Yosh chapter terakhir Arc ini akhirnya apdet. Uwooh saya seneng ada pembaca baru yang telah bersedia memberikan masukan. Chapter sebelumnya jujur aja saya merasa kurang puas, lantaran mereka semua hanya bercakap2 tanpa adanya twist yang menggulung perut (apalah). Tapi syukurlah. Saya takut readers bosan . . . :( Tapi syukurlah, dengan masuknya review dari readers baru adlh pertanda kalau fic ini tidak semenecewakan yang saya pikir.
Diarza: Aduuh jadi malu nih. Makasih banget masukannya. Saya suka dengan ide mengenai divisi delapan sebagai yang mengurus urusan mental. Kalau emang begitu ga heran Shunsui males2an mulu ya? Hahaha.
sora: Woke! Apdet!
Kimekiza: Saya ga nyangka momen KomaUno pada chapter pertama bisa cukup menarik hati pembaca. Saya juga suka sama idenya. Di chapter ini akan dijelaskan 'luka' macam apakah yang dialami oleh Hiisagi dan Kira.
Kie2Kei: Hahaha karena interaksinya jadi terserah saya, oke deh. Akan saya usahakan. Keep reading yawh.
Ray Kousen7: Woot! Semua chapter langsung di-review secara berturut2. Masukan2nya bagus. Karena itu biarkan saya menjelaskan sedikit. Tenken, pertama saya lihat seperti namanya: Divine Punishment, atau Hukuman Langit. Menurut saya ini kunci kalau sebenarnya zanpakutou Koma itu merupakan sosok yang cukup sacral. Belum lagi bankai-nya yang menggunakan Vidharaja/Myou'ou. Kalau saya ga salah dengar ini adalah salah satu dari lima Buddha tertinggi Shinto Jepang. Tunggu2. Mengenai pembagian divisi, ini cuma karangan saya aja loh. Canon dari Kubo-nya belum keluar mengenai tugas masing2 divisi. Kecuali divisi 1 (komando utama), 4 (kesehatan dan kesejahteraan shinigami, lol), 11 (infantri) dan 12 (riset pengetahuan dan teknologi). Interaksi Komamura dan Kenpachi pasti ada. Tenang aja. Wah ide apa tuh? Silahkan digunakan sepenuh hati deh. Saya juga seneng kalau sempat memberikan ide baru bagi readers dari fic ini.
Aya Akita: Saya juga ngakak pas nulis scene itu. Yang makanan anjing itu? Hahaha. Okeh deh, ini apdetnya :)3
Maap kepanjangan jawabnya. Review seperti apapun membuat saya semangat menulis fic ini. Serius. Karena itu silahkeun utarakan 'suaramu' pada pojok review. Lebay *plak!* xD
Terima kasih juga kepada segelas kopi moka komersial, kalau ga saya pasti dah tepar di kasur gara2 bgadang nonton bola, ngedota, dan futsal. Without further ado, please enjoy the last instalment of the first arc.
Purge of Soul
4
Bleach©Tite Kubo
fic by Crow
"Boleh aku membantumu, Iba-san?" Hinamori mengintipkan kepalanya ke balik pintu ruang kerja Komamura-taichou. Gadis tersebut melihat sang letnan (mengenakan ikat kepala penyemangat) sedang berkutat dengan beberapa dokumen yang telah membentuk menara setinggi 20 centi di atas meja kerjanya.
Melihat berkas-berkas yang menumpuk seperti itu, Hinamori teringat akan masa-masa sibuknya dulu. Iba melirikkan matanya yang tersembunyi dibalik shade spesial khusus miliknya, mengangkat sebelah alis mata dan melirik balik si gadis. "Serepot apapun aku saat ini, Hinamori, taichou menyuruhmu untuk beristirahat penuh hari ini. Kau bisa membantu kami esok hari." jawabnya, tertawa kecil. "Kau lebih baik tidak melanggar perintahnya."
Teringat akan perkataan sang kapten tadi, ia mengangguk dengan jinak. "Oh, baiklah kalau begitu . . ." Hinamori melirik sudut sisi ruangan yang lain, seolah termenung.
Iba menggaruk sisi kepalanya. Sadar betul dengan kebiasaan Hinamori yang sangat terampil dengan pekerjaan balik meja macam ini. Iba juga tidak bisa mengingkari seberapa inginnyakah si gadis membantu pekerjaan barunya di divisi yang lain. Khhuh. Gadis ini tidak bisa menyembunyikan perasaannya sama sekali, pikir si letnan.
" . . . Tapi yaah, kau boleh melihat-lihat ruangan ini bila kau mau. Ada banyak buku yang mungkin akan membuatmu tertarik."
