(You can skip it, not so important thing :D)

I know this is too late, but I should say thank you for thousand times as well. :") Kalian membuat saya senang dan terharu. Karena bahkan hanya sebatas kenal nama pena—dan beberapa nama asli, tapi mengucapkan GWS dengan lucu dan manis. Saya membacanya sebelum fisioterapi pertama saya dimulai. It sent a lot of power for me to stay strong, though I still crying out like foolish baby. :")

Selepas menyelesaikan tumpukan blahblahblah setelah banyaaak waktu absen karena recovery, I'm back with this sequel. Maunya sebelum Lebaran, tapi kok rasanya dosa sekali yak. Maunya minggu lalu, tapi apa daya sinyalnya petak umpet karena saya masih di rumah.

Thank you very much, deepest from my heart. ^^

Seperti biasa untuk Fic ini, 12k+ tanpa P.s. dan printilan lain

.

.

.

Secretary Lu Sequel

By Arianne794

Lu Han (GS) / Oh Se Hun

OC

Married Life, Hurt-Comfort, Drama

M

Warn : This is GenderSwitch!Lu. Not fluffy as well, kekeke… Diksi tak sebaik sebelumnya—padahal sebelumnya saja masih amat hancur. Don't like, don't read. Thankseu!

Summary : Sequel Up! Lu Han—yang bukannya menolak seks, yang hanya perlu orang yang tepat, bertemu Sehun dengan reputasi bersihnya tentang Sekretaris. Semuanya berubah karena Luhan dengan mimpi erotisnya dan Sehun dengan gairahnya yang tiba-tiba muncul ke permukaan. / "Malaikat pun bisa menjadi iblis saat hatinya diusik" / HunHan. GenderSwitch. Mature Content. ChanBaek!Inside.

.

This is My OWN FanFic!

Do Not Copy Without Credit Nor Do Plagiarism!

.

.

Pagi hari di kediaman Oh selalu ramai. Diwarnai senandung kecil Luhan yang tengah memasak sarapan untuk keluarga kecilnya, lalu berganti menjadi pekikan kecil ketika Sehun memeluknya dari belakang—mengganggu acara masaknya dengan mencium tengkuknya, lalu berlanjut lagi dengan tangisan kencang dari satu-satunya putri kecil cantik di rumah besar itu yang tak suka mendapati ibunya menghilang saat ia terbangun.

Lalu semuanya akan kembali tenang ketika putra sulung mereka, Haowen—sekarang sudah tidak lagi Baby Hao, dia sudah 9 tahun dan sekali kau memanggilnya baby, maka bersiaplah dengan tatapan sedingin kutubnya—yang selesai dengan acara berpakaiannya secara mandiri, duduk di kursi meja makan dengan tenang bersama sang Ayah, serta Luhan yang memeluk putri kecilnya yang sudah tenang berjalan mendekat.

"Baby Yujie's coming…"

Dan ya, panggilan baby sudah berpindah kepada si kecil cantik itu—walaupun sekarang mulai memprotes kenapa ia tetap di panggil baby padahal sudah cukup besar. Kenalkan, Oh Yu Jie, putri bungsu dari pasangan Oh Se Hun dan (Oh) Lu Han yang sebentar lagi menginjak umur 6 tahun. Gadis kecil yang sepenuhnya mewarisi kontur wajah Luhan dan seluruh kecantikannya. Berambut hitam sedikit kecoklatan dengan mata bulat menggemaskan, dan dengan bibir ceri, hidung bangir mungil, dan pipi gembil bersemu merah muda yang persis seperti Luhan; maka makin sempurna lah dirinya sebagai bahan cubitan gemas dari orang-orang terdekat.

Gadis kecil itu sangat menggemaskan, tapi bisa sangat galak ketika pipinya ditarik terlalu banyak sampai menambah semu di pipinya itu.

"Bagaimana tidurmu, Sayang? Apakah nyenyak?" Tanya Sehun sambil mengecup kening Yujie dengan sayang. Yujie bergerak untuk memeluk ayahnya dan Luhan terkekeh saat memberikan Yujie kepada Sehun.

"Eum, tapi Yujie tidak suka Mommy tidak ada di samping Yujie." Katanya setengah merajuk. Sehun tertawa renyah.

"Mommy sedang membuatkan sarapan untuk kita, jadi, jangan marah, oke?" Yujie mengangguk ringkas dan memandang kakak lelakinya yang sedang mengoleskan selai kacang ke roti panggangnya. Haowen yang merasa diperhatikan menoleh polos dan seketika berhenti dari kegiatannya.

"Yujie mau?"

Yujie mengangguk berulang kali dan Haowen langsung meletakkan roti panggangnya, meraih selembar lain dan mengolesnya dengan margarin dan selai coklat; tahu benar kesukaan adik kecilnya itu. Sementara Yujie sibuk memandangi apa yang tengah kakaknya lakukan dengan tatapan antusias, Luhan dan Sehun memperhatikan interaksi manis itu dengan senyuman.

"Cha." Haowen memberikannya kepada Yujie dan gadis kecil itu menerima dengan binar mata, membuat Sehun mencubit pipi gembil itu.

"Uaah… Eummmm… Oppa terimakasih…" Yujie sibuk dengan rotinya. Haowen tersenyum tipis.

"Hm." Dan menanggapi sekenanya. Sehun mendengus geli melihat tingkah putra sulungnya yang benar-benar keren itu. Haowen tumbuh menjadi anak lelaki yang benar-benar menjadi cetak sempurna dari dirinya—terlepas dari kenyataan bahwa Luhan masih saja menyebut putra sulung mereka itu menggemaskan dengan wajah datarnya.

"Berhenti memandangi anakmu dan sarapan lah dengan benar." Luhan menegurnya dengan kerutan alis main-main dan tangan yang meletakkan semangkuk nasi yang baru saja ia ambilkan untuk Sehun. Sehun melempar senyum menggoda kepada istrinya itu.

"Sarapan dengan benar? Bukankah aku sudah sarapan tadi? Dengan sesuatu yang manis dan hangat? Dan sempit?"

Luhan bersemu dan dia sudah berniat melemparkan sendok sampai ia teringat kalau ada kedua anaknya di sini. Luhan menarik nafas panjang, mencoba bersabar dengan pikiran suaminya yang tak juga berubah sejak dulu; senang sekali membahas hal-hal mesum bahkan di depan anak-anak. Jangan tanyakan apa sarapan yang Sehun cicipi sesaat setelah ia bangun tidur; pikiran kalian tak sepolos itu, bukan?

Dan syukurlah, Haowen tak peduli dengan itu dan Yujie terlalu sayang melewatkan roti yang disiapkan kakaknya.

"Haowen, Mommy sudah membuatkan nasi goreng Beijing dan nugget kesukaanmu untuk bekal, jangan lupa berbagi dengan Jasper dan Jackson, oke?" Luhan memilih mengabaikan kalimat mesum suaminya dan mendekatkan kotak makan hangat ke Haowen. Haowen mengangguk kecil. Sehun hanya tersenyum geli dan memulai sarapannya, dengan sebelah tangan masih memeluk putri kecilnya, yang tak pernah mau mandi sebelum sarapan.

"Tentu. Sekalipun Hao tidak memberitahu Jackson dan Jasper Hyung; mereka akan menginvasi makan siangku." Katanya lalu kembali sibuk dengan rotinya.

Sehun tertawa kecil. "Baguslah. Nanti Mommy dan Daddy akan pulang sedikit malam, jadi jaga adikmu saat di rumah Baekhyun Aunty dan Chanyeol Uncle, oke?" Haowen mengangguk kecil namun Yujie memberi respon berbeda.

"Lalu Yujie makan siang dengan siapa?" Yujie menyela dengan wajah memprotes.

"Tentu saja dengan Mommy, sayang. Mommy yang akan menjemput dan mengantarkan Yujie ke sana nanti, oke?"

Yujie terdiam beberapa saat, gadis kecil itu terlihat ingin menyuarakan protes. Dan sebelum itu terjadi, Haowen menyela dengan cepat.

"Jackson Hyung bilang dia ingin bermain dengan Yujie." Katanya dan seketika wajah Yujie menjadi sangat cerah.

"Benarkah?!" Terdengar sangat antusias dan Luhan terkekeh pelan.

"Tentu saja, jadi, Yujie berjanji tidak akan merajuk bermain di rumah Jackson dan Jasper?" Tanya Luhan.

"Tidak! Yujie janji!"

Sehun yang tengah menyendokkan supnya nyaris tersedak. "Apakah aku akan berbesan dengan Chanyeol nanti?" Katanya sambil memandang Luhan.

"Besan itu apa, Daddy?" Dan Luhan mendelik ke Sehun. Sedikit gugup Sehun menoleh ke Yujie yang sudah menunggunya dengan tatapan bertanya.

"A-ah… Yujie akan tahu ketika Yujie sudah besar nanti. Sekarang Yujie harus menyelesaikan sarapan lalu mandi, Jackson tidak akan suka dengan gadis yang belum mandi, oke?" Yujie memasukkan roti ke mulut mungilnya dengan cepat dan mengunyahnya dengan sedikit kesulitan.

"Mommy, Yujie ingin mandi!"

Luhan memijat kening pelan melihatnya, tapi tak menolak saat Yujie bergerak ke pelukannya.

"Bisakah kau berhenti meracuni otak anakmu yang masih sangat kecil ini? Bukan waktunya kau mengajarkan mereka tentang hal semacam itu." Katanya, sedikit mendelik sadis dan Sehun malah tersenyum jenaka.

"Kau makin cantik saat marah, Sayang." Luhan mendengus dan langsung melangkah pergi, terlalu malas menghadapi kalimat Sehun yang selalu membuatnya nyaris meledak.

"Dad, jangan menggoda Mommy terus.. Hao tidak suka mendengar Mommy menggerutu mengkhawatirkan kerutan di matanya karena kesal dengan Daddy, padahal itu kan cantik saat Mommy tersenyum." Haowen yang telah selesai dengan rotinya dan tengah memasukkan kotak bekalnya berkata tanpa memandang sang Ayah yang tergelak.

"Kau tahu, kan, kalau menggoda Mommymu adalah agenda wajib karena—"

"—karena Mommy sangat menggemaskan saat merajuk dan marah, benar?" Haowen memutar bola matanya malas saat memotong kalimat Ayahnya itu. Sehun kembali tergelak.

"Kau masih kecil tapi kenapa tingkahmu keren sekali, jagoan?" Kata Sehun sambil mengusak kepala Haowen gemas. Tanpa disangka Haowen menampilkan cengirannya yang sangat jarang terlihat.

"Karena Hao ingin seperti Daddy saat besar nanti."

Sehun nyaris tersedak karena tawa mendengarnya. Lelaki itu menyelesaikan suapan terakhir dengan ringkas dan meminum kopi paginya dengan ringkas pula. Luhan selalu tahu apa yang ia butuhkan setiap pagi; kopi tak terlalu menyengat lidah yang ringan dan bisa diselesaikan dengan cepat.

"Naik dan pamit pada Mommy dan Yujie… Dad akan menunggu di mobil, oke?"

"Oke!"

.

.

.

Pekerjaan tak pernah menjadi sedikit lebih mudah semakin lama Luhan menggeluti dunia kerjanya. Setelah kembali mengambil cuti hamil—menuruti permintaan Sehun yang ingin anak perempuan yang semanis dirinya—sampai Yujie berumur satu tahun, membuatnya harus kembali menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Sedikit merepotkan memang, terlebih jika di tengah rapat ia mendapati pengasuh Yujie—yang sudah berhenti ketika Yujie berumur 3 tahun—menelfonnya karena sang putri kecil menangis menginginkan dirinya. Beberapa kali ia mengecewakan anak gadisnya dan membuatnya merajuk, namun syukurlah Yujie mulai mengerti keadaannya. Yujie berada di tahun terakhir kindergarten dan sebentar lagi ia akan masuk ke sekolah yang sama dengan kakak-kakak lelakinya—Haowen, Jackson, dan Jasper.

Sedangkan putra sulungnya, Haowen, tak banyak bertingkah. Selama ia mendapatkan sarapan buatan Mommynya dan juga lullaby sebelum tidur, maka ia akan baik-baik saja. Haowen tumbuh menjadi anak lelaki yang pendiam dan tak banyak bicara, sama seperti Sehun saat kecil (Luhan tahu ini dari Ibu mertuanya). Haowen terlihat acuh tak acuh dan selalu menjaga image kerennya, berbanding terbalik dengan Jackson dan Jasper yang sangat ceria seperti Chanyeol; namun dibalik itu, Haowen mempunyai rasa cinta kasih yang sangat besar terhadap keluarga kecilnya. Haowen tidak pernah menangis saat sedih atau sakit di depan banyak orang, di depan kakek neneknya bahkan Sehun sendiri—yang selalu ia elu-elukan sebagai Daddy terbaik sepanjang masa; lelaki kecil itu hanya akan menangis ketika Luhan mendatangi kamarnya dan memeluknya erat, ia akan menangis keras seperti saat berumur 1 tahun. Luhan selalu menjadi kelemahan para lelaki di keluarga kecilnya, baik Sehun maupun Haowen.

