PILIHAN HATI
Naruto Masashi Kishimoto
Rated T
Genre: Romance dan Drama
Peringatan: typo, OOC, EYD, sedikit bingung, bosan, pasar Mainstream, Penulis Newbie
.
.
Ujian
.
.
Hari-hari berjalan sangat cepat. Tak terasa sebentar lagi aku lulus SMA. Masa sekolah yang indah sepertinya akan segera berlalu. Sebentar lagi aku akan menjadi mahasiswi.
Oh iya, sepertinya aku harus mulai memikirkan lagi masa depanku. Sasuke-kun benar-benar diluar dugaan. Padahal aku masih 18 tahun, yah sudah satu tahun kami bertunangan, dan Sasuke-kun malah sudah resmi melamarku. Ayahku sendiri sangat setuju. Entahlah mungkin sudah capek mengurusku.
Selama setahun ini, tak banyak yang kami lalui. Sasuke-kun sibuk kuliah dan membantu perusahaan keluarganya. Dia juga sedikit banyak membantu ayahku mengurus perusahaan keluargaku. Memang Sasuke-kun sangat pintar. Bahkan jenius. Aku jadi ingin membantunya. Paling tidak meringankan pekerjaannya. Jadi kuputuskan untuk meneruskan kuliah jurusan bisnis.
Kalian tahu Konoha University? Universitas bisnis terbaik di negeri ini. Kudengar ujian masuknya sangat sulit. Tapi entah kenapa, aku sudah diterima disana. Padahal pendaftarannya saja belum dibuka. Entah itu ulah Uchiha atau ayahku, aku malas memikirkannya. Sasuke-kun sendiri sudah hampir selesai kuliah. Tinggal tunggu wisuda, begitu katanya. Yah lagi-lagi kesempurnaan Uchiha. Mungkin nanti anak kami akan mewarisi kesempurnaan itu, mengingat ayahnya nanti adalah Uchiha Sasuke.
Beberapa bulan lagi, dan aku akan resmi meninggalkan marga Haruno. Entah perasaan apa ini, tapi aku benar-benar bingung akan perasaanku. Terselip keraguan dihatiku. Dan mungkin ini adalah tanda.
"DAHI!"
"BABI!"
Kami saling berpelukan sambil menangis. Tahu kenapa? Yah karena kami akan berpisah.
Hari ini upacara kelulusan SMU, dan secara mengejutkan Ino memberitahuku bahwa ia akan kuliah di Paris. Memang aku tahu dia sangat tergila-gila dengan fashion. Tapi Paris? Aku tak pernah menyangka ia akan nekat meninggalkanku disini. Mungkin seharusnya aku menyalahkan kekasih pucatnya itu. Gara-gara dia ingin kuliah di Paris, Ino jadi ikut dan melanjutkan kuliahnya disana.
"Jangan menangis begitu Forehead, nanti kan kita pasti bertemu lagi" kata Ino.
"Kau bikang jangan menangis, tapi kau sendiri menangis" kataku menanggapi.
"Gadis jelek makin jelek kalau menangis" muka pucat menanggapi. Pasti kalian tahu sendiri siapa dia.
"Diam kau! Gara-gara kau aku akan berpisah dari sahabatku" kataku kesal.
"Aku akan menjaganya, bun untuk kau, tapi untukku sendiri" katanya sambil memamerkan senyum yang kata Ino seperti malaikat. Malaikat? Huh bukankah malah seperti senyum iblis. Kebijakan Pig! Tergoda bujukan iblis sepertinya.
"Jangan begitu, kau sendiri malah mau menikah. Berani sekali kau mendahuluiku" kata Ino.
"Kau akan datang, kan?" tanyaku. Aku benar-benar tidak mau dihari bahagiaku Ino tidak ada.
"Tenang saja. Dimanapun aku, aku akan segera datang menemuimu"
"Ucapanmu membuatku merinding, Pig. Kalau orang dengar kan bisa salah paham"
"Kau kira aku apa? Aku sudah punya Sai, cowok terkeren sealam semesta"
Tuhkan, mulai lagi deh narsisnya. Aku memandang lagi pasangan didepanku. Mereka tidak sama, tapi melengkapi. Apa aku dan Sasuke-kun juga bisa begitu? Entah kenapa aku mulai tidak yakin padanya.
"Forehead, dimana Uchiha mu?" seolah Ino tahu yang aku pikirkan.
