Love Experiment
EXO's Fanfiction
ANNOTATION
Ide cerita sepenuhnya milik ©Curloey Smurf.
Apabila tokoh, alur, tipe cerita, dll kurang berkenan. Cukup klik icon silang di halaman. Saya tidak menuntut review, tapi apabila berkenan untuk masukan yang membangun FF ini saya akan dengan senang hati menerimanya
Hanya sebatas manusia biasa, typos, sedih dapat bash, kemampuan berhayal terbatas, fiktif keterlaluan dll. Jadi mohon pengertiannya. Thank You~
Don't copas and be a plagiarist.
This is an EXO's fanfiction, Genderswitch, Byun Baekhyun, Park Chanyeol as main cast, other EXO member, guest star (?), etc as support cast. Pairing Chanbaek, Kaisoo, Hunhan. Genre Romance, Friendship. Length: ?. Rate: T.
I'm not a writer but I love to write.
e)(o
Sepertinya aku terkena karma karena terlalu sering bermain-main dengan perasaan seseorang. Tapi jika setelah itu aku dimaafkan maka tidak apa.
Aku akan bertahan pada pria tidak peka ini.
-Byun Baekhyun-
.
"Menunggu kekasihmu Park?"
"Aniya."
"Sepertinya kekasihmu tidak akan datang malam ini. Apa dia tidak memberi kabar?" Song Minho menaik turunkan alisnya.
"Musun! Berhenti menggangguku, kembalilah bekerja."
Minho tertawa melihat kegugupan rekan kerjanya itu. "Kau mudah sekali ditebak. Jadi apa hubunganmu dengan nona itu huh?"
"Apa maksudmu?"
Song minho mengepalkan kedua tangannya di depan bibirnya. "Chanyeola~ Chanyeola~ ommo!" Ucapnya menirukan suara Baekhyun, jelas tidak mirip sama sekali.
"Yaish!"
"Sebentar lagi shiftmu berakhir dan gadis itu belum muncul. Mungkin ia sudah bosan dengan pria dingin sepertimu?"
"Aniya, mungkin Baekhyun sedang sibuk."
Minho tidak bisa menahan tawanya. Beruntung hari ini club sedang sepi pengunjung. "Jadi benar kau menunggunya huh? Dan namanya Baekhyun? Aigoo, lucu sekali Park Chanyeol-ssi ini."
"Lima menit lagi shiftku berakhir. Aku akan mengganti baju sekarang."
"Park Chanyeol! Ya!"
Pria berambut kelam itu menghela nafas. Berulang kali ia melihat ke arah ponselnya, memastikan apa yang dilihatnya. Tidak ada satupun notifikasi di sana.
"Neo eoddiya Baek?" gumamnya tanpa sadar.
Mengabaikan fakta seberapa sering ia merasa frustasi ketika si mungil berada di sekitarnya.
e)(o
"Arrh! Kkapjagiya!"
"Aigoo, suaramu benar-benar mengejutkanku!"
"Baek? Apa yang kau lakukan di sini?"
Chanyeol menghentikan kegiatannya menyirami tanaman di taman belakang mansion tempatnya bekerja.
"Nan? Tentu saja menemuimu."
"Kau tidak menghubungiku sama sekali kemarin dan sekarang tiba-tiba muncul di sini?"
"Apa kau menungguku semalam?" Baekhyun tidak bisa menahan senyum lebarnya. Jari telunjuknya bergerak menusuk-nusuk pelan lengan Chanyeol. "Temanku membuat ulah semalam dan aku harus membantunya."
"Ah, tapi bagaimana kau bisa masuk ke tempat ini?"
Baekhyun mendudukkan dirinya di samping Chanyeol.
"Ini mansion temanku."
"Huh?"
"Aku juga baru sadar kau bekerja di sini. Namanya Kyungsoo. Kau pasti sudah pernah melihatnya bukan atau setidaknya mendengar namanya."
Chanyeol mengernyit bingung. "Aku hanya bekerja di kebun jadi aku tidak tahu. Apa ia anak pemilik mansion ini?" Baekhyun menggeleng.
"Ini mansion kakeknya. Temanku sedang melarikan diri dari kejaran appanya dan ini adalah tempat teraman."
"Huh?"
"Hubungan appa dan kakek Kyungsoo tidak begitu baik. Jadi ini tempat yang aman untuk bersembunyi."
"Baek? Ya! Nona Byun? Apa kau mendengarku? Kau dimana? Baek!"
"Ups, sepertinya Luhan mencariku. Aku akan menemuimu nanti di KAIST. Na kanda."
"Baek?"
"Huh?"
"Aku yang akan menemuimu di Yonsei nanti. Jadi jangan membolos kuliah hari ini." Baekhyun mengerjapkan matanya bingung.
"Aku tidak sengaja membaca daftar kehadiranmu di kelas. Mulai sekarang aku yang akan menjemputmu jadi pastikan kau berada di Yonsei saat aku tiba."
Baekhyun terkikik. "Arraseo."
e)(o
"Tunggu, kau tadi bilang akan kemana?"
"Kampus."
