Nano, Log In

"Maji de Watashi ni Koi Shinasai: The Pythagoras Legacy"

Warning:

Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan pastinya Kata-kata kasar yang frontal.

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Highschool DxD: Ichie Ishibumi

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

Chapter 4: Ancaman Lain, Otsutsuki Madara.

Opening Song: Nano - No Pain, No Game

16 Juni 20xx

09.00 AM (Cafe)

Saat ini Shintaro bersama Xenovia dan Irina sedang berada di sebuah cafe. Alasannya? Ini semua salah Irina yang memaksa Xenovia dan Shintaro ikut untuk menemaninya. Pasalnya cafe yang dikunjungi bukanlah cafe biasa melainkan Cosplay Cafe, sebuah cafe dimana semua pelayannya memakai baju cosplay. Cosplay anime, manga, urban legend bahkan ada beberapa yang mengcosplay tokoh-tokoh Creepypasta dan juga SCP.

"Goku, Gintoki, Natsu, Ichigo, Luffy, Touma, Slenderman, Jane The Killer,SCP 1. Wah... Hanya disinilah aku bisa merasa seperti berada di akiba." Kata Irina mengabsen beberapa karakter anime,creepypasta bahkan SCP.

"Apakah anda ingin memesan, nona?" Kata pelayan di samping Xenovia yang bercosplay menjadi Jeff The Killer. Sementara itu Xenovia yang dihampiri oleh pelayan itu malah diam saja dan semakin mendekatkan tempat duduknya ke Irina.

"Ano... nona? Apakah anda ingin memesan?" Tawar pelayan itu (lagi).

"Hahaha... sebenarnya temaku ini takut dengan hal-hal yang berbau Creepypasta. Jadi aku pesankan saja, 2 cappucino dan juga 2 porsi dango ukuran besar. Shintaro, kau ingin pesan apa?"

"Karena ini adalah cafe jepang jadi aku pesan ramen ukuran besar ekstra bawang mentah dan juga setengah matang ditambah saus tiram yang digoreng setengah matang lalu ditaburi oleh beberapa gram biji wijen dan juga untuk minumnya aku ingin jus yang terasa pahit. Apa ada saran untuk jusnya, pelayan?"

"Hm... kalau pahit mungkin anda bisa memilih jus buah mengkudu." Usul sang pelayan itu meski dirinya sendiri sedikit sweatdrop mendengar anehnya pesanan Shintaro.

"Catat itu! Itulah pesananku." Perintah Shintaro dan hanya dibalas anggukan oleh sang pelayan sebelum mencatat pesanan Shintaro tadi kemudian pergi ke dapur.

"Jadi Irina-san adalah orang jepang?" Kata Shintaro membuka percakapan.

"Ya. Aku berasal dari kota Kuoh prefektur Tokyo. Kalau Shintaro-san berasal dari kota mana?"

"Aku juga sama, kota Kuoh."

"Bisakah kalian berbicara dengan biasa? Sesuai kata pepatah Jika ada di Roma berperilakulah seperti orang Roma." Kata Xenovia menyela obrolan Irina dan Shintaro.

"Tapi ini adalah Cosplay Cafe. Lagipula kami berdua juga berasal dari Jepang, bagaimana kalau kau mencobanya Xenovia?"

"Hah? Bahasa Jepangku tidak terlalu lancar."

"Paling tidak pakailah suffiks saat memanggilku dan Shintaro."

"Suffiks? Contohnya?"

"Kau bisa memanggilku dengan Irina-chan lalu Shintaro dengan Shintaro-kun."

"Baik-baik, Irina-chan." Kata Xenovia mengalah.

"Kalian berdua sepertinya akrab sekali." Komentar Shintaro melihat perdebatan singkat tadi.

"Tentu saja. Aku dan Irina adalah satu-satunya perempuan di divisi masing-masing jadi sudah pasti kami berdua akrab."

