Fic ini minim bahasa Jepang. Terkontaminasi dengan bahasa-bahasa dari Negara lain, lebih dominan ke bahasa Jerman. Dan juga, Gaara tidak ada hubungan darah dengan Temari disini. Jadi kalau tidak suka, just klik back button, ok?
Review Zone! :
Guest : Ini sudah di lanjut. Thanks for review! :)
.
Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Romance, Fantasy, Friendship
Warning! : AU, OOC, typo, gaje, dll.
Pairing : Sasusaku, Naruhina, Shikatema,
Gaamatsu, Sasofemdei, Saiino.
Happy reading!
.
Seperti biasa, Sakura dan Sasuke dkk berkumpul di markas khusus mereka. Duduk di sofa mengelilingi meja bundar yang ada di ruang tengah markas mereka. Sasuke berdiri dari tempat duduknya, begitu juga Sakura.
"Baiklah, ada yang mau memberikan laporan?" tanya Sasuke. Naruto mengangkat tangannya.
"Sampaikan."
"Sebelumnya, aku harus meminta maaf kepada Deidara dulu," Naruto memberhentikan perkataannya sejenak, lalu menatap Deidara dingin, "Sorry, Deidara. Pacarmu akan menjadi suspect sementara di kasus ini," kata Naruto serius.
Deidara terkejut dan tak sadar dia menjatuhkan gelas berisikan apple juice yang ia pegang. Raut wajahnya shock, tatapan matanya menunjukkan ketidakpercayaan yang dikatakan oleh Naruto. Tentu saja ia tidak yakin, wajahnya begitu polos dan menampakkan tidak memiliki dosa satupun.
"Kenapa?" Deidara hanya bisa menangis.
"Tak sengaja aku mendengar percakapannya di dalam mobilnya. Sepertinya dia berbicara dengan seseorang melalui handphone," Kata Naruto.
"Apa yang kau dengar, Naruto?" kini Sakura mulai membuka suaranya.
"Aku mendengar mereka ingin mencari informasi tentang kita dan memberi tugas ke anak buahnya untuk masuk ke dalam kategori suspect," kata Naruto lagi.
"Masalah semakin rumit! Apa yang harus kita lakukan?" Gaara meremas helaian merah yang ada di kepalanya. Tampaknya dia frustasi dengan permasalahan ini.
"Sepertinya kita harus selidiki dulu Sasori lebih dalam," Sasuke mengalihkan pandangannya ke Deidara, "diantara kita semua, kaulah yang lumayan mengetahui seluk beluk Sasori. Jadi, aku harap kau mau membeberkan hal-hal penting dalam dirinya," kata Sasuke.
BRAK!
"TIDAK! Dia tidak seperti itu!" bela Deidara sembari memukul meja dan berdiri. Di tatapnya tajam kedua mata onyx milik Sasuke, kilat-kilat marah terpancar dari mata Deidara meskipun cairan bening menyelimutinya, "aku lebih mengenalnya dibandingkan kalian! Dia nggak sejahat itu!" protes Deidara.
"Deidara! Kita harus mencari bukti dulu! Jangan asal marah!" kini Temari membentak Deidara, "kau tau? Sikapmu ini sudah di kategorikan misunderstanding! Hal itu masih belum pasti! Kau nggak dengar kata Sasuke? 'kita selidiki dulu'?"
Deidara terdiam di tempat. Menatap mereka semua yang ada dimarkas itu dengan tatapan kemarahan. Deidara mengambil tasnya dengan kasar lalu pergi meninggalkan mereka.
"Deidara!" Teriak Ino.
"Aagh! Bagaimana ini?" Sai mengejar Deidara hingga ke depan pintu.
"Baiklah. Gaara dan Naruto, kalian selidiki siapa lawan bicara Sasori di telfon saat itu!" perintah Sasuke.
"Siap!" kata mereka berdua serentak.
"Baiklah, rapat selesai!" kata Sakura sambil berjalan keluar dari markas mereka.
.
Sasuke meninggalkan markasnya dengan raut wajah frustasi. Tujuannya saat ini adalah taman belakang, tempat yang cocok untuk mengistirahatkan otak dari segala lika-liku pertanyaan yang membingungkan baginya.
