Maaf kalo update-nya kelamaan! Mohon pengertiannya! Dan harap mempersiapkan diri saat membaca ini. Warning: Gaje bgt! Selamat membaca!

By: Shifudo alias Ryuu alias ABC alias Aibi Shu

Disclaimer: -Tidak lain dan tidak bukan- Pak Masashi Kishimoto

.

.

.

.

"Kushina-chan... Aku mau curhat sesuatu, nih..."

"Apa?", jawab Kushina sambil mengaduk-aduk minumannya

"Ini tentang...Minato...", kata Mikoto dengan wajah bersemu merah

Kushina mulai merasa nggak enak, "Apa?"

"Dia...keren, ya?"

Kushina merasa kesal tapi bingung kenapa. "Hn"

"Dia baik, cakep lagi..."

"Yah..."

"Kamu suka dia nggak?"

Kushina menggeleng cepat. "Nggak!"

"Kalau begitu kau mau membantuku?"

"Apa?", tanya Kushina walau dia sudah tau jawabannya.

"Bantu aku mendekatinya..."

Tuh, kan. Kushina lemas seketika.

"Ya? Mau yaa~?"

"Hn"

Mikoto tersenyum lebar. "Terimakasih..."

Kushina hanya membalas dengan tersenyum kecut.

.

.

.

Minato menjulurkan kepalanya sedikit. Sedetik kemudian menariknya kembali. Nafasnya naik turun.

"Minato! Kau dimana?"

"Ayo makan bareng! Istirahatnya mau selesai, nih~"

"Minato?"

"Minato! Kau dimana~?"

"Toh, aku nggak bisa makan juga!", teriak Minato dalam hati. Sekarang dia sedang sembunyi. Dia sembunyi di balik semak-semak dan pohon.

"Uuh! Harusnya aku sekarang sedang bersama Nona!", kata Minato kesal sambil menendang batu di depannya.

.

.

.

Tanda jam pulang sekolah telah dibunyikan.

"Minato, kau mau pulang bersama kami?", tanya Mikoto sambil tersenyum. Kushina cuma mendesah perlahan.

"Eh? Boleh?", tanya Minato. Tapi dia lebih menujukannya pada Kushina.

Kushina cuek sementara Mikoto mengangguk.

"Ayo!", kata Mikoto sambil menarik tangan Minato. Dengan agak ragu, Minato menurut.

.

.

.

"Wah, tanganmu dingin sekali, Minato?", kata Mikoto memandangi tangannya yang bergandengan dengan Minato.

"Eh? Iya!", kata Minato sambil menarik tangannya dari genggaman Mikoto.

"Eh, maaf...", kata Mikoto dengan wajah merona.

"Eh? Lho, Kushina? Kok kamu jalan di belakang?", tegur Minato.

"Tidak apa-apa. Aku jalan pelan-pelan."

"Kau sakit?", tanya Minato sambil memelankan jalannya agar berada di samping Kushina.

"Tidak"

"Kutemani jalan di sampingmu, deh..."

Kushina mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Tatapannya menuju ke Mikoto yang memandangnya dengan tatapan tidak senang.

"Tidak usah. Kau jalan duluan saja! Itu ada Mikoto, tuh! Nanti dia sendirian! Aku baik-baik saja! Sungguh!", kata Kushina sambil mendorong Minato kembali ke samping Mikoto.

"Eh? Tapi kamu..."

"Tidak apa-apa!"

Tatapan Kushina kembali menatap Mikoto. Mikoto tersenyum padanya sebagai tanda terimakasih. Sekali lagi, Kushina membalasnya dengan tersenyum kecut.

.

.

.

"Jawab pertanyaan saya! Kenapa Nona tidak mau jalan di samping saya?!"

"Kubilang, aku sedang ingin sendirian waktu itu!"

"Bohong! Jawab dengan jujur, Nona!"

"Kau keras kepala sekali! Kau robot bukan sih?! Mungkin aku harus menekan tombol reset-mu sekali-kali!"

"Oh ya? Coba saja!", tantang Minato sambil tersenyum misterius.

"Uuh! Kau benar-benar menyebalkan! Kenapa sih ayah membuat robot sepertimu?!"

Minato tertawa keras. "Sepertinya, Nona benci sekali padaku, ya?"

"Ah, ada apa ribut-ribut, Kushina?", kata Ayah Kushina tiba-tiba datang.

"AKU BENCI AYAH!", pekik Kushina sambil masuk ke kamarnya dan Mebanting pintunya. BRAK!

"Eh? Tu...tunggu, Kushina!", kata Ayah Kushina dengan bingung.

.

.

.

"Oh, jadi itu masalahnya..."

Akhirnya mereka berkumpul bersama saat makan malam. Minato menceritakan semuanya dengan sisa-sisa tawanya.

"Ya, begitulah, Tuan..."

"Aku benci ayah"

"Ta...tapi itu demi kebaikan kamu, Kushina!"

