Aurelian

By: BittyBlueEyes

HARRY POTTER MILIK JK. ROWLING

04. -Memulai investigasi-

"Selamat pagi," Hermione menyapa, dia sudah naik tangga berhenti di lantai tiga.

"Pagi," jawab Harrry, dia menyender pada tembok dan mengusap matanya. "Bagaimana tidurmu?"

"Kau bercanda, kan?" balas Hermione putus asa.

"Yeah, ini memerlukan waktu lebih dipikirkan, bahkan kita di sini," katanya, dia tersenyum hangat.

"Kau tau, kemampuan kita untuk tidur tidak ada hubungannya dengan dimana kita berada," dia menghela nafas, menyandar pada tembok di seberangnya.

"Yeah, mungkin," kata Harry membelokkan pembicaraan, tau bahwa Hermione benar. "Tetapi aku yakin dekuran Ron tetap punya makna tersembuyi karena semua ini."

Senyum kecil tergambar di sudut bibr Hermione. "Yeah, mungkin dalam kasusmu. Ngomong-ngomong dimana Ron?"

"Dialah orang yang kita tunggu-tunggu," kata Harry pada Hermione, menggerakkan jempolnya pada pintu kamar mandi.

"Dia selalu lama, bahkan untuk mandi," komentar Hermione.

"Kau tau dia memang begitu sebelum minum kopi," Harry tersenyum. "Jadi dimana Aurelian?"

"Dia di bawah. Molly sedang membersihkannya. Dia mengalami masalah dengan jeruk saat sarapan," jawab Hermione, tetap pikirannya merasa tidak nyaman tentang anak laki-laki itu.

"Kalian sudah makan kalau begitu?"

"Yeah, dia juga tidak tidur nyenyak. Dia ketakutan semalam dan aku harus pindah ke kamar si kembar dan tidur diranjang sebelahnya agar dia tak merasa sendiri." Hermione menelan ludah dan bermain dengan jarinya menghindari tatapan Harry. "Jadi apa yang di katakan Robards tentang investigasi rahasia?"

"Biasa saja," jawabnya mengangkat bahu.

"Pasti. Siapa yang akan bertanya padamu?" Hermione melirikkan matanya. "Spesifik. Apa yang dia katakan waktu kau bertanya tentang bantuanku?"

"Lagi. Biasa saja," jawab Harry. "Hermione ini tidak luar biasa kalau kita bekerja bersama."

"Ya benar, kau biasanya hanya bertanya tentang ujian dan PR."

"Ya dan itu benar. Kau tetap yang terbaik, tak perlu menanyakan kalau kau sahabat baikku, kau yang terbaik di divisi fakta dan investigasi. Aku jamin tidak akan terlihat aneh kalau aku menyertakanmu."

"Bagaimana tanggapan Ron akan hal ini?" tanya Hermione sedih.

"Dia sedikit sulit. Dia tidak bisa bekerjasama dengan kita. Jadi aku bekerja sama denganmu, dan kau berkerjasama dengannya. Kalau Ron dan aku bekerjasama akan membuat ini bocor. Dia bagian kejahatan umum, bukan menangkap penyihir hitam. Jika Robards atau orang lain melihat kita bertiga bekerja sama dalam kasus rahasia, malah akan timbul kepanikan," kata Harry beralasan.

"Aku tau, aku hanya benci meninggalkannya sendiri," jelas Hermione. "Aku tau. Aku tau," katanya melirik Harry. "Ini bukan meninggalkannya. Kita akan mengikutsertakannya. Aku hanya tak suka dia ada disana, di lantai yang sama dan tak bisa membantu."

"Oh, Ron akan membantu. Tapi secara tak langsung. Damn it, apa yang membuatnya lama sekali? Aku butuh mandi juga dan jika dia tidak bergegas kita akan terlambat," kata Harry meremang sebelum mengedor pintu tiba-tiba. "Apa yang menunggumu? Kau sudah siap saja," kata Harry melirik kemeja krem dan rok pensil abu-abu yang dipakai Hermione.

"Disini hanya ada satu kamar mandi, Harry. Aku butuh WC," Hermione terkikik.

"Oh, Merlin, itulah enaknya tinggal sendiri."

"Aku tau."

Akhirnya pintu kamar mandi terbuka Harry dan Hermione berdiri tegap.

"Merlin, kalian tidak butuh sampai mendobrak pintu," Ron mengerang dengan wajah kecut. Eksperesinya yang kejam tidak berefek seperti yang diharapkan, karena dia berdiri dengan menggunakan handuk dan air yang jatuh dari rambut ke matanya.

