Hei guys, it's me! Sudah sekitar setaun lebih sejak saya update cerita ini dannn tenang aja saya ngga lupa kok, malah kepikiran terus mau namatin tapi masih kena writer's block. Oh yeah dan buat Author Note's kali ini saya kasih warning : karena setahun berlalu mungkin penggunaan kata saya akan berbeda, ga penulisan saya berbeda, dannn plot awal yang dulu sudah saya konsep akan berbeda juga (pffft what concept? Yout technically don't know what to do with this fanfic, ssss shutup!).
Anyway thanks buat reviewnya guysss dan maaf ya buat yang favoritin kalian udah cape-cape mencet link favorite dan ngga ada update an…well. Dan buat anonymous review yang mana adalah FIRST FLAME comment, I never got this kind of flaming, Day-chan Arusuki… yang mana memutuskan untuk menggunakan jalur anonim review supaya saya ngga mengintip hasil karyanya, thank you for your flame.
Saya sadar saat itu ketikan saya tak rapi dan karakternya OOC, makanya saya sudah taruh warning, dan setelah saya terbiasa mengetik dengan keyboard (seriously aku biasanya nulis cerita di buku tulis karena ga punya laptop) sekarang typo nya sudah berkurang drastis TAPI please ya kalau ngga suka genre AU dan fantasy jangan nge klik cerita saya buat nge-rant soal "Oh aku benci genre ini." Kalau kamu ga suka kenapa baca, logic please.
Dan yah, saya bukan orang sastra, saya sekarang mahasiswi hukum, jadi saya lebih banyak meneliti Undang-undang daripada sastra, mohon maaf apabila kalimat saya ini tidak sesuai KBBI ya, tolong di benarkan biar saya belajar juga. Dan saya sudahi saja AN super panjang ini, jujur saya ngga tahu Natsu/Lucy masih hot couple ngga karena sekarang jelas banget udah canon dan gak banyak manusia yang berfantasi tentang pairing ini. Tapii saya ngga akan meninggalkan fic ini, jadi, selamat membaca! ^_^
Warning : OOC, typo, geje, AU
Read & Review!
Chapter 3
Juni 776
"Terus Laki berkata, "Nona Lucyyy tolong turun dari meja!" dan aku bilang, "Gamau, weekk!" Huuh salahnya sendiri dia seharian sibuk karena melayani tamu ayah," Lucy berceloteh sebal, kedua tangannya terlipat dengan rapi di depan dadanya. Sedangkan Natsu, sang pendengar setianya duduk agak jauh di depan Lucy dan hanya bergumam "Oohh…" atau "Hmm.." sambil sibuk memakan makanan yang Lucy bawa malam itu.
"Kamu dengar ngga sih?!" Tanya Lucy geram, ia memandang Natsu dengan sebal karena ternyata ia dicuekin oleh anak berambut pink di dekatnya. Natsu sadar dengan aura bahaya yang terpancar dari gadis pirang itu cepat-cepat menelan makanan yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya dan kemudian berkata dengan terburu-buru, "Uh iya aku dengar kok! Lanjutkan saja, ceritanya seru!" Natsu mengacungkan jempol tangan kirinya yang tidak membawa makanan.
Lucy menghela napas, ia sadar bahwa ceritanya sama sekali tidak menarik perhatian temannya sehingga ia menyerah untuk melanjutkan, kemudian ia dengan hati-hati supaya roknya tidak kotor, duduk di sebelah Natsu dan bertanya, "Mengapa kau nggak mau dengerin ceritaku sih?"
Yang ditanya menatap Lucy sesaat dan kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan kiri, sebongkah daging besar masih setia hinggap di tangan kanannya, menanti untuk disantap. "Bagaimana ya, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan jadi aku rasa aku tidak perlu mendengarkan," jawab Natsu dengan suara pelan, seolah malu. Lucy menatapnya tidak percaya.
"Ya ampun, masa kamu selama ini tidak tahu apa yang aku ceritakan padamu!" Kata Lucy. Natsu berusaha mencari kalimat yang pas saat merasakan temannya mulai sakit hati, "Uh, anu, bukan begitu! Maksudku, apa yang dimaksud pelayan? Mengapa manusia memerlukannya? Mengapa perempuan bernama Laki ini mau disuruh-suruh dengan ayahmu?" Ia menjawab.
Selama beberapa saat tidak ada respon dari Lucy, membuat Natsu mulai berkeringat dingin. 'Apa yang aku katakan salah?' Pikirnya. Namun saat ia sadar ekspresi Lucy bukankah marah atau sedih, tapi lebih menjurus…kasihan?
"Sudah berapa lama kau ada di gua ini?" Tanya Lucy mengalihkan pembicaraan. Jujur ia sangat kaget dengan pertanyaan Natsu, tidak ada orang yang tidak pernah mengerti soal konsep pembantu atau pengasuh atau apalah itu namanya, dan disinilah seorang anak seusianya bertanya dengan polosnya mengapa Nona Laki mau mengabdi pada keluarganya. Hal ini membuat Lucy ingin tahu apa yang membuat Natsu bisa bertanya seperti itu.
