Chapter 4 : Happy Cooking
Usopp kehabisan nafas dan harus beristirahat. Kini tinggal Zoro berdua saja dengan Nami dan Robin. Robin membuka buku resep masakan. "Menurut buku ini, kita harus membersihkan dagingnya dengan air cuka, kemudian ditaburi air garam dan direndam di dalam larutan kunyit sambil ditaburi bawang putih bla bla bla…"
Nami segera memerintahkan Zoro. "Zoro! Segera cuci daging monster laut itu dengan air cuka!"
Zoro sedang tidur di sebelah Usopp.
"Dia tidur…" gumam Robin. "Baiklah, kurasa hanya tinggal kita berdua, Nami."
"Aku sudah biasa membangunkan dia." Nami tersenyum sinis.
Buaghh…!
Zoro mengucek-ucek matanya tidak memperdulikan sebuah benjolan di kepalanya. "Hmm? Sudah pagi ya?"
"Teganya kau membiarkan gadis-gadis bekerja sendirian!" bentak Nami.
Zoro yang merasa kesal karena daritadi Nami marah-marah terus, akhirnya melawan. "Aku kan sudah menyelam 2 jam tadi, apa itu tidak cukup bagimu, ha?"
"Kau lihatlah daging besar itu, dan kau pikir kita para gadis sanggup memasaknya sendirian?" bentak Nami.
"Iya, tapi tidak perlu sampai memukulku terus!"
"Aku sudah hafal denganmu, kalau tidak dipukul sampai benjol, kau tidak akan bangun! Sudah, sekarang kau bantu Robin memotong-motong daging jadi bagian-bagian kecil!" kata Nami.
Zoro pergi keluar sambil mengantuk. Tapi Nami mengejarnya keluar. "Aku harus mengawasi dia! Dia bisa nekad tidur di luar nanti."
Zoro mengeluarkan dua pedangnya. Nami menegurnya. "Jangan pakai itu. Pakai ini."
Nami menyerahkan dua buah pisau dapur yang biasa digunakan Sanji untuk memasak.
"Terlalu pendek." Kata Zoro.
Nami menjitaknya. "Sudah jangan banyak protes!"
Robin keluar menyusul mereka. "Zoro, memotongnya sesuai dengan garis otot nya."
Zoro segera beraksi. Ia memotong-motong potongan daging besar itu sementara Robin membuang isi perut monster yang tidak bisa dimakan ke laut. Nami hanya mengawasi Zoro dengan ketat.
"Zoro, potongkan ini. Aku ingin membuat keripik kulit monster laut." Kata Nami sambil mengangkat sepotong kulit monster laut. Zoro sudah tidak berpikir lagi. Ia mengayunkan pisaunya dan kulit itu terpotong-potong menjadi potongan kecil tanpa melukai tangan Nami.
"Lagi." kata Nami sambil menyodorkan potongan kulit lainnya. Zoro mengayunkan pisaunya.
"Lagi." kata Nami sekali lagi dan Zoro kembali mengayunkan pisaunya.
Nami menepuk kedua tangannya. "Nah, beres…."
Zoro masih mengayunkan pisaunya. Akibatnya pakaian Nami yang terbelah-belah seperti kulit monster laut itu. Hanya tersisa pakaian dalamnya saja.
Zoro terkejut menyadari kesalahannya. "Ah…"
BUAGHH..!
Nami menjitaknya dengan kuat. "Senang ya?"
Akhirnya potongan-potongan daging monster laut itu sudah tertumpuk dengan rapih, tinggal di olah. Mereka menggorengnya di halaman setelah memanggil Franky ke atas sambil membawa papan penggorengan raksasa untuk memanggang daging tersebut.
"Hmm.. baunya sih harum." Puji Franky. "Siapa yang membuat bumbunya?"
Robin tersenyum manis. Franky langsung tahu bahwa Robin yang mengolah bumbunya. "Oh, bagus sekali Rob."
"Tumpukan daging itu diletakkan di sini saja. Tidak akan muat di bawa masuk ke dalam." Kata Nami.
"Kau yakin? Hujan tidak akan turun?" tanya Zoro.
"Cuaca akan cerah sampai besok sore." Kata Nami sambil mengedipkan matanya.
"Oke…" Zoro mengangguk-angguk.
"Aku akan bangunkan Usopp dulu." Kata Franky.
"Aku akan buatkan minuman." Kata Robin.
Nami menguap sambil merentangkan punggungnya yang pegal. "Hoahem… ah, sungguh hari yang melelahkan."
Zoro duduk di sebelahnya. "Anginnya enak untuk minum…"
Nami meliriknya dengan manyun. Lalu ia menantangnya. "Mau bertaruh denganku?"
Zoro menyambut tantangannya. "Boleh. Waktu itu kita kehabisan botol sebelum menentukan siapa yang menang."
