Diclaimer
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Warning.
.
-OOC/Canon/Typos/Romance dll
.
Happy Reading
.
Sebelumnya:
Author Pov
Temari sudah terlepas dari jurus kagemane milik Shikamaru, kini ia sudah leluasa untuk memberi pelajaran Shikamaru atas apa yang dilakukannya. Kini kipas sudah teracungkan, Shikamaru tak bisa berontak karena kehabisan cakra. Dalam hitungan 3 Temari akan melancarkan aksinya. Dan hitungan sudah mencapai 3. Dalam beberapa detik lagi Temari akan melancarkan aksinya. Kini Shikamarut tengah memejamkan mata dengan kedua tangan diatas kepala.
"Kipas, bersiaplah. Hiiiaatt.." Teriak Temari.
BRUAKKKKK... burung-burung terbang dari tempat bertenggernya, daun-daun kering berjatuhan ke tanah, tanah sekitar menjadi pecah-pecah, debu-debu mengepul menyelimuti pandangan, langit menjadi kelam dan Temari terlihat tersenyum penuh kemenangan.
-Chapter 4-
Namun Shikamaru tidak merasakan sakit yang berarti,Shikamaru justru merasa dirinya baik-baik saja, tidak ada luka sedikit pun yang membuatnya sakit. merasa heran dengan keadaan ini, Shikamaru lalu membuka mata. Dan yang pertama ia cari adalah sosok Temari.
Kemudian mata Shikamaru terbelalak sempurna, ia melihat Temari tengah bersender dengan santainya dikipasnya yang tertancap sempurna di tanah, jadi suara yang didengar tadi adalah suara benturan kipas dengan tanah.
"Kupikir kau akan membunuhku" Ucap Shikamaru.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, akan repot jika aku harus membunuhmu. Kau adalah anak dari assisten kepercayaan Hokage. Dan kau juga adalah kepercayaan Hokage. Akan terjadi invasi lagi jika aku membunuhmu. Akhirnya nanti akan berimbas pada keretakan hubungan diplomasi antara Konoha dan Suna" Pikir Temari sambil bersender di kipas dan menatap awan.
"Benar juga, ternyata kau cukup pintar. Lalu apa maksudmu membawaku kemari?" tanya Shikamaru, lalu ia berjalan mendekat kearah Temari, duduk disampingnya dengan jarak 50 cm dari tempat Temari. setelah itu ia bersender di batang pohon dengan kedua tangan tersimpul dibelakang kepala, dan mata yang melihat ke atas langit.
"Entahlah aku juga bingung. Yang pasti aku ingin berdua saja denganmu."
Merasa aneh dengan Temari, Shikamaru lalu menatap Temari dengan tatapan menelisik. berusaha mencari jawaban dengan melihat wajahnya.
"Kau menyukaiku yah?"
"Hei Jangan sembarangan kalau bicara. Lagi pula aku mempunyai seseorang yang kusukai, yang pasti itu bukan kau. Tapi seorang pemuda asal Sunagakure, yang pasti dia jauh lebih tampan darimu dan dia juga tidak pernah menyebutku wanita merepotkan. jangan geer, Sebenarnya Aku membawamu kesini, karena hanya kau yang bisa kupercaya untuk menghilangkan rasa jenuhku, biasanya kau selalu membawa ke tempat-tempat indah di Konoha."
Mendapat jawaban, Shikamaru kembali ke posisi semula yaitu menatap awan.
"Ingatlah aku bukan guidetour-mu lagi. jadi aku tidak punya kewajiban untuk membawamu ke tempat-tempat indah. seperti dulu"
Temari menghembuskan nafas untuk menghilangkan rasa kecewanya "Huh ternyata mempercayaimu adalah suatu kesalahan besar bagiku, lebih baik tadi aku pergi bersama Sakura atau Ino saja"
"Kau kecewa yah." Ucap Shikamaru.
Lalu Temari dengan perasaan kesal menatap wajah Shikamaru dengan wajah menjengkelkan. "Bukan lagi kecewa, tapi sangat mengecewakan. Kau itu membuat hari indahku jadi hari yang terburuk. " Temari lalu memalingkan wajah jengkelnya ke langit untuk menghilangkan rasa jengkelnya, namun dilangit ia melihat awan berbentuk wajah Shikamaru, membuat Temari semakin jengkel, sehingga ia memutuskan untuk bersantai sambil memejamkan mata.
"Jangan terus menyalahkanku begitu, kau membuatku jadi tidak enak hati. Tentang seseorang yang kau sukai, memangnya siapa pemuda yang kau maksudkan itu? memangnya dia begitu hebatnya sampai kau terus memujinya dan merendahkanku begitu" tanya Shikamaru yang masih bersantai memandang awan.
Mendengar pertanyaan Shikamaru yang sedikit mencurigakan, Temari kembali memalingkan wajahnya ke Shikamaru dengan pandangan menelisik. "Apa kau merasa cemburu karena aku lebih menyukainya.?"
"Jheh itu tidak ada hubungan dengan hal itu. Ternyata selain cerewet kau juga pencuriga, merepotkan" Ucap Shikamaru dengan sedikit umpatan di akhir namun sikapnya tetap santai.
Mendengar umpatan dan ejekan Shikamaru, wajah Temari menjadi merah padam,di dahinya sudah nampak urat bermunculan setiap mendengar ejekan Shikamaru; Cerewet, pencuriga, merepotkan , ia sudah tak kuasa lagi menahan gejolak amarah yang akan meluap.
"Memangnya kalau aku mengatakan bahwa seseorang yang kusukai itu Sasori-san, apa yang ingin kau lakukan? Apa kau ingin memukulnya, bukanlah itu sesuatu yang merepotkan bagimu. !" Temari meninggikan nada bicaranya, lalu setelah itu Temari mengatur nafas supaya dapat tenang kembali.
"Tenanglah. Jangan seperti orang yang mengejar penjahat, kau akan lelah nantinya"
Mendengar kalimat Shikamaru yang mengentengkan, membuat nafas Temari harus kembali melonjak tak beraturan.
"Bagaimana aku bisa tenang, kau baru saja mengejekku.!" Temari kembali naik darah mendengar sikap dingin Shikamaru yang seolah mengatakan 'semua ini tidak perlu dipermasalahkan'.
Melihat keadaan yang sudah mengkhawatirkan, Shikamaru bertindak mengalah. Agar tidak menjadi permasalahan yang berkepanjangan.
" Baiklah, Baiklah aku minta maaf. " Ucap Shikamaru dengan sikap tenangnya. Membuat amarah Temari sedikit reda.
"Baguslah, akhirnya kau menyadari kesalahanmu" Temari sudah pada posisi santainya. Namun itu hanya berlangsung sesaat, karena Shikamaru kembali membuat masalah baru.
"Aku tidak mengira, kau akan menyukai seorang psikopat yang selalu bermain dengan bonekanya. Kalau dipikir-pikir seorang psikopat memang hanya cocok untukku."
Mendengar itu, dengan serta merta, urat Temari bermunculkan di dahinya begitu banyak.
"Jangan membuatku ingin menghajarmu, kau akan menyesal karena telah mengatakan itu.!"
Shikamaru yang sedang santai, tiba-tiba kaget dan merasakan ketakutan yang luar biasa, karena tiba-tiba Temari sudah berada didekatnya, tepat dihadapannya, dengan aura jahat yang menyelubungi tubuhnya. Mata tajamnya bersinar digelapnya aura jahat. Namun itu hanya berlangsung sesaat, karena tiba-tiba langit menghitam lalu setelahnya mengeluarkan zat cair yang membuat baju mereka basah. Amarah Temari pun dapat diredakan dengan itu.
"Hujan. " seru mereka berdua sambil memandang hitamnya langit dan merasakan dinginnya air yang meresap ketubuh mereka.
Semakin lama, intensitas air semakin deras dan lebat, membuat mereka semakin cepat merasakan kedingingan yang luar biasa.
"Sebaiknya kita cepat-cepat pergi dan cari tempat berteduh." Usul Shikamaru.
"Tapi dimana? ini tempat terbuka. dan jika pergi, harus kemana? Aku tidak punya rumah di konoha, jika pergi ke Suna itu tidak akan sempat bagiku" Temari dilanda kegelisahan yang luar biasa.
