Rhime A. Black

-

-

PresenT

-

Gara-Gara Puisi

Naruto itu punyanya Mbah Masashi Khisimoto. *lagi malas bacot soalna*

SUMMARY

Naruto yang saat itu merasa bosan, pergi berjalan-jalan sendirian. Tak disangka-sangka malah bertemu dengan si gadis lavender. Apalagi, Naruto sampai mampir ke Hyuuga mansion. Apa yah yang kira-kira terjadi di sana?

WARNING : AU, ZUPPER OOC, ALAY, ANEH. HAPPY-HAPPY YAh BACANYA. JANGAN BOSAN, WOKEH???

WOKEH KITA MULAI!!!

1,2,3…TAKE…ACTION…

***

Sepulang sekolah, Naruto pulang sendirian. Dia yang biasanya pulang dengan teman-temannya, kini harus terpaksa sendirian karena :

Sasuke ada kencan dengan Sakura, Gaara lagi PDKT sama Matsuri-chan anak SMPN 6 Konoha, Kiba pengen berduaan dengan Akamaru*???*, Chouji ingin menyerbu toko makanan, katanya hari ini ada stok kentang goreng baru, dan Shikamaru sama seperti Sasuke, dia ada kencan juga dengan Temari, kakak Gaara. Naruto berpikir tumben tuh anak mau pergi kencan, padahalkan biasanya dia sudah terlelap di singasananya.

Naruto tidak langsung pulang kerumahnya, karena pasti dia bakalan di suruh cuci piring sama Okaa-sannya. Jadi karena itu dan bosan, dia mengarahkan kuda besinya menuju Pantai yang terletak agak jauh dari konohagakuen.

Sesampainya di sana, Naruto mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru pantai yang bisa ia jangkau. Di lihatnya ada orang pacaran, sekelompok anak-anak yang sedang membuat istana pasir, sepasang manula yang sedang menikmati masa tuanya sambil menatap ke lautan yang tanpa ujung itu, dan…weiks ada seorang gadis yang sepertinya Naruto kenal sedang di ganggu oleh sekelompok preman-preman tengik. Naruto langsung mengenalinya bahwa dia adalah Hinata, Naruto segera beranjak dari motornya dan berhenti sekitar tiga meter dari preman-preman itu.

"Hentikan! Kalau berani jangan ganggu wanita!" Seru Naruto dengan gagah berani, huahahaha… di iringi dengan efek angin berhembus seperti di film-film koboi. Preman-preman tadi menoleh kepada Naruto. Salah satu dari mereka berlima mulai angkat bicara, sementara yang lain memegangi kedua tangan Hinata. Salah seorang dari mereka, yang berbadan kekar dan berambut putih jabrik yang terlihat seperti ketua dari preman-preman itu berkata.

"Heh, apa? Maaf saja nak, tapi kami tidak memiliki selera terhadap lelaki."

'Ngingg?' Naruto jadi sweatdropped, apa maksud orang itu dengan 'Maaf saja nak, tapi kami tidak memiliki selera terhadap lelaki'?.

"Kalau kalian berani lawan aku." Genderang perang mulai di bunyikan.

"Cih! Dasar bocah! Kalian serang dia!" Seru orang itu memerintah anak buah, langsung saja ke empat orang tersebut, menyerang Naruto. Naruto tersenyum licik sambil menungu serangan dari mereka, sembari mengingat kembali tekhnik-tekhnik serangan ajaran kakeknya. Kini di dalam kepalanya tengah terputar lagu Zhou Da Xiaost Kungfu Dunk. Mereka kemudian saling serang, salah seorang dari mereka melayangkan tinjunya kepada Naruto, sedangkan yang lainnya mulai menyerang dengan tendangan. Tapi dengan mudah Naruto menangkis semua serangan itu.

