Title : I Did It For Love

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort

Cast : Park Chanyeol x Byun Baekhyun slight Oh Sehun x Xi Luhan and others

Rating : T (Yaoi / Genderswitch)

Length : Chaptered

A/N : Kalian boleh anggep FF ini dari sisi Yaoi (Mpreg) atau Genderswitch ya :)


Chapter 4

"Terima kasih telah meluangkan waktumu, Jongin-ssi. Aku harap kerja sama ini akan berjalan dengan baik dan saling menguntungkan." Junmyeon bangkit dari sofa kulit didalam ruangannya dan mengulurkan sebelah tangan kearah Jongin yang juga telah ikut berdiri dari kursinya.

"Tentu, senang bisa bekerja sama denganmu, Junmyeon-ssi." ucap Jongin sambil membalas uluran tangan Junmyeon untuk berjabat tangan.

"Untuk kedepannya kau bisa langsung menghubungi Baekhyun." Junmyeon menunjuk sosok Baekhyun yang juga ikut berdiri disampingnya. "Ia adalah orang yang kupercaya untuk bertanggung jawab dalam kerja sama ini."

Jongin menatap sosok Baekhyun yang juga menatapnya melalui sudut mata miliknya dan mengangukkan kepala sekali dengan perlahan, Jongin menahan tatapan mata Baekhyun, membuat Baekhyun menelan ludah dengan gugup dan berdiri tidak nyaman ditempatnya.

Jongin yang menyadari sikap Baekhyun yang canggung terhadapnya hanya tersenyum kecil lalu kembali merubah raut tegas wajahnya setelah menyadari bahwa masih ada Junmyeon didalam ruangan tersebut dan ia masih harus menjaga sikapnya.

"Tentu. Aku akan segera memproses kontrak kerja samanya dan akan segera menghubungi Baekhyun-ssi untuk segera ditindak lanjuti." ucap Jongin tegas dan profesional.

"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu kembali, Jongin-ssi." ucap Junmyeon sambil tersenyum ramah. "...dan Baekhyun ? Bisa kau mengantar tamu kita sampai ke lantai bawah ?" minta Junmyeon dengan sopan yang disertai angukan kecil dari Baekhyun.

"Tentu saja." Baekhyun melirik Jongin sekilas. "Mari ikut denganku Jongin-ssi." ia bergerak terlebih dulu untuk menuju pintu kaca diruangan Junmyeon dan membukanya lebih lebar untuk Jongin.

Jongin menoleh pada Junmyeon sekedar mengucapkan salam untuk pamit dan berjalan santai keluar dari ruangan Junmyeon diikuti oleh Baekhyun yang mengikuti dibelakang tubuhnya menuju pintu lift diujung koridor.

.

.

.

Baekhyun masih belum bisa mengontrol langkah kakinya dengan benar untuk berjalan menyusuri koridor, lututnya masih terasa lemah dengan perut yang seolah terisi penuh oleh kupu-kupu yang membuatnya mual, karena jujur saja Baekhyun masih merasa sangat tidak nyaman saat ini berada didekat Jongin.

Belum hilang keterkejutan Baekhyun akan pertemuanya kembali dengan sosok Jongin, pria yang ia temui dipernikahan Tao dan Kris beberapa waktu yang lalu, Baekhyun juga harus dihadapkan oleh kenyataan bahwa ia dan Jongin akan terlibat dalam suatu hubungan kerja sama dengan perusahaan masing-masing.

Dan pria itu masih terlihat sama seperti yang Baekhyun ingat terakhir kali, ia tinggi dan tampan untuk dilihat dari sudut manapun, kulitnya yang berwarna tan, sangat kontras dengan warna matanya yang kecoklatan dan rambutnya yang ia warnai sewarna kayu mahoni.

Dan seharusnya Baekhyun bisa bersikap profesional pada Jongin layaknya seorang partner kerja, tapi nyatanya Baekhyun justru tidak bisa mengontrol dirinya sendiri akibat dari pertemuan yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu diruangan Junmyeon.

Karena bayangkan saja, bagaimana ia bisa bersikap biasa saja sedangkan selama pertemuan tadi Jongin tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Baekhyun, entah apa yang ada didalam pikirannya. Bahkan saat Junmyeon berkali-kali menegur pria itu karena terlihat tidak fokus pada apa yang dibicarakan, Jongin masih saja tertangkap basah tengah mengawasi gerak gerik Baekhyun yang saat tadi duduk berhadapan dengannya.