Mendengar kegelisahan Temari, Shikamaru sedikit merasa iba. Jika-jika dipikirkan, memang benar. Temari sangat memprihatinkan. Akhirnya Shikamaru mengusulkan sesuatu/
"Sudahlah, jangan merisaukan hal itu. akan semakin jelek wajahmu jika kau terlihat risau. Meski ini sedikit merepotkan aku akan membawamu kerumahku. Sepertinya ayah dan ibu tidak akan marah jika aku menolong gadis yang kesusahan"
Usulan Shikamaru memang sangat mengesankan bagi Temari, tapi tetap saja itu bukan pilihan yang tepat bagi Temari. hal itu akan menjadi masalah jika seorang wanita pergi ke rumah laki-laki yang tidak ada hubungan kekerabatan.
"Apakah aku tampak kesusahan dimatamu. Sudahlah jangan merepotkan dirimu dengan hal semacam ini, aku akan mencari penginapan saja." Ucap Temari.
Namun sanggahan Temari tidak cukup kuat untuk mematahkan keinginan Shikamaru.
"Itu akan memakan waktu yang lama, lagi pula rumahku cukup dekat dari sini. Aku tidak akan keberatan jika kau bersedia. Dan aku heran padamu diberi sikap baik, salah. Bersikap tidak baik, malah semakin salah. Apa kau memang membenciku?" Tanya Shikamaru.
Mendengar hal itu, Temari harus menyerah dengan keinginannya. Ia memilih untuk mengalah saja. Disaat seperti ini, memang sangat dibutuhkan pertolongan.
"Baiklah, baiklah. Aku bersedia. Tapi pastikan bahwa aku akan baik-baik disana, aku tidak mau ada masalah dengan ayah dan ibumu." Tekan Temari.
Shikamaru sedikit terkejut karena dengan mudahnya Temari menerima usulannya, biasanya ia mempunyai sejuta alasan untuk menyanggah, tapi kini ia menurut.
"Baiklah. jadi sudah diputuskan, kita akan pergi kerumahku. Ayo Temari?" Ajak Shikamaru, lalu Shikamaru melangkah terlebih dahulu dari Temari.
'hah' Temari nampak terperangah dengan ajakan Shikamaru. Dan dia malah masih diam di tempat, bukan menyusul langkah Shikamaru.
Merasakan hal aneh karena tidak mendengar jejak langkah yang mengikutinya, Shikamaru pun menoleh ke belakang untuk memastikan, lalu terkejut karena Temari masih ada disana dengan posisi diam.
"Apa kau ingin mati kedinginan ditempat ini. Ayo pergi "
Temari pun sadar dari keterperangahannya, lalu ia pun segera mengejar langkah Shikamaru didepannya. Namun tersempil sesuatu yang membuatnya kembali berbalik, Temari lupa untuk membawa kipas besarnya. Tapi itu berhasil dicegah oleh Shikamaru, Shikamaru menyarankan untuk meninggalkan kipas besar itu, dan mengambilnya dikemudian hari, karena akan memakan waktu cukup lama.
"Ayo pergi, sebelum hujan akan semakin lebat." Ajak Shikamaru. Temari pun menurut.
Dalam perjalanannya ke rumah, ada sesuatu yang membuat Shikamaru terganggu. Suara gemelutuk gigi dari seseorang yang tengah kedinginan. Itu membuat telinga Shikamaru tak kuasa mendengarnya. Segeralah ia melepas jaket kebanggannya dan menyerahkannya pada Temari dengan sodoran tangan yang panjang sambil wajahnya berbalik ke arah lain.
"Pakailah, jaket ini anti air. Ini memang tidak sepenuhnya membuatmu hangat, tapi setidaknya badanmu tidak akan lagi terkena air."
Temari nampak kaget karena sesuatu menghalangi jalannya, ternyata itu sebuah sodoran tangan Shikamaru. Temari lalu menatap wajah Shikamaru yang tengah berpaling.
"Hah Apa aku tidak salah lihat, kau sedang baik-baik saja kan?, atau kau memang sedang kerasukan arwah baik hati." Ucap Temari dengan hati yang sedikit tidak percaya dan tersempil sebuah ejekan dalam kalimatnya.
Mendengar siulan Temari yang tak bermutu, Shikamaru lalu membalikan posisi wajahnya kearah Temari untuk mengisyaratkan bahwa dia sedang tidak kerasukan arwah.
"Sudahlah jangan banyak protes. Pakailah jaket ini. lagi pula aku adalah laki-laki, sudah tugas laki-laki untuk melindungi perempuan"
Mendengar alasan Shikamaru yang cukup masuk akal, Temari merasa tergelitik. Ternyata Si bocah bayangan itu memiliki jiwa pahlawan dihatinya.
"Ohh begitu ,baiklah, Tuan merepotkan baik hati . Aku akan memakainya sesuai perintahmu"
Temari lalu menerima jaket sodoran dari Shikamaru, lalu mengenakannya dibadan Temari. Jaket yang Shikamaru sodorkan adalah, Jaket Chuunin.
Sebenarnya dalam hati Temari, ia masih tergelitik dengan sikap Shikamaru yang tak biasa. Setau Temari, Shikamaru adalah orang termalas yang tidak mau melibatkan dirinya pada sesuatu yang merepotkan. ia sungguh tidak mengira dibalik sikap malasnya ia mempunyai sikap perhatian terhadap wanita. Temari kira, Shikamaru akan terus menjadi pemalas dan tidak memperhatikan orang sekitar, ternyata banyak yang belum diketahui Temari dari Shikamaru.
Sampai didepan rumah, Shikamaru lalu mengetuk pintu untuk memberi tanda pada orang dalam, bahwa seseorang akan masuk. Biasanya Shikamaru langsung menggeser pintu sambil mengucapkan tandaima, tapi ternyata pintu dikunci dari dalam, jadi satu-satunya jalan adalah mengetuk pintu.
"Ya, siapa?" terdengar suara perempuan dibalik pintu.
"Ini aku, Bu. Shikamaru."
Lalu setelah itu pintu tergeser dan memperlihatkan sosok wanita yang tengah berdiri. Wanita itu lalu terkejut, melihat penampilan anaknya yang basah kuyup serta mengigil kedinginan.
"Kau sangat memprihatinkan sekali, Shikamaru. Ayo cepat masuk dan mandilah dengan air hangat dikamar, Ibu akan segera membuatkan susu panas untukmu"
Ibunya segera membawa masuk Shikamaru dengan penuh perhatian, namun sebelum melangkah masuk, Shikamaru mencegah dulu ibunya untuk tidak langsung membawanya masuk. karena ada seseorang yang Shikamaru akan ajak dan orang itu sedang bersembunyi di sisi pintu.
"Tunggu sebentar, Bu. Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan dan akan aku ajak kedalam. Aku bertemu dengannya disuatu tempat dalam keadaan hampir mati kedinginan, sedang dia tidak punya rumah di Konoha, karena tak tega akhirnya aku membawa dia kesini. Apakah ibu tidak keberatan" ungkap Shikamaru dengan sedikit didramatisir. Temari yang mendengarkan, hanya menghela nafas panjang dan mulai mengumpat dalam hati 'Apakah aku sebegitu memprihatinkannya sampai kau harus mengatakan itu' umpat Temari dalam hati.
Mendengar ungkapan anaknya, Ibu Shikamaru merasa iba dengan perempuan yang diceritakan Shikamaru, sungguh kasihan sekali dia.
"Tidak, justru ibu senang karena kau telah menolong seseorang. Memangnya siapa dia? dan cepat bawa dia masuk kedalam, kasihan jika terus di keluar" usul Ibunya.
"Baik, Bu" Shikamaru lalu membawa Temari masuk dan memperkenalkannya pada Sang Ibu. Namun saat akan memperkenalkan, ayah Shikamaru datang sambil menampan gelas yang berisi kopi hangat yang asapnya masih mengepul.
"Ternyata suara ribut ini dari depan rumah. Ah siapa itu yang kau bawa, Shikamaru. Bukankah itu Temari dari desa pasir" Ayahnya menelisik wajah Temari.
Temari yang merasakan kehadiran ayah Shikamaru, segera membungkukan badan untuk memberi penghormatan.