Natsu tampak berpikir sejenak, ia menengadah ke langit malam yang malam ini ditaburi bintang, membuat hutan saat itu tidak tampak begitu seram bagi Lucy. Yah meskipun gadis cilik itu sudah terbiasa dengan hutan, bahkan Natsu berani taruhan temannya itu sudah menggambar denah hutan ini karena Natsu sering sekali bercerita tengan apa saja yang ada disini dan ingin sesekali mengajak Lucy berkeliling bersamanya, sayang Lucy selalu datang malam hari sehingga mereka tidak berani berada terlalu jauh dari gua. Seringkali mereka hanya duduk di mulut gua sambil diterangi bintang yang dan bulan yang menyinari langit musim panas.
Dengan sigap ia melahap daging yang masih ada di tangannya dan mengunyahnya seolah itu hal paling biasa yang pernah dilakukannya. Sambil menjilati tangannya yang penuh dengan bekas makanan Natsu menjawab, " Mungkin sejak aku bisa mengingat."
Kedua bola mata Lucy yang beriris coklat terbelalak, "APAAA?! Jadi seumur hidup kamu hidup di sini?" Tanya nya dengan keras. Natsu cepat-cepat membungkam mulut Lucy sambil berkata, "Ssst! Kau mau kita mati?" tanya Natsu panik. Lucy langsung sadar bahwa berteriak di tempat ini hanya akan mendatangkan makhluk malam yang mengerikan, ia sudah sering mendengar cerita dari Natsu hewan buas lebih banyak berkeliaran saat malam, tapi untungnya Natsu memberinya sebuah tanaman yang katanya membuat hewan-hewan tersebut tidak berani mendekatinya, ia mengetahui ini dari ayahnya, Igneel.
Lucy memandang kedua bola mata Natsu lalu memandang ke arah sekitar mereka, setengah berfikir bahwa akan ada beruang yang akan langsung menerkam, atau lebih parah, monster hutan. Tetapi setelah beberapa detik hanya kedengaran suara jangkrik dan burung berkaok di kejauhan di tempat tersebut, Lucy sedikit lega, begitu juga dengan Natsu, ia segera melepaskan bekapannya dan kemudian duduk di posisinya semula.
"Iya kurasa aku sudah hidup di gua ini seumur hidupku, banyak sekali kenangan yang ada disini, terutama soal Igneel," Natsu berkata. Kata Igneel membuatnya mengingat kepergian ayahnya tersebut, kemudian ia merasa sangat sedih. Lucy segera mendekati Natsu dan memegang pundaknya yang lunglai. "Sudah jangan diingat-ingat lagi, aku hanya kaget saja tadi, maaf ya reaksiku berlebihan," kata Lucy.
Natsu berbalik memandangnya. "Iya aku tidak apa-apa, terima kasih ya Lucy, kau sudah menemaniku selama ini," Natsu menjawab. Wajah sedihnya tergantikan oleh senyuman lebar khas miliknya yang selalu memperlihatkan hampir seluruh gigi depannya, dan anehnya gigi Natsu selalu tampak putih dan sehat padahal Lucy yakin Natsu tidak memiliki benda yang layak untuk membersihkan giginya.
Lucy terpukau sesaat dan tidak dapat bereaksi apapun, ia selalu merasa senyum Natsu sangat berbeda dengan senyum orang lain yang selama ini ditunjukkan kepadanya, penuh ketulusan dan kebahagiaan.
Kemudian sebuah senyum hinggap di wajah Lucy, "Itulah yang namanya teman,," jawabnya. Natsu yang tidak ingin membuat teman satu-satunya menjadi ikut suram, kemudian memutuskan untuk bercerita tentang kejadian yang ia alami di hutan hari ini.
Lucy yang sekarang berganti menjadi pendengar berusaha mengikuti cerita Natsu tanpa menyela, meskipun dalam hati ia semakin merasa ada yang janggal dari kehidupan Natsu, belum pernah ia tahu ada ayah dan anak yang mau hidup dihutan padahal tak jauh dari sana ada pemukiman, terlebih lagi sekarang sang ayah meninggalkan anaknya sepanjang musim panas tanpa mengatakan apapun, terkadang Lucy beranggapan jangan-jangan ayah Natsu sudah meninggal dimakan binatang buas, tetapi ia tidak tega mengatakan kemungkinan ini pada temannya.
Gadis kecil ini sendiri tidak bisa membayangkan apabila dirinya yang tinggal di gua gelap seperti ini, terlebih lagi ia harus bertahan hidup dengan berburu hewan maupun mencari tumbuhan yang dapat dimakan, oh tidak ia rasa teh dan kue buatan juru masaknya masihlah nikmat, tapi Lucy merasa sangat kagum pada Natsu, karena meski Natsu seumuran dengannya (itulah yang dikatakan Natsu), ia jauh lebih kuat dan berani,
Beberapa lama setelah Natsu selesai bercerita Lucy pun pamit untuk pulang, seperti biasa ia membawa wadah makanan yang sudah kosong dan membungkusnya dengan taplak yang ia curi dari dapur. "Aku pulang dulu ya Natsu, sampai ketemu besok," kata Lucy.
