.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Light Black
Main Cast : Luhan, Oh Sehun
Other Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo
.etc.
HunHan. ChanBaek. KaiSoo
story by : Min J-Lu
.
.
.
Enjoy reading guys!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun, Kai, dan Chanyeol berjalan keluar dari kantor tempat mereka bekerja. Cerita panjang tentang masa lalu Kris benar-benar cukup menyita waktu ketiganya. Bahkan, jikapun ketiganya tidak benar-benar sedang tertarik mungkin ketiganya sudah tertidur mendengar dongeng panjang yang Kris ceritakan. Apalagi, saat Kris masih tenangnya mengatakan, "itu saja hanya singkat ceritanya."
Singkat cerita? Apa dia bercanda? Lantas bagaimana dengan panjang ceritanya?
"Aku benar-benar masih tak percaya, ada seorang gadis yang masih berumur belasan yang hidupnya sudah sekeras itu?" tutur Kai mulai berucap diantara kedua temannya yang sedari tadi hanya diam sejak ia bersama Sehun dan Chanyeol keluar dari ruang penyidik.
"Tapi, cerita mereka sungguh menarik." Chanyeol mengulum senyum. "Dan, Luhan itu benar-benar keren."
"Jangan bilang kau mulai menyukainya?" tuduh Kai. Chanyeol mengedikkan bahunya acuh.
"Entahlah. Kita lihat saja nanti." balasnya yang kemudian menoleh kearah Sehun yag sedari tadi hanya diam. "Apa yang kau pikirkan, huh?" tanyanya yang entah kenapa membuat Sehun terkejut.
"Kau melamun?" tanya Kai juga. Sehun menghela nafas sejenak.
"Tidak. Hanya memikirkan hal yang tidak penting."
"Dan, kutebak hal tidak penting itu adalah Luhan." tebak Kai yakin. Sehun mengeryitkan keningnya.
"Kenapa harus Luhan?"
"Entahlah. Karena, sejak gadis itu menodongkan pistolnya padamu, kau terlihat lebih banyak melamun. Seperti banyak pikiran. Apa yang kau pikirkan tentangnya?" jawab Kai. Sehun terdiam sejenak sementara Chanyeol juga menatap Sehun penasaran.
"Dia terlalu misterius. Bahkan, dari cerita Kris tadi, seperti mengandung makna tersembunyi yang tak kupahami. Kalian paham maksudku 'kan? Terlebih mengingat bagaimana pekerjaannya sekarang."
"yoksi... seorang leader memang memiliki pemikiran yang berbeda." pekik Kai semangat.
"woah~ bahkan aku tak berfikir sampai kesana," sahut Chanyeol. Sehun berdecak. Kedua temannya ini terlalu lama menghabiskan waktu di rumah sehingga radar detektif mereka lama bereaksi.
"Sudahlah. Tidak ada untungnya curiga pada rekan sendiri." halau Sehun jengah melihat wajah takjub bak anak anjing sok menggemaskan yang dipasang kedua temannya.
Drrt~ Drrt~
Sehun dan Chanyeol menoleh kearah Kai ketika ponselnya berdering nyaring. Kai ikut mengeryit namun tak lama ia meraih ponselnya yang terpendam apik di saku celananya.
"Siapa?" tanya Chanyeol ingin tahu. Kai menggeleng.
"Nomor tak dikenal. Haruskah ku angkat?" Kai balik bertanya yang dibalas isyarat Sehun yang melirik kearah ponselnya seolah mengatakan, 'angkat saja'.
"yeob—"
"YAK! Kenapa lama sekali?!" Kai mengeryit mendengar suara cempreng khas wanita yang cukup asing di telinganya.
"Nugu?" tanya Kai bertampang bodoh.
"Kau tak mengenali suaraku?" tanya si penelpon.
"Salah sambung?" tebak Kai ragu. Si penelpon berdecak.
"Bisa kau to the point saja, Baek?" Kai semakin mengeryit mendengar pertengkaran dua suara wanita seberang sana.
"YAK! Apa kau punya sopan santun? Kau pikir, kau sedang menghubungi jasa pengantar?"
"Cih! Sok sopan!"
"hey... dengan siapa aku bicara?" Kai menginterupsi jengah.
"oh, mian Kai. Bisakah kau menolong kami?"
"Kau—"
"yaampun... kau masih tidak tahu siapa ini?!" potong si penelpon kesal sendiri. "Baekhyun. Byun Baekhyun."
Kai manggut-manggut mengerti.
"ah~ darimana kau tahu nomorku?" tanya Kai lebih penasaran dengan fakta satu itu.
"Ini nomor Kyungsoo ngomong-ngomong. Aku tidak punya pulsa dan ponsel Luhan sedang error, memoringnya terlalu penuh—dan, tinggal ponsel Kyungsoo yang masih waras—tak seperti yang punya..."
"Baek..." si penelpon terkekeh dan Kai hanya membuat kerutan di dahinya semakin dalam serta memandang Sehun dan Chanyeol horor yang dibalas dengan sorotan penasaran—tepatnya ini hanya respon dari Chanyeol.
"Oke oke... maafkan aku. Sampai dimana kita tadi?" tanya suara seberang, Kai hendak merespon namun suara kesal lainnya kembali terdengar lebih jelas.
"Dasar tidak berguna!" sarkasnya kesal. "oh... Kim Jongin, bisa kau bantu mengambil pesanan kami?"
"huh?" dan seketika Kai menunjukkan wajah blanknya mendengar permintaan langsung tanpa jedanya itu.
"Bagaimana? Bisa tidak?" tanya suara seberang lebih terdengar seperti paksaan.
"oh-ya... baiklah. Dimana barangnya?"
"Kau bisa mengambil langsung di bea cukai."
"mwo?!"
"Jika ingin marah. Kau bisa marah pada Luhan. Dia yang memesan barang. Dan, barangnya tertahan di bea cukai. Aku tidak tahu dia membeli apa. Tapi, aku akan mengirim billing pesanannya padamu." jelasnya yang hanya direspon anggukan dari Kai.
"Baiklah."
"Oke. Terima kasih kalau begitu!"
Pip!
Kai menurunkan ponselnya dari telinganya. Ditatapnya kedua temannya melas.
"Siapa?" tanya Sehun datar.
"Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo." jawab Kai lengkap.
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" Kai mengangguk menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Mereka meminta kita untuk mengambil barang." jawab Kai lesu. Sehun dan Chanyeol mengangkat sebelah alis mereka, belum mencerna sepenuhnya seluruh ucapan Kai.
"Maksudmu?" Kai mendengus. Kenapa sekarang giliran Sehun dan Chanyeol yang berfikir lambat? Chanyeol sih dia tidak heran, tapi Sehun?
"Kyungsoo meminta kita untuk mengambil pesanan Luhan di bea cukai. Sepertinya barangnya tertahan di sana."
Ting!
Kembali, ketiga pria tampan itu mengalihkan pandangan mereka pada ponsel Kai yang berdenting nyaring.
"Siapa?" tanya Chanyeol ingin tahu.
"Kyungsoo mengirim billing pesanannya." jawab Kai setelah membuka pesan yang baru saja masuk.
.
.
.
"Atas nama siapa?" lelaki botak yang merangkap sebagai pegawai bea cukai itu menatap ketiga pria tampan yang baru saja datang dan menanyakan barang yang akan mereka ambil.
"Luhan. Kami mengambil barang atas nama Luhan." jawab Chanyeol penuh penekanan pada nama 'Luhan'.
"Bisa tunjukkan kartu identitas kalian?" pinta si pegawai. Sehun berdecak tak sabar, ia mengeluarkan tanda pengenalnya dan menodorkannya tepat di wajah si botak.
"Aku harap kau bisa membaca!" sarkas Sehun.
"Maaf, maaf tuan Oh. Aku hanya memastikan. Karena, barang atas nama Luhan, bukan barang sembarangan." jawabnya.
"Memangnya, darimana asal barang itu?" tanya Kai.
"MI6. Kalian percaya itu?" balasnya menatap ketiga pria tampan itu bergantian.
"Apa Luhan juga memiliki hubungan dengan MI6? Aneh rasanya mendengar mereka bersedia mengirim barang sampai ke Asia." ujar Chanyeol penasaran.
