Naruto © Masashi Kishimoto

Allergy or Love written by RenJeeSun

Rated: M (for Theme)

Genre: Romance, Hurt/Comfort.

Pairing: SasuNaru.

warning: AU, Yaoi, BL, Gaje, OOC (sangat), OC, typo bertebaran, No Bashing, dll.

Well, if you Don't like, don't read!

::A::C::SN::J::S::

.

::A::C::SN::J::S::

.

Terkejut adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi yang sedang Naruto alami. Ketika ia kedatangan tamu tak diundang di kamarnya dan tidak ia kenal. Walaupun Kyuubi berkata sebaliknya. Tapi tetap saja, sekarang ia tidak mengenal laki-laki yang dengan seenaknya masuk ke kamarnya ini.

"Dari mana kau datang?" tanya Naruto sengit.

"Kalau Ibuku ada di sini, kau bisa bertanya padanya," sahut Sasuke dengan nada riang.

Mendengar pernyataan kurang ajar itu Naruto melotot dengan rona tipis di wajahnya, dan dengan nada bersungut-sungut ia kemudian mengganti pertanyaanya, "Apa yang kau lakukan di kamarku?"

"Tidur," jawab Sasuke sekenanya.

Naruto mengernyit, lalu menegaskan, "Ini kamarku!"

"Aku tahu."

"Kenapa kau tidur di kamarku?"

"Apa tidak boleh?" Sasuke malah bertanya balik. Dan itu langsung menyulut kemarahan Naruto.

"Tidak. Dan keluar dari kamarku. Sekarang!" seru Naruto. Mungkin kalau Naruto bisa menyemburkan api kemarahannya, Sasuke sudah terbakar sejak tadi.

Namun karena Naruto bukan naga dan Sasuke bukanlah seorang yang penurut, dengan kegembiraan yang tak ditutup-tutupi Sasuke malah tersenyum—menyeringai lebih tepatnya, anehnya merasa terhibur dengan kemarahan Naruto.

"Tapi aku suka di sini," tukasnya dengan nada sepolos mungkin. "Apalagi," tambahnya, matanya menyusuri tubuh Naruto yang terbaring di bawahnya, "seperti ini."

Naruto melotot, mengerti bahwa laki-laki di atasnya ini menggodanya, dan malah membuatnya merona, ketika Sasuke mengingatkan posisi mereka yang terlihat intim.

Namun, Naruto juga teringat dengan reaksi aneh tubuhnya jika di dekat Sasuke. Reflek membuatnya mencoba untuk lepas dari kurungan tangan Sasuke secepat mungkin. Naruto berusaha mendorong Sasuke untuk menyingkir dari atasnya.

"Minggir!" Akan tetapi, sepertinya Sasuke tidak berniat untuk melepaskan Naruto, terbukti ketika Sasuke dengan sigap meraih kedua pergelangan Naruto dan menekannya di kedua sisi kepala Naruto.

"Lepas, Brengsek! Kau mau apa? !" hardik Naruto kasar, tak terima ketika Sasuke ingin menunjukkan kekuasaan atas dirinya.

"Oh, tenanglah, aku berjanji tidak akan bersikap tidak pantas padamu," sahut Sasuke ringan.

Mata biru itu menggelap, menatap Sasuke tajam, "Apa maksudmu dengan tidak pantas?"

Sasuke menyeringai dengan tidak sopan. "Sesuatu yang mungkin akan kau… sukai?"

"Tidak ada yang aku sukai jika menyangkut dirimu!" balas Naruto ketus.

"Benarkah?" gumam Sasuke skeptis. "Dari mana kau tahu? Bukankah kau bilang kau tidak mengenalku?"

"Memang," ujar Naruto, "tapi itu bukan jaminan. Sekarang minggir! Lepaskan aku, Sialan!"

Tapi tetap Sasuke tak menggubris Naruto dan malah menatap lekat-lekat Naruto yang balas memandangnya penuh benci.

Namun Sasuke melengkungkan seulas senyum tipis menyebalkan, "Melepaskanmu?" tanya Sasuke, menaikan satu alisnya. "Sayangnya aku tidak ingin." Lalu Sasuke semakin mendekatkan mulutnya pada telinga Naruto, berbisik pelan, "Kau terlalu berharga untuk di lepaskan, apa kau sadar itu?"

Tanpa bisa ditahan senyum Sasuke berubah menjadi seringaian lebar, ketika merasakan tubuh Naruto bergetar dan membeku akibat perbuatannya. Yang membuat Sasuke langsung menyerukkan wajahnya pada perpotongan leher Naruto, menghirup wangi khas Naruto lama-lama.

Indra penciumannya menangkap aroma manis dari tubuh Naruto. Entah itu aroma sabun mandi atau parfum, yang jelas Sasuke hanya ingin berlama-lama menikmati aroma itu—aroma yang nikmat. Yang tanpa bisa dicegah langsung menghangatkan aliran darahnya, memanaskan tubuhnya. Ia mengecup denyut cepat yang berada di leher Naruto, dan tanpa sadar menggeram pelan. Ketika hal itu malah meningkatkan gairahnya. Dan Sasuke mulai menyesapnya di titik yang sama. Dan tahu bahwa hal itu membuat Naruto tercekat, membisu, terlalu takut dan terkejut dengan perasaan baru yang dirasakannya melalui sentuhan Sasuke. Tapi Sasuke belum berhenti dan malah menelusuri rahang Naruto dengan bibirnya melalui sentuhan-sentuhan ringan yang menyiksa.

Sasuke tak memungkiri bahwa apa yang dilakukanya ini menyenangkan—sangat. Sesuatu seperti inilah yang sangat ingin ia lakukan—sejak dulu. Dan ketika ia mendapat kesempatan, tidak ada yang akan Sasuke lakukan selain membuat angan-angannya menjadi kenyataan. Seperti sekarang.

Apalagi setelah menatap mata biru yang menyorot marah padanya, tapi tak membuat Sasuke gentar dan malah semakin membakar api dalam diri Sasuke. Membuatnya berhasrat untuk melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma masyarakat yang selama ini ayahnya selalu ajarkan padanya. Dan tentu saja reputasinya selama ini telah membuktikan bahwa ayahnya sama sekali tidak berhasil menjejalkan ajaran itu padanya.

Naruto saat ini terlalu menakjubkan bagi Sasuke dan… terlalu dekat. Perasaannya meluap senang, nyaris membuatnya hilang kendali. Seperti yang sudah dia bilang pada Itachi kemarin, tidak peduli sekarang Naruto melupakannya atau tidak mengingatnya, itu bukan lagi prioritasnya. Yang terpenting Naruto di sini. Bersamanya. Dan yang lain menjadi tidak penting lagi.

"Hentikan." Suara parau terdengar. Membuyarkan konsentrasi Sasuke dan gerakannya berhenti. Ia mengangkat wajahnya menatap mata biru menghiptonis itu sekali lagi. Tanpa tahu hal itu langsung meruntuhkan rasa senangnya.

Bukan hal seperti ini yang ingin Sasuke lihat atau bayangkan, tidak dengan Naruto yang menatapnya dengan ekspresi kesakitan. Tapi apa yang salah? Ayolah… Sasuke tidak menyentuh Naruto lebih sekedar sentuhan ringan. Dan tidak menyakitkan. Belum.

"Menyingkir dariku," kata Naruto, mendesis di sela gigi yang terkatup rapat, dan menahan napas akibat kebutuhan mendesak dari tubuhnya.

Tapi Sasuke tak bergerak, ekspresinya sedikit melunak, khawatir. "Kau kenapa?" tanya Sasuke keheranan.

Naruto berdecak kesal, ketika Sasuke tak juga mau menurutinya. Padahal tubuhnya sudah tak kuat menahan siksaan akibat gejala alerginya yang kambuh. Itu benar, karena sejak Sasuke mulai menyentuhnya, alergi yang sejak kemarin ia usahakan tidak mengganggu aktivitasnya mulai kambuh. Dan sebenarnya efek alergi itu lebih mendominasi daripada perasaan baru yang terjadi akibat sentuhan dingin Sasuke. Ia bergetar akibat menggigil, yang lagi-lagi ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Keadaan yang selalu menimbulkan tanda tanya besar di benaknya ketika alergi itu merespon kedekatannya dengan Sasuke. Logikanya bahkan tak bisa menjangkau jawaban atas kejadian tidak biasa itu.