"Kebaikan apanya?! Aku baik-baik saja, kok! Aku juga tidak akan marah seperti ini kalau saja dia tidak keras kepala seperti itu!", kata Kushina sambil melirik Minato yang mengacungkan tanda peace.

"Maafkan saya, Nona... Ya, gara-gara saya terlalu banyak tertawa, saya langsung low bat...", kata Minato sambil mengacung-acungkan charger -annya.

"Heh, bisa begitu juga...", kata Kushina kesal. Tiba-tiba, ide cemerlang muncul di kepala Kushina. Dia meletakkan makanannya dan langsung menyambar kabel penting Minato itu.

"He-hei! Nona, apa yang...", belum sempat Minato menyelesaikan kalimatnya, Kushina sudah kabur ke kamarnya.

"Tanpa ini, kau tidak dapat ke sekolah besok! Hohoho!", kata Kushina dari atas.

"Hei, Nona! Tolong kembalikan!", kata Minato sambil berlari mengejar Kushina.

"Hhh... Anak muda...", gumam ayah Kushina maklum..

.

.

.

"Nona, tolong kembalikan itu!", kata Minato sambil berusaha membuka pintu kamar Kushina.

"Tidak mau! Kemarin kau menertawakan aku!"

"Iya-iya! Saya kan sudah minta maaf!", kata Minato. Brak! Akhirnya dia berhasil mendobraknya.

"Nona! Tolong kembalikan!"

"Ambil kesini kalau bisa!", kata Kushina sambil menjulurkan lidahnya.

Tiba-tiba Minato sudah berlari ke arahnya. Tangannya meraih kabel yang dipegang Kushina. Dengan cepat Kushina memindahkan kabel itu ke tangannya yang lain dan menghindar.

"No-nona!"

"Ahaha! Ayo ambil sini!"

Minato kembali berlari ke arah Kushina.

"Ahaha! Kau mau melakukan trik yang sa..."

"Nona, kalau tidak segera, nanti..."

"Uwa!"

Bruk!

"Aduh...", Kushina mengelus sikunya yang sempat terbentur lantai. Matanya terbelalak melihat Minato yang terbaring di pangkuannya. Kushina langsung menampakan wajah panik.

"Mi-minato? Kau kenapa?! Minato?!", tiba-tiba Kushina tersadar akan sesuatu.

Dia mencoba mengangkat (atau paling tidak menggeser)tubuh Minato agar dia bisa bangun. Susah payah dia mencoba dan akhirnya berhasil.

Kemudian dia menariknya agar bersandar ke dinding kemudian dia men-charger -nya. Mata Minato terbuka tapi bukan bola mata biru sapphire seperti yang Kushina biasa lihat (dan sukai), melainkan mata yang mengeluarkan cahaya putih bersinar.

"Pengisian tenaga dimulai. Pengisian tenaga mencapai 0%", ucap Minato dengan nada datar ala robot pada umumnya.

Kushina menghela nafas lega. "Kupikir kau kenapa-kenapa, Minato...", kata Kushina sambil duduk di samping Minato dan menyandarkan kepalanya ke bahu Minato.

Tak lama kemudian, Kushina terlelap. Tiba-tiba ayah Kushina masuk ke kamar Kushina. Ayah Kushina tersenyum kemudian mengambil selimut dan menutupi tubuh Kushina. Matanya menatap Kushina lembut. "Selamat tidur, Kushina...", bisiknya sambil mengelus kepala Kushina. Kemudian dia pergi.

.

.

.

"Zzz...", Kushina membuka matanya dan melihat langit-langit kamarnya yang berwarna ungu. Dia bangun dan merentangkan tangannya.

"Hoahm...", Kushina menguap lebar. Lho? Kok dia ada di atas kasurnya? Rasanya tadi malam...

Kushina bangkit dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi. Gawat! Dia pasti akan terlambat ke sekolah. Diliriknya jam yang ada di dinding. Uwaaa! Dia pasti akan dihukum!

Dengan tergesa-gesa dia berlari menuruni tangga. Karena dalam keadaan kacau, dia terpeleset dan terjatuh. Kushina memejamkan matanya. Siap menghadapi resiko tubuhnya akan terbentur lantai. Namun, dia merasa ada tubuh besar yang menahannya. Ketika dia membuka matanya, Minato berdiri menahan tubuhnya.

"Mina...!"

"Nona, pelan-pelan, dong... Nona mau kemana, sih?"

Dengan tatapan heran, Kushina menyahut, "Kemana? Ke sekolah, do...ng..?", Kushina menganga menyadari kebodohannya.

"Ini hari Minggu"

Kushina menepuk dahinya kemudian menatap tajam ke arah Minato, "Jangan tertawakan aku!"

Minato mengangkat bahunya sambil tersenyum sebagai ganti tawanya, "Ya, sudah. Ganti pakaian dulu sana kemudian sarapan."