Iba kembali memusatkan perhatian penuhnya pada apa yang tengah dikerjakannya. Untuk orang selevel dirinya, kehilangan sedikit konsentrasi saja pasti akan berakibat fatal. Seperti keinginan yang berkurang, maupun ogah-ogahan. Semuanya menjurus pada satu titik: ketidakefisienan waktu yang digunakan. Alhasil semuanya akan menjadi tersendat saat laporan para kapten dan letnan berikutnya.
Sebenarnya sederhana saja, ia hanya tidak ingin membuat kaptennya kecewa.
Hinamori mengelilingi ruangan. Kedua bola mata onyx pekatnya menerawang tiap buku dan dokumen yang terbaris rapih di ruang kerja yang sekaligus merupakan perpustakaan pribadi. Pikiran macam ini tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya: Komamura-taichou rupanya seseorang yang gemar membaca. Apalagi dengan berbagai macam buku yang terbagi dari berbagai macam genre dan bidang studi. Yang sejenis novel memang tidak ada, tapi sang kapten serigala memiliki 'banyak' buku pada jenis kajian sosial dan psikologi dalam jumlah banyak. Ketika Hinamori mengatakannya 'banyak', itu menjelaskan secara harfiah apa yang berderet dihadapannya.
Hinamori menggeleng, namun tersenyum tak percaya. Seingatnya, jika ada seseorang yang memiliki koleksi buku sebanyak ini adalah . . . Aizen-taichou. Pandangan si gadis mengosong. Ia menatap satu titik buku yang tengah ia buka tanpa tujuan pasti, sebelum akhirnya kembali menggeleng kuat guna membuyarkan bayangan 'orang itu' dari benaknya.
Hinamori telah bersumpah untuk melupakannya. Dia tidak akan pernah lagi menghubungkan masa lalunya dengan pengkhianat itu. Tidak akan pernah . . .
Meletakkan satu buku bidang psikologi yang tengah dibacanya sejenak, Hinamori kembali melanjutkan ekspedisi kecilnya di ruangan ini. Setibanya di meja Komamura—meja yang berada pada podium yang sedikit lebih tinggi dari dua meja tersedia lainnya, ia memperhatikannya dengan raut yang kelihatan tidak sabar akan sesuatu. Seperti seorang anak yang menunggu waktu tepat untuk membuka kado dari ayahnya.
Kursi yang digunakkan sang kapten adalah kursi putar, dengan bantalan empuk yang Hinamori yakin dapat mencegah keletihan akibat duduk terlalu lama. Namun yang paling menyita perhatian Hinamori adalah sebingkai foto yang berdiri dalam hening di tengah gesekan tinta Iba yang mengisi efek background audio ruangan.
Memperhatikannya dengan lebih teliti lagi, itu adalah sosok Komamura-taichou dan Kaname-taichou saat mereka masih menjabat sebagai shinigami. Tanpa badge letnan pada lengan mereka—juga tanpa haori kapten. Biasa dan normal. Tak ada yang berlebihan. Kecuali mereka berdua yang berdiri bersebelahan itu adalah seorang lycanthrope* dan satu lagi merupakan pria tunanetra yang mengenakan kacamata transparan desain pribadi.
Komamura dan Kaname memberikan senyum simpel penuh akan keyakinan, menghadap ke arah kamera. Mereka berda tersenyum seolah yakin bahwa jika mereka tetap berdua, mereka dapat menaklukan apapun yang menghalangi. Senyuman yang sering kau lihat ketika ada beberapa sahabat dekat yang saling mengisi dan saling mengerti tersenyum satu sama lainnya. Saat-saat dimana mereka tak menyadari sama sekali, apa yang hendak masa depan bawakan kepada diri mereka masing-masing nantinya . . .
Hinamori hanya dapat menahan napasnya. Berjalan dengan sedikit terburu-buru, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah berpamitan dan berterima kasih kepada sang letnan divisi tujuh . . .
Malam gelap berkabut telah menimpa Jepang provinsi Ishuu, prefektur Izumo. Para makhluk malam mulai membuka mulut mereka dengan lebar, berburu dan diburu, ini adalah saat-saat krusial bagi para makhluk kegelapan. Tetap bertahan hidup, atau membiarkan takdir berkata lain. Mengepakkan sayap-sayap iblis mereka, inilah rantai makanan.
"Saya menyukai kelelawar . . ."
Komamura, memegang sarung pedangnya yang tertancap terbalik ke tanah, melirikkan kedua bola mata emasnya menguatkan daya pandangnya ke arah letnan berambut pirang. Mereka berdua duduk di atas batu karang solid yang mungkin sudah bertonggok kurang lebih seribu tahunan, basah oleh embun malam hari.
