ERROR
.
Cho Kyuhyun . Lee Sungmin . other cast muncul perlahan
.
Happy Read ^^
.
Please don't bash me
.
=.=
Chapter 4 : Yeah, we are a family before (flashback)
"Min, buatkan aku nasi goreng" perintahku pada istriku.
Ah, penat sekali kaki ku rasanya. Pekerjaanku terasa begitu berat dari hari ke hari. Pening juga rasanya kepalaku. Memikirkan berbagai macam hal dalam satu waktu bersamaan, kalau saja aku tak jenius mungkin saja aku sudah melambaikan tanganku ke Tuhan dan bilang . . .
'I'm done! Now You can take my soul'
"Mian Kyu, aku sedang mengurusi uri Baby, sejak tadi dia rewel" jawab Sungmin.
Ah iya, anak pertama kami yang sekarang berusia hampir 3 tahun. Masih saja rewel dan selalu memonopoli Sungmin untuk dirinya sendiri. Aku kan juga butuh dimanja oleh Minnie, batinku.
Hei, kalian ingin tahu tidak rasanya punya anak di saat usia kalian masih muda, well, aku harus mengatakan bahwa lebih dari 50%-nya adalah rasa kesal. Bingung antara harus bermain atau melakukan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Eum, aku kadang menyesalkan keputusanku waktu itu.
"Baiklah aku buat sendiri saja" kataku akhirnya, tentu saja dengan menahan rasa kesal.
"Oh iya Kyu, aku masih ada sisa masakan tadi siang di kulkas, kau ambil itu saja ne lalu kau panaskan" kata Sungmin lagi.
Tanpa berkomentar apapun aku segera melakukan perintah Sungmin. Hah, sup labu, apa masih enak, batinku sambil mengamati semangkuk sup labu yang kini ada di tanganku.
"Aigoo, Baby, tidur ne ini sudah malam" keluh Sungmin dari arah kamar.
Aku tersenyum ringan.
Yah, pasti Sungmin sudah berusaha dengan keras melakukan ini semua sendirian, menangani Minhyun yang rewel, membersihkan rumah walau kadang dibantu Umma, memasak untukku walau pada akhirnya aku harus makan makanan sisa tadi siang.
"Minnie, berikan Minhyun padaku, biar kau setidaknya bisa memasakkan sesuatu untukku makan" kataku setelah berada di dalam kamar.
"Tapi-"
"Sudahlah, sini biar ku gendong" kataku.
Sungmin nampak tersenyum lalu menyerahkan Minhyun padaku, aigoo, semakin berat saja anak ini. Apa yang Sungmin berikan padanya ya.
"Huwaaaaa Mommy" tangisan Minhyun pecah tak lama setelah menyadari bahwa Mommy tercintanya berada jauh darinya.
"Omo omo, cup cup cup Baby"
Namun Minhyun tetap tak mau diam.
"Sini Kyu biar aku gendong" kata Sungmin yang akhirnya harus berbalik arah menuju ke arahku.
"Tidak usah, kau masak saja sana" titahku.
Sungmin masih memandang kami, wah, sepertinya dia tidak percaya aku bisa menenangkan Minhyun.
"Oh iya, Baby kangen suara Daddy kan" kataku lalu aku mulai bersenandung kecil.
Lalu Minhyun menghentikan tangisannya, dan aku melirik Sungmin. Lihatkan aku bisa menangani Minhyun. Sungmin pun tersenyum, dia berlalu setelah yakin aku mampu menenangkan Minhyun.
"Hiiiihiii" aku menghentikan nyanyianku dan memandang Minhyun yang malah tertawa.
"Daddy lucu" katanya setelahnya lalu melanjutkan tawanya.
Dasar anak nakal, batinku.
Tapi kemudian aku ikut tertawa melihat ekspresi lucu Minhyun. Well, setidaknya sekarang Ia tak menangis dan tak membuat Mommy nya kewalahan lagi. Aku lalu mengajak Minhyun berjalan menuju ke dapur untuk melihat Sungmin dan memamerkan padanya aku bisa membuat Minhyun berhenti menangis.
"Masak apa Min?" tanyaku.
"Yah, karena aku sudah tak punya ide lagi mau masak apa jadi aku cuma bisa buatkan telor ceplok Kyu" jawabnya santai, ringan seolah itu adalah masakan terbaik yang bisa Ia kerjakan sekarang.