Kushina menurut dan kembali ke kamarnya.

.

.

.

"Minato, Ayah mana?", taya Kushina setelah selesai berganti pakaian.

"Ada urusan. Katanya ada rapat penting...", kata Minato sambil duduk di kursinya.

Kushina mulai melahap makanannya, tiba-tiba dia berseru, "Ini bukan masakan koki rumah ini!"

Minato tersenyum, "Memang"

"Lalu...kau yang masak?"

Minato cuma angkat bahu.

"Ini...enak... Tapi, bagaimana kau merasakannya? Apa lidahmu bisa..."

Minato tertawa pelan kemudian dia berkata lembut tapi serius, "Memasak itu dirasakan dengan hati bukan dengan lidah"

Kushina cemberut, "Sok sekali kamu!"

"Hahaha! Itu karena saya bisa masak! Orang yang tidak bisa mana mungkin ngomong begini!", kata Minato.

"Kau menyindirku?!"

Minato tersenyum lebar.

"Aku bisa masak! Lihat saja nanti!"

"Kutunggu hasilnya..."

.

.

.

"Telur, tepung terigu, mentega...ini, itu... Sip! Semua siap!", kata Kushina mantap. Kemudian, ia memakai celemeknya dan siap...beraksi.

"Pertama, campurkan tepung terigu dengan telur..."

"Wah-wah, sepertinya Nonaku sudah pintar masak, nih?"

"Terus saja mengejek! Kau memang robot menyebalkan! Belum kapok juga kuambil kabel penting itu?!"

Minato tertawa, "Hm... itu kapan ya? Rasanya tadi malam ada men-charger-ku dan tidur di bahu saya?"

Wajah Kushina memerah.

"Untung saja saya baik hati. Kalau tidak, mungkin dia sudah masuk angin pagi ini..."

"Teruskan saja! Kau benar-benar menyebalkan! Mungkin aku akan benar-benar yakin kau adalah manusia kalau saja aku tidak men-charger-mu tadi malam!"

Minato tertawa-tawa, "Memangnya kalau saya manusia, kenapa? Hei, memecah telur bukan begitu caranya!"

"Ah!", pekik Kushina ketika telur itu pecah dan mengenai celemeknya. "Kamu, sih! Jangan ajak aku ngobrol, dong!"

"Ah, jangan menyalahkan orang, dong...", kata Minato sambil masuk ke dapur dan mengambil celemek yang tersisa.

"Begini caranya...", kata Minato sambil mengambil telur di dalam mangkuk.

"Huh! Begitu saja juga aku bisa!", kata Kushina.

"Kalau begitu, buktikan!", tantang Minato.

30 menit kemudian...

"Berhasil! Lihat aku berhasil memecahkan 5 telur yang dibutuhkan!"

"Ya! Dan semua telur yang ada! Juga mengotori dapur!"

"Namanya juga baru belajar!"

"Aduh, kalau kepala koki tau, bagaimana?", kata Minato.

"Tenang saja, Minato. Kepala koki tidak akan ta..."

"Nona! Apa yang anda lakukan?!", teriak seseorang berpangkat kepala koki.

"Eeh... Anu...", jawab Kushina gugup

"Anda menghabiskan semua telur dan mengotori dapur! Apa kata Tuan nanti, hah?!"

"A...anu...Minato...KABUR!", seru Kushina seraya menarik tangan Minato.

"Nona! Tunggu!"

"Uwaa! Nonaa! Pelan-pelan!"

.

.

.

"Kita...duduk...dulu...hhh...", kata Kushina dengan terengah-engah.

"Makanya jangan lari-lari!", omel Minato.

"Habisnya, aku kan dimarahi!"

"Terus, kamu mau pakai celemek itu sampai kapan?"

Kushina memandangi celemeknya yang sudah kotor dan berbau amis. Kemudian dia melepasnya dan membuangnya.

"Masih!", kata Minato

"Apa?"

"Bau amis!"

Kushina cemberut, "Kau sendiri juga!"

"Iya, deh! Ya sudah! Ayo cuci tangan!", kata Minato kemudian berjalan menuju pancuran.

Tiba-tiba, Kushina mencipratkan air ke wajah Minato.

"Apa-apaan ini?!", kata Minato.

"Maaf, nggak sengaja!", kata Kushina

"Bohong!", kata Minato kemudian dia balas mencipratkan air ke Kushina.

"Ah! Jadi basah, nih!"

"Maaf, nggak sengaja!", kata Minato sambil tersenyum jahil.

"Kushina? Minato?"

Kushina dan Minato menoleh bersamaan.

"Mikoto?", seru mereka bersamaan pula.

~TBC~

Terimakasih sudah membacanya, ya~! Lanjutannya akan diusahakan update secepatnya~! Walau agak GaJe, mohon diterima dengan lapang dada~! Saya akan berusaha sebaik mungkin!