Sesulit apapun hal yang Luhan lalui, tak akan pernah menutupi rasa syukurnya atas kehadiran dua malaikat kecil yang sangat ia cintai itu.

"Bisakah kau abaikan berkas-berkas itu dan memelukku? Atau menciumku, bahkan? Aku benar-benar membutuhkanmu, Luhan."

Luhan tersadar dari lamunannya dan mengerjap kecil mendapati Sehun berdiri di mulut bilik kacanya dengan wajah tertekuk. Ia menoleh gugup ke Hyunsik yang baru saja terbatuk canggung mendengar kalimat Sehun yang tak pernah disaring itu.

"Apa yang Anda perlukan?" Luhan sedikit menekankan nada bicaranya, mencoba memperingatkan bahwa di dekat mereka terdapat Hyunsik yang bisa mendengar semua yang mereka katakan. Namun lelaki itu malah berbalik dan menatap Hyunsik dengan tajam. Hyunsik terduduk tegap dengan wajah kaku.

"Kau pastikan tak akan ada yang menggangguku sampai jam makan siang nanti." Katanya tegas dengan nada diktator dan langsung menarik istrinya keluar menuju ruang santai. Mengabaikan pelototan protes Luhan dan wajah memerah Hyunsik yang tahu apa yang diinginkan CEOnya itu. Menarik istrinya dan pergi ke ruang santai, apa lagi memang yang akan dilakukan di dalam sana?

"Sehun bisakah kau bertindak sedikit profesional? Tidakkah kau melihat Hyunsik tadi?" Luhan mendesis namun Sehun mengabaikannya dengan baik. Lelaki itu menarik ibu jari Luhan dan menempelkannya ke passcode di samping pintu ruangan khusus yang terdapat di ruang santai itu; ruangan yang memiliki ranjang besar.

"Dia sudah terbiasa."

Cklek. Pintu ruangan itu terkunci dan sekali gerakan Sehun langsung memeluk pinggang sempit Luhan setelah duduk di tepian ranjang. Luhan mengerjap; ada apa dengan suaminya ini?

"Sehuuunnn…" Luhan geli dengan usakan gemas hidung mancung Sehun di perutnya.

"Tidak bisakah kau melihat aku tengah sangat kacau sekarang? Anak perusahaan kita mengalami masalah dan aku benar-benar murka dengan mereka, aku bahkan dihubungi secara langsung karena ini cukup serius!"

Seketika Luhan membawa telapak tangannya untuk mengelus rambut hitam lebat Sehun dengan sayang. Meskipun Sehun selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, namun Sehun butuh membagi keluh kesahnya pada Luhan agar bebannya akan sedikit berkurang dan mampu membuat pikirannya lebih dingin. Luhan begitu menyukai bagaimana Sehun membutuhkannya.

"Bagian pangan kita maksudmu? Di sisi barat Busan?" Tanyanya lembut, Sehun makin mengeratkan pelukannya dan mengangguk pelan.

"Apa kau harus langsung pergi kesana untuk menyelesaikannya? Dan itu yang membuatmu merajuk seperti Haowen yang tidak mendapatkan sarapan buatanku? Apa kau tidak mengingat sudah berapa umurmu ini?"

Sehun terkekeh. Lelaki itu mendongakkan wajahnya dan tersenyum jahil. "Tapi aku tetap tampan, kan, di umurku yang sekarang?" Luhan tertawa kecil dan mencubit hidung mancung Sehun dengan gemas.

"Jawab pertanyaan pertamaku."

"Dan aku semakin panas kan, di umurku yang sekarang?" Sehun kembali mengabaikannya dan mulai mengulas senyum mesum. Luhan menepuk kepala lelakinya itu sedikit keras, namun Sehun sama sekali tak kesakitan, senyumnya malah melebar bak anak kecil.

"Jangan memikirkan sesuatu tentang melepaskan kancing kemejaku karena aku tahu kau masih punya banyak pekerjaan; dan aku benci menyelesaikan pekerjaan yang kau abaikan dengan dirimu yang menempel padaku seperti perekat." Luhan mencoba memperingatkan namun jawaban Sehun selalu membuatnya kalah.

"Aku berniat melepas kancing rokmu, bukan kemejamu, tenang saja."

"Kau!"

Sehun tertawa kecil, puas menggoda Luhan yang sekarang sudah bersemu hebat. Wanitanya ini tak pernah berubah sejak dulu, masih saja termakan godaan nakal Sehun dan ya, Sehun suka itu. Sehun menegakkan tubuhnya dan mencuri ciuman kecil dari bibir yang terpoles lipstik merah itu. Luhan menerimanya dengan mata terpejam.

"Aku takut Hao dan Yujie akan kecewa aku tak ada sebelum mereka tidur; aku harus berangkat setelah makan siang." Katanya, mulai sedikit serius.

"Haowen akan baik-baik saja, dia akan berkata "Hao tau Daddy keren Hao sedang bekerja untuk kita, jadi Hao tidak akan marah." dengan sangat keren, dan selama Yujie mendapatkan senyuman dari Jackson, mungkin kau tidak pulang selama beberapa hari pun dia tak akan masalah." Kata Luhan sambil mengalungkan tangannya untuk memeluk leher Sehun. Sehun terkekeh tak percaya.

"Menurutmu apakah Yujie benar-benar menyukai Jackson?"

Luhan mengedikkan bahunya. "Entahlah, mungkin hanya sebatas rasa kagum. Tapi, siapa yang tahu?"

"Kalau kau tidak lupa aku dan Haowen yang menempati urutan pertama lelaki paling tampan di hidupnya." Sehun sedikit memprotes, ia memang sedikit tidak suka melihat Yujie berbiinar cerah karena senyuman salah satu anak kembar Chanyeol itu. Yujie tak pernah menatapnya dengan binar mata yang sama.

Dan sementara Sehun sibuk dengan pikiran konyolnya, Luhan tertawa begitu manis.

"Kau harus tahu, dulu pun Baba dan Chenle yang menjadi lelaki tertampan di hidupku."

"Lantas bagaimana denganku?!" Sehun memicing tak terima.

"Kau menjadi segalanya bagiku," Sehun bersemu tipis. "jadi, kau harus rela jika suatu saat Yujie meninggalkanmu dan pergi bersama belahan jiwanya. Ingat, dia gadis yang cantik dan baik hati." Sehun mendesah kecewa, membenarkan ucapan Luhan.

"Aku lupa dia harus menikah suatu saat nanti."

"Dasar."

"Tapi sebelum itu, kurasa aku harus melepaskan anakku yang lain terlebih dahulu dalam waktu dekat." Seketika Luhan tertawa mendengar ucapan jenaka Sehun.

"Maksudmu Yeonjoo?"

"Yep, dia tumbuh menjadi gadis yang mempesona dan tingkah malu-malunya di depan adikmu sangat memperlihatkan kemana mereka akan berakhir; Chenle akan datang bulan depan, bukan?"

Luhan mengulum senyum dan mengangguk. "Mereka sangat manis. Jadi, sekarang berbenah lah, aku akan menyiapkan semua yang kau butuhkan."

"Tapi bisakah aku meminta ciuman?"

Luhan tak tahan dengan tatapan Sehun. "Dan beberapa kancing kemejaku yang terbuka, bagaimana?" Luhan pikir tak masalah memberikan sedikit hiburan pada suaminya sebelum mereka terpisah selama beberapa hari. Luhan tahu masalah ini tak akan rampung dalam sehari.

Sehun menyeringai. "Dan kancing rokmu juga, bagaimana?"

Luhan mendekatkan wajah dan mencium penuh bibir tipis suaminya itu sebelum berbisik. "Selama kau mau memesankan sepaket pakaian setelah ini; aku oke."

"Sekalian dengan tokonya kalau kau mau, Sayang."

.

.

.

Seperti inilah keseharian Luhan selama beberapa tahun terakhir, selepas jam makan siang terlewat beberapa saat ia akan menjemput Yujie ke sekolahnya. Ia tak mempermasalahkan Haowen, anak lelakinya itu pasti sudah pulang bersama Chanyeol yang menjemput anak kembarnya.

Entah mengapa Luhan sangat menyukai bagaimana cara Yujie berlari padanya saat ia sampai di depan kindergarten dan turun dari mobil.

"Mommy!" Luhan tertawa pelan sambil mengangkat Yujie ke pelukannya. Ia mendapat pelukan sekilas dan sebuah kecupan, setelahnya Yujie menatapnya berbinar.

"Sebentar, Mommy tahu apa yang membuatmu tersenyum seperti ini; mendapat nilai excellent di pelajaran menggambar? Mommy benar?" Luhan menahan senyuman dan Yujie mengangguk sangat antusias, menujukkan kertasnya yang berisikan gambar keluarga kecil mereka; Sehun dengan jas hitam dan sorot mata datar, Luhan dengan gaun berwarna biru laut yang indah, Haowen dengan seragam sekolahnya dan mata yang sama dengan Sehun, dan dirinya sendiri dengan gaun pink dan bunga-bunga kecil.

"Eum! Dan Yujie satu-satunya yang mendapat nilai excellent! Jackson Oppa harus tahu ini!" Luhan tertawa dan memandangi coretan anak gadisnya itu. Wanita itu tertegun sebentar, goresan tangan anaknya makin halus dan teratur, bahkan Yujie menggambar bagian pakaian dengan sangat baik untuk ukuran coretan tangan gadis nyaris 6 tahun.

Luhan tersenyum; apakah anaknya ini akan menjadi perancang di masa depan?

"Cha! Sekarang kita mengunjungi Kakek dan makan siang; Yujie ingin makan siang dengan apa?" Kata Luhan sambil masuk ke mobil dan langsung melaju setelah memastikan Yujie memakai sabuk pengamannya dengan baik.

"Apapun yang Kakek berikan pada Yujie akan Yujie makan dengan baik; Kakek suka membuat makanan enak dan Yujie suka kejutan." Luhan hanya tertawa kecil mendengarnya.

Mereka meninggalkan kindergarten menuju restoran utama keluarga Oh, tidak bisa dibilang restoran utama juga sebenarnya; hanya saja Tuan Oh sering berada di sana di jam makan siang demi menyambut cucu cantiknya beserta Ibunya yang tak kalah cantik itu.

Luhan tak khawatir membiarkan Yujie turun dari mobilnya dan berlari masuk sementara dirinya memarkirkan mobil. Ia sudah tahu rute pasti yang akan dilewati putri kecilnya itu; berlari melewati meja-meja yang cukup penuh dengan tamu menuju dapur utama dengan teriakan khasnya.

"Kakek, Yujie dataaaanngg!"

Dan menemukan Tuan Oh tengah menggendong Yujie beserta ciuman yang menggemas di atas pipinya; Luhan tersenyum lembut.

Luhan membungkukkan tubuhnya sekilas.

"Kami datang, Ayah." Katanya menyapa. Tuan Oh memandang Luhan dengan sangsi, matanya sedikit memicing main-main.

"Aku lebih suka disapa dengan pelukan, Anakku." Dan Luhan tertawa begitu anggun, ia bergerak dan memeluk ayah mertuanya.

"Jadi, apa yang Yujie inginkan untuk makan siang hari ini?" Tanya Tuan Oh dengan gemas. Sementara itu Yujie tanpa pikir panjang mencium pipi kakeknya dan menjawab.

"Apapun yang kakek buat! Yujie selalu suka kejutan! Ah, bisa kakek membuat es krim coklat nanti?" Yujie mengatakan kalimat terakhirnya dengan raut wajah serius yang membuat dua orang dewasa di sana tertawa kecil.

Tuan Oh kembali ke dapur utamanya dan membiarkan menantu dan cucunya mencari tempat duduk, sebenarnya tidak mencari, meja kesukaan Yujie—dekat dengan jendela dan bunga-bunga ungu kecil—selalu kosong dan bertanda reservasi setiap jam makan siang tiba. Beberapa orang yang mengenal Luhan menyapanya di tengah acara makan siangnya dan Luhan membalas dengan senyuman.

"Yujie," Luhan memanggil putri kecilnya dengan hati-hati, hendak memberitahu perihal kepergian Sehun, dan Yujie menatapnya dengan tatapan bertanya. "Daddy sedang keluar untuk pekerjaan, jadi sepertinya Yujie akan mendengar dongeng dari Mommy nanti malam, bukan Daddy; tidak apa?"

Tak disangka, Yujie mengangguk tanpa protes.

"Tapi Yujie harus melihat Mommy saat bangun, Yujie mau tidur bersama Mommy di kamar Mommy dan Daddy. Oke?" Tapi tetap saja, ada syaratnya, dan Luhan menyambut uluran kelingking kecil itu dan mengaitkannya. Senyum tak pernah lepas.

"Tentu."

Tuan Oh datang beberapa saat setelahnya dengan salah satu pelayan mendorong troli yang penuh dengan menu makan siang. Bento lucu berbentuk hello kitty dengan isi yang membuat Yujie berbinar dan es krim cokelat dengan topping remah roti untuk Yujie, spagetti seafood untuk Luhan, dan menu makan siang untuk Tuan Oh sendiri.

"Yujie jadi sayang memakan ini; kenapa kakek bisa membuat bentuk ini? Bisa ajari Yujie nanti?" Kata Yujie dengan wajah mencebik, antara sayang untuk memakan makanan lucu itu dan lapar melihatnya.