Di tempat lain... (Ophis)

Di sebuah ruangan luas bercat putih yang memiliki kelembaban diatas rata-rata menunjukkan ruangan itu bukan terletak di permukaan tanah melainkan dibawahnya. Disana terlihat seonggok tubuh anak kecil yang memakai gaun gothic lolita berwarna hitam dan ungu sedang tidur tengkurap di lantai, keringat yang ada di keningnya sudah cukup untuk menentukan seberapa lelahnya dia.

Dari lantai yang ada di depannya muncullah sebuah Lift Mini yang menjunjung sebuah kotak yang biasa digunakan untuk menjadi kado. Di luar kotak tersebut bertuliskan My Treasure for Ophis. Dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Ophis mencoba untuk berdiri dan berjalan dengan tertatih-tatih untuk mengambil kotak yang merupakan peninggalan dari Pythagoras Kaguya untuknya.

Setelah mendapatkannya tubuhnya kembali terjatuh karena kelelahan, tangannya yang masih dapat bergerak ia gerakkan untuk membuka penutup kotak yang mirip seperti kado ulang tahun. Melihat apa isi di dalamnya membuat senyum di wajah Ophis mengembang karena dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu gelang Orpheus buatan Kaguya.

Flashback...

6 Juni 20xx

Saat ini di ruangan CEO milik Ophis sedang terjadi perdebatan antara sang asisten dan sang CEO.

"Anda tidak boleh Egois, Ophis-sama. Kaguya-sama hanya memperbolehkan anda mengambil gelang Orpheus khusus buatannya saat sedang terdesak saja. Selain itu tidak boleh."

"Tapi saat ini aku sedang terdesak. Bayangkan saja apa yang akan Enigma katakan jika tahu aku tidak bisa membunuh seseorang yang bernama Shintaro itu!"

"Tapi perkataan Kaguya-sama adalah mutlak perintah untuk kami. Tetap tidak bisa."

"Aldente! Kalau begitu aku memerintahkanmu untuk memberitahuku dimana Kaguya menyimpannya."

"Gelang Orpheus itu ada di ruangan bawah tanah nomor 3 dan dilindungi oleh game yang dibuat Kaguya-sama sendiri dengan kemampuan Writing of God nya."

"Kalau begitu aku permisi." Setelah tahu dimana letak benda yang ia inginkan, Ophis keluar dari ruangan CEO dan pergi ke ruang bawah tanah.

Ruang Bawah Tanah (penyimpanan Orpheus)

Setelah sampai di depan ruangan bawah tanah seperti yang dikatakan oleh Aldente, Ophis segera membuka knop pintu lalu segera memasuki ruangan itu. Setelah sampai di dalamn, Ophis sedikit terkejut karena ternyata ruangan penyimpanan gelang Orpheus buatan Kaguya sangat sederhana dan berwarna monoton yaitu putih. Ada sesuatu yang menarik perhatian Ophis yaitu sebuah panel dengan camera di atasnya mirip monitor PC layar datar tetapi ukurannya lebih luas yaitu sekitar 45 Inci.

Tak lama kemudian, panel itu mulai menyala dan menscan orang yang yang masuk ke ruangan itu. Setelah selesai kemudian panel itu menampilkan profil orang yang telah ada di databasenya yaitu Ophis. Lalu kemudian muncullah sebuah pertanyaan bodoh dari panel itu sekaligus menandakan bahwa Ophis sedang masuk proses identifikasi suara.

"Apakah anda benar-benar Ophis? Otsutsuki Ophis?"

"Ya! Aku adalah Ophis, Otsutsuki Ophis." Kata Ophis menjawab pertanyaan verifikasi yang dikatakan panel itu. Tiba-tiba profil Ophis yang semula ditampilkan di panel berganti menjadi tanda centang berwarna hijau dengan tulisan Sudah Terverifikasi, nona Ophis Otsutsuki.

Lalu tak lama kemudian sebuah game ditampilkan oleh panel itu. Game yang seharusnya sangat-sangat-sangat simpel jika saja kau punya gelar Edison.