Kyungsoo menghentikan kegiatannya memasukkan nasi ke dalam mangkuk. Luhan menatap Baekhyun sebelum terbahak keras. "Itu lucu sekali Baek! Astaga, aku baru tahu kalau kau ternyata selucu ini." Dahi Baekhyun berkerut.
"Apanya yang lucu?"
"Kau sedang bercanda bukan? Kau bilang akan berangkat ke kampus sepagi ini! Itu sungguh lucu!"
Baekhyun menghela nafas jengah. "Tapi aku tidak sedang bercanda Lu."
"Su-sungguhan? Kampus mana yang kau maksud? Ah, KAIST? Menemui kekasih yang kau sembunyikan itu?"
"Musun! Tentu saja Yonsei! Soo, aku tidak akan sarapan pagi ini. Kelas pagiku akan segera dimulai, aku bisa terlambat. Na kanda!"
"Apa barusan aku mendengar Baekhyun mengatakan kelasku? Yonsei? Yonsei universitas kita bukan?"
Kyungsoo mengangguk kaku. "Kurasa aku juga mendengar hal yang sama."
"Daebak!"
Percakapan mereka dapat memberikan petunjuk seberapa sering Baekhyun mangkir dari jadwal kuliahnya bukan?
e)(o
"Hey! Do Kyungsoo!"
Kyungsoo menegang mendengar namanya dipanggil dengan suara lantang. Ia memilih untuk mengambil seribu langkah menjauh sebelum pemilik suara itu mendekat. Alih-alih melarikan diri, Kyungsoo justru melempar dirinya sendiri ke arah lain. Astigmatisme yang dideritanya memperburuk keadaan, ia salah mengenali asal pemilik suara.
"Jadi, bisa kita bicara sekarang?"
"Aniya, aku sangat sibuk."
"Apa kau tidak memerlukan ponselmu lagi?" Kyungsoo melotot terkejut.
"Kau tahu dimana ponselku berada?" tanya Kyungsoo cepat.
Jongin mengangguk. "Ya, tadinya aku mencarimu untuk mengembalikan benda itu. Kau meninggalkannya kemarin." Kyungsoo mengulurkan tangannya.
"Kembalikan padaku."
"Aku meninggalkannya di mobilku. Mau mengambilnya? Darawa."
Kyungsoo mendesis. "Wae? Tidak mau ponselmu kembali?"
e)(o
Suasana sebuah rumah bernuansa Eropa tua nampak sepi. Rumah sederhana itu terletak dipinggiran kota, wajar jika kabut tebal mengitari rumah itu mengingat tidak banyak penduduk yang ada di wilayah itu sehingga peneranganpun jumlahnya minim. Seorang wanita tua tengah duduk di kursi goyang yang menghadap ke danau depan rumah itu. Tak jauh dari wanita itu, seorang laki-laki yang nampak lebih muda berdiri di depan perapian. Di lengannya tersampir sebuah mantel berwarna cokelat tua.
"Will you be okay?"
Wanita paruh baya itu tersenyum menenangkan. "There's nothing to worry about. Just like what you've said before."
"Okay, i'll be back as soon as possible." Si pria menghela nafas sebelum merespon. Dikenakannya mantel yang tadi tersampir di lengan.
"Jesp, there's someone behind you."
"Aaaaaaaaaarh!"
Baekhyun tertawa puas saat melihat ekspresi ketakutan Luhan. Sebenarnya ia hanya meletakkan tangannya di bahu teman karibnya.
"Yaish!"
"Kau serius sekali Lu. Itu hanya film, tidak ada hantu sungguhan!"
"Geundae, kenapa kau tiba-tiba memintaku pulang tapi justru tidak ada di apartemen?" Luhan menutup paksa laptopnya.
Baekhyun melompati sova sebelum menempatkan diri tepat disisi Luhan. "Aku tadi melihat Kyungsoo." Sebelah alis Luhan tertarik ke atas.
"Aku juga melihatnya pagi tadi, kemarin, kemarinnya lagi."
Baekhyun memutar bola mata malas. "Bersama Jongin di tempat parkir. Kyungsoo pergi bersama Jongin dengan mobil Jongin dan dia meninggalkan mata kuliah umum yang jadwalnya sama denganku. Menurutmu, kemana mereka akan pergi?"
"Apa mereka akan pergi berkencan?"
"Itu mustahil."
e)(o
"Apa itu mungkin?" Baekhyun menelengkan kepalanya. Jemarinya masih bergerak mencabuti asal rumput dihadapannya.
"Mwo?"
Ditatapnya pria yang kini sibuk menyiangi rumput dengan alat pemotong. "Seseorang berubah begitu drastis dalam waktu singkat. Apa itu mungkin?" Chanyeol, pria itu, mematikan mesin pemotong rumputnya.
"Kenapa tidak mungkin? Sesuatu bisa saja terjadi dan mengubah ini dan itu. Tentu saja hal-hal seperti itu bisa terjadi kapan saja."
"Benarkah?"
"Geundae, kenapa kau sering sekali mengunjungiku di pagi hari seperti ini? Apa kau tidak punya jadwal kuliah pagi?"
Baekhyun meringis. "Isseoyo, tapi aku malas sekali berangkat pagi ini."