"Benar,Tuan Shikaku. Saya Temari dari desa pasir, senang bertemu dengan Anda disini dan maaf saya telah membuat keributan." Ucap Temari dengan badan yang membungkuk.
Melihat ada keakraban antara suaminya dan gadis yang dibawa Shikamaru. Sang Istri lalu berbisik pada suaminya untuk menanyakan siapa wanita itu. lalu Sang suami pun menjawabnya dengan berbisik pula, dan betapa terkejutnya dia, karena ternyata gadis itu adalah calon menantunya, ia tak mengira akan bertemu dirumahnya sendiri. Tanpa banyak kata, ia segera membawa masuk calon menantunya dengan hangat.
"Mari masuk dan hangatkan diri kalian. Ibu akan membuatkan susu hangat untuk kalian berdua. Shikamaru, kau mandilah di kamar mandi belakang, sedangkan Temari-chan, mandilah di kamar mandi Shikamaru jangan lupa nyalakan pemanas air jika merasa perlu. Ibu akan mencari baju yang pas untuk Temari-chan."
Begitu perhatiannya Ibu Shikamaru sampai ia membawa segala keperluan yang diperlukan Temari, seperti handuk yang tentunya khusus untuk tamu, sisir,sabun mandi,sikat gigi dll. Temari jadi merasa malu dengan kehangatan keluarga Shikamaru, ia jadi merasa sedang dirumahnya sendiri.
"Maaf saya telah merepotkan Anda, Nyoya Shikaku?" Temari dengan rasa tidak enak hati lagi sekali lagi membungkukan badan.
Melihat Temari membungkuk lagi, Ibu Shikamaru mendkeat lebih dekat dengan Temari.
"Sudah, Tidak perlu meminta maaf seperti itu, anggaplah ini rumahmu sendiri. Sudah tugas pemilik rumah untuk memperlakukan tamunya dengan baik." Ucap Ibu Shikamaru seraya memegang pundak Temari sambil memamerkan wajah hangatnya, Temari jadi merasa memiliki kasih sayang Ibu yang selama ini hilang dari kehidupannya.
"Benar apa kata istriku. Kau tidak perlu sungkan-sungkan dengan kami, anggaplah kami keluargamu sendiri." Kini ayah Shikamaru yang ikut andil dalam pembicaraan. Shikamaru jadi merasa dikucilkan oleh keluarganya sendiri, perhatiannya kini lebih tertuju pada Temari bukan pada dirinya lagi.
"Terimakasih tuan Shikaku, Saya tidak akan melupakan kebaikan Tuan Shikaku dan Nyoya Shikaku terhadap saya." Ucap Temari seraya memamerkan wajah hangatnya.
"Ya, mulai sekarang belajarlah memanggil kami ayah dan ibu, itu akan terdengar lebih akrab" Ucap Shikaku, ayahnya Shikamaru.
Merasa heran karena harus memanggil Ayah dan Ibu, Shikamaru jadi sedikit curiga. Namun Temari tidak menaruh kecurigaan apapun, ia memilih menuruti saja agar permasalahannya cepat selesai, karena ia harus segera begegas pergi ke kamar mandi, karena badannya sudah merasakan kegigilan.
Lalu Shikamaru dan Temari bergegas pergi ke arah yang sama, mereka berdua sama-sama masuk ke kamar Shikamaru, namun Shikamaru hanya ingin mengambil handuk dan bajunya untuk dibawa ke kamar mandi belakang.
Beberapa menit berlalu, tentunya salah seorang diantara mereka sudah selesai dengan acara mandinya, yang pertama selesai adalah Shikamaru. Dan kini Shikamaru sedang bermain Shogi bersama Ayahnya. Selama permainan berlangsung, ada bincangan-bincangan yang biasa ayahnya ucapkan namun kali ini perbincangannya menyangkut kehidupan Shikamaru. Seperti persiapan menjelang pernikahan, serta kesiapan Shikamaru untuk menerima misi. Mendengar misi yang diutarakan ayahnya Shikamaru sedikit terkejut, apakah harus secepat itu ia melakukannya.
"Shikamaru, ternyata Hokage dan Kazekage telah mengundur pernikahanmu selama 1 minggu. Selama masa pengunduran itu kita manfaatkan untuk membuat persiapan pra nikah. Perjalanan menuju Sunagakure menempuh waktu kira-kira hingga 3 hari. Persiapan kita hanya 2 hari , karena pada hari ke-3 kita akan melakukan perjalanan panjang. Perkiraan kita akan sampai ke negara angin pada hari ke-5. Namun kita tidak langsung masuk ke desa pasir kita akan menginap di desa tetangga selama 2 hari, Kazekage telah menyiapkan semua yang kita butuhkan di desa tersebut, dan pada hari ke-7 kita berangkat ke Sunagakure pada pukul 03.00 subuh, hanya butuh 2 jam perjalanan untuk mencapai Sunagakure, pada pukul 5 pagi kita sampai di Sunagakure, dan akan dijamu oleh pihak Suna. Pukul 8 akad nikah berlangsung. Resepsi akan dilakukan di dua tempat Suna dan Konoha. pernikahan akan menggunakan konsep shinto. Jadi banyak tahapan yang akan dilalui. Mengingat pernikahan diadakan di dua tempat berbeda,jadi Teman-temanmu di Konoha tidak ada yang ikut hanya keluarga kita saja. Sekarang, apa kau paham maksudku, Shikamaru?"
Mendengar penuturankan ayahnya yang begitu panjang, Shikamaru hanya mampu menghembuskan nafas panjang sambil menggumamkan kalimat "Merepotkan." Hanya itu yang dia ucapkan. Sebuah kata merepotkan yang menggambarkan perasaan jengkelnya.
"Shikamaru cepat kemari, berikan ini pada Temari-chan" Teriak ibunya.
Mendengar teriakan ibunya, Shikamaru segera beranjak dari duduknya untuk pergi menemui Sang Ibu dengan keadaan terpaksa, karena tidak mau memiliki masalah dengan Ibunya. Sampai disana, Shikamaru melihat Ibunya tengah menampan sesuatu yang berisikan pakaian yang akan dikenakan Temari serta sebuah susu coklat panas. Ibunya lalu menyerahkan nampan itu pada Shikamaru. Karena tidak mau mendapat omelan, Shikamaru pun segera bergegas pergi ke kamarnya.
Sampai disana, pintu tertutup tidak rapat masih ada celah yang terbuka. Tanpa permisi terlebih dahulu, Shikamaru segera menggeser pintu agak lebar. Supaya dia bisa masuk dengan leluasa. Dan betapa terkejutnya Shikamaru, ia melihat Temari sedang duduk di kursi dekat cermin dengan handuk yang masih melekat sehingga memperlihat sebagian sisi indah Temari, tertutama bagian betis dan paha yang terekspos jelas, tidak ada kecacatan pun yang Shikamaru lihat, begitu mulus dan putih, itu yang yang dapat tergambar. Satu hal lagi yang membuat Shikamaru kaget, rambut yang selalu diikat empat, kini sedang digerai sambil disisiri oleh Temari. panjang dan indah itu yang Shikamaru pikirkan. Temari masih belum menyadari akan kehadiran Shikamaru, karena ia lebih memfokuskan dirinya untuk mengurusi rambutnya yang basah.
Sampai Temari melihat cermin lalu melihat pantulan bayangan dari sosok yang sedang membelakanginya, ia segera berteriak dan langsung bersembunyi ditempat yang tidak terlihat oleh Shikamaru.
Mendengar Teriakan Temari, Shikamaru terperanjat. Bahkan kekagetan itu membuat nampan yang dipegangnya jatuh, membuat baju yang akan dikenakan Temari kotor dan basah oleh cairan susu coklat panas.
"Apa-apa kau ini. Ngitip-ngitip segala. Dasar mesum !" Teriak Temari yang bersembunyi dibalik ranjang Shikamaru.
"Cih jangan ngaco, aku cuma…"
Tak sempat Shikamaru melanjutkan kalimatnya,kepalanya sudah benjol 1 tingkatan karena sudah dijitak oleh ibunya yang baru datang karena mendengar suara teriakan Temari.
"Kalau masuk kamar perempuan itu harus permisi dulu. Tidak sopan. Ibu tidak mengajarkanmu jadi seorang pengintip seperti ini" Nasehat Ibunya
"Bukankah ini kamarku, Bu." Sela Shikamaru.
