Tsuna's day out

[part VI: Trio mesum Vs Tsuna feat Inspektur Hibari]

Summary: TSUNA DICULIK! Dan Papa Giotto tahu siapa pelakunya. Komisaris Besar CEDEF, Alaude dan asistennya Inspektur Hibari mengejar sang pelaku penculikan yang sudah pasti tak dapat ditangkap dengan mudah!

Pairing: G27, 1869, GxAla, DaeAla, Dae69, 10027, 100xAla, 10018

Rating: K menjurus ke T

Disclaimer: KHR punya Amano Akira. Mukuro punya tukang rujak #ditrident#

Warning: OOC dosis tinggi, typo (mungkin), abal, alay, gaje, jayus, tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengandung beberapa ucapan yang secara (tidak) sengaja menghina beberapa pihak yang bersangkutan, dapat menyebabkan ambeien(?), mual, muntah, stress ringan dan kebosanan kronis. Don't like don't read.

.

.

.

.

.

.

.

.

Giotto menghela nafas pendek. Ia masih menyandarkan kepalanya dipundak Alaude yang tegap sambil sesekali meminum kopi dengan banyak krim kental manis didalam gelas yang dipegangnya kuat-kuat. Tatapannya hampa memandang televisi. Alaude tidak melakukan apapun, ia cuma meletakkan salah satu tangannya dikepala Giotto dan mengelusnya dengan lembut.

"hey, tanggal berapa sekarang?" pekik Giotto seraya duduk tegak. Alaude menurunkan tangannya dari kepala Giotto.

"sekarang? 15. Ada apa memangnya?" tanya Alaude sambil menaikkan sebelah alisnya.

"hari ini aku berjanji pada Tsuna untuk mengajaknya ke Adventure Land di Atlantic Place."

"terus?"

"mall itu cuma tinggal jalan kaki dari apartemenku yang dulu. Siapa tahu dia kesana."

"Giotto." Alaude menghela nafas panjang. "Tsunayoshi itu masih lima tahun. Apa anak TK seperti itu bisa naik busway atau angkutan umum lainnya menuju Atlantic Place?"

"Tsuna itu ingatannya kuat. Aku ingat saat naik mobil dia menghafal dan menyebutkan semua plang jalan dan rambu-rambu."

Mendengar Giotto berkeras soal pendapatnya yang tidak masuk akal, Alaude sweatdrop.

"ya…..ya sudah. Coba kita cari disana."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah berjalan sekian lama, Tsuna melihat sebuah bangunan besar yang tidak asing dibenaknya. Sebuah mall bernama Atlantic Place yang masih relative sepi, karena disana sehelai dasi saja harganya bisa disamakan dengan blackberry torch. Giotto, yang diketahui punya uang yang entah kenapa tidak habis-habis dan selera fashion yang tinggi, sering mengajak Tsuna kesana jalan kaki dari apartemen lama mereka.

Namun masalahnya disini adalah:

Yang Giotto tahu: apartemen lamanya hanya berjarak 500 meter dari Atlantic Place.

Yang Giotto tidak tahu: apartemen lamanya sekarang ditempati si om nanas.

"om nanas nyebelin. Om nanas nyebelin. Om nanas nyebeliiiiiin…=3=" gerutu Tsuna jengkel sambil masuk kedalam Atlantic Place.

[meanwhile, Hibari….]

"jadi sekarang Anda sedang menjalankan misi?"

Cozart Shimon, seorang papa metal sekaligus vokalis sebuah band rock n roll sedang galau karena seorang inspektur dari badan intelijen professional yang telah menemukan puteranya dan diketahui tengah mengidap kecanduan salah satu merk donat yang enak dan creamy (baca: Hibari) tidak tahu menahu kalau dirinya seorang rockstar. Memang kasihan dan tidak nyambung sama kasus penculikan bocah super moe oleh trio mesum yang salah satunya adalah pedophilia professional bernama Daemon Spade. Sekarang, Hibari nggak tahu mau ngapain (lah?)

Nggak, bohong deng.

Entah kenapa Hibari punya firasat bakal menemukan anak itu disini, di Atlantic Place.