Tapi satu hal yang Naruto mengerti betul, dia harus menghindari laki-laki ini.

Sekarang.

Dan menendang perut Sasukelah satu-satunya cara yang terpikirkan oleh Naruto untuk membuat Sasuke menyingkir dari atasnya. Yang dengan indahnya membuat Sasuke terpental dan mendarat di lantai dengan bokong terlebih dahulu. Tak heran kalau umpatan kesakitan langsung saja terlontar dari mulutnya.

Tendangan Naruto yang cukup kuat pada perutnya itu membuat Sasuke merasa sesak sesaat, hingga wajahnya memerah. Tapi rasa sakit itu juga diiringi kebingungan yang berputar dikepalanya ketika melihat Naruto yang sibuk bersin-bersin. Setelah rasa nyeri di perutnya sedikit menghilang Sasuke mendekat, namun langsung mendapat delikan tajam dari Naruto.

"Jangan dekat-dekat!" sengit Naruto, "Kau ini harus berapa kali kubilang untuk tidak dekat-dekat denganku, HAH? Kau itu membuatku sakit! !"

Sasuke membeku. Terlalu terkejut ketika mendengar penghinaan itu. Well, dituduh membawa penyakit memang penghianaan, bukan?

Tak peduli dengan Sasuke yang masih membisu, Naruto sibuk sendiri membersit hidungnya. "Bagaimana bisa kau berada di kamarku?" tanya Naruto lagi disela kegiatannya.

Sasuke berkedip. "Ibumu mengizinkan aku untuk beristirahat di sini," jawabnya, masih keheranan, "dan itu berarti Ibumu tidak berpikir aku membawa penyakit apa pun, kau tahu? Yang artinya kau tidak berhak menuduhku membawa penyakit ke rumah ini."

Naruto mendongak, menatap Sasuke yang berdiri menjulang di depannya dan memiringkan kepalanya sedikit, "Huh? Siapa yang mengatakan kau membawa penyakit? Dan memangnya, sejak kapan kau kenal Ibuku?"

Sesaat Sasuke tak menjawab, otaknya berusaha mencerna apa yang dikatakan Naruto barusan, menganalisis keadaan Naruto yang tiba-tiba jauh dari kata sehat. Wajah pucat dan hidung merah, serta bersin yang sulit berhenti. Dengan hati-hati Sasuke bertanya, tidak menyembunyikan nada khawatir di dalamnya.

"Kau kenapa sebenarnya?"

Naruto menekan hidungnya menggunakan telunjuk dan ibu jarinya. "Aku tidak tahu…" kata Naruto, lalu mengumpat lagi, mengutuk bersin yang terus menyertainya. "Aku tidak tahu, Brengsek! Aku tidak tahu kenapa alergiku kambuh saat kau di dekatku!"

Sasuke sontak terdiam. Bingung dengan pernyataan tidak biasa dari Naruto. Ini hal baru baginya. Well, memang biasanya kehadiran Sasuke berpengaruh untuk menimbulkan penyakit, tapi penyakit moral, bukan fisik seperti yang dialami Naruto. Jadi, otak yang selalu dikatakan jenius oleh semua orang kini mulai berpikir. Apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi situasi tidak biasa semacam ini, yang tentu saja berkaitan erat dengan pendekatan yang akan ia lakukan terhadap manusia pirang favorite-nya dan terancam gagal. Sepertinya dia harus membuat rencana baru.

"Kenapa kau masih berdiri di sana? Apa kau belum mengerti juga! ?" bentak Naruto kasar. Lalu menunjuk ke arah pintu di sebelah kanannya. "Pergi kau! Sekarang!"

Sasuke hendak membuka mulutnya untuk merespon, namun kembali menutup mulutnya. Ketika Sang nyonya rumah tiba-tiba saja memasuki kamar.

"Naruto! Kenapa kau teriak-teriak terus sejak tadi?" bentak Sang Nyonya rumah tak sabar.

Naruto sedikit tercengang karena kedatangan sang ibu yang tiba-tiba dan langsung mengomelinya. Ia langsung mencoba menjelaskan,"Itu karena—"

Perkataan Naruto berhenti ketika Kushina mengacungkan jarinya, mengisyratkan Naruto untuk diam, membuat Naruto langsung cemberut. Kushina mengalihkan tatapannya pada Sasuke.

"Oh, Sasuke. Maafkan Naruto, dia tidak tahu apa yang dibicarakannya."

"Ibu!"

Namun Kushina melotot pada Naruto, dan melanjutkan, "Ibu yang menyuruhnya untuk istirahat sebentar di kamarmu, karena kamar tamu belum dibersihkan dan Kyuubi tidak suka jika ada orang lain tidur di kamarnya."

"Aku juga tidak!"

"Oh, kau harus. Karena tadi Ibu kebetulan bertemu Sasuke di supermarket langganan dan dia sudah berbaik hati membantu Ibu berbelanja disaat semua orang pergi. Jangan biarkan rumor beredar tentang keluarga Namikaze yang tidak tahu terimakasih. Mengerti, sayang?"

Mendengar pembelaan ibunya untuk Sasuke, amarah Naruto menggelak. Lagi-lagi menatap Sasuke penuh kebencian. Yang hanya mendapat balasan ekpresi tak terbaca dari Sasuke, namun Naruto bisa melihat sorot mata Sasuke memancarkan kemenangan. Dasar penjilat! rutuk Naruto dalam hati.

Melihat suasana tegang di antara kedua pemuda itu, Kushina mengernyitkan dahi. "Well, Ibu pikir kau sudah melupakan Sasuke, tapi sepertinya…."

Tanpa melepas tatapannya pada Sasuke, Naruto tersenyum dingin. "Aku lupa Ibu," sergah Naruto, seolah tiga kata itu bisa menjelaskan lebih dari yang terdengar.

Sejenak ruangan di sekeliling mereka menjadi lebih dingin. Kushina mengabaikan perasaan tidak nyaman yang entah datangnya darimana, dan kemudian menarik pelan lengan Sasuke untuk mendapat perhatian lebih saat Sasuke masih terpaku menatap anaknya.

"Sasuke, bisakah kau menemani Bibi di bawah sebentar? Dan tentang Naruto, jangan hiraukan dia, oke? Dia hanya bercanda."

Tanpa memedulikan Naruto yang nyaris menganga lebar mendengar perkataannya, Kushina membawa Sasuke keluar dari kamar. Ketika hendak menutup pintu Kushina kembali membuka suara, menarik perhatian anaknya.

"Apa kau sudah tahu bahwa Sasuke adalah tamu kita?"

Naruto menatap ibunya tanpa berkedip, lalu menggeleng tak tentu.

Senyum manis terukir di bibir Kushina, "Oke, sekarang kau tahu." Dan pintu tertutup.

Beberapa detik kemudian Naruto mengerang frustasi. "Siapa saja tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Dan tentu saja tidak mendapat jawaban apapun. Namun masih sempat bersyukur, ketika ketegangan dan kebingungan yang dialaminya berpengaruh baik pada alerginya yang entah sejak kapan hilang.

Hampir sekiranya setengah jam kemudian kediaman Namikaze kembali kedatangan tamu. Kushina yang sedang sibuk memasak di dapur dengan dibantu dua orang pelayan, menyuruh Naruto menyambut tamu. Naruto yang sejak tadi hanya memerhatikan sang Ibu memasak bersama lelaki pembuat masalah dalam hidupnya mengobrol ringan di dapur, beranjak dari sofa beledu yang sejak tadi ia gunakan untuk bersantai, memenuhi perintah Sang Ibu tak lupa dengan gerutuan kesal.

Pintu terbuka, Naruto memandang heran tamu yang datang. Dan tamu itu tersenyum ramah padanya.

"Kau Naruto, iya kan?"

Naruto mengangguk, memerhatikan sosok pria dewasa di depannya dari atas hingga bawah.

"Dan kau…?"

"Itachi. Uchiha Itachi, aku diundang Kushina-san malam ini."

Naruto berusaha keras untuk tidak memutar bola matanya. Tentu saja Uchiha. Memangnya siapa lagi yang bisa memliki mata hitam kelam dan ekpresi super datar? Pastinya keluarga lelaki penjilat yang ada di dapur saat ini.

Naruto tanpa berkata apapun mempersilahkan Itachi masuk dengan sikap acuh tak acuh. Itachi mengikutinya dan kemudian Naruto mengumumkan kedatangan Itachi pada ibunya.

