YOURS

By Aoi

Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi

Warn: Semi!AU AominexReader! Typo! OOC!

Summary: Dia muncul tiba-tiba di kamarku. Aku tidak tahu alasan dia berada disini. Tapi aku terlalu bahagia hingga melupakan fakta kenapa dia ada disini. Kenapa berada di kamarku. Kenapa berada di dunia ini. Hanya saja, aku merasa takut dia menghilang. Perasaan apa yang sebenarnya kumiliki terhadapmu, Aomine Daiki?

A/N: Di chapter ini akan ada lompat setting dari satu dunia/? ke dunia yang lain. Tidak terlalu membingungkan sih tapi mungkin aja ada yang bingung soalnya nggak saya perjelas (di dalam cerita). Hehe...

Chapter IV

.

.

.

.

Dream Land. Sebuah taman hiburan yang dibangun 2 tahun lalu di daerah tempatku tinggal menjadi daya tarik wisata untukku berlibur di hari Minggu yang cerah ini. Aku pernah ke Dream Land ketika baru buka sekitar 1 bulan bersama teman-temanku. Meski tidak sebesar taman hiburan yang lain tapi tidak mengurangi kesenanganku bersenang-senang disana.

Oleh karenanya, aku membangunkan Aomine pagi-pagi sekali untuk menemaniku pergi ke Dream Land. Sudah jauh-jauh hari sih aku merencanakan hari ini untuk berpergian berdua dengan Aomine ke Dream Land. Aku merasa seperti mau—uhuk!—kencan! Haha.

"Akh, berisik! Kau tidak bisa apa membiarkan seseorang tidur dengan tenang, hah?!" Aomine menggerutu sebal ketika melihatku membangunkan dirinya yang masih nyaman bergelung di dalam selimut.

Aku mengerucutkan bibir kesal. "Kan hari ini kita mau jalan-jalan, Daiki-kun. Ayo, bangun!" Belum menyerah, aku menarik selimutnya. Tapi, aduh, kok sulit sekali. Dia menggenggam selimutnya kuat sekali. Aku menggeram dengan kuat bersamaan dengan aku yang menarik selimut dari tubuhnya.

"Egh~~!" Aku menggeram lebih kuat lagi, gigi-gigiku sampai bergemeletuk. Ah, Aomine ngotot sekali masih ingin berbaring di kasur. Tapi, aku juga tidak mau menyerah. "Da-i-ki-kun!" Aku berteriak meneriakkan namanya, namun yang terjadi malah dia menarik selimutnya yang masih kugenggam erat. Alhasil, aku jadi terjatuh ke kasur dan menindih tubuhnya. Aaaaa, tidak! Posisi ini sangat gawat.

Wajahku pasti memerah. Wajahku pasti memerah... Tidaaaak!

Kepalaku yang menunduk malu karena posisi ini akhirnya berani kuangkat dan langsung bersirobok dengan kedua iris navy-blue miliknya yang juga memandang obsidian milikku. Aku tidak dapat membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Aomine, dia—dia, pikirannya sulit kutebak. Padahal aku yakin, posisi seperti ini akan membuat siapapun menjadi blushing. Ini sangat memalukan—juga mendebarkan.

"Daiki-kun." Akhirnya kupanggil namanya. Dia tidak merespon panggilanku—masih menatapku dengan tatapan entah apa. Kedua tanganku yang berada di dadanya mengerat menggenggam kaos yang dipakainya. Aku ingin segera bangun tapi seseorang tolong abadikan momen ini—eh, bukan bukan tapi seperti ada yang membuatku menghentikan niatku untuk bangun. "Daiki-kun," panggilku kembali.

Lama tidak mendapat respon, aku berusaha bangun tapi sesuatu yang menahan lenganku mengurungkan niatku. Dia memanggilku pelan lalu berbisik lirih, "Sebentar. Seperti ini sebentar saja."

