Ry: Gomen, karena update nya lama. Soalnya kemarin aq baru saja kena hokum gx boleh main computer. Jadi baru bisa update lama.
Rin: Dan sepertinya chapter ini kacau banget deh ceritanya,
Ry: Mau gimana lagi otakku udah gx ada ide lagi. T_T
Rin: Ya sudah lah, Let us begin the story…
"Hell Boys and Heaven Girls"
Disclaimer: Saya bukan pemilik Naruto, Naruto masih jadi milik 'Masashi Kishimoto'.
Rated: T 'aman untuk dikonsumsi'
Pairing: SasuSaku dan empat pairing di lainnya.
Genre: Kali iniRomance and Friendship.
Warning: OOC, AU, Miss Typo(s), abal, gaje, alur kacau.
Chapter 4:
Semuanya memandang kearah Sakura dengan pandangan penuh tanda tanya kecuali Shikamaru yang memang sudah terlelap tidur dari tadi.
"Sakura, apa yang gawat?" Tanya Temari lagi.
"Besok Kepala Sekolah akan datang kesini." Kata Sakura pelan.
"Ooh, hanya Kepala Sekolah yang datang kemari." Kata Temari, Tenten, Hinata, Ino santai.
Tiba-tiba mereka terdiam saat kepala mereka mulai mencerna perkataan Sakura.
"What…? Kepala Sekolah!" Seru Ino histeris.
"Kau tidak bohongkan, Sakura?" Tanya Temari memastikan.
"Kau pasti bercandakan, Sakura?" Tanya Tenten.
"Aku tidak bercanda, tadi Miku-San yang memberitahuku." Kata Sakura tanpa menghilangkan raut wajah frustasinya.
"Oh, tidak…!" Seru ke empat anggota Heaven Girls histeris.
"Hei, kenapa kalian histeris seperti itu? Seharusnya kalian senang Kepala Sekolah kalian akan datang besok." Kata Naruto bingung.
"Sebenarnya kami memang senang Kepala Sekolah kami kesini, tapi…" Kata Hinata tanpa melanjutkan kata-katnya.
"Tapi apa?" Tanya Sai penasaran.
"Tapi… Kepala Sekolah kami terlalu over proctective dengan Sakura." Kata Ino melanjutkan perkataan Hinata.
"Loh, bukannya itu bagus?" Kata Neji.
"Bagus sih bagus, tapi Sakura paling tidak senang di perlakukan begitu, katanya sih bagai burung dalam sangkar. Oleh karena itu Sakura sering kabur dari Kepala Sekolah, dan gara-gara Sakura yang sering kabur itu kami yang kena akibatnya. " Kata Tenten sambil memandang Neji.
"Akibat apa yang kalian dapat memangnya?" Tanya Sai.
"Kami diperintahkan mencari Sakura sampai ketemu dan apabila tidak ketemu kami tidak boleh kembali ke sekolah." Kata Temari dengan lesu.
"Keren tuh, jadi penasaran aku mau melihat wajah kalian saat diperintahkan seperti itu." Kata Naruto sambil tersenyum senang.
"Kau jangan membuat suasana tambah kacau, Naruto." Kata Neji memandang Naruto tajam.
"Ya…Ya… Lagipula aku hanya bercanda." Kata Naruto.
"Loh… Sakura-Chan kemana yah?" Tanya Hinata kaget karena Sakura menghilang dari tempatnya duduk tadi.
"Astaga… Jangan bilang dia kabur lagi." Kata Ino kesal.
"Kalian tenang saja, palingan dia sudah pulang ke asrama untuk memikirkan bagaimana dia harus menyambut Kepala Sekolah." Kata Temari yang sudah hapal dengan kebiasaan Sakura.
"Dasar… Padahal bel masuk saja belum berbunyi." Kata Tenten.
Hinata, Ino, Tenten, dan Temari hanya bisa berharap Sakura tidak kabur lagi seperti kemarin-kemarin. Sasuke berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari Greenhouse.
