My little namjachingu
Summary
Bukan rencana seorang Kim Jongin untuk benar benar jatuh cinta dimasa sekolahnya. Seorang pria mungil yang mampu mengajarkannya apa arti kehidupan, mungkin telah merubah rencananya. Do Kyungsoo, seseorang yang akhirnya menjadi rencana dan tujuan bagi hidup seorang Kim Jongin setelahnya.
Rate : M
Main Cast : KAISOO
Other cast: Chanbaek, Hunhan
Genre : Romance, Humor, Hurt
YAOI, Boys Love, MPREG
Don't Like, Don't Read
Happy Reading
Chapter 3
.
.
.
.
.
.
.
[PREVIOUS]
Pagi pagi sekali Kyungsoo tengah bangun untuk membersihkan rumah dan memasak, mengingat pukul setengah delapan ia harus pergi bersama Jongin mempersiapkan pernikahan mereka. Kyungsoo mencoba membangunkan eommanya dengan mengetuk pintu kamarnya tapi tak sedikitpun eommanya menjawab, apa eomma benar benar membenciku, sekarang? batin Kyungsoo. Kyungsoo pun membiarkan eommanya sebentar dan mencoba berpikir bahwa mungkin saja eommanya masih tidur. Sekitar setengah jam sejak terakhir Kyungsoo mengetuk pintu kamarnya, Kyungsoo pun kembali lagi dan mencoba membangunkan eommanya, ia mengetuk pintu kamarnya tapi tetap tak ada jawaban, Kyungsoo mencoba menggoyangkan gagang pintu kamarnya, dan ternyata pintunya tak terkunci sama sekali,
"eomma..." panggil Kyungsoo pada eommanya, tapi Kyungsoo terkejut saat ternyata eommanya tak ada dikamar. Kyungsoo panik dan terkejut bukan main, buru buru ia menelepon eommanya, tapi rupanya, Kyungsoo bisa mendengar dering handphone eommanya ada didalam lacinya. Kyungsoo pun semakin panik mengetahui eommanya pergi tanpa sepengetahuannya dan tanpa membawa handphonenya. Kyungsoo pun membuka laci kamar tersebut untuk meraih handphone eommanya, barangkali ia bisa tahu kemana eommanya pergi dari handphone tersebut, tapi sayangnya, bukannya buru buru meraih handphone tersebut, Kyungsoo malah memusatkan perhatian pada sebuah map yang terletak dihandphone tersebut.
"hasil rontgen?" Kyungsoo membelalakkan matanya sebelum akhirnya membuka isi map tersebut.
.
.
.
.
.
My little namjachingu
.
.
.
.
.
Kyungsoo terkejut saat tiba tiba saja suara klakson mobil berbunyi, sudah pasti itu Jongin. Kyungsoo pun keluar setelah melihat hasil rontgen eommanya kemudian mempersilahkan Jongin masuk dulu sebentar.
"ada apa, Soo?" tanya Jongin setelah melihat raut panik Kyungsoo
"kita jangan pergi dulu, ya.. eomma pergi dan dia tidak membawa handphonenya."
"eomma tidak memberitahumu?"
"ne.. pagi pagi sekali eomma sudah tidak ada dikamarnya."
"apa kita perlu mencari eomma sekarang?" ajak Jongin yang juga ikut khawatir.
Kyungsoo pun mengiyakan ajakan Jongin karena ia benar benar sudah panik sekarang. Kyungsoo buru buru mengambil jaket dan tasnya kemudian melangkah keluar rumahnya bersama Jongin.
"EOMMA?!"
Kyungsoo terkejut saat baru saja hendak pergi dan ternyata eommanya datang,
"eommaaa! kenapa pergi tidak memberitahuku?" rengeknya,
Tapi eommanya tak menjawab pernyataan Kyungsoo, ia buru buru masuk ke dalam rumah diikuti dengan Kyungsoo dan Jongin juga yang mau tak mau masuk lagi ke rumah Kyungsoo.
"eomma gwaenchana?" tanya Kyungsoo buru buru saat sang eomma mendudukkan dirinya didepan meja ruang tengah, Jongin dan Kyungsoo pun ikut duduk.