"Iya hati-hati ya, tanaman yang aku kasih belum layu kan?" Kata Natsu. Lucy menunjukkan sebuah toples kaca berisikan tanaman berbentuk aneh dan berwarna ungu, tanaman tersebut hampir memenuhi seluruh isi toples, Lucy membuka tutupnya supaya bau tanaman tersebut keluar. "Ya, kan kemarin baru saja kau beri yang baru," jawabnya.
Natsu nyengir, "Baiklah, dadaah," kata Natsu. Lucy pun mengangguk dan mulai berjalan menjauhi gua, ia melambaikan tangan sebentar ke arah temannya dan Natsu balas melambai dengan semangat, setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, Natsu pun kembali masuk ke dalam gua.
Dengan telaten ia merapikan rerumputan yang sengaja ditumpuk sebagai ranjang buatan, setelah selesai Natsu melihat ke arah sebuah selimut yang dulu Lucy sengaja berikan padanya supaya Natsu tidak kedinginan. Meskipun Natsu bersikeras tidak ingin ikut Lucy ke kota, Lucy bertekad membuat gua tempat tinggalnya sedikit layak huni, sehingga di gua terdapat selimut, sedikit makanan seperti roti dan biskuit, lampu minyak yang tidak pernah Natsu gunakan, serta dua setel pakaian yang Lucy dapatkan dengan cara menyuruh salah satu anak pembantu keluarganya untuk membeli di pasar.
Lucy sendiri tidak repot-repot memberinya peralatan makan karena ia tahu Natsu tidak akan menyentuhnya, tetapi ia memberi Natsu sebuah pisau lipat miliknya dengan alasan untuk berjaga-jaga apabila Natsu mendapat kesulitan, saat diberi Natsu hanya mendengus mencela dan berkata ia lebih suka membuat senjata sendiri tetapi tetap menerimanya.
Natsu sekarang sudah rebah di tempat tidur buatannya dan menatap langit-langit gua yang gelap, selimut Lucy tidak ia pakai karena saat itu masih musim panas dan badannya sendiri sudah cukup hangat, saat kelopak matanya terasa berat dan akan tertutup sebuah suara membuatnya terbangun kembali.
"Anakku…." Panggil suara itu. Natsu terbelalak dan segera duduk. Ia mengenal suara itu sejak dulu, suara yang selama ini ia tunggu, suara Igneel. "Igneel? Itu kau?" Tanya Natsu dengan suara bergetar. Kegembiraan serasa meledak dalam hatinya, tapi kemudian ia menjadi bingung saat suara itu berkata, "Keluarlah, dan carilah aku."
"Igneel?" Tanya Natsu, kali ini suaranya lebih keras. Ia bangkit berdiri dan berteriak, "Igneel! Dimana kau?!"
"Anakku Natsu… aku akan menunggumu, di Lembah Hitam," setelah itu hanya ada keheningan yang memenuhi gua. "Igneel? IGNEEL!" Teriak Natsu, ia berlari ke luar dan memandang sekeliling,, tidak ada siapapun di sana, hanya ada suara jangkrik dan burung jauh di perut hutan, Natsu berlari berkeliling, tapi tetap tidak menemukan tanda-tanda Igneel pernah ada di sana, ia bahkan mencoba mencari bau ayahnya, tapi tidak bisa menemukan bau yang sangat ia ingat tersebut.
Frustasi, Natsu pun kembali ke dalam sambil memikirkan kata-kata yang barusan ia dengar. 'Lembah Hitam?' Pikirnya. Ia terduduk di tumpukan rumput sejenak dan seolah telah tau apa yang harus ia lakukan, Natsu mengepalkan kedua tangannya. 'Baiklah, aku akan mencarimu,' pikir Natsu.
Sementara itu Lucy sudah tiba di kediamannya, seperti biasa ia mengendap-endap lewat halaman belakang dan akan masuk ke dapur lewat ruang cuci yang biasa digunakan oleh pengurus rumahnya, tapi saat ia akan membuka pintu tersebut sebuah sinar menerangi wajahnya membuatnya menoleh dan menutupi wajahnya dengan tangan kanannya.
"Nona Lucy! Mengapa anda disini?" Tanya seseorang. Lucy mengerjap-ngerjapkan mata berusaha melihat siapa yang bertanya, jantungnya berdegup kencang dan rasa panik mulai merayapi tubuhnya. Hal yang Lucy rasakan berikutnya adalah kedua bahunya dipegang oleh seseorang dengan kuat dan ia digiring masuk. "Ayo masuk Nona, saya akan melaporkan anda pada Tuan besar," kata orang tersebut.
Lucy pun merasa akan sebuah badai yang akan datang malam ini.
Done!
Maaf singkaat, saya ingin tahu apakah masih ada penghuni Ffn yang membaca fic saya jadi ngga panjang-panjang dulu ya, tenang saja untuk plot sudah saya siapkan :D.
Mohon kritik dan saran (yang membangun ya), kalau suka syukurlah, pokoknya saya tunggu review dari kalian semua *tebar bunga*
Sampai ketemu di chapter berikutnya!
