"Chami benci Yuno hyung!" seru namja kecil itu dengan keras. Sambil menggunakan kaki-kaki mungilnya, Changmin berlari meninggalkan Yunho dan masuk ke dalam kamarnya.
Meninggalkan Yunho yang menatap tak mengerti akan tingkah adiknya itu.
.
.
.
Even though the world will against us..
Even though this love is forbidden..
As long as you love me,
I'll fight for you..
My precious one.
.
.
.
Author Ela-ShimSparCloud presents
An Alternate Universe fanfiction
"My Hyung" ch 4
Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)
Rate : T
Length : 4 of ?
Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK
Warn : TYPO's! , semi-incest! , Chibi!Min
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
Yunho langsung berlari menghampiri Ummanya yang terlihat berada di dapur.
"Umma, kenapa Chami marah padaku?"
Seohyun yang tengah membuat adonan kue berhenti sejenak dari kegiatannya dan menghela nafas.
"Tadi di rumah, appamu akhirnya berangkat telat karena Minnie masih terus menangis. Appamu terus menggendong dan berusaha menenangkan Minnie. Sampai tadi jam sepuluh akhirnya Minnie ketiduran karena lelah menangis. Baru setelah itu appamu bisa berangkat kerja." terang Seohyun. "Dan begitu bangun tadi, Umma tak tahu, tapi Minnie sudah diam dan tak menanyakanmu lagi. Kurasa ia sebal karena tadi kau pergi dengan temanmu Heechul itu." Seohyun menghela nafasnya sambil sedikit tersenyum."Kau tahu betapa possessivenya dongsaengmu itu kan?"
Hati Yunho mencelos mendengar penjelasan Ummanya. Jadi, setelah pulang, di rumah Chami masih terus menangis selama dua jam, baru tertidur. Kali ini rasanya tak akan semudah biasanya untuk meluluhkan amarah dongsaengnya itu.
Yup, tapi sekarang ia harus mempersiapkan segala sesuatunya
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
Yunho langsung mengganti bajunya, dan ia mulai mempersiapkan apa-apa saja yang bisa membuat dongsaengnya itu luluh.
Yang pertama jelas, mainan mobil balap miliknya yang besar dan menggunakan remote control. Berkali-kali Chami meminta mobil ini darinya, tapi tidak ia berikan. Dan sekarang ini, saatnya ia gunakan semua miliknya yang bisa membuat Chami luluh padanya.
Yang kedua, jelas PSP canggih miliknya. PSP yang memang lebih canggih dari milik dongsaengnya ini ia dapat sebagai hadiah kelulusan elementary school. Dan menggunakan PSP ini, ia selalu bisa mengalahkan Chami segesit apapun bocah itu bermain game (Ya, Yunho mengakui kalau ia sebenarnya sering kalah bermain PSP dengan Chami, karena bocah itu memang termasuk pandai). Pasti ini bisa membuat Chami tak marah lagi padanya.
Yang ketiga adalah... makanan. Kalau soal ini ia tak bisa berbuat banyak, dan hanya bisa berharap pada Ummanya. Tapi setidaknya ia tahu, kalau bertemu dengan makanan apapun juga, dongsaengnya itu pasti akan kehilangan perasaan untuk marah.
Dan yang terakhir adalah... yah, itu masih rahasia.
Yunho menenteng PSP, mobil balap, dan barang terakhir ke depan kamar Chami. Ia letakkan tiga benda itu di depan pintu, dan berlari cepat ke dapur untuk mencari makanan enak.
Es krim dan puding coklat.
Yunho bersorak dalam hati melihat dua dessert kesukaan Chami itu ada di dalam kulkas. Langsung ia ambil dua makanan itu, dan kembali berlari cepat menuju depan kamar adiknya.
Ia rogoh kantung celananya dan mengambil kunci duplikat kamar adiknya, dan membuka pintu begitu saja.
.
..
...
Bugh!