Tuan Oh tertawa. "Kakek bisa mengajarkannya, jadi Yujie makan dan Kakek janji akan memberikan satu lagi yang seperti ini untuk dibawa pulang; bagaimana?"

Yujie kehilangan kekhawatirannya dan langsung menyuapkan makan siangnya, matanya kian berbinar begitu lidahnya mengecap rasa yang menyenangkan. Membuat senyum selalu menghias dua lainnya di meja ini.

"Kudengar Sehun pergi ke Busan; ada apa, Luhan?" Luhan yang jarang mendapati Ayah mertuanya menanyakan perihal yang sama langsung menelan spageti yang baru dikunyah beberapa kali.

"Ada sedikit masalah dengan anak perusahaan bagian pangan kami di Busan; Sehun harus turun tangan langsung kesana. Mungkin sekitar 3 hari lagi dia akan kembali. Apakah Ayah membutuhkan sesuatu?"

"Tidak-tidak, lanjutkan makan siangmu."

Luhan sedikit tak mengerti dengan raut wajah tak biasa Tuan Oh, namun ia memilih untuk tidak ikut campur dan melanjutkan makan siangnya, sesekali menggoda pipi penuh Yujie yang tak henti mengunyah seperti tupai kecil yang mengemut kacang hazel.

Mereka menuju rumah Chanyeol dan Baekhyun setelah menyelesaikan makan siang. Dan seperti yang diperkirakan Luhan; Jackson yang akan menyambut Yujie demi membuat gadis kecil itu terlupa dengan masalah Ayahnya yang pergi. Rona merah tipis di pipi gembil itu bertambah dan Luhan terkekeh.

"Yujie berjanji akan baik-baik saja bersama Baekhyun Aunty dan kakak-kakakmu?"

"Tentu! Jackson Oppa, Yujie ingin memperlihatkan sesuatu! Oppa harus lihat! Ah! Yujie juga membawa bento buatan kakek, nanti kita makan bersama ya?"

Baekhyun dan Luhan hanya tertawa melihat interaksi itu; Jackson dan Yujie masuk ke dalam setelah mengucapkan salam dan mencium pipi Luhan, sementara itu Jasper dan Haowen mendekat dengan wajah tertekuk.

"Selalu Jackson yang menjadi nama pertama yang ia panggil; apa Yujie tidak ingat masih punya Oppa tampan di sini?" Itu Jasper.

"Lantas bagaimana dengan aku yang kakak serahimnya?" Dan Haowen menambahi dengan sedikit jengkel.

"Kalian menggemaskan sekali!" Baekhyun tak tahan menarik pipi dua anak lelaki itu sementara Luhan memeluknya bergantian, sedikit lebih lama untuk Haowen.

"Kalian tahu Yujie menyayangi kalian, jaga Yujie, oke?" kata Luhan dengan seulas senyum.

Keduanya mengangguk pasti dan setelahnya berlari menyusul; hendak menginvasi makan siang dua sejoli menyebalkan itu.

"Maafkan aku merepotkanmu lagi, Baek. Pekerjaanku tidak mengijinkanku punya waktu menjaga Yujie dan Sehun harus pergi untuk mengurus masalah perusahaan." Kata Luhan dengan sesal. Baekhyun malah menatapnya memicing.

"Kau anggap aku apa? Seperti bicara dengan siapa saja, kau ini. Tenang saja, dengan adanya Yujie dan Haowen, si Kembar tak akan merengek dan merecoki aku untuk bertemu dengan Ayahnya." Kata Baekhyun dengan nada jenaka di akhir kalimatnya.

"Terimakasih, Baek."

"Kau harus makan malam di sini, oke? Pergilah, mereka akan baik-baik saja." Baekhyun lantas mengecup pelan pipi Luhan dan Luhan tertawa.

"Sejak kita berdua menikah kau selalu mencium pipiku di setiap kesempatan." Katanya dengan kekehan kecil sementara Baekhyun mendengus dengan semu.

"Karena aku sudah tidak bisa memelukmu seperti guling saat malam hari; malah aku yang dijadikan guling oleh Chanyeol. Pergilah sebelum aku mencium bibirmu!"

Luhan tertawa.

"Baik-baik, aku pergi, Baek."

.

.

.

Luhan sudah terbiasa dengan apa yang ia alami sekarang; duduk sendirian di balik bilik kacanya tanpa ada seorangpun di lantai teratas ini. Hyunsik baru saja menelfon dan melaporkan apa-apa saja yang dikerjakan suaminya di sana, sebatas keluar masuk ruang khususnya di sana, pergi ke beberapa tempat mengurus masalah, dan juga bertemu dengan beberapa kolega di sana, Hyunsik juga mengatakan suaminya bertemu mantan koleganya dulu bernama Kim Dong Ho—seorang pemilik perusahaan industri inti mesin yang sekarang cukup suskes—dan kini kembali menjalin kerjasama setelah berbicara selama beberapa saat. Luhan sedikit sangsi, setahunya tak ada perusahaan ataupun pihak yang menarik proposal kerjasamanya sejauh ia duduk di kursi sekretaris. Ia akan menanyakannya nanti, kalau-kalau ia melewatkan sesuatu.

Yujie memiliki kelas sampai sedikit sore—hanya sedikit tambahan untuk pentas seni untuk perpisahan, dan Luhan yakin Haowen tengah sibuk bermain bersama kedua kakaknya. Ia memiliki sedikit waktu luang setelah menyelesaikan rapat dewan direksi dan mendatangi ajuan sponsor dari beberapa pihak, dan ia berniat sedikit merilekskan diri. Bukan ia tak mau menghabiskan waktu bersama Haowen atau Yujie, tapi sepertinya ia membutuhkan waktu untuk membuat dirinya kembali segar; mengurus pekerjaan tanpa Sehun dalam jangkauan pandangannya membuatnya sedikit jenuh. Ini sudah hari kelima dan ternyata masalah di sana menahan Sehun lebih lama.

"Apakah aku sebaiknya keluar ke salon saja, ya? Rambutku mulai kusam dan, kurasa tak ada salahnya menyambut Sehun dengan keadaan yang lebih baik. Dia pasti sangat merindukanku."

Luhan mendapati dirinya tersenyum malu menyadari kalimat terakhir.

"Baiklah, mari pergi, Luhan."

Luhan melangkah tanpa firasat, tanpa tahu bahwa suaminya kini tengah termenung dengan wajah kalut sendirian.

.

.

.

Sehun berkata sudah dalam perjalanan pulang dari bandara sekitar setengah jam yang lalu dan Luhan tengah menyiapkan makan malam untuk keluarga kecil mereka dibantu beberapa maid. Luhan sudah menyiapkan sup daging pedas kesukaan Sehun yang ia pelajari dari ayah mertuanya dan beberapa menu makan malam lain sesuai pesanan Yujie dan Haowen masing-masing; kedua buah hatinya itu makin pintar meminta sesuatu.

"Mommy… Apa Daddy sudah pulang?" Suara Yujie terdengar dan membuat Luhan menoleh ke sumber suara, ia terkekeh geli melihat raut wajah tak enak Haowen yang tengah menggendong Yujie di balik punggungnya yang terus saja berjingkrak-jingkrak; sesuatu tentang Haowen yang membuat adiknya kesal dan menggantinya dengan bermain kuda-kudaan.

"Kita belum mendengar suara Mommy yang memarahi Daddy karena menciumnya sembarangan jadi itu artinya Daddy belum pulang, Baby Yujie." Kata Haowen malas sambil mendudukkan adiknya ke kursi meja makan. Luhan mendelik kecil sebelum menarik pipi Haowen gemas.

"Jangan berbicara aneh-aneh dengan adikmu; Hao belajar dari siapa, sih?" Katanya gemas sementara Haowen malah menatapnya sangsi.

"Daddy mengatakan sesuatu tentang 'hal aneh-aneh' di depan Haowen jadi bagaimana bisa Haowen tidak mengerti?"

Ingatkan Luhan untuk membungkam mulut Sehun nanti agar tidak seenak jidat mengatakan hal-hal dewasa di depan anak-anaknya.

Luhan menatap jam yang tergantung di dinding dan mendesah pelan menyadari Sehun akan pulang sedikit lebih lama, mungkin lebih baik membiarkan Haowen dan Yujie makan malam lebih dulu dan ia akan menunggu Sehun nanti. Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi? Kenapa perasaannya tidak menyenangkan?

"Hao dan Yujie makan malam dulu, oke?"

Keduanya merengut. "Kenapa? Apa Daddy tidak jadi pulang?" Luhan tersenyum tipis.

"Bukan begitu, Sayang, Daddy akan pulang sedikit malam dan lebih baik kalian makan terlebih dulu; Daddy tidak akan marah. Oke?"

Melihat tatapan berharap sang Ibu yang sangat jarang keduanya lihat; Haowen dan Yujie mengangguk ringkas dan memulai makan malamnya dengan doa kecil. Haowen yang menutup matanya dengan khidmat sembari merapalkan doa yang diajarkan Sehun dan Yujie yang mengikuti ucapan kakak lelakinya dengan sedikit tersendat; membuat senyum tipis terbit pada belah bibir Luhan.

"Selamat makan!"

Keduanya makan dengan lahap, namun hati Luhan terasa tak tenang. Sejak kapan perasaan tak nyaman ini mendera?

Perkiraannya tentang Sehun yang akan pulang terlambat ternyata bukan semata perkiraan; pintu gerbang baru terbuka saat Luhan sudah selesai membacakan dongeng dan lullaby untuk kedua buah hatinya—Yujie tiba-tiba merengek hendak tidur di pelukan sang Kakak Lelaki. Menemukan Sehun melangkah kearahnya dengan gontai dan wajah suram membuat senyum yang sudah Luhan usahakan mati-matian di tengah hatinya yang tak tenang seketika pudar. Ia mendekat dan tanpa disangka Sehun langsung menenggelamkan dirinya dalam pelukan erat, teramat erat sampai membuat Luhan nyaris sesak.

"Hei—Sehunna… Ada apa? Apakah masalah di sana belum juga selesai? Hyunsik mengatakan bahwa semuanya sudah clear; ada apa?"

Sehun terdiam, dan Luhan tak tahu Sehun sangat menghindari pertanyaan ada apa sekarang. Lelaki yang wajahnya sedikit lebih pucat itu menenggelamkan wajahnya ke perpotongan leher Luhan dan menghirup aroma menenangkan dari sana.

"Aku hanya sangat merindukanmu; apa kau tahu seminggu tidur bercumbu dengan berkas dan masalah itu membuatku nyaris gila?"

Sedikit serak, namun mungkin benar jika Sehun hanya merindukannya dan juga lelah. Luhan membalas pelukan erat itu dan mengelus punggung kokoh itu dengan pelan dan menenangkan.

"Kau harus makan malam dan setelahnya pergi mandi dan istirahat; kau akan lebih baik esok hari."

Diam-diam Sehun tersenyum getir. Lelaki itu melepaskan pelukannya dan menatap Luhan dengan seringai menyebalkan yang ternyata berhasil ia buat di bibir tipisnya. "Jika menu makan malamku dirimu aku setuju."

Sebenarnya Luhan tak pernah meladeni godaan suaminya jika salah satu dari mereka atau keduanya baru saja menyelesaikan perjalanan, namun malam ini, ia merasa akan lebih baik jika ia menuruti perkataan Sehun. Ia juga gundah dan ia merindukan sentuhan Sehun untuk membuatnya sedikit tenang.

Luhan menarik dasi kacau Sehun dan berbisik rendah. "Aku milikmu malam ini."

Sehun langsung menggendong Luhan di depan tubuhnya dengan bibir yang mulai mencumbu bibir istrinya. Tanpa kesulitan berjalan menuju kamar utama di rumah itu dan beberapa kali bersandar di koridor saat Luhan sedikit menuntut. Pintu dibuka cukup kasar dan kaki Sehun menutupnya dengan sempurna. Tak banyak kata yang terucap dari bibir keduanya, hanya desah nafas halus yang terdengar dari kamar bernuansa merah marun dan emas yang sensual itu.

Luhan yang biasanya selalu membuka kelopak matanya demi menatap bagaimana kepuasan yang tercetak jelas pada wajah tegas suaminya setelah menelanjangi tubuhnya, memilih untuk menutup mata dan menikmati dalam gelap. Ia bisa merasakan sentuhan Sehun yang begitu panas dan sedikit lebih cepat, ia tersentak kecil dan merasakan perutnya dihantam rasa menyenangkan yang membuat ulu hatinya membuncah.

"Perlahan, Sehun…" Ia membisik namun sepertinya Sehun enggan mendengarkan.

Tanpa banyak permainan pada dada sintal Luhan dan juga sepasang labia yang sudah basah dan panas; Sehun memulai penetrasi dengan cepat, membuat Luhan melampiaskan apa yang menyerang daerah sensitifnya dengan memeluk leher Sehun dengan begitu erat nyaris menyesakkan dada.