Poni sebelah matanya yang menggantung sebatas pelipis melirik balik si kapten. "Oh, ya?" ujar Komamura, belum melepaskan tatapannya. Berdua saja dengan letnan yang satu ini, jujur saja, Komamura kehabisan topik pembicaraan. Baguslah jika ia berniat membuka pembicaraan tentang sesuatu. "Keberatan menceritakannya kepadaku?"
Kira tersenyum. Remang-remang cahaya memperlihatkan garis melekuk di bibirnya yang menekuk ke arah atas sejauh 1 milimeter. Memang hanyalah sebuah senyuman tipis. Tapi Komamura yakin, sebagai mantan teman sejawat Abarai-fukutaichou dan Hinamori-kun, pemuda ini pasti pernah walau hanya sekali saja memperlihatkan senyuman lebarnya kepada mereka berdua.
"Mereka adalah pemburu yang hebat saat malam." mulainya. Komamura mengangguk setuju. "Mereka tidak perlu bersitegang untuk saling berkomunikasi, alih-alih menggunakan ultrasonic sebagai pemandu jalan mereka yang absolut. Menyerang dengan kendali maneuver yang mengagumkan; para burung hantulah saingan mereka satu-satunya saat malam. Namun, satu hal yang membuat saya tak bisa menghapus mereka sebagai hewan favorit adalah karena mereka senang berkelompok. Mereka kuat ketika bersama. Mereka tak dapat dihancurkan ketika bersama."
"Seperti?" Komamura meninggikan suaranya, mengharapkan jawaban dari pemuda yang memulai diskusi ini.
Senyuman Kira sedikit mereda. Kedua mata sayunya menurun sedikit dan mengalihkannya dari tatapan intens Komamura. " . . . Maaf, bukan maksud saya membawa-bawa topik ini, taichou."
"Tidak. Aku tidak pernah keberatan." jawab sang kapten dengan singkat. "Tetsuzaemon sering menceritakan masalah pribadinya kepadaku. Seperti keuangan, keluarga, dan apa namanya . . .? Percintaan? Mungkin, ya, mungkin aku juga bisa memberikan solusi kepadamu."
"Tentu saja jika kau merasa tidak apa-apa mengatakannya." tambah si kapten serigala.
"Ichimaru-taichou . . ."
Aneh, mengapa Komamura tidak terkejut? Oh benar, karena ia sudah menebaknya sedari tadi.
Kira, Hiisagi, dan Hinamori. Mereka semua memiliki satu-dua masalah yang tidak sempat terselesaikan dengan kapten mereka masing-masing.
Ada satu lubang hitam di hati mereka, yang hanya dengan itu saja tidak dapat membuat relung batin mereka terisi penuh. Dan sebagaimana esensi lubang hitam itu sendiri, ia akan menyedot sisa-sisa hati mereka dengan menjadikan lubangnya semakin besar dan besar.
Mata sendu Komamura membiarkan dirinya menatap dan mendengarkan tiap bait kata-kata Kira.
Mengapa dia repot-repot melakukan ini? Mengapa? Apakah itu karena ia merasa kasihan kepada tiga anak muda ini? Tidak. Tidak sesimpel itu. Lebih. Alasannya lebih dari itu.
. . . Benar. Karena Komamura melihat dirinya dengan baik pada cerminan ketiga pemuda-pemudi ini.
Ia tidak bisa begitu saja berpaling dan melangkah menjauh. Baiklah, sebenarnya bisa. Tapi itu bukanlah pilihan. Itu adalah jalan ketidakpedulian yang menoleh jauh dari nilai-nilai manusia sebagai keberadaan yang memiliki hati dan perasaan.
"Saya menyukai pekerjaan yang diselesaikan secara bersama." jelas Kira. "Disamping terselesaikan dengan lebih cepat . . . kita," Kira memutar arah pandangnya, berusaha menutupi semburat merahnya. "Kita bisa saling bertukar senyum dan mengobrolkan hal apapun. Tapi sejak bekerja di bawah Ichimaru-taichou, semua sisi yang saya miliki itu seolah tertimbun dibawah pengabdian setia terhadapnya. Bukan berarti saya tidak menyukai Ichimaru-taichou. Ia adalah seseorang yang santai, dan tahu kapan untuk menikmati waktunya dan bekerja."
Kira bemain-main dengan jari-jemarinya yang saling menempel. "Namun ia penyendiri. Tidak pernah sedikitpun kelihatan kalau ia ingin bergaul dengan bawahannya kecuali dengan saya. Itu menyisakan saya untuk berurusan dengan anggota divisi tiga lainnya."
Komamura mengangguk, merasa dapat menangkap poin pembicaraan Kira barusan. Jika Hinamori-kun dan Hiisagi memiliki lubang di hati lantaran ketergantungan erat mereka dengan sang kapten, Kira berbeda. Ia ingin bergaul dengan kaptennya sambil mengikat ikatan bersama rekan divisi lainnya. Ia ingin mencoba mengerti kaptennya, namun dilain pihak sang kapten sendiri membatasi ruang geraknya dan gerak Kira sendiri. Sini lepas, sana lepas. Kira melayang diambang ketidakpastian.