"Baek, apa kataku soal jangan membolos kuliah?"
"Arraseo, arra. Hanya hari ini. Aku memiliki banyak hal yang harus ku pikirkan. Percuma saja jika berangkat kuliah tapi tidak fokus."
Chanyeol berdecak, dilepasnya sarung tangannya sebelum bergerak mengacak surai Baekhyun. "Aigoo."
"Chanyeola."
"Huh?"
"Aku baru tahu kau punya sisi seperti itu?"
"Apa maksudmu?"
Baekhyun mengerling ke arah celana yang dipakai Chanyeol. "Awww, kau manis sekali sih."
"Ya! Ini karena aku tidak mungkin mengotori celana yang kupakai. Aku meminjamnya dari gudang." Chanyeol menepuk celana kain bermotif bunga berwarna merah muda yang kini ia pakai.
Baekhyun terbahak melihat telinga Chanyeol yang memerah.
e)(o
"Aku dengar dari boss kau mengundurkan diri?"
"Hum. Aku akan sibuk nantinya, jadi aku memang sengaja mengundurkan diri dari beberapa pekerjaanku."
"Dude! Memangnya apa yang akan kau lakukan?"
"Aku mendapat tawaran magang di perusahaan yang cukup besar. Tapi tenang saja, aku masih bekerja di club."
Song Minho menghela nafas kecewa. "Padahal kau yang membawaku ke restauran ini. Yah, kau tega sekali meninggalkanku." Chanyeol menggedikkan bahu lebarnya.
"Aku sudah memasuki semester akhir dan skripsiku sebentar lagi akan selesai. Kau juga, jangan hanya sibuk berkerja tapi perhatikan kuliahmu Minho-ya." Minho tertawa kecil.
"Ya ya, aku akan berusaha mengingat pesanmu."
"Memangnya perusahaan apa yang menawarimu itu?"
"General Mills, Inc."
"Mwo? Yaaa, daebak! Yeoksi uri Park Chanyeol."
"Kau berlebihan. Ah, aku akan pulang sekarang. Jadi bekerjalah dengan baik Song Minho-ssi!"
"Ya! Kau meninggalkanku seperti ini? Tidakkah kau berencana untuk mentratirku sebagai ucapan perpisahan?"
"Kkaebul! Kita masih bertemu besok malam di shift yang sama."
"Ya!"
"Arraseo, aku akan mengatur pesta perpisahan."
"Yea!"
e)(o
"Jadi, kemana kau pergi kemarin huh?"
Dahi Kyungsoo berkerut. "Aku? Ke kampus, bukankah kita bertemu di kampus. Dan jauhkan wajah kalian! Menggelikan!"
"Arra, maksudku dua hari yang lalu. Kau dan Jongin pergi kemana?"
Wajah Kyungsoo tiba-tiba berubah menjadi merah padam. Jari telunjuknya menuding ke arah Baekhyun.
"Ya! Ini semua salahmu!"
"W-wae na?"
"Kau yang mengusulkan untuk memanfaatkan Jongin."
"Geuraseo wae? Bukankah kau juga menyetujuinya kemarin?"
"Ah molla!"
"Apa terjadi sesuatu Soo?"
Kyungsoo mengangguk kaku. Tatapannya terlihat kosong.
"Jadi, dimana ponselku?"
"Kau tidak mau masuk?"
Jongin menunjuk ke arah mobilnya.
"Aniya, aku akan menunggu di luar."
"Geurae." Pria itu menghilang dibalik mobil selama beberapa menit.
"Wae?"
"Sepertinya ponselmu tertinggal di apartemenku. Kau mau mengambilnya? Masuklah!"
Dahi Kyungsoo berkerut, ia tidak menyukai ide itu. Jongin dimatanya adalah seseorang yang penuh dengan tipu muslihat. Sulit sekali untuk mempercayai pria ini tidak akan memanfaatkan keadaan.
"Tak bisakah kau mengambilkannya lalu kembali ke Yonsei?" Sebelah alis Jongin tertarik ke atas.
"Untuk apa aku melakukannya?"
"Kau tidak memiliki kelas setelah ini?"
"Tidak. Barusan itu kelas terakhirku."
Kyungsoo menghela nafas.
"Geurae, bisa kau membawakannya besok saja?"
"Kau yakin tidak mau mengambilnya sekarang? Ponselmu terus menerus berbunyi dan itu sedikit menggangguku. Ah, appamu juga terus menelfon. Aku juga sempat melemparnya, maksudku secara tidak sengaja karena ponselmu begitu berisik." Jongin meringis.
"Apa kau menjawabnya?"
"Huh?"
"Panggilan dari appaku?"
"Ah, ya aku menjawabnya karena orang itu terus menelfon, maksudku appamu." Kyungsoo menatap Jongin was-was.
"Kajja, aku harus mendapatkan ponselku hari ini."
"Ne? A-ah, masuklah. Kita ke apartemenku."
Kyungsoo mungkin terlalu panik untuk menyadari seringai Jongin. Ia bahkan terlalu panik untuk berfikir jernih jika ponselnya selalu berada dalam mode silent. Atau mungkin Jongin dengan segala tipu muslihatnya yang selalu berhasil mengelabui seseorang.