Lalu Ibu Shikamaru memposisikan diri dengan bersidekap tangan. Dan setelah itu ia mulai berbicara. "Untuk sekarang, tidak. Ini akan jadi kamar Temari-chan. Kau tidurlah di sopa untuk sementara waktu. Dan untuk Temari-chan, Ibu minta maaf. Ibu akan mengambilkan baju baru untukmu . dan untuk Shikamaru, cepat bersihkan pecahan gelas itu jangan lupa pel lantainya hingga bersih sampai tak terlihat noda sedikit pun"
Karena ada pekerjaan yang belum selesai, Ibu Shikamaru pamit pergi pada Temari. Kepergian Sang Ibu lalu diiringi kalimat merepotkan dari Shikamaru. Temari yang melihat tersenyum geli. Ini kali pertama Temari melihat Shikamaru dimarahi oleh Ibunya, dan itu sangat menggelikan.
Setelah kepergian Ibunya yang tinggal menyisakan 2 insan berbeda gender, Shikamaru dan Temari. Mata Temari tak henti mengawasi setiap pergerakan Shikamaru walau hanya 1 inci, karena Temari tidak mau kecurian di intip oleh Shikamaru. Namun keadaan itu, membuat pergerakan Shikamaru terganggu, ia seolah pejahat yang selalu diawasi.
"Apakah aku nampak seperti seorang penjahat yang harus selalu diawasi setiap pergerakannya" Sindir Shikamaru sambil mengepel lantai.
Mendengar sindiran Shikamaru, Temari lalu berdiri dan setelah itu menunjuk Shikamaru dengan tangan kanannya dengan mata mengawasi. "Seorang pengintip itu termasuk kejahatan yang tidak dimaafkan, dasar pengintip !" Ucap Temari dengan intonasi tinggi. Sadar dengan tindakannya berdiri adalah suatu kesalahan, karena menjerumuskan diri untuk diintip, Temari bergegas berjongkok dibalik ranjang Shikamaru yang tinggi.
"Tapi itu tindakan yang tidak disengaja" Umbar Shikamaru yang masih mengepel lantai.
"Sengaja atau tidak disengaja, itu tetaplah sebuah tindakan kejahatan. Dan tindakan kejahatan itu sangat merugikan korban, dan kerugian itu membuat keadaan si korban sangat sulit memaafkan si Tersangka" Sambar Temari.
Perempuan memang selalu mempunyai sejuta alasan untuk menyanggah, mereka memang makhluk terpintar soal sanggah meyanggah. Keadaan itu membuat para lelaki menjadi mati kata. Gambaran seperti itulah yang dirasakan Shikamaru. Jadi sekarang, Shikamaru lebih banyak diam daripada berbicara. Sangat merepotkan, jika harus meladeni mereka, para wanita cerewet.
Beberapa menit berlalu, Shikamaru sudah menyelesaikan pekerjaannya, lalu Shikamaru pergi dan berganti dengan kehadiran ibu Shikamaru yang membawa pakaian baru. Setelah pakaian sudah diterima Temari, Ibu Shikamaru lalu pergi dan menutup pintu kamar. Setelah itu, Temari pun bergegas memakai pakaiannya
###
Siang berganti jadi malam, matahari berganti menjadi bulan, namun hujan masih mengguyur Konoha begitu lamanya, namun kali ini dengan intensitas sedang. Sementara, Keributan sedang terjadi di kediaman Nara untuk mengisi waktu yang kosong, mereka semua sedang bercengkrama sebagaimana keluarga pada umumnya, Temari begitu diperlukan baik selayaknya keluarga, itu yang membuatnya nyaman tinggal disini.
Temari diperlihatkan beberapa album foto Shikamaru semasa kecil oleh Ibu Shikamaru, serta diceritakan bagaimana masa kecil Shikamaru. Ternyata Shikamaru begitu dimanja oleh Ibunya, namun sejak kecil ayahnya selalu mengajarkan Shikamaru untuk menjadi pribadi yang mandiri. Dan terbukti hasil didikan ayahnya berbuah manis, Shikamaru menjadi pribadi yang mandiri dan bisa diandalkan.
Setelah bercengkrama ria, kemudian Ibu Shikamaru mengajak Temari untuk memasak guna untuk persiapan makan malam. Perbincangan pun kembali terjadi didapur. Ternyata secara mengejutkan Temari sudah lihai memasak makanannya sendiri tanpa dikomando. Temari juga memberi tahu bahwa dia memang sudah menjadi pribadi mandiri semenjak kecil, sejak kematian ibunya. Dengan kata lain, semenjak kecil Temari sudah menjadi Ibu bagi kedua adiknya. Jadi sangat heran, kalau Gaara dan Kankurou sangat memproteksinya
Sementara Temari dan Ibu Shikamaru memasak di dapur, Shikamaru dan ayahnya sedang bermain Shogi di ruang tengah. Dan seperti biasa, perbincangan hangat terjadi untuk tidak membuat suasana menjadi jenuh.
" ." panggil Ayahnya.
"Hn" jawab Shikamaru datar.
"Dari tadi ekspresi wajahmu berbeda saat memandang Temari. mengingatkanmu pada seseorang yah.?" Tanya Ayah Shikamaru sambil menilisik wajah Shikamaru.
"Jheh tidak ada hubungannya dengan itu." Ucap Shikamaru mengelak sambil memalingkan wajahnya ke samping.
"Ayah pikir Temari itu mengingatkan ayah pada seseorang. Hmm Kalau dipikir-pikir dan dilihat-lihat, bukankah Temari itu sangat mirip dengan 'dia' terutama saat rambutnya digerai. Bukankah begitu, Shikamaru?" tanya Ayah Shikamaru dengan pandangan menelisik.
"Hah, siapa yang kau maksudkan, ayah?" tanya Shikamaru dengan tampang konyol.
"Sudahlah, jangan berbohong. Ayah tau kau sedang memikirkan gadis medisin itu kan? Katsumi Higurashi, dari klan Higurashi itu. bukankah wajahnya sangat mirip dengan Temari-chan, bahkan warna rambutnya pun sama."
Deg, jantung Shikamaru berdetak 1 kali dengan tekanan tinggi. Mendengar namanya disebut, membuat Shikamaru mati kata. ia heran, kenapa ayah masih ingat dengan gadis medisin dari klan Higurashi itu, padahal sudah 3 tahun lamanya nama itu tak disebut.
Kini Shikamaru duduk diam, tanpa mengatakan apapun, bahkan kata merepotkan yang menjadi andalannya tak terdengar mengaung.
Dalam kediamannya, Ayah Shikamaru mulai mengatakan sesuatu yang lebih terkesan seperti sedang menasehati. Ayahnya memang sangat diandalkan jika soal nasehat-menasehati. Terkadang nasehatnya selalu membuat Shikamaru bangkit dari keterpurukan.
"Sudah saatnya masa lalu menjadi bayangan, dan masa depan menjadi jasadmu. Belajarlah untuk membuka hatimu pada wanita lain. Ino bukan pilihan yang tepat untuk menggantikan posisi Katsumi, hatiya bukan untukmu tapi untuk yang lain. Katsumi sudah tenang di alam sana jangan biarkan jiwanya menjadi terganggu hanya karena keegoisanmu yang tak mau hilang. Shikamaru, ayah tekankan sekali lagi. jangan biarkan misi ini menjadi beban berat bagimu, jadikan itu ringan dengan keikhlasan hatimu. Hidupmu hanya kau yang bisa merubahnya bukan ayah atau pun oranglain. Ayah akan mendukung, apa yang menjadi pilihanmu."
Shikamaru tertunduk, tak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Terkadang nasehat ayahnya selalu membuat pikiran dan hati Shikamaru meluruh bagaikan kerasnya es yang mencair. Sejenak Shikamaru merenungi nasehat ayahnya. Benar apa kata ayahnya, sudah saatnya Shikamaru membuka hatinya untuk orang lain, namun ia masih saja bimbang, apakah ia mampu melakukannya. Berbuat tidak semudah berbicara, butuh proses lama untuk membuat itu nyata.
