Ohayō, kon'nichiwa, konbanwa!
Hiruma : *lirik kanan kiri* Kekekekeke… Bocah sialan dan spike sialan itu sedang pergi rupanya. Kesempatan! Kekekekeke…
Lan : Siapa bilang kami pergi? Kami sudah pulang. *bareng Yuuma sambil pegang kantung belanjaan*
Hiruma : Kekekekeke… Sudah pulang, ya? Cepat sekali.
Lan : Lagi-lagi Hiruma-san. Mau numpang eksis lagi, ya?
Hiruma : Itu kamu tahu. *senyum pamer gigi hiu*
Yuuma : Lan, itu orang aneh yang kemarin, 'kan?
Lan : Tenang saja Yuuma-kun. Biar kuatasi. *bisik ke Yuuma* Wah, sayang sekali Hiruma-san. Tadi aku dan Yuuma-kun bertemu dengan Mamori-nee, dia bilang dia kangen hampir mati sama Hiruma-san.
Hiruma : Benarkah dia bilang begitu? *Lan mengangguk* Baiklah, kalau kau bilang begitu, bocah sialan. *bersiap-siap*
Lan : Mau kemana? *jilat es krim*
Hiruma : Kekekekeke… Tentu saja bertemu dengan manager sialan itu. Dia lebih penting daripada numpang eksis di sini. Bye! *pergi, Lan lambai-lambai saputangan*
Yuuma : Dia sudah pergi. Apa tidak apa-apa, Lan?
Lan : Biarkan saja, lagipula Mamori-nee sendiri yang tadi ngomong seperti itu. Hari ini bantu aku lagi, ya, Yuuma-kun.
Yuuma : Baiklah. Pertama kami ingin membalas review dari kalian dulu. *sambil jilat es krim pemberian Lan*
Balasan Review!
-RisaLoveHiru-
He, suka dengan adegan romance, ya? Makasih, Lan senang mendengarnya.
Mungkin saja begitu. Sebenarnya Yuuma cuma kesal saja karena Mamori tidak mencoba memberitahukan yang sebenarnya padanya. Di chap ini Yuuma akan mendapat jawaban dari pertanyaannya.
Makasih, ini udah di updet biar Risa tidak gregetan lagi. Selamat membaca!^^'
-chibyEydisaa21-
Makasih dan makasih lagi karena sudah di fav. Tentu saja boleh. Eh, tersentuh, ya? Makasih.
Yupz! Yuuma cakep kalau tersenyum! *Yuuma malu di puji* Ini udah di updet dan selamat membaca!^^'
-Ririn Cros-
Yupz! Updet kilat seperti kata Maharu. Senang, ya? Tapi kali ini updetnya telat. Makasih. Tentang Yuuma 'kan memang harus diberitahukan biar jelas siapa sebenarnya dia. Yuuma memang baik.
Lan : Yuuma-kun, kamu dipuji sama Ririn. Dia bilang kamu beda dengan Hiruma-san.
Yuuma : Benarkah? Terima kasih Ririn!^^' *senyum ke Ririn*
Ya, Mamori memang sedikit tega tetapi itu karena dia tak sengaja saja. Ini updetnya dan selamat membaca. Salamnya akan disampaikan sama Yuuma!^^'
-Avy-kurohime-
Ya, salam kenal. Tidak apa-apa kalau telat. Baiklah, akan Lan usahakan sempat.
Tidak apa-apa. Makasih, ini updetnya dan selamat membaca!^^'
-Maharu P Natsuzawa-ugly doll-
Yupz! Ini updet kilat lagi, tapi rasanya kali ini telat. Yuuma bikin deg-degan, ya? Iya, Mamori belum terbiasa melihat Yuuma yang fisiknya sangat mirip dengan Hiruma.
Akan diusahakan untuk updet kilat. Di fav? Makasih banget! *sorak sorai bareng Yuuma* Ini updetnya dan selamat membaca!^^'
-Asako Karasuma-
He, maaf kalau Asa-chan merasa seperti itu. Itu memang sudah kakak pikirkan, baca saja di chap ini. Eh, histeris karena bayangin Yuuma, ya?
Lan : Yuuma-kun, Asa-chan muji kamu tuh.
Yuuma : Mana? *baca review* Eh, makasih Asa-chan. *malu, lalu senyum manis untuk Asa-chan*
Ini updetnya dan selamat membaca!^^'
-Chrystha McDohl Suikogirl-
Selamat datang! Yupz, begitulah.
Yuuma : *baca review* Makasih! *mau peluk Chrystha, tapi ditahan Lan*
Lan : Durasi, durasi. Durasi Yuuma-kun. *tunjuk jam tangan*
Ini udah di updet dan selamat membaca!^^'
-Kinichairuudou Akari-chan-
Uji? Uji apaan aja?
Lan : Yuuma-kun, ini ada pertanyaan dari Akari-chan *benar tidak itu panggilannya* *tunjukin review*
Yuuma : Apa itu Lan? *baca review* Hehehe… Memangnya untuk apa Akari-chan?
Ini udah di updet dan selamat membaca?^^'
-Rukawa-Alisa-Chan-
Tidak apa-apa Alisa-chan. Makasih. Hie, memangnya ketularan siapa?
Ini udah di updet dan selamat membaca!^^'
Lan : Baiklah, review sudah dibalas semua.
Yuuma : Benar dan sekarang sudah waktunya.
Lan dan Yuuma : Kami mengucapkan selamat membaca!^^'
Eyeshield 21 : Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata
(Bukan punya Lan)
Rate : T
Genre : Romance
Pairing: Y. H(?) & Mamori Anezaki
You Return?