Aku termangu beberapa saat mendengar bisikannya. Dia menutup kedua matanya kemudian aku merasa sesuatu melingkari tubuhku. Dari sudut mataku aku melihat kedua tangannya yang keluar dari selimut dan melingkari tubuhku, mendekatkan tubuhku yang menindih tubuhnya meski sebenarnya kami berdua tidak benar-benar menindih karena masih ada satu lapis selimut yang menghalangi tubuh kami. Meskipun begitu, aku merasakan perasaan yang bahagia melingkupi hatiku saat ini. Aku ingin waktu berhenti saat ini juga.

Untuk beberapa alasan, aku sudah agak lupa bagaimana perasaan mencintaiku dulu kepada Aomine Daiki sebelum dia ke dunia ini. Cintaku dulu kepadanya memang teramat besar melebihi karakter lainnya yang lebih tampan, keren dan baik darinya. Tapi cinta yang dulu kumiliki masih sebatas fangirl yang akan tergila-gila hanya dengan gambar 2D. Namun, sekarang—setelah dia ke dunia ini, cintaku sebagai fangirl mulai terkikis tergantikan oleh perasaan yang amat dalam melebihi perasaan seorang fangirl. Akan tetapi, aku harus segera bangun dan menerima kenyataan, karena pada akhirnya, Aomine Daiki bukan berasal dari dunia ini.

Mengangkat kepalaku, aku menatap dirinya yang memalingkan muka dengan semburat merah tipis yang tampak di kedua sisi wajahnya. Haha, dia ternyata bisa malu juga.

"Sayang, kenapa membangunkan—eh?"

Oke, ini kesalahanku yang lupa kalau Mama lagi ada di rumah.

Bughaku memukul dada Aomine—tidak terlalu keras tapi pasti tetap menimbulkan sakit—lalu melepaskan diri dari dekapannya yang mengakibatkan aku terjatuh dari kasur dengan pantat yang mencium lantai duluan.

Dengan Mama yang masih berada di ambang pintu—menatap kami dengan mulut terbuka-tertutup, dengan Aomine yang merintih pelan sambil memegang dadanya yang terkena pukulanku dan denganku yang masih sibuk meratapi pantatku yang mencium lantai.

Ah, momen indah ini kini telah berakhir... T.T

.

.

-aoi-

.

.

"Anak muda jaman sekarang benar-benar..." Mama mengeluh untuk kesekian kalinya sembari berdecak berulang kali. Sedangkan aku dan Aomine secepat mungkin menghabiskan sarapan kami. Memang sih kami berdua masih canggung gara-gara kejadian tadi tapi akan lebih memalukan melihat Mama yang mengoceh terus menerus tentang kejadian tadi.

"Benar-benar..." Mama menggelengkan kepalanya—masih belum selesai mengeluhkan hal tadi. Tangannya yang masih sibuk mencuci piring menyelamatkanku untuk menghindari tatapan Mama yang amat mematikan.

Selesai menghabiskan sarapan pagi ini, aku segera menarik Aomine yang telah selesai sarapan juga untuk berpamitan dengan Mama. Ingat kan? Kami akan ke Dream Land.

"Ma..." Aku memanggilnya pelan. Mama yang sudah selesai mencuci piring menengok kearah kami berdua. "Kami mau pergi, Ma..."

"Hm... Hati-hati di jalan dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh," ucap Mama sambil menasehatiku.

Aku mengangguk mengerti lalu berjalan cepat ke arah pintu. Aomine mengikutiku setelah berpamitan dengan Mama. Mengucapkan 'Ittekimasu.' keras-keras sebelum menutup pintu.

.

.

-aoi-

.

.

Di perjalanan menuju Dream Land, kebisuan melanda kami berdua—aku dan Aomine. Tidak ada satu pun dari kami yang berinisiatif memulai pembicaraan. Kejadian tadi pagi masih membekas jelas di ingatan kami. Malu rasanya kalau mengingat hal tersebut. Kedua sisi wajahku akan otomatis memerah dengan sendirinya.

Setelah empat puluh lima menit dalam kebisuan, akhirnya sampai juga di Dream Land—taman impian dengan berbagai wahana menarik yang patut untuk dicoba. Kemudian menukar tiket masuk dengan tiket menaiki berbagai wahana yang ada. Uh, aku tidak sabar menaiki semua wahana tersebut!