"Setelah kau Hermione," Harry menawarkan. Dia mengangguk untuk berterima kasih.

...

"Hati-hati kepalamu," saran Hermione pada Aurelian yang mengendongnya erat dan keluar dari perapian Kementerian Sihir. Hermione melihatnya dan langsung memberikan mantera pembersih untuk menghilangkan debu di jubah hijau Aurelian yang sudah di cuci.

"Siap?" tanya Harry di belakangnya.

"Yeah, kita siap," jawabnya. Dia dengan lembut menurunkan Aurelian dari gendongan dan menggandengnya.

"Dengar, aku minta maaf, tapi aku harus segera pergi," kata Ron. "Aku hampir terlambat dan jika aku tidak sampai kantor sebelum Gerty, dia akan mendapatkan kepalaku."

"It's okey Ron," kata Harry menjamin. "Aku akan menghubungimu nanti."

Ron mengangguk dan kemudian berlari menjauh. Harry dan Hermione berjalan ke Atrium bersama Aurelian, tetap berjalan lebih pelan dari biasanya.

"Kau yakin orang-orang tak akan banyak bertanya tentangnya?" tanya Hermione melirik Harry.

"Kau menjadi paranoid, Hermione," katanya pelan. "Tentu orang-orang akan bertanya, tetapi kita akan menjawab sama, dia adalah saksi dalam kasus yang kita tangani, tidak lebih."

Hermione mengangguk. Dia menjadi penakut sepanjang pagi, itu benar. Dia tau orang-orang akan bertanya-tanya, tetapi entah bagaimana itu tak membantu meredakan kekhawatirnya. Dia berpikir secara misterius, pasti akan terungkap kalau Aurelian adalah anaknya."

"Pagi, Bently," Harry menyapa kasual.

"Pagi, Mr Potter!" jawab penjaga itu dengan ceria, dia sedang membaca surat kabar dan meletakkannya diatas konter. "Bagaimana kabarmu pagi ini?"

"Baik. Terima kasih."

"Dan apa yang bisa aku bantu pagi ini?" dia tetap tersenyum dan mengetahui keberadaan Hermione.

"Kita mendapat pengunjung pagi ini." Harry memberikan pandangan ke Aurelian dan Bently berdiri dengan jempol kakinya melirik kebawah dari konter untuk melihat pengunjung yang Harry maksud.

"Oh my, apa yang dilakukan si kecil ini, hari ini?"

"Dia Aurelian. Dia kan membantu dalam kasus yang sedang aku tangani," jawab Harry, ini jelas tidak biasa.

"Of course. Aku akan memberikan pin," kata Bently. Suara klik terdengar di mejanya dan laki-laki itu menyerahkan pin emas ketangan Hermione 'Aurelian, Departemen Penegak Hukum Sihir'. "Pasti sangat manis mendapatkan pengunjung yang tidak butuh diawasi."

Harry mengangguk dan Hermione berjongkok memasangkan pin pada Aurelian.

"Ayo, kau mendapatkan pin spesial hari ini." Hermione tersenyum memasangkan pin itu ke dadanya. "Sekarang ayo, kita butuh lift."

Aurelian tidak melepaskan genggaman tangan Hermione dan mereka menunggu dalam barisan menuju lift. Tidak lama salah satu datang, mereka terlempar ke belakang. Hermione melihat kebawah, dia merasa banyak tatapan mata ke arahnya. Dia tau itu karena orang-orang mengenalinya setelah perang, terutama dia sedang bersama Harry. Itu membuatnya tidak nyaman. Dia tau orang-orang penasaran dengan anak kecil yang ada digandengnya.

Aurelian menunjuk dengan semangat memo yang berterbangan di atas kepala mereka. "Terlihat seperti pesawat terbang!"

"Yeah, aku tau," kata Hermione tersenyum.

"Adakah satu untukmu Mummy?" tanyanya, dia menunjuk yang warna kuning di dekatnya.

"Kenapa kau berpikir itu untukku?" tanyanya ragu, berharap tak ada yang mendengar Aurey memanggilnya Mummy.

"Kau selalu mendapatkan yang kuning," jawabnya simpel. Harry dan Hermione saling bertukar pandang.

"Ya benar. Memo berwarna kuning untuk level dua. Kau pernah ke kementerian sebelumnya, Aurelian?" tanya Harry.

"Aku sering kesini dengan Mum." Dia tersenyum main-main.

Harry dan Hermione lega akhirnya lift sampai ke lantai dua dan mereka keluar, tetapi secepat itu mereka keluar suara yang ceria menghentikan mereka.