Mendengar kedatangan Itachi, Kushina melepas celemek yang dikenakannya dan berjalan menyambut Itachi dengan senyuman cerah.

"Oh, kau masih setampan yang aku ingat, Itachi," ujar Kushina memberikan sebuah pelukan hangat yang dibalas lembut oleh Itachi.

"Dan wanita secantik Anda selamanya akan tetap menjadi tipe idamanku, Kushina-san," gurau Itachi yang langsung mendapat gelak tawa Kushina.

"Astaga! Kemampuan merayumu belum berkarat rupanya."

"Tidak akan pernah jika menyangkut wanita secantik Anda."

Tawa Kushina berderai riang di ruangan itu. Sedangkan Sang anak meringis jijik. Bagus… dua orang penjilat dalam satu tempat, pikir Naruto ngeri.

"Hentikan kegemaranmu merayu istri orang Itachi. Jika paman Minato mendengarnya, dia akan mencekikmu," ujar Sasuke sinis. Tidak heran dengan kedatangan Itachi, kerena memang ia sudah mengabari keadaannya yang berada di rumah Naruto terlebih dahulu tadi.

Itachi berpaling pada Sasuke. "Ah, aku yakin paman Minato akan melakukannya," sahut Itachi ringan, namun ekspresinya serius.

Dan tiba-tiba saja seseorang memasuki percakapan mereka.

"Apa yang akan kulakukan?"

Kushina yang mendengar suara Minato, berjalan cepat ke arah suaminya. Dengan tawa yang masih terdengar, Kushina menyambut Minato dengan ciuman ringan di pipi. Minato membalasnya dengan kecupan lembut di bibir istrinya, membuat pipi Sang nyonya rumah merona cantik. Dan untuk beberapa saat pasangan suami istri itu berbagi tatapan intim yang nyaris membuat seluruh dunia iri. Benar-benar menebar aura kemesraan di mana-mana.

"Well, kurasa kau tidak perlu khawatir adikku, sayang. Aku sangat menghindari pernikahan yang harmonis, kau tahu?"

Sasuke hanya memberikan tatapan skeptis.

Minato menatap Itachi dengan sorot terhibur, seketika itu juga mengerti apa yang menjadi pembicaraan di antara tamunya. "Kurasa aku akan memegang kata-katamu Itachi. Aku tidak akan pernah siap kehilangan Tomat tercintaku ini." Kushina semakin tersipu, ketika suaminya memanggilnya dengan panggilan sayang di depan tamunya dan Minato sekali lagi memberikan kecupan ringan di pelipis kiri wanita yang dicintainya.

Itaci membalas perkataan Minato dengan bungkukan formal. "Yes, my Lord."

Kushina tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya mendengarkan lelucon konyol yang terus mengalir di antara para pria di depannnya. Namun, tanpa sedikit pun Naruto ikut ambil bagian dalam percakapan tersebut dan lebih merasa tersisih sebenarnya. Memilih menyibukan diri dengan bertukar pesan singkat dengan entah siapa dari ponselnya.

.

::A::C::SN::J::S::

.

"Aku tidak menyangka kau akan mengatakan kebohongan itu pada Naruto."

Tangan Kyuubi berhenti bergerak, siap untuk mengaitkan kancing di bagian dada kemeja putihnya. "Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya?" sahut Kyuubi sinis dan meneruskan untuk mengancingkan kemejanya, lalu mengambil jas biru gelap dari lemari pakaian di depannya untuk kemudian langsung di kenakannya.

Deidara berdecak, "Bukan itu maksudku! Kau 'kan bisa mengarang hal yang lebih bagus lagi. Apa-apaan itu terpeleset kulit pisang?"

"Dasar bodoh." Kyuubi malah mengejek Deidara, menimbulkan urat kekesalan muncul cepat di dahi Deidara. "Hal diluar logikalah yang malah akan di percaya olehnya. Coba kau pikir… kalau aku mengatakan hal yang masuk akal, maka dia akan terus bertanya. Dan itu sangat menyebalkan, mengerti tidak?"

"Ya ampun!" Deidara tidak menyembunyikan keterkejutannya. "Jadi kau mengarang semua tadi hanya untuk kepentinganmu sendiri? Hanya karena kau tidak ingin direpotkan oleh beberapa pertanyaan?"

Kyuubi tidak menjawab, ia hanya mengangkat bahu, lalu melenggang pergi dari kamarnya. Saat ini dia memang sedang bersiap menghadiri acara makan malam yang diadakan ibunya, meninggalkan Deidara yang terbengong-bengong di belakangnya.

Sebelum Kyuubi benar-benar pergi, ia teringat dengan Deidara yang masih menginap di tempatnya. "Dei, sebaiknya hari ini kau pulang. Aku tidak mau—"

Perkataan Kyuubi terpotong, ketika mendengar suara bell pintu berbunyi. Sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa tamu yang datang tanpa di undang itu Kyuubi berjalan untuk menyambut tamu.

Begitu pintu terbuka wajah ceria Ino-lah yang membuat Kyuubi langsung kembali menutup pintunya dalam hitungan satu detik kemudian. Hal itu langsung membuat Ino yang berada di sisi lain pintu protes, dengan menggedor pintu apartemen Kyuubi sambil berteriak minta dibukakan pintu.

Kyuubi mengumpa, sangat menyesal karena dia tidak mengecek tamu menggunakan layar keamanan sebelumnya. Ia tidak tahu mengapa Ino bisa datang ke apartemennya sekarang, karena sebelumnya dia memang tidak ada janji dengan Si wanita cerewet satu itu. Apalagi di saat seperti ini. Memang sih, Ino tinggal dua lantai di bawah Kyuubi, tapi itu bukan berarti Kyuubi selalu suka dengan kedatangan mendadak Ino.

Namun, karena Kyuubi tidak ingin sampai mengundang petugas keamanan karena keributan yang dibuat kakaknya itu, akhirnya Kyuubi dengan berat hati kembali membuka pintu, tepat sebelum Ino hendak menendang pintu.

"Mau apa kau kemari?" ketus Kyuubi, nyaris berteriak.

Ino cemberut, tidak terima dibentak-bentak. "Apa begitu caramu menyambut tamu?" sahut Ino sinis, "dan tolong turunkan nada suaramu di depan Shion."

Kyuubi sontak mengalihkan pandangan ke bawah, di mana seorang gadis kecil berambut pirang sedang balas menatapnya dengan kerutan tidak suka. Kyuubi mendengus, dengan senyum dipaksakan Kyuubi berkata, terdengar sangat tidak ikhlas. "Shion, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentak Ibumu, oke?"

Gadis kecil berusia lima tahun itu memberikan tatapan kesal pada Kyuubi lalu memalingkan muka. Kyuubi berdecak melihat keponakannya itu melakukan aksi ngambek, dan akhirnya mempersilahkan ibu dan anak itu memasuki apartemennya.

Mendadak Shion langsung berlari semangat ke arah sosok Deidara yang sedang berdiri entah sejak kapan di belakang Kyuubi.

"Dei-chan!" seru Shion semangat, memeluk paman kesayangannya itu.

"Oh, hei! Sweety! Pelan-pelan kau bisa tersandung, 'kan?"

"Kapan kau pulang? Kenapa tidak ke rumah? Sejak kapan kau tiba di Konoha? Kenapa tidak pernah bermain dengaku lagi? Apa kau lupa padaku?"

Deidara yang dibrondong pertanyaan oleh Shion langsung tertawa. Gadis cilik ini memang suka sekali menempel pada Deidara, jika tidak ada Naruto di sekitarnya. Deidara sendiri sebenarnya memang habis pulang dari luar kota, sehabis melakukan riset dari tugas kuliahnya, dan baru kembali dua hari yang lalu.

"Ternyata kau rindu sekali padaku, ya? Biasanya kau hanya ingin di dekat Naruto," goda Deidara.

"Iya, tapi 'kan Paman Naru tidak ada di sini," kata Shion dengan polosnya, mengisyaratkan Deidara hanya sekedar pengganti.

Deidara memasang wajah seolah-olah terluka, sambil menangkupkan kedua tangannya di dada, "Oh… hatiku terluka." Yang disambut gelak tawa riang dari Shion, karena mengerti pamannya itu hanya bercanda.

Selanjutnya Shion menarik tangan Deidara dan membawanya menuju ruang duduk, dan lalu berceloteh entah apa berdua. Meninggalkan dua orang dewasa lainnya yang saling bertatapan. Hanya saja Kyuubi yang menatap Ino penuh kecurigaan dan dibalas tatapan malas polos dari Ino.

