Aku merasakan hal baru ketika aku merasa tenggelam dalam manik rubynya. Saat itu, tanpa sadar aku mengikrarkan sebuah janji yang belum pernah ada di pikiranku. Matanya yang begitu teduh memancarkan kehangatan dan kasih sayang yang begitu dalam
.
.
.
"Kare ga Aru" by Kazusaki Kuga
Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi
Kare ga Aru is belongs to me
Kagami X Readers
Happy Reading
.
.
.
Sepasang manik baby blue mengerjab, menyesuaikan kedua pupilnya dengan cahaya mentari pagi ini yang menerobos masuk ke kamar yang ia tempati sekarang. Tangan mungilnya –-tidak begitu sih—-mengucek sebelah matanya yang masih terasa berat. Hingga akhirnya sosok yang tidur di sebelahnya menarik perhatian sang phantom itu.
"Kagami-kun?" panggilnya. "Aku tidak tahu kau punya masalah apa, tapi... ini sudah dua hari kau tidak bisa tidur."
"Aku sudah bangun daritadi, kok," sanggah remaja bersurai merah kehitaman itu.
"Tapi mata merahmu menyangkal apa yang kau ucapkan itu."
Remaja pemilik kelereng ruby itu terdiam, tak tahu harus menyangkal bagaimana lagi. Melawan kekeraskepalaan Kuroko adalah hal yang membuang-buang waktu, karena ia akan tetap mempertahankan argumennya.
"Jika hari ini ada pertandingan, pelatih pasti akan menghabisimu," ujar Kuroko sambil beranjak dan merapikan futonnya. "Hari ini kita akan pulang, sebaiknya kau juga segera berkemas."
"Aku tahu!" balas Kagami, bangkit dari tidurnya.
Keduanya berjalan bebarengan menuju kamar mandi. Seusainya dari sana, keduanya melewati ruang makan dan tak sengaja mendengar suara yang tak asing di telinga mereka.
"Ini diletakkan disini, [name]-chan?"
"Hai. Arigatou, Moriyama-senpai."
"Sudah menjadi kewajibanku untuk membantu gadis manis sepertimu."
Moriyama? Moriyama Yoshitaka? Untuk apa shooting guard Kaijou itu bersamamu? Pakai merayu pula. Kira-kira begitu yang ada di pikiran si duo cahaya-bayangan Seirin itu.
Sejenak, keduanya saling pandang, namun tanpa bertele-tele Kagami langsung maju untuk meraih pegangan pintu. Dan pintu bergeser oleh tangan Kagami bersamaan suara piring pecah belah bergesekan satu sama lain menimbulkan bunyi berisik.
"Ah! Go... gomen... lantainya masih licin."
"Kau tidak apa-apa, [name]-chan? Jangan membawa setumpuk piring itu langsung bersamaan, sedikit-sedikit saja."
"Maaf, aku kurang berhati-hati."
Pemilik surai hitam itu membantumu berdiri dari posisimu yang hampir terjatuh tadi. Andaikan sang senpai tidak membantumu, kau pasti sudah membentur lantai dengan diiringi bunyi pecahan belasan piring yang kau bawa. Setelah mendapat keseimbangan, kedua manikmu baru menyadari kehadiran dua orang yang menatap kalian datar.
"Eh? Tetsuya? Kagami? Kalian lapar? Tumben sekali kalian yang pertama masuk dapur," ujarmu sambil meletakkan piring di meja makan.
"Tidak, kau dan dia yang pertama, [name]," balas Kuroko, masih dengan muka triplek andalannya.
"Kenapa dia bersamamu?" tanya Kagami heran.
"Entahlah, Moriyama-senpai bilang ia bangun kepagian dan menemukanku disini. Lalu ia bilang ia ingin membantuku menyiapkan meja makan," jelasmu. "Para senpai yang lain belum bangun?"
"Kurasa mereka juga akan segera tiba disini tak lama lagi," sahut Kuroko.