Beruntung Yunho sudah bersiap dan langsung kembali menutup pintu tepat saat sebuah bantal di lemparkan ke arahnya. Membuatnya bisa lepas dari pillow attack dari dongsaengnya.
"Untuk apa hyung kecini?! Kelual! Chami tak mau liat Yuno hyung!" seru namdongsaengnya itu dari dalam kamar.
Yunho diam tak menjawab karena ia tahu kalau semakin di jawab, semakin marah pula adiknya itu. Jadi ia memilih diam dan menunggu beberapa saat.
Setelah agak tenang, Yunho meraih mobil balapnya, dan kembali membuka pintu. Namun bukan wajahnya yang ia perlihatkan ke dalam, tapi mobil balapnya itu. Ia dorong mobil balapnya masuk ke kamar Changmin sepenuhnya.
"Hyung akan beri mobil ini ke Chami kalau Chami tak marah lagi pada hyung."
.
..
...
Sunyi.
Tak ada jawaban dari dalam. Yunho sudah akan berniat—
"Chami benci Yuno hyuunggg!"
Dan sebuah teriakan membuatnya menghentikan niatnya untuk masuk ke kamar dongsaengnya itu.
"Haaahh.." Yunho menghela nafas melihat kalau ternyata mobil balapnya itu belum cukup. Sepertinya kali ini ia benar-benar membuat dongsaengnya itu marah besar. Benar-benar marah besar.
Kini ambil PSP terbarunya itu, dan kembali melakukan hal yang sama. Membuka pintu kamar dongsaengnya, dan memasukkan PSP canggihnya ke dalam kamar Changmin.
"Chami mau PSP milik hyung ini kan? Hyung beri buat Chami, tapi Chami jangan marah lagi pada Hyung, ne?" bujuk Yunho dari luar.
.
..
...
Masih sunyi.
Yunho mencoba menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan suara-suara di dalam kamar, dan senyumnya sedikit mengembang saat mendengar langkah-langkah kaki kecil adiknya itu mendekat ke pintu.
Kalau Changmin sudah mengambil mainan yang ia tawarkan, itu berarti dongsaengnya itu sudah tak mara—
BRAK!
Tubuh Yunho terlonjak ke belakang dan ia langsung memegang telinganya yang berdenging nyaring. Ia menatap tak percaya pada pintu yang masih tertutup di depannya, dan akhirnya ia sadar kalau dongsaengnya itu memukul pintu kamarnya sendiri! Howaaahhhh...
Satu hal yang pasti, Changmin belum memaafkan dirinya.
Susah sekali kali ini ia membujuk adiknya itu. Biasanya kalau Chami marah, ia hanya cukup membujuk dengan kata-kata, atau paling parah memberikan satu benda miliknya saja untuk sang dongsaeng, dan voila, semua sudah selesai. Tapi kali ini bahkan Mobil balap dan PSPnya sudah melayang, tapi Chami belum memaafkannya.
Yunho menatap dua dessert kesukaan Chami, dan ia benar-benar berharap makanan itu bisa menenangkan dongsaengnya. Ini kesempatan terakhirnya, sebelum ia harus menggunakan senjata terakhirnya.
"Chami, maafkan hyung, ne?" bujuk Yunho sambil kembali membuka pintu kamar dongsaengnya dan memasukkan es krim dan puding coklat ke dalam kamar dongsaengnya. "Ini hyung berikan Es krim dan puding kesukaan Chami~ . Chami jangan marah lagi pada hyung, ne? Hyung sayang Chami, dan hyung sedih kalau Chami marah pada hyung."
.
..
...
Sunyi.
Kali ini tak ada suara apapun.
Benar-benar sunyi.
"Yuno hyung tak cayang lagi cama Chami.. hiks.. Chami benci Yuno hyung...hiks... hiks... huwweeeee... TT^TT"
Mendengar tangis adiknya, Yunho langsung membuka lebar pintu kamar dongsaengnya dan menemukan Chami terduduk di lantai dan menangis.
