Vocaloid © Yamaha
Dearest © Marchenhaft
Len/Gumi, slight Kaito/Miku
DEAREST
IV: Pengakuan dan Pelukan
.
.
Len menatap Gumi lekat-lekat, membuat gadis itu risih. Ia menjadi tak kosentrasi membaca bukunya. "Tuan Len," akhirnya dia angkat bicara. "Maaf, bisakah anda berhenti menatap saya seperti…itu? Jujur saja, saya risih."
"Ah, maaf. Tidak sengaja." Len terlihat panik.
"Ada apa sebenarnya, Tuan?" tanya Gumi, menutup bukunya dan menghampiri Len. Ia menunduk, membuat wajahnya dan wajah Len hanya berjarak beberapa jengkal saja. "Anda terlihat…gugup."
"Tidak, tidak ada apa-apa." Bagaimana aku tidak terlihat gugup kalau wajahmu sedekat ini?
"Bohong."
"Benar."
"Tugas anda bertambah dua kali lipat kalau anda berbohong, ya."
"Coba saja."
Gumi menghela nafas. Ancaman tugas saja tidak mempan. "Baiklah, saya akan berhenti memaksa," sahutnya, kembali ke kursinya dan membaca buku.
Len menelan ludah. Ia harus mengatakannya kalau tidak—
"Ah, iya, Tuan Len…" Gumi tiba-tiba memecahkan lamunan Pangeran Pecicilan itu. "Sepertinya anda harus segera latihan. Kalau tidak kekuatan anda akan memudar. Menjadi Rare One itu sulit, ya?"
"Oh, iya...Eh?"
-.-.-.-.
Len menggebrak meja. Teko berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga keemasan bergetar, namun Sang Ratu tetap meminum chamomile tea-nya dengan tenang. "Sudah lama kau tidak menggebrak meja saat Ibu sedang meminum teh," gumamnya, sedikit menghina. "Ada apa dengan Gumi? Biasanya waktumu tersita terlalu banyak dengan gadis itu sehingga tak sempat marah-marah seperti biasanya."
Len menggeram kata-kata yang tidak jelas, dan menggebrak meja sekali lagi. "Bagaimana dia bisa tahu?"
"Kalau kau itu ternyata temperamental? Bukankah sudah kelihatan jelas?" tanya Sang Ratu polos.
"Argh! Bukan!" bantah Len. "Kenapa dia bisa tahu kalau aku ini Rare One?"
Sang Ratu menaruh cangkirnya, dan bertepuk tangan pelan. "Oh, selamat, selamat," ejeknya. "Selain temperamental, ternyata anakku juga bodoh. Selamat, selamat."
"Ap—"
"Len, pikirkan pakai logika," potong wanita itu tajam. "Bagaimana seorang Keeper, yang bertugas mengurusimu, tidak tahu detail-detail hidupmu? Bahkan Gumi sepertinya tahu apa ucapan yang pertama kali kau ucapkan saat kau lahir."
"Tapi, Ibu! Ini istana untuk Rare One—" Len sedikit menahan kata-katanya begitu satu ide logis muncul di otaknya. "Apa jangan-jangan Gumi itu sebenarnya Rare One yang Ibu selundupkan ke istana sebagai Keeper?"
Sang Ratu tertawa dengan nada mengejek. "Kau terlalu banyak menonton opera sabun sepertinya, Len." Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ibu berani bersumpah kalau Gumi itu bukan Rare One."
"Jadi…dia satu-satunya manusia yang bukan Rare One di istana ini? Tapi dia tahu kebenaran yang sebenarnya di balik istana ini?"
"Yang ia tahu seluruh penghuni istana ini adalah Rare One. Entahlah kalau ia tahu lebih banyak lagi," jawab Sang Ratu, kembali menyisipkan tehnya. "Keingintahuan gadis itu mengerikan. Saking mengertikannya dalam umur semuda itu dia menjadi Keeper profesional dengan kualitas jasa tingkat atas."
Len menggigit bibir. Kini, ia mau tak mau harus memberitahukan segalanya ke gadis itu. Asal-usulnya. Kekuatannya. Sisi monsternya.
-.-.-.-.-
"Lalu, apa rencanamu untuk memberitahu Gumi tentang kekuatanmu?" tanya Kaito, berlipat tangan, sedikit mengejek. "Tidak mungkin kan, kau tiba-tiba datang dan bilang, 'Gumi, aku seorang monster'?"
Len menggeram. "Aku datang padamu untuk berdiskusi, Kaito. Jangan memulai pertikaian lagi."
"Baik, baik, mengerti." Kaito terkekeh geli. "Menurutku, bicarakan saja apa adanya. Eye to eye. Serius, tapi santai. Jangan sampai ada intens, yah, kayak kalian ngobrol kayak biasanya."
"Tapi, Kaito!" Len mengacak-acak rambutnya. "Aku takut Gumi akan menghindariku! Kau tahu, sejak kecil, semua orang non-Rare One menghidariku karena takut! Untung saja sekarang kita memakai kedok 'kerajaan'!"
"Len," panggil Kaito. "Kau…menyayangi Gumi?"