Tapi, bersenang-senang dalam kebisuan jadi sia-sia saja. Aku pun menurunkan egoku dan memanggilnya.

"Daiki-kun," panggilku.

Aomine melirikku singkat lalu membuang muka. Uh, menyebalkan sekali...

"Daiki-kun, mau sampai kapan kau diam terus seperti itu?" tanyaku kepadanya. "Hari ini kita berniat bersenang-senang lho. Kalau wajahmu muram begitu, nanti orang-orang jadi takut melihatmu," gurauku.

"Ck, berisik." Aomine lalu berjalan mendahuluiku. Aku tersenyum lebar melihatnya, memang dia masih tidak mau menatap kedua mataku tapi minimal dia tidak mengabaikanku. Tiba-tiba Aomine berhenti berjalan dan berbalik menghadapku. Aku tidak tahu apakah aku salah lihat atau apa tapi aku melihat warna merah muda di kedua sisi wajah Aomine. "Hei, lupakan kejadian tadi pagi. Lupakan, oke?"

Aku mengulum senyum mendengarnya lalu mengangguk dan berlari ke arahnya. Merangkul tangannya aku berkata, "Baik, Daiki-kun, aku akan melupakannya. Let's have fun!"

.

.

-aoi-

.

.

INI KETERLALUAN! Lagi-lagi dan lagi-lagi—oke, terlalu banyak 'lagi'. Tapi memang benar, lagi-lagi aku kehilangan Aomine. Dua jam! Baru DUA JAM kami tiba di Dream Land aku sudah kehilangan dia. Entah kenapa, setibanya Aomine di dunia ini, dia jadi sering hilang. Sedikit saja aku memalingkan muka, Aomine sudah tidak ada di tempat semula.

AOMINE DAIKI! Maumu apa sih?!

Oke, tenang. Tarik napas, buang... Lakukan sekali lagi...

"Heh..." Mendesah lelah, aku duduk di salah satu bangku sebelum memulai pencarian Aomine Daiki kembali. Menarik napas sekali lagi aku berniat melanjutkan pencarianku terhadap Aomine sebelum suara dari interkom Dream Land bersuara dan memanggil namaku. Tunggu—namaku?

Aku tidak salah dengar kan?

Memfokuskan kembali ke ulangan siaran tersebut aku memastikan namakulah yang disebut tadi. Dan suara tersebut menyuruhku untuk datang ke ruang informasi. Akh! Apa sih?! Kok aku dipanggil? Aku tidak melakukan kesalahan apapun tauuu...

Kenapa aku sesial ini?! Teriakku dalam hati.

.

.

-aoi-

.

.

Kembali ke beberapa saat yang lalu ketika aku dan Aomine baru saja menaiki wahana Roller Coaster yang benar-benar membuatku ingin mengeluarkan seluruh isi perutku.

"Kau itu... Kalau tidak kuat sebaiknya tidak perlu naik. Dasar!" ucap Aomine sambil memijat-mijat tengkukku.

Aku ingin berteriak kepadanya untuk berhenti memarahiku tapi rasa pusing di kepalaku serta rasa mual yang melingkupi perutku membuatku mengurungkan niatku. Aku harus mengosongkan isi perutku dahulu baru gantian memarahinya.

Setelah rasa mualku agak menghilang. Aomine mengajakku untuk duduk di salah satu bangku yang ada disana. Aku menutup mataku dan berusaha tenang agar rasa mual itu menghilang. Tiba-tiba rasa dingin menghampiri sisi kiri wajahku. Aku segera membuka kedua mataku dan mendapati Aomine yang menempelkan minuman kaleng ke pipi kiriku.

"Daiki-kun."

Aomine menyodorkan lagi minuman kaleng tersebut kearahku. "Minumlah, mungkin bisa meredakan rasa mualmu."

Ah, Aomine baik sekali. Aku terharu jadinya.