"waee? apa ada yang terlihat tidak baik pada diri eomma...? sudah sana kalian pergi urus pernikahan kalian!" jawab eommanya dengan ketus membuat Kyungsoo menghela nafasnya karena ia tahu, pasti eommanya benar benar ingin menyembunyikan sesuatu darinya. Dengan cepat Kyungsoo mengambil hasil rontgen yang baru saja ia letakkan diatas rak kecil ruang tengah kemudian menunjukkan pada eommanya, eommanya tersentak kaget,
"Kyungsoo-aah..." ucapnya dengan lirih,
"eomma sakit? sakit apa? kenapa tidak memberitahukan padaku? apa eomma lupa bahwa setidaknya ada satu orang didunia ini yang sangat mengkhawatirkan eomma?" ujarnya dengan penuh rasa kesal sambil menahan nada bicaranya agar tidak terkesan membentak, eommanya pun menoleh menghadap Kyungsoo dan mendapati bahwa mata putranya itu tengah berkaca kaca.
"Kyungsoo-aah..."
"aku, eomma. aku adalah satu satunya yang akan tersiksa jika melihatmu menderita. Apa gunanya menyembunyikan semua ini dariku, eoh?"
"Pergilah! eomma tidak mau melihatmu." ucapnya dengan tegas, membuat Kyungsoo tak habis pikir, apakah eommanya benar benar membencinya karena kejadian kemarin? batinnya,
"Mwo? eommaa... kenapa berkata begitu padaku? wae? aku tidak bisa meninggalkan eomma jika eomma sakit. Siapa yang akan mengurus eomma jika aku menikah, eoh?" tanya Kyungsoo lagi masih memberanikan diri untuk mendapat jawaban eommanya yang sesungguhnya.
"gwaenchana.. eomma lebih baik sendiri daripada harus repot repot juga mengurusmu."
"eomma..." Kyungsoo tersentak mendengar jawaban eommanya, Jongin pun tidak bisa berkata kata lagi melihat betapa eommanya Kyungsoo sudah tidak mempedulikan putranya.
"EOMMA! WAEEE? Apa eomma segitunya membenciku hanya karena kejadian kemarin? atau hutang kita yang menumpuk membuat eomma frustasi begini? Apa eomma benar benar sengaja menjualku ke keluarga pejabat seperti Jongin? BEGITU?" Kyungsoo naik pitam karena ia sudah tidak habis pikir lagi dengan semua jawaban eommanya, dan jujur saja, itulah yang terlintas di benak Kyungsoo kemarin saat eommanya bersikukuh untuk tetap meminta Jongin menikahinya, apa eommanya benar benar menjualnya? batinnya.
"NE! Ketika mengetahui bahwa Jongin anak seorang pejabat, eomma tidak segan segan mempertahankan Jongin untuk tetap menikah denganmu! KAU HARUS MENIKAH DENGANNYA!"
"SHIREOOO! AKU TIDAK MAU MENIKAH! EOMMA SAKIT BAGAIMANA BISA AKU MENINGGALKAN EOMMA!" Kyungsoo semakin keras kepala menanggapi eommanya dan sifatnya yang pemberani itu pun mulai keluar walaupun didepan eommanya sendiri, Jongin mencoba menenangkan Kyungsoo agar menghentikan keegoisannya dalam menanggapi eommanya. Apakah eommanya Kyungsoo benar benar memandangku karena status ku saja? tanya Jongin dalam hati,
"KAU HARUS MENIKAH, KYUNGSOO-AAH!"
"WAE? KENAPA HARUS?"
"KARENA TIDAK ADA YANG MENGURUSMU LAGI JIKA KAU TIDAK SEGERA MENIKAH!" teriak eommanya frustasi sebelum akhirnya menangis dan menumpahkan seluruh airmatanya, Kyungsoo pun terkejut melihat eommanya yang tiba tiba menangis dengan kencang kemudian memukul mukul dadanya. Jongin menatap lirih, ia juga bingung harus berbuat apa sekarang.
