A/N: Gue mau ngebacot dulu bentar~

Tasya Syafitri: Tadaaaa! Ini lanjutannya ^^

Ichaa :It's okay :p. Waduuuh mikirnya ampe ke situ . _. . Kan udah di bilang di Summary nya ini bukan Yaoi ^^. Seriously sampai nangis? Makasih yaaa reviewnya :D

Haiiii. Maaf banget saya telat update. Biasa Mahasiswi semester satu. Sibuk bet *halah.

Saya dapat salah satu pertanyaan bagus dari salah satu reviewer, yaitu Seriaryu Kairu syin. Begini pertanyaannya :

1. Kenapa boboiboy mempunyai penyakit itu?
2. Dari mana asal mula nya penyakit itu?

Well, ini adalah fanfiksi. Terserah para readers mau berpikir BoBoiBoy terkena penyakit ini karena keturunan, kondisi lingkungan, atau yang lainnya. Use your imagination saja :D. Kalau dari sudut Author, saya sengaja memilih penyakit Alzheimer ini karena pas untuk BoBoiBoy yang pelupanya terkadang kumat di kartunnya.

Maafkan saya karena telah membuatmu menderita di ff ini, BoBoiBoy :(. *dijitak

Oke, silahkan menikmati chapter ini. Chapter ini konfliknya lumayan dan agak sedikit sadis.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi, kamu belum mengetahuinya, Fang?"

Fang menatap datar ke arah dr. Tadashi.

"Belum, dok,"

Dokter Tadashi menghela nafas panjang.

"Sebaiknya kau dengar saja dari mulut BoBoiBoy sendiri,"

"Tidak mungkin, dok,"

Fang mengubah posisi duduknya menjadi tegap. Percakapan dari tadi membuatnya sedikit tidak nyaman.

"Aku rasa, dia merahasiakannya, dok," ucap Fang dengan nada sedikit kecewa.

"Kalau begitu, aku juga merahasiakannya,"

"Dok, tolonglah. Beritahu aku apa yang terjadi sebenarnya,"

"Apa kamu pikir berbicara itu mudah, Fang?"

"Apa dokter pikir, keganjelan di hati itu sesuatu yang mudah?"

Fang dan dr. Tadashi saling tatap-menatap dengan perasaan campur aduk.

"Oke, dok. Aku mengerti kenapa bisa rahasia. Tapi, apakah dokter tidak bisa melihat? Aku sebagai kakaknya tidak tahu apa yang terjadi dengan adiknya sendiri. Aku harus menahan rasa penasaranku sendiri. Bahkan, perasaanku tidak enak. Kalau tiba-tiba sesuatu terjadi dengan BoBoiBoy, bagaimana?" ucap Fang nyaris emosi.

Kali ini dr. Tadashi diam memandang Fang.

Fang mendengus kasar. Lalu beranjak dari kursi di hadapan sang dokter.

Fang menyentuh gagang pintu. Bersiap-siap angkat kaki dari ruangan yang memuakkan ini.

"Sindrom Alzheimer,"

Rasanya jantung Fang berhenti berdetak. Ia kemudian berbalik badan untuk menatap dr. Tadashi.

"Sindrom?" tanya Fang dengan suara serak.

Dokter Tadashi hanya menunduk pasrah. Sebenarnya ia juga tak tega menyebutkan apa yang terjadi dengan BoBoiBoy saat ini.

Fang tahu, penyakit sindrom tidaklah main-main. Tentu saja pengetahuannya tentang penyakit ada karena ia selalu disuguhkan dengan pelajaran sains di sekolahnya.

Mendadak otak Fang dipenuhi beberapa pernyataan negative thinking.

"Alzheimer adalah penyakit dimana memori seseorang akan dihapus. Jadi, BoBoiBoy akan lupa segalanya. Cara ia berjalan atau bahkan sampai lupa dengan dirinya sendiri,"

"Huh?"

"Lebih parah lagi, gejala BoBoiBoy juga mendekati kanker,"

Fang merasakan sesuatu keras jatuh menimpa kepalanya. Katakan bahwa semua yang ia dengar hanyalah mimpi semata.

"Obat yang kuberikan tadi hanya mampu mengurangi penyakit itu secara perlahan, bukan untuk menghilangkan,"

Fang hanya menatap keras lantai putih di hadapannya. Ia sudah tidak ingin menatap dokter yang ada di hadapannya.

"Itu semua informasi yang kamu mau kan?"

Dokter Tadashi memandang Fang dengan pilu. Ia juga sebenarnya tidak tega memberitahu ini semua. Ia tidak mau ikut campur urusan permasalahan keluarga BoBoiBoy. Karena ia tahu, semua ini akan memperumit masalah kekeluargaan mereka nanti.

Fang mendengus kasar. Ia lalu keluar dengan sedikit membanting pintu.

222

Ochobot menatap sebuah pigura foto yang terletak di meja ruang tamu.