Eh, telor ceplok? Bukankah tadi aku menyuruhnya membuatkanku nasi goreng ya. Protes tidak ya, tapi kalau aku protes kasihan juga Sungmin, dia sudah terlihat lelah. Tapi kalau aku tidak protes, hmm, aku sudah membayangkan bagaimana bentuk dan rasa telor ceplok itu, seperti sudah hapal di luar kepala dan aku bosan.
"Baiklah kalau begitu" jawabku akhirnya dan segera mendudukan diri di kursi.
Tak berapa lama Sungmin selesai dan segera menghidangkannya padaku. Wow, bukan sekedar telor ceplok ternyata. Aku sampai lupa kalau skill istriku dalam memasak itu sudah setaraf dengan chef restoran mewah. Dalam waktu tak terlalu lama Ia berhasil menciptakan telor ceplok berbentuk hati dengan kuning telur yang masih utuh dan tanpa ada cacat sedikitpun. Di tambah beberapa sosis serta nasi yang masih hangat.
"Baby sini ikut Mommy biar Daddy mu makan dulu"
"Eumm" angguk Minhyun dan kini sudah berpindah tangan ke Sungmin.
"Makanlah Kyu aku akan menidurkan Minhyun dulu" kata Sungmin.
"Ne, kau beristirahatlah, aku tahu kau pasti sangat lelah" jawabku dan diberi senyuman oleh Sungmin.
"Eum, kau juga ne"
Oke, setidaknya hari ini aku makan makanan enak dan bukan sisa tadi siang. Eh, sepertinya ada yang terlewat, semangkuk sup labu yang baru saja dihangatkan itu juga ikut ada dalam menu makan malamku ini.
'Ya ampun Min, kau benar benar lupa aku benci sayuran' batinku.
'Kyu labu itu buah bukan sayuran' aiih, entah kenapa malah kalimat itu yang tiba tiba terlintas dipikiranku. Aku tak peduli mau itu buah atau sayuran, tapi intinya aku tidak suka.
.
Aku kembali ke kamar setelah selesai makan, aku melihat keluarga kecilku sedang tertidur dengan lelapnya. Ku amati wajah Sungmin dari dekat, dia benar benar terlihat lelah dengan kantung mata yang menebal. Mianhae Min, aku membuat hidupmu susah karena harus mengurus anak di saat usiamu masih muda.
"Saranghae" bisikku lalu mengecup kening, kedua matanya, hidung, dan terakhir bibir semerah cherry-nya.
"Uri Baby, saranghae" bisikku pada Minhyun dan mengecup keningnya.
"Thanks God for giving me a good family, I promise to be a good father for my child and good husband for my wife, and being a guardian for my family that I love, amin" doaku malam ini serta syukurku pada Tuhan. Semoga akan terus seperti ini.
Setelahnya aku mulai merebahkan diriku di kasur dan mulai memejamkan mataku. Aku memang butuh tidur setelah seharian ini begitu lelah bekerja, yah di usiaku yang tergolong masih muda ini aku sudah berada dalam tekanan seorang bos besar di tempatku bekerja. Di saat yang lain masih sibuk kuliah, aku sudah lulus karena kemampuan otakku yang dibilang luar biasa ini. Sejak sekolah dasar aku selalu bisa lompat kelas karena kecerdasanku, tapi nyatanya kepandaian otakku tak berpengaruh dalam hal percintaanku dan kehidupanku. Hingga aku harus berusaha sekuat tenaga untuk dapat menghidupi keluarga kecilku ini di saat aku harusnya masih sibuk mengumbar kata cinta untuk para yeoja diluar sana.
'Aku bahagia memilikimu Min dan uri Baby, seperti dalam doaku tadi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menjadi yang terbaik untuk kalian' batinku sebelum aku benar benar tertidur.
Back to this time
"Masa yang indah ne Min" kataku pada Sungmin yang kini sudah agak tenang di sampingku.
"Kau masih ingat dengan jelas" tanyanya.
"Ya, tak mungkin aku melupakan kenangan kita" kataku jujur.
"Gamsahae"
"Yeah, we are a family before" jawabku.
'Before i ruined everything' dan lanjutku dalam hati.
Cont/
Shu Qiao Lian