"sekarang dengarkan aku. Jika kalian berdua melihat salah satu dari penculik itu, kalian harus secepatnya hubungi aku. Mengerti?"

"aa…anu, kami harus menghubungimu kemana?" tanya Cozart sambil memain-mainkan pipi anaknya. Sementara si anak protes dan menggigit tangan papanya (anjir….=_=;)

"14022. KFC pesan antar." Kata Hibari. "ya nggak lah! Pake Blackberry messenger dong!"

"bbm?" tanya Cozart syok.

"helo…welcome to the future. Masih jaman pake handy talkie?"

Cozart menggumam dalam hati, "benar-benar polisi yang aneh."

"kakak…." Kata Enma. "penjahatnya seperti apa?"

"mereka ada tiga orang. Dua diantaranya sekilas seperti buah-buahan."

"buah-buahan?" ulang Enma.

"iyee." Kata Hibari. "nanas dan semangka."

"oke…." Enma mengeluarkan bb Dakota dari dalam kantongnya. Dasar anak artis, masih bocah aja udah pake bb. "kakak, bagi PIN-nya, dong."

Hibari menatap Enma. ia mengambil bb Dakotanya Enma. Cozart juga menyodorkan bb-nya ke Hibari. Setelah sekian lama, Hibari berkata dengan sangat inosen.

"tapi gue nggak pake bb."

Krik

Krik

GUBRAAAK!

Kedua bapak dan anak metal itu sweatdrop segede mesin cuci dengan kepala dilantai.

[kita kembali ke bujang buah bahagia]

Daemon Spade masuk kedalam Atlantic Place dengan sangat bernafsu. Yaelah, kita semua juga tau si semang—maksud gue Daemon Spade itu apa-apa selalu pake birahi. Yang jelas, para readers lebih baik jauh-jauh (terutama bagi kalian kawula pria). Salah-salah nanti kalian bisa bunting (lha?). Tidak jauh beda, Mukuro ikut masuk dengan buru-buru. Tujuan utamanya adalah departemen store dan toilet pria. Kenapa? Karena sumpelan idungnya udah mulai bocor(?). Sementara Byakuran, yang paling mirip manusia diantara dua buah tropis kita yang bahagia masuk kedalam Atlantic Place dan berubah menjadi overexcited ketika melihat sebuah panggung. Dan tanpa diduga ia mulai menari-nari ala girlsband ketika mendengar suara music dari lagunya cherr*belle. Mungkin kita semua nggak tahu kalo Byakuran nggak lulus audisi pemilihan personel JKT 48. Tapi sekarang kita udah tahu karena author mulai membocorkan rahasia pribadi.

"nufufufufu….nggak usah bikin malu, Byakuraaaaan!" kata Daemon Spade, mengambil Byakuran yang lagi asik-asiknya joget dengan scythe kesayangannya, dan kemudian si Byakkun yang malang digampar bolak-balik dengan sangat tidak manusiawi seperti sedang menjalani ospek tentara angkatan rawa-rawa (?)

"iih….Spade jahat. Spade pedo!" teriak Byakuran tidak terima.

PLAK!

Pipi Byakuran berubah jadi IJO, sodara-sodara! (gaje? Emang!)

"pedonya nggak perlu disebuuuuut!" geram Spade sambil membanting-banting Byakuran seperti adonan pempek. Walaupun author yakin kalo bikin pempek nggak perlu dibanting-banting.

"kufu…." Kata Mukuro. "kufufufufu….."

Nggak jelas? EMAAAANG!

Alaude: capslock woy

"lu ngapain sih?" tanya Spade penasaran. Mukuro yang idungnya masih disumpelpun masih bisa mengalirkan darah segar sederas banjir yang akhir-akhir ini terjadi di bilangan Jakarta utara dan sekitarnya. Si kepala nanas itupun menunjuk sesuatu.

Anak teka lima tahun. Mukanya kawaii dan moe. Lagi lari-lari gaje. Beberapa pria yang dilewatinya tepar seketika dengan hidung berdarah. Rambutnya ngibas-ngibas dengan gerakan lambat.

