi gagal, alcohol yang ia minum terlalu banyak membuat ia ingin muntah saat itu juga.
Tidak bisa berkata apa-apa, tanpa sadar Sasuke pasrah saat wanita berambut coklat itu memapahnya. Dengan terhuyung-huyung tentu saja, tapi Kitsune sama sekali tidak mengeluh. Dia malah cenderung menyemangati dirinya sendiri agar tidak terjatuh.
Samar-samar Sasuke melihatnya, wajah yang kini menahan berat badannya. Dan mencoba berjalan. Kenapa dia merasa nyaman? Seperti yang di katakan putranya tadi sore. Wanita yang tidak ia kenal, kini membuat perasaan aneh menyelimutinya.
Mencoba menepis cepat, tapi tidak bisa. Tindakan Kitsune yang sehari ini memiliki kemiripan dengan istrinyalah yang membuatnya seperti ini. Pikiran yang melayang-layang, dan membuat keanehan yang ia rasakan semakin besar terhadap wanita di sampingnya.
Keakraban Menma pada wanita ini yang cenderung aneh-
Sikap protective Menma yang muncul kembali-
Rasa ramen yang ia rasakan-
Dan-
Kalimat tadi-
Untuk kali ini, Sasuke benar-benar di buat kebingungan dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
.
.
.
.
.
.
Bersorak-sorak dalam hati, Naruto menghela napas panjang saat melihat kasur berukuran besar di hadapannya. Mempercepat langkahnya, ia memapah tubuh Sasuke. Semakin mendekat-
Dan akhirnya setelah beberapa menit hasil jerih payahnya-
"Hh, sampai~"
Bruk-
Dengan pelan ia membaringkan tubuh Sasuke kembali, membuatnya mendarat di kasur empuk. Beban Naruto terangkat sepenuhnya. Menatap ke arah sang raven yang kini masih menggenggam puncak kepalanya yang terasa sakit.
Kerutan alis wanita coklat itu terlihat kembali-
'Kepalanya benar-benar kesakitan?' membatin pelan, memperhatikan gerak-gerik Sasuke yang sedari tadi tidak menghilang. Masih sama, erangan dan gerak gelisah di atas tempat tidur.
Yah, mabuk memang bukan cara yang baik untuk melarikan diri dari masalah. Lihatlah akibatnya sekarang.
"Kalau kau memang suka meminum alcohol terlalu banyak, sebaiknya hentikan kegiatan itu Uchiha-san~" mendesah panjang,
"Berisik."
Mengendikkan bahunya sekilas, ingin sekali Naruto kembali ke kamar Menma dan tidur di kasur itu dengan tenang. Sebelum tujuh jam perubahannya habis, dan pukul enam datang. Setidaknya ia bisa beristhirahat.
Ya maunya ia ingin seperti itu-
Sebelum-
Krek-
"Tousan?"
Suara panggilan kecil dari balik pintu yang kini terbuka pelan membuat pandangannya teralih, Naruto kenal betul suara itu.
Jangan bilang-
"Aa, Neesan..kemana tadi? Kenapa Neesan pergi?"
Oh, tidak sepertinya dia benar-benar membangunkan pemuda kecil itu dari tidur nyenyaknya. Lihatlah tubuh mungil yang kini mengusap salah satu maniknya dengan tangan, menguap lebar, dan menenteng sebuah boneka rubah besar di salah satu tangannya. Baju tidur yang sedikit berantakan, dan suara yang mengantuk terdengar jelas.
"Menma kenapa bangun?" menghampiri tubuh mungil di sana, dan menggendongnya ke dalam pelukan.
"Menma takut Neesan pergi, jadi Menma bangun dan mencari Tousan." Menguap sekali lagi, menatap ke wajah wanita berambut coklat di hadapannya, dan beralih ke arah ayahnya.
"Lho, Tousan?" memperhatikan bagaimana ayahnya kini terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Sukses membuat Menma terbangun sepenuhnya.
Anak kecil itu terlihat khawatir, "Tousan kenapa?!" ia merengek turun dan berlari menghampiri Sasuke.
Membiarkan Naruto di sana, melihat kedua ayah anak itu berinteraksi. Sasuke yang mengelus puncak kepala Menma, dan mencoba kuat.
"Tousan hanya sedikit sakit, lebih baik kau kembali tidur Menma." Berujar lembut, tapi di sambut gelengan kepala sang empunya.
"Um, Menma mau tidur sama Tousan saja. Tousan lagi sakit, dan tidak ada yang merawat jadi biar Menma yang jaga." Tubuh mungil itu mencoba naik ke atas tempat tidur dengan merangkak mendekati tubuh ayahnya.
"Hn, nanti kau ikut tertular."
"Tidak apa-apa asal Tousan cepat sembuh."
Masih mencoba mengelak, "Bibir Tousan sedang mengeluarkan aroma tidak sedap Menma, kau tidak boleh menghirupnya." Mengatakan aroma alcohol yang masih menguar, tidak membuat putranya menyerah. Bahkan kini pemuda kecil itu memeluknya.
