Yo, Minna maaf aku telat apdetnya..

Soalnya aku baru aja selesai ujian semester dan habis kena anemia juga beberapa hari terakhir,

udah gitu sekarang kepilih jadi panitia PORSENI jadi makin sibuk dan gapunya waktu buat apdet chapter 4 /Kok jadi curhat?\

Untuk review kalian mungkin gak aku balas dulu di chapter ini.. makasih buat yang udah nunggu, dan langsung aja! :v

.

.

.

.

Happy Reading

I Fated To Love You

Chapter 4: The Truth of Natsu


Pagi yang cerah di Magnolia. Kicauan burung dan matahari yang terasa hangat itu membuat semua orang bersemangat.

Lucy menatap keluar, mengamati indahnya kota Magnolia di pagi hari dari balik jendela besar dikamar itu. Penduduk Magnolia mulai berlalu lalang melakukan aktivitasnya. Ada yang pergi ke tempat kerja, ke sekolah, atau bahkan sekedar untuk berolahraga pagi. Mereka semua terlihat begitu bersemangat. Tapi tidak dengan pria pemalas yang masih berada didalam selimutnya ini.

"Natsu, apa kau akan tidur sampai ayam jantan bertelur?! Ayo banguuuun!"

Ditariknya selimut Natsu dengan paksa. Ia sudah kesal dan kehabisan cara untuk membangunkan Natsu sejak tadi. Ia sudah menyiapkan sarapan, tapi dengan iming-iming itu pun Natsu masih tak beranjak dari tidurnya.

"Berisik. Apa kau mau mengusik tidurku sampai ayam jantan bertelur?! Aku masih ingin tidur". Natsu menarik kembali selimutnya. Kembali menutupi dirinya membuat sebuah perempatan kini muncul di pojok dahi Lucy.

Lucy menghela nafas frustasi. Jika saja semalam ia tidak pergi kencan bersama Gray maka pelajaran Natsu bisa selesai lebih cepat dan Natsu tidak akan tidur larut malam. Ia mengakui jika ini adalah kesalahannya, tapi tetap saja ia bisa terlambat kalau begini.

"Natsu aku bisa terlambat kalau begini". Rengeknya sambil kembali menarik-narik selimut Natsu.

"Kalau begitu kau berangkat duluan saja". Mungkin bagi berandal sekolah seperti Natsu 'terlambat' adalah hal yang biasa. Tapi bagi Lucy tidak.

"Ayolah Natsu.. aku masih belum hafal jalanan dari apartemenmu kesekolah" Lucy terus menarik selimut Natsu, berharap pria itu akan terusik dan bangun.

"Salahkan dirimu". Balas Natsu acuh tak acuh. Ia tidak peduli apa yang Lucy katakan, ini semua salahnya karena sudah mengurangi jam tidurnya semalam.

"Itu karena kau menyetir terlalu cepat!". Lucy terus merengek, masih menarik selimut Natsu yang bahkan tidak mau lepas.

Lucy akhirnya menyerah. Tenaga Natsu terlalu kuat untuk menahan selimut itu darinya.

Sial, yang benar saja! Haruskah ia berangkat ke sekolah sendiri? Kalau dia sampai tersesat masalahnya malah akan bertambah runyam.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan berangkat sendiri. Nikmati tidurmu, Dragneel-san".

BLAM!

Lucy menutup pintu dengan kasar. Sudah cukup Natsu membuatnya kesal pagi ini. Ia tidak peduli kalau dirinya tidak tau jalan dari rumah Natsu ke sekolah. Ia bisa bertanya pada orang lain nanti meskipun ia yakin semua orang akan bertanya-tanya mengapa seorang murid tidak tau jalan menuju sekolahnya sendiri.

Diam-diam kini Natsu membuka matanya. Apa Lucy serius akan berangkat sendirian?

"Terserah padamu, Heartfilia-san! Aku tidak akan mencarimu kalau kau sampai hilang dijalan". Teriaknya keras agar Lucy yang entah sudah berangkat ataubelum itu bisa mendengarnya.

Ia lalu kembali melanjutkan tidurnya. Namun matanya itu tak bisa tertutup dengan benar. Ia merasa gelisah sekarang. Bagaimana jika ia tidak punya guru privat karena Lucy tersesat lalu hilang atau diganggu oleh preman-preman di jalan? Atau lebih parahnya Lucy diculik dan dilibatkan dalam bisnis prostitusi? Astaga. Natsu bahkan memikirkan hal seperti itu juga!

"Sialan. Wanita itu membuatku pusing saja!"

.

.

.

I Fated To Love You

.

.

.

Dengan langkah gontai Lucy mulai berjalan keluar dari kompleks apartemen, sambil mencoba mengingat-ingat jalan mana saja yang mereka lalui setiapberangkat ke sekolah. Sial, kenapa ia tidak bisa mengingatnya?!

Lucy semakin frustasi, mungkin ini saatnya ia bertanya kepada orang disana.

"Lucy?"

Lucy menoleh, saat suara yang tak asing itu menyapa indera pendengarannya.

"Gray?!". Lucy sedikit terkejut. Sejak kapan Gray berada disitu?

"Kau jalan kaki?" tanya Gray basa-basi. Dan itu membuat Lucy bertambah kesal.