Katsumi adalah teman masa kecil Shikamaru, Choji dan Ino. Katsumi termasuk orang yang periang yang selalu berpenampilan ceria setiap saatnya. Dan Katsumi juga termasuk orang berisik yang selalu membuat kekacauan, namun itu yang membuatnya berbeda dari yang lain. Dari kedua teman wanitanya, Shikamaru lebih dekat dengan Katsumi, sebenarnya Katsumi lah yang selalu mendekati Shikamaru dan selalu membuat hal-hal konyol yang tidak sukai Shikamaru, seperti mengganggu saat tidur serta merias wajahnya saat tidur dll. Terkadang Shikamaru suka memarahi Katsumi, karena selalu membuatnya jengkel. Namun Katsumi malah semakin membuat ulah bukan malah diam. Suatu peristiwa, membuat hati Shikamaru tersadar dengan apa yang selalu Katsumi perbuat terhadapnya.
Flashback On
Saat itu, Saat selesai misi di desa rumput bersama tim 10, Katsumi sangat menanti kedatangan Shikamaru dirumahnya. Sebelumnya, saat akan pergi untuk menyelesaikan misi, Katsumi sudah memberi amanat pada Shikamaru, jika sudah menyelesaikan misi, Shikamaru harus segera bergegas pergi kerumahnya karena ada sesuatu yang akan ditunjukan. Dan Shikamaru pun menyetujui.
Namun setelah selesai misi, Shikamaru malah bersantai-santai karena mungkin itu bukan sesuatu yang penting. Jadi ia memilih untuk tiduran ditempat biasa bersama Choji memandang awan. Sementara Katsumi sudah sangat menanti kehadiran Shikamaru dengan harap-harap cemas. Shikamaru tidak menyadari bahwa itu adalah hari terakhir Katsumi menghembus nafas terakhirnya. Katsumi sudah lama terjangkit penyakit parah, namun teman-temannya tidak pernah diberi tahu.
Dihari terakhir itu, Katsumi ingin mempersembahkan hadiah terakhirnya untuk Shikamaru, ia telah sengaja menyiapkan makanan hasil pasakannya untuk dinikmati bersama Shikamaru. Karena dulu Shikamaru pernah mengatakan, 'Suatu saat nanti aku ingin mencicipi makananmu dan aku harap kita bisa menikmatinya bersama' Karena itulah dihari terakhirnya, ia ingin mengabulkan permintaan Shikamaru. Namun takdir berkata lain, Katsumi sudah berpulang sebelum permintaan itu terpenuhi. Katsumi meninggal di ruang makan dengan posisi menunduk di meja serta hidung yang mengeluarkan darah, ia ketiduran karena menanti kehadiran Shikamaru, namun ia tidur tanpa membuka mata lagi. Disamping meja, tempat Katsumi merundukan kepala, tampak sebuah buku yang pensil. Dikertas itu berisi pesan terakhir itulah Shikamaru sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan perasaan Katsumi.
Pesan terakhir Katsumi untuk Shikamaru.
"Hallo Shikamaru, bagaimana kabarmu hari ini? Kuharapkan kau akan selalu baik-baik saja. Ah iya aku hampir melupakan Ino dan Choiji. Bagaimana kabar mereka berdua? kuharap mereka juga baik-baik saja. Semenjak kita terpencar dalam regu yang berbeda, kita menjadi jarang bertemu dan bermain lagi, kalian bertiga sungguh beruntung masuk dalam regu yang sama, bahkan kalian selalu mendapat misi bersama. Kalian jadi banyak waktu bersama. Aku rindu saat kita bersama, bermain seperti waktu kita kecil. aku ingin merias wajahmu seperti waktu dulu, menggelikan rasanya mengingat masa kecil dulu. Salam untuk mereka berdua yah? O,yah kau tidak boleh menanyakan, bagaimana kabarku hari ini? Karena aku akan menjawab bahwa kabarku sedang tidak baik, ah aku sudah sudah mengatakannya, sial. Haha. Mungkin aku tidak sempat mengatakan kabarku langsung padamu, karena mungkin aku sudah pergi kesuatu tempat yang sangat jauh yang orang-orang tidak akan menemukanku. Huhu Sedih , bukan begitu, Shikamaru? Ah tapi mungkin kau tidak akan peduli, bukankah kau senang karena tidak ada lagi orang yang selalu mengganggumu saat tidur. Maafkan aku Shikamaru, jika selama ini aku selalu membuatmu marah dan terganggu, sejujurnya aku melakukan itu karena aku, aku, aku, aku sungguh malu mengatakan bahwa aku sangat menyukaimu. Ah sial, aku keceplosan, uaaa aku sungguh malu. O, yah Shikamaru aku sudah menyiapkan makanan untukmu, kuharap masakanku tidak membuatmu takut? Maafkan aku Shikamaru, jika permintaanmu untuk menikmati makananku berdua, tidak akan terpenuhi. Aku sangat menyesal karena waktuku ini sangat singkat, aku sudah tak kuat lagi untuk membuat tubuhku tegak, kepalaku rasanya seperti batu, begitu berat rasanya. Selamat tinggal Shikamaru, kuharap kau akan selalu baik-baik saja setelah aku pergi. Hiduplah dengan baik karena aku akan selalu mengawasimu dimana pun kau berada, berjanjilah untukku? Terimakasih untuk kau, Choiji dan Ino karena sudah menjadi temanku yang paling berharga. Sayonara, ashiteru Shikamaru"
Saat membaca pesan tersebut, Shikamaru tak kuasa menitikan air mata kesedihan. Ia sangat menyesal karena sudah mengacuhkannya selama ini. sebagai tanda kepeduliaannya, Shikamaru menghabiskan semua makanan hasil masakan Katsumi sambil menitikan air mata. Meski sedikit asin, Shikamaru tetap memakannya, karena Shikamaru menyadari, bahwa makanan ini adalah bukti kecintaan dan kasih sayang Katsumi terhadapnya.
Flashback off
Dipintu dapur, nampak wanita berambut pirang sedang berjalan sambil menampan makanan ditangannya. Ia datang dengan penuh senyuman.
Tak butuh waktu lama, makanan sudah tersaji di meja. Semua orang yang ada disana sudah melingkari meja tersebut dengan piring dan sumpit/sendok sudah tersedia didepan mereka.
"Wah makanannya terlihat lezat, apa kau yang memasak Temari-chan?" Tanya Shikaku, ayahnya Shikamaru, mendengar pujian ayah Shikamaru, Temari merasa tersanjung.
"Begitulah, semoga Anda menyukainya." Ucap Temari.
Setelah itu, Temari melihat Tuan Shikaku sedang kesusahan untuk mengambil nasi, Temari pun segera bertindak untuk membantu "Anda tidak perlu repot-repot mengambilnya, biar saya saja" Temari segera menyendokan nasi ke piring ayahnya Shikamaru,
"Apa anda ingin sup, ayah?" Tanya Temari pada ayah Shikamaru, ia mengatakan ayah karena ayah Shikamaru yang menyuruhnya untuk mengatakan itu.
"Baiklah, aku memang sedang ingin mencicipi sup" jawab ayah Shikamaru, tanpa banyak kata Temari segera menyendokan sup buatannya kepiring ayah Shikamaru yang sudah diberi nasi tersebut.
"Temari-chan, Sepertinya Shikamaru juga ingin kau ladeni." Goda Ibu Shikamaru, padahal sebenarnya Shikamaru baik-baik saja, dia malah terlihat acuh dengan orang disekitarnya.
"Ah begitukah. Baiklah, saya akan menyedokkan nasi dan supnya ke piring Shikamaru." Ucap Temari. Namun perlakuannya kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya, Temari lebih menunjukan ketidaksukaan terhadap Shikamaru.
Setelah menyedokkan nasi dan sup dalam satu mangkuk, Temari lalu meletakkan mangkuk tersebut didepan meja Shikamaru sambil berujar sesuatu yang sedikit menusuk.
"Silangkah dimakan makanannya tuan pemalas, jangan lupa dihabiskan makanannya, mubazir" ucap Temari dengan mata sinis. Shikamaru yang melihat makanannya sudah tersaji sedikit menatap aneh.