Dan jujur saja selama pertemuan tadi Baekhyun merasa terintimidasi oleh tatapan Jongin, ia merasa dirinya terlalu didominasi padahal Jongin hanya menatapnya. Entah mengapa Baekhyun dapat merasakan perasaan aneh setiap kali kedua bola matanya ikut terkunci oleh mata coklat milik Jongin walau Baekhyun telah berusaha mencoba berkali-kali pula untuk melepaskan diri dari tatapan tersebut.

Tanpa sadar Baekhyun menggigit sudut bibirnya cemas dan menunduk menatap kedua tangannya yang yang saling bertautan, ia terlalu sibuk dengan pikirannya yang entah melayang kemana sehingga ia tidak menyadari kalau Jongin yang berjalan didepan telah menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba dan membuat Baekhyun menabrak tubuh Jongin tanpa sengaja dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh.

Untung saja dengan gerakan cepat Jongin meraih lengan Baekhyun lalu digenggam dan menariknya dengan erat sehingga tubuh Baekhyun tidak terjatuh kelantai melainkan jatuh pada dada bidang milik Jongin.

Baekhyun menarik nafasnya dalam-dalam karena masih terkejut, dan ia langsung disambut oleh aroma parfum maskulin pada kemeja Jongin yang saat ini berhadapan langsung dengan wajahnya.

"Kau baik-baik saja ? Maaf karena mengejutkanmu." bisik Jongin tepat samping wajah Baekhyun karena posisi mereka yang saat ini tanpa sengaja terlihat seperti tengah berpelukan.

Baekhyun terdiam beberapa saat, ia berusaha menjauhkan tubuhnya untuk menemukan bola mata Jongin yang menatapnya dengan cemas, hingga tanpa ia sadari perhatiannya telah tertuju pada bibir tebal Jongin yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya.

Baekhyun dapat merasakan tubuhnya seolah lumpuh untuk beberapa saat, ia dapat melihat mata coklat Jongin yang menatapnya dengan lembut. Baekhyun juga dapat merasakan nafas Jongin yang terasa lebih berat dari biasanya berhembus didepan wajahnya, sedangkan Baekhyun bahkan sudah berhenti bernafas sama sekali saat pikirannya melayang-layang tentang sebuah ciuman yang bisa ia dapatkan dalam jarak yang sedekat ini dari Jongin.

Jongin menarik nafas dalam dengan perlahan lalu terdengar suara deheman lembut dari bibirnya. "Aku rasa kita tidak seharusnya berada dilorong ini dengan posisi yang seperti ini, Byun Baekhyun." bisik Jongin.

Baekhyun mengerutkan keningnya dan akal sehatnya segera memproses kejadian yang sedang terjadi saat ini. Dengan wajah yang memerah dan mata yang membulat sempurna, Baekhyun mendorong tubuh Jongin dan melepaskan tubuhnya dari kungkungan tangan Jongin yang sedari tadi berada dipunggung dan pinggangnya.

Jongin meletakkan sebelah tangannya pada sisi wajah Baekhyun dan mengusapnya dengan perlahan dengan lembut. "Kita bisa melakukannya ditempat lain, tapi tidak disini. Aku rasa kau juga tidak ingin kalau salah satu dari rekan kerjamu melihat kita seperti tadi." suaranya terdengar hangat dengan sudut bibirnya yang ia tarik untuk tersenyum.

Wajah Baekhyun mendadak memerah oleh dua alasan, yang pertama karena kontak fisik yang baru saja mereka lakukan dan yang kedua karena ucapan Jongin setelahnya, Baekhyun dapat merasakan jantungnya yang seolah melonjak saat melihat raut wajah Jongin yang terlihat begitu santai saat mengucapkannya sementara hatinya ribut sendiri.

'apa-apaan ini, Byun Baekhyun bodoh !' lirih Baekhyun yang merutuki dirinya sendiri didalam hati.

Baekhyun berdehem kuat berusaha mengendalikan dirinya dan mencibir pada alam bawah sadarnya yang bertidak berlebihan dan berusaha merubah raut wajahnya untuk terlihat senormal mungkin.

"Ah, maafkan aku Jongin-ssi, aku tidak sengaja, Aku nyaris terjatuh tadi kalau kau tidak menyelamatkanku. Terima kasih telah meraihku sehingga aku tidak terjatuh." ucap Baekhyun beralasan, suaranya terdengar lirih karena gugup.