"Mr Potter!" seorang laki-laki menyapa Harry. "Aku bersyukur dapat menemukanmu."

"Oh, er, pagi. uh, ini Gibsley, ya kan?" jawab Harry bersalaman.

"Ya, Alan Gibsley. Kau ingat!" dia menyerigai dengan bangga dan menyalami Harry lebih lama.

"Oh, dan siapa ini?" Mr Gibsley tersenyum pada Aurelian dan melupakan keberadaan Hermione.

"Ini Aurelian. Dia adalah saksi dalam kasus yang sedang aku tangani," Harry berusaha sopan, menyembunyikan rasa frustasi karena kedatangan orang yang tidak biasa.

"Good. Good. Jadi aku bicara dengan istriku semalam tentangmu –" Hermione mengalihkan pandangannya dari pembicaraan yang sudah melencong. Terdengar suara yang sangat dingin.

"Granger!"

Hermione menengok ke kanannya dan mengerang frustasi, "Ugh... bagus. Harry aku –"

Harry mengangguk simpati.

"Granger!" laki-laki itu berteriak.

"Ya Malfoy?" tanya Hermione. Dia meninggalkan Aurelian disebelah Harry dan mendatangi si pirang menyebalkan itu.

"Dari mana saja kau? Kita ada janji pagi ini. aku menunggu hampir setengah jam! Aku tau departemenmu sedang kacau, tapi Kerjasama Sihir Internasional tidak memiliki kesabaran untuk menghabiskan waktu kami yang berharga," dia marah mengeram pada Hermione, dia tersenyum mencurigai, Hermione memandangnya alis nya naik dan bibirnya berkerut dalam ekspesi bosan menjengkelkan. "Aku punya Mentri dan kementrian Italia yang sedang bernafas dileherku, menunggu laporan narapidana Italia yang di transfer dan aku butuh –"

"Daddy!" suara teriakan penuh kegembiraan terdengar dibelakang Hermione. Mulut Harry dan Hermione terbuka saat Aurelian berlari dan memelukkan lengannya erat mengelilingi kaki Draco Malfoy. "Daddy! Daddy, kau kembali! Uppy. Uppy. Uppy, Daddy!

"Apa? Who the hell is this?" Draco berteriak jijik.

"Daddy. Aurey," jawab Aurelian berseri-seri pada pria pirang itu. " Uppy! Uppy!"

"Get off me, you stupid little brat!" suruhnya mendorong lepas lengan Aurey di kakinya.

"Aurelian sini," kata Harry dengan suara yang sama. Lengannya mengantung disebelahnya saat dia melepas jari-jari meminta tangan Aurey. Tatapan Aurelian tidak meninggalkan wajah Draco. Aurelian perlahan berpindah ke arah Harry dan mengambil tangan Harry.

"Dia datang denganmu?" jika mungkin, Malfoy terlihat lebih mengerikan dari biasanya dan dia membuat gerakan membersikahkan kotoran dari jubahnya. Harry mengangguk. "Jauhkan dia dariku."

Hermione tidak bergerak. Dia berdiri syok dan horor. Mulutnya terbuka, dan dia merasa sulit bernafas.

"Apa yang kau lakukan, tetap berdiri seperti idiot? Aku butuh berkasnya, Granger," teriak Malfoy.

"Godric... no..." Hermione mengambil nafas.

"Berdoa untuk pendiri asramamu tidak membantu. Get your arse –"

"Malfoy!" Harry berteriak balik, menarik perharian Draco dan dia melihat kearah Harry.

"Ya, Potter?" jawabnya

Suara Harry tegas. "Berkas itu bisa menunggu. Kau ikut dengan kami."

"Berkas bisa menunggu? Dan siapa kau pikir kau bisa –?"

"Aku bilang berkas bisa menunggu. Kita butuh bicara," Harry mengulangi dengan nada tegas. "Kau menjadi bagian dari investigasiku."

"Excuse me?" pinta Draco kejam. Aurelian mencibir dan bersembunyi di kaki Harry, Harry memberikan sentuhan dikepalanya.

"Kau mendengarku."

"Aku tidak punya wantu untuk bermain dan-"

"Kau tidak bisa protes, kau lebih tau dari pada orang lain jika aku sudah memerintahkan untuk menjawab pertanyaan. Hukum mengatakan kau harus ikut denganku," Harry mengingatkannya.

"Ini mengelikan! Aku hanya..." Draco berhenti untuk beberapa detik untuk mendapatkan kembali ketenangannya. "Dengar, Potter," dia memulai lagi. Dia berbicara sangat perlahan giginya mengeretak namun tetap tenang. "Ini sangat serius, sangat penting untukku menyelesaikan tugasku untuk keberlangsungan kerjasama negara kita dan Italia. Cukup biarkan Granger mengambil berkasnya dan aku akan pergi."