"Bantu aku mengambilnya. Ada 100 botol di dalam gudang. Mumpung Sanji-kun sedang sakit, tidak ada yang bisa melarang kita." Kata Nami.
Zoro berdiri dari tempat ia duduk.
Baru saja mereka keluar, Chopper muncul membawa dua ember berisi tisu bekas menghampiri mereka. "Wah, makan malam sudah siap! Wah, aromanya sedap nih."
"Hei, itu untuk makan malam." kata Nami memperingatkan.
"Ember apa itu?" tanya Zoro.
"Oh, ini kumpulan ingus merah Sanji." Kata Chopper. Wajahnya terlihat serius. "Aku masih belum bisa menemukan virus apa yang menjangkitinya."
Nami menatapnya seram. "Eww… kenapa semuanya basah?"
"Agar tidak menyebar lewat udara." Kata Chopper.
"Sudah kukatakan, itu bukan virus…" kata Zoro.
Nami segera menarik lengan baju Zoro masuk ke dalam ruangan tengah. "Ayo cepat kita ambil bir-bir itu!"
Sepeninggal Nami dan Zoro, Chopper menghirup aroma daging itu "Ah… memang sedap. Yang meracik bumbunya tidak kalah dengan Sanji nih."
Mendadak terdengar suara Nami dari dapur. "Chopper! Bisa tolong kau panggilkan Luffy? Tolong katakan makan malam sudah siap."
Chopper meletakkan kedua ember berisi tisu basah bekas ingus Sanji begitu saja. "Baik..!"
Dengan antusias, Chopper pergi untuk menjemput Luffy.
Pada saat yang sama, Franky sudah membangunkan Usopp. "Makan malam sudah siap."
"Ah, aku malah tertidur saat yang lain memasak." Keluh Usopp.
Robin mendadak ingat sesuatu. Tapi ia sibuk membuat sesuatu. "Usopp, bisa tolong kau siramkan tumpukan daging itu dengan saus yang sudah kusiapkan?"
Usopp yang merasa tidak enak hati karena tertidur saat teman-temannya bekerja itu dengan antusias segera berdiri. "Ya!"
Usopp pun pergi keluar dengan cepat dan bersemangat. Dan Robin keluar sambil menenteng sebuah baskom, ia kebingungan mencari Usopp. "Mana Usopp? Ini saus yang kusiapkan."
Nami dan Zoro muncul sambil membawa banyak botol bir.
"Kalian mau adu minum lagi ya?" tanya Franky.
Nami hanya menyeringai.
Terdengar bunyi air membentur benda dari halaman depan. Franky sadar. "Hei. Usopp menyiram apa tuh?"
Dan Usopp muncul dengan gagah. "Aku sudah menyiram sausnya, Robin! 2 ember penuh! Semua daging basah semua! Ha ha ha..!"
"Sausnya kan di tanganku." Kata Robin.
Dan mendadak terdengar seruan Chopper. "Arghh..!"
Mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Tiga pasang mata menatap Usopp penuh dendam. "Hey, Usopp!"
"Mau dibelah?"
"Kau ….."
Usopp tetap tidak mengerti. "A-ada apa?"
Mereka semua berkumpul di tempat dimana daging yang masih hangat itu dihidangkan. Semuanya basah oleh air. "Bagaimana ini?"
Nami segera bertindak. Ia membersihkan tumpukan daging itu dari tisu-tisu yang menempel. "Ayo cepat bantu aku!"
Dan akhirnya, 30 menit kemudian ….
"Kau tega sekali, Nami…" komentar Usopp.
"Biar…"
"Dia kan kapten kita…" kata Franky sambil menahan muntah.
"Kalau dagingnya kita buang, dia akan membuat masalah lagi."
Zoro menegak botol bir nya sendirian dengan cuek, pura-pura tidak tahu apapun.
"Sebentar lagi Luffy akan tertular flu berdarah…" Chopper menangis.
Luffy dengan cuek makan dengan rakus. "Hai, kalian tidak mau?"
Dengan kompak, semua anggota krunya menggeleng perlahan dengan wajah pucat.
Luffy menyantap lagi. "Enak loh. Kalian sungguh tidak mau?"
Sekali lagi, dengan kompak semua anggota kru nya yang ada di sana menggeleng perlahan dengan wajah semakin pucat.
Luffy masih makan dengan enaknya. "Serius. Tidak sama dengan masakan Sanji, tapi enak. Aromanya beda dari yang lain."
"Ah...tentu saja..." ucap para kru mugiwara dengan kompak.
"Sanji-kun…cepatlah sembuh…" gumam Nami.
Sementara itu di dalam klinik, Sanji tidur pulas menjadikan Brook sebagai gulingnya. Brook berusaha melepaskan diri. "Tollloooonngg...!"