Tak lupa juga dengan Ibu Shikamaru yang ikut andil untuk mencicipi sup buatan Temari. Saat mereka semua akan menelan habis makanannya, ekspresi wajah mereka berubah. Mereka tiba-tiba pucat pasi. Temari yang melihat keadaan tidak wajar segera bertanya, apakah makanannya tidak enak. Melihat ada kemurungan diwajah Temari, ayah dan Ibu Shikamaru segera menggeleng bersama untuk memberi tahu, bahwa makanan Temari tidaklah tidak enak, melainkan begitu lezat.
Mereka lalu menelan paksa makanan yang sudah dicerna dengan susah payah lalu setelah itu memulai pembicaraan.
"Ah, tidak. Justru makananmu enak sekali, kami tidak pernah merasakan makanan seunik dan selezat ini." Ayah Shikamaru segera berbicara untuk menenangkan hati Temari. hati Temari jadi berbinar-binar
"Ah benar apa kata suamiku, bahkan ibu ingin mencicipinya lagi, bukankah begitu, Shikamaru?" Ibu Temari segera memberi isyarat Shikamaru berupa senggolan tangan, namun Shikamaru tidak merasakannya, karena senggolan itu sangat ringan.
"Kata siapa, justru supmu..." belum sempat melanjutkan kalimatanya, mulutnya sudah dibekap oleh tangan ayahnya, lalu Shikamaru dibisiki sesuatu oleh ayahnya.
"Tugas seorang laki-laki adalah mencicipi makanan, kau tidak boleh banyak protes. Katakan saja enak meski itu bohong" Shikamaru pun mengangguk.
Setelah membisiki Shikamaru, ayahnya lalu menatap wajah Temari sambil memamerkan sebuah senyum. Dan setelah itu, Ayah Shikamaru mulai berbicara.
"Maksud Shikamaru justru supmu lebih enak 2 kali lipat dari sup yang lain, itu yang ingin dikatakannya" lanjut ayahnya Shikamaru untuk menjelaskan maksud potongan Shikamaru, Shikamaru terpaksa mengangguk karena diancam oleh ayahnya.
Mendengar jawaban ayah Shikamaru, Temari begitu senang. Segera ia menyendokan lagi sup daging sapi ke mangkok Shikamaru untuk Shikamaru makan lagi. Shikamaru yang melihat mangkoknya yang sudah terisi sup, merasa mual dan ingin segera pergi dari ruang makan. Namun ayahnya melarang dan segera menyuruh Shikamaru menghabiskan sup daging sapi terpaksa Shikamaru pun menurut.
Dan sekarang, giliran Temari untuk mencicipi sup buatannya. Dengan senang, Temari menyendokan sup cukup banyak ke mangkoknya yang telah terisi nasi. Lalu dengan senyuman yang merekah, Temari menyedokan nasi yang berisi sup daging ke sendokannya untuk dimakan, sebelum sepenuhnya masuk ke dalam mulut. Temari mengucapkan 'Selamat makan' pada semuanya, tak lupa dengan pamer senyumnya. Dan ternyata setelah masuk kedalam mulut, dan mencerna habis semua makanannya. Temari merasakan sesuatu yang ganjil terhadap masakannya, ternyata masakannya terlalu asin, Temari salah mengambil bumbu, harusnya mengambil gula pasir ia malah mengambil garam yang sebelumnya sudah ditaburi.
Merasakan hal ganjil terhadap masakannya, Temari merasa bersalah telah membuat orang rumah tersiksa terutama Shikamaru. Mereka dengan tenangnya, mengatakan bahwa masakannya enak padahal pada kenyataannya tidak. Dengan segera, Temari berdiri lalu membungkukan badan beberapa kali sambil mengucapkan kata maaf. Namun Ibu Shikamaru segera merangkul Temari hangat untuk tidak terus larut dalam kebersalahan dan Ibu Shikamaru juga sedang mencoba menenangkan hati Temari dengan kalimatnya yang bijak, ia mengatakan bahwa "Manusia itu bukanlah makhluk sempurna, terkadang ia bisa melakukan suatu kesalahan. Dan kesalahan itu bukanlah untuk dipermasalahn melainkan untuk diperbaiki agar menjadi sesuatu yang lebih baik lagi dari sebelumnya. begitu juga dengan hal ini, masalah ini bukan untuk dipermasalahan melainkan untuk sama-sama dicari jalan keluarnya."
Mendengar nasehat bijak Ibu Shikamaru, hati Temari merasa semakin tenang dan damai dari sebelumnya. ia merasa senang, telah bertemu orang tua Shikamaru yang begitu baik hati dan memperlihatkan bagaimana sisi keluarga yang baik dan hangat yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Temari sangat berharap bisa menemukan kebahagiaan untuk calon mertuanya kelak, Temari berharap calon mertuanya nanti bisa sehangat ayah dan Ibu Shikamaru.
###
Malam semakin larut, suasana semakin menggelap, awan sudah tak nampak dilangit. Hawa dingin semakin menusuk badan. suara burung hantu sudah saling bersahutan. Namun Temari belum juga menunjukan tanda-tanda mengantuk, padahal semua orang rumah sudah memasuki mimpinya masing-masing.
Temari malah terlihat termenung di jendela kamar Shikamaru yang terbuka. Keadaan yang membuatnya seperti ini, karena Temari sedang memikirkan keadaan Gaara dan Kankuro serta memikirkan tentang pernikahannya yang tinggal mengghitung hari. Temari begitu cemas memikirkan bagaimana kekhawatiran Gaara serta Kankuro yang kehilangan kakak perempuannya, sebenarnya alasan penundaan pernikahan selama 1 minggu itu karena calon pengantin perempuannya menghilang begitu saja, pihak Suna tidak memberi tahu kabar menghilangnya calon pengantin perempuan pada pihak Konoha, karena itu akan menimbulkan masalah, sehingga pihak Suna beralasan bahwa alasan penundaan pernikahan hanya masalah faktor internal yang belum sepenuhnya siap 100%.
Dan alasan, kenapa Temari memilih Konoha sebagai tempat pelarian. Karena Konoha satu-satunya rumah terbaik untuk menenangkan pikirannya. Selain karena sudah akrab dengan masyarat dan Shinobi serta Konoichinya, juga karena Konoha mempunyai tempat-tempat yang indah yang bisa membuat pikirannya jernih.
Dan di Konoha, Temari sudah mampu menyelesaikan masalahnya hingga bersih, dan sudah memutuskan bahwa ia akan menghadapi masalah ini dengan bijak. Berkat pertemuannya dengan orangtua Shikamaru serta Teman-temannya yang banyak memberi saran, membuat Temari semakin mantap untuk menghadapi masalah ini.
Sebenarnya orang-orang Konoha sudah tau bahwa calon pendamping Shikamaru adalah Temari. Dan mereka dinilai sangat cocok menjadi pasangan, Mereka sengaja menutupi itu untuk membuat kejutan, makanya mereka banyak memberi masukan kepada Temari untuk meneruskan pernikahan saat Temari meminta saran. Sungguh suatu kesalahan meminta saran pada orang-orang Konoha, karena mereka pasti akan mendukung pernikahan itu.
Karena Temari belum juga mengantuk, akhirnya Temari memutuskan untuk berkeliling di kediaman Shikaku Nara, semoga saja dengan berjalan menelusuri bagian rumah, bisa membuat Temari mengantuk.
Saat Temari sudah berada di pintu keluar kamar, Temari melihat ada tanggal kalender yang diberi tanda silang hitam, kalender itu digantung dibalik pintu. Temari begitu heran untuk apa Shikamaru melakukan itu, tanpa menelisik lebih dalam lagi, Temari segera menggeser pintu untuk cepat keluar dari kamar. Padahal jika Temari terlisik lagi, ada lingkaran merah yang diberi keterangan 'Pernikahan' dengan tulisan kecil, lingkaran merah itu tepat di hari pernikahan mereka sebelum diundur. Jika saja Temari menyadarinya, mungkin ia sudah jantungan sekarang.
Setelah keluar kamar, tiba-tiba Temari merasa haus. Akhirnya Temari pun memutuskan untuk pergi ke dapur, maka secara otomatis, Temari akan melewati ruang tengah, dimana Shikamaru tengah tertidur di sopa.