"Oi… Teme. Kau mau kemana?" Tanya Naruto saat melihat Sasuke berdiri.
"Jalan-jalan." Jawab Sasuke singkat.
"Sebentar lagi masuk, kau mau bolos?" Tanya Neji.
"Hn." Hanya itu yang dikatakan Sasuke sambil berjalan keluar Greenhouse.
Neji hanya dapat geleng-geleng kepala dengan kelakuaan Sasuke yang suka seenaknya itu.
oOo
Taman Konoha 1 Kilometer dari Hakuba High School.
Sakura duduk sambil memandang danau yang ada didepannya, sambil sekali-sekali menghela nafas. Pikirannya melayang kepada Kepala Sekolahnya, dia bukannya membenci kepala sekolahnya hanya saja sikap Kepala Sekolahnya yang terlewat over proctective(Hanya kepada Sakura) itu membuatnya tidak nyaman. Sebenarnya Sakura tidak ambil pikir juga, tapi gara-gara itu teman-temannya di Cherry Blosoms High School mengira Sakura menjalin hubungan khusus dengan Kepala Sekolah.
Sakura paling malas digosipkan seperti itu, makanya dia sering kabur dari Kepala Sekolah. Tapi masih teringat dibenaknya tidakannya itu membuat teman-temannya di Heaven Girls harus mencarinya seharian penuh karena diperintahkan Kepala Sekolah. Sakura tidak mau hal itu terjadi karena itu dia selalu mencoba menghadapi Kepala Sekolah dan gosip-gosip itu. Dan sekarang dia sedang malas menghadapi Kepala Sekolahnya itu, Sakura tahu pasti apa yang menjadi alasan Kepala Sekolahnya kemari.
Ketika sedang memikirkan itu tiba-tiba Sakura merasa ada 'benda' berat yang menekan kaki bagian atasnya(Paha). Ketika Sakura tahu benda itu adalah seorang manusia yang paling dibencinya, Sakura langsung memukul kepala orang itu yang seenaknya tidur dikakinya.
"Ayam Pervert, minggir kau dari kakiku!" Seru Sakura marah.
"Kau saja yang minggir, Jidat. Lagipula ini tempatku biasa tidur siang." Kata Sasuke sambil menutup matanya.
"Tidur siang? Sejak kapan kau jadi suka tidur seperti Shikamaru?" Tanya Sakura sambil mencoba menarik kakinya, tapi tidak bisa karena kepala Sasuke seperti besi pemberat yang menahan kakinya sehingga Sakura tidak bisa menarik kakinya.
"Untuk apa aku memberitahumu." Kata Sasuke singkat.
"Aku juga tidak ingin tahu juga kali, memangnya penting apa kalau aku tahu tentang kau." Kata Sakura kesal.
"Terus kenapa tadi kau bertanya?" Kata Sasuke yang membuat Sakura mati kutu gara-gara tidak tahu alasan kenapa dia bertanya begitu.
"Dasar Jidat, makanya pikir dulu baru bertanya, percuma saja jidatmu lebarnya hampir sama dengan landasan bendara gitu tapi tapi tidak pernah berpikir." Ejek Sasuke membuat Sakura yang tadinya marah semakin bertambah marah.
"APA KAU BILANG?" Teriak Sakura emosi.
"Akhirnya kau marah juga." Kata Sasuke sambil mengangkat pelanya dari kaki Sakura.
"Maksudnya?" Kata Sakura yang dari emosi berubah menjadi bingung.
"Aku lihat dari kau terima telepon pagi tadi, mukamu berubah menjadi lesu dan banyak menghela nafas. Bahkan saat kau meninggalkan Greenhouse tadi kau terlihat tidak bersemangat." Kata Sasuke menatap Sakura.
"…" Sakura hanya bisa diam ditatap Sasuke begitu, dan kaget juga karena Sasuke tahu dia pergi kesini dan meninggalkan Greenhouse padahal dia yakin teman-temannya tidak tahu dia keluar.