Ilustrasi Game:

[ ] = ( )

[ ] + [ ] + [ ] = 33

16, 18, 12, 20, 15, 17, 37, 15, 26, 11, 18, 19, 14, 13, 10, 22, 21.

Back to Story...

"Hm... jadi intinya harus memasukkan angka untuk menyamakannya dengan jawaban. Apa yang nenek pikirkan hingga membuatku menyelesaikan game seperti ini? Aku sudah ditakdirkan untuk membuat game bukan menyelesaikannya, meski kemampuan menyelesaikan game milikku diatas rata-rata tapi kalau masalah angka seperti ini seharusnya diberikan kepada Edison." Ratap Ophis pada nasibnya yang sedikit apes setelah tahu jika game yang ada di ruang penyimpanan adalah game yang berhubungan dengan angka. Meski namanya sendiri merujuk kepada angka tetapi itu bukan jaminan bahwa dia bisa menyelesaikan game angka 'Simpel' ini seperti Edison.

"Kemungkinannya ada 4913 jawaban. Mungkin butuh waktu seminggu lebih untuk menyelesaikan game ini. Kalau tahu begini aku tidak akan kabur saat diajari matematika terapan dan murni 13 tahun lalu." Mengeluarkan handphone nya, Ophis kemudian menelpon seseorang.

"Ada apa Ophis-sama?" Jawab dari seberang telepon. Dari suaranya terdengar jelas bahwa dia itu perempuan.

"Tasha, bawakan aku beberapa makanan dan juga minuman."

"Baik. Tapi kalau boleh tahu ada apa dengan Aldente sehingga Ophis-sama menyuruh saya?"

"Aldente aku liburkan beberapa hari ke depan, dan juga jangan antarkan di ruanganku tapi antarkan di ruangan bawah tanah no 3."

"Tu-tunggu Ophis-sama! Ruangan no 3 adalah penyimpanan harta karun Pythagoras Kaguya-sama yang hanya boleh dibuka dan digunakan di saat terdesak saja."

"Aldente sudah cerita padaku, jangan khawatir." Dengan itu, Ophis menutup telponnya.

"Aku tidak bisa memikirkan apapun tentang game ini. Tapi aku tidak boleh menyerah, kalau aku menyerah pasti nenek marah padaku di alam sana. Dengan ini aku bersumpah tidak akan keluar ruangan ini sebelum bisa memenangkan gamenya!" Teriaknya lantang di ruang penyimpanan gelang Orpheus buatan Kaguya.

10 Hari kemudian...

Kelihatannya Ophis benar-benar menepati sumpahnya. Soalnya ini sudah 10 hari sejak pertama kali Ophis menginjakkan kakinya di ruangan ini dan masih belum bisa menyelesaikan gamenya. Dia sudah memeriksa seluruh pengaturan yang mempunyai kemungkinan jawaban bemar tetapi masih tidak menemukan jawabannya.

Apa dia tidak makan/minum? Tentu saja dia makan dan minum tapi diantarkan ke ruangan ini oleh Tasha, salah satu orang kepercayaan Kaguya yang telah mengabdi pada GoG sewaktu dia masih kecil dan saat Kaguya lah pemimpin GoG.

"Hah... hah... hah... tidak bisa. Aku tidak bisa menyelesaikannya, diantara 4913 kemungkinan jawaban, tidak ada yang benar. Pasti ada sesuatu yang menjadi alasan nenek membuat game seperti ini, pasti ada alasannya." Kata Ophis sambil terengah-engah layaknya orang yang baru saja berlari marathon 10km *?*.

Tanpa dia sadari, saat dia mulai berfikir lagi mata kanannya mulai berubah warna menjadi merah. Ophis yang merasakan sambungan kelima inderanya seperti terputus tentu saja terkejut karena rasanya seolah-olah dia telah memasuki dunia baru dimana indera manusia sangat terbatas.