"Bisa kami ambil barangnya?" pinta Sehun mengabaikan ucapan Chanyeol meskipun ia turut memikirkan hal yang sama.
"Baiklah. Tunggu sebentar." sang pegawai berlalu untuk mengambil barang yang mereka inginkan.
"Luhan pernah mengatakan jika ia juga memiliki atasan di London." tutur Sehun. "Tapi, aku tidak menyangka jika ia memiliki hubungan dengan MI6."
"Pantas saja latar belakangnya sulit dicari." sahut Kai yang diikuti anggukan Chanyeol.
"jja... ini paketnya," kata pegawai botak yang tiba-tiba muncul dan mengalihkan atensi ketiga pria tampan itu.
"Kau bercanda? Kita kemari hanya untuk barang sekecil ini?" sahut Kai tak percaya. Ditatapnya kubus cokelat yang tampaknya berukuran 5x5cm. Di bagian depan kotak ada lambang khas badan intel Inggris, MI6.
Sehun meraih kotak itu dan dengan mudah mengantonginya di saku mantelnya.
"Kami pergi." pamitnya pada pegawai bea cukai yang dibalas anggukan darinya.
"Kira-kira apa isinya?" tanya Chanyeol penasaran.
"Kita akan tahu jika kita pulang sekarang," jawab Sehun berjalan memimpin diantara kedua rekan kerjanya.
.
.
.
"Ada apa?" tanya Kai ketika Sehun menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah mereka. Sehun mendengus. Wajahnya kelihatan marah sekali.
"Siapa yang mem-password pagar rumah kita?" tanya Sehun suaranya rendah, menahan emosi.
"MWO?!" dan Kai serta Chanyeol memekik bersamaan.
"aish! Ini pasti ulah tiga wanita itu." tebak Chanyeol tepat sasaran. "Cepat telpon mereka, Kai!" titah Chanyeol menoleh ke arah Kai yang duduk di bangku belakang. Kai ikutan mendengus, ia merutuki kedatangan tiga wanita yang sudah hidup seenaknya di area istananya.
"Ada apa?" balas suara ketus dari seberang tepat pada dering keempat Kai menghubungi nomor Kyungsoo yang belum sempat ia simpan.
"yak! Apa kau mem-password gerbang rumah kami?"
"oh, kau sudah sampai?" suara Kyungsoo balas bertanya dengan santai.
"Cepat buka gerbangnya, pinguin!"
"Kau memanggilku apa?!" terdengar geraman dari seberang. "Buka saja sendiri! Dasar hitam menyebalkan!"
Pip!
"YAK!" Kai berseru kesal pada ponselnya sendiri sementara di depan sana, kedua temannya, Chanyeol yang tertawa keras dan Sehun yang menggeleng tak heran.
"Kau melakukan kesalahan, bung..." ujar Chanyeol. Kai berdecak masa bodoh. Ia kembali berfokus pada ponselnya. Mengotak-atik sesuatu yang kiranya bisa untuk membuka password sialan gerbang rumah mereka.
"Sudah dapat?" tanya Sehun tak sabar.
"Diamlah! Beri aku satu menit!" sarkas Kai masih kesal karena ditertawakan oleh kedua temannya.
"Satu menitmu itu seperti lima jam. Lamaaa sekali..." sahut Chanyeol membuat Kai ingin sekali memukul kepala pria yang terlalu banyak tertawa sedari tadi.
Klik!
Sreet!
"oh! Terbuka... apa passwordnya?" tanya Chanyeol setelah mendengar bunyi klik serta gerbang rumah mereka yang membuka secara otomatis.
"Cari tahu saja sendiri!" sinis Kai. Chanyeol tertawa kecil sementara Sehun kembali melajukan mobilnya memasuki pekarangan tempat tinggalnya.
Blam!
Blam!
Blam!
Ketiga pria tampan itu keluar dari mobil Sehun bersamaan dan berjalan cepat memasuki rumah mereka.
"Siapa mereka? Berani sekali memberi password gerbang rumah kita?!" omel Kai masih tak terima yang sayangnya protesannya itu diabaikan oleh kedua temannya.
Cklek!
"woah~" Kai dan Chanyeol memekik heboh pada saat Sehun membuka pintu rumah mereka.
Mereka benar-benar tak menyangka, rumah yang biasanya lebih pantas disebut sebagai kandang hewan kini berubah lebih manusiawi. Rumah ini benar-benar bersih. Semuanya tertata rapi, tak ada barang atau pun sampah yang berserakan. Dan, pemandangan ini benar-benar terlihat seperti rumah pada umumnya. Lebih terawat dan layak dihuni.
"oh, kalian sudah datang?" ketiganya menoleh kompak pada Baekhyun yang menyapa mereka dari arah dapur.
"Apa yang kalian lakukan pada rumah kami?" tanya Chanyeol takjub. Ketiganya berjalan mendekati Baekhyun yang berjalan menuju ruang santai.
"Membuatnya lebih pantas untuk dihuni. Maaf jika lancang, tapi rumah kotor itu tidak baik untuk kesehatan." jujur Baekhyun.
"Kami tidak masalah. Hanya sedikit terkejut." tutur Kai. Baekhyun tersenyum manis.
"ah-ya... aku hampir lupa, kami memutuskan untuk menggunakan tiga ruang kosong di lantai ini. Tidak masalah 'kan?" ijin Baekhyun.
"Kau gunakan untuk apa?" tanya Sehun.
"Ruang yang berpintu hitam, kami gunakan sebagai ruang kerja. Karena, kami tebak sepertinya kalian berdiskusi di sembarang tempat. Jadi, karena mulai sekarang kita adalah tim akan lebih baik jika kita punya tempat yang tetap. Lalu, pintu berwarna abu-abu itu adalah ruang gym, tak hanya kalian yang membutuhkan. Kami juga membutuhkannya omong-omong. Dan, ruang yang berpintu putih itu adalah ruang rawat—"
"Ruang apa?" potong Kai dan Chanyeol cepat. Baekhyun tersenyum cantik.
"Sebenarnya, ini permintaan Luhan, kalian tahu 'kan dia juga seorang dokter. Bagaimanapun dia ingin meminimalisir jika diantara kita ada yang terluka." ketiganya menggangguk paham.
"eoh, itu sangat efektif, mengingat kami bertiga sangat membenci rumah sakit." ujar Chanyeol. "Dan, bolehkah kami melihat ruangannya?" ijinnya kemudian yang direspon anggukan antusias dari Baekhyun.
"Tentu saja. Kalian pasti menyukainya." Jawab Baekhyun, ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerja, ruang yang berpintu hitam.
"hi soosoo..." seru Baekhyun pada Kyungsoo yang sedang sibuk dengan layar-layar komputer yang ada di ruang kerja baru mereka.
"Jangan memanggilku seperti itu, Baek! Itu menggelikan." Baekhyun mengedikkan bahunya acuh.
"daebak! Darimana kalian mendapatkan semua ini?" tanya Chanyeol berbinar. Kyungsoo yang tak menyadari dengan kedatangan para pemilik rumah seketika menoleh dan memandang remeh ketiganya.
"wah... kalian cukup cepat untuk mengetahui password yang kubuat." remehnya.
"yak! Kau meragukan kemampuanku?! Lagi pula, kenapa kau mem-password gerbang rumah kami?" seru Kai tak terima sedang Kyungsoo mengedik acuh.
"Tentu saja. Kenapa kalian ceroboh sekali? Ini adalah hal dasar yang harus kalian lakukan. Begitu banyak informasi yang ada di rumah ini, bagaimana jika ada penyusup masuk? Kalian seperti memberi umpan yang terlalu mudah!"
"yayaya... itu seperti kau yang masuk kemari tanpa permisi. Heol! Seharusnya aku mem-passwordnya sejak dulu,"
"Apa kau pikir dengan kau mem-passwordnya aku tak bisa masuk? Lagipula, apa sih yang bisa dilakukan pria malas sepertimu?"
"YAK!" pekik Kai membuat Chanyeol dan Baekhyun tertawa keras sedangkan Sehun lebih memilih meneliti seisi ruang kerja ini. Berbagai komputer dengan spesifikasi lengkap dengan layarnya yang dibuat berjajar menggantung ke atas, kemudian sisi ujung ruang berbagai jenis senjata api hingga bermacam-macam bom yang diletakkan di dalam etalase khusus. Serta sepaket sofa panjang nan empuk yang berhadapan dengan deretan komputer.