Tak butuh waktu lama untuk keduanya sampai di sebuah bangunan mewah berlantai 10 di kawasan elite Seoul. Kyungsoo mengeratkan pegangannya pada ransel yang ia kenakan. Dalam diam ia merutuki seberapa mudah dirinya terhasut. Hal ini juga sering terjadi jika ia bersama Baekhyun.
"Kenapa diam saja?"
"Uh huh? Ah ye."
"Chakkaman, kau bisa naik ke atas lebih dulu. Kamar apartemenku ada di lantai 4, ini keycardnya, jika keycard itu bermasalah gunakan password 120114. Aku akan segera kembali."
"Y-ya! Jongin-ssi, aku-" Pria itu sudah menghilang dibalik pintu lobi.
Kyungsoo memperhatikan keycard di tangannya. Menimang apakah ia harus ke sana lebih dahulu atau menunggu Jongin saja. Tapi sepuluh menit sudah berlalu dan Jongin belum juga kembali. Akhirnya ia memutuskan untuk ke apartemen Jongin duluan. Ia berpikir mungkin saja ia menemukan ponselnya dengan mudah lalu pulang.
Begitu memasuki kawasan apartemen Jongin Kyungsoo langsung mengernyit jijik. Betapa berantakannya tempat itu. Kyungsoo bahkan harus sedikit berjingkat saat berjalan menuju ruang tamu di apartemen itu. apartemen Jongin sangat luas, bahkan ada dua lantai. Ia bisa melihat beberapa ruangan bahkan dari sova yang ada di ruang tamu sekalipun. Tapi sepertinya tak satu pun dari ruangan itu yang layak untuk dihuni.
Kyungsoo mengerang kecil, Jongin lama sekali dan ia tidak tahan melihat kerusuhan di apartemen itu. Lalu tanpa sadar tangannya bergerak memunguti sampah dan pakaian yang tercecer dimana-mana. Salahkan Jongin yang memancing si clean freak Kyngsoo.
"Soo? Do Kyungsoo?"
Jongin mengerjapkan matanya melihat kondisi apartemennya yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Aaaarh! Kkajapgiya!" Seru Jongin terkejut saat tiba-tiba mendapati Kyungsoo muncul dari balik counter mini kitchen.
"Kau kemana saja huh?" Kyungsoo melirik Jongin sengit tanpa menghentikan kegiatannya mencuci beberapa peralatan makan.
"Nan?" Jongin tertawa kikuk. Tangannya mengangkat dua karton, satu berisi dua cup coffee, satunya boks pizza. "Tadinya aku berniat melakukan delivery order tapi ada sedikit masalah, jadi aku harus pergi sebentar."
Jongin meletakkan dua boks karton itu ke meja counter. "Lagi pula, apa yang kau lakukan di sana?" tanyanya setelah mendudukkan diri.
"Kau buta?" Jongin menggedikkan bahu.
"Aku akan mengganti pakaianku sebentar. Kau bisa meninggalkan pekerjaanmu."
"Soo! Apa kau masuk ke kamarku?" Teriak Jongin, Kyungsoo diam-diam menelan ludahnya gugup. Ia tidak bisa menahan diri membersihkan seluruh sudut apartemen ini. Lagi pula dari pada ia mati kebosanan menunggu Jongin yang pergi, ia melirik jam tangannya, terhitung dua jam lebih Jongin pergi.
"Jadi dimana ponselku? Aku bahkan sudah mencarinya ke kamarmu tapi tidak ada dimanapun." Kyungsoo menutup mulutnya, tidak seharusnya ia mengatakan bagian itu.
Jongin mendelik ke arah Kyungsoo. "Beberapa menit yang lalu kau bersikeras tidak masuk ke kamarku."
"Apa kau keberatan?" Kyungsoo melempar tatapan tajam.
"A-ani. Hahaha. Kamarku jadi bersih. Hahaha." Jongin tertawa kering.
Memutar bola mata malas, Kyungsoo kemudian melarikan tatapannya ke cup kopi yang dipegangnya. "Jadi dimana ponselku?"
"Aku lupa meletakkannya dimana." Jongin meringis.
"Ya! Neo!"
"Aku akan mencarikannya. Itu pasti ada di sekitar sini. Tak bisakah kita makan ini dulu?"
"Ya!"
"Aku benar-benar kelaparan."
Kyungsoo menghela nafas. "Cepatlah, aku harus segera kembali."
"Arraseo."
"Geundae, apa hubunganmu dengan Byun Baekhyun? Aku pernah melihat kalian berbicara serius di tempat parkir dan beberapa tempat di Yonsei."
Kyungsoo menatap Jongin. "Apa yang penting dari itu denganmu?"
"Keugae, geunyang. Ah, apa kau tahu kalau Baekhyun adalah mantan kekasihku?" Kyungsoo menyeringai.
"Ah, kau ingin kembali pada Byun Baekhyun." Jongin tertawa.
"Itu hal yang paling tidak ingin ku lakukan. Aku hanya bermain-main dengannya, dan aku juga tahu Baekhyun melakukan hal yang sama."