Neary Lan
Chapter 4: Equations with The Devil
Orang bilang setiap manusia sedikitnya memiliki tujuh kembaran
Meski begitu bukan berarti mereka memiliki persamaan
Sama halnya dengan utusan Tuhan yang dikirimkan padaku ini
Yuuma sedang berjalan-jalan disekitar sekolah. Seperti hari-hari sebelumnya semua pandangan murid dan guru di sekolah ini pasti tidak pernah lepas darinya. Mereka memandang Yuuma dengan wajah bingung dan juga takut. Bahkan ada yang baru saja melihatnya sekilas langsung ambil langkah seribu menjauhi pemuda yang mirip dengan Setan Deimon yang terkenal itu, Youichi Hiruma.
Meskipun harus mendapat tatapan aneh dari setiap penghuni sekolah, Yuuma tidak pernah ambil pusing dan menghiraukannya bahkan ia malah tersenyum pada mereka. Tentu saja senyumannya itu makin membuat semua orang berlari menjauh darinya. Yuuma hanya dapat menghela nafas. Menurutnya seseorang yang mirip itu bukan berarti segala tingkah lakunya akan sama dengan orang yang mirip tersebut. Tetapi sepertinya tidak ada yang berpikiran sama dengannya. Termasuk Mamori.
Yuuma memang sudah mengetahui alasan Mamori yang sampai sekarang tidak bisa melihat wajahnya meski hanya sedikit. Sosok Hiruma yang mirip dengannya itu alasannya. Entah kenapa Yuuma sangat penasaran dengan Hiruma. Ia ingin tahu seperti apa Hiruma dan seberapa miripkah ia dengan Hiruma. Mamori memang mengatakan alasan ia tak bisa melihat wajah Yuuma, tetapi gadis cantik itu tidak memberitahukan siapa Hiruma itu padanya.
Rasa penasaran yang kuat itu serasa membuat darahnya mendidih. Ia ingin bertanya pada Mamori tetapi hati kecilnya berbisik bahwa gadis itu tidak mungkin akan memberitahukannya begitu saja. Terlebih atas apa yang sudah dilakukannya pada gadis itu. Hal yang dilakukannya tanpa berpikir jernih.
"Huh, siapa sebenarnya Hiruma itu?" tanya Yuuma sambil berpikir.
-YH=MA-
Yuuma kembali ke kelas. Ketika memasuki kelas tak sengaja ia berselisih dengan Mamori. Langkah mereka berdua terhenti. Mereka bertatapan sesaat. Kemudian Yuuma mundur dan mempersilakan Mamori untuk masuk ke kelas terlebih dahulu. Mamori mengerti dan tanpa memandang Yuuma ia langsung masuk ke kelas. Yuuma berjalan dibelakangnya. Mereka menuju ke kursi masing-masing. Guru yang akan mengajar pelajaran selanjutnya telah memasuki kelas. Ini berarti saatnya semua murid memfokuskan diri lagi ke pelajaran yang akan mereka terima. Pelajaran matematika.
Selama pelajaran berlangsung, Yuuma sama sekali tidak memperhatikan pelajaran yang diterangkan. Ia tampak melamun. Pandangannya hanya lurus pada punggung seorang gadis. Matanya hanya sesekali berkedip. Ia tampak memikirkan sesuatu.
'Mamori… Apa sebenarnya hubunganmu dengan Hiruma itu? Kenapa kamu tidak mau mengatakan beberapa hal tentang dia padaku? Setidaknya aku bisa tahu walau sedikit. Kalau seperti ini aku hanya merasa menjadi bayang-bayang pengganggu yang tidak kamu inginkan.' Ujar Yuuma dalam hatinya sambil tetap memandang punggung Mamori.
Guru di depan telah selesai mejelaskan pelajarannya. Ia menuliskan beberapa soal di papan tulis. Semua murid yang melihat soal-soal tersebut hanya tegang dan berkeringat dingin. Bagaimana tidak? Soal-soal tersebut terlihat sulit untuk mereka kerjakan meskipun sudah dijelaskan panjang lebar oleh guru yang bersangkutan. Pak guru selesai menulis soal di papan tulis. Ia memperhatikan semua murid. Tampak sedang memilih-milih murid yang akan disuruhnya untuk mengerjakan soal dipapan tulis tersebut.
Semua murid langsung berkeringat dingin. Mereka semua menunduk, tidak berani menunjukkan wajah mereka. Mereka hanya berdoa agar diri mereka tidak terpilih. Pak guru mengetahui hal tersebut karena ia sudah biasa melihat hal seperti ini selama berpuluh-puluh tahun ia mengajar. Ada satu murid yang membuat Pak guru tertarik padanya. Murid tersebut disadarinya sejak tadi sama sekali tidak memperhatikan ketika ia sedang menjelaskan pelajarannya dan hanya melamun saja. Tanpa ragu-ragu Pak guru memanggil nama murid tersebut.
"Hizami, bisa kamu ke depan untuk mengerjakan soal dipapan tulis ini?" Tanya Pak guru dengan sedikit tersenyum.
Yuuma langsung tersadar dari lamunannya ketika namanya dipanggil Pak guru. Ia kaget sekali. Semua murid langsung menoleh ke arah Yuuma termasuk Mamori. Mereka merasa lega karena diri mereka tidak terpilih sebab yang ditunjuk Pak guru adalah si setan, eh, Yuuma.
"Sa, saya Pak?" Yuuma bertanya ragu.
"Iya, kamu. Ayo ke depan."