"Sebaiknya jangan terlalu banyak berpikir tentang cara kabur dari Kepala Sekolahmu itu lagi. Sebaiknya kau terima saja apa yang akan terjadi, lagipula kami akan melindungi kalian. Yah walaupun sebenarnya kami malas juga melindungi kalian. Tapi kami sudah janji walaupun sebenarnya masalah Kepala Sekolah kalian bukan urusan kami. " Kata Sasuke panjang lebar.
"Tidak kusangka manusia sedingin kau, bisa bicara begitu mana panjang banget lagi kata-katanya." Kata Sakura sambil tersenyum gaje.
"Ap-…" Belum selesai Sasuke meneriaki Sakura, Sakura memotong perkataannya.
"Thanks, Sasuke. Aku jadi sedikit tenang sekarang." Kata Sakura sambil tersenyum tulus, bukan senyum pahit yang biasanya Sakura tunjukkan kepada Sasuke. Ditambah Sakura memanggilnya bukan dengan sebutan 'ayam'. Mau tidak mau Sasuke terpesona juga dengan senyuman itu, mata onyxnya memandang emerald Sakura.
'DEG… DEG…DEG…' Tiba-tiba jantung Sasuke berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya, dan tiba-tiba mukanya merona merah seperti warna buah tomat.
"Sasuke… Kau sakit? Mukamu merah sekali." Kata Sakura hendak menyentuh dahi Sasuke.
"Tidak apa-apa, ini hanya pengaruh sinar matahari." Kata Sasuke sambil menidurkan kembali kepalanya di Kaki Sakura sehingga tangan Sakura tidak menyentuh dahi Sasuke.
"Hei… Kenapa kau tidur dikakiku lagi?" Kata Sakura menatap Sasuke kesal.
"Anggap saja ini bayaran karena sudah membuatmu tidak khawatir berlebihan seperti tadi, Sakura." Kata Sasuke sambil memejamkan matanya kembali.
"Dasar…" Kata Sakura kesal tapi entah kenapa tangannya membelai lembut rambut Sasuke.
Sasuke yang tadinya sudah bisa mengedalihkan gerak jantungnya, sekarang kehilangan kendali atas jantungnya. Jantungnya berdebar sangat kencang sampai rasanya debaran itu bisa didengar tanpa alat apapun. Walau begitu Sasuke tetap menutup matanya, bisa bertambah kencang debaran hatinya kalau sampai dia melihat mata Sakura.
Sakura tetap membelai rambut Sasuke dengan pelan, mata emeraldnya menelusuri setiap jengkal wajah Sasuke. Sakura ridak mengerti kenapa dia bisa merasa nyaman menatap wajah Sasuke lama-lama padahal selama ini dia paling benci melihat muka Sasuke. Tangan Sakura mulai menelusuri wajah Sasuke yang sempurna itu, dan ketika jari mungilnya menyetuh bibir Sasuke tanpa sadar wajah Sakura mulai mendekati wajah Sasuke. Dan dalam beberapa detik jari itu berganti dengan bibir Sakura, yah Sakura tanpa sadar mencium Sasuke dan entah kenapa juga Sakura menutup matanya.
5 detik… 10 detik… 15 detik…
Sakura menarik wajahnya perlahan dari wajah Sasuke, dan ketika itu lah dia sadar apa yang baru saja dilakukannya. Muka Sakura memerah semerah-merahnya, kalau bisa Sakura ingin lari dari sana tapi itu tidak mungkin karena Sasuke sedang tidur dikakinya. Sakura mulai menyakini dirinya kalau Sasuke sedang tidur dan tidak akan tahu kalau tadi Sakura menciumnya.
Tapi itu hanya tinggal harapan sekarang, Sasuke yang dianggap Sakura tidur rupanya tidak tidur. Bahkan saat Sakura menciumnya tadi Sasuke sempat membuka matanya. Sayangnya waktu itu Sakura menutup matanya sehingga tidak menyadari Sasuke membuka matanya karena kaget dengan apa yang dilakukan Sakura.