"Mustahil kalian memasang semua ini dalam waktu tiga perempat hari." gumam Sehun yang masih didengar oleh empat orang lainnya.
"Kau benar leader-nim. Karena, memang bukan kami yang memasang. Jauh-jauh hari Lulu kami sudah memesan semua ini." jawab Baekhyun bangga.
"daebak! Dia penuh dengan rencana." kagum Chanyeol.
"Tentu saja!" sahut Baekhyun senang. "Oya, barangnya sudah kalian ambil 'kan?"
"eoh... ini dia," Sehun mengeluarkan kotak yang sedari awal berada dalam saku mantelnya dan menyerahkannya pada Baekhyun.
"Apa isinya?" tanya Kai.
"Kami juga tidak tahu." jawab Baekhyun yang membuka paket Luhan secepat kilat. "Mereka membungkusnya rapat sekali," gumam Baekhyun kesal karena perekat kotaknya susah sekali di buka.
Krek!
"oh-apa ini?" tanya Baekhyun setelah berjuang membuka kotak itu susah payah, dan mendapati benda teramat kecil di dalamnya.
"chip?" lirih Kyungsoo ketika Baekhyun mengeluarkan benda mungil itu.
"Coba kau sambungkan pada komputer." titah Chanyeol yang dituruti Kyungsoo tanpa banyak bicara. Ia memasukkan chip itu ke dalam perangkat komputer barunya dan menunggu beberapa saat hingga mereka melihat bagaimana sekitar belasan layar komputer, yang awalnya berwarna pelangi berubah menjadi gambar bergerak berwarna hitam-putih.
"oh-God..." Baekhyun menutup mulutnya takjub begitu pula Kyungsoo yang melongo tak percaya. Kai yang melebarkan kedua matanya, Chanyeol yang sampai menganga sementara Sehun yang tak bisa berkata apa-apa.
"Ini God's Eye." gumam Kai masih terperangah takjub. "Meskipun ini hanya copyannya. Tapi, sungguh ini adalah alat yang paling diincar nomor dua di dunia. Kita harus menjaganya baik-baik."
"Setuju." sahut Kyungsoo sependapat. "Kita harus menjaganya baik-baik."
.
.
.
.
.
.
Sebenarnya, Sehun merasa sedikit aneh dengan keadaan rumahnya yang sekarang. Ini terasa seperti baru saja pindah ke rumah baru. Apalagi, hal yang membuatnya semakin aneh adalah keberadaan pintu putih yang dibaliknya terdapat bau-bau khas obat-obatan yang amat sangat dibencinya sejak kecil. Namun, lucunya jika ia membenci hal-hal semacam itu, kenapa saat ini ia berdiri di depan pintu putih yang tertutup rapat?
Cklek!
Tangan kekar putih pucat itu mendorong pintu perlahan, seolah ia takut suara decitan pintu mengusik seorang yang berada di dalamnya.
"Kau disini?" dan seharusnya dua kata ini dilontarkan oleh Sehun. Tapi tidak, gadis bermata rusa itu mendahuluinya untuk menyapa satu sama lain.
"Masuklah." Luhan, si pemilik ruangan mempersilahkan Sehun masuk.
"Aku harap, aku tidak mengganggumu." tutur Sehun. Luhan yang sedang membaca di meja kerjanya seketika mendongak, membuat pertemuan dengan sepasang mata setajam elang itu.
"Tidak sama sekali. Apa kau sudah melihat semuanya? Maaf jika kami berbuat seenaknya." sesal Luhan. Sehun tersenyum samar, nyaris tak terlihat.
"Justru kami yang merepotkan kalian. Kami tuan rumah, tapi kami dibuat terkejut dengan rumah kami sendiri." Luhan terkekeh, dan itu cantik sekali.
"Setidaknya, kami hanya membantu untuk merubah pola hidup kalian yang buruk." ujar Luhan jujur. Sehun tertawa kecil.
"Kau menyakiti hatiku," candanya. Luhan tersenyum manis.
"Kenapa kejujuran lebih banyak menyakitkan?" tanya Luhan, Sehun mengedik acuh.
"Entahlah, mungkin karena itu banyak orang lebih memilih berbohong." Luhan mengulas senyum kecil.
"Tapi, kebohongan tak 'kan bertahan lama."
"eoh... tapi, setidaknya kebohongan bisa memberi harapan baru untuk orang lain." Luhan terdiam, terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Apa aku menyinggungmu?" tanya Sehun yang melihat keterdiaman Luhan. Luhan tersenyum manis dan menggeleng.
"Tidak. Aku hanya teringat sesuatu." jawab Luhan misterius. "Dan, bagaimana dengan lukamu? Aku bisa mengobatinya sekarang." tutur Luhan mengingatkan.
"ah~ baiklah. Kau bisa lakukan sekarang."
"Kau duduklah di tempat tidur itu." titah Luhan yang dituruti Sehun. Pria tampan itu mengamati setiap gerak-gerik Luhan yang meraih sarung tangan karet serta beberapa peralatan lainnya.
Luhan berdiri di belakang Sehun setelah mencuci tangannya dengan sabun antiseptik, ia juga sudah mengenakan sarung tangan karet.
"Bisa kau lepas kemejamu?" pinta Luhan ragu.
"Oh, tentu saja!" jawab Sehun cepat. Ia langsung membuka kemeja membuatnya bertelanjang dada di depan wanita cantik yang sejak awal kedatagannya telah mampu menarik perhatiannya.
"argh~" Sehun meringis kecil. Entah apa yang dilakukan wanita cantik itu di balik punggungnya.
"Aku dengar, kau serta Kai dan Chanyeol adalah teman sejak kecil." Luhan membuka pembicaraan, ia melakukannya guna mengalihkan perhatian Sehun dari rasa sakit akibat luka yang sedang ia obati.
"Rumah kami berdekatan. Membuat kami terpaksa selalu bersama sejak bayi." Luhan terkekeh.
"Aku iri sekali." Sehun tersenyum kecil, meskipun Luhan tak melihatnya.
"yah... tapi, aku bosan melihat wajah mereka." tutur Sehun. "Kau tahu? Itu seperti duniaku tak pernah berputar. Selalu berhenti dititik yang sama."
"Apa kau bosan?"
"Tentu saja. Tapi, aku sadar aku tak bisa hidup tanpa mereka."
"Kalian bertiga seperti kembar dempet." Sehun tertawa refleks membuat Luhan tertegun seketika. Karena, yang pernah ia dengar leader work team-nya ini terkenal dengan sifat dingin nan acuhnya. Bahkan, rumornya ia jarang tertawa meskipun mendengar lelucon selucu apapun. Tapi, sekarang? Hanya karena celutuk sederhana Luhan, semudah itukah pria tampan itu tertawa? Dan, sungguh Luhan bersumpah, Sehun terlihat berkali lipat lebih tampan kala tertawa, menghasilkan desiran aneh pada diri Luhan yang tak pernah ia rasakan pada pria manapun sebelumnya.
"Kau benar. Aku juga merasa seperti itu." ujar Sehun. Entah kenapa berbincang dengan Luhan saat ini terasa segala rasa perih yang sebelumnya ia rasakan, tak terasa sama sekali.
"oh-ya... aku lupa memberitahumu."
"Apa?" tanya Sehun.
"Apa kau sudah lihat basement?"
"huh? Ada apa memangnya?"
"yang kutahu, kau juga tertarik dengan otomotif, jadi aku juga menata bengkel di basement rumah ini." kedua mata Sehun berbinar antusias.
"jinjja?"
"eoh! Segala macam onderdilnya juga sudah datang bersamaan dengan komputer dan barang-barang lainnya."
"daebak! Kau tahu? Itu adalah salah satu impianku."
"Aku rasa, semuanya yang ada di rumah ini adalah impian masing-masing."
"Maksudmu?"
"Kau tidak tahu?" Sehun mengangkat sebelah alisnya tak paham. "Kim Jongin yang menginginkan ruang kerja lengkap se-set perangkat komputer di rumahnya. Park Chanyeol yang ingin ada ruang gym pribadi dan kau yang ingin memiliki bengkel."
"daebak. Kau mewujudkan semua kenginan kami begitu saja?" Luhan mengedikkan bahunya acuh.