Tak ada jeda, tak ada penyesuaian berarti, Sehun mendorong dengan keras dan cepat. Tak peduli bagaimana tubuh istrinya terhentak dan menggelepar tak keruan di bawah kendalinya. Keduanya paham dan mengerti, perasaan ini sudah lama tak mereka rasakan; keinginan untuk segera mencapai kepuasan begitu membuncah hingga membuat keduanya nyaris lepas kendali.

Luhan mendapatkan pelepasannya yang membuatnya lemas sementara Sehun masih mengejar kenikmatan yang sudah di depan mata. Ketika Luhan sengaja mengetatkan dinding kewanitaannya, Sehun meledak dan berakhir menindih tubuh istrinya yang sama terengah.

Nafas keduanya bersahutan dan Luhan membuka mata, tangannya bergerak membelai sisi wajah Sehun yang berkeringat dan lepek, ada kepuasan di sana, namun masih ada setitik hal yang mengganggu. Luhan akan mengabaikannya; ia tak bisa merusak malam mereka. Sehun bangkit dan memberikan ciuman manis yang membuat Luhan nyaris tersedak udara karena terkejut, tak biasanya Sehun memberikan ciuman ringan alih-alih ciuman panas yang begitu menuntut; tanda untuk melanjutkan ke sesi berikutnya.

Ciuman itu masih berlanjut saat Sehun menarik miliknya dengan perlahan, ada desisan kecil di sana. Luhan menatap Sehun dengan tatapan bertanya namun Sehun hanya mengecup keningnya dan menariknya dalam pelukan. Sama seperti sebelumnya, Sehun memeluknya teramat erat.

"Sehun…"

"Aku ingin memelukmu sepanjang malam, tidurlah… Dan jangan pergi sebelum aku membuka mata."

.

.

.

Sehun memandangi Luhan yang tampak begitu antusias dengan panggilan yang ia terima. Mereka baru saja menyelesaikan satu rapat dewan direksi dan tengah beristirahat untuk melepas penat yang mendera lebih kejam dari biasanya.

Ketika Luhan menutup panggilannya dan berjalan kepadanya dengan senyum yang merekah begitu indah, Sehun mengusahakan sebuah senyuman. Tangannya menyambut Luhan untuk duduk dipangkuannya dan seketika kedua tangan halus itu mengalung ke lehernya dengan begitu manis.

"Katakan apa hal yang membuatmu tersenyum begitu menawan?" Sehun merasakan dirinya tersiram air dingin menyejukkan ketika kekehan Luhan mengudara.

"Chenle mengatakan dirinya sudah sampai di atas kota dan tinggal menunggu pendaratan. Dia memberi kejutan dan coba tebak apa alasan yang ia katakan? Dia tak ingin aku menyiapkan kamarnya dengan berlebihan—"

"Dengan stiker Ironman yang sangat banyak dan membuatnya malu di depan Yeonjoo, lalu?"

Luhan terkikik. "Ternyata universitas mengundangnya lebih cepat dan aku sangat bangga."

Sehun menyingkirkan poni Luhan yang menutupi wajahnya dengan pelan sambil memandang sang Istri dengan senyuman tipis.

"Kita tak perlu menjemputnya, kan?"

"Tidak-tidak, dia sudah besar—seperti katanya, dan aku yakin Yeonjoo sudah di sana sejak satu jam sebelumnya dan bolak-balik berkaca melihat penampilannya."

Keduanya terkekeh pelan.

"Kau sangat bahagia."

Luhan hanya mengangguk dan memberikan ciuman kilat pada Sehun. Sehun mengerjap dan berdehem pelan, gugup mendapat serangan mendadak istrinya. Sementara dirinya sibuk mengalihkan pandangan Luhan malah menatapnya dengan senyum jahil.

"Kita sudah menikah nyaris satu dekade tapi kau masih saja terkejut mendapati aku menciummu lebih dulu; kau menggemaskan sekali, sih?"

"Jangan menggodaku atau aku akan merusak kancing kemejamu."

Luhan tahu tatapan memperingatkan yang Sehun berikan padanya bukan mainan, tapi tetap saja, menggoda Sehun adalah hal wajib—seperti Sehun yang menjadikan kegiatan menggodanya adalah kewajiban tiap saat.

"Aku mencintaimu, Sehunna. Aku akan pergi sebentar ke café Yurae Eonnie; aku sangat merindukannya. Kau bisa minta berkas yang sudah aku siapkan pada Hyunsik. Oke?" Sehun mengangguk dan mengucapkan hati-hati.

Setelah memberikan kecupan kecil Luhan melangkah pergi, dan setelah memastikan Luhan sudah turun menggunakan lift, Sehun memanggil Hyunsik masuk. Hyunsik menatapnya dengan ekspresi tak terbaca dan Sehun sudah bisa menebak apa yang akan Hyunsik lontarkan nanti atas pertanyaannya.

"Apa kau sudah tahu siapa dia?"

Luhan keluar dari lift.

Luhan membalas sapaan beberapa karyawan yang ia lintasi dan memberitahukan kalau dirinya keluar sebentar kepada Resepsionis Kang. Luhan menuju mobilnya yang terparkir di basement dan melaju menuju pusat kota, mengunjungi kafe yang semasa muda sangat sering ia kunjungi karena dekat dengan universitasnya.

Tak akan ada yang menyangka dirinya ibu dua anak jika kedua buah hatinya tak menemani; beberapa lelaki melirik dan menggodanya dan Luhan hanya memasang wajah datar; perintah Yang Muliia Oh Se Hun kalau ia keluar sendirian, kok Luhan jadi tersenyum sendiri, sih?

Klining!

"Selamat da—Luhan?"

"Hai, Yurae Eonnie, bagaimana kabarmu?" Yang dipanggilnya eonnie tertawa pelan melihat siapa yang datang, wanita berambut cokelat itu mengabaikan pekerjaannya dan menyambut Luhan ke dalam pelukan.

"Lama sekali kau tidak kesini, bagaimana kabar keluargamu?"

"Selalu baik seperti biasa dan, kau masih saja berlagak seperti pelayan sekalipun kau sudah punya cabang di mana-mana."

Kedua wanita itu tertawa pelan dan Yurae mempersilakan Luhan untuk duduk di salah satu meja yang kosong. Yurae pergi untuk mengambilkan pesanan Luhan yang sudah dihafalnya di luar kepala dan duduk menemani sahabat lamanya itu.

"Kenapa kau masih menghidangkan semua ini untukku?" Kata Luhan dengan senyuman kecil saat mendapati greentea latte dan puding peach.

"Selera anehmu itu takkan berubah sampai kapanpun; aku yakin itu. Dan Luhan, kau masih saja cantik di usiamu yang sekarang? Katakan di salon mana kau merawat tubuhmu!" Yurae sedikit memicing main-main dan Luhan tertawa pelan sesaat setelah mencicipi greetea latte yang sangat ia rindukan itu.

"Seminggu sekali saat pekerjaan kami sedikit longgar; aku pergi ke salon dan membiarkan Sehun menikmati quality timenya di arena bermain bersama anak-anak. Bukan salon mahal, kok, salon langgananku sejak dulu."

"Woah, aku tak menyangka kau tak menyentuh perawatan jutaan setelah menjadi Nyonya Muda Oh."

"Kau orang kesekian yang mengatakannya, menyebalkan. Eonnie jangan bahas itu sekarang, ceritakan mengapa dirimu belum juga menikah! Aku bahkan sudah punya dua anak dan kau masih betah melajang?"

Yurae tertawa dan setelah itu obrolan mereka mengalir lancar. Yurae adalah salah satu sahabat dekat Luhan bersama Baekhyun dulu, wanita itu juga membantu keduanya semasa kuliah dan mempekerjakan mereka di café ini sebagai pegawai part time, jika Luhan bisa menghitung semua bantuan yang ia dapatkan dari wanita yang betah melajang ini, mungkin ia akan kebingungan bagaimana cara membalasnya saking banyaknya.

"Lain kali ajaklah kedua anakmu kesini, aku sudah merindukan mereka, terakhir kali aku melihat mereka Yujie bahkan baru bisa berjalan dengan lancar."

Luhan mengangguk dan berjanji dalam hati akan menepatinya secepat mungkin.

"Aku tinggal sebentar, kau nikmati waktu bersantaimu, heum?"

Yurae melangkah pergi untuk mengurus beberapa pelanggan dan Luhan terdiam menikmati lalu lalang jalanan. Ada sedikit perasaan tertentu dalam hatinya yang membuatnya tergerak untuk datang kesini.

Klining!

"Yurae Eonnie aku datang! Bisakah aku memesan—eh, apakah benar ini Luhan?"

Luhan mengerjap dan meletakkan cangkir greentea lattenya, memandang siapa yang duduk di depannya dengan wajah cerah. Dan seketika bibir Luhan menerbitkan senyuman.

"Astaga, sudah berapa lama kita tidak bertemu, Tsuruko?" Luhan sedikit antusias dan memberikan pelukan kecil pada wanita muda dengan senyum ceria itu. Anjou Tsuruko, wanita berdarah Jepang yang merantau ke sini untuk mengadu nasib, sama seperti dirinya dahulu. Dan kelihatannya, sekarang Tsuruko sama-sama sukses seperti dirinya sekarang.

"Sekitar 12 tahun kalau tidak salah, dan bagaimana kabarmu, Luhan? Kudengar kau sudah menikah dan memiliki buah hati? Woah, aku tak menyangka aku akan keduluan. Dan kau sama sekali tidak memberitahuku kau sudah menikah, aku bahkan mengetahui info ini dari Yurae Eonnie." Katanya jenaka dan Luhan terkekeh.

"Aku lebih tua beberapa bulan darimu jadi kata keduluan sama sekali tidak ada. Aku baik dan sekarang katakan kemana saja kau selama ini? Terakhir kali aku mendengar kabarmu, kau pergi ke Swedia untuk mengikuti ayahmu."

"Ya, benar. Aku ke Swedia dan aku menetap di sana selama 4 tahun sebelum melanglang buana ke berbagai negara untuk mengembangkan perusahaan Ayahku. Aku masih di Taiwan beberapa bulan yang lalu sebelum memutuskan kembali ke Korea."

"Dan apa alasanmu kembali kesini, heum? Mencari lelaki panas seperti katamu dulu? Apa kau masih menginginkan lelaki Korea untuk menjadi pasanganmu?" Senyum jahil muncul di bibir Luhan dan Tsuruko tertawa begitu manis.

"Aku rasa aku perlu membangun koneksi yang lebih kuat di sini, dan Luhan, kau benar, dan aku sudah mendapatkan calon lelaki panasku beberapa hari lalu. Dan sekarang aku tengah mencarinya, yah, walaupun ada sedikit masalah yang membuatku mencarinya."

Luhan tertawa, wanita ini tak pernah berubah dari dulu.

"Kau masih saja menikmati one night stand? Dan jangan bilang kau—" Luhan tak berani melanjutkan kalimatnya ketika melihat raut wajah sendu Tsuruko. Ia langsung mengerti.

Tsuruko mengedikkan bahunya dengan sendu, sebelum langsung menggantinya dengan senyum jahil sok misterius. "Kemarin one night stand terakhirku."

"Baiklah, baiklah. Kenalkan padaku siapa lelaki panasmu itu."

"Pesananmu akan segera datang Tsuruko-chan!"

"Oke, Eonnie!"

Mereka tertawa dan menikmati nostalgia.

.

.

.

Luhan tak pernah tahu betapa bahagia melihat suasana pagi di rumah besarnya menjadi jauh lebih ramai sejak beberapa hari terakhir. Sementara dirinya sibuk menyiapkan sarapan bersama Yeonjoo yang sudah datang sejak pagi, tiga anak adam dan satu anak hawa dengan umur berbeda-beda sibuk bercengkerama di depan televisi yang menayangkan kartun di pagi sedikit menjelang siang. Kedatangan Chenle, adiknya, membuat kedua buah hatinya begitu antusias bermain dengan adik Mommynya yang tak selalu bisa mereka temui itu. Dan Yeonjoo, jangan tanyakan mengapa ia sudah kesini.

"Apakah sudah ada perkembangan?" Tanya Luhan jahil, namun Yeonjoo tak mengerti apa yang dimaksud eonnienya yang sudah merangkap seperti ibu baginya itu.

"Maksud Luhan Eonnie?"

"Kau dan Chenle, apa lagi…" Dan Yeonjoo tersedak udara dengan wajah bersemu.

"Chenle Oppa mengajakku makan malam dan dia s-sudah mencium—"

"Chenle sudah berani menciummu?! Aku akan memukulnya karena—"

"Hanya kening dan punggung tanganku! Tidak lebih! Astaga jangan membuat aku malu, Eonnie! Aish, menyebalkan."

Luhan tertawa, selalu menyenangkan menggoda gadis muda yang sudah seperti putrinya ini. Rasanya baru kemarin ia menggendong dan tertawa melihat wajah belepotan Yeonjoo yang tengah menikmati es krim, namun ia sudah tumbuh menjadi gadis muda yang begitu mempesona.

"Ingat apa yang selalu Luhan Eonnie katakan, jika Chenle berani melakukan hal yang tidak-tidak padamu, kau harus menolak dan—"

"Jiejie, kenapa aku merasa kau tengah membicarakan aku di sana?"