"SUNSLIK, cuma gopek!"

Coret bagian terakhir.

Butuh lima belas menit bagi mereka berdua untuk sadar bahwa bocah moe itu adalah Sawada Tsunayoshi.

SAWADA TSUNAYOSHI, BUNG!

Oiya, kenapa berdua? Soalnya Byakuran sudah tak sadarkan diri karena terlalu banyak ditampolin.

"ITU TSUNA! KEJAAAARRR!" jerit Daemon Spade. Ia dan mukuropun mengejar. Bagaimana Byakkun? Dia (masih) tepar tak sadarkan diri dan ditinggal begitu saja. Salah seorang klining serpis Atlantic Place menyodok kepalanya dengan sapu—dikirain gumpelan kantong plastic putih. Setelah diidentifikasi bergerak, sang klining serpis pun lari tunggang langgang. Dia tidak pernah kembali.

Oh, Byakuran tampaknya sudah bangun.

Ia menyipitkan matanya. Kedua buah tropis teman sejawatnya tengah mengejar-ngejar seorang anak yang kawaii dan moe. Setelah tiga puluh menit menatap, Byakuran akhirnya berseru panik.

"itu TSUNAAAA!"

Author: TELAAAAAAATTTT!

"nufufufufu….." kata Daemon

"kufufufufu…." Kata Mukuro

"kyaaaa…ada om nanas!" kata Tsuna. Dan diapun berlari lebih cepat.

"baby I need you, need you, need you so much….." kata Byakuran.

"serong kanaaaaaan, serong kiriiii, maen serong wa'aaaaaaaa aseeeeek!" kata Cozart.

Lah?

Tolong robek dua bagian terakhir.

Jadi, di sebuah mall tidak beruntung bernama Atlantic Place tengah terjadi kejar-kejaran beruntun. Antara Tsuna dikejar Daemon dan Mukuro, Byakuran mengejar dua rekannya, dan Syahrini yang mengejar David Beckam(?), dan Giotto yang mengejar-ngejar cintanya author. Dua diantara kejar-kejaran itu beneran terjadi di fic ini. Salah satu kejar-kejaran ditonton author dari salah satu acara infotaiment dan yang terakhir hanyalah khayalan author semata.

Iya, saya tahu. Pasti reader semua didepan gadged masing-masing bingung dan tidak menyangka bagaimana Tsuna bisa tahu kalau dirinya diculik. Karena ini adalah keadaan darurat (?) anggap saja si Tsuna udah tahu.

"kali ini kau takkan lepas, anak kecil!" kata Daemon murka. Mungkin saking marahnya jambul semangka keramatnya berubah warna jadi item muda.

"WAAAAAA! SILUMAN SEMANGKAAAAAAAA!" Tsuna menjerit-jerit panik. Dengan akal yang udah kepepet, si Tsu-chan akhirnya memutuskan memasuki sebuah supermarket besar dan mulai bersembunyi. Dua buah tropis itupun mengikutinya.

"dimana bocah uke itu?" geram Daemon sebal.

"mending kita mencar aja." Usul Mukuro, yang tumben-tumbennya ngomong bener. Spade menganggukkan kepala (semangka)nya dan merekapun berpencar.

[kita lihat tim ceria Inspektur Hibari]

Enma, si anak tujuh tahun super metal yang membantu Inspektur Hibari dalam mencari seorang anak bernama Tsunayoshi tiba didepan sebuah supermarket besar. ia terdiam sejenak. Karena merasa haus, ia memutuskan cari minum kedalam sana.

Enma: author-san mau apa?

Author: hee? Nggak usah, Enma-kun. Aku nggak haus.

Enma: santai aja. Ini bukan duit aku kok

Author: 0_0

Akhirnya bocah metal itu menuju ke refrigerator raksasa dimana berbotol-botol minuman terpajang. Karena ia merasa haus, akhirnya dia mengambil lemon water. Ketika ia mau bayar, Enma melihat sesuatu bergerak-gerak di rak bagian alat kebersihan. Si anak metal itupun mengintip dan melihat sesuatu yang sangat membuatnya shock.