"Jadi," ujar Kyuubi, "apa alasanmu kemari?"

Ino menaikkan satu alis, "Itu sudah jelaskan? Kau tidak berpikir Ibu tidak mengikut sertakan aku dalam makan malam ini, iya kan?"

Kyuubi hendak membuka mulut, namun Ino tidak memberikan kesempatan untuknya bicara. "Oh, iya, seperti yang kaupikirkan saat ini, aku kemari karena di suruh Ibu untuk berangkat bersamamu," kata Ino, menebak apa yang hendak dikatakan Kyuubi.

Kyuubi sudah menggretakkan giginya karena kesal, dan tanpa berkata apa pun langsung menyambar kunci beserta dompetnya di meja, lalu melesat keluar. Sesaat Ino mematung, awalnya merasa heran dengan Kyuubi yang terburu-buru dan sedetik kemudian ia terpekik kaget, ketika sadar Kyuubi akan meninggalkannya. Dengan cepat ia langsung menyambar tangan Shion, tanpa memedulikan rengekkan Shion dan bergegas menyusul Kyuubi.

Dan Deidara hanya melambaikan tangan mengantarkan kepergiaan para saudaranya yang sama sekali tidak ditanggapi.

.

.

.

Kyuubi sadar sejak dua menit setelah kedatangan Ino di apartemennya, ia tahu bahwa makan malam kali ini tidak biasa. Dan semakin paham kenapa Ino terlihat begitu bersemangat dengan makan malam hari ini—yang biasanya tidak jika menyangkut rekan bisnis Minato. Kyuubi dengan sangat tepat bisa menebak siapa tamu yang diundang ibunya ke rumah. Sayangnya walaupun sangat ingin melewatkan makan malam kali ini, namun kemarahan Sang ibu mengurungkan niatnya.

Benar saja. Ketika dia bersama Ino memasuki ruang tamu, di sana telah duduk orang tua dan juga adiknya, bersama dengan dua makhluk yang paling tidak ingin Kyuubi lihat. Dua orang Uchiha berada di rumahnya dan memberikan padanya tatapan tanpa emosi seperti biasa.

Namun yang sedikit membuat Kyuubi lega adalah ketika melihat ketidaksukaan Naruto terhadap dua tamu yang ada. Setidaknya dia tidak menghadapi ini sendirian.

Kushina langsung menyambut ceria kedatangan anak dan cucunya. Yang kemudian dilakukan perkenalan duo Uchiha dengan Ino, sebelum sepuluh menit kemudian acara makan malam sederhana itu dimulai. Kushina pun menceritakan siapa sebenarnya Ino pada Itachi, yang merupakan anak angkat mereka setelah kedua orang tua Ino meninggal. Ino menjadi bagian dari keluarga karena saat itu Minato tidak tega menelantarkan seorang gadis remaja tanpa pengawasan yang jelas. Sedangkan satu-satunya gadis kecil di situ langsung menghambur ke pelukan Naruto dengan riang. Tidak menyia-nyiakan menempati pangkuan Naruto saat duduk. Tanpa tahu mendapat lirikan iri dari seorang bungsu Uchiha.

Dapat diketahui dalam percakapan tersebut, duo Uchiha memiliki tujuan untuk membantu pengembangan perusahaan mereka di Konoha yang belakangan dalam keadaan kurang stabil, dan Itachi-lah yang harus turun tangan langsung untuk memperbaikinya. Yang sebenarnya tidak terlalu perlu dan tidak diungkapkan dalam percakapan. Serta pengakuan Itachi bahwa dia juga mengawasi Sasuke yang memilih meneruskan kuliahnya di Konoha. Tentu saja tanpa mengungkapkan tujuan sebenarnya atas pilihan Sasuke itu. Dan pembicaraan itu berlangsung tanpa adanya niat sedikit pun Kyuubi atau Naruto untuk mengomentari hal tersebut.

Namun, obrolan itu berhenti sampai acara makan malam dimulai, dan dengan tenang mereka semua menikmati hidangan yang telah disediakan. Akan tetapi, pada akhirnya, suara Nyonya rumah kembali membuka percakapan.

"Oh, ya, Itachi. Bagaimana kabar Iva? Berapa umurnya sekarang?"

Semua orang nyaris menghentikan kegiatan makan mereka, terkecuali Naruto yang hanya menunduk dan tetap berkutat dengan sup yang hanya berkurang sedikit. Selain karena kurangnya ketertarikan akan hadirnya dua orang tamu di rumahnya, Naruto juga terus saja disibukkan dengan menerima beberapa celotehan Shion. Yang sedikit banyak mengurangi suasana suram hatinya.

Tatapan Itachi melembut dengan ingatan seorang gadis kecil berlarian di benaknya. "Sekitar enam tahun tiga bulan, dan sedang menyukai seekor kuda poni yang ada di pertenakan kami di Suna. Kuda itu hadiah dari Ibuku untuknya."

"Gadis kecil yang beruntung. Ditambah dengan Mikoto yang selalu menginginkan anak perempuan, kurasa dia cukup dimanjakan."

"Sangat. Ibu selalu memberikan apa yang dia inginkan," gerutu Itachi.

Kushina tersenyum, "Bisa kubayangkan."

"Aku juga ingin punya kuda poni!" seru suara cempreng tiba-tiba, yang ternyata ikut menyimak percakapan orang dewasa di sekitarnya.

Ino menggeleng penuh peringatan pada anaknya. "Kau sudah mendapat kelinci putih sebagai peliharaan saat ulang tahunmu dua bulan lalu. Jangan meminta hal yang tidak perlu Shion. Dan makan makananmu."

Melihat tatapan tajam Ibunya, Shion langsung cemberut dan menunduk, memakan sup di piringnya dengan pelan. Di ikuti tawa maklum dari yang lain dan belain Naruto di kepalanya.

"Omong-omong soal peternakkan," ujar Minato, menatap Itachi penuh minat. "Apa kau ingat liburan terakhirmu di peternakkan kami Itachi?"

"Maksud paman peternakkan Namikaze di daerah Ama (pedesaan di Konoha)?" sahut Itachi, "Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Itu kenangan yang sangat menyenangkan. Oh, bagaimana keadaan Oscar?"

Minato teringat kuda jantan coklat yang di kepalanya terdapat sebuah bulu putih berbentuk nyaris seperti bintang. Salah satu kuda yang menjadi kebanggaan peternakan Namikaze, karena merupakan jenis keturunan terbaik dan telah memenangkan beberapa pertandingan balap kuda secara nasional. Dan dulu Itachi memang sangat suka berolahraga dengan kuda tersebut.

"Si tua Oscar," kata Minato, ekspresinya berubah murung, "dia sudah pensiun saat ini, biasanya dia dibiarkan menikmati suasana alam bebas. Tapi akhir-akhir ini pengurus istal melaporkan kesehatannya yang menurun drastis."

"Oscar yang malang. Aku jadi ingin melihatnya. Yah… setidaknya dia bisa menikmati hari tuanya dengan nyaman," kata Itachi dengan rasa simpati yang tulus.

"Well, karena kau sudah mengatakannya kenapa kau tidak mengunjunginya saja? Aku pikir dia mungkin merindukanmu."

Itachi menatap lekat Minato, "Apa kau yakin, Paman?"

"Kenapa tidak? Dulu kau suka sekali menghabiskan waktu luangmu di sana. Dan karena kau sudah kembali ke kota ini, tidak ada salahnya sekalian berkunjung, bukan?"

"Itu betul, Itachi," timpal Kushina, "Ah, atau anggap saja kau dan juga Sasuke bisa berlibur di sana lagi?"

Itachi tersenyum tipis, penuh rasa terimakasih. "Kalian terlalu baik. Kurasa kami tidak akan menyia-nyiakan tawaran menyenangkan ini, betul begitu 'kan Sasuke?"

Sasuke yang ternyata sejak tadi tidak terlalu fokus dengan percakapan di sekitarnya, sedikit tersentak. Namun tetap bisa menjaga ekpresi tenangnya. "Tentu saja, terimakasih tawarannya, Paman, Bibi," jawabnya, tanpa antusiasme seperti yang dirasakan Itachi.

Minato mengibaskan tangan sambil berdecak ringan, "Itu hal biasa yang dilakukan sebuah keluarga, Nak."