Luhan dan Yeonjoo menoleh dan mengulum senyuman. "Aku hanya memberi Yeonjoo sedikit nasihat dan sekarang kalian semua harus pergi dari sofa dan duduk di meja makan. Cepatlah."

Semuanya menurut tanpa banyak protes. Sementara yang lain sudah duduk manis dengan tatapan antusias melihat menu sarapan yang menggiurkan dan masih mengepulkan asap hangat, Sehun melangkah kepada Luhan yang masih sibuk mengambilkan air lemon hangat dan langsung menarik pinggangnya, memberikan ciuman hangat yang sedikit panjang. Itu membuat Chenle dan Yeonjoo panik menutupi mata dua anak kecil yang masih polos di sana.

"Sehun!" Luhan melotot protes namun hanya cengiran yang ia dapatkan.

"Aku tak tahan untuk tidak menciummu, Sayang." Alasan macam apa itu.

"Bisakah Oppa tidak memakan bibir Luhan Eonnie? Bagaimana jika otak Hao dan Yujie terkontaminasi?!" Yeonjoo kesal melihat adegan itu, dan diselipi rasa gemas dan iri juga sebenarnya. Haowen dan Yujie menurunkan tangan yang menutupi mata mereka dan menatap Chenle dan Yeonjoo polos—datar untuk Haowen.

"Daddy sudah berkali-kali memakan bibir Mommy di depan Yujie dan Hao Oppa."

Haowen mengangguk. "Bahkan Daddy juga sering menggigit leher Mommy dan membuat leher Mommy berbekas seperti digigit nyamuk."

"Lalu Yeonjoo Eonnie, terkontamin—nas—nasi itu, apa?" Yujie sedikit sulit mengatakan kata yang terdengar asing itu dan membuat Chenle nyaris menjedukkan kepalanya ke meja marmer sementara Yeonjoo sudah sangat memerah.

Sehun tertawa ekspresif dan meninggalkan Luhan yang sudah bersemu nyaris sematang Yeonjoo. Wanita dewasa itu mencubit pinggang keras suaminya dan membuatnya mengaduh kesakitan.

"Tak ada malam panas untukmu." Luhan mendesis kecil dan Sehun tampak tak terlalu khawatir tentang hal itu.

"Seperti kau bisa menolak sentuhanku saja."

"Sehun!"

Baiklah, istrinya mulai menakutkan dan mereka harus segera memulai sarapan sebelum Luhan menghujaninya dengan cubitan capit kecil yang pedas.

"Hao yang memimpin doa." Begitu kata Sehun sambil menatap anak lelakinya dengan senyuman, Hao mengangguk kecil dan memulai doanya. Tanpa sadar doa kecil itu membuat orang dewasa di sekitarnya terenyuh mendengar doa yang sangat polos dan tulus itu.

"Di dalam nama Tuhan yang mengasihi. Terimakasih atas sarapan yang enak ini. Beri Haowen kekuatan untuk melindungi Baby Yujie, Yeonjoo Noona, Chenle Gege dan juga Mommy dan Daddy. Jangan biarkan Mommy, Baby Yujie dan Yeonjoo Noona menangis karena Haowen, Chenle Ge dan Daddy. Buat kami semua selalu bahagia. Di dalam nama Tuhan, kami berdoa. Amin."

Luhan mengusap titik air matanya dan memandang Sehun yang mengelus telapak tangannya sambil tersenyum tipis. Doa ini berbeda dari biasanya, dan ada sesuatu yang tersembunyi yang Luhan rasakan.

"Selamat makan!"

Sarapan itu berjalan dengan semestinya, dengan Chenle yang tak henti memandangi Yeonjoo yang bersemu karena lelaki duapuluh dua itu terus saja mengatakan masakannya enak. Sementara tu Haowen dan Yujie sibuk bertukar lauk dan menyuap. Luhan dan Sehun memandang interaksi itu dengan senyum tipis. Namun, tiba-tiba semuanya terhenti ketika ponsel Sehun berbunyi, terdengar begitu keras dan menuntut. Sehun menggumamkan kata maaf sebelum pergi mengangkat panggilan itu dan seketika Luhan kehilangan selera makan, entah mengapa.

Tak lama Sehun kembali dengan raut wajah kaku dan langsung mencium puncak kepala Yujie, Haowen, dan Yeonjoo. Saat mencium bibir Luhan sekilas lelaki itu berbisik pelan :

"Ada sedikit masalah di kantor. Kau tak perlu pergi karena Hyunsik sudah mengurusnya. Baik-baiklah di rumah dan jaga mereka." Katanya.

Luhan menatap bertanya. "Bukankah aku sudah menyelesaikan semuanya kemarin? Apakah ada yang terlewat? Bukankah kau sepakat mengambil cuti hari ini?" Ini kali pertama Luhan tak suka jika Sehun pergi untuk pekerjaan. Tatapannya seolah tak rela namun Sehun menolak dengan mengecup keningnya.

"Tak ada yang terlewat, Sayang. Aku pergi."

Sehun seakan mengabaikan semuanya dan Luhan benar-benar kehilangan selera makannya, ia menatap sisa orang di meja makan itu dengan senyum tipis.

"Lanjutkan sarapan kalian, Daddy akan pulang sebentar lagi setelah pekerjaannya selesai." Semuanya menurut, namun tak ada lagi canda seperti sebelumnya.

Sarapan itu selesai tak lama, meninggalkan Luhan dan Yeonjoo yang mengurus beberapa bekas makan bersama beberapa maid, tiga lainnya kembali sibuk di depan tv dengan mulut mengoceh ceria. Beberapa kali terdengar tawa manis dari Yujie yang kegelian saat Chenle menggelitikinya dan Haowen yang berteriak protes ketika tatanan rambutnya diacak gemas. Seharusnya Luhan tersenyum.

"Apa Luhan Eonnie baik-baik saja?" Yeonjoo menyadari raut wajah tak nyaman milik Luhan dan Luhan hanya menggeleng pelan.

"Aku baik-baik saja, kembalilah bersama mereka. Eonnie yang akan menyelesaikan ini." Katanya sambil menata piring ke rak dengan hati-hati. Yeonjoo meletakkan piringnya kemudian bergerak ke sisi belakang Luhan, tangan kurusnya memeluk pinggang ramping Luhan dan gadis sembilanbelas itu memeluk Luhan.

"Mama, katakan padaku jika ada yang membuatmu tidak nyaman."

Panggilan Mama hanya Yeonjoo berikan padanya ketika mereka terlibat perbincangan serius dan Luhan hanya bisa tersenyum sambil menepuk pelan tangan yang melingkari pinggangnya.

"Mama hanya merasa tidak tenang, Sayang. Ada sesuatu yang mengganjal tapi Mama tidak tahu apa itu. Yeonjoo jangan khawatir, oke? Mama baik-baik saja. Pergilah dan jaga adikmu." Luhan melepaskan pelukan itu dan berbalik, lantas memeluk sekilas tanpa alasan.

"Jangan berpikir terlalu keras, Yeonjoo tak mau mendengar Mama menggerutu karena kerutan mulai muncul, walaupun kulit Mama masih baik-baik saja, sih." Luhan tertawa mendengarnya dan Yeonjoo mencium pipinya sebelum bergabung dengan tiga lainnya.

Luhan tak tahu, tapi ia merasa ia harus pergi menyusul Sehun sekarang. Lantas ia pergi ke kamar dan berbenah dengan outfit yang selalu ia pakai ketika datang ke gedung perusahaan. Sama seperti yang Sehun lakukan, Luhan mencium puncak kepala tiga orang yang lebih muda darinya sekilas, sedikit lebih lama pada Haowen yang entah mengapa membuatnya gelisah karena tatapan matanya.

"Jiejie akan pergi kemana?" Itu Chenle yang bertanya dengan raut wajah bingung.

"Aku harus pergi menyusul Sehun, jadi kalian baik-baik di rumah dan berjanji tak ada yang bertengkar, oke?"

Setelahnya Luhan melangkah pergi, mengambil mobilnya dan langsung melaju meninggalkan kediamannya. Perjalanan terasa sangat lama sementara hati Luhan sangat gelisah, tanpa alasan ia hampir berkaca-kaca saat kemacetan menahannya sedikit lebih lama. Ia tak mengerti apa yang terjadi, yang ia tahu ia harus segera sampai, secepatnya. Lantas saat lampu lalu lintas berubah hijau ia langsung menginjak pedal gas dengan keras, mengabaikan klakson yang memprotes tindakannya. Dan kenapa Luhan harus peduli?

Setelah mobilnya terparkir di basement, Luhan menarik nafas dan mengusap setitik air mata menyebalkan di sudut matanya. Ia menepuk dadanya perlahan untuk menenangkan dadanya yang berdebar menakutkan.

"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku sesak sekali?" Katanya dengan nafas tercekat.

Luhan memutuskan untuk turun sebelum dirinya makin menggila sendirian. Saat memasuki pintu utama seperti biasa semua orang memandangnya dan memberikan bungkukan kecil, Luhan membalas sekilas dan sebelum sempat ia meraih pintu lift ia sudah dihentikan tiga orang sekaligus.

"Ada apa Anda datang kesini? Apakah ada masalah, Sekretaris Lu?" Manajer Uhm menyapanya dengan wajah seperti biasa, namun Luhan tahu ada kejanggalan di sana.

"Adakah yang bisa kami bantu?" Resepsionis Kang melanjutkan dan Luhan semakin curiga melihat Jinhee tak mau melihatnya dengan tangan bersembunyi di belakang tubuhnya.

"Kemarikan apa yang kau sembunyikan." Luhan berucap dingin dan membuat Jinhee memucat.

"A-aku tak menyembunyikan apapun." Terlalu cepat dan gugup.

"Sekretaris Lu, bisakah Anda ikut saya untuk mengurus bagian administrasi, bagian itu membu—"

"Aku kesini untuk bertemu suamiku, bukan mengurus masalah. Kemarikan." Ini pertama kalinya Luhan berucap dengan sangat tidak bersahabat. Luhan langsung menarik tubuh Jinhee dan mencoba meraih apa yang Jinhee sembunyikan, mengabaikan wajah memohon Jinhee dan tak tahu jika dua wanita lainnya sudah sepucat kertas.

Teraih, sebuah tablet PC yang biasanya ia minta pada Manajer Uhm untuk pekerjaan yang kini menampilkan laman berita elektronik terbesar. Seketika mata Luhan membasah.

"S-sekretaris Lu…"

Luhan tak pernah merasa bersahabat dengan kalimat yang terlontar dengan nada kasihan semacam itu. Tanpa banyak bicara Luhan menerobos dan melangkah menuju lift khusus dengan raut wajah mengeras, semuanya terlambat ketika pintu lift tertutup.

Seketika Manajer Uhm berteriak dengan keras. "Panggilkan bagian IT sekarang! Kunci semua akses informasi perusahaan dan kembali pastikan CCTV di lantai CEO mati!"

Luhan kehilangan pijakan dan bertumpu pada dinding lift, mati-matian ia menahan isakan sebelum meledak dan membuatnya kacau. Tangannya meremat kuat pinggiran tablet dengan buku jari memutih. Nafasnya kacau dan tiba-tiba ia membenci lift yang seakan mengurungnya ini. Pintu lift terbuka dan matanya makin basah ketika Hyunsik sudah menghadangnya dengan wajah kaku.

"Minggir, aku ingin bertemu suamiku."

"S-sekretaris Lu, Tuan Oh sedang menerima tamu dan—"

"Dan siapa dirimu berani memerintahku?!" Hyunsik tersentak dengan kalimat kasar yang baru pertama kali ia dengar itu, namun ia tetap mencoba tersenyum dan menahan Luhan.

"Saya mohon, Tuan Oh sedang tidak bisa—Sekretaris Lu!"

Luhan nyaris menumbangkan Hyunsik dan berjalan dengan sangat cepat, semakin dekat dengan pintu ruang utama di sana membuat oksigen seakan makin menipis dan membuat Luhan seperti kehilangan kemampuan bernafas.

"Kenapa kau tetap menuduh janin yang aku kandung ini bukan anakmu?!"

Pintu terbuka kasar.

"S-sayang…"

Luhan tak mempedulikan apa yang ia dengar barusan, ia hanya menatap satu-satunya wanita di ruangan itu yang baru saja berteriak keras itu dengan tatapan terluka. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan ketika ia beralih mendekat ke arah suaminya yang sepucat kertas. Tangannya kebas hendak melayangkan hantaman keras ke wajah itu namun ia tahu ia harus menahannya.

"Apa yang terjadi? Kumohon katakan semua berita sampah itu hanya kebohongan, Sehun… Katakan…" Ia berucap serak dan mulai memukul dada Sehun dengan lemah, ia terus menolak Sehun yang hendak memeluknya.

"Luhan…"

"Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Kenapa aku tak tahu apa yang terjadi? Kenapa kau tega membiarkan aku mengetahui ini dari orang lain? K-kenapa kau melakukannya… K-kenapa kau…"

Luhan merasakan tenggorokannya tercekat menyakitkan dan air matanya membuatnya makin parah. Tatapan bersalah Sehun sama sekali tak memberikannya ketenangan. Tangannya lolos membuat benda tipis yang sedari tadi ia jadikan pelampiasan meluncur dan menghantam lantai, menampilkan berita dengan judul menyakitkan tentang suaminya dan wanita yang berlinang air mata itu.