Robot itu sedikit tersenyum memandang pigura foto yang baru saja ia bersihkan. Terlihat Ayah dan Ibu yang merangkul Fang. BoBoiBoy yang berada di gendongan Ibu dengan wajahnya yang manja. Foto ini diambil sebelum Ayah dan Ibu sibuk-sibuknya bekerja. Sebelum BoBoiBoy memasuki sekolah rendah.

Fang bahkan tersenyum lebar.

BRAK!

Ochobot melayangkan badannya kaget. Robot itu menengok ke arah Fang yang sedang terengah-engah di ambang pintu.

"Fang? Ada apa nih?" tanya Ochobot datar.

Fang memandang Ochobot dengan tatapan dingin. Ochobot lalu bergidik ngeri. Aura hitam keluar dari sisi Fang.

"AAARRRGGHHH!"

Fang berteriak begitu keras, lalu menjambak rambutnya sekeras mungkin. Ochobot lalu menghampiri Fang.

"Tenanglah, Fang! Ada apa sebenarnya?!" tanya Ochobot panik seraya berusaha menarik tangan Fang agar tidak menjambak rambutnya sendiri.

Tangan Fang langsung bergerak mendorong robot kuning itu sampai terlempar jauh, lalu menabrak dinding. Ochobot merasakan benturan yang cukup kuat menimpa tubuhnya. Ia oleng seketika dan jatuh ke lantai.

Fang menatap ke segala arah, dengan mata berapi-api, layaknya predator yang belum mendapatkan mangsa. Ia berlari menuju meja yang terletak di sudut ruang tamu. Dengan sekali gerakan tangan Fang, lima vas berbahan kaca langsung jatuh ke lantai.

PRANG! PRANG!

Ochobot membelalakkan matanya melihat Fang mengamuk. Vas berkaca itu koleksi milik Ibunya. Bunga beserta isi vas itu berserakan di lantai. Dicampur beling-beling kaca.

Ibu akan marah habis kepada Ochobot kalau ia melihat koleksi vasnya hancur berantakan.

"FANG! HENTIKAN!" teriak Ochobot.

"ARGHH!"

Fang masih berteriak. Ia kemudian berjalan ke ruang makan. Fang menendang semua kursi yang terletak agak masuk ke kolong meja makan sampai semua kursi itu tumbang.

Seharusnya Ochobot bersyukur, Fang tidak menggunakan kuasa bayangnya. Tapi tetap saja, kerapihan rumah ini menjadi tanggung jawab Ochobot. Ochobot tidak akan membiarkan siapa pun merusak rumah ini.

Puas menendang kursi, Fang menatap tajam ke arah pigura foto yang terletak di meja ruang tamu yang dikelilingi sofa.

Fang berjalan pelan ke arah meja itu. Dengan langkah aura membunuh.

Ochobot berpikir, Fang pasti akan menghancurkan pigura foto keluarga mereka itu.

Dengan sigap, Ochobot melayang tepat di depan wajah Fang.

Tatapan membunuh masih terpampang di mata Fang. Ochobot siap jikalau ia dicekik jari bayang.

"Kanker,"

Satu kata meluncur dari mulut Fang.

"Hah?" respon Ochobot, masih tidak mengerti dengan ucapan Fang.

"KANKER, OCHOBOT! APA KAU TIDAK MENGERTI?!" teriak Fang sekeras mungkin.

Fang merosot jatuh ke lantai yang masih berserakan beling-beling. Tangannya meninju bagian vas kaca yang belum hancur.

KRAK!

Ochobot masih tidak paham dengan perkataan Fang. Akhirnya, ia membiarkan anak berkacamata berbingkai ungu itu melampiaskan semuanya.

"A-aku... gagal... menjadi... kakak... yang baik... hiks,"

Fang terisak pelan. Ia tidak tahu apakah tangisannya itu ditujukan untuk BoBoiBoy atau untuk tangan yang sudah mengalirkan darah segar.

Tangan Ochobot perlahan mengelus pundak Fang. Baru kali ini Fang menangis.

"B-BoBoiBoy... terkena... sindrom... alzheimer... hiks... gejalanya... mendekati... kanker,"

Ochobot tersentak kaget. Jadi, inikah hasil analisa scanning-nya? Ochobot sulit mempercayai Fang. BoBoiBoy sehat-sehat saja. Tapi, melihat kelakuan Fang hari ini, Ochobot perlahan percaya kepada Fang.

Ochobot berharap, ini hanya mimpi semata. Ia tidak mau percaya kalau BoBoiBoy terkena kanker.

"Harusnya aku tahu kenapa ia memanggilku dengan panggilan kakak. Seharusnya aku tahu kenapa ia berubah. Harusnya aku tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik, Ochobot,"

Isak Fang semakin menjadi-jadi.

"BoBoiBoy sialan!"

Fang meremukkan beling-beling vas yang berserakkan di lantai dengan kedua tangannya. Ia tidak peduli dengan cairan merah yang merembes dari tangannya. Sakit di tangannya mengalahkan perasaan sakitnya mengenai kesehatan BoBoiBoy.

