Chapter 4 – Next Stage

Yosuke dan Chie sudah kelelahan, tidak sanggup berdiri maupun bicara setelah 1 jam bertarung. Tapi tidak dengan Souji. Meski tenaganya juga terkuras, pemuda itu berjalan dengan mantaf ke arah 2 TG itu. 2 monster itu mengangkat pedang masing-masing, siap menghunuskannya ke Souji.

'Kalau dilihat-lihat, 2 monster ini hampir sama dengan Izanami-no-Okami. Bisakah aku mengalahkan mereka dengan 'skill' itu?' batin Souji bertanya. Lalu ia berpaling ke teman-temannya. Dilihatnya Yosuke dan Chie sudah sangat lelah. "Tidak ada pilihan lagi. Harus ku coba!" ujarnya.

Souji melepaskan kacamata yang menutupi mata abu-abunya. Ia berkonsentrasi dan keluarlah kartu tarot yang bercahaya dan dihancurkannya. Dengan begitu, ia men-summon Izanagi-no-Okami! Souji mengarahkan tangannya ke atas, ke arah 2 TG, dan berseru pelan…

* * * Rise's place…

TG mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi dan…

"Senpaaaaaaaai…!!" teriak Rise seantero Jepang.

---

Kanji: woooi! Lagi seru, nih!

Zero: jeda iklan, jeda iklan… (santai sambil nguap)

Chie: argh, author sialan! Cepetan donk…!

Zero: capee, nih… (sambil rebahan di kursi)

Investigation Team: ALL-OUT-ATTACK!! (ngeluarin senjata masing-masing)

Zero: iya, iya…!! (buru-buru ambil pen)

---

* * * Back to Souji…

"Myriad Truths…"

Dan SYUUUNG…! Izanagi-no-Okami memutar pedangnya, menghasilkan seberkas cahaya kebenaran, keadilan, keberanian. Cahaya itu bersinar dengan terangnya menembus segala yang ada. Membakar dan melenyapkan TG dengan mudahnya, tanpa halangan. Menyembuhkan dan membangkitkan yang rubuh. The Reaper juga donk? Enggak, Cuma Investigation Team doank!

* * *

…Sunyi…

Rise memegang kepalanya sambil menunduk, mata terpejam. 'Apakah aku sudah mati?' batinnya bertanya, heran karena di sekitarnya sangat tenang, akan tetapi tidak ada keberanian di dalam dirinya untuk membuka mata. Sebuah tangan besar menyapa pelan pundaknya.

"KYAAA…!!" ex-idol itu teriak sekencang-kencangnya.

"Rise-chan…" terdengar suara yang 'khas' menyebut namanya dengan lembut.

'Eh? Suara ini…seperti suara…' Rise menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya ia, bahwa… "Naoto-kun!" Rise langsung memeluk Naoto, "Ini bukan mimpi, kan??! Ya, kan??"

"Te-tentu saja bukan!" jawab Naoto sedikit terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu.

"Baguslah kalau begitu. Hiks…hiks…HUWAAAA…!" tangis Rise menggelegar di telinga Naoto.

Naoto hanya tersenyum. Teddie juga ikutan nangis. Kanji cemberut, Naoto-nya dipeluk-peluk, tapi dalam hatinya ia senang dan terharu.

Kita balik ke Souji dkk…! Eh iya, tangan besar yang megang Rise kalian tahu, kan?? Tu tangan Kanjiiiiiii…!

* * *

Tempat itu bebas dari The Reaper dan The Guardian. Tapi kabut mulai menutupi tempat Souji dkk berada. Yosu dan Chie yang sudah bisa berdiri, berlari ke tempat Souji, di mana pemuda itu berdiri diam setelah mengalahkan TG.

"Kau berhasil, Sou-kun! Kau hebat!" puji Chie. Tapi Souji hanya diam tidak menanggapi pujian Chie, tidak menatap teman-temannya, berdiri diam, kaku, bagai orang mati. What?! Mati?!