Yuuma pun bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan menuju papan tulis. Pak guru mempersilahkannya untuk mengerjakan salah satu dari soal tersebut. Yuuma tampak ragu melihat soal yang kelihatannya rumit itu. Ia merasa bersalah tidak memperhatikan ketika Pak guru sedang menjelaskan. Semua murid yang melihat Yuuma juga harap-harap cemas. Mereka bertanya-tanya apakah pemuda ini mampu mengerjakan soal rumit tersebut. Mamori juga memperhatikannya.
Tanpa berpikir panjang lagi Yuuma langsung mengerjakan soal tersebut. Dengan mudahnya ia memasukkan rumus matematika yang entah darimana ia tahu. Mudah sekali kelihatannya ia mengerjakan sampai seluruh murid yang melihatnya menatap tidak percaya. Hanya dalam tiga menit lebih sedikit Yuuma telah menyelesaikan soal tersebut. Ia menghela nafas lega melihat pekerjaannya. Pak guru memperhatikan hasil pekerjaan Yuuma. Ia menoleh ke pemuda spike itu dan tersenyum puas.
"Bagus Hizami. Hasil dari pekerjaanmu benar. Bapak salut padamu," puji Pak guru sambil menepuk pundak Yuuma.
"Terima kasih, Pak." Yuuma tersenyum kecil.
"Bapak tidak percaya kamu bisa mengerjakannya, padahal sejak tadi bapak lihat kamu sedang melamun." Yuuma terdiam, ia menundukkan wajahnya. Merasa malu dan bersalah. "Jangan ulangi lagi hal seperti itu, ya. Sekarang kembali ke tempat dudukmu."
"Baik, Pak. Terima kasih." Yuuma berjalan kembali ke tempat duduknya.
Semua memandang ke arah pemuda spike hitam ini. Mereka merasa kagum melihat kemampuannya. Padahal sejak tadi ia sama sekali tidak memperhatikan penjelasan Pak guru tetapi ternyata ia mampu mengerjakan soal rumit di papan tulis itu. Benar-benar mengagumkan pikir mereka. Yuuma hanya tersenyum tipis melihat beberapa murid yang menoleh ke arahnya. Mamori juga melirik ke arahnya dan matanya langsung bertemu dengan mata Yuuma. Tetapi dengan cepat Mamori mengalihkan pandangannya dari Yuuma dan menatap papan tulis. Yuuma hanya menghela nafas.
'Lagi-lagi seperti itu. Lihat saja, aku akan mencari tahu siapa sebenarnya Hiruma. Aku akan mengikutimu lagi ke ruang klub itu.' Yuuma berkata optimis dalam hatinya.
Aku tahu mungkin ia memiliki perbedaan yang besar
Tetapi rupanya yang sama membuatku tak bisa berpikir jernih
Aku tahu kau bukan dia dan dia bukanlah kau
-YH=MA-
Seperti yang sudah direncanakannya, Yuuma mengikuti Mamori yang telah bersiap-siap menuju clubhouse DDB. Kali ini ia benar-benar memberi jarak yang cukup jauh dari gadis itu agar kehadirannya benar-benar tidak disadarinya sama sekali. Tak lama Mamori sampai di clubhouse dan masuk ke dalamnya. Yuuma hanya bersembunyi dan memperhatikan secara diam-diam. Yuuma memang ingin tahu tentang Hiruma tetapi ia merasa apa yang dilakukannya ini percuma. Yang dibutuhkannya adalah keterangan seseorang tentang Hiruma, bukannya bersembunyi seperti ini. Kalau seperti ini sama saja dengan percuma.
"Argh, apa yang harus kulakukan? Diam di sini juga percuma saja. Kalau begini bagaimana aku bisa tahu tentang Hiruma itu!" Yuuma berkata dengan kesal pada dirinya sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tidak jauh dari tempat Yuuma bersembunyi ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Seorang gadis berambut biru dengan in-line skate yang selalu setia menempel dikakinya. Suzuna Taki. Ia memperhatikan sosok yang sama dengan sosok yang kemarin ia temui, yaitu Yuuma yang sedang mengamati clubhouse. Suzuna mendekati Yuuma dengan perlahan.
"Apa lagi yang sedang kamu lakukan di sini?" Suzuna bertanya sambil berdiri tepat di belakang Yuuma.
Lagi-lagi Yuuma terkejut karena dipergoki seseorang. Ia menoleh ke arah suara yang bertanya padanya. Dapat dilihatnya seorang gadis berambut biru dengan in-line skate yang sama dengan gadis yang membuatnya kaget kemarin.
"Ternyata kamu lagi! Sudah dua kali kamu membuatku kaget." Yuuma mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan cepat. Suzuna hanya tersenyum cengir.
"Maaf, aku tidak sengaja. Soalnya kamu itu aneh, mengamati clubhouse Deimon secara sembunyi-sembunyi. Sebenarnya apa tujuanmu?" Suzuna melipat kedua tangannya di dadanya, ia menunggu jawaban dari Yuuma. Yuuma menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya ia kebingungan.
"Ng, itu…" ia menggantung ucapannya. 'Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya?' tanyanya dalam hati.
"Aku menunggu, kakak yang mirip dengan You-nii."
"Aku bukan You-nii, namaku Yuuma!" tukas Yuuma. Suzuna hanya tersenyum kecil. "Kenapa kamu tersenyum?"
"Ah, tidak. Meski wajahmu mirip dengan You-nii, tetapi sepertinya kalian berbeda," ujar Suzuna disela-sela tawanya.
"Tentu saja aku dan dia berbeda. Lagipula sebenarnya dia itu siapa?" Yuuma mencoba bertanya tetapi sepertinya tidak didengarkan oleh Suzuna.
"Daripada kamu diam di sini lebih baik kamu ikut aku. Kita lihat anggota Deimon latihan amefuto." Suzuna menarik tangan Yuuma.