Ochobot hanya bungkam, tidak tahu harus berkata apa. Seandainya ia manusia, ia akan menangis sejadi-jadinya.

Fang hanya menunduk. Meratapi semua yang sudah terjadi.

TOK TOK TOK!

"Assalamualaikum!"

Ochobot menengok ke arah sumber suara. Terlihat BoBoiBoy yang masih mengenakan seragam sekolah. Ia menenteng bola bercorak hitam putih. BoBoiBoy menatap shock keadaan isi rumahnya yang berantakan.

"Kak Fang! Ochobot!"

BoBoiBoy segera melemparkan bolanya ke sembarang arah dan melepaskan tasnya. Ia berjalan hati-hati melewati beling-beling cantik yang berbahaya.

"Ochobot, ada apa ini?! Kenapa rumah berantakan seperti ini? Kak Fang kenapa?!" ucap BoBoiBoy panik bertubi-tubi.

Ochobot hanya menggaruk-garuk kepalanya bingung. Ia tidak mungkin mengatakan alasannya kepada BoBoiBoy.

Karena pertanyaannya tak kunjung di jawab, BoBoiBoy mendengus kesal. Ia kemudian mengguncang-guncangkan bahu Fang pelan.

"Kak Fang kenapa? Kok tangannya berdarah?" ucap BoBoiBoy sambil terus mengguncangkan bahu kakaknya.

Fang tidak menjawab. Ia masih menunduk lemas. Ia tidak kuat memandang wajah adiknya itu.

"Ah, ini semua gara-gara Adu Du yaaa?!" ucap BoBoiBoy kesal.

"B-bukan itu kok," jawab Ochobot gelagapan.

'Dasar adik bawel,' batin Fang.

Fang harus kuat menghadapi ini. Toh, BoBoiBoy baik-baik saja. Ia tidak mau membuat adiknya tambah khawatir terhadap dirinya.

"Ya trus kenapaaaaa? Adu Du dan Probe pasti melakukan ini semua. Kan? Kan?" ucap BoBoiBoy.

Fang mendongakkan kepalanya. Ia menatap BoBoiBoy dengan senyuman yang jarang ia perlihatkan.

BoBoiBoy dan Ochobot menarik nafas kaget. BoBoiBoy melihat ada bekas air mata di pipi Fang.

"Kak Fang nangis? Kak Fang gak papa?" tanya BoBoiBoy panik.

"Aku tidak apa-apa, BoBoiBoy. Kenapa kamu baru pulang jam segini?" tanya Fang lembut sambil tersenyum.

BoBoiBoy mengernyit heran. Ia baru saja melihat kakaknya yang sedang tersenyum dan berkata lembut. Fang jarang melakukan hal ini kepada siapa pun.

"Aku kan baru selesai eskul sepak bola bersama Gopal di sekolah tadi, Kak. Kak Fang sendiri kenapa baru pulang jam segini juga?" balas BoBoiBoy.

Fang membulatkan matanya. Ia sadar bahwa ia masih mengenakan seragam, tas sekolah, dan sepatu.

"Tadi aku jalan-jalan sesudah pulang sekolah," balas Fang berbohong.

"Lalu, rumah berantakan ini karena apa?"

"Ah, ini semua ulahku, BoBoiBoy. Aku lagi kesal dengan temanku, makanya aku melampiaskannya di sini. Hehehe,"

"Kesal dengan Kak Yaya?" terka BoBoiBoy sok tahu.

"A-ah tidak. Sudah sana cepat mandi! Habis itu kita makan siang," perintah Fang sambil berusaha bangun.

"Yelah tu," balas BoBoiBoy seraya memutarkan bola matanya.

BoBoiBoy menaiki tangga menuju kamarnya. Ochobot menatap Fang dengan tatapan penuh selidik. Fang meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Mengisyaratkan Ochobot untuk diam mengenai kelakuan Fang tadi.

"Nanti aku bantu kau bereskan ini semua," ujar Fang dingin lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan lukanya.

222

BoBoiBoy menatap langit-langit kamar dengan perasaan resah.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Mata bocah yang mempunyai kuase elemental itu tak kunjung lelah.

Padahal sudah serangkaian kegiatan yang melelahkan ia lakukan tadi. Mulai dari sekolah, olahraga, lari-larian kecil menuju rumah sakit, sampai eskul sepak bola tadi. Tubuhnya saja sudah mulai pegal. Tapi kenapa ia tidak kunjung tidur?

Untung saja besok libur. Jadi tidak masalah kalau ia bangun sedikit siang.

Pikirannya mendadak melayang ke Fang. Apa yang dilakukan kakaknya tadi? BoBoiBoy tidak pernah melihat Fang sekesal itu. Biasanya, kalau kesal, Fang memilih diam. Apa sebenarnya yang membuat Fang marah sampai ia nyaris menghancurkan isi rumah?