Saat sudah memasuki ruang tengah, Temari berjalan begitu melambat tepatnya seperti sedang mengendap. Namun saat sudah mencapai sopa, ada sesuatu yang membuat Temari menghentikan langkahnya. Suara igauan Shikamaru yang terus mengatakan 'Katsumi'.
Karena penasaran, akhirnya Temari pun mendekat kearah Shikamaru yang tengah terbaring tidur di sopa. Lalu mengamati wajah Shikamaru yang tengah terpejam, bagi Temari keadaan Shikamaru nampak seperti wajah anak kecil yang menggemaskan yang sangat menarik untuk jadi bahan uji eksperimen. Keadaan Shikamaru yang menggemaskan itu, memunculkan sebuah ide cemerlang yang menggiurkan, ia mempunyai ide untuk merias wajah Shikamaru seperti seorang badut.
Setelah lampu ide muncul diatas kepalanya dengan nyala yang terang, Temari bergegas mengambil kotak make-up yang tadi diberikan Ibu Shikamaru padanya, tadi siang. Setelah kotak itu diambil. Temari bergegas kembali ke ruang tengah untuk siap merias wajah Shikamaru.
Setelah sampai, yang pertama ia ambil adalah sebuah lipstick merah marun. Segera Temari buka tutup wadahnya lalu putar bagian bawah pemutarnya.
Saat akan melukis bibir Shikamaru dengan lipstick merah itu. tiba-tiba Shikamaru memegang tangan Temari tanpa terduga. Jelas Temari nampak kaget dengan gerakan repleks Shikamaru. Wajah Temari nampak berkeringat dingin, jika Shikamaru sampai menyadari niat buruknya.
Namun ternyata, itu bukan sesuatu yang disengaja. Shikamaru melakukan itu karena sedang mengigau. Sebelum Temari berhasil melepas gengaman Shikamaru, Shikamaru sudah menarik tangan Temari dengan cepat. Sehingga membuat Temari jatuh dipelukan Shikamaru.
Keadaan itu, memicu Temari untuk semakin melepaskan semua kekuatannya agar bisa terlepas dari cengkraman tangan Shikamaru. Namun keadaan itu justru membuat Temari semakin terjatuh dalam pelukan Shikamaru, kedua tangan Shikamaru malah semakin berulah untuk membuat Temari terkurung dalam pelukannya yang erat.
Dalam keadaan mengingau itu, Shikamaru menitikan air matanya, sambil berbicara sesuatu yang Temari sedikit kurang paham. Shikamaru mengatakan hal seperti ini "Aku telah membuat kesalahan besar yang tidak dimaafkan, jadi mohon ampunilah aku. Aku ingin kau kembali seperti dulu, Katsumi. Maafkan aku, maafkan aku" itu yang dikatakan Shikamaru.
Mendengar ucapan Shikamaru, Temari mulai berpikir bahwa 'jangan-jangan, Shikamaru telah merusak harga diri seorang wanita bernama Katsumi' itu yang dipikirkan Temari. keadaan itu, membuat Temari semakin mengerahkan segala kekuatannya untuk terlepas dari pelukan Shikamaru. Dan usaha Temari pun berbuah manis, ia berhasil keluar dengan selamat.
Setelah terlepas, lalu Temari memberi juluran lidah pada Shikamaru untuk mengejeknya
"Dasar pria hidung belang, aku tidak akan terjebak dengan pesonamu. Bwee" . setelah memberi ejekan, lalu Temari mengambil kotak make-up untuk ia simpan kembali dikamar, karena Temari sudah kapok mengerjainya lagi.
Namun saat akan pergi, Shikamaru kembali mengigau, membuat langkah Temari terhenti mendadak. "Jangan pergi, hanya engkau lah yang kucinta" ingau Shikamaru. Deg, jantung Temari berdetak kencang satu kali, ketika Shikamaru mengatakan 'hanya engkaulah yang kucinta.' Namun keadaan hati Temari cepat berubah, seiring dengan kalimat yang didengarnya kemudian. Kalimat itu berbunyi seperti ini "waktu berubah begitu cepat namun hatiku hanya untukmu, maafkan aku karena sudah mengacuhkanmu, apa yang kau bersedia memaafkanku, Katsumi."
Mendengar hal itu, hati Temari sedikit terluka. Padahal Shikamaru bukan apa-apa untuk Temari, tapi mendengar Shikamaru menyebut wanita lain selain dirinya, menimbulkan rasa jengkel dihati Temari. Temari pun memutuskan untuk tidak peduli lagi pada Shikamaru.
"Aku tidak peduli lagi !" Ucap Temari dengan perasaan jengkel, setelah itu ia pun melangkah kaki dengan langkah monster.
Namun tiba-tiba terdengar suara seseorang yang terjatuh, Terpaksa Temari harus memalingkan wajah kebelakang untuk memastikan darimana suara itu berasal. Dan betapa kagetnya dia, tenyata suara itu berasal dari suara jatuhnya Shikamaru dari sopa. Segera Temari berlari menghampiri Shikamaru.
Sampai disana, Temari segera membalikan posisi Shikamaru yang jatuh tengkurap. Ia menemukan kening Shikamaru berdarah dengan wajah yang berkeringat dan suhu badan yang meningkat. Keadaan seperti ini, tentu membuat Temari sangat khawatir. Karena secara tidak langsung, Temari juga ikut andil dalam membuat Shikamaru sakit. Karena siang tadi, saat hujan lebat berlangsung, Shikamaru menolong dirinya dengan meyerahkan jaket anti air padanya, sehingga membuat posisi Shikamaru kedinginan. Temari sudah mengira hal ini akan terjadi, mengingat siang tadi Shikamaru menjadi banyak bersin.
Karena hanya ada dirinya yang bisa menolong Shikamaru, tidak mungkin harus membangunkan kedua orangtua itu Shikamaru, itu akan jadi masalah rumit. Akhirnya Temari memutuskan untuk bertindak sendirian.
Semua tindakan medis ia lakukan sendiri sebisa mungkin, pertama meletakan Shikamaru pada posisi nyaman disopa, kedua menyiapkan alat kompresan untuk membuat suhu tubuh Shikamaru menurun. Ketiga mengganti air kompresan yang sudah tak terpakaian. Malam ini menjadi malam yang paling sibuk untuk Temari, bahkan ia hampir tak tidur untuk mengecek keadaan Shikamaru.
Sebenarnya, pada tengah malam itu orangtua Shikamaru terbangun karena mendengar suara berisik dari tengah rumah. Mereka pun pergi keruangan tengah tersebut, untuk memastikan apa yang terjadi. dan ternyata saat sampai disana, mereka berdua melihat Temari yang sedang mengobati Shikamaru yang sakit. Saat ibu Shikamaru ingin ikut membantu Temari, suaminya segera melarang. Ia menyuruh, agar istrinya tidak ikut campur urusan mereka, biarkan mereka belajar bagaimana cara berkeluarga yang seharusnya. Itu yang pikirkan suaminya.
###
Pagi menjelang, matahari sudah menggatikan posisi bulan yang selama malam bertugas. Cahayanya yang terang masuk melalu pentilasi udara dan langsung menyorot ke mata Shikamaru yang terpejam. Terganggu dengan cahaya itu, Shikamaru pun membuka matanya perlahan dengan memayunkan telapak tangan kanannya di kening, guna menghalangi cahaya agar tidak langsung masuk ke pupil matanya.
Setelah matanya perlahan terbuka, betapa kagetnya Shikamaru saat melirik kebawah sopa, karena dibawah sam sudah ada keberadaan Temari yang tengah tertidur pulas dengan badan mengkeriut, dan disamping Temari ada sebuah ember kecil berisi air.
Heran dengan apa yang terjadi, Shikamaru segera bangkit dari tidurnya. Dan saat bangkit sesuatu terjatuh kepakuannya. Shikamaru segera mengambil benda yang terjatuh itu lalu mengamatinya. Ternyata sebuah handuk kecil.
"Jangan-jangan..." Shikamaru mulai menelaah tentang situasi yang terjadi. handuk kecil, ember kecil berisi air, sebuah selimut, semua peralatan itu mempercepat penela'ahannya.
Setelah menyimpulkan hasil pemikirannya, Shikamaru malah menghembuskan nafas panjang sambil mengumamkan kalimat merepotkan.