"Kenapa ini? Kenapa penglihatanku semakin sempit? Tapi rasanya otakku semakin ringan untuk berfikir." Guman Ophis mengutarakan apa yang dirasakannya.

Tak menyia-nyiakan kesempatannya saat masuk ke dalam Phi Brain, Ophis segera memikirkan apa kesalahannya sehingga samlai saat ini tidak bisa menemukan jawabannya. Akhirnya setelah beberapa saat berfikir ia telah menemukan jawabannya, jawaban yang ia cari selama ini telah ada di depan matanya tetapi dialah yang tidak sadar.

"Jawabannya adalah 1, 2+1, 8+20!" Teriak Ophis meneriakkan jawabannya sebelum akhirnya harus jatuh ke depan sehingga kini posisinya terlihat seperti orang yang tidur tengkurap.

Flashback off...

Kesadarannya perlahan-lahan menghilang seiring rasa kantuk yang mulai datang. Bahkan suara Tasha yang memanggilnya tidak ia hiraukan karena otaknya sudah mencapai batas seorang pemegang gelar yaitu Phi Brain. Meski mendapatkan gelang ini di lubuk hatinya ia masih memiliki rasa penasaran terhadap pemuda bernama Shintaro itu.

Beberapa jam kemudian...

Membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat membuat Ophis mengerang. Setelah sepenuhnya terbuka yang dilihatnya adalah ia kini berada di ruang kesehatan di dalam GoG. Sadar akan sesuatu yang kurang, Ophis segera mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan dan untung saja gelang Orpheus buatan Kaguya itu masih ada di meja yang berada disamping tempat tidurnya.

Cleeek!

"Ophis-sama, anda sudah bangun?" Tanya seseorang yang membuka pintu ruang kesehatan.

"Ya. Tasha, aku punya rencana dan juga proyek untuk GoG."

"Kalau boleh tahu rencana apa?"

"Einstein telah sampai disini, di kota Roma. Maka dari itu aku memerintahkan kalian untuk merekonstruksi game yang digunakan berduel antara Pythagoras Kaguya dan Einstein Hagoromo." Perintah Ophis yang membuat Tasha kaget seperempat mati.

"Eh! Tapi untuk merekonstruksinya membutuhkan waktu yang lama."

"Ganti beberapa bagiannya menjadi lebih sederhana. Waktu kalian adalah 14 hari dan setelah selesai aku akan mencobanya dengan targetku."

Mencobanya dengan Shintaro? Berduel? Ya! Akhirnya Ophis telah menemukan apa yang ia butuhkan untuk membunuh pemuda bernama Shintato itu. Yang ia butuhkan bukanlah sesuatu semacam pembunuh bayaran, racun yang mematikan, hewan berbahaya, virus mematikan dsb. Saat memasuki Phi Brain tadi, ia menemukan apa yang ia butuhkan untuk membunuh Shintaro yaitu sebuah game.

"Baik. Akan saya usahakan Ophis-sama." Kata Tasha lalu segera berjalan keluar ruangan kemudian segera mengurus sesuatu yang diperlukan untuk merekonstruksi game yang digunakan oleh generasi sebelumnya berduel.

"Tidak salah lagi, perasaan yang kurasakan selama ini adalah dendam. Dendam kepada Einstein karena membunuh Pythagoras." Guman Ophis sambil tangan kanannya memegang dada kirinya untuk merasakan detakan jantungnya. Setelah itu diambilnya gelang Orpheus itu dari meja di sebelahnya lalu dia memasangnya di pergelangan tangan kanannya layaknya sebuah gelang biasa.

Back to Shintaro...

Kini Shintaro sudah pulang dari acara jalan-jalannya dengan Irina dan Xenovia. Jaket merah bergaris putih dan celana yang ia pakai juga sudah ia ganti dengan mantel panjang berwarna hitam dan juga celana hitam. 3 buah Pisau bercanbang 3 pemberian koleganya (Minato) yang tergeletak di sampingnya juga tak lupa ia masukkan kedalam mantelnya.