BoBoiBoy mengubah posisi badannya ke samping. Matanya terfokus ke arah tiga botol obat yang terpajang manis di lantai dekat ranjangnya. BoBoiBoy mendecih kesal melihat semua obat itu. Ia nyaris memuntahkan isi obat itu karena obat itu memberikan efek samping yang tidak biasa. Untung BoBoiBoy bisa menahannya.

Ia hanya takut Fang dan Ochobot mengetahui dirinya sedang mengonsumsi obat-obatan.

222

"Kemana BoBoiBoy?"

Suara burung saling bersahut-sahutan di pagi sabtu ini. Hawa cukup dingin menyambut kulit Fang yang tangannya masih dibalut perban. Pemuda itu sedang menatap mata Ochobot.

"BoBoiBoy bilang bahwa ia sedang lari pagi," jawab Ochobot seraya menuangkan teh ke cangkir berwarna ungu milik Fang.

"Heh? Tidak biasanya ia lari pagi," ujar Fang sambil mengernyit.

DING DING!

Suara panggilan jam kuasa Fang begitu cukup keras. Mata pemuda itu langsung terfokus ke arah layar yang menampakkan wajah Yaya yang begitu panik.

"Ada apa, Ya?" ucap Fang dengan suara malas.

"Cepat ke lapangan, Fang! Tolong kami! Adu Du sedang menahan Gopal!" ujar Yaya to the point.

"Heh? Apalagi yang dilakukan oleh si kepala kotak itu? Dan kenapa harus Gopal?" ucap Fang malas seraya menyeruput tehnya.

"Tak usah banyak cakap! Cepat ke sini!"

Yaya mengakhiri panggilannya. Pasti Gopal mengganggu Adu Du. Begitu pikiran Fang.

"Ochobot, aku pergi dulu, ya!" sahut Fang seraya menyambar roti tawar yang sudah diolesi selai cokelat.

Fang memakai sepatu. Ia menengok ke arah dapur. Biasanya Ochobot menjawab sahutannya. Tapi, kenapa jadi sepi begini?

"Ochobot?"

Fang berjalan cepat menuju dapur seraya memasukkan roti tawar ke dalam mulutnya dalam satu tahapan. Matanya langsung menerawang setiap sudut di ruangan itu.

Ia menemukan jendela terbuka di atas wastafel.

Setahu Fang, jendela itu akan dibuka oleh Ochobot jika hari sudah siang.

"ELANG BAYANG!"

Fang merasakan ada firasat buruk di hatinya. Jari-jarinya ia formasikan membentuk burung elang.

"Cari Ochobot di seluruh sudut rumah ini!" perintah Fang begitu sang Elang sudah terbentuk.

Elang Bayang terbang ke sana ke mari untuk mencari Ochobot. Tidak sampai lima menit, Elang Bayang langsung menghadap tuannya dan menggelengkan kepalanya.

Sebuah pemikiran langsung muncul di otaknya.

"ADU DU!"

Fang meloncat ke punggung Elang Bayang sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

222

"SERIBU TENDANGAN LAJUUUUUU!"

Sia-sia Ying menendang kurungan baja yang menahan Gopal. Kurungan itu mungkin sudah diperkuat oleh Adu Du dengan bantuan alat-alat yang tidak mereka ketahui. Gopal hanya merunduk frustasi memegang kepalanya sambil menggumamkan Appa-nya. Yaya sedang bertarung mati-matian dengan Mega Probe yang menahan Ochobot.

"HOI! LEPASKAN OCHOBOT!

Teriakan Fang sukses membuat keadaan di lapangan tempur berhenti seketika. Adu Du tertawa puas melihat kedatangan Fang.

"Akhirnya kau datang juga!" ucap Adu Du.

Fang menatap tajam ke arah Adu Du. Ia lalu mendarat di atas tanah. Elang bayang menghilang.

"HARIMAU BAYANG! SERANG DIA!"

Tanpa ba-bi-bu lagi, Harimau Bayang ciptaan Fang langsung menyerang ke arah Adu Du. Tapi dengan lincahnya Adu Du menghindar dengan roket kecil di punggungnya. Fang hanya membulatkan mata kaget melihat Adu Du.

'Sejak kapan dia menjadi canggih?' batin Fang.

Tenggelam dalam pikirannya, tanpa sadar sebuah laser mengenai kaki kanan Fang.

"FANG!" teriak ketiga temannya.

Tidak hanya kaki, laser tersebut juga membuat Fang terlempar. Kepala Fang terbentur sebuah pohon yang tidak jauh darinya. Harimau Bayang langsung menghilang dan Fang kehilangan kesadarannya.

"BOBOIBOOOOOOYYYY!" teriak Ochobot memanggil BoBoiBoy dengan frustasi.

222

Terapi pertama baru saja selesai dijalankan oleh BoBoiBoy hari ini.

Dokter Tadashi memerintah BoBoiBoy agar segera istirahat dan tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat.