'Kau melihatku jalan kaki dan sekarang masih bertanya?' batin Lucy sweatdroped. Ia lalu mengangguk.

"Ayo naik". Tawarnya pada Lucy, memintanya untuk naik ke mobil hitamnya itu.

Lucy terdiam, menimbang-nimbang apakah dia harus menerima tawarannya atau tidak. Jujur saja, Lucy tidak ingin. Tapi jika ia menolak, selain terlambat Lucy juga punya resiko tersesat. Mau tak mau Lucy pun akhirnya menaikinya. Tak peduli dengan tatapan membunuh dari para fangirls Gray disekolah nanti.

"Jadi kau tinggal disekitar sini?". Tanya Gray begitu mobilnya itu melaju. Lucy mengangguk, sebagai perwakilan dari kata 'iya'. Ia terlalu sibuk memikirkan Natsu yang sudah bangun atau belum sehingga hanya menjawab pertanyaan Gray itu dengan anggukan singkat.

"Aku melihat warna rambut dan seragammu dari kejauhan, aku langsung tau kalau itu kau". Gray tersenyum kearah Lucy, kemudian kembali fokus pada jalanan.

"Hee benarkah begitu? Aku tidak menyangka kau mengenaliku dari belakang".

"Tentu saja, itu karena kau lain dari yang lain". Gray terkekeh pelan. Lucy hanya sedikit tertawa, entah apa yang Gray maksud dengan 'lain dari yang lain'. Mata Lucy menoleh kebelakang, mencoba memastikan apakah Natsu sudah berangkat atau belum. Tapi ia tak menemukan siapapun dibelakang mereka.

"Na Lucy, kau masuk di klub mana?". Kali ini Gray kembali memulai obrolan, sekedar mengisi keheningan selama perjalanan.

Pertanyaan itu memecahkan lamunannya, kini ia kembali menghadap kedepan. "Aku masuk di klub sastra. Aku menulis disana. kau sendiri?". jawabnya singkat.

"Hee.. jadi kau suka menulis? Aku ikut klub fotografi. Itu hobiku".

Merekapun terus melanjutkan pembicaraan, hingga tak sadar kalau mereka ternyata sudah sampai desekolah.

...

Sementara itu.. kembali ke apartemen Natsu kini terlihat dirinya baru saja selesai memasang dasinya. Ia menyambar jas sekolahnya asal, kemudian bergegas keluar dari kamarnya menuju garasi.

Namun langkahnya terhenti, saat matanya tak sengaja menangkap semangkuk salad yang tereletak di meja. Salad itu terbungkus rapih dengan plastik bening. Disitu tertulis "Untuk Natsu: Makanlah jika kau masih sempat".

"Cih". Natsu mendecih pelan. Ia tidak suka sayuran, tapi salad itu terlihat lezat baginya. Apa yang harus ia lakukan? Makan? Atau tidak? Tapi jika ia memakannya itu sama saja dengan membuang-buang waktu. Lupakan. Biarkan saja salad itu disana. ia harus segera menyusul Lucy sebelum ia menghilang dijalan.

Ia kemudian berlari menuju garasi, memacu ducati merahnya dengan kecepatan tinggi berharap dirinya bisa menyusul Lucy.

.

.

.

I Fated to Love You

.

.

.

Entah sudah berapa jam sejak 'pagi kacau' di apartemen Natsu itu berlalu. Kini terlihat dirinya tengah berada di gudang sekolah, dengan seragam sekolah yang sudah tidak karuan dan keringat yang mulai mengalir dari pelipisnya.

"Sialan. Kalau tau begini jadinya... seharusnya tadi aku bolos sekolah saja!"

Natsu menendang sebuah kardus kosong dengan kesal.

Dia tidak menemukan Lucy disepanjang jalan menuju sekolah, alhasil yang ia lakukan adalah mengitari seluruh jalanan Magnolia berharap dia bisa menemukan Lucy. Ia lalu memastikan apakah Lucy sudah sampai di sekolah atau belum. Tapi apa yang ia dapatkan? Ia terlambat dan petugas keamanan sekolah mencegahnya masuk kemudian memprosesnya diruang BP. Dan sekarang, hukumannya adalah merapikan gudang!

Natsu kembali mengerutu tak jelas. Diangkatnya meja dan kursi yang masih berantakan itu. Ia tidak punya pengalaman dalam hal seperti ini, tapi setidaknya ia tau apakah itu sudah rapi atau belum.

Untunglah tidak ada seorangpun disini. Jika saja ada maka sudah pasti orang itu akan mentertawai Natsu. Natsu Dragneel bersih-bersih? Yang benar saja.

Ia bekerja sejak pagi, dan sekarang ruangan yang semula berantakan dan penuh debu itu sudah bersih. Natsu bahkan tidak percaya kalau yang melakukan semua pekerjaan ini adalah dirinya.

"Fyuuh"

Natsu mengusap keringat didahinya dengan lengan bajunya. Rasanya benar-benar melelahkan, jadi seperti inilah yang Lucy rasakan saat membersihkan apartemennya beberapa minggu yang lalu, tepatnya sehari setelah mereka tinggal bersama.

"Kerja bagus, Natsu. Andai saja kau orang yang memang seperti ini tanpa perlu diancam".