Walaupun tahu yang menciumnya adalah musuhnya dari dulu, tapi entah kenapa Sasuke membiarkannya atau lebih tepat senang. Sasuke juga tidak mengerti entah kenapa dia senang dicium Sakura, padahal banyak cewek yang pernah menyerang Sasuke saat tidur seperi ini tapi tidak satu pun yang berhasil mencium Sasuke karena Sasuke selalu menghindar. Tapi kenapa dia membiarkan Sakura melakukan itu kepadanya.
Mereka berdua saling berbicara dengan nurani masing-masing dengan apa yang terjadi tadi, sampai mereka tertidur bersama karena kelelahan .
oOo
Malam harinya di Asrama.
"Kemana sih Sakura dan Sasuke? Jam segini kok belum pulang juga." Kata Neji kesal sambil melihat jam diruang perapian sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Sebentar lagi mereka juga pulang, kau tenang saja kenapa." Kata Tenten menenangkan Neji yang sudah lima kali berjalan bolak-balik didepannya.
"Bagaimana bisa tenang, mereka sudah bolos dari pagi masa jam segini belum pulang juga. Untung saja Kotetsu-San dan Izumo-San sedang ada urusan mendadak dengan Guy-Sensei, kalau tidak kita semua akan dikeluarkan dari Sekolah karena dikira mereka berdua berantem dan tidak mau kembali ke asrama." Kata Neji sambil marah-marah.
"Kau marah-marah juga mereka tidak akan langsung datang kan!" Kata Temari.
"Iya juga." Kata Neji pelan.
"Sudahlah Neji kita tunggu saja 15 menit lagi, kalau mereka tidak pulang juga kita akan pergi mencari mereka." Kata Shikamaru sambil memandang Neji.
"Benar apa kata Shikamaru, sebaiknya kau tenangkan dirimu Neji." Kata Ino keluar dari dapur bersama Sai dengan beberapa cangkir teh dan cake yang tertata rapi dinampan yang mereka bawa.
"Baiklah." Kata Neji sambil duduk di salah satu sofa yang ada diruang perapian itu.
"Naruto dan Hinata mana?" Tanya Tenten kaget.
"Katanya mereka mau beli bahan makanan untuk besok di supermarket 24 jam." Kata Ino meletakkan cangkir teh disatu-satunya meja diruangan itu.
"Loh bukannya bahan makanan masih banyak?" Tanya Neji.
"Memang, tapi kata Naruto bahan untuk membuat ramen tidak ada makanya dia mau membelinya. Karena khawatir makanya Hinata menemani dia." Kata Sai menjelaskan.
"Dasar anak itu, apa tidak bisa hidup dia kalau tidak makan ramen." Gerutu Neji.
"Kau seperti tidak tahu Naruto saja Neji, mottonya kan 'Semuanya Terasa Lebih Indah Apabila Ada Ramen'." Kata Sai sambil tersenyum.
Ino, Temari dan Tenten hampir saja tertawa mendengar motto Naruto yang rada-rada tidak beres itu. Kalau suara pintu yang dibuka dengan keras mengkagetkan seluruh yang ada didalam ruang perapian itu.
'BRAK….' Pintu terbuka dengan keras, dan muncul lah makhluk berambut pirang dengan wajah seperti habis melihat hantu.
"Kau kenapa Naruto?" Tanya Ino.
"Hah… Di… Hah… Diluar… Hah… A-ada…" Kata Naruto tersendat-sendat.
"Diluar ada apa Naruto?" Tanya Neji penasaran.
"Sasuke… Hah… Sasuke…." Kata Naruto tidak jelas.
Mendengar Naruto menyebut nama Sasuke, semua yang ada disana langsung berdiri dari duduknya dan berlari keluar dari ruang perapian dan Naruto juga ikut berlari dibelakang mereka. Mereka berlari sampai melihat Hinata didepan jendela yang menghadap ke halaman depan dan berhenti disana.