"Eh, tunggu dulu!" Yuuma kaget karena Suzuna tiba-tiba menarik tangannya. Sepertinya gadis ini benar-benar tidak mendengarkannya. Yuuma jadi terpaksa mengikutinya. 'Apa boleh buat,' batinnya.
-YH=MA-
Suzuna dan Yuuma tiba di lapangan amefuto. Mereka berdiri cukup jauh dari lapangan, jauh dari pandangan anggota DDB.. Yuuma bisa melihat semua anggota amefuto DDB yang tampak serius latihan. Misalnya Sena yang sedang latihan berlari keliling lapangan, Monta yang latihan tangkap pass dengan Ishimaru, para line yang sedang latihan mendorong, dan lain-lain sebagainya. Yuuma tampak kagum melihat latihan mereka. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang mendorong dirinya, perasaan ingin mencoba latihan tersebut. Terlebih lagi ketika ia melihat latihan pass Monta dan Ishimaru. Ia ingin mencoba.
Suzuna menoleh ke arah Yuuma. Ia bisa melihat wajah pemuda yang mirip setan Deimon itu menatap kagum pada semua anggota DDB. Ia mencoba menegurnya.
"Sepertinya kamu tertarik, ya?" Yuuma menoleh ke arah Suzuna.
"Hanya sedikit," gumamnya.
"Mau coba menghampiri mereka?" tanya Suzuna lagi. Yuuma menggeleng, Suzuna mengartikannya 'tidak'. "Baiklah, kalau begitu sebenarnya apa tujuanmu kemari, Yuu-nii?"
"Yuu-nii? Kamu panggil aku Yuu-nii?" Yuuma kaget dengan panggilan Suzuna padanya. Ia mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak apa, 'kan? You-nii itu panggilanku untuk Hiruma dan karena kamu mirip dengannya, maka aku memanggilmu Yuu-nii. Tidak beda jauh, 'kan?" Suzuna menyengir senang. Yuuma hanya terdiam mendengar alasannya.
"Terserah kamu saja, gadis kecil." Yuuma menghela nafas. Menurut Yuuma gadis ini terasa seperti suka seenaknya.
"Gadis kecil? Sembarangan! Aku memang pendek tetapi aku ini anak SMP, namaku Suzuna Taki. Tetapi jangan panggil aku Taki, panggil Suzuna saja." Seru Suzuna. Lagi-lagi Yuuma dibuat terdiam oleh gadis in-line skate ini.
"Anak SMP, ya? Maaf, aku 'kan tidak tahu namamu. Kenapa tidak boleh dipanggil Taki, itu margamu, 'kan? Yuuma bertanya bingung.
"Pokoknya tidak boleh! Titik!" Suzuna bersikeras. Tentu saja ada alasannya kenapa Suzuna tidak mau dipanggil dengan nama marganya. Itu karena ia tidak mau disamakan dengan kakaknya yang bodoh itu, Natsuhiko Taki, yang suka mengatakan dirinya jenius padahal sebaliknya.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Tetapi, aku boleh bertanya satu hal padamu?" Suzuna mengangguk dengan wajah cemberut. "Hiruma itu sebenarnya siapa dan ada di mana dia sekarang?"
Suzuna terdiam mendengar pertanyaan Yuuma. Ia menunduk, memandang tanah di bawah kakinya. Yuuma menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Jawaban yang akan membuatnya tidak penasaran lagi dengan sosok Hiruma.
"You-nii itu kapten tim Deimon, tetapi…" Suzuna menggantung ucapannya sesaat, "dia sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas sekitar tiga minggu yang lalu," sambungnya dengan wajah sedih.
"Sudah meninggal? Maaf, aku tidak tahu." Yuuma memalingkan wajahnya, menoleh ke arah lapangan. Ia benar-benar tidak menyangka kenyataan tentang Hiruma yang ia dengar dari Suzuna.
Yuuma sama sekali tak menyangka orang yang disebut-sebut Hiruma itu sudah meninggal dunia dan ia sama sekali tidak tahu. Tidak ada yang memberitahunya termasuk Mamori yang selalu diam-diam menatapnya dan sesekali menyebutkan nama Hiruma di depannya. Itu membuatnya menyadari tentang maksud ucapan dari Mamori yang mengatakan ia mirip dengan Hiruma dan tak heran jika gadis itu selalu mengiranya Hiruma. Tetapi ia merasa masih ada yang mengganjal di pikirannya.
"Tidak apa, Yuu-nii. Wajar saja jika kamu tidak tahu karena kamu murid baru. Sekarang kamu sudah tahu 'kan kenapa aku dan yang lainnya mengira kau adalah You-nii, maksudku Hiruma. Kami benar-benar tidak menyangka akan melihat orang yang sama persis dengan You-nii, terlalu mirip kecuali rambutnya. Rambut You-nii pirang sedangkan rambut Yuu-nii hitam." Suzuna mencoba kembali tersenyum meskipun ia masih merasakan kesedihan setelah menceritakan tentang meninggalnya Hiruma.
"Begitu, ya. Ternyata aku sangat mirip dengannya hingga semua orang mengira aku adalah dia. Satu hal lagi yang ingin kuketahui, apa sebenarnya hubungan Mamori dan Hiruma itu? Apa mereka pacaran?" Yuuma sedikit canggung menanyakan pertanyaan tersebut. Suzuna yang mendengarnya langsung tersenyum nyengir, rambutnya yang menyerupai antena berputar-putar. Seperti menangkap suatu sinyal yang menarik.