Hiyaaat!!!, Naruto menyerang mereka semua. Satu, tendang. Dua, sodok. Tiga, pukul. Empat, tendangan memutar. Lima, tahan dan tendang alat vitalnya. Yey-yey, mereka kesakitan, hahaha… kau tidak akan bisa memuaskan gadis-gadismu lagi*?*. karena terlampau senang, Naruto sedikit lengah, dan BUK! Ada bogem bersarang di bibirnya dan menetaskan telur-telur darah*?*. Dan Naruto bangkit lagi, dan BAK-BIK-BUK, suara orang-orang yang saling memukul itu tampaknya mengundang perhatian orang yang berada di sekitar pantai itu. Tapi bukannya melerai, mereka hanya menonton saja. Naruto kembali lengah begitu merasakan ada tendangan yang mengenai punggungnya. Dia kini berpikir bahwa sekaranglah dia harus mengakhiri pertempuran ini. Naruto segera mengambil ancang-ancang begitu sang leader para preman-preman itu menuju ke arahnya untuk kembali berkelahi. Naruto bersiap dan leader preman tiu mendekat….semakin dekat dan Naruto memusatkan tenaga dalamnya dan… Naruto melakukan tendangan ke atas yang dashyat, yang mengakibatkan sang leader tadi melayang ke atas hilang dari pandangan. CLING…

Anak buahnya yang melihat hal itu langsung lari pontang-panting. Ngeri melihat ada seringai muncul dari cowok imut seperti Naruto. Setelah merasa mereka tak akan kembali, Naruto segera menghampiri Hinata yang sedari tadi kelimpungan, tidak tahu harus bagaimana.

"Naruto-kun." Panggil Hinata, dia terlihat cemas, kelihatan dari raut wajah dan tatapannya

"Kau tidak apa-apakan Hinata-chan? Apa ada yang terluka?" Tanya Naruto dengan raut wajah khawatir, karena melihat raut wajah takut dan pandangan kecemasan dari mata Hinata. Naruto tidak tahu bahwa kecemasan yang begitu kentara itu adalah semata karena dirinya seorang.

"Ti-tid…tidak apa…apa Naruto-kun. Kau berdarah." jawab Hinata panik sambil mengorek-ngorek isi tasnya, mencari sapu tangan yang selalu dibawa-bawanya. Sementara Naruto, setelah mendengar perkataan Hinata baru menyadari rasa sakit yang menderanya di beberapa bagian tubuhnya. Sempat sedikit, Naruto menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya itu. Hinata, dengan gemetaran menyeka darah itu dengan sapu tangannya. Tidak apa-apa sapu tangan kesayangannya itu kotor, tidak apa asal Naruto-kun tidak kenapa-napa.

"Tidak kenapa-napa? Lihat Hinata, dia berdarah dan terluka. Itu semua karena kamu. Dasar Baka!" Teriak Hinata dalam hati, menghakimi dirinya atas apa yang terjadi pada Naruto, tidak tahukah dia? Apa yang dilakukan oleh Naruto itu semata karena ingin melindungi gadis yang telah membuka pintu hatinya.

"Auww!!!" Naruto mengeluh sedikit karena tangan Hinata yang gemetaran saat menyekanya.

"Ma-ma-maaf Naruto-kun." Ucap Hinata, dan Naruto menahan tangan Hinata yang memegang sapu tangan itu. Kini kembali pandangan mereka bertemu, hembusan nafas mereka rasakan satu sama lain, suara gemuruh ombak kini tak terdengar lagi, tergantikan dengan debaran detak jantung mereka berdua, saling terpesona satu sama lain karena tatapan yang memancarkan—err—cinta?

"Lain kali Hinata-chan hati-hati yah. Udah ngobatinnya lanjutin lagi, tapi kali ini pelan-pelan yah gak usah gemetaran kayak tadi." Kata Naruto dengan nada yang so sweet di dengar, Hinata mengangguk lemah dan kembali melakukan kegiatannya tadi.. Naruto memegang pergelangan tangan Hinata yang sedang menyeka bibirnya, dirasakannya ada sensasi aneh yang bergolak di dadanya ketika dia menyentuh gadis itu. Hinata menganggukkan kepalanya. Naruto pun melepaskan peganganya dan membiarkan kembali Hinata mengobatinya. Hinata pun berusaha menenangkan dirinya, dan kembali menyeka darah Naruto. Untunglah kini dia sudah bisa untuk tidak terlalu gemetar seperti tadi.

Sesudah mengobati sana-sini pada Naruto, merekapun berjalan beriringan dan memilih duduk di tepi pantai pasir putih itu. Mereka membuka sepatu masing-masing, dan merasakan lembutnya pasir menyentuh kaki mereka. Hari telah beranjak sore, kira-kira sekitar pukul 05.00. Dalam keheningan mereka menikmati pemandangan matahari terbenam, menghilang dari pandangan, tenggelam di balik lautan untuk menyinari belahan bumi yang lain. Lama terdiam dalam keheningan sampai Naruto berniat bertanya sesuatu pada Hinata.