"Hinata, ada apa?" Tanya Tenten penasaran.
"Dan dimana Sasuke?" Tanya Neji.
"I-itu…" Tunjuk Hinata ke luar jendela.
Seluruh mata tertuju ke arah yang ditunjuk oleh Hinata, mereka spontan melebarkan mulut mereka karena melihat hal yang bisa dibilang langkah itu. Terlihat Sasuke sedang menggendong Sakura dengan Bridal Style, dan kalau di film-film seperti seorang pangeran yang menggendong putri. Mereka semua langsung menuju pintu utama ketika suara pintu terbuka membuat mereka sadar dari kekagetan. Mereka semua memandang Sakura yang berada dalam gendongan Sasuke, dan akhirnya melihat Sasuke.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Sasuke dingin.
"Kau dengan Sakura tadi pergi kemana dan kenapa Sakura bisa kau gendong begini?" Tanya Neji.
"Menurut kalian kami dari mana dan apa yang kami lakukan sampai Sakura kelelahan dan ketiduran seperti ini." Kata Sasuke sambil menyeringai.
"Astaga… Jangan-jangan kalian habis melakukan 'itu' yah." Teriak Naruto.
Semua yang ada disana kecuali SasuSaku memukul kepala Naruto sehingga terlihat tujuh benjolan besar dikepala Naruto.
"Kenapa kalian memukulku?" Kata Naruto dengan miris sambil memegang kepalanya.
"Karena kepalamu isinya hal-hal yang tidak baik." Kata Neji kesal.
"Sudahlah kalian berdua jangan." Kata Sasuke sambil berjalan kearah kamar Sakura.
"Kau mau kemana Sasuke?" Tanya Sai.
"Ke kamar Sakura, tidak mungkinkan aku kekamarku sedangkan dia masih aku gendong begini." Kata Sasuke berjalan menaiki tangga dengan perlahan mencoba tidak membangunkan Sakura.
"Sakura…" Kata kedelapan orang itu saling berpandangan karena tidak biasanya Sasuke memanggil Sakura begitu. Biasanya Sasuke selalu memamanggil dengan panggilan Jidat.
oOo
Pagi hari di Hakuba High School, Sakura lari dari Hinata, Tenten, Temari, dan Ino yang sudah menghadangnya dari pagi tadi untuk menanyakan kenapa Sakura bisa tertidur dan digendong dengan Sasuke.
"Sakura, kau hutang penjelasan pada kami soal semalam." Kata Ino sambil berlari mengejar Sakura.
"Aku janji akan cerita pada kalian, tapi bukan sekarang." Kata Sakura sambil berlari menghindari Temari dan Tenten yang entah kapan sudah berdiri menghadang jalan nya.
"Kami perlu penjelasanmu sekarang, Sakura." Kata Temari.
Mulai lah acara kejar-kejaran itu sampai sebuah mobil BMW berwarna hitam tiba-tiba berhenti didepan Sakura, dan hampir menabraknya.
"Sakura, kau tidak apa-apa." Kata Ino, Temari, Tenten, dan Hinata dengan muka cemas.
Siswa dan siswi Hakuba beserta siswi dari sekolah lain yang memang sedang menunggu Hell Boys seperti biasa juga mulai mengerumuni Sakura. Bahkan Hell Boys yang baru turun dari mobil segera berlari menerobos kerumunan itu. Dan kaget melihat Sakura yang duduk lemas didepan sebuah mobil.
"Sakura, kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke sambil mendekati Sakura.
"Aku tidak apa-apa, hanya kaget saja." Kata Sakura mencoba berdiri dengan dibantu Sasuke.
Semua siswi penggemar Sasuke mulai menangis gaje melihat keromantisan SasuSaku. Begitu juga dengan kedelapan orang yang tahu mereka berdua tidak pernah akrab.