Bocah bertopi oranye itu langsung mempercepat langkahnya. Ia mendapat panggilan dari Ying bahwa Fang dan yang lainnya sedang bertarung dengan Adu Du. Jantungnya berdegup kencang memikirkan keselamatan kakak dan teman-temannya. Kepalanya sedikit berputar dan perutnya terasa mual. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ia tidak tahu apa penyebab kesakitan itu datang begitu saja. Antara efek sehabis terapi atau mengkhawatirkan orang-orang yang disayanginya.

Sepertinya, perintah dari dr. Tadashi harus ia abaikan begitu melihat kondisi pertarungan yang nyaris bertumpah darah.

"HENTIKAN, ADU DU!"

Mega Probe mengarahkan gergaji tangannya ke arah Yaya yang sedang melindungi Ochobot di pelukannya. Adu Du menodongkan pistol lasernya ke arah Ying. Semua aktivitas itu langsung terhenti begitu mendengar teriakan BoBoiBoy.

"Ah, akhirnya kau datang, BoBoiBoy!" ucap Adu Du ceria.

BoBoiBoy menatap Adu Du dengan sorotan tajam. Pandangannya lalu beralih ke arah Fang yang tidak sadarkan diri di dekat sebuah pohon. BoBoiBoy langsung menggertakkan giginya.

"Tak usah lama-lama. Serahkan Ochobot kepadaku secara terhormat!" gertak Adu Du.

"Tidak akan! Itu hanya menjadi mimpimu saja, Adu Du!" balas BoBoiBoy.

"Oh, nak melawan yeeee,"

Tanpa disangka-sangka, Adu Du melempar sebuah granat ke arah BoBoiBoy. Namun, dengan gesitnya BoBoiBoy menghindar.

"BOBOIBOY KUASA TIGA!"

Halilintar, Taufan, dan Gempa muncul di hadapan mereka semua. Gempa langsung menangkap granat itu dengan tahanan tanahnya.

"MINGGIR KAU!"

Halilintar dengan ganasnya langsung menyabet Mega Probe dengan pedang halilintar. Badan Mega Probe terserang sengatan listrik yang hebat. Yaya tidak tinggal diam. Ia langsung melancarkan diameter gravitasinya di bawah Mega Probe. Mega Probe lumpuh seketika.

"PUSARAN TAUFAN!"

"TANAH TINGGI!"

Taufan mengeluarkan pusaran anginnya. Ditambah Gempa yang menghancurkan tanah dengan sekali genggaman di tengah-tengah pusaran angin. Semua itu langsung menyebabkan badai pasir lalu mengelilingi Adu Du.

"INCIK BOSS!" teriak Mega Probe dengan sedikit lemah.

"SIALAN! AKU TIDAK BISA MELIHAT!" gerutu Adu Du sambil berusaha menghilangkan badai pasir di hadapannya dengan berbagai cara.

"KUASA PERLAHANKAN WAKTU!"

Diameter waktu buatan Ying mengelilingi Adu Du. Menyebabkan badai pasir dan gerakan Adu Du sangat lambat.

Taufan mengendalikan badai pasir. Ia mengarahkan beberapa gabungan titik pasir dan angin untuk mengenai mata, mulut, dan telinga Adu Du.

"A- ... AAKK- ...KHHH-... T-TIDAA-... AKK... H-HEN... TIKAA... AAN!" teriak Adu Du kesakitan dengan gerakan slow motion.

"Hahahahaa!" tawa Taufan tanpa memperdulikan kesakitan Adu Du.

Gopal melihat Taufan tertawa. Ia merasakan ada yang janggal dengan sahabatnya itu. Sudah lama ia tidak melihat Taufan tertawa seperti itu sewaktu ia bertranformasi dari Angin menjadi Taufan.

Tawa jahat.

"SESEORANG TOLONG HENTIKAN BOBOIBOY TAUFAN!" teriak Gopal dengan nada panik ke arah teman-temannya.

"HUAHAHAAHA... HUAHAAHHAA..." tawa Taufan semakin menjadi.

Adu Du terus berteriak kesakitan dengan gerakan lambat.

"Tolong. Ampuni kami. Jangan sakiti Incik Boss. Kami janji akan pergi setelah ini," ucap Mega Probe yang tidak tega melihat tuannya tersiksa.

Ada ekspresi khawatir tersirat di wajah Mega Probe. Yaya merasakan hal itu. Memang Taufan terlihat sudah keterlaluan menyerang Adu Du.

Ya, siapa yang mau alat indera-nya kemasukan pasir ditambah dorongan angin?

"Ying, Gempa, Taufan! Hentikan serangan!" perintah Yaya lalu ia menghilangkan diameter gravitasinya terhadap Mega Probe. Mega Probe dengan paniknya langsung membebaskan Gopal dari kurungan buatan Adu Du. Takut-takut ia diserang lagi kalau tidak membebaskan Gopal.