"Hinata-chan ngapain ke sini?" Tanya Naruto sambil memainkan pasir dengan tangan kirinya, masih menatap matahari dengan sinar kemerahannya.

"Nggg… a-aku tadi ha..nya jalan-jalan Na..ru..tto-kun. Tak di sangka, a..ku malah di gangguin preman." Jawab Hinata sambil menyembunyikan rona merah wajahnya, dan dengan keberaniannya dia kembali bertanya "Na-Na…Naruto-kun sen..diri?"

"Aku hanya bosan, dan datang ke sini." Jawab Naruto sekenanya. Kini mereka terdiam lagi. Lama keheningan menemani mereka berdua, lama-kelamaan matahari akan meninggalkan mereka. Lelah dengan keheningan ini, Naruto kembali angkat bicara.

"Hmmm, enak yah. Bila melihat sunset, apalagi bila bersama orang yang kau cintai. Akan terasa lebih indah," ujar Naruto sambil menerawang jauh menuju matahari yang kini mulai tinggal setengahnya, berwarna orange kemerahan Hinata sambil tersenyum dan menoleh kepada Naruto. Entah sejak kapan, Hinata sudah tidak 'terlalu' seperti biasanya lagi di depan Naruto. Hinata memandang wajah Naruto yang kini tertimpa sinar kemerahan matahari, rambut pirangnya yang berkibar tertiup angin, serta senyumnya yang menambah tampannya lelaki yang duduk di sampingnya itu Dia melanjutkan perkataannya "Apakah, Hinata-chan punya orang yang…" di cintai.. perkataan Naruto terputus sebelum dia menyelesaikan kalimatnya karena ponsel Hinata berdering.

"Halo, Ottou-san ada apa?" Tanya Hinata, ternyata ayahnya menelpon.

"Kau dimana Hinata, ini sudah hampir jam enam. Cepatlah pulang!" Kata ayahnya.

"Ba-baik, Ottousan." dan klik, sambungan terputus.

"Na-Naruto-kun, aku harus pulang." Kata Hinata, dan dengan cepat Naruto menjawab

"Biar ku antar!" Serunya sambil berdiri dari duduknya. Hinata melayangkan pandangan heran padanya. Dan dengan cepat pula Naruto menyambung Kata-katanya "Su-supaya kau tidak di ganggu lagi. Siapa tahu nanti kau di jalan akan bertemu preman lagi? Jadi aku bisa melindungimu." Kata Naruto dengan nada gugup yang ada pada awal kalimatnya. Hinata yang mendengarnya tersenyum malu-malu. 'baru kali ini aku melihat Naruto-kun gugup' pikir Hinata.

"Baiklah." jawab Hinata sambil mengikuti Naruto menuju motornya.

"Ki-kita naik ini Na-Naruto-kun?" Tanya Hinata saat mengetahui dirinya, bahwa dia akan naik motor ninja Naruto. Memang sih dia sering naik motor, tapi naik ojek dan motor ojek yang sering dia naiki juga motor biasa, bukan motor ninja yang sadel tempat duduknya di modifikasi agar lebih tinggi itu.

"Kagak Hinata-chan, naik awan. Dan nih, jaket gue." ujar Naruto

"Bu-buat apa Naruto-kun?" Tanya Hinata heran

"Hinata-chanku yang manis dan baik hati, maukah dirimu mati beku? Naik motor tuh kamu nanti bisa mati beku." Kata Naruto dengan wajah yang di imut-imutkan yang membuat Hinata harus menahan dirinya agar tidak pingsan karena perkataannya itu. Setelah memakai jaket dan helm, Hinata naik ke motor Naruto. Kini tubuhnya lebih condong bersandar ke punggung Naruto, mau bagaimana lagi? Sadel motor Naruto agak tinggi.

"Hinata-chan pegangan yah." Kata Naruto

"Pe-pegangan di mana Naruto-kun?" Tanya Hinata, 'wah pasti bakal kejadian nih'pikir Hinata dalam hati, sebentar lagi pasti akan…

"Hinata-chan pegangannya di pinggang aku, supaya nanti ngak jatoh." sahut Naruto sambil melingkarkan kedua tangan Hinata ke pinggangnya sendiri.