"Maaf Malfoy, tapi ini bukan permainan. Kau ikut aku. Aku akan mengirim berkas yang kau butuhkan dan surat dari Departemenku untuk menjelaskan ke atasanmu bahwa kau dibutuhkan untuk kasus ini," kata Harry final. "Hermione ayo pergi."

"Godric... no..." Hermione mengambil nafas lagi.

"Hermione," Harry memperingatkan.

Hermione mengangguk dan seperti tersadar dari pingsan. Hermione masih tidak mengerti apa yang terjadi padanya seakan dia tak tersambuang ke dunia.

"This is just fucking great," Draco berkomat-kamit marah.

Hermione kembali dari keadaan bingungnya dan melihat Draco dari bahunya. "Jaga mulutmu."

Draco menyerigai dan Hermione mengikuti Harry dengan terpaksa dan anak laki-laki yang tanganya di genggam. Hermione merasa perutnya sakit.

"Disini, Malfoy," kata Harry membuka pintu untuk pria pirang itu.

Draco berhenti dan melihat ruangan pucat putih dengan meja dan dua kursi yang berlawanan arah. "Ruang interogasi? Really?" katanya mengeram marah.

"Aku katakan padamu kita harus bicara," jawab Harry.

"Ini benar-benar kasar. Aku ingin bertemu dengan atasanmu," perintah Draco.

"Itu bisa diatur jika kau mau, tetapi aku katakan aku tidak sedang main-main. Robards sudah memberikan keleluasaan untukku. Memanggilnya kesini itu berarti akan membuatmu disini lebih lama," kata Harry lembut. Draco tidak menjawab. "Duduklah dan aku akan datang lagi setelah aku mengirimkan berkas ke kepala departemenmu."

"Fine," geramnya dan masuk ke dalam ruangan. "Bloody prejudiced Auror!" teriaknya menutup pintu dengan kencang dibelakangnya. Harry dan Hermione melihatnya duduk di dekat jendela sebelah pintu.

Harry menarik nafas dan melihat kearah Aurelian. "Sini Aurelian. Kau duduk disini sampai aku kembali. Okay?" tanyanya membimbing Aurelian ke meja kerja besar. Aurelian naik ke kursi dan Harry kembali ke sebelah Hermione dimana dia sedang memandang Draco dari jendela.

Hermione mengarahkan wajahnya kepada Harry dan menangkap ekspresinya yang marah dan terganggu. "Jangan melihatku seperti itu, Harry?" pintanya.

"Malfoy, Hermione? Malfoy? Really?" katanya tak percaya.

"Stop. Aku sama syok dan tak percaya sepertimu! Mungkin lebih!" jawabnya marah.

"Katakan padaku, Have you seeing him?" katanya tiba-tiba masih dengan nada tak percaya.

"NO!" dia memukul dengan marah, karena tuduhan tak berdasar. "Bagaimana kau bisa berrtanya seperti itu. Kau tau aku tak menyukainya. Bukankah kau saksi hidup hubungan kami?"

"Yeah, tapi bagaimanapun sesuatu terjadi dengan adanya Aurelian."

"Harry!" teriak Hermione naik darah.

"Aku hanya berkata," jawabnya Harry. Dia kehilangan kemarahannya melihat reaksi Hermione. "Sekarang kumpulkan berkas yang dia minta sementara aku menyelesaikan ini."

Hermione menuruti dan memerintahkan orang kantornya. Dalam dua menit pesawat kertas berwarna orange sampai di Departemen kerjasama sihir Internasional. Hermione dan Harry melihat pintu ruang interogasi dimana Aurelian melambai melalui kaca kepada Draco, sedangkan Draco memandang marah padanya.

"Aku tak tau akan ini Harry," kata Hermione.

"Aku tau, aku juga tak suka, tapi kau tau apa yang harus dilakukan."

Hermione mengangguk maju kedepan dan membawa Aurelian masuk ke dalam ruangan. Harry mengikuti dari belakang.

"Oh, keroyokan bukan?" Draco bergurau. "Membawa anak kecil itu lagi padaku?"

"Apa dia menakutimu?" Hermione mencemooh, mata Draco menyipit.

"Cukup. Aurelian adalah bagian penting dari interogasi ini. Itu kenapa dia ada disini," Harry menjelaskan dia bersikap seperti bisnisman. Dia membantu Aurelian duduk di kursi terjauh dari Draco. Harry duduk di sebelah Aurey dan di depannya di kiri ada Hermione yang tidak punya pilihan duduk di sebelah Malfoy.