Suara tegas seorang wanita menginterupsinya. Ia berbalik, mendapati wanita berambut scarlet itu berdiri dibelakangnya, sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

Erza Scarlet. Guru perempuan paling killer se-Fairy Tail Highschool. Dia wanita yang sangat cantik, tapi juga sangat menakutkan. Dia bahkan lebih mirip petugas kedisiplinan daripada seorang guru. Itu karena dia selalu menuntut semua siswa disini untuk disiplin dan saling menghormati satu sama lain.

"Terserah apa katamu. Bisakah aku pergi sekarang?".

Natsu menatap malas, menenteng jas sekolahnya, pertanda ia sudah siap pergi dari sana kapan saja. Erza tak menjawab, ia hanya mengangguk, masih tersenyum puas menatap hasil kerja Natsu yang benar-benar diluar perkiraan.

Dan dengan itupun Natsu segera memakai jasnya. Kemudian pergi meninggalkan gudang menuju kelasnya.

.

.

.

I Fated To Love You

.

.

.

Koridor mulai terlihat ramai, ternyata bel pulang sudah berbunyi. Ini bagus, Natsu bisa langsung pulang setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan itu. Untunglah otot-ototnya itu memang sudah terlatih sejak awal, jika tidak, mungkin saja saat ini ia sudah salah urat atau semacamnya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, saat tak sengaja ia melihat Gray yang menatapnya dengan tatapan menghina.

"Kau mendadak jadi rajin dan suka bersih-bersih ya?" Gray tersenyum mengejek, ia merasa bosan sekarang, jadi apa salahnya mencari hiburan dengan berkelahi dengan Natsu?

"Minggir, aku sedang tidak mood untuk berkelahi denganmu". Balas Natsu acuh tak acuh, ia lelah dan sama sekali tak punya niat bertarung atau hanya sekedar adu mulut dengan musuh bebuyutannya itu.

"Oey-oey.. ada apa denganmu? Apa kau sudah bertaubat dihadapan tuhan, wahai anak buangan?" Gray kembali memancing, ia tidak suka diacuhkan seperti itu, lagipula ia tau dengan keadaan seperti itu Natsu malah akan semakin mudah terpancing emosinya.

BRAK!

Natsu mencengkram kerah seragam Gray, mendorongnya ke tembok hingga menimbulkan bunyi keras yang sukses membuat para murid yang ada disana terkejut dan menoleh kearah mereka.

"Anak apa kau bilang?" Natsu menatap Gray tajam, semakin mengeratkan cengkramannya pada seragam Gray itu.

"Aku bilang anak buangan".

Gray menyeringai puas, ia berhasil memancing Natsu. Dengan begitu, Natsu aka menghajarnya, kemudian Natsu pasti akan kembali diproses diruang BP dan Gray bisa meminta hukuman skorsing untuk Natsu atau bahkan hukuman drop out jika dia mau.

BUAGH!

Satu tinjuan mentah Natsu berikan di rahang mulus Gray Fullbuster, membuat beberapa murid yang ada disana memekik ketakutan. Berapa kalipun mereka melihat perkelahian antara Natsu dan Gray semuanya tetap ketakutan. Itu karena mereka tidak pernah sekaliun berkelahi dengan 'santai'.

"Apa maksudmu?!"

"Kau tidak mengerti?! Maksudku adalah, kau itu adalah anak yang selalu dibuang. Kau selalu mendapat tempat terakhir disekolah ini bukan? tidak ada satupun yang menyukaimu disini. dan ah.. aku dengar ibumu bahkan meninggalkanmu saat kau masih kecil. Itu benar kan?".

Masih belum puas, Gray terus memancing Natsu dengan mengatakan hal-hal yang sangat tidak ingin Natsu dengar.

Natsu makin berang, ia tidak bisa menahan emosinya lagi.

BUAGH!

"Arrrgh!"

Natsu memukul mata kiri Gray, tidak peduli seberapa sakit yang Gray rasakan.

"Tutup mulutmu brengsek! Kalau kau tidak bisa melakukannya maka aku yang akan menutup mulutmu itu!"

Kali ini bukan hanya satu, Natsu memukulinya berkali-kali. Ia bahkan tidak ragu lagi untuk menghancurkan rahang Gray dan mematahkan tulang rusuknya. Ia sudah benar-benar emosi. Ia benar-benar tidak suka jika ada orang yang mengungkit-ungkit tentang masa lalunya. Natsu tidak ingin meningat semuanya.

Gray yang awalnya berniat membuat Natsu dihukum dengan membiarkan Natsu memukulinya itu kini mulai merasa keselamatannya terancam. Jika ia terus diam, bukan tidak mungkin dirinya bisa sekarat ditangan Natsu Dragneel. Ia harus bertindak.

BUAGH!

Gray balas memukul rahang Natsu dengan keras. Membalas semua pukulannya yang tadi. Terjadilah baku pukul diantara mereka berdua. Mereka benar-benar berkelahi dengan membabi buta. Semua orang yang ada disana bahkan tidak ada yang berani memisahkan keduanya.

Kini terlihat darah segar menagalir di sudut bibir Natsu. Gray mendorong Natsu kebelakang, membenturkan kepalanya ke tembok koridor. Kini keduanya saling mencengkram kerah baju satu sama lain dengan tangan kiri mereka. Tangan kanan mereka sama-sama mengepal erat. Bersiap memukul lawannya kapan saja.