'tuh 'kan benar' pikir Hinata yang sebenarnya sudah menduga hal ini, kenapa? Karena dia sudah sering melihat adegan seperti ini di sinetron yang sering di tonton Hanabi-chan adiknya..

"Rumah kamu dimana?" Tanya Naruto, tanpa menyadari bahwa gadis yang ada di belakangnya kini hampir saja pingsan, karena sekarang Hinata telah—bukan lagi berpegangan tapi memeluk pinggang Naruto, yang sepertinya pelukan itu akan semakin erat saja diperjalanan nanti.

"Hyu-Hyu-Hyuuga…Man…si..on." jawab Hinata dengan seluruh tenaga yang dimiliki*???*. Naruto segera menstarter dan menggas motornya. Kini motor ninja orange tua metalik itu melesat kencang, menyelip diantara kendaraan-kendaraan yang sedang memenuhi jalanan. Dan memang benar pegang—oppss salah— pelukan Hinata terhadap Naruto semakin erat saja, sambil sesekali dia membenarkan letak roknya yang beterbangan. Naruto sendiri yang merasakan pelukan Hinata semakin erat malah semakin dia kencangkan juga laju motornya itu. Ternyata tak sampai tiga puluh menit, Hinata sudah sampai ke mansionnya.

CKIIITT!!... terdengar suara decit ban motor Naruto ketika sampai di depan gerbang Hyuuga mansion. Di tambah juga ban bagian belakang yang sedikit terangkat karena motor yang tiba-tiba berhenti.

"Ne, Hinata-chan, nih sudah sampai." Sahut Naruto yang telah membuka helm fullface-nya yang bercorak kobaran api itu pada Hinata yang masih saja memejamkan mata dan masih memeluk erat pingang Naruto, belum menyadari bahwa ia telah sampai di depan rumahnya.

"Hinata-chan, rumahmu sudah sampai." Sahut Naruto lagi dengan suara yang naik setengah oktaf.. Hinata yang menyadari hal itu segera melepaskan pelukannya dan turun dari motor Naruto secepat yang ia bisa, tapi apa, ternyata dia limbung dan hampir terjatuh kalau Naruto tidak segera menahannya.

"Lain kali hati-hati Hinata-chan." Naruto melepaskan pegangannya tadi.

"Eh, i—iya, arigato Na—Naruto-kun. Maaf sudah merepotkanmu. Ngomong-ngomong Na—Naruto-kun mau mampir?" Tanya Hinata pada Naruto yang langsung di sambut sumringah telak*?* oleh Naruto.

"Eh, boleh? Ya udah yuk." Kata Naruto sambil memarkir motornya di samping pos satpam rumah Hinata. Lalu kemudian mereka menuju kerumah besar keluarga Hyuuga. Hinata segera membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Naruto masuk. Saat memasuki kediaman Hyuuga, Naruto berdecak kagum atas apa yang di lihatnya. Beber-bener deh, mansionnya benar luas dan terlihat mewah bila di bandingkan oleh rumah yang di tinggalinya bersama orang tuanya. Hinata dengan segera mempersilahkan Naruto duduk di sofa empuk yang telah tersedia di tengah ruangan tamu iu. Tak lama kemudian ada seorang pelayan yang datang menghampiri mereka berdua.

'wah pasti seragam mereka saja mahal' pikir Naruto yang melihat penampilan pelayan tersebut yang seperti di rumah-rumah bangsawan ala tempoe doeloe.

"Naruto-kun mau minum apa?" Tanya Hinata membuyarkan lamunan Naruto.

"Eh, apa aja deh yang penting seger." Jawab Naruto asal, masih mengagumi seisi rumah cewek yang ada di hadapannya itu.

"Ya udah, kalo gitu jus jeruk saja ya." Usul Hinata yang langsung di sambut dengan angukkan kepala oleh Naruto. Pelayan tersebut segera kembali ke dapur, dan selang beberapa menit kemudian datang seorang pelayan lain membawa dua gelas jus jeruk serta cake coklat dan menaruhnya di depan Naruto dan Hinata, membungkuk sedikit pada Hinata lalu kemudian kembali lagi ke dapur.

"Silahkan di minum Naruto-kun." Tawar Hinata.