"Geurae? Apa hal seperti itu menyenangkan bagi kalian?" Jongin meneguk kopinya sedikit sebelum menatap Kyungsoo.
"Apa maksudmu?"
"Bermain-main dengan sebuah hubungan."
"Bukankah dengan begitu kau bisa mengenal banyak orang?"
Kyungsoo berdecak. "Ada apa dengan isi kepalamu? Ketika kau berkencan dengan seseorang kau sama sekali tidak melibatkan perasaanmu di dalamnya?"
"Ayolah, itu pemikiran kolot."
"Mau berkencan denganku?"
"Huh?" Jongin menatap Kyungsoo tak percaya.
Kyungsoo meletakkan cup kopinya. "Jika kau jatuh cinta padaku nantinya, jangan salahkan aku jika mematahkannya. Kau harus berjanji berhenti bermain-main dengan sebuah hubungan. Kekanakan sekali caramu itu." Kyungsoo mendekatkan dirinya ke arah Jongin membuat pria itu refleks memundurkan tubuhnya hingga terdesak di antara sova dan tubuh Kyungsoo.
"Aku mendapatkannya! Lain kali pastikan apartemenmu bersih jika seseorang akan bertamu." Kyungsoo menyeringai. Ia tadi hanya mengambil ponselnya yang berada di kantong celana Jongin. Pria itu pasti menyembunyikannya di sana sedari tadi.
Kyungsoo beranjak, mengambil mantel dan ranselnya. Berjalan ke arah pintu apartemen sebelum membalikkan badan. "Ah, keycardmu ku letakkan di counter dapur, dan pastikan kau mengganti password apartemenmu. Aku mungkin saja memberitahukan kawanan perampok tentang hal itu." Ucapnya main-main.
"Ani, itu tidak perlu."
"Huh?"
"Aku sengaja memberitahukannya padamu agar kau lebih sering berkunjung. Amteun, kau kekasihku sekarang." Wajah Kyungsoo memerah. Ia menyesali ucapannya sekarang.
.
.
.
"Mwo? Jadi kau berkencan dengan Jongin?"
Kyungsoo mengangguk kaku. "Kenapa aku melakukannya. Itu mengerikan sekali. Ah, jeongmal. Neomu pabo!" Gumam Kyungsoo frustasi.
"Aniya. Itu benar-benar keren!"
Kyungsoo menatap Baekhyun tajam. "M-maksudku kau benar-benar bodoh. Hahaha." Baekhyun diam-diam menjauh dari Kyungsoo.
"Aku ada janji dengan Chanyeol, na kanda!" Pekik Baekhyun.
"Ya! Chanyeol nugu?" Luhan berteriak.
"Kau salah dengar Lu, aku bilang ada janji dengan Chaeyeon! Teman sekelasku."
e)(o
"Apalagi kali ini huh?"
Chanyeol menepikan mobil Baekhyun. Ia tidak tahan dengan perubahan sikap Baekhyun yang mendadak. Gadis itu terus bergumam tak jelas lalu menghela nafas setelahnya.
"Aniya, geunyang. Ah matta, aku tadi pagi ke mansion kakek Kyungsoo dan kau tidak ada di sana. Kepala pelayan Kang bilang kau mengundurkan diri."
"Hum, aku juga mengundurkan diri dari pekerjaanku di restauran."
"Wae? Maksudku kenapa tiba-tiba?"
"Aku mendapat pekerjaan yang lebih bagus, ya walaupun dalam masa magang. Tapi mereka berjanji akan membuat kontrak jika kinerjaku selama magang bagus."
"Jinja? Eoddi?"
"General Mills, Inc."
"Daebak! Geundae, apa artinya kau akan semakin jarang berada di Seoul? Seoul-Daejeon cukup jauh."
Chanyeol mengangguk. "Dan aku akan sangat sibuk sekarang Baek. Tapi kita masih bisa bertemu di club jika kau datang." Baekhyun menghela nafas.
"Aku tidak bisa sering ke club sekarang. Luhan pasti mencurigai kita. Dan lagi, aku sejujurnya tidak suka kau bekerja di klub. Jika aku tidak datang pasti banyak ahjumma yang mengganggumu."
Sebelah alis Chanyeol tertarik ke atas. "Kenapa jadi terdengar seolah kita berselingkuh di belakang Luhan?" Baekhyun terkikik geli. Bahkan Chanyeol tidak pernah tahu siapa itu Luhan.
"Amteun, aku akan mencari cara agar kita tetap bisa sering bertemu."
"Jadi, kemana aku bisa mengantarmu? Ini minggu terakhir aku bisa mengantarmu kemanapun kau mau Baek, jadi manfaatkan dengan baik."
"Mwo?"
"Senin depan aku sudah mulai magang."
"Ya! Ini sudah akhir pekan. Kau baru memberitahuku? Ani, bahkan jika aku tidak mengungkitnya apa kau berniat memberitahuku?"
Jemari Chanyeol bergerak mencapit bibir Baekhyun yang mengerucut. "Aigoo, pemarah sekali gadis ini. Aku memang berencana memberitahumu hari ini. Jadi, dari pada menghabiskan waktu untuk marah, bagaimana kalau kita pergi sekarang hum?"