Hal itu sukses membuat para murid kembali berteriak histeris. Mereka akan semakin 'liar' jika tidak dihentikan. Bagaimana jika salah satunya ada yang terluka dan orang tuanya menuntut?

"Kalian berdua hentikan!"

Teriak Lucy dari belakang kerumunan orang-orang itu.

Hening..

Tak ada satupun dari 'penonton' yang bersuara. Namun lain dengan Natsu dan Gray. Mereka tidak peduli dengan teriakan Lucy barusan. Mereka terlalu sibuk mempersiapkan diri untuk memukul lawan masing-masing.

"Natsu aku mohon hentikan!".

Dengan mata berkaca, Lucy berlari kearah mereka berdua. Namun mereka beruda masih tak bergeming, membuat air mata kini mengalir membasahi pipi Lucy dengan deras. Dengan segala kekuatan dan keberanian yang ia punya, Lucy berusaha memisahkan keduanya. Sudah cukup. Ia tidak ingin melihat ada yang terluka lebih parah lagi.

Natsu terdiam, cengkramannya pada kerah baju Gray melemah. Jika saja yang memisahkan keduanya adalah orang lain. Mungkin Natsu sudah memukul orang itu juga. Tapi yang memisahkan mereka saat ini adalah Lucy. Terlebih lagi.. Lucy.. Menangis..

Natsu akhirnya melepaskan cengkramannya, begitu pula dengan Gray. Entah mengapa melihat Lucy menangis membuat keduanya merasa sangat bersalah. Saat ini Lucy berada diantara mereka berdua. Menangis sambil menundukkan kepalanya. Keadaan masih hening dan juga tegang. Semuanya sibuk menyaksikan. Namun akhirnya Lucy menghapus airmatanya.

"Kumohon.. jangan ada yang melaporkan kejadian ini pada guru.. aku mohon.." Lucy membungkukkan badannya. Memohon dengan sangat kepada mereka semua untuk tidak memperbesar masalah ini.. Ia tau Natsu memukul Gray bukanlah tanpa alasan. Dan ia tidak ingin Natsu kembali mendapat hukuman.

"Luce.. "

Natsu menatap Lucy sedikit tak percaya. Ini adalah kali pertama ada seseorang disekolah ini yang membelanya. Yang dikatakan Gray benar, Natsu memang anak buangan. Tidak ada satupun yang menyukainya disini. Tapi Lucy? Lucy berbeda.. Ia tidak tau mengapa Lucy membelanya sampai sejauh ini.

Kini Lucy menegakkan tubuhnya, ia menghapus airmatanya dengan kasar, tak peduli jika contact lens yang ia pakai itu bisa copot atau bahkan rusak. Dengan cepat, ditariknya tangan Natsu, meninggalkan kerumunan orang-orang beserta Gray yang menatap mereka dengan tatapan bingung.

.

.

.

I Fated to Love You

.

.

.

"Untuk apa kau berkelahi hanya karena hal yang tidak penting begitu Natsu?". Tanya Lucy sesaat setelah memasangkan plester di pipi kanan Natsu.

Saat ini mereka duduk disebuah bangku panjang di taman belakang sekolah. Sekolah mulai terlihat sepi, hanya terlihat bebarapa siswa yang masih melanjutkan kegiatan klub-nya.

"'Tidak penting' dengkulmu!" Protes Natsu, sedetik kemudian meringis menahan sakit. Ia tidak terima kalau 'hal' yang membuatnya memukul Gray itu dianggap tidak penting.

"Memangnya apa yang dia katakan padamu?". Tanya Lucy polos.

Natsu terdiam. Memberitahukan hal itu pada Lucy sama saja dengan mengungkit-ungkit masa lalunya sendiri. Jujur saja ia tdak ingin, tapi mungkin tidak ada salahnya jika ia sedikit mencurahkan isi hatinya pada Lucy. Toh juga Lucy berada dekat dengannya dan bisa dipercaya.

"Dia bilang.. aku ini anak buangan". Natsu menyandarkan punggungnya pada kursi. Lelah, mungkin.

"Anak buangan? Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba dia mengatakan hal seperti itu?". Lucy bingung.

Kini terlihat Natsu tersenyum kecut. "Itu bukan tiba-tiba. Itu semua benar. Aku memang seperti itu.. sejak dulu"

Lucy semakin heran, ia masih bingung dengan yang Natsu katakan. Terlebih dengan kata 'anak buangan' yang masih membuatnya begitu bertanya-tanya.

"Dulu kami hidup dalam kemiskinan. Aku tinggal bersama ibu dan kakakku dirumah kami yang kecil, sedangkan ayahku pergi merantau mencari pekerjaan". Natsu mulai bercerita, sementara Lucy mendengarkannya dengan serius.

"Tapi ibuku adalah seorang pengecut yang bahkan tidak bisa bertahan dalam keadaan yang seperti itu. Dia meningalkanku dan kakakku, lalu pergi dengan laki-laki lain. Dengan kata lain, kami dibuang. Saat itu aku masih sangat kecil".

Lucy terkejut. ia tidak menyangka.. ternyata Natsu pernah mengalami hal seperti itu juga, terlebih.. disaat dirinya masih begitu kecil.