"L-luhan, aku t-tak tahu kau…" Suara yang sangat ia kenal itu membuatnya makin tersakiti dan membuat Luhan memilih untuk mengabaikannya sebelum pikiran jahat mengambil alih kendali dirinya.

Luhan bergerak mendekat dan memberikan kecupan hambar pada bibir Sehun yang dingin, ia mengusahakan senyuman di tengah hatinya yang luluh lantak untuk suaminya yang sudah meneteskan air mata.

"Selesaikan urusanmu dengan Tsuruko dan aku akan pergi. Cepat pulang, hmm?"

Luhan pergi dengan cepat dan Sehun masih mematung sampai ia tersadar akan kepergian istrinya. Ia baru saja hendak berlari menyusul, tapi tangan bergetar menahan lengannya. Sehun menoleh dengan tatapan membunuh pada siapa yang menahannya.

"Kumohon jangan pergi, Sehun… Aku…"

"Kau pikir aku percaya semua omong kosong yang kau katakan itu?!"

"Sehun!"

Sementara Sehun tengah mengutuk lift yang terasa lebih lambat dari sebelumnya, Luhan sudah sampai di basement dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak mempedulikan seharusnya ia tak mengendarai mobil di tengah suasana hatinya yang begitu kacau dan air mata yang mengaburkan pandangannya. Ia terus terisak dengan satu tangan memukul dadanya yang terasa sangat berat.

"Bernafas… Bernafaslah, Luhan… Bernafaslah…" Ia menggumamkan kalimat penenang untuk dirinya sendiri dengan nafas tercekat, ia tak mau mati sekalipun ia berpikir bahwa mati rasanya jauh lebih baik.

"Cepat bernafas! Ada Haowen dan Yujie yang—" Isakannya berubah menjadi tangis saat ia teringat dengan dua buah hatinya itu. Dadanya terhantam beban yang jauh lebih berat saat senyum manis kedua buah hatinya terlintas begitu saja.

"Tuhan… A-apa yang harus aku lakukan?"

Dari sekian banyak wanita yang ada di luar sana, mengapa harus Tsuruko? Mengapa harus salah satu orang yang dekat dengannya? Bagaimana ia harus bersikap nanti? Kepalanya berdenyut menyakitkan dan dadanya yang sesak membuat perutnya terguncang dan nyaris memuntahkan sarapan yang bahkan belum berumur beberapa jam.

Luhan menginjak pedal gasnya dengan keras dan menyalip beberapa kendaraan di depannya dengan sedikit nekat tanpa peduli. Ia tak berniat memarkirkan mobil dengan benar bahkan menutup pintu kemudinya sesampainya ia di kediaman yang tiba-tiba menguarkan suasana asing untuknya; ia tahu Sehun sudah tepat berada di belakangnya.

Tanpa sempat melihat kedua buah hatinya yang menatapnya dengan tatapan bingung dan dua lainnya yang menatapnya khawatir, Luhan berjalan sangat cepat menuju kamarnya dan menghilang di celah koridor. Ia tak sempat melihat Yeonjoo meminta Chenle untuk menahan Sehun yang sudah kalap membanting pintu utama sementara dirinya berlari mengejar.

Luhan hanya jatuh terduduk di lantai dengan isakan menggema, terdengar begitu menyakitkan seakan haknya untuk bernafas dan berdetak direnggut begitu saja tanpa belas kasih. Bukan seakan lagi, nafasnya sulit ia tarik dan detakan jantungnya terasa hendak menghancurkan rusuk.

"Mama… Apa yang terjadi? Mama, jangan menangis, Yeonjoo mohon…"

Luhan mengabaikan kalimat yang berasal dari gadis yang memeluknya dari belakang itu, ia meremas tangan yang melingkari dadanya dengan erat.

"Yeonjoo-ya… Apa yang harus aku katakan nanti? Bagaimana aku harus bersikap? Bagaimana aku harus menjelaskan pada adik-adikmu nanti?"

"Mama…"

Luhan tak tahu Yeonjoo menatapnya dengan tatapan terluka dan khawatir yang begitu jelas, ia hanya tahu ia harus menangis, ia tak sanggup menahan semua hal menyakitkan ini.

Di luar, Chenle berusaha keras menahan Sehun yang terlihat begitu panik hendak menghampiri istrinya yang tengah menangis kesakitan di dalam sana.

"Hyung kumohon tenanglah! Biarkan Luhan Jie bersama Yeonjoo terlebih dulu! Sebenarnya apa yang terjadi?!" Chenle nyaris memukul kakak iparnya tersebut sampai kemudian Sehun terdiam sendiri saat mendengar isak kecil dari putri kecilnya yang ketakutan.

Sehun berjalan mendekat dan betapa tersakitinya ia saat Yujie berjalan mundur dan bersembunyi dibalik kakaknya yang masih menatapnya dengan tatapan shock.

"Yujie… Daddy minta maaf membuat Yujie takut, heum? Kemarilah, Daddy akan memeluk Yujie." Yujie masih berlinang dan sedikit ketakutan, namun akhirnya menyambut rentangan lengan sang Ayah dan memeluknya sangat erat.

"Daddy… Mengapa Mommy menangis? Apa Daddy mencium Mommy sembarangan dan membuat Mommy marah?"

Ucapan itu begitu polos, namun cukup untuk menyakiti hatinya dengan sangat baik.

Daddy bahkan menghancurkan Mommymu, Sayang…

"Daddy, apa yang terjadi?" Pertanyaan itu tak mampu Sehun jawab, ia hanya meraih anak lelakinya ke dalam pelukan dengan hati terus mengucapkan permintaan maaf.

Baru sepersekian detik Sehun melepaskan pelukan pada kedua buah hatinya saat pintu utama tiba-tiba terbuka dan ia merasakan bahunya ditarik kasar dan ia mendapat tatapan membunuh. Baekhyun yang datang dengan segala amarah dan Chanyeol yang tak bisa melakukan apapun di belakangnya; sahabatnya itu meminta maaf dalam diam karena tak bisa menahan istrinya.

"Chanyeol, bawa pergi Yujie dan Haowen." Chanyeol langsung menuruti kalimat Baekhyun dan menggendong anak sahabatnya itu keluar rumah dengan Chenle yang mengikuti, ia tahu ia tak bisa ikut campur sama sekali.

Begitu pintu tertutup Baekhyun langsung melayangkan pukulan hingga membuat sudut bibir Sehun sobek dan berdarah. Kerahnya dicengkeram erat, namun Sehun hanya bisa menatap nanar.

"Katakan semua berita sialan itu hanya bualan!"

Sehun terdiam dan Baekhyun mulai mengalirkan air mata dengan mata memerah menahan amarah.

"Apa yang kau lakukan pada Luhan?! Apa yang tidak kau dapatkan dari Luhan sehingga kau menghamili wanita lain?! Dan kenapa harus wanita jalang itu?!"

Sehun menatap Baekhyun memohon. "Kumohon masuklah ke kamar kami, tolong tenangkan Luhan. Dia tak akan mendengarkan siapapun selain dirimu sekarang."

Baekhyun menggertakkan giginya marah sebelum melepas cengkeramannya dan berjalan cepat menuju koridor, meninggalkan Sehun yang jatuh terduduk lemas.

Baekhyun hanya berniat melihat perkembangan bisnis suaminya di portal berita elektronik beberapa saat lalu, namun tiba-tiba ia melihat berita dengan judul berisikan Sehun, skandal, dan foto wanita yang kabur yang ia yakini sebagai Tsuruko, wanita Jepang sialan yang sejak dulu tak pernah ia sukai. Tanpa pikir panjang ia langsung menyeret suaminya menuju kediaman sahabatnya itu karena ia yakin, Luhan pasti sudah mengetahui berita ini.

Dan ketika ia membuka pintu kamar, ia sesak melihat Luhan menangis kesakitan dengan Yeonjoo yang setia memeluknya dan menenangkan, mencoba mengambil kendali agar Luhan tidak berbuat nekat.

"Luhan…"

Luhan menoleh pelan dan Baekhyun merasakan dadanya tertusuk. Ia tak pernah melihat Luhan seterpuruk ini.

"Kemari, menangislah…" Hanya sepatah kalimat dan Baekhyun yang menggantikan Yeonjoo memeluk Luhan, membuat tangisan itu makin keras.

"Ap-apa yang harus aku lakukan? Apa yang h-harus aku katakan pada Yujie dan Haowen nanti? Bagaimana aku harus bersikap? Aku benar-benar ingin membunuhnya… Baekhyunna, aku harus bagaimana? A-aku… Bagaimana… Aku…"

Luhan terus saja memukuli dadanya yang kesulitan bernafas sementara Baekhyun hanya mampu memeluk tanpa banyak bicara. Ia tak bisa mengatakan kalimat penenang apapun, yang ia tahu Luhan hanya harus menangis sebelum akhirnya menyembunyikan lukanya dan menyelesaikan semua ini.

"Menangislah…"

Yeonjoo hanya terpaku melihat itu, semakin ia melihat hatinya semakin sesak dan ia memutuskan untuk pergi. Yeonjoo baru saja mengusap air matanya ketika ia melihat Sehun terpuruk di lantai dengan sangat kacau dan menyedihkan. Ia berjalan mendekat dan bersimpuh di depan Sehun.

"Papa, jangan menangis… Jika Papa menangis bagaimana menenangkan Mama nanti, heum?" Ia tahu suaranya serak dan terdengar sangat jelek, tapi ia hanya memeluk lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayah keduanya itu dengan erat. Ikut membagi perasaan sakit yang belum ia ketahui apa penyebabnya.

.

Larut tengah malam, kondisi kamar gelap tanpa sepercik cahaya selain pendar bulan yang melewati jendela besar yang tirainya memang sengaja tak ditutup, dan dua orang manusia yang telah menghabiskan persediaan air matanya hingga kering dan nyaris berganti dengan tetesan darah duduk di tepi ranjang dengan sang Wanita yang memunggungi suaminya yang tampak ragu untuk merengkuh.

"Luhan…"

"Katakan," Suara itu begitu dingin dan batin Sehun berteriak pilu, tak mengenal siapa yang memunggunginya ini. "apa kau meniduri wanita itu?"

Senyap sesaat terasa mencekik.

"Aku … tidak tahu."

"Katakan apa yang terjadi."

Sehun bergerak merengkuh punggung tegak yang sekarang terlihat begitu rapuh itu dengan perlahan, semakin mengerat, membuat Sehun sesak karena Luhan tak merespon. Ia menumpukan wajahnya ke bahu sempit itu seraya mulai membuka pengakuan dosa.

"Hari keempat, hari terakhir saat aku seharusnya sudah pulang keesokan paginya. Aku dan kolegaku pergi ke bar dan menikmati minuman di sana. Aku melarang Hyunsik ikut karena aku tahu ia masih memiliki pekerjaan. Semua baik-baik saja sampai aku mulai terlarut; aku tak tahu mengapa toleransi alkoholku seakan menurun. Aku lupa semuanya, dan saat aku terbangun, aku terbangun dalam kondisi—"

"Lupa semuanya?" Sehun tak tahu, Luhan memotong kalimatnya karena tak sanggup mendengar fakta yang mungkin akan lebih menghancurkannya, "hal yang terakhir kau ingat sebelum kau melupakan semuanya?"

Tetesan air hangat jatuh ke lengan Sehun yang masih melingkar erat dan Sehun mulai merasakan matanya kembali basah. Ia mengingat Tsuruko memang dalam jangkauan pandangnya yang teramat dekat.

"Sayang, maafkan aku…"

Isakan tertahan masuk ke indra pendengarannya dan Sehun mengutuk dirinya sampai neraka terbawah. "Mengapa kau tak mengatakannya padaku? Mengapa kau diam? Mengapa kau—"

"Lantas bagaimana caraku memberitahumu tanpa membuatmu terluka?"

"Dan kau pikir sekarang aku tidak terluka?" Luhan membalik tubuhnya dan tangannya mulai memukul dada suaminya dengan keras, berkali-kali hingga membuat Sehun terdorong ke belakang. "Aku hancur, Sehun… Bagaimana kau pikir perasaanku sekarang, huh? Aku ingin membunuhmu, aku benar-benar ingin membunuhmu… K-kau…"

Luhan kembali menangis, kali ini tanpa suara dan Sehun masih terus berusaha memeluk istrinya. "Maafkan aku, Sayang… Maafkan aku…"

"Hambar… Semuanya hambar…" Serak dan menyedihkan.

Sehun kehilangan kalimat; permintaan maaf tak akan ada gunanya sekarang.

.

.

.

Semuanya menjadi kacau, media mulai berspekulasi dan memburu anggota keluarganya seperti piranha kelaparan. Tak ada sedikitpun ketenangan dan Luhan benar-benar marah mendapati Sehun masih saja duduk diam tak melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah ini; mengabaikan panggilan berulang Tsuruko yang membuat batin Luhan teriris. Luhan tahu benar Sehun juga sama terpukulnya, sama tersakitinya, dan rasa bersalah memukul dadanya dengan teramat baik; Luhan tak buta, mereka sudah bersama selama nyaris satu dekade. Luhan tahu Sehun membutuhkan kata maaf darinya, namun bagaimana Luhan harus mengucapkan kalimat itu saat hatinya sendiri masih bergolak dan pikirannya penuh dengan pikiran jahat? Semuanya hanya akan melebur menjadi isak tangis tanpa suara saat malam hari Sehun memeluknya dan membisikkan kata maaf.