Jongin tersenyum kecil, seolah mengerti apa yang ingin disampaikan Baekhyun, tentang ketidak-sengajaan dan terima-kasihnya.

"Kau bisa memanggilku Jongin saja, aku tidak merasa keberatan untuk itu." ucap Jongin lembut tetapi dengan nada suara yang memerintah, khas seperti seorang dominan.

Baekhyun menolak kontak mata dengan Jongin karena ia merasa tidak seharusnya ia lama-lama seperti ini. Ia harus segera mengembalikan akal sehatnya karena yang benar saja, saat ini ia masih berada dikantor dan ada banyak pasang mata yang akan melihat dan mengawasi dirinya kapan saja. Ia tidak ingin ada gosip macam-macam tentang dirinya yang berkhianat dari Chanyeol atau semacamnya.

"Kau ingin meminum secangkit kopi bersama ku, Baekhyun ?" suara berat Jongin menyadarkan Baekhyun secara perlahan dan mengembalikan dirinya.

"Ah maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan mejaku hari ini, ada banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan." ucap Baekhyun beralasan.

Sebenarnya ia tidak ingin mencari-cari alasan untuk menolak, itu bukan tipe sifatnya sama sekali tapi entah mengapa Baekhyun merasa ia belum bisa menghadapi Jongin dengan pikiran yang 'waras' saat ini karena ia masih belum bisa mengendalikan perasaan anehnya yang entah berupa apa itu wujudnya kepada Jongin.

"Baiklah, tidak masalah. Mungkin kita bisa pergi lain waktu." Jongin tersenyum lebar, menyilaukan dengan gigi rapinya yang alami terlihat.

Jongin menekan tombol lift dengan jari telunjuknya dan beberapa detik kemudian pintu lift yang kosong terbuka dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam lift.

Jongin membalikkan tubuhnya. "Cukup sampai disini saja mengantarnya, Baekhyun. Kau tidak perlu mengantarku sampai ke lobi. Aku akan segera menghubungi nanti setelah kontrak kerja samanya telah selesai." ucap Jongin yang menghentikan langkah kaki Baekhyun yang ingin menyusul masuk kedalam lift.

Saat ini Jongin tengah menyadarkan tubuhnya pada dinding kaca lift dengan sebelah tangan yang berada disaku celana kainnya. Baekhyun mengakui bahwa Jongin terlihat sangat tampan saat ini, walaupun tatapan mata coklatnya yang menyala terang itu masih saja terasa agak menganggu untuknya.

"Tentu, silahkan hubungi aku saat kau telah menyelesaikannya, Jongin-ssi."

"Baekhyun.. " Jongin menggantung ucapannya dengan sebelah tangan yang ia gunakan untuk menahan pintu lift agar tidak tertutup. "Bukankah sudah ku katakan untuk berbicara yang nyaman saja denganku ? Dan kau bisa bilang ini adalah sebuah perintah bukan permintaan" ucapnya tegas.

'sikap dominan itu lagi' bisik Baekhyun didalam hati.

Baekhyun berusaha keras untuk tidak terlihat terintimidasi oleh tatapan Jongin kali ini dan ia rasa itu tidak berhasil karena ia justru tengah mengejapkan kelopak matanya yang berkedip cepat seirama dengan detak jantungnya yang kembali tidak karuan.

Jongin terlalu kuat untuk diabaikan, ia terlalu mengotrol dan menakutkan, atau mungkin memang itulah caranya untuk menunjukkan daya tariknya pada Baekhyun.

Tapi selama ini tidak pernah ada yang bisa mendominasi Baekhyun kecuali Chanyeol, kekasihnya. Dan apa yang terjadi kali ini benar-benar diluar pikirannya, ia merasa bodoh untuk beberapa saat.

Baekhyun menarik nafas dalam mencoba memulihkan apa yang masih tersisa dalam akal sehatnya sebelum menjawab. "Baiklah, Jongin."

"Bagus. Kalau begitu, sampai jumpa lagi Baekhyun." ucapnya tenang sebagai salam perpisahan.

"Tentu, sampai jumpa." jawab Baekhyun, dan pintu lift otomatis segera menutup, memutus kontak mata yang terjadi antara keduanya.