Eh? Pisau? Mungkin sedikit Flashback bisa menceritakannya.

Flashback...

Shintaro yang baru saja masuk ke dalam apartemennya langsung membuka bajunya untuk berganti pakaian. Tapi sayangnya rencana itu harus ia batalkan karena saat ia berada di depan cermin, dia melihat di belakangnya ada orang yang memakai penutup wajah sedang berusaha menikamnya dari belakang.

"HAAAH!"

Tapi anehnya Shintaro menghentikan perbuatan orang asing tadi tanpa menggunakan berbagai macam jurus beladiri. Yang ia lakukan hanyalah memegang tangan orang asing yang memegang pisau itu lalu dengan bau nafas yang sangat menyengat karena baru saja minum jus mengkudu, Shintaro menghembuskan nafasnya tepat di depan hidung orang asing yang hendak menikamnya.

Dan hasilnya sang penyusup itu melepaskan cengkraman Shintaro dengan paksa lalu segera mundur. Tangannya yang berhasil terlepas pun menutup lubang hidungnya karena tak tahan dengan bau menyengat.

Cekleek...

"Ada apa ribut-ribut begini?" Tanya seseorang yang membuka pintu apartemen Shintaro.

"Hm... Xenovia? Ada beberapa penyusupan, tenang saja."

Tanpa membuang kesempatan, penyusup itu berlari menuju pintu keluar yang dihadang oleh Xenovia dan Irina tetapi karena perhatian Xenovia yang terpecah ke Shintaro dia tidak siap dengan serangan kejutan di tengkuknya hingga akhirnya pingsan. Irina yang melihat hal itu mencoba menyerang si pelaku tetapi sebuah pukulan telak telah sampai di perutnya dan membuatnya menunduk kesakitan.

Lalu penyusup itu menggendong Xenovia yang pingsan menuju ke atap apartemen Shintaro, ternyata ada sebuah helikopter yang telah menunggunya disana. Shintaro yang terlambat karena penyusup tadi telah membawa pergi Xenovia hanya bisa mendecih tidak suka. Sekembalinya dari atap, Shintaro ditanya oleh Irina.

"Bagaimana Shintaro?"

"Xenovia telah dibawa penyusup tadi. Apa kau kenal dengan penyusup tadi? Soalnya dia terlihat profesional."

"Cao-Cao, mungkin. Tapi tenang saja aku tahu dimana Xenovia dibawa."

"Eh! Kau tahu? Dimana?"

"Ikut aku." Bukannya menjawab pertanyaan Shintaro, Irina malah menyuruh Shintaro mengikutinya ke dalam apartemennya dan Xenovia. Setelah mereka berdua masuk, Irina langsung menghidupkan laptopnya lalu membuka sebuah program pelacakan.

"Jadi kau memasang alat pelacak pada sahabatmu?" Tanya Shintaro sweatdrop mengetahui fakta ini.

"Xenovia itu magnet bagi segala jenis masalah jadi untuk mengantisipasi masalah seperti ini aku sudah mempersiapkannya." Bukannya malu karena kelakuannya, Irina malah membanggakan hal tersebut.

"Disini, di sebelah utara kota Roma. Di sebuah bangunan kosong yang bersebelahan dengan gedung perusahaan Adnimoon group, ayo kita kesana Shintaro." Sayangnya sebelum sempat Irina pergi, Shintaro telah terlebih dahulu memukul tengkuknya. Tak lupa tangannya siaga di belakang tubuh Irina untuk memastikan bahwa Irina tidak jatuh ke lantai.

"Maaf. Yang diincar penyusup itu adalah aku, jadi aku yang akan kesana." Setelah menidurkan Irina di tempat tidurnya kemudian Shintaro segera masuk ke apartemennya untuk mempersiapkan segala hal yang dirasa perlu.

Flashback off...