"Kira," imbau Komamura, mengembalikan pedangnya kembali ke ikatan pinggangnya. "Karena tadi sore kalian mengadakan rapat para letnan, kupikir kau sudah tahu mengenai kepindahan Hinamori-kun ke divisiku."
Kira mengiyakannya dengan memberikan tatapan tenangnya, mempersilahkan Komamura untuk melanjutkan. "Itu semua dilakukan lantaran ia harus melewati batasan dirinya yang terlalu bergantung pada Aizen. Ia harus melewati pembatas tersebut agar bisa terus melangkah ke depan. Meraih hak dan masa depannya."
Komamura berdiri dari duduknya, menatap Kira lurus dengan sepasang matanya yang berkilau keemasan dalam gelapnya malam berbintang. Ia mengangkat kedua bahunya. "Bukan berarti aku punya cara untuk membantunya melakukan itu semua. Tapi paling tidak, kita harus mencobanya . . ."
"Komamura-taichou . . . Jangan bilang kalau kau yang,"
Tepat saat itu juga, dua lapis gerbang senkaimon terbuka di belakang mereka, menerangkan padang rumput gelap dihadapannya. Hiisagi menapak keluar dari dalamnya, melangkah ke arah Komamura dan Kira.
"Kukatakan saja dengan jelas sekarang kepada kalian." ujar Komamura, tegas. Kedua mata Hiisagi dan Kira memfokuskan tatapan mereka pada si kapten serigala.
Hiisagi masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi melihat raut Kira yang sedikit 'longgaran', Hiisagi pikir Komamura-taichou sudah memberikan Kira sedikit pandangannya.
"Hiisagi, Kira, dan Hinamori. Aku akan menempa diri kalian untuk menjadi seorang kapten. Aku akan menunjukkan kepada kalian apakah esensi dari kapten itu, dan apa yang membentuk seorang kapten." Komamura mendengus, mengeluarkan sedikit uap hangat akibat udara dingin disekitar mereka. "Tapi kalian lemah."
Kira dan Hiisagi terkejut. Tubuh mereka menegang seperti tersengat listrik. "Kalian lemah karena tidak tahu apakah itu yang dinamakan jiwa seorang pemimpin. Pemimpin itu harus kuat. Pemimpin itu harus tegar dan tahan banting. Dan yang terpenting dari itu semua, seorang kapten harus memiliki jiwa terbuka. Melepaskan yang lalu dan lampauilah batasan yang mengekang diri kalian. Batas yang terus membelenggu kalian dengan masa lalu."
"Tapi sebelum aku melanjutkannya, aku belum dengar dari diri kalian sendiri. Aku tidak ingin memaksa kalian." jelas Komamura dengan nada dan intonasi yang rendah. Suara beratnya mengirimkan getaran bulu roma kepada kedua letnan. "Melainkan aku hanya ingin memberikan solusi yang kurasa baik bagi kalian."
" . . . S-saya ikut, taichou." ujar Kira. Tatapannya begitu pasti dan berapi-api. Komamura berani bersumpah ini adalah tatapan penuh semangat pertama kali yang ia lihat pada diri si letnan yang serba lesu. Ada satu percikan api yang mulai menerang didalam hati pemuda ini. "Saya . . . selama ini saya terus memikirkan cara untuk 'menutup' masa lalu itu. Tapi, tapi seperti kata taichou, yang harus saya lakukan adalah melampaui itu semua. Berusaha keluar dari itu semua."
Kira dengan segera berlutut dihadapan Komamura. Jiwanya terasa hangat dan lepas. Dia belum pernah merasakan ini sebelumnya, tapi, tapi dia kini merasa hidup. "Walau apapun yang terjadi, mulai dari saat ini saya, Izuru Kira, akan mengikuti anda, Komamura-taichou."
Setelah melirik juniornya, Hiisagi menyadari anggukan pelan dari sang kapten divisi tujuh. Mengikuti pose Kira, Hiisagi turut berlutut. "Sejauh saya mengingat, anda, Komamura-taichou adalah sosok yang sangat bijaksana. Saya tidak pernah sedikitpun meragukannya. Saya, Shuuhei Hiisagi dan dua junior saya, Izuru Kira dan Momo Hinamori, berada dibawah bimbingan anda. Kami harap kami tidak merepotkan dan menghalangi jalan anda."