"Bukan hanya aku. Kyungsoo dan Baekhyun juga turut andil." jawab Luhan. "Lagipula, dengan cara ini bukankah secara tidak langsung kalian akan menerima kami dengan senang hati?" seketika senyum dibibir Sehun luntur dalam sekejap. Ia menghela nafas dan kembali memasang wajah datarnya.
"Dasar licik!" desisnya yang mampu di dengar Luhan.
Luhan tertawa meskipun Sehun mengatainya dan mendengar Luhan tertawa tanpa beban entah kenapa membuat Sehun ikut menarik sudur bibirnya membentuk senyuman tulus yang terlihat sangat tampan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak terasa hari ini adalah hari ke dua puluh, Luhan, Baekhyun, dan Kyungsoo tinggal di rumah Sehun, Kai, dan Chanyeol. Dan selama itu pula hubungan keenamnya semakin lekat satu sama lain. Tak ada kecanggungan seperti awal pertemuan keenamnya, bahkan hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama. Entah bermain game, menonton, membersihkan rumah, memasak, mencuci, berbelanja, dan pekerjaan lainnya mereka bagi secara bergilir rata.
'You Lose!'
"WOHOOOOO!" Kai dan Baekhyun memekik senang mendengar suara sang operator game. Keduanya bahkan sampai berpelukan, mengabaikan Chanyeol yang menekuk wajahnya serta membanting stick game yang sedari tadi ia pegang.
"Kau lihat Yeollie... sudah kukatakan, aku yang akan menang!" ejek Baekhyun. Chanyeol berdecak kesal.
"yak! Kenapa kau ikut bersorak?!" tanya Chanyeol pada Kai yang terlihat bersemangat.
"Karena, aku berada di kubu Baekhyun." jawab Kai nyengir bangga.
"Dasat pengkhianat!" sinis Chanyeol sementara Kai berpura-pura menulikan pendengarannya. Membuat Chanyeol kesal adalah kesenangannya tersendiri.
"Pie datang!" suara Kyungsoo terdengar menggelegar di setiap sudut rumah. Ia berjalan mendekati ketiga temannya dengan kedua tangannya yang membawa dua piring besar.
"woah~ strawberry..." pekik Baekhyun yang langsung menyerbu pie hangat buatan Kyungsoo yang sudah si pembuat letakkan di meja ruang santai rumah mereka. Tak hanya Baekhyun yang terlihat antusias menyerbu pie Kyungsoo, Kai dan Chanyeol pun tak mau ketinggalan menyantap masakan koki resmi di rumah mereka. Yah—meskipun tak jarang, Luhan dan Baekhyun ikut memasak makanan wajib mereka.
"Siapa yang menang?" Sehun muncul dengan secangkir kopi di tangannya. Ia berjalan menuju sofa tunggal yang kosong yang berada di sisi kanan Kyungsoo duduk, sementara Kai, Baekhyun, dan Chanyeol duduk bersila di atas karpet beludru berwarna biru laut.
"Aku tentu saja. Chanyeol tak pernah menang dariku." jawab Baekhyun percaya diri.
"Aku hanya mengalah padamu. Jika kau kalah, nanti kau menangis. Aku tidak mau mendengar suara bayi cempreng di rumah ini." ejek Chanyeol. baekhyun membulat tak terima.
"yak! Apa kau bilang?!" seru Baekhyun. Entah kenapa Chanyeol suka sekali menyulut emosinya.
"Wae?! Wae?! Wae?! Apa yang mau kau lakukan pendek?!" ejek Chanyeol dengan senyum penuh kepuasan.
"Park Chanyeol! kau—"
Brak!
Kelima orang itu sontak menoleh kearah wanita cantik bermata rusa yang entah muncul darimana serta merta membawa sebendel berkas yang sebelumnya pernah membuat Kai frustasi.
"hi Lulu..." sapa Kai dan Chanyeol memasang senyum semanis mungkin yang hal itu membuat Kyungsoo dan Baekhyun merengut sebal.
Plak!
Plak!
"Berhenti menatap Luhan-ku seperti akan memakannya! Mata kalian benar-benar terlihat mesum!" seru Kyungsoo setelah puas memukul kepala belakang dua pria yang sudah terhitung selama 20 hari ini terus mencari perhatian Luhan, sama seperti dirinya dan Baekhyun.
"Apakah aku juga harus menjawab, hi Jonginie... hi Yeollie... begitu?" sinis Luhan yang anehnya masih dibalas senyuman lebar dari kedua pria itu.
Luhan menggeleng ngeri.
"Aku sudah mempelajari semuanya." tutur Luhan duduk di samping Baekhyun, mengabaikan dua pria tampan—Kai dan Chanyeol, yang masih menatapnya dengan tatapan bodoh mereka.
"Bagaimana?" tanya Sehun serius.
"Pada dasarnya Sowell Group mendapat dana ilegal sebanyak 75% dari pihak hitam yang identitasnya masih tak kita ketahui. Kasus pembunuhan yang melibatkan politikus Jung Won Bom dan Dewan Kang Jong Un sepenuhnya tertuju pada pemasok dana Sowell Group, ada beberapa bukti jika mereka saling berhubungan. Dan juga, ada kemungkinan jika penculikan putra tunggal Ha Ji Won juga berhubungan dengan pembunuhan sebelumnya." Luhan menjelaskan awal permasalahan kasus pertama mereka sebagai tim.
"Jadi, apa motif pembunuhan ini?" tanya Kai. Luhan menoleh kearahnya setelah sebelumnya berfikir sebentar.
"Jika sesuai dengan data yang ada, Kim Jun Seo, korban penculikan yang merupakan putra dari Ha Ji Won diketahui juga putra lain dari Kim Hyun Bin, korban pembunuhan sekaligus pemilik pertama Sowell Group. Dari sini kita tahu, jika sejak awal semua ini memang saling berkaitan."
"Apa itu artinya Ha Ji Won dan dan Kim Hyun Bin adalah orang tua kandung Kim Jun Seo? Mereka berdua memiliki hubungan?" tanya Baekhyun.
"Tak ada informasi seprivasi itu disini. Tapi, setelah mempelajari semua dokumen ini anggap saja jika mereka berdua pernah berhubungan."
"Lalu, bagaimana dengan pihak hitam?" tanya Baekhyun lagi.
"Itulah pokok permasalahannya. Pasalnya, pemegang saham Sowell seluruhnya adalah keluarga besar Kim Hyun Bin, yang diketahui sangat segan dan begitu patuh kepadanya. Akan cukup sulit mencari informasi siapa orang dibalik semua ini."
"Bagaimana dengan susunan organisasinya?" tanya Sehun.
"Jabatan tertinggi di dapuk oleh putra serta keponakan Kim Hyun Bin, Kim Woo Bin dan Kim Hyoong Jeong. Hampir lebih dari rata-rata data pegawai bahwa kebanyakan pekerja di Sowell Group adalah keluarga besar Kim."
"Siapa orang yang dicurigai sebagai daftar pihak hitam?" tanya Sehun mulai menganalisa.
"Menurut keterangan jaksa, ada lima nama yang diduga termasuk dalam pihak hitam Sowell Group, Menteri Keuangan, Kim Ahn. CEO VIPagency, Lee Seungri. Dewan Perwakilan Rakyat, Han Sung. Presdir Lotus Group, Son Dambi. Serta, Direktur Utama Samsung Medical Center, Kim Joonmyeon. Tapi, kecurigaan itu segera dihapus mengingat kelimanya adalah orang terpengaruh yang hanya berteman dekat dengan Kim Hyun Bin."
"Semudah itu mereka menghapus nama kelimanya?" tanya Baekhyun.
"Mereka bukan orang sembarang yang patut untuk dicurigai, Baek." sela Chanyeol. Baekhyun hanya mengangguk-angguk lugu.
"Bagaimana sekarang? Pihak polisi hingga jaksa menghapus nama kelimanya karena mereka tak memiliki bukti. Ini tak akan memberi petunjuk apapun." ujar Kyungsoo setelah sedari tadi hanya diam menyimak.
"Bahkan, berkas ini pun tak begitu banyak menunjukkan kejadian yang sebenarnya. Tampaknya, ada terlalu banyak data yang dimanipulasi." lanjut Luhan.