Draco menyandarkan punggungnya dan berkata dengan serius, "Kalau aku menjadi terdakwa atau apapun, aku minta pengacaraku."

"Kau bukan terdakwa atau apapun, belum," kata Harry, tiba-tiba curiga kenapa laki-laki ini ingin meminta pengacara.

"Aku tak melakukan apapun, Potter, jadi cepat lakukan apa yang kau inginkan dariku."

"Kami punya alasan untuk mempercayai bahwa beberapa pelahap maut melakukan aktivitas rahasia," kata Harry berhati-hati.

"Apa?" tanya Draco tak nyaman. Tapi dia cepat-cepat kembali ke lagaknya yang tak puas. "Jadi, rumor-rumor tentang pelahap maut dan kau tiba-tiba melihat ku? Kau semua harusnya tau dimana aku berpihak, Potter. Testimoni dan bantuanku, kau dapat melihat aku seperti orang-orangmu. Jika aku mendengar sesuatu tentang aktivitas pelahap maut, kau pikir aku akan dengan cepat berpindah haluan?"

"Apa kau akan pergi ke seseorang, terutama Harry jika kau butuh bantuan?" tanya Hermione skeptis.

Draco mengeram pada Hermione. "Tidak ada yang bertanya padamu. Sekarang aku tidak mendengar apapun, tidak bahkan cuma rumor. Pertanyaan selanjutnya. Kau masih punya pertanyaankan?"

"Banyak," kata Harry datar. "Masalahnya adalah kita belum tau harus bagaimana. Kenyataanya, ini adalah kasus yang rumit dan sangat rahasia. Apapun yang kau tau atau tidak, kau adalah pusat dari semua ini. jadi aku akan memberimu dua pilihan. Karena pihak manapun yang kau ambil, aku berharap kau akan ikut dalam investigasi ini dan membantu sebisanya atau kau bisa kembali ke posisimu sekarang dimana itu berarti kau tidak bisa mendapat jawaban dari pertanyaanmu, tetapi kita akan sering bertemu sampai kasus ini selesai."

"Itu pilihanku? Aku tak suka keduanya?" Draco mengeram.

"Aku tidak bilang kau menyukai pilihannya," balas Harry.

"Harry?" Hermione memberikan tatapan bertanya. Dia tidak yakin apa dia menyukai ide untuk berkerjasama dengan Draco Malfoy. Draco melihat ke arah Hermione, tidak yakin kenapa Hermione enggan.

"Apa yang terjadi kalau aku setuju untuk membantu?" Draco menanyakan, memandang mereka.

"Aku akan memberikan berkas kepada Departemenmu yang isinya izin unutkmu untuk membantu disini. Kau tinggalkan posisimu selama diperlukan dan posisi itu akan aman sampai kau kembali. Kau tetap akan mendapatkan gaji sama saat bekerja bersama kami," Harry memberikan kesan profesional.

"Dan jika aku menolak?" Draco menyelidik.

"Kita tetap akan menulis ke Departemenmu, menjelaskan informasi yang kami butuhkan, kau kembali bekerja saat aku selesai menanyakan apa yang aku perlukan, dan kau akan kembali kesini setiap dibutuhkan. Aku jamin, ini akan lebih baik untuk atasanmu kalau kau memilih pilihan pertama," Hermione menjelaskan dengan mengerutu, menerima jika lebih baik kalau Draco ikut serta.

"Pilihan kedua berarti aku tidak perlu bersama kalian terlalu banyak," Draco mempertimbangkan. Harry dan Hermione tidak merespon saat Draco sepertinya sedang mengalami perang batin. "Baik. Kita mulai."

"Kau setuju untuk ikut bagian dalam investigasi?" Harry memastikan.

"Yes, Potter," Draco menjawab datar, dia menghindari mata Harry.

"Kau tau itu artinya kau tidak bisa memberitahu orang lain apapun tentang kasus ini, benar?" Hermione memaksa.

"Aku akan mengikatmu jika harus-," kata Harry mengancam.

"Sweet Salazar!" Draco berseru mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku tau, okey? Aku tau apa yang aku setujui. Dan kau pikir, siapa yang akan aku bagi tentang informasi ini hah? Ini bukan sesuatu yang aku inginkan."

Hermione dan harry bertukar pandang dan mengangguk.

"Baik, darimana kita mulai?" kata Harry suaranya tiba-tiba lebih tinggi.

_TBC_

selamat menunaikan ibadah puasa bagi anda yang menjalankan.