"Eoddi?"
"Kau yang menentukan Baek."
"Aku ingin ke Jeju."
"Haruskah kita ke sana?" Mata Baekhyun berbinar. Chanyeol menarik pipi tembam Baekhyun. "Eiy, kau pikir dimana itu Jeju huh? Pikirkan tempat lain."
"Kau menyebalkan Park."
"Aku tahu."
"Oh, bukankah itu Yunho sunbae?"
"Huh?"
"Benar-benar tampan! Chakkaman, aku akan menemuinya ini kesempatan bagus. Apa aku masih terlihat baik? Ah lipstick, aku harus memperbaikinya."
"Baek-"
"Tunggu di sini sebentar. Aku akan menyapa Yunho sunbae."
Chanyeol menghela nafas melihat kelakuan Baekhyun.
"Baek!"
"Wae? Yunho sunbae bisa pergi kalau aku tidak cepat."
"Geunyang, jangan membuat masalah." Baekhyun berdecak sebal.
"Naega aniya!"
e)(o
Baekhyun menggulung tubuhnya ke dalam selimut. Menggulingkan tubuhnya ke kanan lalu menyalakan ponselnya. Mendesah sebal, kali ini ia menggulingkan tubuhnya ke kiri.
"Ah wae?" gumamnya.
Ia melepaskan diri dari selimutnya lalu berdiri. Melangkah menuju dapur. Membuka kulkas. Meraih gelas kosong lalu menuangkan air ke dalamnya. Matanya melirik ke arah ponsel saat meneguk air dingin itu perlahan.
"Kau benar-benar akan mengabaikanku seperti ini?" Desisnya.
Meletakkan gelas ke wastafel. Membuka kulkas. Mengembalikan penyimpan air dingin lalu beralih menarik red velvet yang semalam dibeli Kyungsoo. Mengambil sepotong lalu meraih tiga cup ice cream. Melirik kembali ke arah ponselnya.
"Yaish!" pekiknya.
Dengan kaki menghentak, Baekhyun membawa dirinya menuju ruang tengah. Menyalakan TV keras-keras. Memilih channel, tapi sepertinya tidak ada yang menarik perhatiannya. Melempar remote TV lalu mulai menyendok red velvet dan es krim dihadapannya dengan suapan besar. Melirik ke ponselnya.
"Apa kau sesibuk itu hum?" Ucapnya setengah bergumam. Ujung matanya sudah berair.
Ya sebesar itu Chanyeol's effect pada seorang Byun baekhyun yang diidamkan oleh pria-pria Yonsei bahkan universitas lain. Sudah sejak beberapa hari belakangan pria itu tidak menghubunginya, ya hanya empat hari tepatnya. Gadis itu sudah berusaha menghubunginya tapi tak mendapat balasan. Ia bahkan datang ke club setiap hari tapi menurut temannya yang bernama Song Minho, Chanyeol sudah mengundurkan diri secara resmi –ia baru diberitahu pada hari ke empat-. Gadis itu bahkan nekat mendatangi kampusnya, padahal sudah tahu ia tidak akan ada di sana.
"Baek?" Panggil Kyungsoo yang baru datang bersama Luhan. Tidak mendapat jawaban ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
"Astaga Baek, apa kau menghabiskan semua itu sendiri? Lima cup es krim dan red velvet itu?" tanya Luhan.
"Tepatnya tiga potong Lu! Ia mengambil semua sisa kue semalam."
"Ommo! Baek! Kau baru saja memasukkan semua lemak-lemak itu ke dalam perutmu! Ah, hilang sudah julukan diva mu itu!" Pekik Luhan berlebihan.
Tadi Baekhyun kembali mengambil makanan itu dari kulkas setelah makanan yang ia bawa habis. Dan sebagai informasi, semalam Kyungsoo membawa satu loyang red velvet yang berisi lima potong kue, ketiganya memakan dua potong semalam, satu potong untuk Kyungsoo dan satu potong oleh Baekhyun dan Luhan –mereka sangat menjaga berat badan dan bentuk tubuh-.
"Daebak! Apa yang terjadi sampai-sampai diva Yonsei nekat berbuat seperti ini huh?"
Baekhyun menatap tajam Luhan. "Diva kkaebul! Buktinya aku masih ditolak." Sebelah alis Luhan terangkat.
"Ditolak? Nugu?"
"Park Chanyeol si menyebalkan itu!" Pekiknya marah tapi gadis itu malah terisak setelahnya membuat Luhan dan Kyungsoo kalang kabut. Baekhyun memang gadis yang gemar merengek, tapi ia sama sekali bukan tipe gadis yang cengeng. Ia hanya akan menangis dengan air mata palsu bukan terisak.
"Jadi, Park Chanyeol Chanyeol itu seorang bartender di Palaz?" Baekhyun mengangguk pada ucapan Luhan.
"Dan kalian sudah berkencan, tapi sekarang ia mengabaikanmu dengan alasan sedang sibuk magang?" Tanya Luhan lagi.
"Aniya."