"eoh... dan sepertinya, kita harus memulainya dari nol," jengah Kai sudah merasa lelah yang bahkan belum memulai apapun.
"Atau justru tidak?" sahut Sehun tiba-tiba. Ditatapnya kelima rekannya satu per satu hingga kedua matanya terhenti pada Luhan yang juga tengah memusatkan seluruh perhatiannya padanya.
"Kita tetap selidiki lima orang ini, tapi kita juga tidak bisa membiarkan orang-orang dalam Sowell lepas begitu saja." lanjut Sehun setelah berfikir keras sejak tadi. "Kita bergerak tiga hari lagi. Baek, kai mata-matai Kim Ahn, jika perlu kau masuklah ke dalam lingkup lingkungannya." Baekhyun mengangguk patuh.
"Tenang saja, itu perkara mudah untukku."
"Yeol, kau awasi Han Sung. Aku akan mengawasi Lee Seungri. Luhan, Kim Joonmyeon bagianmu. Dan, kau Kai—ikuti gerak-gerik Son Dambi." Kai menatap Sehun tampak terkejut.
"Aku turun ke lapang?" tanya Kai.
"wae?"
"Lalu, siapa orang ruang?"
"Kyungsoo tentu saja." jawab Sehun. Kini, ia menatap Kyungsoo serius. "Soo, kau bertugas untuk mengawasi seluruh aktivitas Sowell. Semuanya, tanpa terkecuali." Kyungsoo mengangguk senang.
"Serahkan saja padaku." balas Kyungsoo semangat.
"Dan, ya—dimanapun kalian berada jangan pernah matikan gps. Soo, tugasmu juga mengawasi kami." Kyungsoo kembali mengangguk.
.
.
.
.
.
"Aku sudah mendapat informasi mengenai jadwal lima orang itu." ujar Kai keluar dari ruang kerjanya setelah berkutat di dalam sana selama kurang lebih tiga jam. Ia berjalan menuju ruang santai menghampiri kelima rekannya yang memang sedang santai berkumpul disana. Baekhyun dan Chanyeol yang kembali melanjutkan rutinitas mereka yaitu bermain game. Kyungsoo dan Luhan yang berdiskusi tentang kasus pertama mereka serta Sehun yang sedang mengevaluasi juniornya melalui tablet kerjanya.
Kai memilih tempat duduk di samping Luhan yang duduk di sofa panjang bersama Kyungsoo. Sehun yang duduk di sofa tunggal sementara Chanyeol dan Baekhyun duduk di atas karpet beludru masih terfokus dengan game yang mereka mainkan rutin satu minggu ini.
"Menteri Keuangan Kim Ahn, hanya memiliki satu jadwal kosong; dua minggu kedepan hari Rabu. Dewan muda Han Sung juga memiliki jadwal kosong di minggu yang sama, hari Senin. Sedangkan, CEO VIPagency, Lee Seungri free tiga hari di minggu yang sama, Senin, Selasa, dan Rabu. Kemudian, Son Dambi, presdir Lotus Group, memiliki jadwal kosong minggu depan hari Minggu. Dan terakhir, Kim Joonmyeon, direktur Samsung Medical Center, ini gila—tapi dia hanya memiliki satu jadwal kosong bulan depan." jelas Kai panjang lebar.
"Baiklah, kita mulai dari Son Dambi." balas Sehun, ia mengotak-atik tabletnya sebentar yang ternyata ia gunakan untuk mengubah fitur pada televisi yang digunakan Chanyeol dan Baekhyun bermain game.
Klik!
Dan dalam sekejab televisi itu berubah layar dengan latar berwarna biru tua serta memunculkan lima foto berikut profil lengkap dari target pertama yang akan mereka selidiki.
"Apa yang dilakukan wanita itu di hari liburnya?" tanya Baekhyun menatap satu-satunya foto wanita dari kelima targetnya.
"Aku rasa sama seperti rutinitas orang kaya lainnya." sahut Kyungsoo.
"Tidak, coba kau baca profil paling bawah,... wanita itu seorang maniak sex." tutur Chanyeol jeli dengan tulisan-tulisan kotak kecil yang membutuhkan ketelitian yang serius.
Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, Luhan, dan Sehun secara kompak menoleh kearah Kai yang saat ini menelan ludahnya susah payah.
"tidaktidak... aku tahu jelas rencana licik kalian semua. Kalian tidak akan mengorbankan senjata perkasaku 'kan?" tanya Kai keringat dingin yang membuat Chanyeol serta tiga wanita cantik lain tertawa lepas. Sedangkan, Sehun hanya menggeleng malas.
"yaampun, kau mesum sekali, Kai..." sahut Baekhyun masih tergelak.
"Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba," balas Kyungsoo yang membuat gelak tawa mereka semakin keras.
"YAK! YAK! YAK!" seru Kai tak terima.
"Apa yang dikatakan Kyungsoo, ada benarnya juga." ujar Sehun membuat Kai sontak melotot kearahnya. Sehun tersenyum miring.
"hey, seharusnya kau senang, bung... fantasimu akan terwujud sebentar lagi." celutuk Chanyeol. Kai merengut melas.
"Tega sekali kalian padaku~" sendunya dramatis. "Lulu... lihatlah! Mereka terus meledekku!" adu Kai pada Luhan yang sedari tadi hanya tertawa dan secara kebetulan duduk di samping Kai, membuat pria tan itu menggelayut manja di lengannya.
"yak! yak! yak! Lepaskan Luluku sekarang!" seru Baekhyun menarik tangan Kai kasar, bahkan saking kesalnya wanita cantik penggila eyeliner itu sampai menyeruak duduk berdesakan antara Luhan dan Kai.
"yaampun, Baek... kau memenuhi tempat!" desis Kyungsoo ikut kesal.
"Aku harus melindungi Luluku dari pria mesum ini." tutur Baekhyun menatap Kai penuh intimidasi.
"YAK! Siapa yang kau sebut mesum?"
"Tentu saja, kau idiot!"
"Byun,..."
"hey... sudahlah, berhenti bertengkar kita sedang diskusi dan—jika kalian masih ingin bertengkar, kalian bisa melanjutkannya nanti." Luhan menengahi membuat Baekhyun dan Kai saling mencibir.
"Jadi, sudah selesai mendramanya?" sindir Sehun.
"Dibandingkan mendrama aku rasa mereka lebih cocok disebut sebagai pemain opera." ejek Chanyeol tergelak.
"YAK! Park Chanyeol!" seru Baekhyun dan Kai bersama.
"Abaikan mereka!" sela Kyungsoo tak peduli. "Kegiatan pertama, Minggu pagi Son Dambi adalah bermain golf dengan teman-teman sosialitanya."
"Kita bisa mulai dari sana. Dan, aku rasa kau bisa menyamar sebagai pegawai golf," lanjut Sehun. "Soo, kau bisa membuat id card untuk Kai?" Kyungsoo mengangguk ringan.
"Itu perkara mudah untukku."
"Tapi, aku tidak harus mengajaknya—kau tahu maksudku 'kan?" tanya Kai masih cemas. Sehun tersenyum kecil.
"Jika kau mau kau bisa mengajaknya." jawab Sehun ringan.
"YAK!" dan lagi-lagi Kai memekik tak terima.
"Kai, bisakah kau berhenti berteriak?! Kau seperti wanita!" sinis Kyungsoo kesal membuat Kai mendelik lebih kesal kearahnya.
"Sebenarnya, Soo... Kai adalah laki-laki jadi-jadian," tambah Chanyeol memperburuk keadaan. Kai hendak menyangkal tapi Sehun lebih dulu melotot jengah kearahnya membuat pria tan itu mendengus sekeras mungkin. Ia mengalah kali ini.
"Sudahlah, diskusi ini tidak akan selesai jika kita saling mengolok satu sama lain," lerai Luhan membuat Kai refleks menarik tangan Baekhyun hingga terjatuh dari sofa serta langsung memeluk Luhan erat.
"Ah~ kau memang wanitaku!"
Plak!
"Jauh-jauh dari Luhanku, Kim Jongin!" Baekhyun dengan gerakan secepat kilat bangkit untuk memukul kepala Kai, tidak tanggung-tanggung ia juga menarik tangan Kai kasar dan mendorong pria tan itu dari tempatnya duduk.