Setelah selesai memasukkan semua pisau bercabang 3 pemberian Minato kini Shintaro dihadapkan oleh 2 pilihan yang sulit. Apakah ia harus membunuh atau dia hanya membebaskan Xenovia saja.

"Ck! Lagipula fanfic ini sudah hampir tamat jadi aku bunuh saja penyusup itu. Lagipula aku juga sudah muak diawasi terus setiap malam." Setelah mengatakan itu Shintaro juga mengambil sebuah topeng lain dari bawah tempat tidurnya. Topeng yang bergambar manusia yang sedang tersenyum (topeng "HEI" dari Darker Than Black).

Setelah semuanya siap, Shintaro segera turun ke lantai dasar lalu keluar gedung apartemen untuk mencegat taksi. Setelah mendapatkan taksi, dia langsung menyuruh sopirnya jalan menuju ke sebuah bangunan di samping gedubg perusahaan Adnimoon group.

Bangunan disamping Adnimoon group...

Di dalam bangunan tak terpakai apalagi berpenghuni di samping gedung perusahaan Adnimoon group kini terlihat sesuatu yang menarik, karena ada seorang gadis yang terikat lalu ada juga seorang laki-laki yang sedang duduk santai menghadap ke pintu masuk seolah-olah dirinya adalah seorang penjahat yang menunggu datangnya pahlawan super menyelamaykan sandera.

"Cao-Cao, apa tujuanmu kali ini?" Tanya Xenovia yang telah sadar dari pingsannya. Dia anggota terlatih jadi tidak perlu waktu lama baginya untuk sadar kembali setelah tengkuknya dipukul.

"Aku hanya menjalankan perintah dari orang yang menyewaku. Kebetulan saja kau dekat dengannya jadi aku menggunakanmu sebagai sandera. Cukup cerdik bukan?" Balas Cao-Cao yang masih saja menatap pintu masuk.

"Irina atau Shintaro? Siapa targetmu?"

"Jika Irina aku bisa membunuhnya saat itu juga. Namanya Shintaro, entah kenapa tapi bosku sangat membencinya tetapi dia juga tidak bisa membunuhnya padahal dia itu termasuk orang yang cerdik."

"Shintaro? Siapa orang yang menyewamu?"

"Dia adalah CEO dari Adnimoon group sekaligus pemimpin dari organisasi Game of God generasi ke 3. Otsutsuki Ophis."

Brak!

Suara pintu terbuka terpaksa menghentikan percakapan antara Cao-Cao dan Xenovia. Melihat siapa yang datang membuat Xenovia dan Cao-Cao heran karena dia bukanlah Shintaro melainkan orang asing bertopeng dan berpakaian serba hitam.

"Terima kasih atas infonya tadi, Cao-Cao. Jadi yang memburuku adalah pemimpinnya sendiri ya? Sebenarnya aku lelah kalau seperti ini terus." Kata orang bertopeng itu pada Cao-Cao. Sementara itu Cao-Cao yang merasakan instingnya berteriak untuk tetap waspada pada orang di depannya ini langsung berdiri dari duduknya lalu mengambil tombaknya yang sudah melegenda bagi para penjahat maupun para penegak keadilan.

Sekilas terlihat seperti tombak biasa pada umumnya hanya saja terbuat dari logam putih tetapi sebenarnya tombak ini puluhan bahkan dikatakan ratusam kali lebih kuat dari tombak logam biasa. Bagian lancipnya juga tak jarang telah menjebol banyak baja maupun besi tetapi sampai saat ini belum juga terlihat menumpul sedikitpun. (tombaknya Lancer dari Fate stn: UBW)

"Jadi kau adalah Shintaro ya? Aku tidak tahu apa masalahmu dengan bosku tetapi aku sudah diperintahkan untuk membunuhmu, jadi maaf saja!" Kata Cao-Cao lalu melesat ke arah Shintaro.

"Jangankan kau yang merupakan anak buahnya tidak tahu, aku sendiri juga tidak tahu apa masalahku dengannya!" Balas Shintaro yang juga melesat ke arah Cao-Cao dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku mantelnya untuk memegang pisau pemberian Minato.