Ketika ingin melangkahkan kaki nya menuju taman belakang, dia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Dilihatnya seorang cewek yang duduk di bangku taman sendirian. Sepertinya menikmati angin berhembus sepoi-sepoi. Membuat rambut pink-nya menari-nari bersama angin. Mata nya yang terpejam menunjukkan wajahnya yang menikmati damainya suasana di sekitar taman itu. Seolah terhipnotis, tanpa sadar Sasuke mendekati cewek itu. Terkejut, ternyata Sakura.
Kenapa dia mengagumi cewek yang ia tidak sukai? Namun, Sasuke tidak menghiraukan pertanyaan itu yang muncul secara tiba-tiba dari otak pintarnya. Pandangannya terfokus pada cewek yang di kaguminya beberapa menit yang lalu.
"Sedang apa?" dengan cool-nya Sasuke menyapa Sakura.
"Aku ingin menenangkan diri dulu. Ini masalah terumit yang belum pernah aku ketahui," kata Sakura dengan mata tetap terpejam.
"Benar, bahkan ini lebih rumit dari pada menyelesaikan rubik 7x7," keluh Sasuke.
"Wirklich?" Sakura mengalihkan pandangannya ke wajah tampan Sasuke. Sakura menatap mata onyx Sasuke dalam-dalam. Mengagumi keindahan iris mata pria emo ini. Mempersempit jarak antar wajah mereka, yang kini telah berjarak 5 cm. Sasuke yang di tatap seperti itu terkejut dan sesegera mungkin memalingkan wajahnya.
'Kenapa pipiku memanas kalau dia menatapku?' batin Sasuke keheranan. Sasuke juga merasakan sesuatu yang agak panas di pipinya. Namun, Sasuke segera mengatur dirinya dan menjawab pertanyaan Sakura dengan biasa, "Ya, begitulah."
Sakura memundurkan badannya, menyenderkan punggung badannya di kepala bangku, "haa~~ beruntung aku tidak dipilih menjadi ketua di sini. Menjadi wakil saja aku sudah frustasi, apa lagi kau."
Sasuke melirikkan ekor matanya, dilihatnya Sakura sudah setengah sempoyongan, "kau kenapa, Sakura?" Reflex. Itu yang di rasakan Sasuke. Sungguh, Sasuke nggak ada niat untuk mengatakan hal itu. Kata-kata itu seakan keluar sendiri dari mulutnya.
"I-ich… "
BRUK!
Sakura sudah ambruk disamping Sasuke. Menyandarkan kepala pink-nya di bahu tegap milik Sasuke. Sasuke pun tak mengerti. Dia merasakan sesuatu yang hangat menjalari tubuhnya. Tak lama, Sasuke menggendong Sakura a la bridal style ke dalam markas.
"Oh Kami-sama, Sakura!" histeris Temari.
"Tema-nee, tolong periksa dia. Dia tiba-tiba pingsan begitu saja," pinta Sasuke. Sasuke membaringkan tubuh Sakura diatas tempat tidur di salah satu kamar. Semua mengkerubungi Sakura. Untung saja, di mobil Temari selalu tersedia tas dokter peninggalan ibunya.
"Dia hanya kecapekan. Ayo, kita tinggalkan dia. Dia harus istirahat, tidak boleh diganggu." PerintahTemari.
Semua menuruti perkataan Temari, kecuali Sasuke. Dia masih terdiam menatap Sakura yang sedang terbaring lemas diatas tempat tidur. Meresapi setiap sensasi yang selalu dia rasakan ketika menatap wajah manisnya. Padahal, Sasuke tidak tau perasaan apa ini. Hanya saja, dia menyukainya.
'Wajah yang manis, rambut lurus jabrik eksotis, rambut pink dan mata emerald bak gunung penghijauan yang sejuk, badan yang ideal, fashion sederhana, sungguh mempesona,' Pikir Sasuke. Sadar dengan pikirannya, dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Apaan sih, Sasuke? Kenapa kau mengaguminya? Bukankah kau sebal dengannya sejak pertama kali bertemu? Dia itu gadis yang ribut, sok pengen kenalan, dan lain-lain.' Pikir Sasuke. Dia pun meninggalkan Sakura sendirian di ruangan itu, nggak mau berpikiran macam-macam lagi –menurut Sasuke.