"Kalian menghabiskan pekan bersama, saling menghubungi, Chanyeol menuruti semua permintaanmu, mendengarkan rengekanmu, bahkan bersabar dengan semua sikap konyolmu tapi kalian tidak berkencan? Daebak!" Kyungsoo menghela nafas prihatin. "Ya! Baek, bisakah aku menukar Jongin dengan pria bernama Chanyeol itu saja?"
Baekhyun melempar bantal berkekuatan penuh ke arah Kyungsoo. "Andwe! Jangan pernah mendekati Chanyeolku!"
"Chanyeolku kkaebul!" Ejek Luhan.
"Ya!"
"Kalian bahkan tidak berkencan." Luhan kembali berkomentar. "Ah, mungkin saja dia akhirnya jatuh cinta pada rekan kerjanya di tempat magang. Kau hanya memanfaatkannya Baek. Chanyeol pria normal, wajar saja kalau dia jatuh cinta pada rekan kerja yang selalu bersamanya bukan?"
"M-mwo? Andweyo! Aku tidak memanfaatkan Chanyeol. Kami berteman baik." Balas Baekhyun dengan mata yang kembali berair.
"Teman tidak perlu seperti itu Baek? Apa kekasih-kekasihmu sebelumnya memperlakukanmu sebaik itu?"
Baekhyun mencebikkan bibirnya. Luhan yang melihat ekspresi itu tertawa kecil. "Aniya? Aku benar bukan? Bahkan Sehun tidak sebaik itu padaku. Ia seringkali bersikap kekanakan, tapi aku mengerti ia memang lebih muda dariku. Jadi aku akan memahami keadaannya."
"Jongin hanya pria dungu yang suka mengganggu orang lain. Tidak mungkin ia memperlakukan Baekhyun sebaik itu. Astaga, bahkan aku kadang jengkel dengan rengekanmu."
"Geundae, aku dan Chanyeol berteman." Cicit Baekhyun.
"Apa kau bahkan menganggapnya seperti itu?" Luhan menepuk bahu Baekhyun. "Kau 100% hanya memafaatkan Chanyeol dengan alasan bertanggung jawab atas hal yang tidak ia lakukan Baek. Dasar lebah licik."
"Ah, kau bilang ia bahkan bekerja di 3 tempat sekaligus dalam satu hari bukan? Bisa kau bayangkan betapa melelahkannya menjadi pria Park itu? Ia bahkan berkuliah di KAIST dengan beasiswa penuh. Dan apa itu, ia mengambil jurusan teknik lingkungan? Apa kau tahu betapa sulitnya masuk ke sana? Sepupuku mengikuti 5 kali ujian masuk tapi tidak pernah berhasil sama sekali."
"Daebak! Kau mengenal pria miskin yang sungguh cerdas tapi hanya menjadikannya pesuruhmu. Kau akan menyesal Baek."
"Aniya. Chanyeola bukan pesuruhku. Kenapa kalian berkata seolah aku begitu buruk memperlakukan Chanyeol?"
"Oh dear, aku tidak bermaksud begitu. Tapi Baek, bagaimana kalau Chanyeol sungguhan melupakanmu karena ia berkencan dengan wanita yang ditemuinya di General Mills? Maksudku, kau tahu kan betapa besarnya perusahaan itu? Ia pasti merasa berat sekali, lalu ada wanita yang menyemangatinya di sana, aku yakin ia akan sangat lemah pada hal-hal seperti itu." Baekhyun menatap Luhan tak percaya.
"Kau hanya menakut-nakutiku Lu."
Luhan menggedikkan bahunya. "Untuk apa kau takut? Kalian kan hanya berteman." Kyungsoo menahan tawanya.
"Well, ini sudah larut. Besok aku harus berangkat pagi karena ada kelas. Istirahatlah Baek, kau nampak sangat, uhm, bukan diva Byun sekali. Good night!" Kyungsoo berlari kecil ke arah kamarnya sebelum tertawa puas melihat ekspresi Baekhyun yang menurutnya lucu.
"Nado Baek, aku tidak boleh tidur larut karena besok Sehun mengajakku kencan. Jadi, aku tidak ingin wajahku terlihat buruk. Good night dear!"
e)(o
"Baek?"
"..."
"Hey, apa kau marah?"
"..."
"Astaga, aku benar-benar minta maaf tidak bisa menghubungimu selama satu minggu belakangan."
"Uhm."
"Ah, maksudku dua minggu err atau lebih."
"Ku pikir kau sudah ditelan bumi Park!"
"Kau ingin begitu?"
"Aniya!" Pekik Baekhyun, Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya.
Jika ditanya seperti apa keadaanya saat ini. Ia merasa -dari dua pekan terakhir ini- hari ini adalah hari paling indah. Mendengar suara rengekan Baekhyun adalah hal yang paling diinginkannya sejak dua minggu belakangan.
"Kau tidak perlu khawatir soal itu Baek."
"..."
"Baek?"
"Hum?"
"Apa kabar?"
Baekhyun tersenyum lebar mendengar suara berat tapi terkesan lembut itu untuk pertama kalinya, sejak dua minggu lalu. "Aku sangat baik." Malam ini, lanjutnya dalam hati.
"Benarkah?"
"Hum, untuk apa aku berbohong padamu. Neo?"