"Arigatou, Daiki-kun." Aku berterimakasih setelah menerima minuman kaleng tersebut. Membukanya kemudian meminumnya secara perlahan. Rasa dingin dan menyegarkan segera merayapi diriku. Rasa mual akibat naik wahana Roller Coaster segera menghilang secara perlahan.

Setelah menghabiskan minuman tersebut, aku berpikir untuk beristirahat dahulu sejenak. Menutup kedua mataku dan menikmati semilir angin yang membelai kedua sisi wajahku. Sampai aku tidak mengingat apapun dan tertidur dalam buaian angin yang terus menerus menenggelamkanku dalam kenyamanan.

.

.

-aoi-

.

.

Aomine Daiki tidak terlalu mengerti bagaimana sifat seorang perempuan. Ia juga tidak terlalu dekat dengan perempuan—selain Momoi Satsuki, tentunya. Hanya Satsuki, perempuan yang dekat dengannya sampai ia berada di dunia ini. Gadis itu, yang menemaninya setelah dia terdampar di dunia ini mengenalkannya kepada dunia yang lebih luas. Tidak hanya terpusat dengan basket, basket dan basket saja.

Jika diperbolehkan, bisakah, bisakah dia tetap berada disini? Ia sudah merasa nyaman dengan dunia yang kini ia tinggali. Ia tidak lagi perlu memikirkan kalah-menang, pertandingan selanjutnya, latihan yang menyebalkan, dan segala hal yang menurutnya tidak perlu ia pikirkan terlalu keras di dunia ini. Ia nyaman dengan dunia ini atau katakanlah ia nyaman berada di dekat gadis yang kini sedang memejamkan mata di sebelahnya.

Melirik dari sudut matanya, melihat sang gadis yang menunduk dalam. Rambutnya yang panjang terurai menutupi wajah manis—tunggu! Apakah Aomine baru saja berpikir bahwa sang gadis berwajah manis? Seketika semburat merah tipis mewarnai wajah Aomine.

Berhenti berpikiran aneh, Aomine! Berseru kepada dirinya sendiri ia menarik napas dan menghembuskannya panjang-panjang. Tapi, jantungnya ternyata tak bisa diajak kompromi. Jantungnya berdetak lebih kencang, apalagi ketika ia merasa beban berat di bahu kanannya. Kepala gadis tersebut terjatuh di bahunya.

Aomine berteriak dalam hati, ia tidak dapat menghadapi hal ini. Oh ayolah, ia akan lebih memilih bertarung melawan seluruh anggota Kiseki daripada menghadapi situasi seperti ini.

"Hei," panggilnya berharap dia bangun. Tapi tidak ada respon yang berarti. Kemudian ia memanggilnya kembali. "[Your name]." Tak ada jawaban. Aomine memanggilnya lagi dan masih tak ada jawaban, sepertinya dia sudah tertidur amat pulas.

"Engh~" Gadis itu mengeluh pelan sambil menyamankan dirinya di bahu Aomine. Beberapa helai rambut miliknya terjatuh menutupi wajahnya. Tangan Aomine reflek menyisihkan helaian itu ke belakang telinga.

Seandainya ada kamera disana maka momen ini adalah momen yang harus diabadikan sebagai kenangan bahwa Aomine pun bisa menjadi seorang pria yang dielu-elukan oleh kaum hawa.

Aomine Daiki.

Deg. Aomine tersentak kaget ketika mendengar suara yang memanggil namanya berputar-putar di kepalanya. Lagi dan lagi, suara itu berputar-putar terus di kepalanya. Merongrong isi otaknya dan membuatnya pusing, lebih memusingkan dari ia menaiki wahana-wahana ekstrim tadi.

Lalu ia melirik gadis di sebelahnya yang masih tertidur, memegang pelan kepalanya dan membiarkan kepalanya terjatuh menunduk. Setelah memastikan ia masih tertidur, Aomine berlari ke toilet yang sayangnya malah memerkeras suara-suara di pikirannya—terus menerus memanggil namanya.

Aomine Daiki. Aomine Daiki. Aomine Daiki.

Terus menerus seperti itu hingga kegelapan menelannya.

.

.

-aoi-

.

.