"Dia sibuk. Ada meeting dan setelah itu harus keluar kota. Mungkin minggu depan baru kembali" kataku.
Ya, sasuke-kun tidak datang. Mungkin lebih tepat bila dibilang tidak bisa datang. tadi pagi dia memberi kabar kalau hari ini ada meeting penting yang tak bisa ditinggal, dan setelah itu ia harus segera ke Iwa untuk mengurus cabang Uchiha disana.
"Kenapa bukan Itachi-nii saja, Sasuke-kun?"kataku sambil merajuk. Kubiarkan suaraku terdengar manja.
"Jangan begitu, Sakura. Kau kan tahu Itachi-nii juga sangat sibuk" katanya, kudengar dia menghela napas.
"Tapi kau kan tahu kalau hari ini upacara kelulusanku"
"Mengertilah, Sakura. Ini demi kau juga"
Kata-kata itu lagi. Aku tak bisa membantah bila dia sudah berkata seperti itu. Akhirnya aku hanya pasrah. Dan kalian tahu? Bukan hanya Sasuke-kun yang tidak datang, bahkan Ayahku pun tidak ada. Tapi beruntung, Bibi Mikoto datang dan bersama Itachi-nii?
"Selamat Sakura-chan untuk kelulusannya" kata Itachi-nii, sedangkan Bibi Mikoto sudah memelukku.
"Terima kasih nenek, Itachi-Ni" Kataku.
"Lho, dimana Sasuke?" tanya Itachi-nii. Sedangkan Bibi Mikoto sedang berbicara dengan Ino.
"Katanya dia ada meeting penting, jadi tidak bisa datang" kataku
"Oh, begitu" jawab Itachi-nii. Lagi-lagi aku melihat ekspresi itu.
"Ada apa Itachi-nii?" tanyaku penasaran. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu. Tapi dia butru-buru menggeleng.
"Tidak ada apa-apa, Sakura-chan"
Itachi-nii bilang tidak ada apa-apa tapi aku tahu dia berbohong. Apa yang dia disembunyikan?
"Lho, Saku-chan. Dimana Sasuke?" tanya Mrs Mikoto.
"Sasuke ada meeting, Kaasan" jawab Itachi-nii.
"Meeting? Lebih dari upacara kelulusan calon istrinya?"
"Ini rapat dengan Sabaku Corp Kaa-san, jangan salahkan Sasuke, dia pasti sebenarnya ingin datang. Benarkan, Sakura-chan?"
"Benar Bibi, aku tidak apa-apa kok. Lagipula tadi pagi Sasuke-kun sudah bilang dan katanya ini juga untuk masa depan kami" kataku sambil malu-mau. Aku merasa wajahku menghangat.
"Saku-chan, ku benar-benar gadis yang baik" Bibi Mikoto memelukku lagi, dan lagi-lagi ekspresi Itachi-nii berubah. Dia seperti menahan kesal.
Aahhh.. bosan sekali.
Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Sudah 3 hari berlalu sejak Upacara kelulusan, dan Ino sudah terbang ke Paris bersama Sai. Ayahku sendiri sedang keluar kota untuk jangka waktu yang tak kuketahui. Dan Sasuke-kun..
Dia belum memberi kabar lagi padaku. Sejak pagi sebelum upacara kelulusan, dia belum memberi kabar padaku. Padahal aku sudah SMS, telepon bahkan mengirim email. Tapi tetap tak ada kabar.
Tiba-tiba saja ide itu muncul. Dengan cepat aku mencari namanya di kontak ponselku. Kurapatkan ponsel ketelingaku dan terdengar nada tunggu lalu..
"Bibi, dapat Saku ke sana?" tanyaku to the point.
Setelah mendengar jawaban pertanyaanku, buru-buru kuganti pakaian dan bergegas keluar rumah. Perjalanan tidak memakan waktu lama dan kini, disinilah aku.
Dikediaman Uchiha
"Saku-chan, selamat datang" sambut Bibi Mikoto.
Kediaman Uchiha, disinilah aku.
Aku memang cukup akrab dengan Bibi Mikoto. Dia seperti ibu bagiku yang memang sudah tak punya Ibu. Dia lembut dan mengerti aku. Sifatnya sama seperti Itachi-nii. Mungkin bila Itachi-nii mewarisi sifat Bibi Mikoto, maka Sasuke-kun mewarisi sifat Paman Fugaku.