Dan tak lama kemudian, berpasang-pasang kaki mulai memasuki ruang makan yang hanya dibatasi sekat dengan dapur itu. Tak lupa dengan rengekan Kise atas penyesalannya bangun terakhir dan hanya mendapat porsi sedikit. Sepertinya ia lupa dengan porsi jumbo Kagami.
"Hidoi, Kagamicchi~ Kenapa kau tidak menyisakan untukku?" rengek si model itu.
"Makanya jangan bangun telat!" amuk Kasamatsu yang baru saja menghabiskan makanannya.
Kau pun menghela nafas, kesal dengan ocehan Kise yang tiada henti. "Baik, baik. Kise, akan kubuatkan makanan lagi untukmu," ucapmu sambil pergi ke dapur.
"Eh? Benarkah? [Name]cchi baik ssu," bunga-bunga langsung bertebaran di sekitarnya.
"Asal kau diam, baka!"
Kise pun menyusulmu menuju ke dapur. "Aku ingin okonomiyaki buatan [name]cchi!" ucapnya, masih dengan keceriaan yang berlebihan.
"Kagami-kun, jangan melamun saat makan, makananmu masih-"
Diam. Kuroko tak ingin melanjutkan ucapannya. Tidak, bukan karena Kagami tidak mendengarnya. Ia tak peduli jika memang Kagami tak mendengarnya, ia sudah biasa. Namun, kali ini lebih menarik perhatiannya. Kedua manik baby blue Kuroko menangkap ada sesuatu lain dari pandangan kedua ruby Kagami. Ia pun mengikuti arah pandangannya. Dan arah itu berhenti tepat menuju ke arahmu dan juga Kise.
# # #
"Kagami-kun."
"..."
"Kagami-kun."
"..."
"Maaf mengganggu lamunanmu, tapi kalau tidak hati-hati-"
JDAKK...
"Itte~!"
"Padahal aku sudah memperingatkanmu," ucap Kuroko innocent.
"Bilang lebih cepat, dong!" balas Kagami sambil memegangi kepalanya yang baru membentur tiang sekolah.
"Guk!" Nigou yang sedari tadi berjalan bersama mereka ikut-ikutan.
"Sejak dari penginapan, kau jadi sering melamun," komentar Kuroko. "Wah, dahimu merah."
"Tetsuya? Kagami? Eh, ada apa dengan dahimu?" Tak sengaja kau menemukan dua bintang Seirin itu ketika akan berjalan menuju gym.
"Ia menabrak tiang itu," jawab Kuroko atas pertanyaanmu.
"Pffft, kau kalah dari sebuah tiang yang bahkan tidak melakukan apapun padamu?" ejekmu menahan tawa.
Twich... sebuah perempatan terbentuk di dahi merah Kagami. "Urusai, [name]!" Namun perempatan tadi seketika menghilang bersamaan mendaratnya sebuah plester yang ditempelkan olehmu.
"Lebih baik?" tanyamu meredakan amukan Kagami.
"A-arigatou..."
"Kau mau ke gym?" sela Kuroko, bertanya padamu.
Kau mengangguk. "Kalian juga?"
"Guk!"
"Kyaa, Nigou, lama tak berjumpa denganmu!" Kau langsung menggendong dan memutar-mutar Nigou diatas kepalamu.
Sementara kau berjalan cepat saking girangnya bermain bersama Nigou, Kagami dan Kuroko berjalan bersama dibelakangmu. Dan tanpa sepengetahuanmu serta Kagami, diam-diam Kuroko mengamati pandangan sang ace yang terus tertuju ke arahmu. Namun pandangan itu tidak tersirat seperti seorang pria jatuh cinta kepada wanita pada umumnya. Lebih terlihat seperti pandangan... bertanya?