"eomma... apa maksud eomma..." Kyungsoo berucap dengan tubuh melemah,
"ne! eomma sakit! dan umur eomma tidak akan lama lagi! Siapa yang akan mengurusmu kalau kau tidak menikah, eoh? eomma tidak bisa mengurusmu lagi..." ucapnya sambil terus merengek dan menangis sedih,
"ne... hiks... eomma divonis kanker otak, Kyungsoo-aah... eomma rasanya semakin gila setelah mendapat vonisan dokter dan mendapati kau tidur bersama pria asing. Eomma benar benar frustasi pagi itu."
"eomma tidak mau kau sendirian membiayai hidupmu, belum lagi jika kau haru dikejar kejar mafia hutang? miaanhae Kyungsoo-aaah, eomma mau tidak mau menjual rumah ini untuk melunasi hutang kitaaa, dan kau bisa hidup tenang dengan Jongin. Anggap saja, pernikahanmu ini adalah permintaan terakhir eomma untuk melihat putra eomma berjalan menuju altar"
"eomma! berhentilah mengatakan hal omong kosong seperti itu" tegas Kyungsoo dengan tatapan kosong.
Kyungsoo dan Jongin terdiam mendengar ucapan eommanya,
"kau pikir eomma tidak terharu mendengar pengakuan Jongin kemarin? melihatnya berlutut pada eomma? saat itu eomma pun yakin bahwa kalian tidak mungkin berbohong pada eomma... tapi.. mengingat bagaimana keadaan eomma, mau tidak mau eomma melepaskanmu pada Jongin yang eomma yakini bahwa Jongin adalah orang yang tepat... mianhae Jongin-aah memaksamu menikahi putra eomma, mianhaeee... eomma tidak bermaksud menyiksa kaliann, hikss" lirihnya terus sambil menangis tak karuan,
"eommaaa... mianhaeee.. Kyungsoo mohon jangan berkata seperti itu eommaa..." rengek Kyungsoo kemudian memeluk eommanya sambil sama sama menangis. Jongin pun ikut bersimpati kemudian merangkul tubuh Kyungsoo dan eommanya yang sama sama sedang terisak.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo tak berhenti termenung didalam mobil Jongin. Ia masih tidak menyangka, apa benar eommanya sakit? dan umurnya tidak lama lagi? Tapi semuanya sudah jelas terbukti setelah Kyungsoo diam diam ke rumah sakit yang eommanya kunjungi bersama Jongin, kemudian bertemu dengan sang dokter. Dan ternyata, eommanya tak berbohong sama sekali. Kyungsoo mematung dikursinya membuat Jongin tak tega melihat kekasihnya sedih seperti itu. Tapi, memang siapa yang tidak sedih jika berada di posisi Kyungsoo?
"uljimaa, Soo" pinta Jongin sebelum ia melesatkan mobilnya, ia tidak tega jika membawa pergi Kyungsoo yang sedang menitikkan air matanya.
"eommaaa..." lirih Kyungsoo,
"apa ini semua sungguhan? apa kepahitan ini nyata terjadi padaku?" lirihnya lagi,
"aku rasanya tidak ingin hidup lagi, Jongin-aaah. Aku tidak sanggup.. kenapa kepahitan bertubi tubi sekali terjadi padaku? tidak bisakah Tuhan membiarkanku bahagia seutuhnya?"
Jongin pun langsung memeluk tubuh Kyungsoo,
"geumane! berhenti berbicara hal hal seputus asa itu"
"tapi ini sungguh menyakitkan... hiksss" isaknya didalam pelukan Jongin,
"kau ingat? kau sendiri yang pernah mengatakan untuk jangan berpikir bahwa hidupmu yang paling buruk. Kau ingat itu? Saat kau menyemangatiku?"
Kyungsoo pun mengangguk, kemudian melepaskan pelukan Jongin. ia mengumpulkan sedikit demi sedikit kekuatannya untuk setidaknya mampu menghadapi kenyataan hari ini. Jongin pun mengecup kening Kyungsoo sekilas sebelum akhirnya mereka berangkat dan mulai mengurus pernikahan mereka.