Halilintar menatap tajam ke arah Yaya. Ia sedikit marah kenapa penyerangan terhadap Adu Du dihentikan. Yaya yang menyadari tatapan bahaya Halilintar terhadapnya, hanya menunduk takut.

Tatapan itu. Terakhir kali ia melihat tatapan bengis Halilintar sewaktu ia bertranformasi dari Petir menjadi Halilintar.

Mata Yaya sontak membulat dan jantungnya berdegup kencang.

"Cukup, Taufan! Kita hentikan serangan!" sergah Gempa.

"Hei! Ini masih seru tau hahaha!" balas Taufan.

Mendengar pernyataan Taufan, membuat Ying kesal. Gadis china itu langsung menghentikan diameter waktunya.

Pasir langsung berjatuhan begitu Gempa mengendalikannya. Hal itu membuat BoBoiBoy bertopi miring di sampingnya sontak menatap tajam ke arah BoBoiBoy bertopi terbalik. Pusaran angin telah berhenti.

"Hei! Apa yang kau lakukan?! Jangan menghentikan aksi seruku!" gertak Taufan.

"Itu sudah cukup, Taufan!" balas Gempa tak kalah keras.

Badan Adu Du lalu berputar-putar. Alien itu merasakan pusing luar biasa dan langsung terjatuh di atas tanah dengan kondisi tak sadarkan diri.

"Oh, bilang saja kau iri dengan kekuatanku," ucap Taufan dengan nada meremehkan.

"Siapa juga yang iri?" balas Gempa.

"Lalu kenapa kau menghentikan permainanku?!" ucap Taufan lalu mendorong kedua pundak Gempa.

"Karena menurutku kau sudah keterlaluan," balas Gempa sengit.

Ying yang berada di depan Taufan dan Gempa, hanya gelagapan melihat tingkah mereka berdua. Tidak biasanya BoBoiBoy Elemental saling bertengkar satu sama lain.

Kecuali pada waktu Petir diculik dan Angin bertranformasi.

Taufan bersiap-siap membuat gerudi taufan di tangannya. Gempa terlihat ingin sekali mengeluarkan pencengkeram tanah.

"Sudahlah, hentikan kalian berdua. Adu Du dan Probe sudah berhenti menyerang," lerai Ying.

"Huh! Tadi minta tolong. Kenapa sekarang malah membela yang jahat?!" protes Taufan.

"Bukannya begitu!" balas Ying yang emosinya mulai tersulut.

"CAKERA UDARA!"

Tanpa sangka-sangka, Taufan melancarkan serangannya kepada Ying. Tidak sempat mengelak, Ying terseret cukup jauh dan ia merintih kesakitan. Yaya dan Gopal hanya terkaget-kaget melihat teman baiknya menyerang Ying.

"Beraninya kau! TANAH PENCENGKERAM!" seru Gempa.

Taufan dengan gesitnya terbang mengendarai hooverboard-nya. Serangan Gempa tidak sempat mengenai tubuh Taufan.

"PUSARAN TAUFAN!"

"TANAH PELINDUNG!"

"GERUDI TAUFAN!"

"Cukup! Berhenti, BoBoiBoy!" seru Gopal.

"TIDAK!" balas Taufan dan Gempa secara bersamaan.

Taufan dan Gempa saling berpandangan dengan tatapan kaget. Halilintar hanya menengok tajam ke arah Gopal. Mereka semua merasa terpanggil oleh Gopal. Persis seperti guru mengabsen muridnya.

"Hei, akulah BoBoiBoy!" ucap Taufan.

"Peniru! Akulah BoBoiBoy!" balas Gempa tidak mau kalah.

"DIAM! Akulah BoBoiBoy! Siapa kalian sebenarnya?!" teriak Halilintar tiba-tiba seraya menunjuk dirinya sendiri.

"Heh! Tidak usah ikut-ikutan!" balas Taufan emosi kepada Halilintar.

"HALILINTAR SLASH!"

Halilintar mengeluarkan pedangnya dan menyayat Taufan tepat di bagian lengan.

"AAAKHH!"

"Hei! Jangan lakukan itu!" larang Gempa.

"Apa urusanmu, hah?!" balas Halilintar.

Halilintar dan Gempa saling memandang dengan tatapan benci. Yaya, Ying, dan Gopal merasakan hawa yang sangat mencekam walaupun hari ini masih pagi.

"Sudah berhenti! Kalianlah BoBoiBoy!" lerai Yaya.

Entah sudah beberapa orang yang mengaku dirinya BoBoiBoy atau menunjuk mereka bertiga adalah BoBoiBoy, membuat Halilintar semakin emosi.

"BOLA KILAT!"

Sebuah sinar berbentuk bola didominasi oleh halilintar merah, meluncur dari tangan Halilintar dan mengenai Yaya.

"KAK YAYAAAAA!" ucap Ying histeris.

"YING! GOPAL! TAHAN PARA BOBOIBOY!" komando Ochobot.