"Ho, kenapa Yuu-nii bertanya seperti itu? Jangan-jangan Yuu-nii menyukai Mamo-nee, ya? Iya, 'kan?" goda Suzuna. Wajah Yuuma mendadak memerah. Ia panik.
"Ti, tidak! Bukan seperti itu, jangan salah paham!" elak Yuuma yang makin panik. "Tidak usah dijawab pun tidak apa-apa." Yuuma mengalihkan wajahnya dengan melihat latihan pass Monta dengan Ishimaru. Entah kenapa ia merasa tertarik dengan apa yang dilakukan kedua orang itu.
Suzuna masih tersenyum nyengir. Rasanya ingin sekali ia menggoda pemuda spike hitam ini. Tetapi ia mengurungkan niatnya karena belum memiliki info yang jelas kenapa Yuuma bertanya seperti itu. Dalam hatinya ia berniat akan menyelidiki tentang Yuuma. Ini akan menarik sekali baginya.
"Yuu-nii lucu sekali. Kalau Yuu-nii mau tahu aku akan beritahu, tetapi tidak sekarang." Suzuna tersenyum penuh arti. Yuuma hanya mengangkat sebelah alisnya. Setidaknya ia merasa lega karena gadis ini tidak menjawab pertanyaannya yang terkesan mendadak itu. Ia merasa terlalu terburu-buru. "Ayo kita ke lapangan. Akan kuperkenalkan Yuu-nii pada semua anggota Devil Bats!" Suzuna kembali menarik tangan Yuuma untuk menuju ke tengah lapangan.
"Eh, kenapa aku harus ke sana? Aku tidak urusan dengan kalian!" ujarnya menolak. Tetapi Suzuna tetap tidak mendengarkannya. Dia terus saja menarik tangan Yuuma menuju lapangan. 'Apa boleh buat,' batinnya lagi.
Dua orang yang mirip benar-benar merepotkan
Yang kutahu kamu bukanlah dia dan dia bukanlah kamu
Hal ini membuat keraguan terpedam dalam hatiku
-YH=MA-
Anggota DDB masih sibuk dengan latihan mereka masing-masing. Mereka tidak menyadari sejak tadi Yuuma dan Suzuna mengamati mereka yang memang berdiri cukup jauh dari lapangan. Sena terduduk di lapangan, ia merasa lelah karena berlari-lari keliling lapangan. Ia melihat semua temannya masih sibuk latihan. Dalam keadaan lelah samar-samar Sena melihat Suzuna berjalan ke arahnya, berjalan dengan seseorang. Rasanya Sena mengenal orang yang berada disamping Suzuna itu.
"Itu Suzuna-chan, 'kan?" Tanyanya pada diri sendiri.
Suzuna dan Yuuma tiba di tengah lapangan. Wajah Suzuna terlihat ceria sementara Yuuma sedikit canggung. Ia bertanya-tanya untuk apa gadis berambut biru ini mengajaknya menemui semua anggota DDB. Apalagi ada satu orang yang mesti dikhawatirkannya.
"Hai, semuanya!" sapa Suzuna dengan wajah ceria seperti biasanya. Semua anggota DDB langsung menoleh kepadanya. Mereka langsung terkejut melihat kedatangan Suzuna bersama seseorang yang mirip dengan Hiruma, siapa lagi kalau bukan Yuuma.
"HIRUMAAA!" seru mereka serempak. Padahal sebelumnya mereka sudah bertemu dengan Yuuma, tetapi reaksi mereka tetap sama seperti kemarin.
'Lagi-lagi mereka mengira aku Hiruma,' ujar Yuuma dalam hatinya.
"Tenang dulu, dia bukan Hiruma. Dia anak yang kemarin itu, Yuuma." Suzuna mencoba menjelaskannya pada semua anggota DDB. Mereka tetap saja masih tampak kaget.
"Hiruma!" Kurita tiba-tiba saja berlari. Sepertinya ia ingin menghampiri Yuuma dan menyambutnya dengan pelukan hangat.
Yuuma menyadari apa yang akan dilakukan Kurita padanya. Ketika Kurita hampir saja memeluknya dengan cepat ia menghindar dan alhasil Kurita terjatuh mencium lapangan. Yuuma menarik nafas lega meskipun sebenarnya ia cukup kaget melihat Kurita sudah terjatuh di lapangan. Ia tidak bermaksud menghindar tetapi hal inilah yang membuatnya menolak untuk menemui anggota DDB. Menerima pelukan mendadak Kurita.
"Maaf," ujarnya khawatir.
"Kuri-tan, kau tidak apa-apa?" Suzuna juga bertanya. Sena dan Monta langsung menghampiri Kurita untuk membantunya berdiri. Kurita sudah berdiri dibantu Sena dan Monta. Ia menatap Yuuma, Yuuma langsung bergidik. Ia berdiri di belakang Suzuna, mencari perlindungan.
"Kurita-san, dia bukan Hiruma." Sena memberitahu pada Kurita. Monta mengangguk setuju. Kurita memandang Yuuma dengan teliti.
"Eh, kamu 'kan anak yang mirip Hiruma itu? Maaf, aku pasti mengira kamu Hiruma lagi." Kurita tersenyum malu. Lagi-lagi dia salah mengira Yuuma adalah Hiruma.
"Tidak apa-apa." Yuuma tersenyum kecil. 'Syukurlah ia menyadarinya,' bisik Yuuma dalam hatinya.
"Mau apa dia kemari, Suzuna?" Monta bertanya penasaran. Semua anggota DDB berkumpul disekeliling Yuuma dan Suzuna.
"Ah, aku hanya mengajaknya untuk melihat-lihat latihan kalian. Dia penasaran dengan amefuto jadi kuajak saja di kesini," jelas Suzuna. Anggota DDB hanya menggeleng. Yuuma tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa asing di antara mereka.
