Fita's Project™
This fanfic is just for fun. So read and enjoy it.
UNTUKMU
"Hei Hali, kerjakan yang betul dong. Kalau begini kelompok kita akan jadi kelompok dengan nilai terendah." Ujar Yaya kesal. Perlu diketahui sekarang ini dikelas sedang diadakan kerja kelompok dengan beranggotakan 4 orang. Dan sialnya, Yaya harus satu kelompok dengan badai satu ini.
"Berisik tau, kau sendiri kan juga tahu kalau aku ini lemah di bidang ini. Kau mau aku apa lagi..?" geram Halilintar, jujur memang ia tidak ahli jika berhadapan dengan pelajaran sejarah. Sungguh merepotkan, lebih baik ia mengerjakan 100 butir soal MTK daripada satu soal sejarah yang jawabannya segudang.
"Yah, sudah kalian berdua. Lebih baik kita fokus kerjakan soal ini, dan Hali sebaiknya kamu cari materi ini di buku. Tidak sulitkan..?" lerai Suzy merasa risih dengan tingkah kedua temannya ini. Meraka kalau tidak dilerai sampai damainya palestina dan Israel pun nggak akan pernah selesai.
Yaya kemudian menghela nafas berat, "Ya sudah, biar aku yang bagian mencatat bagian – bagian yang penting."
Yah setidaknya, ia harus lebih sabar menghadapi Halilintar. Bagaimanapun dia ini adiknya Gempa, yang berarti akan menjadi adik iparnya nanti. Tanpa sadar Yaya tersenyum picik sambil menunduk, Hali yang menyadari itu hanya sweatdrop. Dasar penyihir..
.
Jam istirahat menjadi hal yang paling menyenangkan bagi Hali, bukannya apa ia tadi sudah berjuang untuk pelajaran sejarah yang satu menitnya berjalan dengan sangat lama. Huft, kesal ia.
Hali mulai mengeluarkan hp dan headsetnya, ia mulai memasang headset dan menyalakan music. Ia lalu menidurkan kepalanya di meja, ah ini sungguh menenangkan. Matanya belum menutup sepenuhnya, baru ia akan menutup matanya untuk tidur – ia urungkan ketika ia melihat 2 orang pemuda di ambang pintu kelas.
Nampaknya pemuda itu bukan teman satu kelasnya, dilihat dari warna dasinya – sepertinya kelas XII.
'Mau apa mereka'
Samar Halilintar mendengar percakapan keduanya, boleh dibilang pendengaran Halilintar ini sangat tajam.
"Kau yakin ini kelasnya..?"
"Ehm, tentu saja aku yakin. Aku ini bisa dibilang basedata yang tidak diragukan lagi."
"Terserah kau saja."
Halilintar kemudian melihat kedua orang itu menghampiri bangku deretan Halilintar, dan berhenti di bangku Yaya. Satu dari pria yang membawa bungkusan itu Nampak berpikir keras, lalu menoleh pada temannya..
"Kau tidak salah, kan..?"
"Tentu saja tidak, kau ini masih meragukanku ya..?" jawab temannya enteng.
"Yo, kakak – kakak sekalian ini mau apa?" potong Halilintar yang saat ini sudah pada posisi duduk tegak.
Tentu saja itu membuat 2 pemuda tersebut terkejut, padahal meraka kira Halilintar ini tertidur. Kemudian mereka menunjukkan wajah tenang mereka, pria dengan rambut coklat lalu mendekat pada Halilintar.
"Anu, gini dek – ehm…" pemuda itu Nampak menimbang – nimbang sesuatu. Melihat temannya kesulitan, pemuda berambut hitam pun mengambil alih perannya.
"Ini bangku Yaya Yah, kan..?" ucapnya to the point.
"Hei, apa – apaan kau ini. Kenapa kau langsung bertanya seperti itu, kita terlihat seperti penguntit jadinya tau!"
Halilintar hanya melihat mereka dengan tatapan datar, kelakuan mereka ini Nampak seperti anak SD. Padahal umur mereka udah tua, dasar..
"Memang benar kalau bangku yang didepanku ini adalah bangku Yaya, biar kutebak – kakak ini mau memberikan coklat pada Yaya, kan..?" ujar Halilintar tanpa melihat kedua seniornya itu.
Sang pemuda berambut coklat itu langsung mendekap mulut Halilintar, "Shh, jangan keras-keras ngomongnya. Nanti temen-temenmu bisa denger."
"Hei kau itu malah terlihat mencolok dengan tindakanmu itu, bodoh." Sang pemuda berambut hitam itu hanya geleng-geleng dengan temannya satu ini.
Pemuda berambut coklat itu tergelak, dan melepaskan tangannya dari Halilintar. Pemuda berambut hitam itu menghela nafas kasar..
"Nah begini saja, kenalkan namaku Tatsuya. Dan pria berambut coklat aneh itu Rangga." Tatsuya mengulurkan tangannya pada Halilintar.
Halilintar hanya menatap datar tangan itu, jelas- jelas kalau si Tatsuya ini adalah turunan Jepang. Terlihat jelas dari nada biacaranya yang agak cadel, dan wajahnya yang terlihat seperti orang jepang. Wajahnya tampan, kulitnya seputih susu sangat kontras dengan siswa disini. Sekarang ia melihat ke arah Rangga, kalau dilihat pria ini tipe-tipe pria polos. Wajahnya terlihat tampan dengan potongan model korea zaman sekarang. Meskipun tingkahnya agak aneh, tapi pria ini bisa dibilang lumayan popular dengan wajahnya itu.
Yosh, sudah selesai pengamatannya pada kedua seniornya itu. Nampak visual mereka Nampak bagus, tapi ia belum tau pasti tentang kepribadian mereka. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada Tatsuya
"Namaku Halilintar, senang bisa berkenalan denganmu senior."
.
.
.
Ya, saya kembali lagi. Ini karena saya sudah melaksanakan SBMPTN, YEAYYYYY…
Semoga hasilnya nanti saya bisa keterima di PTN yang saya inginkan, amin…#berdoa untuk diri sendiri :V
Oh iya, kalau dilihat Halilintar ini kayak apa aja. Pake nyecan2 anak orang aja… :D
Yosh, sudah cukup untuk episode kali ini. Terima kasih untuk para readers yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca fanfic yang kurang ini… saya terhura…
Saya akan terus memperbaiki tulisan2 saya , dan terus membenahi diri saya
Jadi tunggu untuk chapter selanjutnya ya…
See ya, hope you'll like it 😊