"A-apa?"

"TUMBUKAN TANAH!"

"PERISAI TAUFAN!"

"RETAKAN HALILINTAR!"

"C-CEPAT, GOPAL!"

"A-aku takut, Ying!"

222

Rasanya ada yang menggoyangkan tubuh Fang dengan kasar.

"Bangun, Fang! Banguuun!"

Sayup-sayup ia mendengar suara Ochobot memanggilnya. Perlahan, pemuda berkacamata itu membuka matanya.

Fang mencoba membuka mulutnya.

"A-Apa... yang... terjadi?"

Pusing masih melanda di kepalanya.

"BoBoiBoy menjadi kacau! Kau harus menghentikannya!" ucap Ochobot panik.

Mendengar nama adiknya, tubuh Fang mendadak bangun dan langsung tegap. Ia menengok ke arah lapangan yang rumputnya masih dibasahi embun.

Tapi malangnya, embun sudah hilang diantara rumput-rumput yang perlahan mulai rusak.

Fang berharap apa yang ia lihat ke depan adalah mimpi.

Yaya melayangkan tinjuannya di wajah Halilintar. Lalu dibalas lagi oleh Halilintar.

Ying menahan kaki Taufan. Taufan menjambak rambut Ying.

Gopal memeluk Gempa dari belakang. Berusaha menahan Gempa yang meronta-ronta dengan ganas.

"JARI BAYANG!"

Melihat teman-temannya dalam kesulitan, Fang langsung mengeluarkan kuasa bayangnya. Jari-jari tangan berbentuk bayangan hitam langsung menahan masing-masing kedua tangan Halilintar, Taufan, dan Gempa.

"HEI! LEPASKAN AKU!" serentak para BoBoiBoy.

"Fang!" ucap Yaya, Ying, dan Gopal lega melihat temannya sudah sadar.

"Tolonglah kita, Kak Fang. Huhuhuhu. BoBoiBoy kembali seperti dulu. Mereka menjadi pelupa," ucap Gopal dramatis.

DEG!

apa jangan-jangan...

Alzheimer itu...

Fang mendadak ingat bahwa BoBoiBoy terkena Alzheimer. Kenapa penyakit sialan itu harus muncul di saat kondisi seperti ini?

Fang takut, setelah BoBoiBoy lupa dengan pecahannya, saat ini juga BoBoiBoy lupa dengan dia dan teman-temannya.

Tubuh Fang menjadi sedikit bergetar.

"KAK FANG! CEPAT LAKUKAN SESUATU!" teriak Ying membuyarkan lamunan Fang.

Fang menatap dingin ke arah Ying. Pemuda itu lalu berjalan menghadap para BoBoiBoy.

"Lepaskan kami, penjahat!" ucap Halilintar tajam sambil terus memberontak dari tahanan jari bayang.

Bahkan ia memanggil kakaknya dengan sebutan penjahat.

Lupakan sakit hati, Fang. Saat ini kau harus fokus.

"Dengar! Kalian harus bercantum seperti semula!" perintah Fang.

"Hah? Bercantum? Pffft, kita berbeda tahu!" ucap Taufan dengan nada canda.

"Kalau kalian berbeda, beri tahu aku, yang mana BoBoiBoy?" balas Fang.

"AKU!"

Sekali lagi, Halilintar, Taufan, dan Gempa serempak berbicara.

"Akh! Kalian semua penipu!" tuduh Halilintar.

"Tidak! Akulah BoBoiBoy!" ucap Gempa.

"Kalian dengar sendiri kan? Nama kalian adalah BoBoiBoy. Kalian harus bersatu seperti semula. Kalian akan menjadi satu kesatuan," ucap Fang.

"Sok tahu," cibir Taufan.

Sebuah perempatan imajiner muncul di kepala Fang. Lalu Fang mengeraskan genggaman jari-jari bayangnya.

"AAAAAKKKHHH!" teriak para BoBoiBoy kesakitan.

"Fang! Bersabarlah!" ucap Yaya khawatir melihat para BoBoiBoy kesakitan.

"Tolonglah. Percaya padaku. Kalian adalah elemental BoBoiBoy," ucap Fang dengan nada mulai pasrah.

"Aku perlu bukti," tantang Halilintar.

Sontak keadaan membisu. Percuma saja menjelaskan panjang lebar. Karena kenyataanya, Yaya dan yang lainnya sudah lelah. Jika merespon Halilintar, pasti akan berujung pada perdebatan.

Cukup lama mereka semua diam, sampai akhirnya Ochobot melayang di depan para BoBoiBoy. Robot kuning itu menanyangkan beberapa photo slide BoBoiBoy bersama orang-orang terdekatnya di layar transparan yang dikeluarkan melalui mata birunya.

Halilintar, Taufan, dan Gempa serius melihat tayangan di depan mata mereka.

"Di hadapan kalian adalah teman-teman kalian sendiri. Orang yang mengeluarkan jari bayang ini, adalah Fang. Kakak kalian," jelas Ochobot.