Kedua mata Yunho membulat kaget, dan langsung saja Yunho meraih tubuh kecil adiknya itu. Memeluknya erat.
"Chami benci Yuno hyung! hiks... Chami benci hyung!" Namja kecil itu memukul-mukul dada hyungnya dengan tangan mungilnya. Melampiaskan semua perasaan sakit dan sedihnya saat hyungnya meninggalkannya dan pergi dengan temannya.
Di dunia ini, orang yang paling ia sayangi dan yang berada sebagai nomor satu untuknya adalah hyungnya. Baru kemudian Umma dan Appa. Tapi... tapi hyungnya tak lagi sayang padanya..
"Sushhh... Mana mungkin hyung tak sayang lagi pada Chami. Kalau hyung tak sayang lagi pada Chami, hyung tak akan membeli ini—" Yunho melepaskan tubuh mungil dongsaengnya, dan keluar untuk mengambil benda terakhir yang ia siapkan."—untukmu Chami. Hyung menyimpan uang saku hyung dan baru beberapa waktu lalu bisa membeli ini satu."
(O.O!)
Kedua bambi eyes milik Chami membulat tak percaya saat melihat barang yang di bawa hyungnya itu. Saking kagetnya, air mata yang tadi mengalir jadi berhenti seketika.
"H-hyung.." Chami menatap hyungnya dengan tatapan tak percaya.
"Ne. Itu untuk Chami. Baru beberapa waktu tabungan hyung cukup, dan hyung langsung membelinya untukmu."
Kedua tangan mungil Chami terulur untuk menyentuh benda itu. Agak gemetar dan penuh keragu-raguan. Yunho tertawa kecil melihat tingkah lucu adiknya itu.
Dan saat tangannya bisa menyentuh kotak luarnya, kedua bambi eyes itu langsung terlihat berbinar-binar.
"LEGOOOO! Stal wals legoooooo!" seru Changmin kegirangan sambil kedua tangan mungilnya langsung memeluk erat kardus mainan lego bergambar pesawat luar angkasa dalam film Star Wars.
Yunho menghembuskan nafas lega melihat senyum kembali menghiasi wajah manis dongsaeng kesayangannnya itu. Sebenarnya ia berniat memberikan lego mahal itu saat ulang tahun adiknya itu. Tapi bagaimana lagi, kali ini ia memang merasa sangat bersalah karena tadi membuat Chami menangis meraung-raung. Jadi tak apa jika ia memberikan lego itu sekarang.
Yang penting Chami-nya kembali tersenyum.
"Yuno hyuungggg!"
"Apa—upph!"
Brukk!
Yunho merasakan punggungnya memprotes keras karena membentur lantai dengan keras. Bagaimana itu tidak terjadi kalau dengan tiba-tiba Changmin menerjang dan memeluk lehernya. Membuatnya yang tidak siap jadi kehilangan keseimbangan, dan terdorong jatuh ke arah belakang.
"Yuno hyung gomawooo~!" seru bocah yang masih berada di atas tubuhnya itu dengan penuh semangat.
Cupp~!
(O.O!)
Kedua mata Yunho melebar tak percaya saat melihat dongsaengnya itu mendekatkan wajah ke arahnya... dan menciumnya di bibir!
"Gomawo Yuno hyung~ " ucap Changmin saat ia selesai menempelkan bibir poutynya ke bibir Yunho. Namja kecil itu tersenyum penuh kebahagiaan hingga missmatch eyesnya terlihat, ...
.
..
...
... dan membuat pikiran Yunho langsung blank dengan tiba-tiba.
"Nah, Chami cekalang mau main leg—huwaaa!"
Namja kecil itu berteriak kaget saat merasakan tubuhnya diputar secara tiba-tiba. Ia menatap ke segala arah dengan bingung, dan menemukan wajah hyungnya kini berada di atasnya. Begitu dekat.