Komamura mencabut zanpakutou-nya, segera beralih ke arah lain dari padang rumput setelah menerima determinasi mereka berdua. Komamura tidak perlu menanyakannya lebih lanjut. Dia tahu mana orang yang hanya bermain-main, dan mana yang murni serius. "Aku belum mengatakannya kepada kalian menyangkut tujuan kita ke sini. Ini adalah Izumo. Sama seperti Karakura-cho, daerah ini termasuk salah satu daerah yang memiliki energi spiritual terbesar di dunia manusia. Ini adalah 'taman latihanku'."
" 'Taman latihanku'?" secara serempak, Hiisagi dan Kira kembali berdiri menatap sang kapten.
"Awas belakang kalian," ujar sang kapten dengan tenang, segera melompat menjauh. Dengan efek slow motion, dua letnan tersebut melihat belakang mereka. Rambut Kira dan Hiisagi seolah melompat tinggi, membuat mereka menarik mundur diri mereka ke arah sang kapten.
"Ad-Ad-Adjuchas!" seru Kira, nampak ketakutan dengan keringat yang membanjiri wajah mereka.
Hiisagi mencabut pedangnya, menyiapkannya dengan satu tangan. Dan Kira melindungi tubuh bagian depannya dengan zanpakutou yang ia pegang dengan erat menggunakan kedua tangan.
Enam Adjuchas mengelilingi mereka bertiga, membuat mereka seperti tikus yang terperangkap pada permainan kejar-kejaran. "T-taichou!"
"Jangan gentar, Kira." ujar Komamura, dengan nada rendah. "Percayalah pada kemampuanmu; percayalah pada zanpakutou-mu. Itu adalah syarat pertama menjadi seorang kapten. Ini latihan pertama kalian. Lakukan, Kira, Hiisagi!"
"Baik, taichou!" seru Hiisagi dengan lantang.
Adjuchas berbentuk ikan memuntahkan napas api dengan kecepatan mengerikan ke arah mereka bertiga. Hiisagi dan Kira melompat ke tengah udara, menghindarinya. Sementara Komamura berbalik dan memantulkan bola api tersebut dengan punggung pedang, mementahkannya ke wajah si Adjuchas yang bertanggung jawab.
Adjuchas yang berbentuk seperti gurita memanjangkan lengannya dan menangkap Kira di tengah udara. Penuh akan kepanikan, ia menjerit ngeri. Hiisagi datang seperti didorong oleh angin darat malam hari, terbang dari atas tanah dan memotong tentakel tersebut.
Setelah mendarat di atas pantatnya, Kira mengernyit kesakitan. Hiisagi meraih kerah seragam shinigami juniornya dan menarik Kira keluar dari kepungan tiga Adjuchas. "Kira, serius! Seriuslah!"
"A-aku mengerti, senpai. T-tapi . . ."
"Ingatlah malam itu, Kira. Malam saat aku menguji kalian bertiga." bola mata Kira nampak bergetar dengan kecepatan getaran per detik, menatap sepasang mata tajam ebony seniornya. "Ingat berapa banyak teman-temanmu yang mati malam itu? Ingat seniormu yang mati saat itu!" teriak Hiisagi. Jujur saja dia tidak ingin mengingat kematian beberapa teman dekatnya saat itu; itu menyakitkan.
"Kita harus tetap hidup!" Hiisagi melepaskan renggutan tangannya. "Sekarang berdiri, dan buktikan kemampuanmu."
Jika ada satu hal saja yang membuat Kira ingin berguna adalah kenyataan kalau ia tidak ingin mengecewakan teman-temannya sedikitpun. Percikan api yang sudah dipicu oleh Komamura kian menyala. "Baik, senpai!"
Dari jauh Komamura tersenyum panjang. Kemampuan untuk melewati rasa takut milik Kira. Dan juga kemampuan memotifasi teman setim dari Hiisagi. Mereka membentuk regu yang baik. Komamura mengangkat tangannya, menangkis serangan Adjuchas yang menyerupai kucing—atau harimau. Debu akibat bertubrukannya serangan terangkat setinggi dada Komamura. Sang kapten melangkah mundur dan menarik tubuhnya, karena menyadari dirinya akan segera dikepung.
Kali ini Adjuchas yang menyerupai burung elang botak mendekat dengan sepasang kaki bercakar tajamnya ke arah Komamura. Kecepatannya begitu tinggi, mengakibatkan Komamura tidak memiliki pilihan lain kecuali melepaskan shikai-nya. Mengumpulkan segenap reiatsu-nya, tubuh sang kapten divisi tujuh bersinar magenta. "Tenken!"
Pijakan disekitar mereka semua berpijak bergetar seakan gempa bumi tengah menyerang Jepang. Tanah disekitar Komamura terangkat, menciptakan lubang mencukam yang melenyapkan dua Adjuchas tersebut secara bersamaan. Sesosok lengan 'raksasa' yang berwarna magenta pula nampak melayang di udara. Pedang raksasa tersebut menghancurkan segala yang ada dilintasannya.