"Kalau kalian keberatan aku akan pulang saja," gumam Yuuma.
"Jangan pulang dulu!" Suzuna menghentikan niat Yuuma. Yuuma memandang gadis ini dengan wajah bingung. "Biarkan saja dia di sini!"
"Tetapi dia bukan anggota tim," sahut Juumonji yang disetujui oleh Kuroki dan Togano.
"Biarkan saja! 'Kan aku yang mengajaknya!" Suzuna cemberut. Yuuma merasa tidak enak.
"Kalau kau memang tertarik dengan amefuto, coba lakukan sesuatu dengan bola ini!" Monta melempar bola amefuto pada Yuuma. Yuuma menangkap bola itu.
Yuuma memandang bola itu sesaat. Sepertinya ia senang melihat bola yang ada ditangannya itu. Ia merasa tahu apa yang akan dilakukannya dengan bola itu.
"Apa maksudmu memberikan bola itu, MonMon?" Suzuna menatap Monta dengan tidak mengerti.
"Kamu bilang dia tertarik dengan amefuto, pasti dia tahu apa yang akan dilakukannya dengan bola itu." Monta menjelaskan. Semua anggota DDB hanya menatap mereka dengan bingung. Latihan mereka jadi terhenti karena kedatangan Suzuna dan Yuuma yang tiba-tiba.
Yuuma masih menatap bola yang ada ditangannya. Tiba-tiba saja dia melakukan hal yang membuat semua anggota DDB melirik ke arahnya. Yuuma melempar bola itu dengan cepat. Teknik yang dilakukannya persis seperti Hiruma. Semua anggota DDB mendadak terkejut melihat apa yang dilakukan Yuuma. Lemparan Yuuma persis dengan lemparan Hiruma.
Monta juga terkejut melihat bola yang dilempar Yuuma. Dengan instingnya yang selalu menangkap apapun yang melayang disekitarnya, Monta berlari mengejar bola itu. Ia makin mempercepat larinya dan sedikit lagi ia bisa menangkap bola itu. Monta melompat dan dengan kekuatan penuh ia menangkap bola itu.
"Tangkapan MAX!" seru Monta dengan jari teracung ke langit-langit, pose kebanggaannya. Ya, Monta berhasil menangkap bola yang dilempar Yuuma. Ia berjalan kembali ke arah mereka.
"Wah, kau bisa melakukan pass dengan baik!" seru Kurita yang tidak percaya melihat lemparan bola Yuuma. Anggota yang lain mengangguk setuju. Mereka tak menyangka pemuda yang mirip dengan Hiruma ini bisa melakukan pass yang sama dengan Hiruma.
"Ng, kurasa itu hanya kebetulan," Yuuma mengelak. Ia sendiri juga kaget kenapa ia bisa melakukan lemparan seperti tadi.
"Cara melemparmu tadi mirip dengan Hiruma," sambung Ishimaru yang entah sejak kapan sudah bergabung dengan mereka (?). Anggota yang lain juga berpendapat sama.
"Hei, kau! Aku tidak menyangka kau bisa melakukan lemparan seperti tadi. Lemparanmu sama dengan Hiruma-san." Monta sudah tiba di antara mereka.
"Itu hanya kebetulan saja. Lagipula kau hebat bisa menangkap lemparanku. Baru kali ini aku melihat orang sepertimu," puji Yuuma. Monta malu kemudian dia mencoba bersikap keren di depan Yuuma.
"Itu bukan apa-apa. Kemampuanku yang sebenarnya belum kutunjukkan padamu." Monta bicara dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Kalau begitu biarkan Yuu-nii ikut latihan dengan kalian!" Usul Suzuna. Anggota DDB terkejut mendengarnya. "Sepertinya dia memiliki bakat yang sama dengan You-nii, jadi tidak masalah 'kan kalau dia ikut latihan dengan kalian!"
"Lagi-lagi kamu memanggil orang dengan panggilan aneh, Suzuna-chan." Sena tersenyum kecil.
"Aku setuju!" Monta bersorak riang.
"Te, tetapi aku 'kan… Itu 'kan hanya kebetulan saja!" Yuuma berkata panik. Situasi mulai berubah lagi.
"Tidak apa. Kamu ikut latihan saja dengan kami," sambung Kurita disusul anggukan Daikichi. "Kalian semua tidak keberatan, 'kan?" Tanya Kurita pada anggota yang lain.
Anggota DDB yang lain hanya terdiam. Sejenak mereka tampak berpikir. Memang benar Yuuma sepertinya memiliki bakat yang sama dengan Hiruma. Tetapi mereka merasa bingung. Akhirnya setelah lama berpikir mereka pun mengangguk setuju.
"Yeeiii, kalian menyetujuinya! Yuu-nii, kamu bisa mulai latihan dengan mereka sekarang!" Suzuna berkata dengan ceria. Yuuma hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu apa harus senang atau tidak. Ini benar-benar kejadian yang aneh menurutnya.
"Kalau begitu akan kuperkenalkan mereka padamu. Yang berambut jabrik cokelat ini Sena," Sena tersenyum sambil menunduk sopan, "anak mirip monyet yang menangkap lemparan bolamu tadi Monta, biasanya kupanggil MonMon," ujar Suzuna memperkenalkan Sena dan Monta.
Monta yang mendengar ucapan Suzuna mendadak kesal padahal dia sudah berpose sekeren mungkin di depan Yuuma.
"Ukh, apa maksudmu berkata seperti itu Suzuna?" amuk Monta.