"Chami.."
Bocah yang masih berusia lima tahun itu mengerjapkan kedua matanya dengan imut saat merasakan tangan hyungnya kini menelusuri bibir bawahnya.
"Hyung..?" panggil Chami bingung, dan bocah kecil itu langsung terdiam saat ibu jari hyungnya yang menelusuri bibirnya itu terselip masuk ke dalam mulutnya yang terbuka.
Secara refleks namja kecil itu menjilat dan mengemut jari hyungnya.
"Nghhh... Chami..."
Namja yang baru saja memasuki Junior High School itu tanpa sadar mengerang saat merasakan lidah Chami yang hangat, lembut dan basah itu menyapu jarinya. Dan saat merasakan hisapan dari mulut kecil itu, Yunho memasukkan jarinya semakin ke dalam untuk mendapatkan sensasi menggelitik itu lebih banyak lagi.
Changmin, bocah kecil yang tak tahu apa-apa itu hanya meneruskan saja menghisap jadi hyungnya. Karena rasanya tidak terlalu aneh, dan itu adalah jari milik hyungnya, jadi ia diam saja dan meneruskan untuk mengulum dan menghisap jempol tangan hyungnya.
Nafas Yunho mulai memberat melihat Chami yang menghisap jarinya dengan antusias itu. Irama nafasnya jadi tak beraturan, dan kepalanya kini terasa ringan, dengan pikiran yang sudah benar-benar berkabut.
Satu tangannya yang lain ia larikan ke pipi chubby adiknya yang kenyal dan lembut itu.
"Hhung..?" panggil Chami agak tak jelas karena masih ada jari Yunho di dalam mulutnya.
Yunho refleks menutup kedua matanya saat merasakan getaran di dalam mulut Chami tersalurkan ke ujung jempolnya yang kini terasa sensitif itu. Ia mengeluarkan erangan tanpa suara meresapi sensasi yang membuatnya menginginkan lebih itu.
Menunduk, Yunho akhirnya kembali membuka mata dan menatap Chami yang kini terbaring pasrah di bawah tubuhnya. Sepasang bibir pouty itu melingkari pangkal jempolnya, dan—
"Hmpphh..!"
Yunho menarik lepas jarinya dengan cepat, dan langsung mencium bibir Chami dengan beringas. Tak seperti saat pertama kali ia menyentuh bibir itu dengan penuh kelembutan, kali ini Yunho langsung meraup bibir itu penuh rasa lapar. Lapar yang memerlukan pemuasan.
Kedua tangan Yunho menahan kepala Chami agar berada di tempat, dan ia menelengkan kepalanya untuk bisa mulai memagut bibir dongsaengnya. Tak lagi memiliki kendali diri, Yunho mulai memagut bibir pouty Changmin dengan rakus. Terlalu lapar, seolah ia benar-benar memakan bibir dongsaengnya itu.
"Ng-nghh... hyungg... hahh..."
Yunho menghentikan sejenak kegiatannya, dan menatap Changmin yang kini sibuk menarik nafas dengan hidung dan dada yang kembang-kempis, juga dengan mulut yang agak terbuka.
Nafsu menyelubungi Yunho dan kedua matanya menggelap melihat pemandangan di bawah tubuhnya. Tanpa ba bi bu lagi, Yunho kembali meraup bibir Changmin, dan langsung menyelipkan lidahnya ke dalam goa hangat Changmin yang membuatnya gila semenjak tadi.
Yunho mengerang tertahan saat merasakan sensasi menyenangkan saat lidahnya mulai memasuki rongga hangat milik adiknya itu.
Seperti orang yang tengah kesetanan dan hilang akal, Yunho mulai melarikan lidahnya menyusuri langit-langit mulut dongsaengnya. Menjilat setiap bagian dari langit-langit mulut dongsaengnya yang terasa mengglitik itu.
"Nghhh... hyunghh..."