Sasuke-kun, sedang apa ya? Pasti sedang memimpin rapat. Aku jadi ingin lihat kalau Sasuke-kun memimpin rapat. Dia pasti sangat berkharisma. Tampan, muda, dan pintar, beruntungnya aku.
"Saku-chan, betis Teman nenek?" Mrs Tanya Mikoto.
Aku berjalan berdampingan dengan Bibi Mikoto kekamar Sasuke-kun. Aku yang baru pertama kali masuk kamar ini, hanya bisa takjub melihatnya. Kamar ini, benar-benar mewakili Sasuke-kun. Dominasi warna dark blue, interior dan perabotnya benar-benar membuatku merasa sedang bersama sang pemilik kamar.
"Kau pasti merasa kan, Saku-chan?" Tanya Bibi Mikoto sambil membimbingku duduk disofa.
"Hm, aku merasa bersama Sasuke-kun" kataku.
"Kamar ini memang Sasuke yang mendesainnya. Semuanya dia yang memilih. Sampai warna cat dan perabotnya"
Pantas saja. Ternyata ini benar-benar dunia Sasuke-kun. Dapat kurasakan hawa Sasuke-kun disini.
"Bibi tahu kau pasti rindu pada Sasuke, jadi untuk mala mini menginaplah disini, Saku-chan. Bibi sudah izin dengan ayahmu" kata Bibi Mikoto.
"Tapi Bibi, apa tidak apa aku disini? Kalau Sasuke-kun tahu, nanti dia marah" terbersit rasa khawatir, jangan-jangan nanti Sasuke-kun marah aku masuk ke privacy nya.
"Tenang saja, Sasuke pasti tidak akan marah. Lagipula kau itu kan tunangannya. Apa salahnya tidur dikamarnya"
"TAPI ..."
"Tidak apa-apa, percaya pada Bibi"
"Baiklah, aku menginap"
Bibi Mikoto menggenggam tanganku, menyalurkan rasa hangat seorang ibu padaku. Pandangan matanya sama seperti Ibuku. Senyum dan kehangatannya pun sama.
"Bi, tak apa kan kalau Bibi aku anggap Ibuku?" tanyaku.
"Anak bodoh, tentu saja"
Bibi Mikoto memelukku sayang. Tangannya membelai rambutku. Hangat dan nyaman, itu yang kurasakan.
'Ibu, tak apakan kalau aku menyayangi Bibi Mikoto seperti aku menyayangimu?'
Aku menghempaskan tubuhkku keatas tempat tidur di kamar Sasuke-kun. Tempat tidur ini pun beraroma Sasuke-kun. Benar-benar membuatku merindukan sang pemilik kamar. Walaupun sifatnya dingin dan tak banyak bicara, tapi aku yakin dia pasti menyayangiku. Buktinya dia mau cepat-cepat menikah denganku.
Tapi hari ini pun dia tak memberi kabar. Padahal tadi siang sudah kubilang kalau hari ini aku kerumahnya. Dia cuek sekali. Jangan-jangan…
"Pantas saja, handphonenya lowbat!" seruku sambil menepuk jidatku.
'Aku tidak bawa charger, bodohnya aku bahkan powerbank pun ketinggalan. Mungkin Sasuke-kun punya' pikirku. Segera aku mencari-cari dilaci disamping tempat tidur.
"Syukurlah, ternyata ada" aku mengambil charger tapi ada sesuatu yang membuatku tertarik. Aku mengambil benda itu dan ternyata seperti dugaanku. Album foto SMA Sasuke-kun. Kembali kumerebahkan diriku sambil melihat-lihat album itu.
Ternyata dari dulu Sasuke-kun memang irit senyum. Difoto-foto ini saja Sasuke-kun tidak seperti teman-temannya yang lain. Mereka semua tersenyum lebar, bahkan yang berambut kuning jarik ini selalu memamerkan giginya. Sepertinya dia sahabat Sasuke-kun, terlihat banyak foto Sasuke-kun bersamanya. Kenapa Sasuke-kun tidak pernah cerita?
Foto-foto yang lain hampir semua sama. Seperti layaknya anak SMA, aku terus membalik halaman-halaman selanjutnya. Sepertinya sudah habis, sudah kosong semua.
Aku baru akan menaruh album itu kembali ke laci ketika tanpa sengaja satu foto jatuh. Jantungku seperti berhenti berdetak selama beberapa saat dan setelah itu langsung memburu. Aku memungut foto itu. Hanya foto biasa dan hanya selembar. Keistimewaannya adalah object di foto itu. Sasuke-kun. Tertawa.