"Sakura, kau tidak apa-apa?" Tanya seorang perempuan berambut silver bermata hitam yang keluar dari mobil BMW itu dengan nada khawatir.
"Mi… Miku-San." Kata Sakura kaget.
Nama: Yura Miku
Umur: 17 Tahun
Data diri: Sekretaris Kepala Sekolah Cherry Blossoms High School, walaupun mempunyai umur setara anak-anak sekolah tapi dia sekarang sudah kuliah di Suna University tingkat 3 karena selalu mengikuti kelas akelerasi sejak SMP.
"Kau tidak apa-apa, Sakura-Chan?" Tanya seorang laki-laki berambut merah dan mempunyai warna mata sama seperti Sakura(emerald) yang juga keluar dari mobil tersebut.
"Gaara-San." Teriak Heaven Girls bersamaan.
Nama: Sabaku No Gaara
Umur: 18 Tahun
Data diri: Walau berumur masih muda, tapi sudah dipercaya menjadi Kepala Sekolah Cheery Blosoms High School oleh para pejabat. Kuliah di Suna University tingkat ketiga dan sama seperti Miku, Gaara juga mengikuti program akselerasi sejak SMP. Salah satu pewaris Sabaku Coperation.
"Dan bisa kau jauhkan tanganmu dari Sakura-Chan sekarang?" Kata Gaara sambil menatap tajam Sasuke yang masih menahan tubuh Sakura dengan tangannya.
Sasuke melepaskan tangannya dari Sakura, dan seketika itu juga Gaara menarik tangan Sakura. Sehingga posisi Sakura sekarang berada disebelah Gaara dengan tangan Gaara menggenggam erat tangan Sakura, Sasuke merasa cemburu melihat itu tapi dia menyembuunyikannya.
"Aneki, kau bisa ceritakan apa saja yang sudah kalian lakukan disini. Terutama tentang siapa laki-laki yang mendekati Sakura-Chan." Kata Gaara sambil menatap Temari.
"Baiklah, nanti aneki ceritakan." Kata Temari pasrah.
Dan berlalu lah Gaara, Miku dan Sakura yang pergi karena diseret Gaara. Hell Boys memandang Temari dengan tanda muka penuh pertanyaan.
"Aneki? Dia adikmu yah?" Tanya Shikamaru menatap tajam.
"Iya…" Kata Temari peendek.
"HAH…." Hell Boys kaget bersamaan.
"Kenapa kalian terkejut begitu?" Tanya Temari.
"Kalau dia adikmu berarti masih muda donk, bagaimana bisa dia menjadi Kepala Sekolah dalam umur semuda ini?" Tanya Neji.
"Jangan menghina, dia sekarang sudah mahasiswa tingkat tiga di Suna University dan lagi pula dia termasuk genius di Suna. Oleh karena itu dia selalu masuk kelas akselerasi dan dia melakukan itu semua katanya hanya untuk Sakura." Kata Temari.
"Untuk Sakura? Jangan-jangan Gaara menyukai Sakura?" Kata Naruto sambil berteriak sehingga siswa dan siswi yang sedang berkumpul disana menatap mereka. Dan ada sebagian yang bergosip soal ini.
"Dasar Baka Dobe." Kata Sasuke menarik Naruto dari sana di ikuti ketujuh orang lainnya.
Apa yang akan Gaara lakukan saat tahu kedekatan Gaara dengan Sakura? Dan benarkah Gaara menyukai Sakura? Lalu kenapa Gaara yang adiknya Temari umurnya bisa sama dengan Temari? Akan terjawab dichap Selanjutnya.
oOo To Be Continued oOo
Ry: Akhirnya chapter ini selesai juga. Dan maaf dichapter ini aku gx bisa bales coment kalian soalnya updatenya disekolah jadi gx bisa lama-lama… Dan sekali lagi maaf lw mengecewakan dan ceritanya aneh… m (_ _)m
Rin: Akhir kata untuk para Authors and Readers 'PLEASE REVIEW'.