Traaang!

Suara logam yang berbenturan menggema di bangunan kosong yang mereka jadikan tempat bertarung. Laju tombak Cao-Cao yang ingin menusuk dada Shintaro berhasil ditahan oleh dua dari tiga pisau yang dibawa Shintaro dibalik mantelnya.

"Ho... jadi rumor itu benar ya."

"Rumor?"

"Rumor tentang pisau bercabang 3 yang telah membunuh teman lamaku, Kokabiel."

Hentakan dari Cao-Cao telah mengubah keseimbangan tadi. Shintaro yang tak kuat menahannya terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Entah apa yang dipikirkannya, Shintaro melempar pisaunya ke atas sehingga menancap ke langit-langit tetapi tidak terlalu dalam.

"Ada apa, Shintaro? Apa kau menyerah?" Tanya Cao-Cao dengan nada dan wajah arogannya kepada Shintaro yang kini hanya punya satu pisau setelah membuang salah satunya.

"Jangan bodoh. Aku punya cadangannya." Merogoh di saku mantelnya, Shintaro kembali mengeluarkan sebuah pisau yang sama seperti yang dilemparkannya ke langit-langit.

"Jadi apakah benar jika kau adalah orang yang membunuh Kokabiel?"

"Entahlah. Jika kau mendasari teorimu dengan pisau ini maka benar, aku yang membunuhnya meski ada beberapa opsi lagi yang tersedia."

"Akan segera aku akhiri!" Tanpa membuang waktu lagi, Cao-Cao kembali menerjang Shintaro dengan tombaknya. Tapi kali ini Shintaro yang mencoba memblok sabetan tombak Cao-Cao harus mengakui kehebatan Cao-Cao karena lagi-lagi sebuah pisaunya terlempar ke samping mengikuti arah sabetan Cao-Cao. Tubuhnya yang oleng juga terjatuh terduduk ke belakang, kini senjatanya hanyalah sebuah pisau di tangan kanannya.

"Sepertinya berakhir sudah tugasku, Shintaro." Kata Cao-Cao yang menodongkan bagian tajam tombaknya ke leher Shintaro.

"Ya, ini berakhir." Bukannya takut atau apa, Shintaro malah menjawab Cao-Cao dengan tersenyum meski tertutupi oleh topengnya. Cao-Cao yang merasa tidak enak mencoba untuk mundur kembali tetapi itu terlambat.

Jraats! Suara benda tajam yang menusuk kulit.

Awalnya Cao-Cao mengira itu adalah suara tombaknya yang tidak sengaja menembus leher Shintaro tetapi rasa sakit di bagian tengkuknya menyadarkannya akan sebuah hal yaitu dialah yang tertusuk, bukannya Shintaro.

Melihat Cao-Cao yang telah tertusuk oleh pisau yang ditancapkannya ke langit-langit kemudian jatuh membuat Shintaro melakukan serangan balasan. Direbutnya tombak Cao-Cao kemudian ditusukkannya tombak itu di leher Cao-Cao agar dia tidak berteriak dan mati dengan cepat.

Sementara itu Xenovia yang melihat pertarungan singkat tetapi berdarah secara live tak kuasa untuk berkedip. Pemuda bernama Shintaro itu terlatih dalam hal bertarung dalam jarak dekat berbeda dengannya yang hanya bisa mensupport rekan-rekannya dari jarak ratusan meter.

"Ayo pulang. Irina sudah menunggumu." Kata Shintaro mengajaknya pulang sembari mengulurkan tangannya kepada Xenovia.

"BAGAIMANA AKU BISA PULANG KALAU KAU TIDAK MELEPASKAN IKATANKU BEGO!"

Di sebuah pulau tropis...