Sesampainya di gym, selepas pandangan manik rubynya dari sosokmu, Kagami masih terlihat tidak fokus. Masih setengah melamun. Tidak tahan dengan itu, Kuroko pun melakukan tindakan untuk mencegah Kagami melamun lebih jauh.
BYUUR...
Semua pria yang berada di ruang ganti langsung menatap tajam serta heran ke arah dua kouhai yang baru saja hampir menghibur mereka.
"NANI?! Oi, apa maksudmu Kuroko?!" geram Kagami yang baru saja akan berganti seragam lapangan. Untung saja seragamnya tidak basah.
Kuroko pun menutup botol air mineralnya yang telah kosong. "Maafkan aku kalau aku terlalu mencampuri urusanmu, Kagami-kun. Tapi, selama berlatih, pikiranmu harus fokus pada lapangan."
Para senpai yang tidak tahu permasalahan mereka pun hanya diam dan segera ke lapangan untuk melakukan pemanasan. Tak lupa mengingatkan mereka berdua untuk segera bergabung juga.
"Kau selalu saja pintar bikin kesal, Kuroko," gerutu Kagami.
"Aku menyirammu bukan untuk membuatmu makin kesal, Kagami-kun," balas Kuroko tanpa dosa seperti biasanya.
Begitu keluar dari ruang ganti, bayanganmu yang sedang berlari kecil terpantul di kedua ruby dan baby blue.
"Hyuga-senpai bilang aku disuruh mengepel ruang ganti pria. Memangnya kalian habis melakukan apa?" tanyamu pada dua orang yang baru saja keluar dari ruang ganti itu.
"Kagami-kun bilang ingin mandi, jadi aku menyiramnya dengan air mineralku," jawab Kuroko mengarang cerita.
"Oi, jangan fitnah!"
"Apa perlu aku bawakan bebek karet sekalian?" ejekmu, lagi-lagi. "Ya sudah, akan kubersihkan. Para senpai sudah menunggu kalian."
Begitu kau melewati mereka, tanpa kau sadari pandangan Kagami masih saja tertuju padamu. Seolah-olah dengan pandangan itu kau bisa memberinya jawaban atas kebimbangan yang sedang melandanya.
# # #
"Otsukare!"
Teriakan itu menandakan berakhirnya latihan pada hari itu. Kau pun ikut berkemas merapikan peralatan yang digunakan saat berlatih tadi. Seusainya berkemas, kau memandang sekelilingmu. Sepertinya kau terlalu cepat karena yang lain terlihat belum selesai. Baiklah, kau pun kembali duduk di bench untuk menunggu sepupumu yang tadi minta pulang bersama.
"Maaf membuat menunggu."
Suara yang tak asing di telingamu membuatmu mendongak. Terlihat sepupumu berdiri di depanmu dengan si cahayanya berdiri di sampingnya.
"Tidak keberatan dia ikut, kan?"
Menit berikutnya, kau sudah berjalan beriringan disebelah Kuroko. Kagami sendiri berdiri di sisi Kuroko yang lain. Cahaya mentari sore hari membuat perjalanan kalian terasa begitu damai.
"Apa rumah kalian berdekatan?" tanya Kagami membuka percakapan.
"Tidak juga, sih. Tapi tidak terlalu jauh juga. Jaraknya kira-kira sekitar tiga blok perumahan," jawabmu. "Dan biasanya Tetsuya selalu mengantarku, padahal aku bisa sendiri." Kini ada sedikit gerutuan dalam ucapanmu.
"Kali ini aku tidak akan mengantarmu, kok," sahut Kuroko.
"Hee~ Benarkah?"
"Ya, Kagami-kun yang akan mengantarmu."
"Nani?!" Bebarengan, kau dan Kagami serentak mengucapkan itu. Dengan nada yang sedikit keras pula.
"Oi, oi, Kuroko, kau tahu, kan rumahku tidak searah dengan rumahmu?" tukas Kagami.
"Tapi aku yakin kau tidak keberatan kalau kumintai tolong mengantarkan sepupuku pulang ke rumahnya."