"Menurut catatan, Son Dambi masih terikat kerjasama dengan Showell Group. Tapi, yang menjadi masalah adalah tak ada keterangan bentuk kerjasama antara keduanya." Luhan mulai berunding serius.
"Kalau begitu, kau hanya perlu memastikan bentuk hubungan apa antara Son Dambi dengan Kim Hyun Bin." lanjut Sehun memberitahu tugas utama Kai. Kai mengangguk tanpa membantah.
"Minggu selanjutnya, hari Senin, aku rasa kita bisa melakukan dua target sekaligus, Han Sung dan Lee Seungri. Dan, bagaimana jika di jadwal kosong mereka, kita sengaja meminta pertemuan secara langsung kepada mereka berdua?" tanya Kyungsoo.
"eoh, itu ide bagus. Kita bisa menggunakan cara itu kepada Lee Seungri. Tapi, Han Sung aku rasa ada cara lain yang lebih efektif." tutur Sehun tersenyum miring. "Senin malam, dewan muda itu gunakan untuk berhura-hura di club langganannya." Sehun menoleh kearah Chanyeol yang tersenyum miring, tahu betul apa isi kepala leader-nya itu.
"Aku juga akan bersenang-senang denganya kalau begitu. Tapi, akan lebih menyenangkan jika aku tidak pergi sendiri." ujar Chanyeol yang kini tatapannya jatuh pada tiga wanita cantik yang juga tengah memusatkan perhatian mereka padanya.
"Jadi, kau membutuhkan salah satu tenaga kami?" tebak Baekhyun tepat sasaran. Chanyeol mengedik.
"Apa kau bisa menemaniku—" jeda Chanyeol sejenak sebelum memanggil seseorang yang skillnya diam-diam ingin ia saksikan secara langsung, "Luhan?" lanjutnya yang membuat seluruhnya langsung terpusat pada wanita cantik bermata rusa itu.
"Dengan senang hati." jawab Luhan membuat Chanyeol tersenyum puas dan tak menyadari jika ada beberapa pasang mata yang sedikit tak suka dengan permintaan Chanyeol dan jawaban Luhan tanpa berfikir panjang.
"Baiklah, kita lanjutkan. Selanjutnya, Kim Ahn..." Sehun berfikir sejenak, sebelum ia menoleh kearah Baekhyun. "Bagaimana menurutmu jika kita manfaatkan statusmu yang lain, Byun? Karena, aku yakin Kim Ahn adalah teman dekat ayahmu." Baekhyun tertawa cantik.
"Kau benar sekali, Sehun!" jawab Baekhyun antusias. "Aku akan meminta pertemuan pribadi dengannya di hari Rabu."
"eoh, kau juga bisa mengatas namakan diri sebagai Byun Shine Academy." sahut Kyungsoo.
"wah~ bahkan aku lupa dengan akademi milik keluargaku," balas Baekhyun.
"Setidaknya, akademi itu ada manfaatnya mulai sekarang." sahut Chanyeol menyebalkan dan Baekhyun mendelik garang kearahnya yang membuat Chanyeol tertawa gemas melihat ekspresi Baekhyun itu.
"Jadi, tidak ada masalah 'kan?" tanya Sehun. Baekhyun menggeleng ringan. "Dan, terakhir..." Sehun menoleh kearah Luhan yang juga tengah menatapnya.
"Apa yang harus kita lakukan dengan Kim Joonmyeon? Dia satu-satunya orang yang mustahil ditemui. Bahkan, jatah liburnya hanya sebulan sekali dan itu pun jatuh pada bulan depan." tanya Kai ikut pening.
"Tapi, kabar baiknya adalah uri Luhanie tercatat sebagai salah satu dokter cadangan di SMC." sela Baekhyun.
"eoh... bahkan, tak hanya SMC, tapi juga beberapa rumah sakit besar ataupun kecil yang berada di Seoul maupun luar Seoul." lanjut Kyungsoo.
"Jinjja?" pekik Kai dan Chanyeol takjub. Luhan tersenyum dan mengangguk tenang.
"eoh! Salah satu atasanku adalah dokter tentara, beliau merekomendasikanku dan memasukkanku ke dalam daftar dokter bedah cadangan di beberapa rumah sakit, untuk kepentingan inteligen tentu saja."
"daebak! Bagaimana bisa begitu?" tanya Kai takjub.
"hm... pernah ada satu kasus yang melibatkan jenazah salah seorang pasien di salah satu rumah sakit di Incheon, pada saat itu kami tidak bisa mempercayai dokter disana, jadi secara sengaja namaku dimasukan sebagai salah satu dokter panggilan."
"Jadi, apa maksudnya selain untuk kepentingan intel kau juga bisa kapan saja dipanggil?" tanya Chanyeol.
"Tentu saja, jika salah satu rumah sakit itu membutuhkan tenaga dokter tambahan untuk menangani operasi besar atau penyakit langka yang memiliki tingkat persentase keberhasilan yang kecil, mereka akan menghubungiku. Dan—untuk masalah Kim Joonmyeon, meskipun aku tidak bisa bertemu denganya, tapi aku rasa mencari tahu tentang latar belakangnya secara diam-diam, akan sedikit membantu pekerjaan kita. Jadi, kalian tidak perlu khawatir." jawab Luhan tersenyum cantik mengabaikan berbagai arti tatapan yang dilayangkan untuknya dan hanya bersikap sama seperti sebelumnya bahwa ia—baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
.
"Daging, sudah. Ramen, sudah. Cemilan, sudah. Cola, sudah. Ayam, sudah. Bawang bombai, sayur, wortel, tomat, soju. Apa yang tertinggal?" tanya Baekhyun pada Chanyeol yang petang ini mendapat giliran berbelanja rutin bersama.
Chanyeol yang berdiri di samping Baekhyun seraya mendorong troli, mengingat-ingat pesanan teman-temannya yang mungkin saja lupa tak ditulis dicatatan Baekhyun.
"ice cream?"
"ah—matta!" pekik Baekhyun girang yang kemudian melesat begitu saja meninggalkan Chanyeol yang tak sempat berkedip melihat kepergiaannya yang secepat kilat.
"yak! Tunggu aku, Baek!" seru Chanyeol mendorong troli belanjaan mereka dan segera menyusul Baekhyun yang sudah berdiri di depan spot es krim.
"Cepat kesini, Yeollie!" Baekhyun melambai kearah Chanyeol sebentar sebelum sibuk memilih rasa apa yang ingin ia beli. Chanyeol menggeleng, gemas sendiri dengan tingkah Baekhyun yang begitu ekspresif. Kadang, ia bisa terlihat cantik dan anggun, namun selanjutnya ia bisa menjadi harimau betina yang super galak, terkadang juga Baekhyun bisa menjadi bodoh, konyol, dan begitu humoris. Tapi, disisi lain ia kadang terlihat manja dan begitu kekanakan. Seperti sekarang ini.
"Strawberry untukku. Vanilla untuk Soosoo dan Banana untuk Lulu. Cokelat untuk cadangan." Baekhyun memasukkan empat cup besar es krim berbeda rasa ke dalam troli belanjaannya. "ah-ya... yogurt dan susu pisangnya hampir habis, bagaimana jika beli sekalian? Lulu suka sekali susu pisang." Chanyeol tertawa kecil hingga tanpa sadar tangannya bergerak mencubit pipi gembil Baekhyun.
"Berapa umurmu, kau terlihat bocah lima tahun untukku." Baekhyun mempoutkan bibirnya.
"Kupukul kepalamu jika sekali lagi kau menyebutku bocah!" Chanyeol tergelak, ia mengusak surai merah Baekhyun tanpa menyadari jika si pemilik surai terpaku dengan sikap refleks pria tampan di depannya. Jantungnya bergedup dua kali lebih cepat kala tangan besar Chanyeol bersentuhan dengan kepalanya. Seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan di seluruh organ tubuhnya. Dan, Baekhyun menyukai semua sensasi itu.
"Kau bocah cantik yang menggemaskan."
"Chanyeol~" rengek Baekhyun menepis tangan Chanyeol, ia membuang muka menyembunyikan wajah merahnya dari Chanyeol seolah-seolah bahwa ia kesal karena Chanyeol terus mengatainya 'bocah', padahal yang sebenarnya adalah ia menyembunyikan semburat rona merah yang muncul di kedua pipinya hanya karena tawa Chanyeol yang sialnya membuat pria itu bertambah tampan berkali-kali lipat.