Bukan tersenyum tipis. Tapi tertawa. Tampak jelas kebahagian diwajahnya dan object wajah bahagia lainnya adalah seorang gadis. Rambutnya merah muda tapi berbeda dari rambutku. Pink nya lebih gelap dari Pink mudaku.
Difoto itu mereka terlihat sangat bahagia. Sepertinya itu dikelas, karena banyak terlihat teman-teman Sasuke-kun yang lain dan mereka berseragam. Aku membalik foto itu dan terdapat tulisan.
'Love, selalu dan selamanya, Shion'
Tulisan itu, tulisan Sasuke-kun. Barisan kata cinta itu tercipta dari rangkaian tulisan Sasuke-kun. Aku tak mungkin salah mengenalinya, sudah sering aku melihat tulisannya. Tulisan ramping dan rapinya. Aku kembali mencari yang lainnya. Foto atau barang apapun yang bisa mengungkapkan gadis yang ku tahu bernama Shion itu.
Dan kin dihadapanku, lebih dari 20 foto. Dan object semua foto itu sebagian besar adalah gadis itu. Walau beberapa ada Sasuke-kun juga. Berbagai pose dan ekspresi. Terlihat jelas kalau mereka saling mencintai. Tapi kemana gadis itu sekarang?
Tidak bisa! aku tidak bisa berpikiran kalau Sasuke-kun masih menjalin hubungan dengan Shion. Mereka pasti sudah putus, makanya Sasuke-kun ingin menikahiku. Lagipula selama ini Sasuke-kun juga selalu bersamaku.
Mungkin Itachi-nii tahu tentang Shion. Apa aku tanyakan saja ya? Tapi Sasuke-kun pasti akan berpikir aku terlalu mau tahu masa lalunya. Nanti Sasuke-kun marah. Mungkin lebih baik aku diam saja dan pura-pura tidak tahu. Lagipula Sasuke-kun akan segera menikah denganku, dan setelah itu Sasuke-kun akan sepenuhnya milikku. Mengungkit masa lalu ini tidak baik.
Aku berusaha berpikir positif walaupun dalam hati masih ada rasa penasaran. Tapi selama semuanya baik-baik saja, lebih baik aku diam. Cepat atau lambat aku pasti akan tahu. Sasuke-kun pasti akan menceritakannya bila saatna sudah tepat.
Ah, mungkin juga ini adalah tes untuk kami. Kata orang, semakin dekat dengan hari pernikahan, maka semakkin banyak ujiannya. Ada saja halangannya. Mungkin saat ini aku yang sedang diuji. Dan mungkin nanti akan serat, Sasuke-kun yang diuji. Tapi apapun ujiannya, aku yakin aku dan Sasuke-kun pasti bisa melewatinya.
Dengan menanamkan keyakinan itu, aku kembali merebahkan tubuhku di tempat tidur Sasuke-kun. Ingin aku mendengar suaranya sebelum tidur, tapi aku takut mengganggunya. Sekarang sudah hampir tengah malam. Mungkin besok pagi saja.
Aku menatap foto Sasuke-kun yang tadi kuambil dari album. Sasuke-kun saat masih SMA. Potongan rambutnya tetap aneh seperti sekarang. Tapi ketampanannya benar-benar berbeda dari sekarang. Kapan lagi aku punya foto seperti ini? Dan tak berapa lama aku tertidur sambil tetap memegang foto Sasuke-kun.
Minna ga ... Gomen lama update ...
Udah lama masih pendek lagi .. Please jangan benci Nura ..
Gara-gara lappy rusak jadi males update chapter.. ini chap sebenernya udah lama dibuat tapi ya itu..
Lappy nya baru on lagi ni.. Untung aja gak sampe kena hard disknya.. jadi selamet dah fic nya..
Nura mau upload fic baru, tapi ngeri lama update juga..
Pokoknya gomen ya buat update nya..
Diusahain buat selanjutnya ga bakal ngaret lagi...
Karpet GAK Janji ya ... (mata anjing pada mode)
Gomen buat typo nya yang bertebaran disini.. Typo gak mau Nura putusin nih..
Buat semua yang follow, favorit n review,, Nura ucapin ARIGATOU...
Pasti bakal dibalas Review nya..
Yosh.. terakhiiiiiirrrr tetep minta Review n Saran ya.. .Please jangan flame.. Ini hati belum kuat..
Arigatou n SEE U BAB BERIKUTNYA ... JAA