Baekhyun beranjak dari kursi meja kerjanya yang telah ia duduki berjam-jam lamanya, melemaskan otot-otot tangannya yang terasa kaku dengan mengangkatnya keatas setinggi mungkin. Punggungnya terasa pegal, matanya perih karena terlalu lama menatap layar komputer.

Ia baru menyelesaikan setengah dari pekerjaannya yang tertunda karena harus ikut pertemuan dengan Junmyeon untuk bertemu dengan perwakilan perusahaan iklan yang ternyata adalah Jongin, pria yang berbincang dengannya saat dipernikahan Tao beberapa waktu yang lalu. Mengingat-ingat kembali tentang Jongin yang ditemuinya hari ini, Baekhyun kembali dapat merasakan suhu tubuhnya yang mulai berubah menjadi hangat dengan kedua pipinya yang ikut merona merah, dengan cepat Baekhyun menepuk-nepuk pipinya agar kembali sadar dari segala macam pikiran aneh yang ada didalam kepalanya.

Baekhyun mengalihkan perhatiannya dengan menoleh kearah luar jendela dibelakang kursinya dan segera disambut oleh warna langit yang telah berubah merah keemasan karena senja sudah mulai menjelang.

Kantornya pun sudah mulai sepi karena jam kerja kantor sudah berakhir beberapa menit yang lalu, hanya ia dan beberapa anggota timnya saja yang masih sibuk berkutat pada pekerjaan masing-masing yang masih belum selesai.

Baekhyun sudah terbiasa bekerja lembur, dan itu bukanlah hal yang bisa ia hindari mengingat tanggung jawabnya dalam perusahaan bukanlah main-main.

Namun akhir-akhir ini dikantor, Baekhyun lebih sering menyibukkan diri dengan mengerjakan dan mengedit beberapa file wawancara atau draf artikel yang bahkan belum akan dipublish dalam waktu dekat karena masih banyak kekurangan untuk menyibukkan dirinya, kalau pekerjaannya habis ia juga bersedia turun tangan mengambil alih pekerjaan anggota timnya yang lain tanpa diminta hanya saat ia tidak tahu lagi apa yang akan dilakukannya hingga jam pulang kantor tiba.

Sebenarnya itu semua hanyalah kesengajaan yang ia buat seolah-olah sibuk agar ia mempunyai alasan untuk tidak ikut berkumpul dengan teman-temannya sehingga ia dapat menghindari segala macam pertanyaan tentang kehamilannya dari orang lain.

Bahkan sekarang Baekhyun mulai sengaja melewatkan waktu jam makan siangnya dikantor dengan alasan sibuk karena ia tidak ingin bertemu dengan rekan-rekan diperusahaannya yang pasti selalu akan menanyakan tentang rencananya tersebut setiap kali ada kesempatan.

Sebenarnya sah-sah saja kalau mereka bertanya, mengingat betapa bersemangatnya Baekhyun dulu saat menceritakan rencananya tersebut kepada mereka semua.

Dan dulu Baekhyun pun terbiasa menjawabnya dengan senyum manis diwajah dan mengamini setiap doa yang mereka berikan agar segera hamil tetapi makin lama Baekhyun mulai menyadari bahwa tidak semua yang bertanya padanya memiliki perasaan yang tulus, ia mulai merasa bahwa sebagian dari mereka sebenarnya hanya tengah menyindir Baekhyun dan menyalahkan dirinya yang tidak bisa mengandung dan membuang-buang waktu dengan rencananya tersebut.

Dan semakin hari Baekhyun mulai mengambil banyak pekerjaan sehingga ia mulai begitu sibuk dan sering lembur. Begitupula dengan hari ini, dua hari lagi edisi terbaru majalah yang dibuat perusahaanya akan segera rilis dan Baekhyun tidak ingin meninggalkan sedikitpun kesalahan pada majalah tersebut. Ia memutuskan untuk mengambil waktu lembur hari ini.

Tapi mengingat hari ini ia juga melewatkan waktu jam makan siangnya, Baekhyun berencana untuk membuat segelas kopi di pantry untuk menemaninya ikut lembur.

"Jondae-ya, kau ingin segelas kopi ?" tanya Baekhyun sebelum benar-benar keluar dari ruangan pada sekertaris pribadinya yang terlihat masih sibuk berkutat dengan berlembar-lembar kertas diatas meja kerjanya.