"Eh, makasih." Narutopun segera meminum jusnya, namun menyemburkan kembali keluar minumannya, karena tiba-tiba terdengar suara bass khas bapak-bapak dari belakang Hinata.

"Sudah pulang Hinata? Siapa dia?" Tanya bapak-bapak itu yang merupakan Hiashi-sama

"Prupreeett" Naruto menyemburkan sedikit minumnya, yang membuat perhatian Hinata kembali kepadanya.

"Ada apa Naruto-kun? Kau tidak kenapa-napakan?" Tanya Hinata mengindahkan/ ngacangin pertanyaan Hiashi-sama, yang membuat Hiashi-sama menjadi pundung pojokkan ruangan—ya enggaklah— membuat Hiashi-sama menjadi tahu siapa yang datang kerumahnya itu.

"Oh, Jadi ini yang namanya Naruto itu?" Tanya Hiashi-sama dengan nada suara yang meremehkan dan sinis, Hinata agak malu dan Naruto yang menjadi nyengir salah tingkah.

"Uhk…uhuk..ehem.. I—Iya om." Jawab Naruto sekenanya, dan tersenyum menutupi salah tingkahnya namun membuat ayah Hinata menaikkan sebelah alisnya tanda siniesss…

'Gilaaa!, gue baru aja datang, udah ketemu ama bapaknya. Mana bapaknya kayak sinis banget ama gue lagi.' Pikir Naruto.

'Ih, apa-apaan sih Ottou-san, akukan jadi gak enak sama Naruto-kun.' Pikir Hinata sambil menundukkan kepalanya.

Namun, tanpa disangka-sangka dan di duga, Hiashi-sama segera mendudukkan dirinya diantara Naruto dan Hinata, lalu mulai membaca kembali korannya, di tambah lagi kaki kanannya yang diangkat dan ditaruh diatas paha kirinya. Sehingga membuat Naruto harus sedikit menggeser duduknya. Waduh, sepertinya Hiashi-sama menempatkan dirinya sebagai pembatas jalan.

'Demi anakku' pikir Hiashi-sama.

Maka jadilah mereka terdiam, terdiam, daaan terdiam. Naruto kembali mengamati seisi ruangan itu, padahal hatinya ingin mengajak Hinata untuk mengobrol. Hinata sendiri terus menundukkan kepalanya, menyesali mengapa ayahnya juga harus duduk di antara mereka berdua. Sementara Hiashi-sama mengawasi Naruto dan Hinata dengan ekor matanya sambil pura-pura membaca dan membolak-balikkan Koran. 'siaga dua' pikir Hiashi-sama.

Naruto berpikir keras bagaimana agar ia bisa berbicara dengan Hinata. Sebenarnya sih bisa aja, kalau dia mau di lirik sinis terus dengan ayah Hinata. Lalu kemudian dia mendapatkan ide, Tringgg… dia segera mengambil handphonenya dan meng-sms Hinata. Hinata pun begitu, setelah mendapat sms dari Naruto dia segera membalasnya, maka merekapun saling balas-membalas sms, yang terkadang tersenyum-senyum membalas sms. Sementara itu Hiashi-sama segera menyadari hal itu, kemudian berpikir keras bagaimana untuk menghentikan kelakuan dari muda-mudi yang ada di sampingnya ini.

'Sialan, mereka mengelabuiku. Malah sms-an lagi, harus ke siaga satu kalau begini. Cari ide…cari ide…' dan Tringgg… muncul sebuah lampu bolham lima watt di dekat kepala ayah Hinata.

"Aduh, kayaknya ini sudah malam. Mana Neji belum pulang lagi, kamu ngak mandi Hinata?" Tanya Hiashi-sama ngak ngambung, mana pertanyaannya nyinggung lagi buat mereka yang belum mandi. Hinata yang hendak membalas sms Naruto jadi berhenti, dan menggelengkan kepalanya. Sementara itu Naruto sudah tahu kalau dia di usir secara halus oleh ayah Hinata.

'Gue nyadar kok, gue nyadar, gue di usir neh'

"Eh, Om, Hinata, kalau begitu gg-saya permisi dulu yah." Pamit Naruto.