Dan tanpa ada jawaban protes lagi, kalian terus berjalan hingga sampai di blok perumahan Kuroko. Sampai akhirnya tiba di depan blok perumahan Kuroko, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirmu ataupun Kagami.
"Aku sampai disini dulu. Tolong, ya, Kagami-kun," ucap Kuroko sambil sedikit membungkuk.
"Ha-hai. Tidak usah sesopan itu, Kuroko," balas Kagami.
Kau dan Kagami pun melanjutkan perjalanan menuju sekitar dua blok lagi untuk sampai di rumahmu. Dan tetap saja tak ada yang berniat membuka percakapan selama perjalanan singkat itu.
"Terima kasih sudah mengantarku, Kagami," ucapmu sesampainya di depan rumahmu.
"Ya."
Kau pun berbalik dan akan membuka gerbang rumahmu, ketika sebuah tangan besar meraih lenganmu dan menghentikan pergerakanmu. Membuatmu kembali berbalik menghadap pria tinggi yang sudah mengantarmu pulang ini. Daripada bertanya 'ada apa?', kau lebih memilih melemparkan pandangan bertanya pada kedua manik rubynya itu.
"Aku tidak mengerti."
Hei, bukankah kau yang tidak mengerti, kenapa justru Kagami yang bertanya begitu?
"Apa maksudmu?" tanyamu tak mengerti.
Namun Kagami tak lekas menjawab, terlihat ia sedang berpikir sambil menengok ke arah lain. Kemudian, ketika kedua maniknya kembali berfokus padamu, ia menjelaskan. "Aku... aku tidak mengerti. Sewaktu di penginapan, kau bilang jatuh cinta padaku. Tapi, kau tidak terlihat seperti ucapanmu dan begitu dekat dengan pria lain. Moriyama, Kise, Kuroko, bahkan Nigou. Sebenarnya... mana yang benar?"
Kau mengerjab beberapa kali. Tidak pernah menyangka bahwa seorang Kagami akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Ternyata ia terus mengingat kata-katamu waktu itu. Dan... dia cemburu? Bukankah itu berarti dia terus memperhatikanmu selama ini? Pffftt... Kau menahan tawa ketika mengingat bahwa tadi ia menyebut nama Nigou. Dia cemburu pada seekor anjing?
"A-apa yang lucu?" Muka Kagami seketika memerah mengingat ia baru saja mengutarakan uneg-unegnya.
"Pfft... kau cemburu pada Nigou?" tanyamu, masih menahan tawa.
Tanpa menjawab, Kagami hanya membuang muka. "A-aku tidak tahu itu cemburu atau bukan, tapi, aku kesal ketika melihatmu ditangkap Moriyama-senpai ketika akan terjatuh. Lebih baik kau terjatuh saja daripada harus menempel dengannya. Lalu, kenapa kau hanya memasakkan untuk Kise waktu itu? Ka-kau tidak ingin menawariku? Aku juga masih lapar. Dan, aku juga ingin menjadi Nigou, asal kau mau memanjakannya. Kemudian, kalian kan sepupu, tapi kenapa kau dan Kuroko malah terlihat seperti sepasang kekasih di mataku."
Dengan muka semakin merah, Kagami menjelaskan semua dan masih dengan menggenggam tanganmu. Mendengar semua itu, semburat merah Kagami menular di kedua pipimu.
"Kau lebih memilih aku terjatuh dengan piring-piring itu? Kau senang melihatku terluka, ya?" tanyamu, agak menyentak kesal, namun masih dengan muka memerah juga.
"Tidak! Tentu saja tidak!" Kagami menghentikan ucapannya sejenak sambil mengusap tengkuknya agak salah tingkah, lalu kemudian ia kembali menatapmu. "Ka-kalau kau terluka, aku yang akan merawatmu."