Hiisagi menyabetkan pedangnya pada Adjuchas ikan yang tadi menembakkan bola api ke arah mereka. Dengan mudah menghindar ke udara, hollow tingkat menengah tersebut menukik dengan tajam ke arah junior Hiisagi. "Kira, belakangmu!"
" . . . Api dan Neraka, gelombang pelindung laut, mengarah ke selatan! Hado sanjyuuichiban, Shakkahou!" ledakan bunga api meletup dari telapak tangan Kira, menyambar wajah Adjuchas ikan tersebut. Meledak dan menghasilkan asap, Kira segera berguling menjauh sambil memanfaatkan kelengahan lawan.
Kira memusatkan reiatsu-nya ketika menyadari hollow tersebut menabrak tanah dengan kuat dan tak bisa berbuat banyak. Ini kesempatannya. "Omote o agero" Kira melompat ke arah hollow itu, bersiap menghentakkan shikai zanpakutou-nya. "Wabisuke."
Kira mendarat di atas Adjuchas ikan itu. "GRAAH, dasar shinigami keparat! Tunggu sampai aku terlepas dari sini!" teriak si hollow, meronta-ronta.
" . . . Tetaplah bersujud," dengan dingin Kira memukulkan zanpakutou-nya berkali-kali. Pedang unik yang memiliki punggung sebagai bagian depan pedang, sementar mata pedangnya melekuk siku-siku 90 derajat ke arah dalam.s
"A-apa ini! Tu-tubuhku berat! Tidak bisa bergerak!" protes Asjuchas yang tinggal menunggu nasib itu.
" . . . Kubilang tetaplah bersujud, bukan?" ucap Kira. "Kalian memang cerdik, Adjuchas. Tapi jika tubuhmu seberat ini, kecerdikanmu 'pun hanya akan kau bawa mati nantinya. Sayonara." ZRAATS! Leher Adjuchas ikan tersebut terkoyak oleh mata pedang bagian dalam zanpakutou Kira, meninggalkan tubuhnya yang menggeliat-geliat di atas tanah.
"Hanya jika teman shinigami-mu berhasil membunuh Adjuchas, lalu kenapa? Nantinya ikan tidak guna itu juga akan kumakan." ujar hollow menengah yang menyerupai gurita. "Aku pastikan kau juga senang di perutku nanti, shinigami!"
Hiisagi melompat mundur untuk menghindari serangan bertubi-tubi tentakel panjang lawannya. Namun apa daya, akhirnya Hiisagi tertangkap akibat kecepatan dan banyaknya tentakel yang menyerbu.
Berkali-kali Hiisagi mengingatkan dirinya untuk tidak menggunakan zanpakutou bentuk shikai-nya. Itu dikarenakan bentuknya yang menyeramkan dan membawa mimpi buruk. Sabit berantai: simbol kematian. Tapi, saat ini dia sudah memiliki tujuan. Tujuan yang lebih tinggi, dari apapun yang pernah dibayangkannya. "Kare" dia tidak akan gentar di sini. Tidak akan. "Kazeshini!"
Zanpakutou Hiisagi berubah bentuk menjadi sabit kembar bermata dua. Yang satu mengarah ke depan dan yang satu lagi ke arah belakang. Sepasang sabit kembar tersebut benar-benar mencerminkan dewa kematian. "Mau apa kau dengan mainan itu! Tidak akan kubiarkan. MATI KAU, SHINIGAMI!"
Hiisagi terhenti dari apapun yang hendak dilakukannya. Ia menjerit perih. Gepitan tentakel pada diri Hiisagi semakin menguat, membuatnya memuntahkan sedikit darah dari dalam tubuhnya. Garis bawah matanya menghitam, napasnya mulai tersedak-sedak.
"Hiisagi-senpai!" seru Kira.
Hiisagi melirikkan matanya ke arah Komamura yang berdiri dengan tenang dengan Tenken di satu tangannya. Dengan mudah sang kapten menghabisi tiga Adjuchas, tapi bahkan dirinya sendiri saja masih belum keurusan dengan yang satu ini. Hiisagi ingin membuat Komamura bangga. Ingin membuatnya tidak menyesal mengangkatnya sebagai murid. Dia tidak akan jatuh di sini.
" . . . Khuh. Ah, kau berisik sekali gurita." ujar Hiisagi, bermain-main. Jelas sekali ia ingin membuat lawannya kesal. "Gurita sepertimu bagusnya dicincang, dibumbui, dan dibakar. Dasar Takoyaki!"