"Hie, tenang Monta!" Sena menahan Monta yang ingin memarahi Suzuna. Suzuna tampaknya tidak peduli.
"Yang ini Kurita dan Daikichi," Suzuna melanjutkan perkenalannya.
"Hai! Salam kenal!" sapa Kurita dan Daikichi bersamaan.
"Mereka ini Juumonji, Kuroki, dan Togano. Biasanya mereka dikenal sebagai Tiga Bersaudara Ha-Ha!"
"Hah!" Juumonji.
"Haah!" Kuroki.
"Haaah!" Togano.
"Kami ini bukan bersaudara!" seru Tiga Bersaudara Ha-Ha kompak.
"Tuh, mereka kompak, 'kan?" Suzuna tersenyum ceria lagi, Yuuma hanya terdiam saja. "Lalu, yang ini Yukimitsu dan Ishimaru."
"Salam kenal!" sapa mereka ramah. Yuuma hanya tersenyum. Mereka berdua sopan pikirnya.
"Dan yang terakhir ini Natsuhiko Taki, dia kakakku." Nada bicara Suzuna mendadak lemas ketika menyebut nama kakaknya.
"Ahaha… Aku adalah kakaknya Suzuna yang paling jenius di tim ini!" Taki berputar-putar kegirangan. Semua yang melihatnya hanya memandang bingung termasuk Yuuma.
"Itu kakakmu?" Tanya Yuuma polos.
"Iya," jawab Suzuna malas. Kemudian ia memukul Taki dan menghasilkan benjolan besar dikepala kakaknya. "Dasar kakak payah yang berisik! Jangan pedulikan dia, Yuu-nii!" Yuuma hanya bengong saja.
"Aduh, apa yang kau lakukan padaku, My sister? Itu sakit sekali," keluh Taki. Suzuna tidak mempedulikannya.
"Masih ada lagi yaitu Kapten Tim Deimon Devil Bats, Musashi dan Mamo-nee sebagai manager. Sedangkan aku adalah Kapten Cheerleader Deimon Devil Bats!" seru Suzuna lagi.
"Mamori manager tim ini?" Tanya Yuuma.
"Iya. Sepertinya ia dan Musashi sedang berada di ruang klub. Paling sedang membicarakan taktik amefuto."
Yuuma hanya mengangguk saja. Ia tak menyangka bahwa Mamori adalah manager tim ini. Pantas saja Mamori selalu datang kemari pikirnya.
"Kalau begitu perkenalkan dirimu, Yuu-nii."
"Baiklah. Namaku Yuuma Hizami, sebelumya aku sudah mengatakannya pada kalian. Kalian boleh memanggilku Yuuma, mohon bantuannya." Yuuma memperkenalkan dirinya lagi.
"Tentu saja!" sahut beberapa anggota DDB, yang lainnya hanya tersenyum saja.
"Ayo mulai latihan MAX!"
Anggota DDB pun kembali latihan lagi. Tentunya setelah apa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu. Yuuma tampak menikmati latihannya bersama Monta. Sepertinya ia merasa senang meskipun rasanya baru pertama kali ini ia melakukan hal seperti ini. Mungkin setelah ini ia merasa akan segera memiliki teman walaupun ia tak terlalu banyak berharap.
-YH=MA-
Mamori dan Musashi sedang berada di clubhouse. Mereka tampak sedang membahas taktik amefuto. Setelah selesai membahas taktik tersebut, mereka berinisiatif untuk keluar dari clubhouse. Musashi ingin melihat latihan anggota DDB. Mamori mengikutinya di belakang.
Mereka tiba di lapangan. Sepertinya mereka melihat pemandangan yang aneh di lapangan tersebut. Ada sosok baru di tengah lapangan tersebut. Seorang pemuda berambut spike hitam sedang melakukan lemparan bola dengan Monta. Musashi dan Mamori melihatnya dari kejauhan. Pemuda itu kembali bersiap melempar bolanya. Ia mengambil kuda-kuda dan dengan perhitungan yang tepat ia melempar bola itu dengan cepat. Monta yang melihat lemparan cepat itu bergegas lari untuk menangkapnya. Dengan usaha yang tidak sia-sia Monta berhasil menangkap bola lemparan cepat dari pemuda itu.
Musashi dan Mamori menatap kaget. Mereka tidak menyangka ketika melihat pemuda itu melakukan lemparan bolanya yang cepat. Lemparannya tersebut persis seperti lemparan Hiruma. Tetapi sayang dia bukan Hiruma, melainkan Yuuma.
"Wah, itu 'kan pemuda yang mirip dengan Hiruma itu. Hebat sekali dia bisa melakukan lemparan yang sama dengan Hiruma. Kau melihatnya, 'kan Mamori?" Musashi memuji lemparan Yuuma, ia menoleh pada Mamori.
Mamori hanya terdiam. Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia terus memandang sosok Yuuma yang perlahan-lahan di matanya kini justru terlihat seperti Hiruma. Hiruma yang sedang latihan amefuto seperti biasanya yang ia lihat. Musashi memandang Mamori bingung, ia heran melihat Mamori yang hanya diam saja. Ia mencoba menegur gadis itu.
"Mamori, kau tidak apa-apa?" tanyanya ragu.
Mamori tidak menjawab. Matanya terus melihat ke arah Yuuma yang sedang tertawa dengan Monta. Musashi mencoba melihat apa yang Mamori lihat. Ia pun tahu apa yang Mamori lihat dan membuat gadis itu terdiam. Mata Mamori menerawang sedih. Musashi hanya menghela nafas saja.
"Kau sedang memandangnya, ya? Sadarlah, itu bukan dia," ujar Musashi mencoba memahami apa yang dipikirkan Mamori.