Bagai api di beri minyak, desahan yang keluar dari bibir adiknya itu membuatnya makin semangat menelusuri setiap inchi goa hangat itu. Bertukar saliva dan terus menjilati setiap sudut-sudutnya. Kedua tangannya yang tadinya menangkup kedua pipi Chami kini berpindah ke belakang kepala adiknya itu, dan menahan agar kepala dongsaengnya itu tak bergerak kesana-kemari sementara ia menikmati bibir dan mulut sang adik.
Sekali ia melepas tautan bibir mereka, dan hanya sejenak ia membiarkan Chami menarik nafas. Kembali ia pagut bibir itu dengan intensitas yang semakin menggila. Ia mencium, mengemut dan memangut bibir Changmin, dan semakin tenggelam dalam pusaran kenikmatan yang membuat benaknya tak bisa berfikir logis.
.
..
...
Bruk!
Tubuh Yunho terlonjak seketika mendengar suara itu. Ia langsung berdiri dan menjauh dari tubuh Changmin, dan menatap nyalang ke sekeliling kamar untuk mencari asal suara itu.
Jantungnya kembali tenang saat melihat kalau suara itu hanya berasal dari kardus lego yang tertendang jatuh oleh kakinya saja. Setidaknya, itu bukan berasal dari seseorang yang melihat ia mencium rakus bibir adiknya sendiri...
.
..
...
A-apa yang baru saja ia lakukan tadi?!
Kedua mata beruang Yunho membulat tak percaya saat ia menyadari kalau barusan tadi, ia sudah mencium bibir adiknya sendiri dengan ganas. Perasaan panik mulai menguasai hati Yunho, dan dengan penuh keraguan ia melirik ke arah adiknya yang masih terbaring pasrah.
Yunho menutup mulutnya tak percaya, sekaligus mencegah dirinya sendiri untuk tidak berteriak panik karena dirinya sudah mencium Changmin. Adiknya sendiri.
"H-hyung.."
Degg!
Jantung Yunho berdebar penuh ketakutan mendengar Changmin memanggil namanya.
Apakah adiknya itu akan marah padanya?
Atau yang lebih parah, apakah adiknya itu akan jadi jijik padanya?
Tidak...
Tidak... tidak...
Ia tidak akan bisa menerima kalau sampai Changmin jadi jijik dan menjauhi dirinya. Baginya Changmin adalah hidupnya, adik kesayangannya, dan ia tak akan bisa bertahan jika tahu kalau adiknya itu jijik padanya.
"Hyung.."
Yunho menelan ludahnya dengan susah payah, dan memaksakan dirinya untuk membalas panggilan adiknya. "N-ne Chami. W-wae?"
"Hyung—"
.
.
.
.
~TBC~
...
Oh My GOD!
Apa yang sudah aku lakukan?! #jambak rambut frustasi
Chamiiiiii, maafkan noona yang sudah menistakanmu di usiamu yang baru lima tahun itu!
Tolong salahkan hyungmu sendiri yang benar-benar mesum dan membuat noona harus menistakanmu di sini ::::
Oh, annyeong para readerku~
Long time no see, rite?
Author minta maaf, cz beberapa waktu lalu kelopak mata kiri author dapet cipokan mesra dari tomcat, jadi author gak bisa ngetik cz LeppyChan di sita T^T
Tapi karena sudah sembuh, author usahain buat bisa apdet lebih cepet, Ok?
Dan soal lego itu, author masukkin cz author habisnnton TVXQ! King's Brunch, dan disitu Changmin keliatan kayak Chami kecil~! Imuuttt bangettt~! Kyaaaaa~! #fangirling mode
Nah, seperti biasa author kasi ending yang nggantung, jadi kalo masi penasaran, ayo tinggalkan pesan d kotak review biar author semangat ngetik, Ok?
Salam, HoMin Shipper—Minoritas yang sanggup mengguncang Mayoritas.