.
Temari, Shikamaru, Ino dan Sai sudah pergi meninggalkan markas. Sedangkan yang lainnya menemani Sakura di markas. Gaara sudah menyiapkan baju seragam milikknya, Sasuke, dan Naruto. Dan Matsuri sudah menyiapkan baju seragamnya, Sakura, dan Hinata untuk besok.
Kok rame banget yang nemenin? Salahkan sang cowok yang membawa teman gebetannya –minus Sasuke. Gaara dan Matsuri mengaku kalau mereka adalah sahabat terbaiknya Sakura. Hinata beralasan bahwa dia adik yang baik *huueekk+_+ jadi harus serasi dengan kakak yang disayanginya sekaligus menjadi 'dokter' nya Sasuke, meskipun tidak ada Deidara disini yang lebih mengerti tentang kedokteran. Naruto beralibi kalau dirumahnya nggak ada orang, ortunya pergi ke luar negeri. Sasuke? Dia berkata kalau dia yang bertanggung jawab ataas semua ini, karena dia yang melihat Sakura pingsan tiba-tiba.
"Huh! Untung Tema-nee menitipkan peralatan dokternya kepadaku. Lumayanlah, belajar jadi dokter kan nggak apa-apa." kata Hinata semangat.
"Hinata berisik! Ini sudah malem lho. Nanti kalau Saku-nee bangun gimana? Belajar sana gih!" perintah Matsuri.
"Sok tua! Ngatur-ngatur. Seumuran aja pun." kata Hinata sambil memeletkan lidahnya kearah Matsuri. Merasa diejek, Matsuri menggeram kearah Hinata.
"Kau…" hampir saja perang antar perempuan itu terjadi sebelum seseorang menghentikan mereka.
"Ngimdak chyeo!"
Gaara sudah sangat marah bukan bahasa Jerman yang di keluarkannya untuk membuat salah satu diantara mereka diam. Beruntung, Matsuri tau arti dari perkataan Gaara. Matsuri memberi isyarat kepada Hinata untuk diam. Keheningan menyelimuti mereka disertai dari lototan mata jade Gaara.
"Kalian tau? Kalian berusaha untuk 'jangan ribut' satu sama lain tapi kalian lah yang membuat keributan itu. Ap-"
"Ada apa sih? Kok ribut banget." perkataan Gaara terpotong ketika suara Sakura mengintimidasi perkataannya. Sakura yang sedang mengucek-ucek matanya di tatap dalam-dalam oleh Sasuke. Tiba-tiba…
GREP!
Tanpa sadar Sasuke memeluk Sakura. Mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin terjadi apa-apa kepada Sakura. Menghirup dalam-dalam aroma cherry yang menguar dari tubuh Sakura. Entah kenapa, dia merasa di mabuk kepayang oleh aroma ini.
"Istirahatlah, aku tidak mau kau absen besok," bisik Sasuke di telinga Sakura. Sakura hanya bisa melongo. Tak percaya temannya yang super jaim memeluknya erat di tengah-tengah keramaian ruang tengah. Di tatap oleh beberapa pasang mata yang berbeda warna.
"Ya, terima kasih sudah menasihati ku," kata Sakura lembut.
Sasuke tersentak. Dengan segera di lepasnya pelukannya itu. Sasuke menatap kedua tangannya dengan tatapan tak percaya, kemudian menatap punggung Sakura yang berjalan kembali ke kamarnya. Sungguh, dia baru sadar apa yang dilakukannya.
"Ciee… Sasu-nii," goda Hinata.
"Diam kau!" teriak Sasuke sambil berjalan menuju dapur.
.
'Apa yang kulakukan? Kenapa aku memeluk dia?' batin Sasuke.
Cukup lama dia memandang segelas air putih –yang sudah setengah- di depannya. Tatapannya kosong, melayang entah kemana. Raut wajahnya juga seperti berpikir. Dia tidak percaya dengan perlakuannya, seolah di gerakkan tanpa kesadaran oleh Tuhan. Merutuki dalam hati perbuatan barusan.