Satu kalimat itu langsung membuatmu bungkam seketika. Kau pun membuang muka untuk menyembunyikan wajahmu yang semakin memerah.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Mana yang benar?" Kemudian tangan Kagami terlepas dari lenganmu. "Sebenarnya, kesanmu terhadapku itu seperti apa?"
Dengan sekuat tenaga, kau berusaha menahan rasa malumu demi menghilangkan semburat merah di wajahmu. Dan detik berikutnya, kau memberanikan diri balas menatap matanya dengan sedikit jaim dan stay cool.
"Kesanku terhadapmu? Kau itu bodoh, tidak suka anjing, tidak paham masalah perempuan, bla bla bla..."
Semua perkataanmu langsung membentuk panah yang langsung menancap di kepala Kagami. "Ka-kau tetap saja jahat."
Kau tertawa kecil melihat muka Kagami yang agak syok. Dan kemudian kau tersenyum. "Tapi, kau pintar memasak, semangatmu juga tinggi," ucapmu kemudian, menatap lekat pada kedua manik ruby Kagami.
Kalau diperhatikan baik-baik, ternyata manik ruby itu begitu jernih. Terlihat bayanganmu terpantul disana. Kau terdiam beberapa saat, kedua manikmu dan manik ruby Kagami masih saling menatap lekat satu sama lain. Melalui tatapan itu, entah mengapa kau bisa mengerti apa yang tersirat disana. Dan tanpa sadar, suatu pikiran terlintas di benakmu.
"[Name]?"
Satu panggilan itu membuyarkan pikiranmu. Kau mengerjab beberapa kali melihat Kagami memandangmu entah heran entah khawatir.
"Maaf, aku melamun," ucapmu. Dan kau melanjutkan ucapanmu yang sempat terhenti tadi. "Diantara semua sifatmu, kau memang sudah membuatku jatuh cinta padamu."
Angin sore berhembus tatkala kau berhenti bicara sejenak. Matahari terbenam yang melatarbelakangi suasana kalian semakin ikut mendukung.
"Tapi aku belum tahu perasaanmu yang sebenarnya."
Dan kini satu kalimat darimu sedikit melebarkan kedua maniknya. "Be-benarkah?"
Kau hanya mengangguk mendengar jawabannya.
"Bu-bukankah dari penuturan panjang lebarku tadi sudah jelas?" Lagi-lagi Kagami membuang muka dengan warna merah menghiasi wajahnya. Namun, kemudian ia kembali menatapmu meski mukanya masih merah padam.
"A-aku juga..."
"[Name]-chan?"
Kau dan Kagami serentak menoleh kesal ke arah suara yang telah berani memotong ucapan Kagami tadi. Dan seorang perempuan berambut sepunggung dan bergelombang berwarna coklat terang yang senada dengan maniknya memantul di kedua manikmu serta Kagami.
"Hanari?"
Dan matahari yang telah kembali ke peraduannya membuat langit kehabisan cahayanya.
.
.
.
Sanggupkah aku menjaga kehangatan dan kasih sayang yang disiratkannya padaku?
.
.
.
T B C
(A/N)
Doumo, minna-chan.
Maaf baru update, UAS dan Try Out weeks baru selesai. Author sungguh lelah~ (curhat, nih)
Maaf juga jika alur kurang jelas dan terlalu cepat, otak author belum istirahat, tapi pingin banget nerusin fic ini. Fic yang vanilla juga belum sempat Kuga terusin. Jadi maaf sekali lagi jika ada kesalahan alur. Maaf juga kalau Kagami sedikit OOC disini.
Special thank's for :
reina-tsu27 | PeniPhoenix24 | Arisa Hamada | thalnadhila | Mey-chan Love Kagami . 5862 |
for review, fav, and follow.
Oh, ya, kata yang bercetak miring diatas TBC itu adalah pikiranmu yang sempat dibuyarkan Kagami tadi :)
See you in the next chapter~ ^^/
Next Story : Chapter 5, Kamisaka Hanari