"Sepertinya, sudah terjadi kesepakatan di sini." Ino ikut membuka suara, dan langsung mendapat perhatian dari yang lain. Termasuk Kyuubi yang kini menatap tajam Ino, bersikap waspada terhadap apa yang akan dikatakan Ino—si kakak penggosip—namun tentu saja diabaikan oleh wanita pirang itu.

"Kau juga bisa ikut kalau mau, Ino-san," saran Itachi.

Ino tanpa sadar meringis, "Aku mau. Tapi tidak, itu tidak mungkin."

"Kenapa, sayang?" tanya Kushina perhatian.

"Sai, Ibu." Ino terdengar nyaris merengek, "Dia tidak akan membiarkan aku berada dekat dengan peternakkan saat aku hamil. Itu peraturannya. Padahal aku yakin tidak akan berbahaya sama sekali jika aku menikmati suasana perbukitan dari atas balkon estat Namikaze di sana."

"Itu tidak berbahaya. Memang. Tapi kecenderunganmu yang tidak suka berdiam diri lebih dari lima menit itu yang berbahaya," tukas Kyuubi lugas, "Tidak ada yang menjamin kau akan menikmati suasana hanya dalam waktu beberapa menit dan tiba-tiba menghilang untuk satu jam kemudian ditemukan di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Aku setuju dengan suamimu sekali ini."

Ino melotot tajam pada Kyuubi. "Tidak ada yang meminta saranmu, Kurama, sayang," balas Ino ketus.

"Eh, tapi Ayah setuju dengan Kyuubi," sahut Minato dengan kernyitan khawatir di keningnya, ketika dia bisa membayangkan apa yang dikatakan Kyuubi.

Ino mendesah pasrah dengan sikap khawatir berlebihan para pria di keluarganya. "Baiklah, aku tidak akan ikut. Lagi pula Shion membutuhkan aku. Apa kalian puas?"

Minato mengangguk senang mendengarnya. Bersamaan dengan Kyuubi yang menyeringai penuh kememenangan sambil meminum segelas air.

"Tunggu sebentar," sela Itachi spontan, "aku pikir Kyuubi suamimu Ino-san."

Kyuubi tiba-tiba tersedak air minumnya, dan terbatuk-batuk. Nyaris semua orang menatap Itachi lekat dan terbahak bersama kemudian. Kecuali Shion dan Sasuke. Shion karena masih memikirkan kuda poni, dan Sasuke yang paham hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan dia.

"Astaga! Itu gurauan yang sangat lucu Itachi-san. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" kata Ino di sela tawanya.

Sedangkan Itachi yang sadar reaksi spontannya membuatnya menjadi bahan tertawan, ia berusaha sebaik mungkin menutupi rasa malunya.

"Eh, itu, aku ingat Paman Minato pernah mengatakan Kyuubi akan menjadi seorang Ayah, dan—"

"Dan kau berpikir anak yang aku kandung ini anaknya?" Ino menujuk Kyuubi yang berada tepat di sebelahnya.

Itachi mengangguk. Dan Ino tertawa lagi.

"Ah, maaf kalau kau salah paham," ujar Minato, rautnya campuran geli dan penyesalan. "Kyuubi memang Ayahnya, lebih tepatnya akan menjadi walinya. Dan Kyuubi memang terlalu protektif melebih Sai jika menyangkut kehamilan Ino kali ini. Lebih terlihat seperti Ayah dari anak itu malah. Tapi untuk membuat mereka berdua menjadi pasangan suami istri? Kurasa itu cukup… mengerikan."

"Yah… sebenarnya, mungkin akan menjadi anaknya secara nyata sebelum aku menjadi bagian resmi keluarga ini jika saja beberapa tahun lalu Kyuubi memang 'berniat baik'," tambah Ino.

Melihat sorot penasaran Itachi, Ino berniat menjelaskan. Namun Kyuubi tidak memberi kesempatan pada Ino untuk menggosipkannya tepat di depan hidungnya sendiri. Dan bukan berarti ia juga akan membiarkan Ino bergosip di belakangnya. "Ino, kau sudah berjanji padaku untuk tidak mengungkitnya."

Ino langsung merapatkan mulutnya, namun bisa terlihat tubuhnya bergetar akibat masih menahan tawa. Kemudian akhirnya ia menyerah. "Oh, sudahlah, aku bisa melahirkan serkarang juga jika tertawa terus. Kita kembali ke topik sebelumnya," katanya, "kau bisa mengajak Kurama dan Naruto jika mau Itachi-san. Akhir-akhir ini mereka kurang refreshing sepertinya."

"Apa?" Kyuubi dan Naruto langsung terperangah. "Tidak! Aku tidak mau!" tolak dua bersaudara Namikaze bersamaan.

"Ayah pikir itu ide yang bagus, betul tidak Kushi-chan?" Minato berpaling pada isrtinya tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.

"Sangat bagus."

Naruto berkeras mengajukkan protes. "Tunggu! Kalian tidak bisa memutuskan liburanku seenaknya! Aku sedang banyak tugas di kampus, dan—"

"Aku baru tahu kalau kita banyak memiliki tugas," potong Sasuke tanpa dosa, yang memang apa yang dikatakan Sasuke itu setengahnya benar. Karena tugas kampus Naruto itu tidak bisa dibilang berat. Detik itu juga Sasuke langsung mendapatkan tatapan kebencian Naruto, yang ditanggapi tanpa beban oleh Sasuke.

"Aku banyak urusan di kantor," kata Kyuubi, menolak tegas. "Dan aku tidak akan pernah mau ke sana lagi, Naruto juga tidak. Kalian tahu alasannya. Jadi, kali ini sebaiknya lupakan acara liburan itu."

Mendengar perkataan Kyuubi yang tegas mendadak suasana di sekitar mereka berubah berat dengan keheningan yang terjadi seketika itu juga. Berbeda dengan Naruto yang langsung bernapas lega.

Minato menatap Kyuubi dengan pandangan spekulatif. Ia melihat tangan Kyuubi terkepal di atas meja, membuatnya mengangguk mengerti dengan reaksi keras Kyuubi. "Baiklah, tidak akan ada yang memaksamu, Kyuu. Tapi beri dirimu sendiri kempatan untuk rileks," kata Minato akhirnya.

Memecah suasana tidak nyaman di sekitarnya, Ino kembali membuka suara. "Omong-omong, aku dengar kau sudah bercerai Itachi-san."

Itachi yang beberapa saat tadi terfokus pada Kyuubi dan pernyataannya sedikit tidak siap dengan pertanyaan Ino. Ia terdiam sejenak dan berkedip sekali. "Ya, itu benar, Ino-san."

"Ino tidakkah pertanyaan itu terlalu privasi," sela Kushina memperingatkan, yang mengira keterdiaman Itachi sebagai ketidaksetujuan atas pertanyaan Ino.

Ino menampakkan raut menyesal. "Maaf, aku tidak bermaksud—"

Itachi tersenyum, "Tidak, tidak," tukasnya cepat, " Jangan merasa bersalah karena itu. Itu bukan masalah privasi lagi. Tuhan tahu berita itu sudah cukup lama untuk menjadi tabu."

Ino membalas senyuman Itachi, "Itu bagus. Dan kurasa kau masih sangat prima untuk mendapatkan pengganti istrimu, Itachi-san. Sungguh, aku sama sekali tidak akan percaya jika kau beralasan tidak ada wanita yang bersedia menerimamu menjadi suami."

"Jangan percaya kalau begitu," kata Itachi terdengar sangat serius. "Aku yakin kau juga pasti sudah mendengar rumor tentang aku, kalau kau sudah bisa berkata seperti tadi. Dan itu sudah cukup mengerikan bagi calon pengantin manapun untuk menerimaku sebagai suami yang jauh dari kata setia. "

Ino tersenyum menyetujui. "Rumor itu sulit diabaikan. Tapi sepertinya kau cukup menikmati rumor itu."

Senyum Itachi melebar, yang bisa membuat wanita mana pun terpikat. "Kau tahu, Ino-san, kau wanita yang cerdas. Tapi yang juga selalu kuhindari."

Dengan ragu Ino bertanya, "Apa itu bagus?"

"Demi para malaikat yang menjagamu, itu adalah hal paling bagus yang bisa dia tawarkan, Ino-san. Percayalah." Sasuke menyela dengan nada sinis yang tidak pernah ketinggalan jika menyangkut tingkah bajingan Itachi yang tidak di tutup-tutupi oleh orang yang bersangkutan.

