'Apakah ia ingin menculikku? Kumohon jangan,' batin Luhan dengan memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, orang itu melepaskan tangannya. Luhan pun segera memasang kuda-kuda untuk bersiap memukul orang asing tersebut. Napasnya tersengal dan matanya melotot.
"Kau? Siapa?"
"Bukankah lebih penting jika kau mengucapkan terima kasih padaku," kata lelaki itu.
"Kau pikir kau siapa?" kata Luhan menantang.
Lelaki itu memperhatikan Luhan dari atas hingga bawah. Merasa seperti ditelanjangi, Luhan membentak, "Yak! Apa yang kau lihat?!"
"Kau bersekolah di sekolah yang sama denganku, bagaimana kau tidak mengenalku? Kau murid baru?"
"Apa pedulimu?" tanya Luhan dengan memutar bola matanya malas dan pergi meninggalkan lelaki yang mengaku sebagai teman sekolahnya.
Ketika Luhan melenggang pergi, lelaki itu menarik tangan Luhan dan menyeretnya entah kemana. Luhan terlalu malas untuk meladeni hal itu pun hanya diam saja dan mencoba mengikuti lelaki itu dari belakang.
Ketika dirasa lelaki itu sudah sangat keterlaluan, Luhan melepaskan tangannya kasar. Lelaki itu memandang Luhan bingung. Luhan pun membuka mulutnya, "Kau pikir apa yang kau lakukan padaku saat ini sudah benar, tuan Park?"
Lelaki bermarga Park itu pun melihat name tag nya, lalu ia mendengus kecil. "Kau ingin terlambat kesekolah, eoh?"
"Dengar ya Park Chanyeol, telat atau tidaknya aku itu bukan urusanmu. Jadi kau tidak perlu repot untuk mengingatkanku," kata Luhan
Lagi-lagi, Chanyeol menghembuskan napasnya menahan kesal hati. Sepertinya ia harus menyerah berdebat dengan gadis didepannya ini.
"Terserah kau saja. Jika kau ingin merasakan hukuman keras yang diberikan pada setiap siswa yang terlambat. Terlebih lagi kau murid baru. Sampai bertemu di lapangan sekolah," kata Chanyeol sembari menaiki motor besarnya.
Luhan masig menimang keputusan yang akan ia ambil. Ketika Chanyeol hendak menjalankan motornya, Luhan tiba-tiba memanggilkan, "Yak Park! Setidaknya tunggulah orang yang sedang berpikir."
"Ku kira kau tidak punya pikiran," kata Chanyeol sambil memberikan helm pada Luhan.
Perkataan Chanyeol tadi dihadiahi sebuah pukulan di kepalanya. Asal kalian tahu, hanya Luhan yang mengenakan helm. Aneh bukan.
. . .
Sehun sudah kembali berkutat dengan tumpukan kertas setelah istirahat makan siang. Bukan makan siang sebenarnya. Karena ini masih pukul 9 pagi. Jika dibilang sarapan juga bukan. Namun setidaknya, kesibukan yang dikerjakan bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari Luhan.
"Selamat pagi, calon suamiku."
Jika Sehun memiliki penyakit jantung, mungkin sekarang ia sudah pingsan. Bagaimana tidak, di tengah keseriusannya memeriksa dokumen, seorang wanita berdarah campuran Korea-China tana mengetuk pintu masuk dengan suara yang tidak bisa dibilang kecil.
Sejenak, Sehun memijat pelipisnya. "Apa yang kau lakuakn disini? Bukankah seharusnya kau berada di kampus?"
"Apa kau tidak senang melihatku kemari? Aku merindukanmu. Tapi sepertinya kau tidak. baiklah, aku pergi saja," kata wanita itu berbalik badan. Namun, seketika wanita itu mengembangkan senyumnya merasakan sepasang tangan melingkar indah di pinggangnya.
"Bukan seperti itu baby Tao, aku hanya tidak ingin jika aku mengabaikanku karena pekerjaanku menumpuk," bisik Sehun pada wanita bernama Tao tersebut
Tao berbalik badan dan mengalungkan tangannya pada leher Sehun. Secepat kilat, Tao mengecup bibir Sehun. Setelahnya ia berkata, "Aku tau. Tapi setidaknya luangkan waktumu untuk diriku."
"Apa kau ingin pergi ke suatu tempat? Aku bisa menunda pekerjaanku untuk besok," kata sehun dengan senyuman tulus.
"Benarkah? Kenamapun, asalkan berdua bersamamu saja sudah cukup."
Mereka menempelkan kedua dahi dan mengulas senyum.
. . .
Luhan dan Chanyeol telah sampai di tempat parkir sekolah. Baru saja mereka hendak melangkahkan kakinya di lapangan sekolah, seorang guru yang Luhan yakini sebagai guru konseling menghampirinya. Luhan yang ketakutan berjalan mundur hingga berdiri di belakang Chanyeol. Berbanding terbalik dengan Luhan, Chanyeol malah memutar bola matanya malas ketika harus menghadapi guru konseling.