Menajamkan kedua matanya, Hiisagi melempar satu bilah sabitnya ke arah kanan, dan satu lagi ke arah kiri. Dengan cepat sabit-sabit itu mengitari tubuh si gurita Adjuchas dengan sekejap mata menggunakan rantai yang panjangnya terkesan tak pernah habis. Hiisagi menarik rantai tersebut dengan tangannya. Begitu kuat hingga membuat si gurita terikat dan ZRAT ZRAT ZRAT, tercincang rata menjadi beberapa potong. Darah merah segar merembes deras ke udara; hujan darah, betapa jijiknya Hiisagi dengan ini . . .
Komamura dari jauh menggelengkan kepalanya, tersenyum simpul di tempatnya. "Aku sudah pernah mendengar sepak terjang mereka di lapangan. Tapi melihat aksi mereka secara langsung seperti ini membuatku berpikir kalau kata 'shinigami; sangat tepat diberikan kepada mereka berdua."
-o0o-
Komamura berjalan meniti tiap anak tangga menuju lantai lima markas divisinya. Sudah pukul satu pagi, dan Hiisagi serta Kira juga sudah kembali ke barak mereka masing-masing. Komamura mengeluarkan kuapan besar seraya menapakkan kakinya tepat di lantai lima.
Baru saja ia berniat membuka pintu kamar pribadinya, ia menyadari sosok Hinamori yang masih terbalut seragam shinigami berdiri di belakangnya. "Hinamori-kun, kau belum tidur? Sudah lewat tengah malam."
Komamura menyadari apa yang gadis mungil itu bawakan untuknya. Sepiring steak sapi, kumplit dengan salad tambahan, segelas air mineral, dan susu putih. Semuanya tertata rapih di atas rantang. Begitu menggoda selera. "S-saya meminta paman cafeteria menyisakan ini. Saya sudah menghangatkannya, jadi, er, mungkin Komamura-taichou ingin makan dulu sebelum pergi tidur?"
Komamura terdiam. Ia berdiri dalam hening menatap Hinamori dihadapannya. Kemudian ia mengarahkan tatapannya ke arah jam dinding besar yang berdiri tepat di pojokan lantai lima yang beralaskan kayu jati ini. "Kau-" Komamura menghela napasnya, dan tersenyum tipis. "Kau tidak harus melakukan ini, Hinamori-kun."
"T-tapi, taichou belum makan siang tadi. Jadi saya agak khawatir kalau-"
Komamura memang tidak bilang ia pergi ke barak divisi sembilan dan mendapatkan makan siangnya di sana. Dan dia juga tidak kembali dulu tadi sore ke divisinya, alih-alih memiliki urusan lain di divisi empat menyangkut banyaknya anggota divisi tujuh yang sedang dirawat disana. Unohana-taichou mengatakan tidak usah khawatir, 'rekor terbanyak masih dipegang oleh divisi sebelas'. Komamura masih ingin tertawa pelan, saat mengingat kata-kata Unohana dengan selera humornya yang unik.
"Tetsuzaemon mana?"
"Tadi kami menunggu anda berdua. Tapi karena Iba-san nampak sudah mengantuk berat, saya mempersilahkannya ke kamar duluan."
Komamura melirik kamar Iba yang terletak di sebelah kamar Hinamori yang satu lagi. Samar-samar, Komamura dapat mendengar suara dengkuran pulas nan keras letnan divisinya dari balik kamar tersebut. Komamura memegang rantang yang ditawarkan Hinamori, memberikan anggukan sambil tersenyum. "Tetsuzaemon bisa belajar banyak darimu, Hinamori-kun. Terima kasih."
Komamura meneruskan jalannya menuju meja eksklusif yang ada di lantai ini. Biasanya itu digunakan oleh Komamura dan Tetsuzaemon untuk berdiskusi. Menyadari si gadis masih berdiri di belakangnya, ia kembali memutar tubuh.
Ekspresi Hinamori dapat ditebak oleh Komamura. Ia ingin menemani kaptennya. Perasaan yang dimiliki seorang bawahan ketika ia ingin menunjukkan pengabdian setianya. Dan Hinamori adalah seseorang yang terakreditasi A dalam bidang tersebut. Terbukti dari bagaimana ia begitu setia kepada Aizen dulu. Melalui darah dan air matanya sendiri bahkan. Komamura tidak bisa menahan kekagumannya terhadap gadis mungil ini. Walau ia hanya dimanfaatkan sepenuhnya oleh Aizen saat itu, tapi tetap saja . . .
"Hinamori-kun, kau memiliki hari yang panjang besok. Daripada menemaniku makan, alangkah baiknya jika kau beristirahat sekarang dan mengumpulkan energi."
Momo terkejut, menahan napasnya. Apa barusan taichou menebak pikiranku? "S-saya bisa menemani—b-baiklah, kalau begitu." grogi sambil merundukkan kepalanya, merasa menyerah, Hinamori langsung melanjutkan. "Um, selamat tidur, Komamura-taichou." ia membungkuk, merapatkan kedua telapaknya tepat pada perbatasan antara kedua dengkul kakinya.