"Sangat membantu, Adikku," sahut Itachi tak kalah sinis, "apa kau sudah berkaca hari ini?"

"Sudah, dan Tuhan tahu, aku lebih baik darimu."

"Bermimpilah selagi bisa."

"Wah, wah, persaingan antar saudara yang menarik," ujar Minato menengahi. "Aku tidak tahu kalau kau mengikuti jejak Itachi, Sasuke. Mengingat, jarang sekali aku mendengarmu terlibat skandal dengan artis mana pun seperti yang Kakakmu lakukan. Dan kita semua tahu, hal itu malah membuatnya semakin terkenal."

"Dan aku tidak tahu, kalau kau, Ayah, ternyata tidak ada bedanya dengan Ibu-Ibu penggosip di luar sana yang hobi menonton infotaiment. Demi Tuhan, di sini ada anak kecil, tidak bisakah kalian hentikan percakapan semacam ini?" Kyuubi mencibir kesal, sudah tidak tahan mendengar percakapan tanpa ujung di sekitarnya.

"Eh, tapi kita sudah berusaha terdengar se-implisit mungkin loh, Kyuubi-kun," kata Minato dengan nada tanpa dosa.

Kyuubi akhirnya hanya memutar bola mata bosan. Menyerah. Merasa percuma menentang ayahnya yang sedang dalam suasana hati baik.

Dan acara makan malam itu kembali di penuhi tawa, terkecuali Kyuubi dan Naruto yang hanya meringis ngeri mendengar tema percakapan tanpa ujung di sekitarnya. Dan juga Sasuke tentunya, yang hanya menjadi pendengar dan sesekali menimpali percakapan.

Hanya selang lima belas menit kemudian, kegiatan makan malam itu selesai. Namun Minato sepertinya belum berniat untuk melepas kepergian dua tamunya. Terlihat Minato kembali mengajak Itachi dan Sasuke mengobrol di ruang keluarga. Sedangkan dua wanita lain beranjak ke kamar Ino di lantai atas, menidurkan Shion yang sudah mengantuk.

Naruto sendiri kembali ke kamarnya. Sudah cukup lelah dengan keadaan yang baru saja terjadi. Dan percakapan saat makan malam tadi juga sudah cukup membuatnya menilai seperti apa laki-laki yang tadi berusaha melakukan pelecehan seksual padanya di kamar. Bagi Naruto, laki-laki itu tidak jauh berbeda dengan Kakaknya. Dia tidak lebih dari seorang bajingan arogan, sinis, seenaknya, dan seorang penjilat. Itu tidak ragukan lagi.

Naruto berbaring di ranjangnya, menikmati ketenangan yang sejak tadi ia inginkan, walaupun biasanya dia lebih suka suasana yang ramai. Mungkin hal ini disebabkan karena keterlibatan emosi tidak jelas akhir-akhir ini, yang dialaminya dengan laki-laki bernama Sasuke yang sekarang tidak dikenalnya itu.

Tidak peduli dengan masa lalu yang melibatkan mereka, yang jelas ketidaksukaannya terhadap Sasuke sudah mulai menggrogotinya. Lagi pula dari semua hal yang terjadi, masa sekarang dan masa depanlah yang penting. Dan masa lalu hanya akan menjadi ingatan untuk dikenang atau dijadikan pelajaran—jika Naruto memang ingat.

Naruto nyaris tertidur, ketika tiba-tiba saja Kyuubi memasuki kamarnya.

"Kau tidak berpikir tidur di saat hari masih sore 'kan Naruto?" ujar Kyuubi dengan tampang bosan menghampiri Naruto dan duduk di samping Naruto yang setengah berbaring.

Naruto melirik jam di atas nakas. 09:48 Pm. Memang belum larut, tapi entah kenapa tubuhnya benar-benar lelah.

"Apa maumu, Kyuu?"

"Berjanjilah kau akan menjauhi dua Bajingan Uchiha itu," kata Kyuubi langsung, tanpa memandang Naruto sedikit pun.

Naruto tanpa sadar langsung mengerang. "Tidak bisakah berhenti membahas bajingan itu?"

"Aku sangat ingin malah. Tapi reaksi penolakanmu terhadap bajingan itu berbeda dengan apa yang telah ditunjukkan tubuhmu."

Naruto mengernyit bingung dengan kata-kata Kyuubi. "Apa maksudmu?"

Kyuubi berpaling pada Naruto dengan tatapan tajam, menghakimi. "Ada Hickey di lehermu." Nada Kyuubi terdengar kasar, "Sedangkan ketika kau masih berada di apertemenku tanda itu tidak ada. Dan kau beruntung Ayah dan Ibu tidak melihatnya."

Naruto langsung menutup lehernya dengan tangan. Wajahnya merona pekat. Bajingan sialan!

"Aku bisa menjelaskan. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dia—"

"Aku tidak butuh penjelasan. Hal yang sudah terjadi tidak bisa dicegah. Kau hanya perlu melakukan apa yang kukatakan. Jauhi Uchiha." Kyuubi tidak memberi kesempatan Naruto untuk merespon, lalu beranjak pergi.

"Tunggu—"

"Naruto," kata Kyuubi dengan nada tidak ingin dibantah. "Aku tahu banyak hal yang ingin kau tanyakan. Tapi kali ini saja, jangan tanyakan apapun, terlebih mengenai Uchiha. Ada saatnya nanti kau akan mengerti semuanya, sampai saat itu terjadi aku mohon turuti kata-kataku."

Lalu kemudian Kyuubi benar-benar pergi, meninggalkan Naruto yang tertegun di tempatnya. Naruto mengerjap dan tiba-tiba saja menepuk jidatnya sendiri. "Astaga! Bodohnya aku! Kenapa aku tidak merekamnya?" ujarnya, mendadak melupakan kantuknya, dan berceloteh sendiri, "Si Kakak penyiksa itu memohon padaku? Aku tidak percaya ini! Tunggu sampai aku menceritakannya pada yang lain." Dan tanpa alasan yang jelas ia tertawa senang, melupakan apa yang menjadi sebab kemuramanya tadi. Sungguh peralihan emosi yang tidak wajar.

Disaat masih dalam luapan rasa bangganya Naruto kembali dikejutkan dengan seseorang yang kembali memasuki kamarnya. Mengira itu adalah Kyuubi, dengan cepat Naruto berusaha menampilkan ekspresi tenang, yang langsung gagal ketika melihat siapa sebenarnya orang yang memasuki kamarnya.

Sasuke dengan ekpresi tak terbaca bersandar santai di kusen pintu dengan tangan berlipat. Tatapannya terkunci pada Naruto yang kini menampilkan raut wajah benci.

"Apa lagi maumu, hah?"

Sasuke mengangkat bahu. "Aku hanya ingin memberikan penawaran menarik," katanya.

Mata Naruto menyipit curiga, dan dengan tergesa dia menghampiri Sasuke dengan langkah lebar, lalu dengan kekuatan penuh mendorong Sasuke keluar dari kamarnya.

"Aku. Tidak. Butuh. Penawaranmu!" Naruto hendak menutup pintu, namun dengan gerakan cepat Sasuke bisa menahan pintu dengan kaki dan tangannya.

"Aku bahkan belum mengatakan apa pun," kata Sasuke, tidak menyerah.

"Lupakan apa yang ada di kepalamu itu, karena aku tidak akan pernah mau menyetujuinya!"

"Oh, benarkah? Tapi bagaimana jika aku bilang aku bisa menyembuhkan alergimu itu?"

"Itu juga tidak!" jawab Naruto, terlalu cepat. Dan Naruto berhasil membuat Sasuke berada di balik pintu.

Naruto menyandarkan kepalanya di pintu, dengan napas terengah karena perlawanan yang diberikan Sasuke. Tapi tunggu dulu… sepertinya tadi dia mendengar, jika bajingan penjilat itu mengatakan bisa menyembuhkan alerginya?

Naruto terdiam sesaat, mempertimbangkan tindakan selanjutnya, dan dengan ragu ia kembali membuka pintu, namun hanya untuk akses kepalanya saja. Ekpresi Naruto waspada, ketika menatap Sasuke yang masih berdiri tenang di depan kamarnya.

"Apa yang kau katakan tadi itu benar?"

Tanpa ragu Sasuke langsung mengangguk.