"Kau tahu ini puku berapa, tuan Park?" ujar Nam Woohyun.
Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal pun kembali menatap guru yang ada di hadapannya lalu berkata, "Pukul 9 pagi saem."
"Lari keliling lapangan 18 kali, SEKARANG!" teriak Woohyun.
Luhan yang melihat Chanyeol meninggalkannya pun semakin bergetar. Ia mencoba menyapa gurunya, "Annyeonghaseyo, saem."
"Kau siapa?" tanya Woohyun.
"Saya murid baru di sekolah sini," jawab Luhan.
"Benarkah? Pantas saja wajahmu tampak asing bagiku. Lalu, kenapa kau diam saja?" tanya Woohyun tiba-tiba.
"Ne?" tanya Luhan tidak paham perkataan gurunya itu.
"Cepat ikuti Park Chanyeol berlari, SEKARANG! Untuk dirimu, hanya 9 putaran saja. Saya masih punya hati untuk memberikan seorang gadis hukuman. CEPAT!" teriak Woohyun.
'Punya hati bagaimana. Jika dia punya hati, setidaknya jangan hokum seorang murid baru. Aish!' batin Luhan.
Luhan dan Chanyeol berlari dengan semangat. Tak jarang mereka juga saling mendahului. Woohyun juga masih setia menghitung dan mengamati muridnya. Sampai putaran ke-9, dengan bermandikan peluh Luhan berdiri sambil menetralkan napasnya. Luhan juga melihat Chanyeol yang masih berlari. Beberapa saat kemudian Chanyeol selesai. Mereka sudah diperbolehkan masuk kelas.
Tidak langsung ke kelas, Luhan harus ke ruang kepala sekolah terlebih dahulu. Ia bahkan belum tahu masuk dalam kelas yang mana. Setelah mendapat pengarahan dan keputusan dari kepala sekolah, Luhan pun masuk dalam kelas 11-2. Saat masuk ke dalam kelas, mata Luhan membola ketika mengetahui jika Chanyeol berada sekelas dengannya. Dia bahkan duduk di depan bangku Chanyeol.
. . .
Luhan pulang sekolah ukul 4 sore. Sesampainya di rumah Sehun, Luhan yang uring-urigan segera membuka pintu kesar. Sehun yang sedari pukul 2 siang sudah pulang dari kantor pun sempat terkejut. Luhan segera membuang tasnya dan membaringkan tubuhnya di sofa tanpa membuka alas kaki.
"Tidak bisakah kau mengucapkan salam ketika pulang?" tanya Sehun yang mendekat kea rah Luhan.
"Aku pulang," kata Luhan menutup mata dengan lengan tangannya.
Sehun mendengus kecil dan duduk di sofa yang lebih kecil di samping Luhan, lalu bertanya, "Apa terjadi sesuatu di hari pertamamu?"
Luhan segera bangun dan menatap Sehun kesal. Napasnya memburu, ia pun berkata, "Ini semua karena kau. Jika saja kau membangunkanku lebih awal, mungkin aku tidak akan bertemu dengan lelaki brengsek tadi. Mungkin aku tidak akn dikejar preman berotot tadi. Mungkin aku tidak akan terlambat dan tidak mendapat hukuman di hari pertama aku bersekolah. Mungkin aku juga tidak akan sekelas dengan si brengsek itu. GYAAAAAAA. HARI INI MENJADI HARI SIALKUUUUUU!"
Sehun hanya memengangi telinganya yang kesakitan mendengar teriakan Luhan. Sepertinya membiarkan Luhan dengan kekesalannya ialah hal yang terbaik. Daripada kedua telinganya sakit mendengar teriakan Luhan. Sehun pun masuk kamar dan membuka beberapa dokumen.
Setelah selesai dengan urusan dokumen, Sehun melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam. matanya membola ketika ia belum menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Luhan. Ia segera keluar dari kamarnya. Bibir Sehun mengulas senyum ketika melihat Luhan yang tertidur pulas di sofa. Terlebih Luhan tertidur dengan keadaan mulut terbuka dan air liur yang berlomba-lomba keluar dari mulutnya.
Tanpa berpikir panjang, sehun menggendong Luhan ala bridal style untuk dipindahkan di kamar Luhan. Ia juga menutupi tubuh Luhan dengan selimut. Entah dorongan darimana, Sehun mengecup kening Luhan sembari berkata, "Jaljayo~"
. . .
TBC
. . .
A/N: Haluuuuuuuu. Maaf ya, mungkin di chap kemarin ada yang tidak seberapa paham. Sebenarnya, sehun dan Jongin itu bukan makan siang. Tapi makan biasa. Aku baru nyadar waktu di paragraph selanjutnya aku bialng kalo itu masih pagi gak mungkin lah ya kalo jam 9 an udah makan siang aja.
So, see you next chap. Annyeong~
170918