Kalau boleh jujur, Jongin juga rasanya ingin menangis. Karena, remaja SMA mana yang sanggup menjadi Kyungsoo? Jongin pikir, jika itu terjadi padanya pun, Jongin akan memilih untuk menyerah. Mungkin bagi Jongin tidak masalah menikah dengan Kyungsoo sedini mungkin, tapi Kyungsoo? Jongin tahu persis bagaimana Kyungsoo, ia akan lebih menjunjung tinggi cita citanya. Apa Jongin merasa bersalah? tentu saja Jongin sangat merasa bersalah. Belum lagi kekhawatirannya karena sex yang pernah mereka lakukan, Jongin bisa ikut frustasi jika Kyungsoo hamil di masa SMA nya. Jongin tak mau sedikitpun melunturkan semangat Kyungsoo dalam belajarnya di sekolah, karena bagi Jongin, Kyungsoo adalah satu satunya pria terkuat yang pernah ia temukan.
.
.
.
.
.
Sekitar pukul jam delapan malam, mereka baru selesai mengurus persiapan pernikahan mereka. Untungnya, sekolah sudah libur, dan hari rabu sudah akan dilakukan pembagian rapot, jadi mereka masih bisa fokus untuk mempersiapkan lebih matang pernikahan mereka yang akan berlangsung secara mendadak itu, dan tentunya, akan jadi semakin rahasia karena satu sekolah sudah mulai berlibur.
"appa..." panggil Jongin setelah appanya mempersilahkan Jongin masuk ke dalam ruang kerja appanya. Appanya yang sedang berdiri disudut ruangan pun cukup heran dan benar benar menyadari bahwa Jongin bukanlah Jongin yang dulu lagi, cara bicaranya pun sudah tidak kasar lagi seperti dulu.
"wae Jongin-aah?" jawabnya,
"appa mianhae atas semua yang terjadi." ucapnya lirih, appanya terkejut, karena belum pernah sama sekali Jongin mengucapkan maaf pada appanya,
"Jongin-aaah..." appanya pun mulai mendekati tubuh Jongin yang tengah berdiri sambil menunduk, kemudian tiba tiba, appanya itu merangkul tubuh putranya. Jongin pun mengangkat kepalanya hingga menghadap ke arah appanya, awalnya ia pikir appanya tengah frustasi karena dia,
"Jujur saja, appa menyesali kejadian ini. Walaupun appa percaya padamu dan juga Kyungsoo bahwa kalian tidak melakukan apa apa. Appa juga takut semua ini akan membuat reputasi appa jatuh, dan tidak hanya membuat jelek nama appa, tapi juga namamu. Tapi appa yakin, bahwa semua ini tidak akan terlalu jadi masalah selama Kyungsoo adalah seorang pria."
"maksud appa?"
"kita bisa membuat Kyungsoo sebagai anak angkat appa, tidak ada yang perlu dicurigakan jika media menemukan Kyungsoo tinggal bersama kita" jelas appanya menenangkan. Jongin pun mengangguk sebelum akhirnya memanggil appanya lagi,
"appa..."
"hmm?"
"sebenarnya... eommanya Kyungsoo bukan berniat jahat dengan memaksa ku menikahi Kyungsoo..."
"maksudmu?"
"eommanya Kyungsoo sakit, dia mengalami kanker otak, dan mendapat vonisan dokter bahwa hidupnya tidak lama lagi..."
"MWOOOO KAU SERIUS?"
"neee... aku sudah mencari tahu semuanya bersama Kyungsoo secara langsung. Kyungsoo sendiri bahkan baru tahu bahwa eommanya sakit."
Appanya bertatap nanar,
"kyungsoo gwaenchana?" tanya appanya khawatir,
"ia frustasi dan sangat terpukul. ia bahkan hampir tidak bisa menerima semuanya" jelas Jongin membuat appanya menepuk nepuk pundak Jongin dan meminta Jongin untuk lebih memperhatikan Kyungsoo,
"gomawo appa sudah mau mengerti semua keadaan ini..."