"Setelah itu, ayahku membesarkan kami berdua seorag diri. Kau tau, sejak hari itu aku tumbuh menjadi anak yang begitu lemah. Saat masih SD, teman-temanku selalu menghinaku, mereka menindasku dan mematahkan kacamataku sama seperti yang terjadi padamu. Tidak ada satupun yang menyukaiku, apa lagi menjadi temanku. Bahkan sampai sekarang. Tapi kakak selalu bilang padaku, bahwa aku adalah anak yang kuat".

"Lama kelamaan aku berubah, aku berusaha menutupi semua kesedihan dan kelemahanku itu dengan menjadi anak nakal seperti sekarang. Semakin hari aku terus membuat ulah. Entah sudah berapa kali ayah dan kakakku dipanggil kesekolah karena ulahku".

Natsu terkekeh pelan, menertawai dirinya sendiri yang ternyata begitu konyol. Benar, sangat konyol.

Lucy tertegun, ia benar-benar tidak tau jika Natsu mempunyai masa lalu yang sama sepertinya. Ya, sama persis. Hanya saja, Natsu adalah orang tangguh yang mampu berubah demi dirinya sendiri. Sedangkan dirinya? Dia begitu lemah.. jika bukan karena Natsu saat itu, Ia mungkin tidak akan berubah.

"Saat aku lulus SMP, ayahku akhirnya berhasil dengan bisnisnya dan menjadi pengusaha yang hebat seperti sekarang. kurasa ia ingin membuat ibuku menyesal, hahah". Tawanya, Lucy tidak tau apa yang Natsu tertawakan. Tapi Lucy ikut tersenyum.

"Lalu sekarang? dimana ayah dan kakakmu?" tanya Lucy kemudian.

"Sejak awal ayahku memulai bisnisnya di Amerika. Mereka berdua tinggal dan mengurus perusahaan disana. sebentar lagi Kantor cabang di Fiore juga akan diresmikan, meskipun aku tidak tau siapa pimpinannya"

"Tapi itu bukan urusanku" lanjutnya kemudian menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada bangku.

Ia menatap Lucy yang masih memasang ekspresi terkejutnya. Tak lama kemudian Natsu tertawa keras.

"Jangan memasang wajah seperti itu. Aku tau kau terkejut mengetahui kebenaranku. Jika mau menghinaku silahkan saja. Tapi sekarang.. apa kau ikut denganku?"

Natsu beranjak dari duduknya, mengulurkan tangannya pada Lucy dengan maksud mengajaknya ke suatu tempat. Lucy sendiri masih bingung, tapi akhirnya ia mengangguk dan menerima uluran tangannya.

.

.

.

I Fated To Love You

.

.

.

Natsu menarik tangan Lucy memasuki sebuah supermarket. Entah apa yang ingin Natsu beli disana, mungkin saja Natsu haus atau ingin membeli persediaan makanan untuk kulkasnya. Lucy hanya iam dan mengikutinya.

"Natsu? Kau tidak akan memakan sebanyak itu kan?". Tanya Lucy heran tak kala melihat Natsu mengambil begitu banyak snack dan minuman yang hampir memenuhi trolinya. Ia yakin sebesar apapun nafsu makannya Natsu tetap tidak akan mampu menghabiskan snack dan minuman sebanyak itu.

Natsu tak menjawab, langsung saja ia menuju kasir, membayarnya, kemudian berlalu meninggalkan supermarket itu tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaan yang terus saja Lucy lemparkan padanya.

...

"Natsu, ini bukan arena Moto GP!"

Teriak Lucy saat Natsu memacu ducati merahnya dengan begitu cepat membuat dirinya takut setengah mati. Tapi percuma saja, selain helm yang ia pakaisuara dari motornya itu juga membuat Natsu tidak bisa mendengar suara Lucy. Lucy sendiri tidak tau kemana Natsu akan membawanya.

Ia memeluk pinggang Natsu dengan sangat kencang tidak peduli apa yang Natsu pikirkan tentangnya. Karena jika Lucy tidak memeluknya, maka Lucy yakin dirinya sudah terbang terbawa angin.

Natsu akhirnya menghentikan motornya tepat didepan disebuah gang kecil di sudut kota. Ia melepas helmnya, menyuruh Lucy untuk turun.

Dengan nafas tersengal, Lucy turun dari sana. Padahal ia tidak habis lari maraton atau semacamnya, tapi cara Natsu berkendara itu benar-benar membuat nafasnya tak karuan.

"Kupikir tadi aku hampir mati". Lucy menghembuskan nafas panjang. Mengelus dadanya yang serasa ingin meledak saat itu.

"Natsu apa yang kau lakukan?". Tanyanya heran begitu melihat Natsu membuka penutup saluran air yang ada diujung gang itu. Disini terlihat sangat sepi.. jangan bilang kalau yang ada didalam saluran air itu adalah markas rahasia para berandalan mesum yang diketuai oleh Natsu.

"Apa kau akan terus berdiri disana? masuklah". Kata Natsu yang entah sejak kapan sudah menghilang. Sepertinya ia sudah berada didalam.

Lucy tak punya pilihan lain, akhirnya ia pun masuk kedalam. Disana terdapat sebuah tangga besi. Tapi Lucy tak tau bagaimana cara untuk turun. Ia memikirkan segala cara. Mulai dari turun pelan-pelan, hingga terjun langsung. Namun tetap saja Lucy tidak bisa atau lebih tepatnya tidak berani untuk turun. Ia takutketinggian.