"Hem, Iya silahkan cepat-cepat." Ujar Hiashi-sama sambil mengibas-ngibaskan tangannya seraya mengusir Naruto. Hinata pun segera bangkit berdiri untuk mengantar Naruto ke depan pintu, begitu juga Hiashi-sama yang berpikiran bahwa dia juga harus turut ikut, jangan sampai mereka malah ngobrol lagi.

"Gue permisi dulu yah Hinata-chan, Om." Pamit Naruto saat telah sampai di depan pintu, dan tersenyum pada ayah Hinata yang menatapnya 'cepat pergi dari sini'.

"Hem, iya. Hati-hati." Tukas ayah Hinata.

"Assalamu alaikum." Hinata dan Hiashi-sama pun membalas salam Naruto yang mulai membawa motornya pergi dari Hyuuga mansion untuk kembali pulang ke habitat aslinya.

Dalam perjalanan pulang, Naruto terus memikirkan soal kejadian yang tadi, bagaimana caranya ia bisa mendekati Hinata, orang waktu dia datang kerumah Hinata tadi dia sudah di awasi oleh ayahnya. Tapi, dia akan terus mencoba untuk membongkar teka-teki hatinya ini, mengenai perasaan apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap Hinata. Sampai suatu ketika setelah ia hampir sampai di rumahnya, dia tahu bahwa yang dia rasakan adalah….

"AKU JATUH CINTA PADANYA!!!" Seru Naruto tanpa sadar, dan membuat tetangga-tetangganya melongok keluar jendela, sekali aja ada syuting reality show yang menceritakan sang pemain utama yang menyatakan cintanya di depan umum. Naruto sendiri tidak merasakan pandangan dari tetangga-tetangganya itu, lalu kemudian mulai berpikir keras, bagaimana agar ia bisa menyatakan perasaannya pada gadis lavender itu.

"Sepertinya aku akan melakukan hal itu." Gumam Naruto pelan lalu beranjak masuk kedalam rumahnya, dan kemudian menyusun sebuah rencana yang hanya dirinya dan tuhanlah yang tahu.

-

-

TUBERCOLLUSE

*di keprukz*

AUTHOR SIDE :

NYAHAHAHA…., Rhyme ngapdet fic lagi….*bangga, padahal lama banget ngapdetnya.*. makacih-makacih para readers, reviewers, dan senpai-senpai yang dah mau baca dan review kelanjutan fic Rhyme. Rhyme jadi senang sendiri, dan apa lagi ternyata pairing naruhina jadi makin rame aja nih. Hehehe, asyik penggemar naruhina jadi nambah. Yo ayo majukan naruhina…. Yeahaaaaa….

Zooo, gimana neh fic Rhyme, semakin anehkah? Semakin gajekah? Atau semakin…--semakin apa yah?*mikir mode :on*. Ya udah dari pada banyak ngomong mending bales review aja neh….

BALESAN REVIEW :

Light-chan : wkwkwk, ngak papa lagi. Gak marah kok di katain alay. Asyik Light-chan bikin fic naruhina lagi. Makin rame aja nih pairing fic favorit kita *zo akrab*.. Setuju aja deh sama saran Light-chan, tapi aku masih belum bisa bikin yang sampai membawa pembaca terhanyut sama cerita Rhyme. Masih harus banyak belajar. Tapi buat yang pertanyaan Light-chan mengenai saingan cinta kayAknya…--kayaknya apa yaa?*mikir mode : masih on*. Gak ada tuh, yang jadi penghalau Cuma si..*ngelirik-lirik seseorang.*Wew makasih banget nih reviewnya.

Tamaru Ariki : Rhyme panggil Tama Nii-kun aja yah, *biar sama kayak Light*. Yes, akhirnya dapet review juga dari Tama Nii-kun. Setuju dengan pendapat Nii-kun!!!. Yo majukan naruhina…* di lempar ke got kerena nyanyi2 gaje*

Chian30ne : jangan bosan Review fic Rhyme ye… waduh masih mikir tuh buat yang dari X-7. review lagi ya…

Zaia setuju dengan pendapat author mengenai 'satu review saja bisa membuat semangat para author untuk menulis'. Jadi, buat anda semua yang telah membaca fic Rhyme, anda semua harus….. Review….Review nyang banyak yah *berkali-kali juga gak papa**di gilas*

Kalo ngak di review, nanti…. Nanti …--nanti apa yaaa *mikir mode : masih ooon terus*

Sekali lagi…

REVIEW….!!!!