"Kau ingin kopi ? Biar aku saja yang akan membuatkannya untukmu, kau duduk saja dimejamu." Jongdae bangkit dari kursinya dan ia tidak menyadari bahwa dipangkuannya juga masih ada tumpukan kertas lain sehingga saat ia berdiri dengan terburu, kertas-kertas itu jatuh berantakan dibawah mejanya.

"Aish, sialan !" makinya kesal.

"Seharusnya aku yang bilang padamu untuk duduk diam saja ditempatmu, Kim Jongdae." Baekhyun bergumam menatap prihatin karena sekertarisnya itu terlihat sangat kusut. "Aku juga akan membuatkan segelas kopi untukmu."

"Maafkan aku dan terima kasih kalau begitu." lirih Jongdae merasa bersalah dan dibalas senyum maklum dari Baekhyun.

Baekhyun keluar dari ruangannya, meluruskan kakinya yang masih terasa kaku sambil kembali merenggangkan otot-otot ditubuhnya dan berjalan menuju ujung lorong dimana ruang pantry karyawan berada.

"Kau sudah dengar gosip tentang ketua tim Byun dan pengacara Park ?" suara seorang wanita terdengar teredam di lorong koridor yang sepi menghentikan pergerakan tangan Baekhyun yang baru saja ingin membuka kenop pintu ruangan pantry.

Baekhyun menolehkan pandangannya kearah lain karena tidak terlalu yakin saat mendengar suara wanita yang samar-samar tersebut baru saja menyebutkan namanya dan Chanyeol, ia mulai menajamkan pendengarannya mencari asal suara teredam tersebut yang ternyata berasal dari balik pintu ruang pantry yang tertutup dihadapannya.

Ia melangkahkan kakinya perlahan-lahan membungkukkan tubuhnya berusaha tidak menimbulkan suara apapun dan semakin mendekat kearah depan pintu pantry.

"Ya, kasihan sekali dia. Sudah lewat satu tahun setelah ia mengatakan akan memiliki seorang anak pada semua orang, tapi lihat sampai saat ini, ia sepertinya telah berbicara omong kosong pada orang-orang." itu suara Jessica, Baekhyun mengenali suara anggota timnya itu didalam ruang pantry.

"Kau benar, aku bahkan benar-benar merasa canggung setiap kali berhadapan dengannya, ia terlihat sangat tertekan akhir-akhir ini. Sampai-sampai aku harus menahan mulutku untuk tidak bertanya padanya kapan ia akan mempunyai anak, karena ia terlihat sangat menyedihkan." sahut suara lainnya yang Baekhyun kenali sebagai suara milik Taeyeon, anggota timnya yang juga terdengar dibalik pintu.

"Jelas saja kita semua canggung, kan ? Semua orang diperusahaan ini pun tahu betapa semangatnya dulu saat ia menceritakan kalau ia akan mempunyai seorang anak dari seorang Park Chanyeol, pria yang dipuja-puja oleh orang-orang diperusahaan tap kau lihat.. kenyataannya sampai saat ini tidak ada hasilnya, lalu kita semua harus berpura-pura untuk tidak mengetahui kegagalannya itu dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menanyakan hal tersebut karena ia pasti akan marah-marah seharian pada semua orang kalau salah satu dari kita menyinggungnya. Ah, aku kasihan sekali dengan Chanyeol oppa, kenapa ia harus berhubungan dengan ketua tim Byun, aku jadi tidak bisa menyainginya, kalau saja ia berhubungan denganku aku akan siap memberikannya sepuluh anak saat ini juga."

Baekhyun berdiri terpaku ditempatnya saat ini yang hanya berjarak beberapa centi saja dari pintu pantry yang tertutup rapat dan ia bisa mendengar suara kedua orang yang tengah membicarakannya dari dalam dengan sangat jelas.

Baekhyun tahu tidak seharusnya ia menguping pembicaraan orang lain, tapi Baekhyun sama sekali tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mendengarkan karena mereka saat ini tengah membicarakannya, membicarakan dirinya dan Park Chanyeol kekasihnya.

"Ah, aku juga merasa sangat tidak nyaman berada dekat-dekat dengannya. Kau tahu setiap kali dia marah-marah aku justru merasa sangat kasihan padanya. Itu pasti karena ia sangat tertekan karena ingin punya anak, bukan ? Mungkin itu pula alasan kenapa ia dan Chanyeol tidak menikah hingga saat ini walaupun hubungan mereka telah lama, pasti karena Baekhyun tidak bisa memiliki anak."