Apa itu semangka?

Tapi kenapa semangka adanya di kepala?

Wah, semangkanya merayaaaap!

Kira-kira dia ngapain, yaaa?

Mungkin begitulah gambaran kata-kata yang ada dikepala Enma.

Tanpa ragu, si Enma menghampiri si bujang buah tersebut dan berjongkok disebelahnya. Lemon waternya belum dibayar. Antriannya rame sama ibu-ibu rempong yang belanja bulanan.

"nufufufufufu…"

"OM!" panggil Enma dengan sangat inosennya.

Daemonpun menoleh.

JLEB!

Rasanya ada linggis yang menancap dikepala Daemon. Mungkin anak ini tidak tahu kalau usia Spade masih 25 tahun. Tapi toh anak itu masih tujuh tahun. Kalo dia panggil si semangka dengan sebutan om ya bener juga.

"oya..oya…." kata Daemon, yang bingung juga sejak kapan ada cecunguk yang ikut jongkok disebelanya. "kamu siapa dan ngapain disini, dek?"

"iseng aja." Jawab Enma lagi. Oh, kenapa dia sangat inosen, teman-teman?

"oh." Kata Daemon. "terus kamu ngapain masih disini?"

"aku cuma mau nanya sih om." Kata si Enma dengan pedenya. "itu semangka, ya? kok semangkanya dibawa-bawa dikepala?"

JLEB! JLEB!

Kalau tadi ada linggis sebatang nancep dikepalanya si Daemon, mungkin kali ini ada tiga lusin golok yang nancep dikepalanya yang eksotik itu. Oh my goat, man! Dimanapun dia berada, pertanyaan itu selalu menyertainya. Kasian, emang. Tapi mau gimana lagi? Emang susah hidup dengan keadaan tidak normal. Apalagi kalau kita tidak terima kenyatan.

"nufufufu…." Kata Daemon. "kamu ini kecil-kecil kepo, ya?"

"biasa laaaah!" kata Enma. ia menepok-nepok pundak si om semangka yang sedang depresi dengan oh-gila-lu-santai-banget "namanya juga anak-anak, suka becanda."

Lalu si Enma kabur. Tidak lupa sebelum kabur dia bayar lemon waternya dan bbm ke papanya (gatau gimana caranya. Anggap aja dia bisa)

PING!

Papa…..aku ketemu orang yang palanya kayak semangkaaaaa

Lima belas detik kemudian Cozart membalas bbm anaknya.

Dimana?

Enma menoleh ke belakang. Si om semangka masih mengejarnya. Entah kesel karena dicengin anak kecil, atau napsu pengen ngeraep karena si Enma unyu banget.

Dibelakang. Ngejar-ngejar aku.

Papaaaaa…..toloooooonggg

Sementara itu, Cozart bingung setengah mampus mau ngapain. Inspektur hibari menyuruhnya tenang. Ia memakan sepotong J.C* lagi dan kemudian beranjak pergi.

"eh, mau kemana? Katamu kita harus tunggu disini sampai Enma kembali, kan?" kata Cozart panic.

"kau tunggu disini. Atasanku ternyata nyusul." Kata Hibari. Diapun pergi dengan cueknya.

[sementara itu, Alaude…..]

Kalau bukan karena Giotto menyeretnya pergi kesini, Alaude tidak ingin pergi. Kadang imajinasinya yang ketinggian itu bikin dia parno sendiri. Mana mungkin sih anak teka lima tahun yang lagi diculik tiba-tiba ada di mall bergengsi. Dipikir ini kayak di pelem-pelem apa? Dan sekarang, Kombes Alaude harus jalan-jalan dengan hape nempel dikuping sambil menggerakkan matanya dengan jeli seperti kamera CCTV untuk mencari anak angkat pacarnya (baca: ukenya).

Ketika sedang males-malesan nyari, ia melihat anak teka sedang lari-lari dengan muka horror. Dibelakangnya, ada seorang cowok muda berjambul nanas yang idungnya disumpel gumpelan tisu. Butuh tiga puluh detik baginya untuk menyadari bahwa dua orang itu adalah korban dan tersangka yang diajukan pacarnya tadi pagi.