Waktu terasa lama berlalu, lama sekali. Ia bahkan tidak ingat sekarang hari apa jika Satsuki tidak mengingatkan latihan rutin Tim Toou dan seperti biasa ia menolak—lebih memilih tidur di atap. Hanya saja, ia seperti merasa kehilangan sesuatu. Ia seperti melupakan sesuatu yang teramat penting.

Tapi apa? Aomine tidak bisa mengingatnya. Ia hanya mengingat mimpi yang amat panjang dan seseorang yang tidak bisa diingatnya dalam mimpi tersebut. Seseorang yang sepertinya penting baginya. Siapa dan apa? Akh! Aomine benar-benar frustasi tidak bisa mengingat apapun itu.

"Aomine-kun, akhir-akhir kau bertingkah aneh," ucap Satsuki kepada Aomine yang sedang menatap langit—berbaring di atap sekolah.

"Hm." Aomine menggumam tak jelas sebagai jawabannya.

"Mou—lagi-lagi jawaban tidak jelas. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Aomine-kun? Kau terlihat aneh sejak beberapa hari yang lalu."

Entahlah. Aomine sendiri tidak tahu jawabannya.

"Oh ya, akhir minggu ini kita akan mengadakan liburan bersama. Kau akan ikut kan?"

Aomine menolehkan kepalanya ke Satsuki dan mengangkat bahu tak peduli. Memejamkan mata ia mengabaikan ocehan Satsuki yang terus menerus mendengung di telinganya.

"Aomine-kun, jangan abaikan aku terus..." Satsuki menggerutu kesal. Dia menggoyang-goyangkan badan Aomine yang masih setia tidak memedulikan katanya. "Benar nih Aomine-kun tidak mau ikut ke Tokyo Disneyland?"

Aomine mengangguk sebelum ia sadar kata terakhir yang diucapkan Satsuki. Ia segera bangun—mengagetkan Satsuki. "Tadi kau bilang apa? Kita akan kemana?"

Satsuki mengerutkan kedua alisnya heran. "Aomine-kun kenapa sih?" Menghembuskan napas panjang ia melanjutkan, "Ke Tokyo Disneyland, Aomine-kun," ulangnya lagi.

Tokyo Disneyland. Aomine mengulang-ulang kata tersebut di benaknya. Ia merasa familiar dengan kata tersebut. Tapi pikirannya masih belum bersahabat dengannya dan menutup akses untuk mengingat apa yang sebenarnya ia lupakan.

"Ada apa sih, Aomine-kun?" tanya Satsuki penasaran.

Aomine menggeleng, tangannya memegang kepalanya yang terasa pusing. "Tidak, tidak ada apa-apa."

Satsuki menatap Aomine tidak percaya tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

.

.

-aoi-

.

.

Hari terus berganti. Waktu terus bergerak maju dan tak pernah menengok ke belakang. Hanya saja, Aomine yang masih dalam kebingungannya akan ingatan yang ia lupakan membuatnya sedikit mengabaikan sekitarnya—lebih mengabaikan sekitarnya. Ia akan menambah daftar bolos latihannya, menghabiskan waktunya untuk tertidur—berpikir—di atap, dimarahi Satsuki dan lain-lain sebagainya yang menambah daftar kemalasannya. Sebenarnya ia ingin menambah satu lagi daftar kemalasannya dengan tidak menghadiri liburan Tim Toou ke onshen sebelum pertandingan musim dingin berlangsung tapi Satsuki yang ngotot dan beberapa tipuan majalah favoritnya, mau tidak mau dia ikut ke onshen. Dan entah kebetulan atau apa, mereka bertemu Tim Seirin disana—tapi sepertinya bukan kebetulan semata mengingat pertandingan babak pertama mereka.

Dia juga bertemu Kuroko dan Kagami, perasaan stressnya setidaknya sedikit terkurangi dengan menghibur diri dengan partner lamanya. Setelah mengatakan beberapa hal kepada pasangan tersebut, dia berlalu darisana dan pergi keluar onshen—menikmati semilir angin yang membelai wajahnya.