"Nan? Ah, di sini banyak sekali rekanku yang cantik tentu saja aku baik-baik saja." Baekhyun berdecak. Ia tahu Chanyeol hanya menggodanya. Dan itu berhasil tentu saja.
"Tentu saja, makanya kau tidak menghubungiku sama sekali." Sindir Baekhyun, Chanyeol tertawa.
"Jangan mengungkitnya lagi."
"..."
"Baek?"
"Hum."
"Aku merindukanmu." Baekhyun segera melesakkan wajahnya ke atas permukaan bantalnya untuk meredam pekikkannya. Ini sudah lewat tengah malam, Luhan dan Kyungsoo dipastikan akan mangumpatinya jika berteriak.
"Kkaebul!" Tentu saja, harga diri Baekhyun jauh –sangat jauh- jika dibandingkan dengan tinggi badannya.
Chanyeol terkekeh. "Ah, aku akan menjelaskan sesuatu."
"Mwo?"
"Belakangan aku sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat menghubungimu. Aku bahkan sering meninggalkan jam makan siang karenanya. Kau tahu, menjadi karyawan magang sedikit yah, melelahkan. Aku pulang larut malam lalu tertidur sampai pagi karena kelelahan bahkan di akhir pekan sekalipun, terus berulang. Dua pekan ini perusahaan sedang mempersiapkan audit besar-besaran."
"Arra. Aku hanya sedikit uhm cemas."
"Tapi sekarang sudah tidak lagi. Audit sudah berakhir. Aku akan lebih sering bekerja di lapangan mulai sekarang dan itu artinya aku akan memiliki waktu untuk menghubungimu."
"Gomawo Chanyeola."
"Astaga, kau tahu betapa aku merindukan suaramu memanggil namaku seperti itu Baek?"
"Tentu saja kau harus melakukannya!"
"Ah, bagaimana dengan Yunho sunbaemu huh?"
"Huh? Ah, Yunho sunbae? Dia baik, kami sering bicara sejak aku menyapanya. Tapi tidak ada yang istimewa, ia hanya memperlakukanku sebagai hoobae sama seperti yang lain."
"Ah benarkah?"
"Lalu bagaimana dengan rekan-rekan cantikmu itu huh?"
"Ah, matta. Ada satu senior yang membuatku tertarik. Namanya Kim Minseok. Minseok noona itu cantik sekali."
"Benarkah?"
"Hum, dia juga banyak membantuku selama dua minggu ini. Ia bekerja di departemen yang sama denganku. Ah, andai saja ia belum memiliki teman kencan aku akan mengencaninya."
"Apa ia sudah memiliki ehm teman kencan?"
"Molla, aku tidak berani bertanya. Minseok noona juga baik sekali... Baek? Apa kau masih di sana?"
"Heung? A-ah aku sedikit mengantuk Chan."
"Benarkah? Tidurlah Baek, aku akan menghubungimu lagi lain kali."
"Mianhae Chan."
"Aniya. Jja, tidurlah. Jaljayo."
"Neo-do."
.
To Be Continue
e)(o
[Interaction Corner]
Terima kasih atas review, follow dan favouritenya.
Spesial untuk kalian.
neomuchanbaek1 : Haha makasih, Baekhyun sama Chanyeol emang menggemaskan dari sananya kok Ehe. :)) Saya terharu kamu review setiap chapternya. Hwhwhw Thank you!
kepala jamur : Terima kasih. Saya juga suka review kamu hwhwhwh
babybaekchan : Baekhyun suka labil emang, padahal Chanyeol itu punyaku. *Eh Thank you udah review!
parkobyunxo : Iya, kita strong kok. Sebenernya saya bikin FF ini jadi satu word dan emang gak dipisah per chap nya jadi beginilah pembagian per chap nya gak adil. Mau di post satu chap saja kepanjangan wkwk. Emang kok, jones itu bisa terhibur kalau ngeliat Chanbaek. Adem bawaanya. Hwhwhw Thank you!
Sebentar lagi bakalan sampai ke konflik utamanya dan segera end (padahal saya belum ngetik wkwk). Sejujurnya saya sempat kepikiran buat discontinued FF ini terus saya delete. Tapi saya juga pembaca yang suka sedih kalau lagi baca FF tapi tiba-tiba discontinued ya sudah saya batalkan niat saya. Mungkin akan segera saya selesaikan saja. Saya tahu FF ini alurnya ngebosenin minta ampun (ini penyebab saya punya niat discontinued). Tapi kalian masih mau baca dan bahkan komen seriusan saya terharu. Love ya all~
.
Ehiya, ada Hansoo shipper di sini? Saya lagi nyari FF Hansoo (lupa author dan judulnya) yang ceritanya Kyungsoo jadi baby sitter anaknya Luhan sama Baekhyun terus Kyungsoo dijodohkan sama Sehun. Tapi endingnya Hansoo. Saya nyari berkali-kali FF itu tapi belum ketemu, clueless wkwk. Waktu saya baca itu dulu belum punya akun jadi gak bisa favourite. T T kalau ada yang tahu, mohon petunjuknya. Terima kasih.
Enjoy!
Sincerely,
Curloey Smurf