Len menelan ludah. "Ya…bukankah itu wajar?" sahutnya, berkeringat dingin, pipi memerah. "Dia sudah menjagaku selama setahun terakhir, dan…"
"Bukan, bukan sebagai Keeper atau apalah itu, omong kosong." Kaito memotong. "Tapi sebagai seorang gadis. Sebagai seorang Gumi saja."
Wajah Len semakin memerah. "A—Aku…eh, itu—soal Gumi…" Len terbata-bata. "Ah, lupakan saja! Aku akan berbicara langsung dengan Gumi! Eye to eye, sesuai keinginanmu!"
Kaito menepuk kedua tangannya. "Berjuang, Pangeran!"
"Berisik!"
-.-.-.-
"Gumi, aku ini monster." Len menunjukkan wajah datar. Kata-kata ambigu barusan terucapkan karena dalam otaknya terlalu banyak rangkaian kata-kata yang ingin ia ucapkan, namun entah mengapa yang keluar justru kalimat yang Kaito katakan barusan.
Gumi mengedpikan matanya. "Eh?"
Len menelan ludah. "Um, itu hanya kiasan…" sahutnya, mencari-cari kata-kata yang tepat. "Yang ingin kutanyakan padamu…kamu tahu apa kekuatanku?"
"Tahu."
"Kamu tidak menganggapku seekor…monster?"
Gumi menggelengkan kepalanya sambil tertawa. "Untuk apa?" tanyanya. "Tuan hanya manusia biasa yang diberikan kelebihan. Itu saja. Kenapa harus menganggap diri Tuan itu monster?"
"Karena aku…kekuatanku ini pernah mengambil nyawa orang?" Len menatap Gumi. "Entah kau sudah tahu atau tidak…tangan ini…pernah membunuh 20 orang sekaligus. Tanpa kusadari. Mengerikan…" suaranya mulai bergetar. "Dan kau tetap tidak menganggapku monster?"
Gumi tersenyum, mengenggam kedua tangan Len yang bergetar. "Kalau Tuan adalah monster, saya rela menjadi penyihir gila," sahutnya lembut, menempelkan keningnya ke kening Len. "Saya adalah Keeper Tuan. Saya akan selalu berada disisi Tuan, apapun bentuk anda. Monster, penyihir, setan, iblis. Saya—"
Tak kuat mendengar kelanjutannya, Len mendekap Gumi erat. "Cukup." Detak jantung Len mulai berdebar kencang; membuatnya meyakinkan akan pemikirannya tentang Gumi. "Jangan dilanjutkan. Aku akan menangis."
Gumi tertawa. Len dapat merasakan hembusan nafas lembut gadis itu di lehernya. "Kalau anda mau menangis, menangis saja." Gumi menepuk pundak Len. "Jangan ditahan. Kesedihan tidak boleh ditahan; tapi anda harus sembunyikan di depan orang lain, namun keluarkan saja di depan orang-orang yang anda percayai dan anda kasihi."
"Aku tidak bertanggung jawab kalau gaunmu penuh air mata, loh."
"Tidak apa-apa. Saya masih punya banyak stok gaun seperti ini," canda Gumi. Dan ia merasakan air mata menetes di bahunya. Gumi tidak mengatakan apa-apa, dia hanya terus memeluk sosok laki-laki yang kuat namun rapuh itu, membebaskannya dari predikat monster dari dalam dirinya.
"Lihat, mana ada monster yang menangis karena kata-kataku barusan?" timpal Gumi, memancing tawa Len untuk keluar.
"Bisa saja kau," gumam Len, tersenyum di pundak Gumi. Tenggelam dalam wangi vanilla tubuh gadis itu, pikiran Len mulai ringan. Tangan kanannya beranjak mengenggam tangan mungil Gumi, memainkan jemari-jemari lentik gadis itu. "Tanganmu lembut."
Tidak ada jawaban dari Gumi. Len mengangkat kepalanya dan menatap wajah gadis itu, menempelkan keningnya ke kening Gumi. "Hei," bisiknya lembut. "Kenapa diam?"
"Tidak…" jawab Gumi. "Hanya saja, posisi ini…"
"Kamu tidak nyaman?" tanya Len, yang dibalas dengan gelengan kepala Gumi. "Lalu, kenapa?"
Gumi mengiggit bibir. "Saya…merasa terlalu nyaman dan…" suaranya bergetar, seperti akan pecah menjadi tangisan. "Sehingga saya berasa berdosa."
Len terkekeh kecil, memainkan rambut hijau Gumi. "Kenapa berdosa? Kita tidak melanggar peraturan apa-apa disini," sahutnya. "Dewa tidak melarang untuk berada di posisi seperti ini, bukan? Kecuali kalau kau ini pendeta."
Gumi menaruh kepalanya di pundak Len, mencium wangi khas milik Pangeran Pecicilan itu, tidak mengatakan apa-apa lagi. Kesunyian yang menyelimuti mereka kini menjadi sebuah kenyamanan tersendiri. Sebuah oasis di tengah emosi mereka yang saling bercampur.
Dan, ia berandai. Menutup matanya. Andai aku lebih cepat bertemu denganmu.
To be continued.
Len, kau menggemaskan sekali. #dibakar
Maaf chapter sebelumnya (sangat) pendek. Nikmati chapter ini juga ya, jangan lupa review :3
Thank You~