Padahal sudah beberapa hari berlalu tapi kenapa ia masih merasakan perasaan akan sesuatu yang penting hilang dalam dirinya? Mau Aomine memikirkannya berulang kali, ia masih tidak dapat mendapatkan jawabannya.

.

.

-aoi-

.

.

Tidak. Tidak seharusnya aku menangis. Ayolah, kenapa aku harus menangis hanya karena sampai sore aku tidak menemukan Aomine? Aomine juga bukan anak kecil yang perlu dikhawatirkan jika menghilang entah kemana.

Ini dimulai ketika aku ke ruang informasi untuk mengetahui kenapa aku dipanggil. Mereka akhirnya menjelaskan kepadaku bahwa mereka menemukan Aomine Daiki tergeletak di toilet sambil memanggil namaku. Aku yang mendengar Aomine sudah ditemukan bernapas lega tapi kelegaanku hilang ketika di ruang kesehatan Aomine sudah menghilang tanpa jejak. Aku mencarinya ke sekeliling Dream Land, tapi hingga kini, hingga air mata ini mengalir aku masih belum bisa menemukan Aomine.

Air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Kenapa, air mata ini tidak mau berhenti? Kenapa hatiku berdegup sangat kencang dan merasa ketakutan yang amat sangat dalam diriku ini? Kenapa aku merasa tidak rela jikalau dugaanku bahwa Aomine telah pulang ke dunianya memang benar nyata adanya? Aku belum rela... Aku masih ingin mengomelinya. Aku masih ingin mengenalkannya ke duniaku ini. Aku masih ingin memperlihatkan kepadanya lebih jauh lagi akan indahnya dunia ini. Tidak sebatas kalah dan menang. Tidak sebatas basket dan basket saja.

Dan yang terpenting aku masih ingin atensi dirinya yang menemaniku. Aku masih ingin dirinya...

Maka, ketika air mataku mengalir tanpa henti biarlah. Biarlah dan abaikan bahwa aku terlalu berlebihan menanggapinya. Abaikan bahwa aku telat menyadari bahwa perasaanku kepadanya adalah perasaan yang nyata.

Aku ingin Aomine Daiki. Aku menginginkan Aomine Daiki kembali. Tolong kembalikan Aomine Daiki. Jika tidak bisa, biarkan dia mengucapkan salam perpisahan yang belum sempat ia ucapkan...

Aku memohon dengan amat sangat. Hatiku tulus meminta. Aku menginginkan hadirnya kembali ke sisiku.

.

.

.

.

-to be countinued-


A/N: Oke, maaf bagi yang (masih) mengikuti fanfic ini dan menunggu teramat lama. Maaaaaf sekali karena amat terlambat. Maaf juga kalau word-nya kependekan dan maaf juga karena aku terlambat mengucapkan, "MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, mohon maaf lahir dan batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri!" Btw, berapa THR yang kalian dapatkan tahun ini? Author sendiri berkurang karena faktor pertambahan umur. Haha.

Balas REVIEW

sherrysakura99: yap, yap, sudah dilanjut. Terimakasih reviewnya :) Review again? / SelenaAthene: Hihi makasih. Terimakasih reviewnya. Jangan sungkan-sungkan review lagi ya? / Aoi Yukari: Bisa dong. Tapi emang nggak terlalu jago. Hehe. Terimakasih sudah review ya... / Renay Rey Fern: Aduh jangan senyam-senyum sendiri nanti dikira orang gila—eh maaf, hihi tapi terimakasih. Berniat review lagi?

Dan untuk seluruh readers-tachi yang dengan baik hati menambah traffic garp fanfic ini aku ucapkan terimakasih. Untuk silent readers yang baik hati, untuk yang sudah memfavorite dan alert juga. Terimakasih sudah bersedia mau meluangkan waktu di fanfic ini.

Arigatou gozaimasu!

Mungkin chapter depan chap terakhir, atau mungkin masih ada chapter depannya lagi untuk epilog. Tidak ada yang tahu dan saya pun belum tahu. Hehe...

Terimakasih sekali lagi dan aku pamit—sampai jumpa di chapter selanjutnya. Daah~~!