"Baiklah, baiklah... kita ambil yogurt dan susu pisang untuk Lulu dan setelah itu pulang, okay?" Baekhyun mengangguk dan sekali lagi Chanyeol mengusak surai merah Baekhyun penuh sayang, sepertinya itu akan menjadi kebiasan baru yang Chanyeol sukai mulai sekarang.
Setelah mengambil beberapa pack yogurt serta susu pisang, kedua manusia berbeda gender itu mengantri untuk membayar semua belanjaan mereka. Dengan tiga kantong besar berada di tangan Chanyeol sementara Baekhyun hanya membawa satu kantong sedang, keduanya berjalan keluar supermarket menuju tempat parkir dimana mobil mereka berada.
Blam!
"Kau ingin langsung pulang, atau ingin mampir ke suatu tempat terlebih dahulu?" tanya Chanyeol setelah memasukkan semua barang belanjaan mereka ke dalam bagasi mobilnya.
"Bagaimana jika—"
"Tuan muda Park?" panggil seseorang penuh hormat membuat keduanya menoleh kompak kearah pria paruh baya dengan setelan hitam formal membungkuk kearah mereka berdua, kearah Chanyeol lebih tepatnya.
"Paman?" balas Chanyeol tak bisa menunjukkan keterkejutannya. Sementara, Baekhyun hanya diam melihat interaksi Chanyeol dengan seorang pria yang menatap Chanyeol akan sarat penuh kerinduan.
.
.
.
"Kau baik?" tanya Baekhyun yang melihat keterdiam Chanyeol sejak bertemu dengan kenalannya beberapa menit yang lalu. Chanyeol yang pada awalnya terfokus menyetir, seketika mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun yang duduk tenang di sampingnya.
"Aku?" Chanyeol menjawab dengan suara rendah. "Baik tentu saja." Baekhyun tersenyum kecil.
"Pembohong yang buruk," tuturnya jujur. Chanyeol hanya terdiam, ia semakin mengeratkan pegangan tangannya pada stir kemudi. Kedua matanya terfokus pada jalan yang dilalui mobilnya.
"Aku sungguh baik-baik saja." Baekhyun mengangguk menurut, ia tak ingin memaksa Chanyeol untuk bicara.
"Pria tadi, orang kepercayaan kakekmu 'kan?" tebak Baekhyun. Chanyeol melirik kearah Baekhyun sekilas.
"Kau tahu?"
"Hanya asal menebak. Dia memanggilmu tuan muda. Kau sudah lama tidak pulang ya?"
"Seberapa banyak kalian tahu tentang kami?" Baekhyun berfikir sejenak.
"Cukup banyak. Orang tuamu yang tidak pernah mendukungmu tapi selalu mengasihi kakakmu. Kakakmu yang menganggapmu sebagai saingannya sendiri. Hingga kakekmu yang cukup terobsesi padamu." jawab Baekhyun. "Jujur saja, kalian bertiga terlalu banyak memedam kepedihan. Kalian bertiga memang selalu bersama. Tapi, kalian tidak tahu bagaimana caranya berbagi." Chanyeol tertawa kecil.
"Apa yang kau tahu tentang Kai dan Sehun?" Baekhyun tampak mengingat.
"Mulai dari Kai. Dia tumbuh dalam keluarga broken home, ayahnya suka bermain wanita dan ibunya yang juga pergi dengan lelaki lain meninggalkan Kai bersama ayahnya yang terkadang mengangkat tangan pada anaknya sendiri." jawab Baekhyun lagi. "Dan, Sehun—membenci adiknya yang menurutnya mengakibatkan ibunya meninggal, sedangkan ayahnya? Terlalu sibuk bekerja di luar negeri dan tak pernah memperdulikan kedua anaknya sama sekali." lanjutnya singkat namun cukup menjelaskan segala yang ia tahu.
"Bukankah kami menyedihkan?" Baekhyun tersenyum cantik.
"Saat aku melihat kalian, kadang aku berfikir—seberapa tebal topeng yang kalian kenakan? Atau seberapa beku hati kalian? Kalian terlihat menyimpan sakit dan dendam tapi bersamaan dengan itu kalian terlihat sangat menyedihkan."
"yayaya... terserah apa katamu nona Byun," Chanyeol terlihat kesal membuat Baekhyun menggigit bibir bawahnya merasa bersalah karena telah salah bicara.
"Aku tidak bermaksud begitu. Mian.."
"Tidak perlu meminta maaf, kami memang memiliki segalanya tapi dibandingkan denganmu, hidupmu jauh lebih sempurna daripada kami." Baekhyun menoleh tak terima, ia menatap Chanyeol penuh kekesalan.
"Aku kira kita bisa akrab satu sama lain. Tapi, kau masih saja menyebalkan." Chanyeol berdecak.
"Kau tahu, kita akan selamanya menjadi rival." Baekhyun mempoutkan bibirnya, ia melipat tangannya di depan dada.
"Menyesal aku bersimpatik padamu, Park!" desis Baekhyun yang sayangnya diabaikan Chanyeol yang masih terlihat kalut.
.
.
.
.
.
"Tuan besar Park, ingin bertemu dengan anda tuan muda."
"Beliau,... masih sangat mengharapkan anda. Bahkan, beliau tak mengindahkan permintaan tuan Park, ayah anda untuk melimpahkan semua kepemilikan atas nama kakak anda. Tuan besar Park, sangat mempercayai anda."
"Kembalilah, tuan muda. Saya mengkhawatirkan tuan besar. Terlebih, ada beberapa oknum yang berusaha untuk mencelakai beliau dan berniat untuk merebut semua hartanya."
"Dan, anda tahu—hanya andalah satu-satunya yang bisa menghentikan oknum jahat tersebut. Hanya anda, satu-satunya pelindung Park-moon Group, tuan muda. Apa anda ingin perjuangan kakek anda sia-sia begitu saja? Saya yakin, anda tidak akan tega melihat kakek anda jatuh terpuruk."
Chanyeol mengacak surai hitamnya kasar. Perbincangan antara dirinya dengan orang kepercayaan kakeknya terus teringiang di otaknya sejak tadi. Ia mendongak, memejamkan kedua mataya sesaat. Membiarkan hembusan angin malam di taman belakang rumahnya menerpa kulit wajah tampannya.
"Kau sedang banyak pikiran?" Chanyeol membuka kedua matanya dan menoleh cepat pada Luhan yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Chanyeol. Luhan menyeruput cokelat panas yang biasa menemaninya saat ia sedang insomnia.
"Sepertinya, aku mengganggu waktu berfikirmu." jawab Luhan yang melenceng jauh dari pertanyaan Chanyeol. Chanyeol mengedik acuh.
"Kau hanya buat satu?" Chanyeol menunjuk dengan dagunya kearah secangkir cokelat panas yang dilingkupi kedua tangan lentik Luhan.
"Apa kau mengharapkan aku membuat dua cangkir dan satu memberikannya padamu agar aku bisa duduk di dekatmu? Seperti yang ada di drama-drama?" Chanyeol terkekeh kecil.
"Setidaknya untuk berbasa-basi." Luhan mendecih.
"Kau punya tangan. Buat saja sendiri!" ketusnya membuat Chanyeol tertawa gemas.
"Kau sangat ketus dan dingin untuk seukuran wanita cantik. Tapi, kenapa banyak sekali pria yang menyukaimu?" Luhan mengedik tak peduli.
"Tanya saja pada mereka!" sarkas Luhan seraya menyeruput cokelat panasnya. Luhan memangku cangkir minumannya dengan tangannya yang masih melingkup erat di sisi badan cangkir, kedua matanya menatap jauh pada langit-langit gelap yang tak begitu banyak dihiasi bintang malam itu, bahkan bulan saja entah bersembunyi dimana.
"Terkadang, memiliki keluarga itu adalah hal yang rumit." Chanyeol seketika menoleh ke arah wanita cantik yang masih menikmati pemandangan langit malam. Sementara yang ditoleh sama sekali tak melirik kearah pria tampan yang duduk di sampingnya. "Pada awalnya, selalu saja ada masalah yang datang. Seperti tidak ada habisnya. Tapi, siapa yang tahu? Jika kebahagian pertama kali dirasakan adalah dari keluarga?"