Natsu merasa kesal. Untuk turun saja Lucy membutuhkan waktu yang begitu lama.

GREB

Lucy terkejut, saat merasakan tangan kekar Natsu memeluk pingganya dari belakang. Natsu kemudian mengangkat Lucy, membantunya untuk turun. Hal itu sukses membuat wajah Lucy memerah dan jantungnya berdegup kencang. Rasanya sama seperti saat Natsu memeluknya tadi malam. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan rambutnya. Natsu lalu menariknya menuju sebuah pintu didalam saluran air itu.

Natsu mengetuk pintunya tiga kali. Tak butuh waktu lama.. pintu itu akhirnya terbuka. Memperlihatkan seorang anak laki-laki berambut coklat yang berusia sekitar 12 tahunan. Anak laki-laki itu tersenyum lebar menyambut kedatangan Natsu. Natsu sendiri kini tersenyum lembut, benar-benar lembut.

"Natsu-nii!" Wajah anak itu kini terlihat berbinar.

"Yo, Kevin. Bagaimana kabarmu?" Natsu mengacak rambut anak yang baru saja ia panggil 'kevin' itu. Hal itu lagi-lagi membuat Lucy bingung.

"Aku baik-baik saja". Jawab anak bernama Kevin riang. Ia terlihat sangat senang atas kedatangan Natsu. "Dimana yang lain?"

"Mereka ada di dalam. Ayo masuk". Kevin membukakan pintu dengan lebar, mempersilahkan keduanya untuk masuk.

Betapa terkejutnya Lucy saat memasuki ruangan itu. Sebuah ruangan yang cukup luas yang didalamnya terlihat seperti sebuah rumah. Ada banyak kasur dan berbagai perabotan. Ditengah-tengah ruangan itu kini terlihat beberapa orang anak sedang bermain bersama.

"Yo, jagoan kecil, aku membawakan oleh-oleh untuk kalian!"

"Natsu-nii!"

"Natsu nii-chan!"

Anak-anak itu terlihat begitu gembira melihat kedatangan Natsu. Mereka berlari memeluk Natsu ramai-ramai membuat Natsu kewalahan. Diantara anak-anak itu, ada dua orang anak yang terlihat semuruan dengan Kevin, dan sisanya masih begitu kecil.

"Aku tidak mengerti dengan semua ini.." Lucy mengedip-ngedipkan matanya, ia masih tidak mengerti dengan apa yag ia lihat. Siapa sebenarnya anak-anak ini?

"Kami adalah anak-anak terlantar yang ditemukan oleh Natsu-nii di jalanan".

Lucy menoleh, mendapati Kevin yang masih tersenyum menatap pemandangan didepannya itu.

"Saat itu aku juga Ruuka sedang diganggu oleh preman-preman jahat saat sedang menjual koran dijalan. Mereka memukul kami lalu merampas uang kami. Kemudian Natsu-nii datang dan menghajar preman-preman itu sampai mereka pergi. Sejak saat itu Natsu-nii membawa kami dan anak-anak lain yang bernasib sama seperti kami kesini". Jelas Kevin masih dengan senyumannya.

Dan entah untuk yang keberapa kalinya, Lucy kembali dibuat terkejut. Natsu.. menyelamatkan anak-anak ini? sulit dipercaya..

"Ne ne, Nii-chan, apa kakak yang disana itu pacarmu?". Salah satu diantara mereka menggoda Natsu dengan menunjuk-nunjuk Lucy. Hal itu sukses membuat pipi keduanya memerah.

"B-bukan.. kami hanya.."

"Natsu-nii jangan bohong! Kau tidak perlu menyembunyikannya dari kami. Kami tidak akan marah kok. Justru kami sangat senang bisa punya 'mama' yang cantik sepertinya". Kata yang paling kecil diantara mereka dengan begitu polosnya.

'mama?'

Keduanya bertambah merah.

"A-ah, perkenalkan, namanya Lucy" Natsu mencoba mengalihkan pembicaraan. Begitu juga Lucy yang langsung merespon.

"Lucy Heartfilia desu~". Lucy tersenyum manis. Berharap anak-anak itu menyukainya.

Namun senyumnya itu hilang begitu melihat anak-anak itu yang hanya terdiam. Detik berikutnya anak-anak itu tersenyum lebar.

"Huaaah nama yang indah"

"Dia cantik sekali"

"Sangat cocok dengan Natsu-nii!"

"Aku menyukainya!"

Seketika mereka menjadi begitu ribut hanya dengan pujian-pujian yang mereka berikan kepada Lucy. Ini adalah kali pertama Natsu membawa seorang gadis kemari. Padahal Natsu selalu menyombongkan diri kalau dirinya adalah lelaki yang populer dikalangan wanita disekolahnya.

"Luce.. perkenalkan, yang ada disampingmu itu namanya Kevin". Natsu mulai memperkenalkan mereka satu persatu.

"Namaku Kevin, umurku 12 tahun. Senang bertemu denganmu, Lucy-nee". Kevin memperkenalkan dirinya.

Diantara anak-anak itu kini terlihat seorang anak laki-laki berambut hitam legam mendekati Lucy dengan sangat antusias. "Namaku Steve, umurku 10 tahun. aku juga senang bertemu denganmu"

"Aku Zen! 8 tahun!" kali ini seorang anak laki-laki berambut silver.