"Ya, kau menyelamatkan kami, partner! Kau memang leader kami yang hebat! Hahaha…!" seru Yosuke seraya menepuk pundak leader-nya, dan… BRUK! Souji ambruk! Pingsan?! Mati?!

"He-hey! Souji!"

"Souji-kun, kau tak apa-apa?! Souji-kun!"

* * *

BRUM…BRUM…BRUM… (anggap aja kayak gitu suaranya… -.-!)

Souji mulai membuka matanya pelan-pelan, 'Eh? Apa yang terjadi?' Duduk sambil memegangi kepalanya yang berdenyut, batinnya 'Oh ya, tadi aku berhasil mengalahkan 2 TG itu…'. Sesaat matanya yang abu-abu terbelalak melihat kejanggalan di hadapannya, "Ini…di mana? Di mana yang lain?". Ia melihat sekeliling lagi, tempat di mana ia pingsan. Tempatnya sempit. Seperti ruangan. Warna biru. Di sampingnya ada rak yang berisi guci (mungkin). Di depannya ada sofa (yang mungkin empuk) dan meja. Tapi yang lebih aneh lagi, ruangan itu berjalan! Souji menghadap ke belakang. Ia memicingkan matanya, ingin melihat lebih jelas apa ruangan itu. Dan baru ia sadari kalau ruangan itu ialah…

"Welcome to Velvet Room." Sebuah suara yang parau mengagetkan pemuda berambut abu-abu itu. Spontan Souji berpaling ke sumber suara di belakangnya. Dan dilihatnya seorang kakek tua berhidung panjang ditemani seorang wanita cantik.

"Igor… Margaret…" ujar Souji pelan.

"It's been a long time, my son." Sapa kakek hidung panjang itu yang PM (Persona Maniac) kenal sebagai Igor.

Ruangan itu, yang PM tahu sebagai mobil biru yang dikendarai Igor dan asistennya, Margaret, tetap melaju. Entah ke mana tujuannya. Masih seperti dulu, tidak ada yang berubah dari Velvet Room beserta isinya. Igor tetap tua, masih menggunakan tongkat, hidungnya tetap mancung (?) seperti sediakala. Dan tidak lupa akan asistennya yang cantik, Margaret, tidak tampak tua, tetap cantik seperti pertama kali Souji bertemu. Tapi, apa gerangan Igor memanggil Souji ke sini?

"Anakku…" kata Igor memulai percakapan, "…aku memanggilmu ke sini, karena ada hal yang ingin aku sampaikan." Lalu lanjutnya, "Aku tahu kau ingin menyelamatkan temanmu, tapi hati-hatilah, lawanmu tangguh."

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku-"

"Hohoho…! Aku tahu semuanya," ujar Igor memotong kalimat Souji. Igor melanjutkan ucapannya, "Dan ingat 1 hal: believe in your heart and strength, don't let the despair controlling you. Friends's belief is your strength too. So, if you have that belief, you can find the truth for sure. Ingat itu baik-baik."

"Eh?"

"Till we meet again…" ucap Igor sambil melambaikan tangan. Di saat yang sama, mata Souji kunang-kunang, kabur…

* * *

"…pai…"

"Sen…" "…pai…"

"Senpai…"

'Eh? Ini… Suara ini… Rise…' batin Souji seraya membuka matanya. Samar-samar ia lihat teman-temannya duduk mengelilinginya.

"Huh? Y-Yosuke-senpai, Souji-senpai sudah sadar!" ucap Kanji kepada Yosu dengan suara keras, padahal target berada tepat di sebelahnya.

"Ya, ya, aku tahu!" kata Yosuke jengkel.

Souji membuka matanya lebih lebar. "Senpai!" seru Rise senang karena seniornya sudah sadar. Kali ini Souji mencoba bangkit.

"Senpai, kau tak apa-apa? Sini biar ku bantu," kata Rise menawarkan bantuan.

"Aku…" Souji memejamkan matanya karena silau, "…tidak apa-apa." Kemudian membukanya lagi, lalu katanya, "Kalian bagaimana?"

"Seperti yang kau lihat, kami tidak apa-apa, Sensei!" jawab Teddie a.k.a Kuma semangat.