Mamori tidak menghiraukan perkataan Musashi atau mungkin juga tidak mendengarkannya sedikitpun. Tiba-tiba saja ia berlari meninggalkan Musashi yang berdiri disampingnya. Berlari ke tengah lapangan. Mencoba menghampiri sosok yang berada di sana. Sosok yang sangat mirip dengan sosok yang dirindukannya. Hiruma.
"Dia melakukannya," ujar Musashi pada dirinya ketika melihat kepergian Mamori.
Monta tampak senang sekali bisa latihan dengan Yuuma. Meskipun memiliki wajah yang sama dengan Hiruma tetapi Yuuma tidak semenyeramkan Hiruma. Karena itu Monta merasa sangat senang bisa latihan bersamanya.
"Yuuma-san memang hebat! Lemparan bolamu semakin bertambah cepat saja!" Monta berseru senang.
"Kau juga hebat Monta. Dengan lemparan yang semakin cepat pun kau tetap bisa menangkapnya dengan sempurna," puji Yuuma. Wajah Monta mendadak memerah karena malu. Rasanya aneh mendengar pujian dari orang yang mirip dengan Hiruma. Kalau Hiruma mana mungkin akan semudah itu memuji orang pikirnya.
"Hehehe… Yuuma-san bisa saja. Aku jadi malu," Monta menggosok-gosok bawah hidungnya karena malu. Yuuma juga tersenyum melihatnya. "Kalau begitu lakukan lemparannya lagi. Aku sedang bersemangat MAX!" pinta Monta.
"Kau bersemangat sekali Monta. Baiklah, aku akan bersiap-siap melempar bolanya!" Yuuma memberi aba-aba. Monta juga tampak bersiap.
Yuuma bersiap-siap hendak melempar bolanya. Tetapi ia tidak menyadari akan kehadiran seseorang yang tengah berlari kepadanya. Yuuma memasang kuda-kuda, ia siap melempar. Monta juga sudah tidak sabar untuk menangkapnya. Sedikit lagi Yuuma melepaskan bola dari tangannya, tiba-tiba saja sosok yang berlari kepadanya sudah berada di dekatnya.
GREB! Dengan cepat sosok itu memeluk Yuuma dari belakang. Yuuma terkejut. Bola yang hendak dilemparkannya pada Monta mendadak terjatuh dari tangannya. Ia menoleh kepada sosok yang memeluknya secara tiba-tiba itu. Sebelum ia sempat melihat wajah orang yang memeluknya itu, sebuah suara terdengar ditelinganya dari sosok yang memeluknya.
"Hiruma…" Itulah kata yang keluar dari mulutnya. Hanya nama seseorang. Yuuma menyadari siapa yang menyebut nama itu. Begitu ia menoleh ia mendapati Mamori yang ternyata memeluknya. Yuuma panik.
Pelukan Mamori sangat erat. Semua anggota DDB yang melihat pemandangan itu hanya terkejut. Mereka tidak menyangka manager mereka akan memeluk pemuda yang mirip dengan Hiruma itu. Suzuna juga terkejut tetapi seketika senyum terlukis di wajahnya.
"Hiruma… Hiruma… Aku merindukanmu…" ujar Mamori lagi sambil terus mempereratkan pelukannya. Yuuma semakin panik, ia tidak tahu harus melakukan apa.
'Bagaimana ini? Mamori tiba-tiba saja memelukku. Pasti dia mengira aku Hiruma lagi. Apa yang harus kulakukan?' tanya Yuuma dalam hatinya sambil mengontrol detak jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak cepat. Kalau diperhatikan baik-baik ada sedikit rona merah di pipi Yuuma tetapi tak ada yang menyadarinya.
Bau tubuh dan perasaan hangat dari sosok dingin yang kurindukan
Serasa ingin terus terengkuh selamanya di dalam kehangatanmu
Bolehkah aku merasakannya dari orang yang berbeda
To be continued...
Lan : Akhirnya selesai juga! Capek! *minum orange juice dingin*
Yuuma : *baca fic chapter 4* He, ceritanya panjang sekali, Lan? *kaget*
Lan : Oh, ya? Idenya lagi mengalir deras, Yuuma-kun. *memang air mengalir*
Yuuma : Kalau begitu sebentar lagi chapter 5, ya?
Lan : Yupz! Ng, bagaimana perasaan Yuuma-kun ketika dipeluk Mamori-nee?
Yuuma : *blushing* He, kenapa bertanya seperti itu Lan?
Lan : Aku hanya mau tahu saja. Kalau Hiruma-san lihat kamu dan Mamori-nee pelukan, pasti dia akan ngamuk besar.
Yuuma : Jangan menakut-nakuti Lan. 'Kan Lan yang buat adegan seperti itu.!
Lan : Oh, maaf, maaf. *author yang aneh minta maaf sama chara-nya* Kalau begitu aku mau istirahat dulu baru lanjut buat chap kelima. Yuuma-kun, kamu yang ambil bagian penutupnya lagi, ya? *pergi*
Yuuma : Tunggu dulu Lan! Huh, apa boleh buat. Baiklah, kali ini masih saya yang akan mengisi bagian penutup. Terima kasih sudah membaca fic ini dan ditunggu saja chapter selanjutnya.
Lan : Ditunggu juga reviewnya dan maaf kalau updet chap keempat ini lama. *muncul tiba-tiba*
Yuuma : Lho, Lan? Katanya mau istirahat, kenapa kemari lagi?
Lan : Boleh, 'kan?
Yuuma : Ah, sudahlah.
Lan dan Yuuma : Sampai jumpa di chapter selanjutnya!^^"