"gomawo juga Jongin-aah sudah mau berubah dan melupakan dirimu yang dulu. Appa sama sekali tidak menyesal jika harus menikahkanmu pada orang sebaik dan setulus Kyungsoo. kalian harus semangat untuk enam bulan ke depan menempuh ujian nasional kalian, ne?"
Jongin tersenyum, ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia dan appanya bisa bercakap cakap sebaik ini, tidak perlu saling berteriak atau bersitegang. Jongin baru menyadari bahwa yang menyebabkan hubungan ia dan appanya menjadi tidak harmonis adalah dirinya sendiri, meskipun sang eomma tetaplah menjadi eommanya yang sibuk berselingkuh, Jongin rasanya sudah tidak peduli, ia pikir ia harus terus berhubungan baik walau dengan appanya saja, karena ada yang lebih tersiksa selain dirinya saat tahu eommanya berselingkuh, yaitu... appanya.
.
.
.
.
.
.
.
Di hari saat mereka mengambil rapot bersama, sayang sekali bahwa eommanya Kyungsoo sudah harus berbaring istirahat dirumah dan tidak bisa mewakili Kyungsoo mengambil rapot. Tapi rupanya, appanya Jongin menggantikan sang eomma sekaligus memberitahukan berita yang cukup mengejutkan mengenai pernikahan putranya pada wali kelasnya,
"mwo? menikah? apa yang terjadiiii?" tanya sang wali kelas dengan terkejut,
"ani, sebenarnya tidak ada yang terjadi..." jawab appanya dengan sangat pelan sebelum akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tidak hanya appanya yang bercerita, tapi sang wali kelas pun menjelaskan bagaimana kepribadian Kyungsoo dan bagaimana perkembangan Jongin di sekolah selama belajar dengan Kyungsoo, dan tentu saja sang wali kelas mampu memahami semuanya karena wali kelas Kyungsoo sendiripun sudah sangat mengerti bagaimana kehidupan Kyungsoo sejak awal pria mungil itu masuk SMA. Setelah menyetujui untuk merahasiakan semuanya, mereka pun sepakat untuk tetap mempertahankan Jongin dan Kyungsoo sampai enam bulan kedepan hingga lulus.
Menjelang hari pernikahan, Jongin selalu menemani dan membantu Kyungsoo merawat eommanya dirumah. Setiap kali eommanya diajak kerumah sakit, ia selalu menolak dan meminta untuk beristirahat dirumah saja. Kyungsoo tiada hentinya menangis setiap kali menatap eommanya yang sedang tertidur, ia benar benar tidak mampu membayangkan bagaimana hidupnya jika tanpa eommanya. Untungnya, berkat kehadiran Jongin, Kyungsoo yang sesekali menangis melihat keadaan buruk eommanya itu pun selalu bisa ditenangkan oleh Jongin.
Hingga hari dimana menjadi hari Jongin dan Kyungsoo saling mengikat janji suci. Menyedihkan memang, pernikahan yang berlangsung terlalu dini, dan mereka tidak bisa mengundang banyak orang dan mengajak orang orang berbahagia di hari sakral mereka. Tapi Jongin telah berjanji pada Kyungsoo untuk segera melangsungkan resepsi beberapa bulan setelah mereka lulus ujian nasional.
"apakah appamu marah?" tanya Kyungsoo saat Jongin mengunjungi Kyungsoo di ruang pengantin.
"ani... dia hanya sibuk, makanya tidak pernah bisa menemuimu" jelas Jongin membuat Kyungsoo mengangguk, "dimana eomma?" tanya Jongin lagi,
"ia bersama wali kelas kita" jawab Kyungsoo dengan tegar,
"apa dia yang mendampingimu menuju altar?"