Sumpah, kacangan banget.

Jelek naskahnya, BIARIN! Yang penting mintz (lah?)

"whoa…whoa…." Alaude membungkuk dan menangkap tubuh mungil Tsuna kedalam pelukannya. Sementara, ketika pria berkepala nanas itu mendekat, ia melayangkan tinjunya dengan oh-gila-lu-nyante-banget. Sekali lagi, mukuro tepar dengan tidak elitnya. Kalau mimisan, kita sudah tidak perlu menghitungnya lagi.

"huuu…." Tsuna yang ternyata menangis menatap Alaude yang wajahnya asem itu. "om siapa?"

"Papamu mengajukan pencarian anak hilang dan aku ditugaskan mencarimu." Katanya dengan lemah lembut. "namaku Alaude."

"huu…." Tsuna masih tergugu. Suaranya masih terisak.

"mau bicara dengan papamu?"

Tsuna mengangguk lemah. Alaude menghubungkannya dengan Giotto lewat telpon.

"ya, Alaude? Ada apa?" kata Giotto disebrang telpon.

"hiks….pa…papaaa…." kata Tsuna. Dan diapun mulai menangis lagi.

"Tsu, Tsuna! Ini….ini betul kau? Kenapa kau bisa menelpon dengan ponselnya Alaude?"

"dia bersamaku, bodoh." Tambah Alaude dengan suara keras. Giotto mendesah lega.

"jangan senang dulu. Kalau kau mau keamanan anakmu terjamin, tangkap Daemon Spade untukku."

"Spade, ya?" Giotto menggumam. "okedah."

Dan teleponpun terputus.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[meanwhile, papa metaaal…..]

"anak gua dimana, ya?"

Si papa metal kita, Cozart Shimon mencari anaknya yang katanya dikejar-kejar manusia semi semangka yang sekarang jadi tersangka utama penculikan anak teka lima tahun. Saat sedang keliling-keliling dirundung galau, ia tidak sengaja menabrak seseorang.

GEDEBUK!

"aaawww!" pekik mereka berdua. Keduanya pun bangun. Cozart kebetulan bangun duluan, dan dia mengulurkan tangannya pada pria pirang yang dia tabrak. Siapa dia? Readers sekalian mah pasti udah tahu.

DAN ITU ADALAH GIOTTO, PEMIRSA! AYO, DIMULAI DENGAN DUA RATUS DOLLAR SEMALAM!

Giotto: heh, bego! Lu….kenapa jadi ngelelang gue kayak gigolo? *ngeplak pala author*

Author: apa lu kata? *bolak-balik naskah* oiya. Maaf, salah naskah.

Giotto: heaaehh….. *ngelengos bete, kembali ke tekape*

"kau tidak apa-apa?" kata Cozart.

Dan Giotto memandang Cozart.

Collonelo: hampo hamiiiisen jahaaaaayyyooooooooooooo…. *tiba-tiba nongol dan bernyanyi India*

Giotto: *cengo sambil mangap kayak lele keluar dari aer*

Cozart: elaaaah! Lu kagak liat baju gue udah begini? *nabok Collonelo saking frustasinya* Gue rockstar, men! Lagunya yang METAAAAAAALLL!

Oke, mari kita ulangi adegan tadi.

"kau tidak apa-apa?" kata Cozart.

Dan Giotto memandang Cozart.

Collonelo: kemanaaaaaaaaaa…..kemanaaaaaaaa…..kemanaaaaaa…. *nongol lagi, sambil goyang gayung*

Giotto: eeeeeeeeee…..aaaaaa! *nyamperin Collonelo, dan berjoget sule (?)*

Collonelo: kuharuuuuuuuusss….. mencariiiiiii…..kemanaaaaaaaa….., angkat tangan kananmu!

Giotto: ey! *mengangkat tangan kanan*

Collonelo: angkat kaki kirimu! Kita goyang sama saaa…..WADAO!