Naruto terdiam, berpikir. Tadi Kyuubi baru saja menyuruhnya untuk tidak berurusan dengan bajingan di depannya. Dan Naruto tahu, itu adalah keputusan yang paling bijaksana. Seharusnya Naruto juga bisa bersikap lebih bijaksana lagi. Tapi bagaimana jika hal itu dibandingkan dengan penawaran yang sangat menggiurkan. Tidak ada akan ada lagi bersin berkala, dia bisa bebas berpergian walau cuaca tidak memungkinkan, menikmati rintik hujan tanpa perlu membawa selimut ke mana-mana, bisa melakukan kegiatan apa saja tanpa bersikap waspada terhadap cuaca buruk. Bagi Naruto itu surga dunia, dan sangat wajib dipertimbangkan. Dan memangnya sejak kapan dia mengikuti perkataan Kyuubi?

Akhirnya dengan pertimbangan semacam itu Naruto membuka pintu lebih lebar. Dengan enggan Naruto berkata, "Apa kau mau masuk?"

"Tidak, terimakasih." Naruto langsung bernapas lega mendengarnya.

Melihat ekpresi Naruto seperti terbebas dari hukuman mati, nyaris membuat Sasuke tertawa. Andai Naruto tahu bahwa keenganan Sasuke memasuki kamarnya adalah karena ketakutan Sasuke sendiri terhadap pengendalian dirinya yang bisa kapan saja menyerang makhluk yang baginya paling menawan di depannya ini. Dan apabila Sasuke lepas kendali, maka bisa dipastikan rencana yang telah disusunnya akan gagal total dan Sasuke sama sekali tidak menginginkan hal itu. Apalagi kegagalannya hanya karena dia tidak bisa menahan hasratnya.

"Kau yakin bisa menyembuhkan alergiku?" Naruto bertanya lagi. Kali ini tanpa mau membalas tatapan Sasuke dan menjaga jarak sejauh yang ia bisa, mencegah timbulnya alergi yang kapan saja bisa kambuh.

"Tentu saja."

"Tapi bagaimana caranya? Dokter saja tidak bisa melakukan apa pun."

"Karena dokter tidak memikirkan, apa yang kupikirkan saat ini."

"Dan apa itu?"

"Terapi berkala."

Naruto mendengus skeptis. "Kau salah, Tuan. Itu tidak akan berhasil, aku sudah mencobanya."

"Oke, mungkin kedengarannya mustahil, tapi tidak ada salahnya mencoba terapi milikku, iya kan? Kalau pun nanti tidak berhasil, aku berjanji dengan semua kehormatan yang kumiliki, aku tidak akan pernah mengganggumu lagi."

Mendengar persyaratan semacam itu sontak membuat Naruto nyaris girang, tapi tetap berusaha terlihat tenang. "Memangnya terapi macam apa itu? Apa ada alat yang kau gunakan?" Naruto tanpa sadar kembali menatap Sasuke, karena tidak bisa menutupi perasaan tertariknya terhadap kesepakatan mereka.

"Saat ini aku memang belum menemukan alat yang tepat. Tapi… tidak ada salahnya mencoba, bukan?" Lalu Sasuke melihat waktu di tangannya, "Sekarang aku harus pergi. Dan aku akan meberitahu detailnya nanti." Kemudian Sasuke beranjak pergi.

Namun baru beberapa saat ia melangkah, Sasuke kembali berbalik, menatap Naruto dengan seringai kecil. "Ah, mungkin dari awal aku sebaiknya memberitahumu, bahwa karena kehormatanku sudah rusak parah, janji yang kuucapkan sama sekali tidak ada artinya."

"Aku punya tinju yang cukup bagus kalau mau merasakannya," sahut Naruto, memberikan Sasuke tatapan sarat akan tantangan.

Sasuke membalasnya dengan seulas senyum angkuh, "Bagus, tapi tidak ada salahnya kau melatihnya malam ini." Lalu berbalik pergi. Sasuke bisa merasakan tatapan Naruto yang mengikutinya sampai ia menghilang di bawah undakan tangga.

.

::A::C::SN::J::S::

.

Ino baru saja kembali dari dapur. Ketika beberapa saat yang lalu dia telah selesai dengan kerperluan tidur Shion. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Itachi yang baru keluar dari ruang kerja Minato. Yang sebetulnya membuatnya heran, karena tadi dia ingat Itachi masih berada di ruang keluarga. Mungkin Minato mengajaknya bicara tentang pekerjaan, maka dari itu Itachi berada di ruang kerja Minato, pikir Ino.

"Itachi-san," tukas Ino.

Itachi menoleh cepat, "Ino-san, sedang apa kau di sana?"

"Aku baru saja selesai membereskan perlengkapan susu Shion." Ino memerhatikan Itachi yang sedang merapikan jasnya, "Apa kau sudah ingin pulang?"

Itachi mengangguk. "Iya, tapi sepertinya Sasuke masih sibuk dengan urusannya."

Sebenarnya Ino penasaran dengan urusan Sasuke yang di maksud Itachi. Namun karena Itachi tidak berniat menjelaskan, maka tidak sopan jika ia menanyakannya. "Oh, dan di mana Ayahku?"

"Sebenarnya nanti Paman Minato akan menyusulku, tapi sepertinya harus menunda karena Kushina-san membutuhkannya tadi dan mungkin akan sedikit lama. Mengingat Paman Minato terlihat terlalu senang dengan kehadiran Kushina-san."

Ino terkekeh kecil. Mengerti dengan kata 'membutuhkan' yang dipakai Itachi. "Astaga! Mereka benar-benar dua orang yang jatuh cinta." Lalu Ino mendesah, "Well, tidak mengejutkan sebenarnya, ketika mereka memanfaatkan waktu yang ada. Aku bersyukur mereka bisa sampai mencapai tahap ini. Kau tahu, banyak hal yang telah di lalui keluarga ini. Dan aku rasa sekarang kami semua tahu bagaimana caranya untuk tidak menyia-nyiakan waktu dengan orang-orang yang kami cintai."

"Aku tidak yakin, aku salah paham lagi atau tidak. Tapi apa kau baru saja menyiratkan bahwa keluarga ini pernah terlibat masalah besar?" kata Itachi hati-hati.

Ino tersenyum tipis, "Semua orang pasti memiliki masalah, tidak terkecuali keluarga ini. Walaupun sekarang semua terlihat baik-baik saja." Ino berjalan menuju ruang duduk, dan menempatkan dirinya di salah satu sofa di sana dan Itachi mengikutinya dengan duduk di hadapan Ino.

"Kau ingat kepindahan kalian sepuluh tahun lalu?" ujar Ino kemudian, "saat itulah semuanya berawal."

Itachi terlihat tenang di tempatnya, namun Ino bisa melihat keseriusan Itachi dalam menyimak ceritanya. Terlihat dari sikap Itachi yang tidak ingin menyela.

"Saat itu negara ini sedang mengalami krisis ekonomi, apa kau ingat?" Ino melihat Itachi mengangguk kecil dan meneruskan, "Hal itu juga berdampak pada perusahaan Ayah dan bisa dibilang nyaris collapse. Itu menyebabkan Ayah dan Ibu bekerjasama saling membantu untuk menstabilkan perusahaan, yang juga berdampak buruk bagi hubungan keluarga ini. Kesibukkan Ayah dan Ibu menyebakan semakin berkurangnya perhatian pada Kurama dan Naruto. Itu yang membuat Kurama mencari kesibukan di luar rumah—lebih dari sebelumnya—yang tidak bisa dibilang baik. Meninggalkan Naruto hanya bersama pengasuh sewaan. Dan mungkin kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya?"

Tentu saja Itachi bisa menebaknya. Bayangan mengenai anak yang sendirian, kesepian, dan merasa di telantarkan. Dan itu sudah cukup menjadi beban psikologis yang buruk bagi si anak. Apalagi Itachi tahu Naruto memang anak periang, namun dengan perubahan keadaan mendadak seperti itu, tentu saja membuatnya dalam kebingungan.

Itachi juga tahu apa yang Ino maksud dengan Kyuubi mencari kesibukan di luar. Berkelahi, mencari lawan yang bisa mengatasi kesendiriannya. Itu memang ciri khas Kyuubi. Si pembuat masalah. Padahal Itachi mengira kebersamaan mereka berdua bisa mengendalikan sikap liar Kyuubi, tapi ia tidak menyangka setelah kepergiannya keadaan itu malah semakin bertambah parah. Di luar dugaan.