Ketika Hinamori mengangkat kepalanya, ia menerima senyuman dari Komamura. "Selamat tidur juga."
Hinamori tersenyum cerah sekali lagi kepada sang kapten selagi menahan lonjakan detak jantungnya. Ia 'pun menghilang ke balik pintu kamarnya.
Komamura akhirnya duduk di kursinya, menatap pemandangan terbuka yang dimiliki lantai ini. Terdapat taman pribadi di depannya, dan dibiarkan terbuka untuk membiarkan udara lebih dan aroma pekarangan memasuki serta menghiasi lantai lima ini. Komamura selalu senang memandang tamannya. Ada beberapa pasang pot bonsai yang selalu dapat menyita perhatiannya di kala waktu senggang.
Walau saat ini ia sedang senggang, namun perhatiannya tersita oleh objek yang lain. Gadis mungil yang memiliki senyum secerah mentari . . .
Pada saat inilah, kebencian Komamura terhadap Aizen semakin menguat. Jadi karena kepolosan murni itulah Aizen memanfaatkannya?
Gadis yang malang.
Tubuh Komamura terlalu lelah dari kegiatannya seharian ini. Besok ia memiliki kewajiban seperti biasa, berkutat dibalik meja dengan segunung dokumen. Tapi untungnya ia kini memiliki Hinamori yang dapat diandalkan.
Komamura menenggak habis air mineralnya dan berjalan menuju kamar pribadinya yang terletak di sebelah kanan kamar Hinamori. Sang kapten berhenti di depan pintu kamar si gadis mungil. Hembusan dan tarikan napas milik si gadis ini terdengar begitu melelapkan. Mengalir dengan lembut, merilekskan tubuh.
Memaksakan diri membuatmu kelelahan seperti ini, Hinamori-kun. Mengeluarkan senyuman simpul, Komamura memasuki kamarnya sendiri.
*Lycanthrope: Werewolf adalah manusia yang berubah humanoid serigala pada malam purnama. Namun kehilangan sifat2 manusiawi-nya. Tapi Lycanthrope memang merupakan serigala yang bisa berubah menjadi dan berpikir seperti manusia. Tapi Koma mungkin adalah lycanthrope yang tidak sempurna. Eh, ini persepsi saya aja loh. Kita harapkan saja masa lalu Koma yang meremukkan hati dari Kubo nanti.
AN: Dengan itu Arc awal dari fic ini telah selesai. Mungkin masih terkesan janggal, tapi mulai dari chapter berikutnya ikatan hubungan antara empat karakter utama kita akan semakin menguat. Sehingga mungkin menciptakan sesuatu yang lebih. Karena Arc berikutnya mengenai Turnamen Besar Shinigami, saya bisa mengeksplor karakter lain lebih banyak lagi. Saya bisa pastikan ada KomaHina dan HitsuHina. Jreng jreng. Dan siapa tahu saya bisa menyelipkan KomaHiisa atau KomaKira.
Saya juga akan menyeret Ichigo ke fic ini btw,
Author: Mari lu Ichigo! (narik kerah leher Ichigo yang lagi makan roti ma tiga temen karibnya)
Ichigo: Wets, apa-apaan neh?
A: Lo gw masukin ke fic ni.
I: Beneran? Oke. Karena kita ngomongin fanfiction, siapa pairing gw? Fic tanpa pairing itu ibarat makan sayur ga pake garem.
A: . . . Jiss, sejak kapan lu jadi pujangga? Pairing lu belom ade.
I: WTH! Ente bahkan belon dapet pairing buat gw, IchiHOT ini? Blasphemy!
A: Iye, tapi pair fave ane buat ente tu ma si Senna dari movie pertama!
I: SWT . . . gimana donk? T^T
A: Gw kasih Yuzu-chan aja deh,
I: WTF! Awas nyentuh adek gw lo!
Baiklah. Karena Author dan Ichigo akan merundingkan hal ini secara musyawarah mufakat yang diikuti hanya oleh dua orang, gimana kalau reader yang memberikan masukan mengenai pairing untuk Ichigo. Author prefernya (secara berurutan) Sui Feng, Rukia, Momo, Nemu, Yachiru *plak!* Khusus dua pilihan terakhir bisa jadi bahan lelucon buat Mayuri dan Kenpachi. Dan lalu, Bambietta-chan. *Plakk!* (ketahuan fanboy akutnya) Yang paling akhir becanda kok.
Uryuu: Anu, saya boleh ikut fic-nya masbro?
A: Boleh. Tapi situ ga punya pairing.
U: (pundung di pojokan . . .)
Oh ya, harapkan pertempuran kelas kapten di Arc ini, alias pertempuran Bankai! Dan lihat perkembangan tiga murid Komamura! Till then, see you next time.