Cozart: elaaaah! Dikata lagunya yang metal dikit! *jambak Collonelo, jeduk-jedukin kepala Collonelo ke escalator* Jijik, tau nggak?

Oke, mari kita ulangi lagi adegan tadi.

"kau tidak apa-apa?" kata Cozart.

Dan Giotto memandang Cozart.

Collonelo: JENG, JENG JENG! Ououououoooooo…beibeh, beibeh, beibeh, beibeh, beibeh, oooooo!

Cozart: RUSUH LU AH! *nendang pantatnya Collonelo* pegi sana! Pegi!

Collonelo: ya kan saya juga pengen eksis, gitu.

Cozart: yeee, penjak lu! Lapak gue iniiii!

Oke, mari kita ulangi lagi adegan tadi (untuk yang kesekian kalinya).

"kau tidak apa-apa?" kata Cozart.

Dan Giotto memandang Cozart.

"Co….Cozart Shimon!" pekik Giotto kaget.

"uhm…yeah?" Cozart menggedikkan kepalanya. Giotto menerima uluran tangan Cozart dan si papa metal menariknya sampai berdiri.

"GILA LO! GUE NGEFANS PARAH SAMA LO! AAAAAA…GAK NYANGKA BEUUUDDD…."

Dan Cozart cuma bisa ber-sweatdrop ria.

"bedeh…..kenapa gue jadi kayak gini!" pekiknya tiba-tiba. Giotto galau seketika. "nggak! Nggak ada waktu untuk ngefans-ngefans-an! Anak gue! Gue harus cari anak gue!"

"uhm….sori," kata Cozart. "lagi cari anaknya juga, mas?"

"iye." Katanya. "anak gue diculik lima puluh lima jam yang lalu."

Cozart mengabaikan kalimat terakhir. "anaknya teka? Lima tahun? Namanya Sawada Tsunayoshi?"

"kok tahu?" tanya Giotto bingung.

"soalnya…ada inspektur aneh yang gila J.C* nyuruh gue dan anak gue nyari ntu anak."

"nggak sih." Kata Giotto kalem. "anak gue udah ketemu. Sekarang gue lagi cari cowok yang palanya kayak semangka."

"kalo gitu lu ikut gue cari anak gue!" kata Cozart ngotot. Ia menari-narik Giotto.

"eh? Maksudmu apa?" tanya Giotto bingung. "aku belum ketemu anakku sejak…."

"si penjahat yang lu bilang palanya semangka….." kata Cozart. "lagi ngejar-ngejar. Anak. Gue. Oke?"

"oooh….." kata Giotto santai. "ngobrol dong mas dari tadi."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[skip time, 30 menit]

Saat sedang kehilangan harapan mencari Enma, Cozart mendengar suara aneh.

"nufufufufufu…"

Mengganggu banget, emang. Namun rasanya suara itu makin dekat.

"nufufufufufu…"

Akhirnya Cozart menoleh, mencari sumber suara.

"kenapa?" tanya Giotto.

"nggak." Cozart menaikkan pundaknya. "cuma denger ada suara-suara aneh."

"nufufufufufu…"

"PAAAAAPPPPAAAAA!"

Sontak Cozart menoleh. Dan dia mendapati anaknya berlari kearahnya. Anak berusia tujuh tahun itu dikejar-kejar oleh seorang pria dengan perawakan yang aneh. Muka aneh. Baju aneh. Suara aneh. Dan bentuk kepalanya juga aneh.

"Enma!" pekik Cozart. Ia langsung menghampiri dan membawa anaknya kedalam pelukannya. Sementara Giotto, yang hatinya telah mendidih karena kelakuan Spade, serta-merta melayangkan bogem mentah ke wajah Spade.

BUAKH!

Spadepun tersungkur. Meskipun nggak sekali gebuk pingsan, cukup meninggalkan bekas juga. Daemon Spade melihat Giotto dengan raut muka kesal, senang dan menahan nafsu. Entah yang mana, ekspresinya sama saja.

"nufu, ciao Giotto." Katanya. "jadi…., aku hendak melakukan penawaran untukmu."