Baekhyun meneguk air ludahnya dengan susah payah, tangannya gemetar sehingga ia harus saling menautkan keduanya untuk mencoba menenangkannya.

"Kau benar, awalnya aku juga terkejut dengan perubahan sikapnya saat ini, dulu dia adalah teman yang sangat baik, walaupun kita juga tidak bisa menghakiminya karena segala obsesinya itu yang ingin mempunyai anak. Ada baiknya ia menyerah saja kalau begitu untuk punya anak sendiri."

"Ya, dan kita juga sebisa mungkin tidak mengucilkannya diantara tim karena dia adalah ketuanya dan dia berhak untuk melakukan apapun sesukanya. Ah, kalau saja jabatanku lebih tinggi darinya, aku ingin sekali menegurnya sambil berkata kalau ia hanya membuang-buang waktu."

Suara kedua wanita tersebut terdengar semakin kencang karena tawa yang mereka keluarkan saling bersahutan satu sama lain dan setiap kata yang mereka ucapkan membuat Baekhyun semakin gemetar ditempatnya, ia tidak ingin salah mengerti tapi nyatanya ia tidak bisa mengatakan apa-apa karena memang ia merasa seolah tengah ditampar oleh sebuah kenyataan yang selalu saja ingin ditepisnya.

"Menurutku.. Ini hanya menurutku ya.." Taeyeon menghentikan tawanya. "Apa mungkin dia sampai tidak bisa hamil karena ia.. Kau tau.." Taeyeon terdengar ragu-ragu sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya dengan suara yang ia buat lebih pelan namun Baekhyun masih dapat mendengarnya.

"Ia mandul ?"

CKLEK!

BRAK!

Sesaat kemudian terdengar derak pintu yang terbuka lalu terbanting, berasal dari Jongdae yang sedari tadi berada dibalik punggung Baekhyun ikut mendengarkan percakapan kedua orang yang ada didalam pantry, namun Baekhyun tidak menyadarinya sama sekali.

"Ya kalian! Berhenti bicara omong kosong! Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kalian mengoceh dan berbicara yang tidak-tidak!" suara keras Jongdae terdengar menghentikan tawa kedua orang didalam pantry dan juga membuat Baekhyun terkejut.

Tanpa sengaja kedua matanya yang entah sejak kapan telah berair bertemu tatap dengan mata milik Taeyeon dan Jessica yang tidak kalah lebih terkejutnya dari dirinya.

"Ketua tim.." lirih Jessica dan Taeyeon bersamaan karena terlalu terkejut.

'sialan' maki Baekhyun dalam hati saat ia menyadari telah tertangkap basah oleh ketiga orang dihadapannya tengah menguping dan hampir saja menangis.

"Kau baik-baik saja ? Tolong jangan dengarkan mereka, mereka hanya berbicara omong kosong, kau tau itu."

Jongdae menatap Baekhyun dengan cemas, ia tidak tahu apa yang saat ini ada didalam pikiran Baekhyun karena raut wajahnya saat ini sangat sulit terbaca, sesekali ia juga memandang Taeyeon dan juga Jessica dengan perasaan kesal secara bergantian, menyalahkan keduanya yang masih saling pandang satu sama lain karena kebingungan.

Baekhyun berdiri canggung dihadapan Jongdae, juga Taeyeon dan Jessica yang saat ini tengah menatapnya. Jelas sekali ia juga tidak mengetahui bagaimana cara harus bersikap dihadapan ketiganya.

Baekhyun mulai berfikir seharusnya ia sudah membentak dan menghentikan Taeyeon dan Jessica beberapa waktu yang lalu bukannya hanya terdiam begitu saja dibalik pintu seperti pengecut dan mendengar semua yang mereka bicarakan tentangnya.

Baekhyun pikir setidaknya ia harus memberikan pembelaan untuk dirinya sendiri dan menjelaskan keadaan hubungannya dengan Chanyeol, tapi entah mengapa Baekhyun tidak bisa melakukan itu semua. Ia justru tidak dapat memikirkan hal lain untuk dikatakan atau dilakukan selain menatap lantai dibawah sepatu yang dikenakannya.

Baekhyun merasa keadaan diruangan itu semakin canggung karena ia tidak berkata apapun. Sedangkan Taeyeon dan Jessica terlihat kikuk dengan wajah penuh rasa bersalah yang ditujukan untuk Baekhyun, seolah tengah menunggu Baekhyun untuk memaki mereka atau menyalahkan apa yang telah mereka katakan.