Luhan menoleh kearah Chanyeol seraya tersenyum cantik dan sungguh itu adalah senyuman tercantik yang tak pernah Chanyeol lihat selama hidupnya. Senyuman yang entah kenapa membuat hati Chanyeol berdesir hangat kala kedua mata rusa Luhan menatapnya begitu intens dan begitu dekat seperti saat ini.
"Bisa kau bayangkan, bagaimana jika kau hidup sebatang kara? Jika ada keluarga, masalah memang akan datang tapi pada akhirnya kau akan merasakan kebahagiaan. Tapi, bagaimana dengan sebaliknya? Kau hidup sendiri, bahkan kau tidak mengenal siapa dirimu, darimana kau berasal sementara masalah selalu menghampirimu, kau merasa terancam setiap saat, tapi yang membuatmu akan selalu bertanya adalah—kapan aku bisa merasakan bahagia yang benar-benar bahagia?" Chanyeol memandang Luhan teduh. Ia tersenyum samar.
"Apa kau memataiku?" Luhan terkekeh cantik. Ia mengalihkan pandangannya dari Chanyeol dan kembali pada langit malam. "Kau seolah tahu apa yang sedang aku rasakan."
"Sebenarnya mudah membaca wajah seseorang yang sedang kalut. Aku tidak tahu apa yang sedang kau fikirkan, tapi aku rasa kau memiliki masalah dengan keluargamu." Chanyeol mengangguk dengan mudahnya.
"Kakekku memintaku untuk pulang." Luhan mengangguk-angguk paham. Agaknya ia paham lika-liku hidup Chanyeol. Tidak hanya Chanyeol, Kai dan Sehun—ia mengetahui semuanya.
"Lalu, kau tidak ingin pulang?" Chanyeol menggeleng samar.
"Jika kau tidak ingin pulang. Kau bisa berkunjung." Chanyeol menatap Luhan yang ternyata juga tengah menatapnya.
"Apa bisa?"
"Tentu saja. Apa lagi, kau sudah lama tidak bertemu dengan beliau 'kan?"
"Tapi, bagaimana jika kakekku menahanku saat aku hanya berkunjung?"
"Kembali lagi pada dirimu, Yeol. Kau tahu, jika kau tidak akan meninggalkan keluargamu. Dan, kakekmu juga tahu jika kau akan pulang. Jika kau tidak ingin kembali, mereka pun pasti akan menunggumu, karena kau tahu? Pintu rumah mereka pasti akan selalu terbuka untukmu."
"Kenapa kau seyakin itu? Aku takut, saat aku menginjakkan kakiku di rumah mereka. Mereka tak membiarkanku untuk keluar dan kembali lagi ke kehidupanku sekarang."
"Kalau begitu, kau hanya perlu yakinkan mereka dan buktikan pada mereka. Apapun pilihanmu, itulah yang terbaik untukmu. Dan, apapun keputusanmu itu juga yang terbaik untuk mereka." Chanyeol tersenyum tampan.
"Lu,..." panggilnya lirih. "Kau tahu? Ini pertama kalinya aku bersikap terbuka pada seseorang, bahkan aku tak pernah sekalipun membahas tentang keluargaku pada Sehun maupun Kai. Itu adalah topik sensitif untuk kami. Tapi, lucunya orang yang bisa membuatku lebih terbuka adalah orang yang nyaris melubangi kepala teman kecilku." Luhan tertawa cantik.
"Ini kebetulan." tuturnya tenang.
"Bolehkah aku memelukmu?" Luhan terkekeh.
"Kenapa kau jadi melankolis begini?" Chanyeol tersenyum sendu.
"Kau tahu aku sedang kalut, biarkan aku memelukmu, Lulu~" Chanyeol menarik Luhan ke dalam dekapan hangatnya. Luhan menarik nafas, ia membawa tangan kanannya pada punggung besar Chanyeol dan mengelusnya penuh kasih, memberikan ketenangan dan rasa nyaman yang sedang Chanyeol rasakan malam ini. Hingga, tanpa mereka sadari dua pasang mata di tempat berbeda memandang kedua manusia yang berpelukan di taman belakang rumah dengan pandangan berbeda. Yang mana, seorang wanita cantik bersurai merah marun berdiri di balkon lantai dua memandang kedua manusia itu dengan tatapan sendu, hatinya teremat sakit tanpa sebab. Entah kenapa, ia sedikit tak suka melihat Chanyeol yang begitu nyaman di dekat Luhan.
Sementara, sepasang mata setajam elang berdiri tak jauh dari taman belakang. Kedua tangannya mengepal erat serta perasaan membuncah yang benar-benar mengganggunya. Ia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Tapi, ia benar-benar tidak menyukai interkasi Luhan dan Chanyeol yang terlalu dekat hingga membuat keduanya bisa sampai berpelukan. Ia sama sekali tak menyukai pemandangan ini. Dan, sialnya ia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Mungkin, ia tak suka melihat Chanyeol yang lebih terbuka pada orang lain dibandingkan padanya yang notabene adalah teman kecilnya. Atau justru, ia tak suka melihat Luhan yang berada di pelukan pria lain? Entahlah. Yang jelas fakta terakhir terasa lebih akurat dibandingkan fakta pertama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tap!
Tap!
Tap!
Heels merah menyala yang melingkar di kaki jenjangnya, menapak selangkah demi langkah pada lantai gedung yang akan menjadi tempat barunya bekerja. Dress hitam ketat yang panjangnya hanya sampai lima senti diatas lutut, ia tutupi dengan mantel mahal buatan Bulgaria. Rambut cokelatnya bergelombang yang ia kuncir kuda, berkelok ke kanan-kiri mengikuti irama langkah kakinya. Serta, kacamata hitam yang menyembunyikan sorot mata tajam menawan, dengan lingkar kehijauan yang menjadi ciri khasnya tersendiri.
Cklek!
Jemari panjang nan lentiknya memutar knop sebuah pintu ruang yang berada di lantai paling atas gedung ini tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Oh, kau sudah datang..." sapa seorang pria tampan menyambut hangat rekan barunya yang datang jauh-jauh dari China.
Wanita cantik itu tersenyum seraya melepas kacamata hitamnya. Secara kekanakan, ia berlari menghampiri orang yang menyambutnya pertama kali.
"OPPA!" pekiknya senang dan menghambur ke pelukan pria tampan itu.
"Bagaimana kabarmu, hm?" tanya suara lain yang berada di belakang punggung si wanita yang kemudian melepas pelukannya pada pria yang pertama menyapanya. Ia berbalik badan dan bergantian memeluk pria yang menanyakan kabar padanya.
"Aku baik, oppa..." balasnya.
"Kenapa sifat manjamu tidak pernah hilang?" sahut suara wanita dewasa yang membuat sedetik kemudian wanita tamu ini berlari semangat kearah wanita cantik yang berdiri bersama tiga pria tampan lainnya.
"eonnie... bogoshipoyo~" lirihnya memeluk erat wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
"nado... kami juga sangat merindukanmu," balasnya lembut seraya mengelus surai anggota termuda diantara mereka bertujuh.
.
.
.
"Jadi, mereka benar-benar memindahkan Luhan di Seoul?" tanya wanita termuda yang baru saja datang satu jam yang lalu.
"eoh... dia tidak lagi bekerja individu." jawab pria yang pertama kali menyambutnya tadi.
"Mereka memasukkan Luhan ke dalam Leader Work, Oh Sehun. Bersama Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo tentu saja." sahut pria lainnya
"Sudah kutebak! Apa itu artinya, mereka sudah mengetahui siapa Luhan sebenarnya?" tanya wanita termuda diantara mereka.
"Kita belum memastikannya, tapi aku rasa inilah saatnya kita muncul di depan Luhan. Setidaknya, kita harus cepat bergerak sebelum orang lain."
"Eoh... karena Luhan hanya mengenal empat diantara kalian. Kita harus berhati-hati mengambil langkah."
"Asa! Kalau begitu, kita harus mulai merencanakan semuanya dan membuat semua orang mengikuti permainan kita. Terutama, Luhan tentu saja." tutur pria tampan dengan sorot mata setajam elang yang merupakan anggota tertua sekaligus leader diantara mereka.
seeyouagain
and see you in next chapter ...
.
.
pay pay,...
.