Saat ini, Sehun kembali berulah, lelaki itu membatalkan semua janji pertemuan kerjasama dan rapat direksi, Luhan tahu Hyunsik tak bisa menolaknya melihat seberapa kacau wajah sang Atasan; ia tahu dan ia tak tega, tapi ini bukan saatnya berdiam diri dan meratap.

Pintu terbuka kasar, Luhan berjalan menghentak dengan segenap kemarahan di puncak kepalanya dan nafas memburu. Ia menghampiri suaminya yang kini menatapnya nanar, bekas memar pukulan tangan ayah mertuanya masih menghiasi wajah lelah itu

"Kau pikir menjadi seorang pemilik perusahaan membuatmu bebas melakukan apapun semaumu?"

"Luhan…" Tidak, Luhan tak mau mendengarkan.

"Apa yang kau pikirkan?! Apa kau tak juga mengerti ada nyaris dua juta jiwa yang menggantungkan hidupnya pada perusahaanmu ini?! Seenakmu membatalkan semuanya disaat saham jatuh anjlok?!" Luhan terengah marah sementara Sehun masih bergeming.

"Apakah semua yang aku miliki menjadi berarti saat istriku sendiri menangis saat aku peluk?" Luhan mendapatkan selapis air bening di pelupuk matanya. Sehun kehilangan pegangan tanpa dirinya. Ia sadar, ia harus meleburkan egonya sebelum semuanya menjadi lebih berantakan.

Luhan mendekat dan duduk di pangkuan Sehun, membuat Sehun sedikit terkejut sebelum merengkuh istrinya, ini kali pertama Luhan mau menyentuhnya terlebih dulu setelah berhari-hari Luhan menghindarinya. "Sehunna… Aku mohon, maafkan aku…" Isakan itu memilukan dan Luhan masih belum memaafkannya. Jangan minta maaf, Sayang… Harusnya aku yang memohon padamu…

"Luhan, aku mohon, berjanjilah tidak akan meninggalkanku, apapun yang terjadi. Aku … lakukan apapun padaku, asal kau jangan menjauh dan meninggalkan aku…" Egois memang, namun apa yang bisa ia lakukan dengan benar tanpa Luhan?

Mereka berdua hanya butuh memperbaiki kepercayaan di antara keduanya yang retak sejak beberapa hari lalu. Dan pelukan intim itu membantu memberikan perekat pada retakan yang mulai membesar, mengusahakannya agar tak retak lebih parah.

"Aku istrimu, janji yang aku ucapkan akan aku tepati seumur hidupku," Sehun tertohok, "dan sekarang, jangan lagi menghindar, abaikan aku yang terluka saat melihatnya, kau harus menyelesaikan ini semua…" Luhan melepas pelukannya dan memberikan ciuman pada Sehun, Sehun membalasnya penuh emosi dan mulai lepas kendali kalau saja Luhan tak mendorong dadanya pelan.

Senyum yang terlihat sendu terulas di bibir merah Luhan, "Aku akan pergi menjemput anak-anak dan mengantarkan mereka ke kakek, mereka harus jauh dari masalah ini. Berjanjilah kau tak akan membiarkan mereka tahu ini semua."

Tatapan berharap ia terima dan Sehun mengangguk yakin. Luhan memberikan ciuman sekali lagi dan setelah itu Luhan pergi, meninggalkan Sehun yang meraih ponselnya dan menatap kontak Tsuruko.

Luhan tak pernah suka dengan supir, bodyguard, atau sejenisnya; tapi ia tahu ia tak bisa egois, ia tahu dirinya sendiri tak cukup untuk melindungi kedua buah hatinya jika sudah berhadapan dengan para wartawan. Luhan meminta Chanyeol untuk mengantar Haowen ke kindergarten Yujie selepas sekolahnya usai dengan hati-hati, hanya mempersingkat waktu kedua buah hatinya berhadapan dengan wartawan yang Luhan benci sampai ubun-ubun.

Saat Luhan keluar dari mobilnya, blitz terciprat dan membuat matanya perih, namun ia tak mempedulikannya. Batinnya mengumpat; apakah tak ada pekerjaan lain selain meliput berita murahan macam ini?

"Apa yang akan Anda lakukan dengan kejadian ini, Nyonya Lu Han?"

"Apakah Anda akan bertahan di tengah prahara ini?"

"Apa benar Anda dan Nona Tsuruko adalah sahabat dekat saat muda dulu?"

"Bagaimana tanggapan kedua anak Anda?"

Luhan berusaha menulikan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang berdatangan tanpa jeda dan nyaris tiap hari diucapkan. Luhan menemukan Haowen dan Yujie menatapnya ragu saat ia datang, Luhan bersimpuh kecil demi mengelus puncak kepala kedua buah hatinya. Luhan memberikan senyum terimakasih pada wanita seumurannya yang berdiri dibelakang mereka, guru Yujie yang ia percaya.

"Mommy, apa akan seperti kemarin? Yujie harus diam saat orang-orang bertanya?" Yujie berucap polos dan Luhan mengangguk dengan senyuman.

"Tentu, pakai mantel Yujie sampai kepala dan peluk Mommy dengan erat, dan jangan dengarkan apapun selain kata-kata Mommy karena kalau tidak Yujie akan terjatuh seperti Olaf, oke?" Yujie tersenyum lucu mendengar karakter kesukaannya disebut dan gadis kecil itu menuruti kalimat Ibunya, menutupi kepalanya dengan tudung mantel dan memeluk sang Ibu saat ia digendong.

"Haowen?" Luhan menatap anaknya dan Haowen langsung memasang headphone dan menekan tombol yang ada di pemutar musiknya. Sorot mata putra sulungnya itu seakan mengatakan kalau ia sudah siap, Luhan terkekeh kecil, sedikit miris melihat kenyataan bagaimana kedua buah hatinya harus ia paksa melakukan hal ini.

"Terimakasih telah menjaga mereka saat saya belum datang, Sihyeon-ssi." Luhan membungkukkan badannya sekilas dan wanita itu melakukan hal yang sama.

"Saya senang bisa melakukannya untuk Anda, Nyonya Lu Han."

Luhan melangkahkan kakinya bersama dengan Haowen yang ia genggam erat di sisi tubuhnya. Pada pengawal menjaganya dengan seorang berbadan paling besar berdiri di depan mereka.

Saat keluar, blitz kembali menerpa. Pengawal yang berjalan paling depan menekan tombol di alat khususnya dan sepersekian detik seluruh blitz mati, seperti hari-hari sebelumnya. Setidaknya sekalipun pertanyaan-pertanyaan menjengkelkan masih belum berhenti karena tak ada alat yang bisa membungkam mulut-mulut sialan itu, kedua buah hatinya sedikit lebih tenang, pelukan erat di lehernya dan genggaman kaku di tangannya membuktikan kedua buah hatinya gelisah dengan keadaan ini.

Mobil itu melaju dengan kecepatan penuh; membuat kumpulan orang itu mengumpat karena tak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

"Mommy, apa kita akan ke rumah kakek besar sekarang?" Luhan terkekeh kecil mendengar panggilan yang disematkan Haowen pada kakek buyutnya. Luhan mengangguk kecil dan memberikan kecupan pada putra kesayangannya itu.

"Ya, kita akan kesana karena kakek sangat merindukan kita dan, jangan memanggil dengan kakek besar atau Hao akan digelitiki nanti, oke?" Haowen tersenyum kecil dan memeluk ibunya, sama seperti Yujie yang sedari tadi tak sedetikpun melepaskan pelukan.

Mobil itu berhenti tepat di halaman rumah besar yang kental dengan gaya amerika yang megah. Kepala Pelayan Kang sudah menyambutnya di depan pintu dengan beberapa maid berdiri berjajar. Luhan membungkukkan badannya yang dibalas sangat sopan oleh orang kepercayaan Tuan Oh itu.

"Tuan Besar sudah menunggu Anda di ruang kerjanya, tolong berikan mantel Anda dan mantel Tuan dan Nona Muda kepada kami." Kepala Pelayan Kang memberikan sedikit nada jenaka pada kalimat terakhirnya dan Luhan tersenyum geli.

"Berikan mantel dan tas kalian, Hao, Yujie. Dan paman, hentikan formalitas menggelikan itu." Luhan memeluk lelaki paruh baya itu dan membisikan kalimat terimakasih.

"Terimakasih, Paman, aku tahu kau yang melakukan semua itu." Ya, memblokir segala berita menyakitkan yang masih belum bisa dihapus bagian IT perusahaannya. Kepala Pelayan Kang memberikan usapan menenangkan pada punggung Luhan.

"Apapun akan aku lakukan untuk keluarga ini, Luhan. Masuklah, sebelum Tuan Oh memanggilmu."

"Uncle! Yujie ingin makan siang dengan salad salmon dan buatkan spageti untuk Hao Oppa, oke? Ah, jangan lupa dengan es krim vanila dan coklat. Kakeeeeek… Yujie sudah dataaaang…" Yujie berlari ceria dikuti Haowen yang berjalan dengan tenang, mengabaikan para maid yang tergopoh-gopoh mengikuti langkah cepat kaki kecil Yujie.

"Aku akan membuatkan makan siang untuk kalian."

Luhan mengangguk dan berjalan menuju satu-satunya ruang kerja di rumah besar itu. Melewati banyak pintu yang memiliki ruang kosong di baliknya dan membuat Luhan tersenyum tipis, ia pernah bermain petak umpet dengan Yujie dan Haowen saat mereka masih kecil; kenapa Luhan sangat merindukan masa-masa itu?

Luhan mendorong pintu berukir indah yang sedikit terbuka itu dan menemukan Yujie tengah bercanda di pangkuan kakek buyutnya dan Haowen yang menemani di sampingnya.

"Nah! Itu Mommy!" Yujie menunjuknya sangat semangat sementara Luhan membungkukkan badannya sopan kepada Tuan Oh. Lelaki senja itu masih terlihat segar di usianya yang sudah menyentuh renta, senyumannya sangat teduh sampai membuat mata Luhan membasah tiba-tiba. Luhan tahu, tatapan itu tak ubah keinginan untuk memeluknya dan memberikan usapan menenangkan pada punggungnya.

"Haowen, bawa adikmu menemui Paman Kang dan pastikan Yujie yang manis ini tidak mengacau dapur." Bagi Haowen itu adalah titah yang harus segera ia lakukan, ia bukan anak kecil yang tak tahu kakeknya hendak membicarakan sesuatu yang penting dengan Ibunya. Jadi ia menuntun Yujie untuk pergi bersamanya walau adiknya itu terlihat bingung.

"Mommy nanti harus makan siang bersama Yujie, ya?"

Luhan mengangguk dan memberikan senyumannya.

"Kemarilah, Luhan."

Luhan mengikuti Tuan Oh untuk duduk di sofa berwarna broken white itu, dua orang berbeda gender dan generasi itu duduk berhadapan. Tuan Oh menatapnya intens sementara Luhan menundukkan wajahnya.

"Kudengar Jihoon memukul suamimu tanpa kendali setelah berita itu muncul." Luhan hanya mengangguk pelan.

"Ya, Kakek."

"Lantas bagaimana dengan besanku di Beijing sana?" Luhan tersenyum kecil.

"Baba sangat khawatir, beliau tak menyebut nama Sehun sama sekali, tapi aku tahu, Baba mungkin ingin memukul Sehun lebih dari yang Ayah lakukan." Kata Luhan.

"Aku bahkan ingin membunuhnya, Luhan. Tapi sayangnya Haowen dan Yujie masih memerlukan seorang ayah. Bagaimana dengan wanita itu?"

"Anjou Tsuruko, dia … terus menelfon dan menghubungi Sehun tapi Sehun masih bergeming. Dia …" Luhan tak melanjutkan kalimatnya, ia yakin Tuan Oh sudah mengerti, mungkin lelaki senja itu hanya ingin mendengar darinya secara langsung.

"Sehun akan terus diam jika kau mendiamkannya." Luhan tertohok dan setetes cairan lolos dari pelupuk matanya.

"Kakek, aku…"

"Aku tidak memintamu untuk memaafkannya, Luhan. Tapi dia tetap akan tumbang saat pendukungnya pergi, kau mengerti maksudku?"

Air mata mengalir lebih deras dan disertai dengan anggukan dan usapan kecil untuk menghapusnya. Tuan Oh mengambil sebuah map dari dalam laci meja dan menyodorkannya kepada Luhan, Luhan menerimanya dengan tatapan bertanya.

"Masalah semacam ini lumrah dalam dunia bisnis dan kau harus tahu, tak ada yang murni kecelakaan dalam dunia yang kotor ini." Luhan tertegun, "Hubungi orang yang aku cantumkan di dalam map itu, dia akan melakukan apapun." Luhan membuka map itu dan matanya sedikit membulat melihat foto seorang lelaki dewasa dengan raut wajah dingin dan sedikit menyeramkan. Luhan membaca profilnya dan terbelalak mendapati trackrecord lelaki bernama Lee Yoon Sung itu pernah mengecap penjara dan sederet kriminal.