"Kalian ingin.. sekaleng.. kopi dingin ?" ucap Baekhyun dengan terbata, hanya itu yang dapat ia ucapkan saat ini sambil tersenyum yang terlihat sangat dipaksakan menahan air mata yang nyaris terjatuh dari sudut matanya.

"Baekhyun-ssi.. Kami.. " Taeyeon berucap pelan dengan raut wajah yang sangat bersalah.

"Aku baru saja ingin membuat segelas kopi hangat, tapi setelah dipikir-pikir sepertinya kopi dingin dari mesin minuman otomatis lebih cocok untuk sore ini. Kalian ingin juga ?" ucap Baekhyun cepat memotong ucapan Taeyeon, ia tidak ingin terlihat menyedihkan bagaimanapun caranya, dan Baekhyun juga masih berusaha menjaga nada suaranya agar terdengar wajar.

Namun tidak satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Baekhyun.

"Aku akan membelikan beberapa untuk kalian. Kalian tunggu saja didalam ruangan." Baekhyun sadar ia tidak pandai dalam berakting, jadi mau bagaimanapun ia mengatakannya tetap saja ia tahu kalau ia terlihat sangat menyedihkan saat ini.

Baekhyun berjalan perlahan, lalu tanpa sadar mulai sedikit berlari agar cepat menjauh dari pantry. Setiap melangkah kakinya semakin bergetar hebat seolah mengatakan bahwa kedua kakinya pun tidak sanggup menyeimbangi langkah Baekhyun yang tergesa.

Tidak mau mengambil resiko akan terjatuh dilorong koridor dan mendapatkan perhatian dari rekan-rekan dikantornya yang masih berada dimeja masing-masing, Baekhyun segera mengarahkan kakinya untuk berbelok kearah pintu tangga darurat yang sepi, menutup pintu tersebut dan membiarkan tubuhnya jatuh terduduk begitu saja dengan bersandar pada pintu besi yang dingin dibelakang tubuhnya.

Baekhyun menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya yang ia tekuk, ia ingin sekali menangis, berteriak dan menjerit sekeras yang ia bisa. Tapi saat ini ia terlalu lelah hanya untuk sekedar melakukan itu semua, perasaannya telah sama kacaunya dengan penampilannya saat ini.

Ia tidak tahu harus berbuat apa, tangannya saat ini telah meremas surai kelamnya dengan kuat memaksa otaknya untuk berfikir jernih, sebelum akhirnya terlintas sebuah nama didalam pikirannya.

Baekhyun meraih ponsel didalam saku celananya, menekan tombol panggilan cepat nomer satu pada ponselnya dan menunggu nada tunggu dari seberang telepon.

Ia menghubungi Chanyeol, karena ia tahu yang ia butuhkan saat ini hanyalah Chanyeol. Ia ingin Chanyeol menemuinya agar ia bisa membagi rasa sedihnya pada kekasihnya itu, tapi ini sudah panggilan ketiga yang Baekhyun lakukan tapi Chanyeol tidak juga mengangkat teleponnya, hanya suara operator saja yang sedari tadi tedengar menyahut diantara sambungan telepon tersebut.

Baekhyun menyerah, mungkin Chanyeol terlalu sibuk, sehingga ia tidak bisa mengangkat telepon walau Baekhyun telah mencoba meneleponnya terus menerus.

Baekhyun kembali semakin menenggelamkan kepala dibalik lututnya, ia menangis dalam diam tidak ada suara isak tangis atau tarikan nafas lelah dari sosok yang meringkuk seorang diri dibalik pintu tangga darurat tersebut, yang ada hanyalah tetesan air mata yang menetes semakin banyak membasahi lantai keramik dibawah kaki miliknya.

Ia tidak menyalahkan siapa-siapa atas segala hal yang terjadi pada hidupnya saat ini. Tapi kalau terus menerus seperti ini Baekhyun tidak tahu harus bagaimana bersikap.

Ia tidak ingin menyalahkan Chanyeol.

Dan ia juga tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri.

Lantas siapa yang akan bertanggung jawab pada hidupnya yang kacau saat ini kalau tidak ada yang dapat ia salahkan.

- To Be Continued-


Let's be friend :)

Ask me for questions by PM or Line ID chococone53 /bye/