"penawaran?" Giotto menggeram marah. "dengan menculik anakku?"

"dengar dulu…." Spade berusaha memberikan penjelasan. "kau tahu kan, seperti di…."

"aku tak mau dengar!" sela Giotto. "aku sudah tak peduli lagi!"

"Giotto, aku…."

Giotto menghela nafas. "Spade, lo—gue, END!"

Saking shock-nya, Daemon Spade pun pingsan dengan melodramatic.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"aku sangat berterima kasih padamu, Alaude."

Kali ini Giotto, Tsuna, Cozart, Enma, Alaude dan Hibari tengah duduk bersama di restoran pizza. Ini adalah semacam syukuran—atas kembalinya kedua anak ke pangkuan ayahnya, dan seorang fans berat yang ketemu sama idolanya. Meskipun bukan J.C*, Hibari tetap ikut. Dia cuma minum Italian soda, dan makan tiga porsi pasta karena mumpung bossnya yang bayar. Sementara Tsuna dan Enma makan pizza dengan pepperoni, bawang Bombay, paprika, daging sapi cincang dan lelehan keju mozzarella dengan sangat lahap.

"sudah tugasku." Jawab Alaude santai. Dia menggigit pizza-nya.

"dan akhirnya bagaimana tiga penjahat itu?" tanya Cozart. Dia sendiri memesan lasagna, dan memakannya pelan-pelan.

"bagaimana, Inspektur?" tanya Alaude bangga.

"rebes." Jawab Hibari pendek. Walopun sekarang bibirnya tidak lagi berlumur cokelat donat J.C*, tetapi saus tomat Del M*nte

"eh, tapi aku tidak pernah menyangka bisa terlibat dalam situasi seperti ini." Kata Cozart. "kau tahu? Memang sulit. Tapi konyol, dan seru juga."

"anakmu dikejar-kejar pedophilia, dan kau senang?" tanya Giotto shock. "imposibel."

"nggak gitu-gitu amat, sih." Cozart tertawa. "tapi boleh, kan? Kalau Enma sering main dengan Tsuna. Jadwalku padat sekali. Dan kasihan juga kalau Enma harus kubawa-bawa terus."

"aku tidak keberatan menjaga Enma, kok." Kata Giotto. "lagipula pasti asyik kalau punya teman baik, kan, Tsu-chan?"

"iya, papaaa!" kata Tsuna sambil tersenyum, meskipun bibirnya berlumur saus tomat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan akhirnya Tsuna kembali ke pelukan Papa Giotto. Tambahan, dia punya teman baru—dan menjadi sohib dari ayah-anak super metal dan hidup bahagia selamanya.

THE END

Jelek endingnya?

BIARIN! Yang penting mintz! (?)

Wawawawawa…

Ciao, all readers!

Fiuh, akhirnya Tsuna's Day Out kelar juga. Seperti biasa, saya selalu mengecewakan reader semua dengan chapter yang pendek dan ending yang (kelewat) jelek untuk genre lawak. Habisnya, menurutku…..kalau fic lawak panjang-panjang nanti efek komedinya jadi berkurang

….hontouni gomen nasai….m(_ _)m

Untuk sekarang aku mau fokus ke fic gore untuk cerita bersambung. Untuk genre lawak seperti ini, mungkin akan saya terbitkan sesering mungkin dalam bentuk oneshoot. Mohon doanya, all readers! Semoga selera humor saya kembali terasah sehingga setajam, SILET!

*JENG….JENG JENG JENG JEEEENGG….*

Giotto: bego, lu! Ini bukan infoteimen. *noyor pala author dengan songongnya*

Author: hai, akang Giotto! Review dulu dong…..gimana ceritanya?

Giotto: gembel.

Author: *mangap gak percaya* TEGAAAA!

Alaude: emang gembel kok.

Author: *mulai mewek* LEBIH TEGAAAA!

Osh! Sekian dulu! Terima kasih semuanya yang telah setia membaca dan menunggu apdetan Tsun's Day Out yang ngalor ngidul karena authornya (sok) sibuk.

Thanks for reading, all.

Fajrikyoya