"memangnya siapa lagi? aku tidak punya appa, tidak punya kakak atau adik laki laki, atau bahkan sekedar paman, aku tidak punya..." Jongin tersenyum tipis kemudian mengelus pipi Kyungsoo,
"yeppeudaa~" puji Jongin sambil menatap wajah Kyungsoo,
"apa ini tidak menyedihkan? seorang siswa SMA kelas tiga menikah dengan sesama teman sekelasnya?" rengek Kyungsoo jika menyadari lagi bahwa dia benar benar membenci pernikahan dini nya ini. Jongin pun langsung mengecup kening Kyungsoo,
"tidak menyedihkan selama bersama dengankuuuuuu~~~ ehe..." Kyungsoo pun berdecih saat Jongin akhirnya mengusak rambutnya dengan lembut kemudian meninggalkan Kyungsoo untuk segera bergegas ke altar.
Kyungsoo hampir saja menangis saat tangan lemah eommanya mengantar tubuhnya berjalan ke altar. Pernikahan resmi yang benar benar tertutup dan sangat rahasia juga menyebabkan Kyungsoo ingin menangis sejadi jadinya, kenapa semuanya harus berakhir seperti ini? batinnya. Jongin pun tahu bagaimana perasaan Kyungsoo jika dilihat saja dari bagaimana rautnya saat berjalan ke arahnya, Sungguh! Jongin tidak tega, tapi harus bagaimana lagi? Kyungsoo juga akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan eommanya. Kyungsoo pun akhirnya mengumpulkan segala kekuatannya untuk tersenyum dan menunjukkan raut bahagia di hari bahagianya itu.
Kim Jongin & Do Kyungsoo.
Dua siswa SMA kelas tiga yang akhirnya resmi menjadi pasangan sehidup dan semati.
Lucu, memang. Pernikahan dini yang tidak pernah mereka rencanakan.
Tapi, Tuhan memang selalu punya rencana lain, bukan?
.
.
.
.
.
.
.
.
Untuk pertama kalinya Jongin menghabiskan masa liburan dengan appanya, dan tentunya dengan pasangan hidup barunya. Jongin seperti menemukan keluarga baru, walaupun eomma kandungnya sendiri lebih memilih pergi bersama orang lain daripada dengannya. Jongin sempat berpikir, kenapa appanya tidak menceraikan eommanya saja? Bukannya appanya itu sudah cukup bersabar menghadapi eommanya? Jongin juga tahu, pasti appanya sudah mengetahui bahwa eommanya tengah berselingkuh, kenapa appa bisa se sabar itu? Jongin jadi merasa bersalah jika mengingat betapa keras kepalanya dia dulu terhadap appanya.
Di sebuah pantai yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka sekarang, Jongin, appanya, Kyungsoo, dan eommanya, mereka berpiknik bersama. Jongin dan appanya duduk berdua dibawah sebuah pohon menatap ke arah laut yang ada didepan mereka. Sementara Kyungsoo sedang berjalan dipinggir pantai bersama eommanya, Kyungsoo menatap lirih eommanya yang wajahnya semakin pucat,
"eomma gomawo..." ucap Kyungsoo sambil menggenggam tangan eommanya, wanita paruh baya itu pun menoleh dan menghentikan langkahnya,
"gomawo sudah melahirkanku, gomawo sudah menjadi ibu kandungku, gomawo atas segala perjuanganmu membesarkanku, dan memberikanku pendidikan yang layak. Aku menjadi pribadi yang baik karenamu, eomma. Tidak salah appa menikahimu, hehe" ucap Kyungsoo dengan mengajak bercanda di akhir kalimatnya. Eommanya pun tersenyum dengan bibir yang tampak pucat pasi,
"mianhae Kyungsoo-aah, mianhae harus melepaskan mu terlalu cepat, mianhae karena eomma harus meninggalkanmu..."
"EOMMAA! GEUMANE! berhentilah mengatakan omong kosong itu! Tidak ada penyakit yang tidak bisa sembuh, arayooo?" omel Kyungsoo kemudian tiba tiba memeluk eommanya,
"Kyungsoo mencintai eomma..." ucap Kyungsoo sebelum akhirnya mengecup kening eommanya,
"tapi eomma tidak mencintaimu, eomma mencintai appa..." ejeknya kemudian berlari pelan menjauhi tubuh Kyungsoo,
"eoh? kau tidak mencintai anakmu? YAAA!" teriak Kyungsoo sambil tertawa kemudian mengejar eommanya.