"Namaku Ruuka, umurku sama dengan Kevin, dan aku juru memasak disini". Seorang anak perempuan berambut abu-abu panjang itu tersenyum manis kearah Lucy. Anak itu terlihat begitu manis dan anggun.

"Namaku Claire, 7 tahun!" Kata seorang anak perempuan berambut pink terang.

Berikutnya seorang anak perempuan berambut coklat memperkenalkan dirinya "Namaku Eliza, umurku 7 tahun, salam kenal ya, Onee-chan!"

"Namaku Sylvia! Umurku baru 5 tahun". Sylvia adalah yang paling kecil diantara mereka. Dia berambut pirang pendek dan selalu memegang boneka anjing.

Lucy tersenyum saat anak-anak itu menyebutkan nama-nama indah mereka. Sulit dipercaya, anak-anak dengan usia yang masih sangat muda ini hidup sendiri.. tanpa orang tua? Jika dipikir lagi, ternyata nasib anak-anak ini jauh lebih buruk darinya.

"Kalian semua.. apa kalian aman tinggal disini?". Tanya Lucy memastikan. Ia takut, bagaimana jika ada yang menemukan mereka, lalu menindas dan mempekerjakan mereka secara paksa?

"Kami baik-baik saja kok. Selama ada Natsu-nii, Levy-nee dan Gajeel-nii, tidak ada siapapun yang berani mengganggu kami". Jawab Claire dengan riang.

"Levy? Gajeel? Siapa mereka?"

"Dia itu teman Natsu-nii, merekalah yang selalu merawat kami" Ruuka tersenyum manis.

"Mereka disini". Natsu tersenyum sumringah begitu mengetahui dua orang yang sedang mereka bicarakan itu telah berada disini.

Gajeel, seorang pria dengan rambut hitam lebat dan wajah yang penuh piercing, dan juga Levy, seorang gadis cantik berambut biru dengan gayanya yang.. wow. Ia mengenakan jeans putih dan kaos biru mini yang memperlihatkan perut ratanya. Dilihat dari penampilannya, jelas sekali kalau mereka adalah berandalan sejenis Natsu.

"Ara Natsu? Kau disini rupanya" Ujar Levy.

Detik berikutnya pandangannya teralih pada Lucy. Ia terpaku, mengamati Lucy dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.

"Cantik sekali.. apa dia pacarmu?!" Seketika Levy menjadi heboh.

"Bukan!" sangkal Natsu cepat.

"Sudahlah, tidak usah ditutup-tutupi, salamander" Celetuk Gajeel membuat Natsu bertambah kesal. Kenapa semua orang selalu mengira Lucy adalah pacarnya?! Apa benar mereka terlihat seperti itu?

"Sudah lupakan saja. Ne Ruuka-chan, hari ini kita akan buat nasi kare super pedas kesukaan kalian. Dan Kau.. Apa kau mau membantu kami?". Levy tersenyum manis kearah Lucy. Sepertinya ia menyukainya.

Lucy balas tersenyum lebar. "Tentu saja!"

...

Beberapa menit berlalu, kini terlihat Lucy, Levy, dan juga Ruuka yang masih sibuk dengan kare yang tengah mereka siapkan. Yang lainnya menyiapkan meja makan, sementara Natsu dan Gajeel terlihat sedang mengobrol.

"Ah, aku lupa.. aku belum tau namamu". Celetuk Levy saat dirinya mengingat kalau ia melupakan hal yang penting. Itu benar, ia belum tau nama Lucy.

"Namaku Lucy. Lucy Heartfilia. Salam kenal.." Lucy tersenyum simpul. "Hee.. namaku Levy McGarden. Senang bertemu denganmu".

Levy mengulurkan tangannya dengan maksud mengajak Lucy berjabat tangan. Dengan senang hati Lucy menerima uluran tangan Levy itu. Mereka saling tersenyum. Ini adalah pertama kalinya ada seorang wanita yang memperlakukannya dengan baik. Lucy bisa merasakan.. kalau dia dan Levy bisa menjadi teman baik. Rasanya seperti mimpi. Setelah sekian lama akhirnya Lucy memiliki seorang teman.

Mereka lalu membawa hidangan kare panas itu ke meja makan yang sudah tertata rapih beserta piring-piring yang sesuai dengan jumlah mereka. Semuanya duduk dengan antusias menanti kare lezat yang sudah mereka bayangkan sejak tadi.

Acara makan malam mereka terasa begitu menyenangkan. Ditemani segala celotehan dari anak-anak manis itu.

Lucy tersenyum, ia sama sekali tidak tau bahwa didalam saluran air yang kumuh dan gelap itu. Terdapat sebuah ruangan yang benar-benar dipenuhi dengan kehangatan. Ia bahkan tak melihat setitikpun kesedihan dari sorot mata anak-anak itu. Itu semua karena yang Natsu, Gajeel dan Levy lakukan adalah.. membahagiakan mereka, dan sebisa mungkin membuat mereka agar tidak merindukan orang tua mereka.

"Disini.. benar-benar hangat.."

.

.

.

I Fated To Love You

.

.

.

Mereka telah kembali ke apartemen Natsu, dan memulai pelajaran seperti biasa.