Para BoBoiBoy kompak menengok ke arah Fang yang sedari tadi menampilkan wajah jutek.

"Ah, tidak percaya," celetuk Taufan.

Gopal nyaris pingsan mendengar pernyataan Taufan. Sampai kapan ia dan teman-temannya harus menahan BoBoiBoy? Harus diapakan lagi supaya BoBoiBoy percaya?

"Aku rasa, robot itu ada benarnya. Aku merasa, kita adalah BoBoiBoy," ucap Gempa berusaha mempercayai firasatnya.

Ekspresi Halilintar dan Taufan langsung melunak. Mereka sedikit membenarkan perkataan Gempa.

"Bersatulah. Kalian akan baik-baik saja," ucap Fang lalu ia menghilangkan jari-jari bayangnya.

Halilintar, Taufan, dan Gempa saling berpandangan gengsi.

Setelah itu, mereka saling memunggungi satu sama lain membentuk formasi segitiga.

"Sampai kapan ini akan berakhir?!" jerit Ying pelan.

Fang berjalan mengelilingi para BoBoiBoy seraya memandangi mata mereka satu per satu.

"Tolonglah. Ini demi kebaikan kalian juga. Bersatulah. Kalian semua baik. Tidak ada musuh diantara kalian," bujuk Fang.

Perlahan, mereka memutar tubuh mereka lalu saling berhadapan.

"BoBoiBoy cantum semula!" komando Gempa.

Tubuh Halilintar dan Taufan meloncat ke tubuh Gempa. Sinar kecil mengelilingi tubuh Gempa.

Yaya, Ying, Gopal, dan Fang serentak mengeluarkan nafas lega setelah melihat bocah bertopi oranye di hadapan mereka.

"Yey! Kita berhasil!" sorak Yaya.

"Syukurlah," ucap Ochobot.

Tetapi Fang merasakan sesuatu yang aneh pada BoBoiBoy.

"BoBoiBoy?" panggil Fang.

BoBoiBoy tidak merespon panggilan kakaknya. Fang berjalan pelan mendekati punggung BoBoiBoy.

Tanpa disangka, tubuh BoBoiBoy oleng.

"BOBOIBOY!" teriak Yaya, Ochobot, Ying, dan Gopal.

Fang dengan sigap menahan tubuh BoBoiBoy sebelum jatuh mencium tanah lapang.

BoBoiBoy terlihat sedang bersusah payah untuk mengambil nafas. Tangannya mencengkeram kuat bagian dadanya yang naik turun. Wajahnya pucat pasi.

"K-kau kenapa, BoBoiBoy?" tanya Fang gelagapan.

Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis BoBoiBoy.

Fang meneliti BoBoiBoy dari kepala sampai kaki. Ia menyadari luka yang terbuka di bagian salah satu lengannya dan beberapa lebam tipis di wajahnya.

Fang mempunyai firasat buruk terhadap adiknya. BoBoiBoy sedang sakit dan ia membutuhkan pertolongan.

Fang merasakan rasa ketakutan yang luar biasa.

"GERAKAN BAYANG!"

Fang menggendong BoBoiBoy dengan bridal style dan langsung berlari dengan kecepatan sepenuh mungkin dengan kuasa bayangnya.

Tujuan utamanya saat ini ialah Rumah Sakit Pulau Rintis.

Jalanan mulai ramai diisi oleh banyak orang. Tetapi itu tidak mengganggu perjalanan Fang karena ia melewati space yang mulus diantara orang-orang.

"Hhhh... hhhh..."

Semakin BoBoiBoy kesulitan mengambil nafas, membuat Fang semakin panik.

"Hhh... K-Kak... Fang... sudah... hhh... tahu... dari... dokter... hhhh... hhhh... Tadashi?" ucap BoBoiBoy di sela-sela kesulitannya.

"DIAM KAU!" gertak Fang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N: Duaaaarr! Wkwkwk.

Oiya, sekedar memberi tahu bahwa Author bukanlah dokter yang tahu seluk-beluk tentang penyakit. Saya cuma mengambil garis besarnya bahwa Alzheimer merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Penyakit ini ditandai dengan gejala Demensia Alzheimer yaitu berupa gangguan memori (Sumber: Wikipedia). Sisanya saya kembangkan sendiri menurut imajinasi gila saya. Jadi ada sebagian imajinasi, sebagian fakta. So, jangan miss understanding yaaa :).

Author mau tanya, biasanya kalian membaca fanfiction net lewat laptop/komputer, browser di hp/tab, atau aplikasi ffn di android? Silahkan jawab yaaa sambil nge-review.

Kritik dan saran saya terima dengan senang hati. Beritahu saya juga kalian mau BoBoiBoy menderita seperti apa *dihantam giga.

Saya sangat menghargai Para Silent Reader yang sudah mau mengaku dan gak cuma numpang lewat di ff ini :D.