"Menma mau tidur di sini saja, biar Tousan tidak kesepian." Meringsek dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang ayah.
"….."
"…."
Jujur, Naruto merasa untuk yang kesekian kalinya jantungnya berdetak tak karuan, seakan-akan hendak berteriak, sakit, ngilu, dan membuat perasaannya tidak tenang. Melihat pemandangan ayah anak di sana membuatnya terdiam lama.
Bagaimana Menma yang kini memeluk tubuh Sasuke, masih mencoba berbicara dengan ayahnya-
"Tousan sakit gara-gara Menma ya?"
"Hn, kenapa kau bicara seperti itu?"
Wajah sendu yang di perlihatkan bocah mungil itu membuat jantungnya semakin sakit-
"Habis..habis tadi Menma nangis dan bilang rindu pada Kaasan. Padahal..padahal Menma tahu kalau Tousan pasti juga merindukan Kaasan. Tousan pasti sakit gara-gara Menma bentak tadi."
Sang Uchiha mengelus puncak kepala putranya dan mengecupnya singkat, "Hn, jangan berkata seperti itu. Kau tidak ada salah apa-apa, dan Tousan tadi hanya bilang kalau ini sakit biasa~" mencoba tersenyum, merasakan pelukan Menma semakin mengerat.
"…"
Sakit-
Dadanya terasa ngilu, persis seperti yang ia rasakan saat melihat foto keluarga tadi. Hatinya seolah-olah ingin menangis. Kenapa? Naruto tidak mengerti sama sekali!
'Menma, Sasuke-'
"…."
Tanpa Naruto sadari, pandangan kedua manik coklat itu perlahan memburam. Pikirannya yang melayang tiba-tiba dan-
Blet!
"Anda dan Kyuubi benar-benar telah membuat penelitian yang sangat mengagumkan. Saya beruntung bisa melihatnya." Pandangan yang menatapnya sekilas, tanpa menyadari arti yang tersimpan di dalamnya.
"Terima kasih, ini berkat Kyuu-nii. Saya hanya membantu." Dengan balutan gaun berwarna biru legam, yang memperlihatkan lekukan badan serta keanggunan yang terpancar di wajahnya. Sebuah senyuman lima jari terpampang di sana.
"Oh, tidak, tidak, ide ini berasal dari kalian berdua bukan? Apa kalian tidak ada niat untuk membawanya ke dalam masalah yang lebih serius, menjual penelitian ini misalnya? Membuat penghargaan yang besar dan-"
Kalimat yang terpotong cepat, gelengan pelan, dan tawa kecil terdengar-
"Aku dan Kyuu-nii hanya ingin membuat ini sebagai kesenangan belaka. Kami berdua suka sekali menghasilkan sesuatu yang baru~"
"Oh~"
"Teme! Kemari cepat nanti kita terlambat!"
"Kau benar-benar tidak sabaran, hm?"
"Tentu saja!"
"Tousan, Kaasan!"
Blet!
"Men..ma..Te..me.."
"Neesan?"
Apa itu tadi?
Setengah tidak sadar, seolah-olah pikirannya kembali. Kedua manik itu mengerjap sekilas. Mendengar panggilan Menma yang membuatnya mengedarkan pandangan ke arah sumber suara.
Dan apa yang ia lihat?
"Neesan menangis?!"
Dirinya berada di samping tempat tidur, dengan Sasuke yang kini terbaring di sana dan Menma yang terduduk mencoba mendekatkan diri melihatnya.
Pandangan Onyx yang menatapnya kaget, dan manik coklatnya yang saling bertubrukan. Saat Naruto sadar kalau salah satu tangannya kini sudah hendak menggapai wajah sang Uchiha.
Dengan kedua manik berurai air mata, dan hendak mengusap wajah Sasuke-
"…"
Di tambah lagi-
"Kau tadi memanggilku apa, Kitsune?" nada baritone yang terdengar mengintimidasinya.
"Ah..a..aku-"
Apa yang dia katakan?! Apa yang terjadi dengan otaknya tadi?! Naruto benar-benar tidak mengerti!
Cepat-cepat menarik tangannya kembali, dan mengusap air matanya. Wanita itu mencoba tertawa-
"A..ahaha! Ta..tadi aku sedikit melamun, jadi tidak sadar kalau..aku kelilipan..ya mataku kelilipan. Maafkan aku Uchiha-san, kalau begitu lebih baik aku kembali ke kamar Menma dan tidur di sana. Menma bisa tidur denganmu. Selamat malam-" hendak berbalik cepat, sebelum merasakan sebuah tangan ingin menggapainya.
Plak!
Naruto menepis tangan itu cepat-
Sasuke yang hendak menghentikan langkahnya. Wanita itu berbalik pelan, senyuman kikuk masih terlihat di wajahnya. "Le..lebih baik anda beristhirahat sekarang Uchiha-san. Oyasumi. Mungkin besok aku akan pergi dari rumah ini, dan terima kasih atas tumpangannya menginap di sini." Menundukkan wajahnya dan bergegas pergi.