"Dia memang terlihat brengsek dan berbahaya, tapi dia akan menurut pada Pak Tua ini." Suara serak itu terdengar sedikit jenaka dan Luhan tersenyum amat tipis.

"Aku tidak menyangka Kakek memiliki teman masa muda seperti Tuan Lee ini." Katanya. Tuan Oh tertawa kecil.

"Kau harus tahu aku pernah masuk ke dunia macam itu, bisa dibilang dia bawahanku dulu."

Atmosfer tiba-tiba berubah, dan membuat Luhan sontak menatap Tuan Oh yang memandangnya dengan tatapan serius.

"Berikan itu pada Sehun, biarkan dia menebus kesalahannya dan kau hanya harus fokus melindungi kedua cucuku. Biarkan suamimu melakukan semuanya untukmu."

Luhan mengangguk pasti dan memasukkan map itu kedalam tasnya.

Pintu diketuk sopan dan Kepala Pelayan Kang masuk dengan senyum tipis.

"Tuan Muda Haowen dan Nona Muda Yujie sudah menunggu di bawah."

.

.

.

Tsuruko, wanita itu datang berkunjung ke gedung perusahaan beberapa hari lalu dengan penyamaran. Duduk berseberangan jauh dengan Sehun bersama Hyunsik yang menjadi perantara pertemuan itu; Luhan berdalih ingin mengurus beberapa bagian, tapi Sehun tahu istrinya itu tengah terdiam di ruang pribadi mereka dengan hati bergolak. Sama sekali tak ada unsur kekeluargaan; kau pikir Sehun semudah itu percaya? Mata wanita itu basah dan hendak menangis saat Sehun lagi-lagi menanyakan kebenaran atas janin yang ia kandung.

"Apa yang bisa menjadi bukti kalau dia memang darahku?" Tak ada tatapan hangat kala Sehun menanyakan pertanyaan itu; pun begitu sepanjang pertemuan. Tsuruko kembali terisak kecil namun ia berusaha tegar.

"Haruskah aku menggugurkan ia dan melakukan tes DNA agar kau percaya?!"

"Lakukan kalau begitu."

"Sehun!"

"Tolong jaga ucapan Anda kepada Tuan kami, Nona Anjou."

Masih tak ada titik terang, Tsuruko pergi dengan meninggalkan pesan akan membawa pengacara untuk menuntutnya. Sehun hanya mendesah lelah, masih belum ada perkembangan dari orang yang diberikan oleh kakeknya itu. Dan Luhan, wanita itu masih tak nyaman saat ia peluk dan Sehun hanya bisa memaklumi; siapa wanita yang bisa tenang dengan kenyataan ini?

Kamar mereka mendingin, Luhan hanya berada di sana saat ia butuh tidur; selebihnya ia akan mengerjakan banyak hal—yang sebelumnya tak ia sentuh—demi menjauhinya. Kebanyakan di tengah malam saat Sehun bergerak memeluk istrinya, Sehun tahu Luhan terbangun, namun ia ingin egois dan memaksakan pelukannya hingga pagi menjelang dan Luhan hilang dari pandangannya. Saat Sehun menciumnya, Luhan hanya membalas pasif dan pasrah, membuat Sehun menyerah.

Kedua buah hatinya masih seperti biasa, hanya saja ia tidak yakin dengan apa yang Haowen ketahui; putra sulungnya itu tak seperti biasa dan tak menanggapi canda yang Chenle berikan padanya. Sehun tak ingin mencari tahu, ia takut dengan kenyataan yang mungkin terjadi. Katakan ia pengecut, namun ia tak bisa mendapati Haowen akan menjauh darinya seperti yang masih Luhan lakukan.

"Aku tak bisa menjemput Haowen dan Yujie nanti; bisakah aku minta tolong padamu untuk menjemput mereka? Aku sudah meminta Guru Yujie untuk mengantarkan Yujie ke sekolah Haowen. Antarkan saja ke rumah kakek seperti biasa, kau juga bisa membawa si Kembar kesana untuk bermain."

Sehun memandangi Luhan yang tengah menghubungi Chanyeol di sela-sela pekerjaan setumpuknya itu. Wanita itu terlihat pucat dan kelelahan mengurus banyak hal.

"Baiklah, terimakasih. Maaf aku menyusahkanmu."

"Luhan…"

"Apakah Tsuruko akan datang dengan pengacaranya hari ini?" Luhan mengalihkan pembicaraan yang bahkan belum ia mulai, Sehun tersenyum lemah.

"Ya, dia akan datang."

"Aku akan ikut."

Sehun mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap terkejut pada Luhan yang tengah melempar senyum tipis. "Aku tak bisa menghindar; bukankah aku harus menampakkan wajahku di depannya agar ia tahu aku baik-baik saja?" Luhan berbohong.

Beberapa jam setelahnya, Luhan berjalan beriringan dengan Sehun dan Hyunsik yang mengikuti di belakang mereka. Berjalan menuju ruang rapat khusus dengan hati berdebar resah. Begitu pintu terbuka dapat terlihat Tsuruko duduk di seberang terjauh bersama seorang lelaki berpakaian formal dengan setumpuk berkas. Wanita itu tampak terkejut melihat Luhan datang dengan ekspresi tak terbaca.

Pertemuan kaku yang mengikis habis oksigen untuk Luhan itu berjalan sangat lambat dalam perhitungan waktunya; kenapa sekarag satu menit terasa sangat lama? Ia sama sekali tak mengalihkan pandangan saat Tsuruko menatapnya, ia memasang wajah dingin, terpoles kaca tebal keras; meski sisa kelemahan tak bisa tertutupi dengan baik.

Luhan masih diam dan hanya mendengarkan pembicaraan sengit antara Hyunsik dan pengacara kolot dengan mata menjengkelkan itu; sampai pengacara itu menyodorkan laptop yang sudah siap memutarkan sebuah rekaman CCTV. Luhan menutup kelopak matanya ketika rekaman itu diputar.

Tangan Sehun meremas jemarinya erat dan ia membuka mata, mendapati suaminya memalingkan wajah dari rekaman itu dan membuatnya menoleh. Matanya basah, ia ingin menangis, ia ingin meraung, ia ingin melayangkan pukulan kepada suaminya.

Rekaman itu cukup menjadi bukti, ciuman penuh hasrat sepanjang lorong koridor dan dua manusia yang posisi fabriknya tak lagi benar membalut tubuh mereka. Luhan tak perlu mengulang, Luhan tak perlu melihat dengan mata terbuka lebar; hanya butuh waktu sedetik untuk mengenali bahwa punggung itu, siluet dan potongan rambut itu, kilasan wajah lelaki yang ada di rekaman itu, adalah milik lelaki yang kini genggaman eratnya ia tepis.

"Apa lagi yang harus aku lakukan agar Sehun mau mengakui anaknya?"

Ucapan itu menusuk, oksigen ditebas habis dan Luhan butuh untuk bernafas, apapun itu, gas beracun sekalipun, jangan hampa udara semacam ini.

Semuanya diam, Hyunsik tak bisa melakukan apapun dan dari tatapan yang diberikannya untuk Luhan, lelaki muda itu memohon ampun dan permintaan maaf. Luhan tersenyum tipis.

"Lantas apa yang kau inginkan, Nona Anjou?" Luhan membuka suara, untuk pertama kalinya.

Tsuruko tersentak, nampak ragu untuk menjawab. Mulutnya baru hendak melontarkan jawaban saat Luhan kembali berbicara.

"Tanggung jawab finansial sampai janinmu dewasa, tanggung jawab moral dan kasih sayang; aku tahu bukan itu yang kau inginkan." Luhan menjeda dan mata Tsuruko memancarkan luka, "Jika kau menginginkan Sehun menikahimu secara hormat, ingatlah masih ada aku yang akan membuat pernikahan yang ada dalam anganmu itu menjadi kotor."

Tak ada yang murni kecelakaan dalam dunia yang kotor ini. Luhan bangkit dan meninggalkan ruangan.

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan." Hyunsik mengangguk saat Sehun ikut bangkit dan meninggalkan ruangan itu, hendak mengejar istrinya yang pasti tengah menangis. Ia tak mempedulikan teriakan marah dari siapapun itu. Menemukan istrinya sekarang menjadi prioritas.

Tak perlu berlama-lama untuk mencari, istrinya bukan tipe wanita yang akan berlari mencari tempat persembunyian untuk menangis dan menumpahkan semua kesedihannya; Luhan lebih suka membiarkan air matanya mengalir tanpa suara di tempat yang berada dalam jangkauan Sehun. Sehun tersenyum tipis, Luhan tahu benar bagaimana menggunakan rasa bersalah untuk membalas dirinya.

"Luhan…"

"Kau tak perlu mengatakan apapun, semuanya belum mencapai titik terang dan tak ada yang bisa kau katakan. Diamlah." Ketus dan dingin, namun seulas senyum terbit di belah bibir pucat Sehun. Wanitanya duduk di sofa ruang santai dengan setumpuk berkas bercecer di atas meja. Sehun mengambil alih berkas yang Luhan pegang dan menyingkirkannya sembari berlutut dan meraih dagu lancip yang sudah basah itu. Ia mendapat atensi dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak ikut mengalirkan air mata.

Sehun sedikit menegakkan tubuhnya dan mencuri kecupan kecil.

"Tuan Lee belum memberikan informasi berarti, ia sedang terbang ke beberapa tempat untuk memperoleh informasi tentang Tsuruko. Ia ingin membicarakan beberapa hal denganmu; kau mau?"

Luhan menatap Sehun dengan tatapan bertanya.

"Apa?"

Sehun mengedikkan bahu. "Aku tak tahu." Luhan mengangguk.

"Aku tak ingin tahu apapun tentang ini," Sehun bisa melihat betapa terlukanya Luhan saat mata rusa itu mengeruh menyakitkan, "aku masih membencimu, aku masih ingin membunuhmu kalau saja aku tak mengingat Hao dan Yujie akan menanyakan di mana ayah brengseknya nanti, lukaku masih menganga; tapi aku masih ingin menjadi satu-satunya."

Sehun mengangkat wajahnya dengan tatapan nanar, hatinya menghangat saat mendengar masih ada keinginan Luhan untuk tetap bersamanya. Seharusnya ia tahu, Luhan bukan wanita yang akan melepaskan hak miliknya pada siapapun.

.

.

.

Luhan sungguh tak peduli sebanyak apapun tuntutan yang dilayangkan wanita itu terhadap suaminya. Ia pun sungguh tak peduli segala laporan yang beberapa kali ia terima bersama Sehun tentang wanita itu, tentang hasratnya ingin melayangkan tamparan dan pukulan pada wanita yang seharusnya menjadi sahabatnya meminum teh atau kopi di sela jadwal padatnya dan bertukar pikiran. Ia hanya ingin melindungi kedua buah hatinya dari semua berita yang bisa membuat keduanya hancur. Mereka masih sangat belia dan tak perlu mengetahui masalah pelik yang nyaris meluluhlantakkan bahtera yang melindungi mereka.

Dan menerima panggilan panik dari Baekhyun tentang Yujie yang menangis dan menyebut-nyebut tentang "Mengapa Yujie akan mempunyai adik? Mommy tak pernah bilang pada Yujie." Dan Haowen yang dikatakan sahabatnya terdiam dengan mata memerah menahan tangis; membuat Luhan kehilangan semua ketidakpeduliannya.

Luhan turun dari mobilnya dengan sorot mata membunuh, mendapati wanita yang ia cari tengah duduk menikmati secangkir cairan mengepul dari balik jendela kaca café semakin membuat amarahnya mendidih di atas kepala. Bagaimana lagi ia harus menggambarkan kemarahannya?

Pintu café terbuka dan ia siap mengeluarkan segala caci maki yang selama ini tertelan ke kerongkongannya.

"L-Luhan…"

"Apa kau masih tidak puas mengusik keluargaku?! Aku tak peduli dengan segala tuntutan yang kau ajukan, segala drama menjijikkan yang kau berikan ke hadapan mataku; tapi apa kau masih tidak sepuas itu hingga berani menemui kedua anakku?!"

.

TBC

.

Kenapa ini nggak oneshot? Karena saya pikir nggak akan ada yang mau baca oneshot nyaris 24k words. Maaf kalau ada yang kecewa. Resikonya feelnya hilang di tengah jalan. Kenapa saya memotongnya di situ? Karena itu pas ditengah-tengah, hehehe. Semoga ini cukup layak dibaca. Terimakasih!

Saya tidak pandai membangun konflik, jadi maaf kalau hanya selewat saja. :"D

Dan, jika ada pembaca Ficjadul saya di sini; Broken, saya minta maaf, mungkin Fic itu akan saya hiatuskan selama beberapa saat. Filenya hilang (tidak saya simpan di hard drive karena lebih sering mengerjakan di ponsel) dan membutuhkan banyak waktu untuk kembali menulis sampai selesai. Mohon pengertiannya. :")

Kelanjutannya Fic ini setelah editing selesai.

.

Anne, 2017-07-11