"Syukurlah. Kalau begitu kita lanjutkan perjalanan kita," kata Souji langsung berdiri dibantu Rise. Souji pergi setelah 1 jam pingsan.

"Senpai, apa kau tidak lelah?" pertanyaan Naoto menghentikan langkah kaki Souji.

"Naoto, tidak ada kata lelah bagi Senpai, ya kan, Senpai?" ujar Kanji yang ikut menghentikan langkahnya.

"Tapi-" kata detektif mungil itu (dihajar fans Naoto).

"Aku sudah tidak apa-apa, Naoto. Lagipula kau sudah istirahat tadi. Terima kasih telah mengkhawatirkanku. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan ini, lebih cepat lebih baik. Bukankah begitu?" jelas Souji panjang lebar dan selalu dengan senyuman hangat terukir di wajahnya. Senyuman yang menghangatkan jiwa.

"Hell yeah!!" jawab Yosuke dan Kanji berbarengan.

"Apa kau yakin, Sou-kun?" tanya Chie memastikan, khawatir juga sih…

Souji hanya mengangguk, tanda 'ya'. Naoto mendesah pelan, "Baiklah kalau begitu. Ayo, Senpai…"

* * *

Souji dkk melanjutkan perjalanannya. Menelusuri jalan berkabut tebal yang membingungkan mata. Untung jalan yang ditempuh setapak dan tidak bercabang.

"Haaah…kapan kita sampainya nih, kuma?" keluh Teddie.

"Bertahanlah, Teddie! Sebentar lagi pasti sampai," kata Rise.

Jalan, jalan, jalan. Kabut, kabut, kabut. Setapak demi setapak mereka tempuh. Entah berapa meter mereka lalui. Yosuke menatap Souji sejenak, kemudian katanya, "Sou, bagaimana caranya kau mengalahkan monster-monster itu?"

"Ya, ya, ya. Monster di tempat kami juga lenyap. Bagaimana caranya, Senpai?" tanya Rise penasaran juga.

"Hm…benar juga," kata Naoto ikutan.

"Hmm…" yang lain juga ikut mikir sambil bertopang dagu.

Sambil berjalan Souji menjelaskan, "Aku hanya merasa kalau mereka berdua sama seperti Izanami-no-Okami, sedangkan The Reaper sama dengan Izanami. Kalian masih ingat, saat-saat terakhir kita hampir dikalahkan Izanami-no-Okami, kan?"

"Ng, ya… Waktu itu Senpai menggunakan skill… seperti Mermaid Truths, eh, Myriad Tools, Michael Doors, eh, My… ehmmm…" tebak Kanji yang kurang dalam pelajaran bahasa Inggris. Mendengarnya pemuda rambut abu-abu itu hanya ngakak diikuti tanda tanya besar di kepala dan di benak Kanji, "Salah, ya?"

The rest just sweatdrop…!

"Myriad Truths, Kanji. Itu skill yang kupakai saat melawan Izanami-no-Okami (panjang banget seh namanya…!!?). Skill itu bisa mengalahkannya, jadi kupikir bagaimana kalau kucoba juga kepada 2 The Guardian itu, dan…ternyata bisa."

"Ohh… Trus kenapa tidak kau pakai dari awal aja sih?" tanya Chie.

Souji mengangkat sebelah alisnya, "Waktu itu tidak terpikirkan olehku."

Yosuke mendesah, "Haaah… Kau hampir membuat kami mati, Sou!"

"Hahaha… Gommene, minna."

* * *

Perjalanan Souji dkk masih panjang untuk sampai ke 'stage' selanjutnya. Tidak mau Sensei-nya bosan, Teddie membuat beranekaragam lelucon aneh yang mengelitik perut. Ternyata ampuh! Souji tertawa lebar. Hilang sudah rasa lelah di kaki mereka, rasa kantuk yang menggerogoti mata pun lenyap. Itulah gunanya Teddie: anak laki-laki berkostum beruang yang bekerja di Junes.