Itachi kembali memfokuskan pendengarannya, ketika Ino kembali melanjutkan bercerita. "Yah… itu belum seberapa sampai Ayah menyarankan liburan, dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan. Tapi siapa sangka kalau liburan itulah yang akan menjadi malapetaka bagi keluarga ini."

"Apa yang terjadi?" tuntut Itachi.

"Saat itu ternyata Ayah dan Ibu tidak bisa berlama-lama menikmati liburan. Mereka kembali meninggalkan Kurama dan Naruto di tengah liburan mereka di pertenarkan dan terjadi kecelakaan…"

"Aku mengerti sekarang, itu yang menyebabkan Kyuubi menolak keras tentang liburan ke pertenakan," sela Itachi, seolah sedang mengumpulkan kepingan puzzle dalam benaknya.

Ino mengangguk. "Saat itu Kurama tertidur di estat ketika sebuah kecelakaan menimpa Naruto. Naruto nyaris tewas karena kecelakaan itu. Tapi syukurlah karena kejadian itu membawa hikmah bagi keluarga ini, mereka jadi kembali saling memerhatikan satu sama lain. Dan kerja keras Ayah dan Ibu membuahkan hasil walau dibutuhkan waktu yang lama dalam prosesnya."

"Namun, walaupun begitu tidak serta merta keadaan berjalan mulus, ketika semenjak kecelakaan itu masalah kembali di alami Kurama… dia mengalami perubahan drastis, menjadi pendiam, lebih kaku, dan terlalu serius dalam melakukan apa pun. Bahkan Ayah lebih memilih Kurama yang suka membuat masalah di luar sana daripada Kurama versi baru. Well, intinya dia tidak seperti Kurama. Dan itu membuat Ayah dan Ibu khawatir, saat itulah aku hadir di keluarga ini."

Itachi menyandarkan punggungnya pada sofa di belakangnya. Dalam hati sungguh terkejut dengan apa yang baru ia dengar. Ia bisa sedikit membayangkan bagaimana Kyuubi dalam versi baru itu.

"Lalu bagaimana dengan Kyuubi selanjutnya?"

"Sejujurnya Kurama menjadi lebih menyebalkan bagiku lebih dari yang orang lain tahu, bahkan sejak pertama kali bertemu kami saling membenci, karena Kurama tidak menyukai adanya penambahan keluarga. Dan kami suka sekali bertengkar—maksudku benar-benar memakai fisik, karena aku memang menguasai beberapa ilmu beladiri—hal itu telah menjadi kegiatan kami setiap hari. Itu juga membuat Kurama jadi jarang mencari masalah di luar rumah. Dan entah beberapa lama kemudian lama-lama kami menjadi dekat dan sempat berhubungan. Walaupun tidak bertahan lama. Apalagi ditambah dengan Ayah yang ingin meresmikan aku memasuki keluarga ini."

Ino berhenti sejenak untuk melihat reaksi Itachi atas ceritanya. Namun ia sedikit kecewa ketika Itachi sama sekali tidak terkejut atau setidaknya merubah ekpresi datarnya itu. Dan menunggu Ino melanjutkan.

"Well," kata Ino kering, "apa aku sudah mengatakan bahwa Kurama juga telah menceritakan hubungan yang pernah kalian miliki? Walaupun tidak secara sengaja."

Senyum tipis terukir di bibir Itachi, "Sebelumnya aku memang sudah menduga kalau kau dan Kyuubi pernah lebih dari kakak beradik. Tapi, apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan Ino-san?"

Ino merona malu. Karena bagaimana pun itu bukan urusannya untuk dicampuri. Tapi bukan berarti Ino akan menyia-nyiakan kesempatan semacam ini. Walaupun masih merasa tidak nyaman, "Ya, eh, aku hanya ingin tahu apa kembalinya kau ke kota ini ada hubungannya dengan Kurama?"

Itachi tidak menampilkan ekpresi apa pun, tapi kemudian ia berdeham kecil. Dan berkata, "Sebelum aku menjawabnya, aku juga ingin menanyakan sesuatu."

"Silahkan saja."

"Apa Kyuubi memercayaimu?"

Kening Ino mengernyit, ragu. "Mungkin, bisa dibilang begitu. Tapi tidak ada cukup kepercayaan untuk Kurama berniat baik melamarku, seperti yang aku bilang saat makan malam tadi. Yah... tak ada yang bisa disalahkan juga sih, mengingat hubungan kami ada hanya karena rasa saling menguntungkan. Semacam mencari penghiburan untuk satu sama lain."

Itachi mengangguk kecil. Paham dengan maksud Ino yang menyatakan mencari hiburan dengan bersama Kyuubi, Itachi menebak itu adalah saat Ino mengalami masa tersulit dari kematian orang tuanya dan Kyuubi dihadapankan dalam situasi labil tak tentu yang menyebabkan interaksi keduanya dalam bertengkar menjadi suatu kegiatan pelampiasan emosi. Dan sejauh Itachi mengenal Ino, dia merupakan wanita yang cukup keraskepala untuk mengalah dan Kyuubi sudah pasti manyambut baik hal semacam itu. Tidak peduli siapa lawannya.

"Aku mengerti," kata Itachi. "Karena kau sudah menceritakan hal menarik, tidak adil jika aku tidak membalasnya. Satu hal yang bisa aku beritahu, kami kembali ke kota ini memang ada maksud tertentu, tapi bukan aku yang memiliki masalah di sini. Adikku-lah yang bersikeras untuk kemari."

"Apa itu menyangkut Naruto?"

"Tepat."

"Tapi, apa aku benar-benar bisa memercayai apa yang kau katakan tadi? Kalau kau tidak punya masalah yang tertinggal seperti adikmu?"

Sejenak Itachi hanya menatap Ino lekat dan tanpa bisa ditahan Itachi tertawa. "Oh Tuhan… Tidak. Kau benar, terlalu bodoh jika memercayai bajingan sepertiku. Dan kau terlalu cerdas Ino-san. Sungguh, awalnya aku juga ingin memercayai bahwa aku tidak memiliki masalah yang tertinggal di sini. Dan memang tidak ada masalah. Tapi… Sialan! Kenapa dia harus muncul di hadapanku dengan begitu… menggiurkan? Oh, maafkan kata-kataku yang terlalu vulgar, tapi bagiku tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkannya."

Ino tersenyum kecil menanggapi kejujuran Itachi.

"Sungguh, bagaimana kau bisa membuatku sejujur ini?" ujar Itachi lagi setelah tawanya mereda, "kau wanita yang menakutkan Ino-san."

Ino mengangkat sebelah alisnya. "Aku anggap itu sebagai pujian."

Lagi-lagi jawaban Ino membuat Itachi tertawa. Tapi langsung berhenti, ketika melihat raut wajah Ino yang berubah serius. Seolah bisa menebak apa yang dipikirkan Ino, Itachi berkata ringan, "Silahkan tanyakan apa pun itu yang mengganggumu, Ino-san. Terlebih lagi kau sudah banyak menghiburku hari ini."

"Entahlah… aku juga tidak tahu bagaimana menanyakannya. Dari yang aku dengar darimu, kau sepertinya sangat berminat dengan Kurama. Tapi mengapa kau meninggalkannya sepuluh tahun lalu?"

Keheningan yang lama terjadi, membuat Ino bergerak tak nyaman di tempatnya. Melihat reaksi Itachi yang diam saja, Ino tak bisa menahan diri merutuk dalam hati, karena pertanyaan yang ia lontarkan sendiri.

Dan terkejut ketika tiba-tiba Itachi kembali membuka suara. "Aku tidak punya pilihan."

Kening Ino mengernyit bingung, "Tidak mungkin. Semua orang memiliki pilihan."

Senyum gamang terukir di bibir Itachi. "Beberapa orang tidak memiliki pilihan, Ino-san," ralatnya.

"Apa maksudmu sebenarnya?"

"Menurutmu, punya hak apa aku menentang orang yang sudah melahirkan aku dan menjagaku hidup hingga sekarang? Bahkan orang itu telah memberikan kasih sayangnya yang tidak terbatas padaku." Lalu Itachi mengalihkan pandangannya pada lukisan keluarga yang terpasang di ruang duduk tersebut. Tatapannya terfokus pada sosok Kurama Namikaze dalam lukisan tersebut. "Sejak awal dia tahu. Kami tidak punya masa depan."

.

::To Be Continued::

.