Hening.. hanya ada suara dari gesekan antara pulpen Natsu dan kertas putih yang kini sudah mulai penuh dengan tulisan. Itu karena saat ini Natsu sedang dokus mengerjakan soal dari Lucy.

Natsu sudah banyak berubah sejak pertama kali belajar malam itu. Dia menjadi lebih fokus dan lebih mudah menyerap pelajaran. Ia juga sudah mulai memakan sayuran yang Lucy masak untuknya.

"Ne Natsu.. siapa sebenarnya Gajeel dan Levy itu?" Lucy menyandarkan dagunya pada meja. Ia ingin tau lebih jelas tentang Gajeel dan Levy.

"Mereka sama sepertiku. Hanya seorang anak buangan yang kemudian berubah untuk dirinya sendiri". Jawab Natsu singkat, tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari soal-soal itu.

"Jadi.. maksudmu.."

Natsu menggeletakkan pensilnya, dan mulai bercerita pada Lucy.

"Ya, Dulunya Gajeel adalah seorang anak gelandangan sama seperti anak-anak itu. Dan saat beranjak dewasa, Gajeel merubah dirinya, ia ikut bersama para preman untuk merampok. Tidak heran jika penampilannya seperti itu".

"Heeee? Jadi Gajeel itu preman?!" tanya Lucy heboh.

"Aku belum selesai bicara!" Natsu sedikit menggebrak meja. Pasalnya teriakan Lucy barusan itu benar-benar membuatnya kesal.

"M-maaf.." Lucy nyengir lebar, sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V pertanda dirinya tidak ingin cari masalah dengan Natsu. Natsu lalu kembali bercerita.

"Dia merampok, lalu memberikan hasil rampokannya itu kepada Kevin dan yang lainnya. Itu cara yang buruk, tapi dia baik".

Lanjut Natsu membuat Lucy bingung dengan kata-katanya.

"Lalu Levy? Bagaimana dengannya?" tanyanya Lagi.

"Dulunya Levy adalah seorang jenius yang juga selalu dihina karena penampilannya, sama sepertimu. Ia lalu bertemu dengan Gajeel yang merubahnya seperti sekarang. Kau lihat penampilannya? Itu semua ulah Gajeel. Kami bertiga bertemu secara tak sengaja saat melindungi anak-anak itu dari para preman. Kami lalu menjadi teman". Jelas Natsu mengakhiri ceritanya.

"Lalu? Apa yang membuatmu ingin merawat mereka?". Lucy kembali bertanya. Persis seperti acara wawancara di televisi, membuat Natsu sweatdroped.

"Biar aku tanya padamu.. apa kau tega melihat anak sekecil itu terlantar dan menjadi budak para preman, huh?" Natsu menyolot. Ia tidak tau sebenarnya Lucy ini polos atau bodoh.

"Kau benar juga ya!" Ujar Lucy polos, membuat Natsu kembali sweatdroped.

"Aku, Gajeel dan juga Levy, hanya tidak ingin mereka memiliki masa kecil yang buruk seperti masa kecil kami. Mereka punya hak untuk bahagia!"

Lucy tertegun. Mereka bertiga adalah orang-orang yang begitu kuat, tak seperti dirinya. Mereka melakukan kebaikan yang disembunyikan dengan sangat rapih dibalik semua kenalakan yang mereka lakukan. Andai saja semua orang tau tentang apa yang sudah mereka lakukan, mungkin mereka akan sangat menyesal karena telah menganggap ketiga orang ini sebagai orang 'jahat'.

"Suatu hari nanti, jika aku sudah menjadi pembalap kelas dunia, aku bersumpah akan memberikan tempat yang layak untuk mereka!". Kata Natsu bangga, dengan wajah berbinar. Kemudian melanjutkan kegiatan belajarnya itu.

"P-pembalap? Jadi cara naik motormu yang tadi itu... " Kali ini giliran Lucy yang sweatdroped. Dibalik cara naik motornya yang sudah seperti setan itu ternyata Natsu ingin menjadi seorang pembalap? Tapi lupakan saja. Itu bagus, selama Natsu masih memiliki cita-cita.

Lucy menopang pipinya dengan kedua tangannya. Jujur saja ia masih tak bisa berhenti memikirkan apa yang sudah terjadi hari ini. Ia tidak pernah tau bahwa dibalik dirinya yang begitu egois dan tidak manusiawi, ternyata Natsu adalah orang yang sangat baik. Dia melaukan apapun yang ia suka, dan akan berjuang demi apapun yang dia inginkan, tak peduli apapun yang orang pikirkan tentangnya.

Andai saja semua orang tau, penderitaan yang Natsu sembunyikan dibalik sikapnya yang tidak senonoh itu. Andai saja semua orang tau, kebaikan apa yang mereka lakukan dibalik kenakalannya itu.

Lucy tersenyum. Mungkin ia akan menuliskan apa yang terjadi hari ini dibuku diarynya.

Ia akan menulis tentang bagaimana hari ini berlalu, tentang kebenaran.. dari seorang Natsu Dragneel.

To Be Continue...

MAAF AKU TIBA-TIBA GANTI PENNAME :v

MAAF JUGA KALO BANYAK TYPO DAN ADEGAN YANG GAK PENTING :v

RnR Please... ^^.V