Rise senang melihat teman-temannya kembali ceria, khususnya Senpai-nya, Souji. Dalam suasana gembira itu, ia merasakan ada sesuatu yang menyambut mereka, "Huh?! Teman-teman, ada 3 shadow yang datang!"

Dan benar sekali. 3 shadow yang berwujud meja putih, menghalangi langkah mereka. Maka pertarungan yang tidak sulit pun dimulai.

Kali ini Rise dapat mendeteksi kelemahan mereka, "Hm? Woohoo! Senpai, ini gampang! Mereka lemah terhadap listrik, tapi kuat dalam serangan fisik!"

"OK, terima kasih, Rise," kata Souji, "Kanji, giliranmu!"

"Yup, aku tahu!" Kanji memanggil Rokuten-Ma dan, "Maziodyne!" Petir-petir itu menyambar ketiga shadow tadi. BLAR! DOWN! 3 shadow itu DOWN!

Tidak menyia-nyiakan waktu, Yosuke ambil alih, "Guys, ALL-OUT-ATTACK!!" Mereka berlari mengeroyok 3 shadow tadi dengan senjata masing-masing dan…WHUSS! 3 shadow itu lenyap. Debu pun beterbangan menemani kabut tebal yang menyelimuti jalan setapak itu.

"Yosh! Kalian tidak apa-apa?" tanya Yosuke.

"Uh-huh," jawab yang lain.

"OK! Lanjuuuut…!" ajak Yosuke semangat, sementara sisanya sweatdrop… -.-!

"Chie-senpai, kenapa Yosuke-senpai semangat banget?" tanya Kanji.

"Who knows?" ujar Chie mengangkat bahu seraya pergi.

* * *

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 13.30, jadi perjalanan mereka sekitar 1 jam. (Terasa banget buat author nulis ni chap 5). Souji memimpin perjalanan. Sementara yang lain…

"Bla…bla…bla…"

"Hahaha…"

"Hihihi…"

…bergosip dan bercanda ria. Tiba-tiba Souji berhenti…CHIIT! BRUK! DHUAK! BRUK! TUING! DHUAK! BUM!! (Maksudnya: Souji → Rise → Chie → Naoto → Teddie → Yosuke → Kanji. Ceritanya: Souji ngerem ditabrak Rise, lalu Chie, terus Naoto, Naoto ditimpa Teddie, Yosuke tinjak Teddie lalu jatuh, dan BUM!! Kanji nimpa yang laen!!)

"Dammit…!" umpat Kanji ketika uda jatuh.

"Kanji, cepat bangun!" teriak Yosuke.

"Beraaaaat…!" keluh Naoto mencoba bangun tapi gak bisa.

"Aduh duh…!"

Setelah maen 'timpa-timpaan', mereka berdiri, KRUK! KRUTUK! KREK! KRUK! KRUKRETUK! TREK! TREEEEEEEEK!! (Kau tahu bunyi apa itu? Ntu bunyi tulang mereka yang bergemerutuk)

"Teddie jadi kurus, nee…" gerutu Teddie diikuti sweatdrop yang laen -_-!

'Ditimpa 100 orang juga gak bakalan kurus…' batin Naoto.

Rise cenge-ngesan, "Rise sih seneng-seneng aja nimpa Senpai, hihihi…"

GEDUBRAK!! Yosuke dkk langsung pingsan mendengarnya.

"Sou-kun, kenapa berhenti mendadak sih?!" omel Chie.

"Aduuuh…" keluh Souji kesakitan habis ditimpa 6 orang berturut-turut, lanjutnya "Maaf, itu…kalian lihatlah," sambil menunjuk sebuah pintu raksasa yang ada di hadapan mereka.

"A-apa ini?!" kata Yosuke terkejut.

"Itu pintu, Senpai!" jawab Kanji dengan polosnya.

"Bukan itu maksudku, Kanji! Ini pintu apa?"

"Kita cek saja," ujar Naoto langsung memegang gagang pintu itu dan membukanya.

"Eh, Naoto-kun…!"

KREEEK… (suara pintu dibuka)

To be continued