Meninggalkan Sasuke yang kini terduduk di pinggir tempat tidur dan Menma yang menatap kepergian kakak coklat itu.
Menarik baju ayahnya, "Neesan kenapa tadi Tousan? Kenapa Neesan menangis? Terus tadi Neesan tiba-tiba panggil nama Menma dan apa tadi..Menma tidak ingat-" mengerutkan keningnya bingung dan hendak bertanya lebih dalam.
Sebelum-
Elusan pada puncak kepalanya membuat pemuda kecil itu diam, "Tadi Kitsune-neesan hanya kelelahan saja. Ayo sekarang kembali tidur, Tousan tidak mau mendengar rengekan manjamu besok pagi."
"Benar Tousan? Menma khawatir."
Tersenyum tipis dan mengangguk pelan, "Hn, tidurlah." Ucapan singkatnya mampu membuat kekhawatiran Menma berkurang. Ia seolah paham, mencoba kembali berbaring di tempat tidur. Menyamankan posisi dan kembali ke alam mimpi.
.
.
.
.
OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoo
Sasuke berbohong, saat mengatakan kalau wanita berambut coklat itu hanya kelelahan. Ia melihat sendiri, walaupun dalam kondisi mabuk seperti ini. Pandangan Uchihanya tidak pernah salah. Dengan lampu terang dan posisi mereka yang berdekatan.
Dia melihat sendiri saat itu, tubuh Kitsune perlahan mendekati mereka berdua. Membuatnya mengernyit bingung, pandangan wanita di sana terlihat buram. Salah satu tangan yang memegang kepala, dan kedua manik yang seperti mengingat sesuatu.
"…."
Air mata itu-
Mengalir tanpa sang empunya sendiri sadari, bahkan-
Pendengarannya yang masih dalam keadaan prima mendengar sendiri panggilan, Menma dan Teme yang di ucapkan Kitsune.
Nama panggilan yang hanya di ucapkan oleh istrinya seorang.
Perasaan aneh Sasuke semakin menjadi-jadi. Denyutan kepalanya bertambah sakit.
Wanita itu membuatnya seperti ini.
"Aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri." Bergumam pelan, perlahan memperhatikan putranya yang kini sudah terlelap.
Tubuh yang sedikit terhuyung itu mencoba bangun, berjalan ke arah meja besar tak jauh dari tempatnya berada. Masih dengan salah satu tangan memijat pelipisnya.
'Aku harus meminta bantuan mereka berdua.' Membatin cepat, dan mengambil sebuah smartphone yang sengaja ia letakkan di sana.
Menekan huruf-huruf serta nomor yang tertera, dengan cepat dan mengidahkan rasa sakitnya.
Sasuke tidak kuat lagi, setelah kedua pesan ini terkirim ia harus segera mengisthirahatkan diri untuk menjalankan semua pekerjaan dan rencana kilatnya.
Ya rencana super kilat yang terlintas di otaknya.
To : Kyuubi, Itachi
Besok datang ke rumahku, ada yang ingin kubicarakan.
Meminta bantuan pada kedua kakak jenius yang sudah melampaui kepintarannya.
TO BE CONTINUED~
A/N :
Okeeee, di chapter lima nanti Kyuubi dan Itachi beraksi! Duo kakak paling ganteng kepunyaan Mushi muncul! #tendang# Chap ini ingatan-ingatan kecil mulai muncul di otak Naruto. Kalian udah pada tahu kan siapa ibu Menma sekarang? Ketahuan banget kalau alurnya ketebak wahaha :v :v Ini Mushi apdet kilat karena melihat riview kalian yang sangat mendukung Mushi buat lanjutin ini fic hiks seneng banget TVT7
Dan di chap kemarin Sasuke hanya mabuk jadi dia belum tahu identitas Naruto, ketahuannya harus perlahan-lahan. Ga boleh cepet-cepet nanti nggak greget dia kan#apaan kau# :v
Buat yang nanya siapa orang di foto itu, ada Sasuke, Itachi, Fugaku, Minato, Kyuubi, Kushina, Mikoto, sama Menma. Jangan salah paham dan nganggep laki-laki berambut pirang itu Naruto ya, dia Minato ehehe :D
Dan mengenai obat yang di incar Sasuke? Silakan menunggu saja yaa :D
Buat wujud Naruto saat jadi wanita berambut coklat, anggap saja seperti Shizune tapi tubuhnya dia lebih kecil.
Rencana apa yang ada di pikiran Sasuke? Dan Naruto? Apa yang di rasakan saat bertemu dengan Kyuubi dan Itachi nanti?!
Arigatou buat kalian yang masih mau mendengar kelanjutan cerita ini biarpun alurnya udah ketebak muahaha :v
Yoshh riview kalian sangat berharga untuk mempercepat apdetnya fanfic ini :D
Untuk akhir Kata, Mushi nggak akan capek-capek bilang~
SILAKAN RIVIEW~ \^0^/\^V^7
JAA~