"Hei! Jangan melamun!" Gaara setengah berteriak menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Sasuke tersadar, bahwa dia sedang melamun.
"Ada apa? Masalah tadi?" kata Gaara yang di sertai dengan tawa kecilnya. Sasuke hanya diam memandang Gaara.
"Kau tau? Kau sudah merebut first hug-nya Sakura," kata Gaara.
"Benarkah? Jadi orang tuanya tidak memeluknya?" tanya Sasuke.
"Pasti memeluknya. Ini pertama kalinya dia di peluk cowok asing."
"Kau belum pernah memeluk dia?" tanya Sasuke lagi. Tumben kepo nih anak.
"Nggak. Palingan hanya dirangkul," kata Gaara santai.
Gaara menatap Matsuri yang sedang serius menonton serial drama Korea di TV dari kejauhan. Sasuke menikuti manik mata jade milik Gaara, dia pun menyeringai.
"Kau menyukai magnae itu?" goda Sasuke.
"Ti-tidak. A-aku hanya kagum sama dia. Bahasa Korea nya fasih banget," kata Gaara dengan semburat tipis di pipinya. Tidak mau berlama-lama lagi di goda oleh Sasuke, Gaara langsung pergi meninggalkan Sasuke begitu saja yang sedang tertawa kecil dibelakangnya.
.
Besoknya, di tengah teriknya matahari, Deidara kini sedang ada di rumah Sasori. Dengan alasan belajar bersama, dia berusaha membuktikan kalau Sasori tidak seperti yang teman-temannya pikirkan.
"Saso-kun, buku matematika ku yang kamu pinjam semalam mana?" tanya Deidara.
"Di kamar, ambil saja. Habis itu kau ajarin aku lagi ya!" kata Sasori. Sepertinya, Sasori tidak menyadari ada siasat di balik itu semua. Deidara merencanakan ini sendiri tanpa persetujuan dari teman-temannya. Tak disangka, Deidara pandai beralibi.
Deidara menaiki tangga rumah megah Sasori. Seisi rumahnya berwarna coklat klasik, tapi tidak kamarnya. Ya, Deidara memang sering singgah ke kamarnya Sasori. Tapi, bukan untuk melakukan sesuatu yang macam-macam, dia hanya menumpang membaca buku di kamarnya yang memiliki berjibun-jibun buku. Tapi, ada satu hal membuatnya curiga. Sebuah buku yang ber-cover coklat polos. Ketika hendak di bukanya….
BRUK!
"Saso-kun!"
Deidara di kejutkan dengan aksi dari Sasori. Ya, Sasori menjatuhkan buku yang di pegang oleh Deidara ke lantai. Deidara menatap Sasori dengan wajah shock. Tampak jelas pancaran kemarahan di iris hazel milik sang pacar. Wajah baby face-nya sedikit mengkerut karena marah. Kemudian Sasori membuang nafasnya, mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Apa kamu sudah dapat bukunya, Dei-chan?" tanya Sasori.
"A-ah, belum. Ini lagi mau nyari," kata Deidara sambil berjalan tak tau arah mencari buku miliknya.
"Ya sudahlah, aku tinggal dulu," kata Sasori sambil meninggalkan kamarnya.
'Apa isi buku itu? Apa yang dirahasiakannya?' batin Deidara.
Wajahnya terpancar kebingungan, keheranan, dan kecurigaan. Menurutnya, apa yang berharga dari buku itu? selama ini, Sasori selalu membuka rahasianya di depan Deidara. Deidara tau, Sasori ini orangnya sangat privasi. Tapi, kenapa Sasori bertingkah aneh tadi. Sungguh, Deidara merasa kalau Sasori menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang menurut Sasori benar-benar rahasia.
.
TBC
Translation Zone :
Wirklich? : Benarkah?
I-ich… : A-aku…
Ngimdak chyeo! : Diam! (Korea)
Magnae : Anggota termuda di suatu organisasi atau BB GB (Korea)
.
Haah~~ selesai juga fic nya. Gomen ne minna, jika kepanjangan dan jika ada kesalahan di fic ini. Sudahlah basa-basinya. Jadi, langsung saja di review yaa!