.
.
.
.
.
.
BUKK!
Jongin menjatuhkan tubuh Kyungsoo diatas kasurnya,
"yaa~~ geumaneee~~~" rengek Kyungsoo saat Jongin mengusak ngusak rambutnya dileher Kyungsoo membuat Kyungsoo kegelian dan menahan kedua lengan Jongin, Jongin pun tertawa kemudian membangunkan tubuhnya diatas tubuh Kyungsoo,
"kau tahu kan apa gunanya appa memisahkan kamarku dengan kamarmu?" oceh Kyungsoo dibawah Jongin,
"tidak ada gunanya, eheee... masa sudah menikah ranjangnya dipisah? bukannya itu tidak adil?" rengek Jongin,
"eissh, hanya enam bulan saja sampai kita lulus, kita harus fokus dulu pada sekolah kita Jongiiiiinnnnn"
"aku fokus kok, hanya saja fokus ku terbagi dua, dan yang satu lagi adalah dirimu..."
"eissh si bajingan ini~~" oceh Kyungsoo sebelum akhirnya Jongin mengecup sekilas bibir Kyungsoo, "muaahhh!~"
Jongin pun beranjak dari kasur dan mulai mengajak Kyungsoo belajar bersama, Kyungsoo terkekeh, kenapa semangat belajar Jongin tinggi sekali? Padahal kan masih waktu liburan, Kyungsoo pun mengejek Jongin membuat Jongin mengoceh lagi,
"mau mengajakmu bermain, diomelin. mengajakmu belajar malah dicengin." rengek Jongin membuat Kyungsoo semakin terkekeh,
"Kajja! Kalau begitu kita browsing mencari universitas saja, otte?" ajak Jongin sebelum akhirnya mereka asik duduk bersama didepan sebuah meja belajar kecil yang Jongin pasang diatas karpet kamar. Mereka duduk menempel satu sama lain dengan tubuh Jongin memeluk tubuh Kyungsoo dari belakang. Kyungsoo pun serius membuka laptop Jongin dan mulai mencari cari universitas tujuan untuk mereka setelah lulus nanti.
"aku harus mencari beasiswa, nih, apa harus cari beasiswa luar negeri ,ya?" gumam Kyungsoo sambil terus menscroll webpage yang ia kunjungi,
Jongin yang sedang serius melihat laptop sambil menyandarkan dagunya dibahu Kyungsoo pun mengoceh,
"tidak usah jauh jauh kuliah ke luar negeri! Kuliah disini saja bersamaku!"
"wae? itu kan keinginanku..."
"andwaeeee~~~"rengek Jongin sambil melingkarkan tangannya diperut Kyungsoo kemudian menggoyang goyangkan tubuh Kyungsoo dengan manjanya,
"eishhh! geumane!" oceh Kyungsoo membuat Jongin menghentikan pergerakannya, kemudian serius menatap laptop lagi,
"besok kita masak dirumah eomma, yuk!" ajak Jongin sambil mengelus ngelus hidungya diatas bahu Kyungsoo,
"masak?" tanya Kyungsoo kaget,
"ne, aku tidak pernah makan masakanmu..." rengek Jongin,
"geuraeee~ besok kau akan lihat kemampuanku memasak!" ucap Kyungsoo masih sambil terus memainkan laptop Jongin, Jongin pun tersenyum,
"Kyungsoo-aahh..." panggil Jongin lagii,
"waeee?"
"ppoppooo~~~" rengek Jongin lagi membuat Kyungsoo menghela nafasnyaa,
"YAA! Jonginnnnnn! Kenapa pria gangster ini jadi manja sekali begini sih?" ejek Kyungsoo membuat Jongin tambah merengek dan mulai menggelitik tubuh Kyungsoo lagi dan lagi hingga sepertinya... mereka akan memulai kegiatan baru setelahnya.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued~
tada~~~ no NC dulu yaaaah, dede Kyungsoo masih anak SMA huehuehe
Gak ngaruh lah masih sekolah apa enggak, yang penting enaaa, eehh/