Di sebuah bangunan tinggi nan mewah yang berdiri tengah-tengah pulau tropis terlihatlah para pekerja yang berlalu lalang kesana-kemari. Pekerja? Ya, mereka bekerja untuk membangun sesuatu. Sesuatu yang akan dapat membunuh perwujudan dari dewa.

Di sebuah ruangan yang banyak dilalui oleh pekerja itu terdapat seorang laki-laki berusia 20'an yang sedang menatap ke jendela luar. Rambut raven panjang berwarna putihnya ia biarkan tergerai seolah-olah dia tidak memikirkan tentang rambutnya. Ketenangan yang dirasakan orang itu harus terusik saat ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.

Tok! Tok!

"Masuk saja." Kata orang itu mempersilahkan orang yang mengganggunya masuk.

"Tuan Madara. Pesawat anda telah siap, kita bisa berangkat saat ini juga ke kota Roma." Kata orang yang baru masuk tadi. Dari pakaiannya bisa dipastikan bahwa ia seorang pilot.

"Baiklah, kita berangkat hari ini juga."

"Dimengerti." Kata orang itu sebelum akhirnya keluar ruangan Madara.

Belum sempat dia menikmati masa-masa tenangnya lagi, telinga Madara telah menangkap suara orang yang panik.

"TUAN MADARA! TUAN MADARA!" Pintu kembali terbuka menampilkan seorang laki-laki paruhbaya yang berpakaian layaknya seorang profesor.

"Ada apa?"

"Desain yang anda buat, mesin yang digunakan dan juga jumlah muatannya yang terlalu banyak, semua itu tidak cocok Tuan Madara."

"Ck! Aku tahu hari ini akan tiba juga. Kembalilah ke ruang mesin"

"Baik! Tuan Madara."

'Desain super ramping, mesin super yang aku adaptasi dari New Horizon ditambah lagi muatan yang dibawa berton-ton. Sudah pasti tidak akan cocok, apa yang kupikirkan saat itu?' Tanya Madara pada dirinya sendiri.

Merogoh sesuatu di sakunya, Madara kini memegang sebuah handphone. Setelah memencet serangkaian nomor, ditelponnya nomor itu.

"Ada apa Tuan Madara?"

"Penerbangannya aku undur 14 hari lagi. Ada beberapa kesalahan teknis."

"Baik."

Tut... tut... tut...

"Kelihatannya kalian harus menungguku lebih lama lagi. Einstein Uzumaki Namikaze Naruto yang melakukan penyamaran bodoh dan juga saudari angkatku Antionette Otsutsuki Ophis."

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

A/N: Kenapa nih... Madara kok bilang Einstein Uzumaki Namikaze Naruto bukannya Shintaro Kisaragi? Dan Ophis ternyata juga sama kayak Naruto yang punya kelemahan di game berunsur angka tapi lebih parah.

Gwe rasa cara Shintaro mengerjakan gamenya mirip bahkan sama dengan Naruto. Apa itu artinya..?

Karena gak ada penjelasan waktunya jadi saya bahas secara umum. Pengerjaan game yang dilakukan oleh setiap pemegang gelar itu sebenarnya SAMA. You know? SAMA. Coba deh baca lagi di fanfic MAJIKOI: LMS chapter Kemunculan Sang Pemilik Baru Prometheus. Disana pengerjaan game Akeno juga hampir dan mirip dengan Naruto dan Shintaro. Hal ini terjadi karena saya ingin menjelaskan sedetai-detailnya agar para reader paham, kalo mau saya bisa bikin penjelasan game Shintaro di chapter 3 berbeda gayanya dengan Naruto TAPI saya gak bisa jamin semua reader paham maksud saya di gam itu.

Apa hubungan Shintaro, Minato, Naruto?

Diem lu cuk! Di chapter sebelum-sebelumnya juga udah gwe bahas kalo Shin itu koleganya Minato -_- gak paham maksud kolega? Pasti belum cek Toko*edia ya?

Final Chap: Antonionette vs Einstein,bangkitlah Uzumaki Namikaze Naruto!

Nano, Log Out