"huh dasar wanita merepotkan, kenapa kau harus merepotkan dirimu sendiri? Itu membuatku jadi punya hutang budi padamu." Keluh Shikamaru sambil memandang wajah Temari yang tengah tertidur pulas.
"Sepertinya semalaman kau menjagaku, pantas kau akan terlelap seperti ini" Ucap Shikamaru yang menatap wajah lelah Temari.
Tanpa banyak cakap, Shikamaru segera memangku Temari ke pangkuannya, meski tubuh Temari sedikit berat, namun Shikamaru tetap memaksakannya, bagaimana pun juga Shikamaru harus melakukan sesuatu terhadap yang Temari telah menolongnya. Ia berniat akan memindahkan tubuh Temari ke kamarnya, agar tidurnya lebih nyaman.
"Uh Tak kusangka kau akan seberat ini, Temari" ucap Shikamaru sambil memangku tubuh Temari dengan susah payah.
Setelah berdiri tegak, Shikamaru lalu melangkahkan kakinya dengan langkah berat, mengingat seseorang yang dipangkunya memiliki beban 'ringan' sampai-sampai Shikamaru hampir terjatuh karenanya.
Ayah Shikamaru yang sedang berjalan sambil menyeruput kopi menjadi tersedak karena melihat pemandangan yang tak bisa dipercaya ini. Namun setelahnya, ayah Shikamaru tersenyum dan kembali menyerut kopi.
Sampai di kamar, Shikamaru melepas pangkuannya di ranjang empuk, setelah itu menyelimuti badan Temari dengan selimut yang sudah tersedia. lalu setelahnya, ia pandang wajah Temari yang penuh keteduhan.
"Bagaimana pun juga, aku harus mengucapkan Terimakasih padamu." Ungkap Shikamaru sambil memandang wajah Temari.
"Akan lebih bahagia, jika gadis beruntung yang kunikahi itu adalah kau, Temari. mungkin aku akan lebih mudah membuka hatiku untuk wanita sepertimu. Bukan hanya rupamu yang mirip, tapi peringaimu juga begitu mirip dengan dia. Tempramental, emosional, susah diatur, hampir semua sifat dia, ada pada dirimu."
Setelah puas memandang wajah Temari, Shikamaru lalu melangkah ke luar kamar. Untuk melakukan aktifitas paginya. Membimbing para pelajar anak-anak diakademi. Namun tentunya, sebelum pergi ia harus sarapan dan menyengarkan badan terlebih dahulu.
Namun, tanpa terduga. Temari sudah bangun saat Shikamaru sudah selesai mandi. Dan betapa cerobohnya Shikamaru yang lupa untuk memperhitungkan segala apa yang nanti akan terjadi. Shikamaru amat cereboh karena berganti baju dikamar yang ditempati Temari. tadinya Shikamaru pikir, Temari akan bangun nanti siang karena mengingat tubuhnya yang kelelahan akibat menjaga Shikamaru semalaman.
Otomatis saat Temari membuka mata lalu menengokkan matanya ke sekeliling, ia menemukan Shikamaru tengah bertelanjang dada, untungnya Shikamaru sudah selesai memakai celana, hanya tinggal memakai baju. Melihat Shikamaru yang tengah bertelanjang dada, dan Temari tiba-tiba ada disebuah kamar yang hanya mereka berdua saja diruangan itu. Temari segera menjerit.
"Huaa kenapa kita berdua ada disini, apa yang kau lakukan padaku tadi malam.?" Teriak Temari sambil menarik selimutnya lebih tinggi.
Kaget dengan teriakan Temari, Shikamaru lalu berbalik menghadap Temari.
"Maafkan aku Temari..." Ucap Shikamaru.
Sebelum kalimat Shikamaru dilanjutkan, Temari sudah menyela terlebih dahulu membuat keadaan semakin kacau. Padahal Shikamaru ingin mengatakan bahwa, dia sangat menyesal karena sudah berganti baju pakaian ditempat ini, dan ia ingin meminta maaf. Namun Temari malah telah menyerbunya.
"Dasar lalaki kurang ajar, rasakan itu!" Bentak Temari sambil melempar bantal dan guling pada Shikamaru. Shikamaru tak kuasa untuk menghindari segala lemparan Temari, namun semakin Shikamaru berhasil lolos dari lemparan, semakin banyak pula lemparan benda dari Temari.
"Hei hei, dengarkan aku dulu. Aku tidak melakukan apapun padamu, bukankah kau yang semalaman menjagaku ,apa kau lupa itu?" Seru Shikamaru.
Mendengar penjelasan Shikamaru, tiba-tiba Temari menghentikan acara lemparannya. Jika diingat lagi, memang benar apa yang dikatakan Shikamaru. Itu membuat Temari jadi merasa malu sendiri. Untuk menentralisir rasa malunya, Temari mengalihkan pandangannya ke arah lain, supaya tidak menampakan rasa malunya pada Shikamaru.
"Walaupun kau wanita merepotkan bagiku. Tapi, bagaimana pun juga aku harus mengucapkan Terimakasih padamu, karenamu aku bisa sehat dan bisa melanjutkan tugasku di akademi yang belum diselesaikan. Terimakasih banyak atas pertolonganmu, Temari" Ucap Shikamaru yang berjalan mendekat ke arah Temari sambil mengulurkan tangan, sebagai tanda permintaan maaf dan ucapan Terimakasih.
"Kau tak perlu mengucapkan Terimakasih, karena itu memang tugasku sebagai orang yang telah ditolong olehmu, kemarin siang" Seru Temari dengan tatapan mengarah ke arah lain, tak mau barang sejenak untuk menatap wajah Shikamaru. Temari masih aja menunjukkan wajah ketidakramahan dan ketidaksukaan pada Shikamaru.
"Tidak sopan jika orang yang menjulurkan tangan untuk meminta maaf dan mengucapkan Terimakasih tidak kau balas. Bukankah itu tindakan yang tidak mematuhi sistem pertatak ramahan" Sindir Shikamaru.
Mendapat sindiran seperti itu, segera Temari meraih tangan Shikamaru yang terjulurkan, namun tatapannya masih mengarah ke arah lain, tak lupa aura ketidaksukaan Temari yang masih terasa oleh Shikamaru.
"dan tidak sopan juga. Jika yang dimintai maaf tidak memandang wajah yang meminta maaf serta tidak menunjukkan wajah keramahan" sindir Shikamaru lagi.
Mendengar kembali sindiran Shikamaru yang cukup menusuk jantungnya, sampai membuat urat Temari bermunculan di dahi, namun segera dicegahnya. Temari terpaksa membalikkan posisi wajahnya untuk menghadap ke arah Temari, dan ia juga terpaksa memamerkan wajah keramahan untuk menyakinkan Shikamaru.
"Apa ini sudah cukup baik untukmu.?" Tanya Temari dengan nada sinis.
Namun secara mengejutkan, tiba-tiba Cup, Shikamaru mengecup dahi Temari begitu singkat namun cukup membuat tubuh Temari kaku, dan mata Temari tak mau terpejam. Kecupan itu sebagai ungkapan Terimakasih Shikamaru.
Setelah membuat Temari kaku, Shikamaru lalu pergi berjalan keluar kamar. sebelum pergi, Shikamaru, mengambil baju dan jaket chuninnya untuk dipakai. Setelah baju dan jaketnya dipakai. Shikamaru memulai langkahnnya sambil mengangkat tangan dan mengucapkan "Selamat pagi" pada Temari, tak lupa sebuah bingkai senyum yang terpasang diwajah tampan Shikamaru. Senyum itu, membuat Shikamaru tambah menarik.
Setelah kepergian Shikamaru, tubuh Temari masih menunjukkan kekakuan. Sampai datang Ibu Shikamaru yang mengajaknya untuk sarapan pagi, membuat Temari sadar dari terpelangaannya. Sebelum pergi sarapan, Terlebih dahulu Temari mencuci muka di kamar mandi, untuk menyegarkan muka sekaligus untuk membersihkan segala macam kotoran yang tertempel disekitar wajah.
Setelah sarapan pagi selesai, Temari meminta izin pada orangtua Shikamaru untuk menginzinkannya mandi, mereka pun mengizinkan Temari mandi dikamar mandi Shikamaru. Dan untuk jaga-jaga, Ibu Shikamaru melarang anaknya untuk masuk tanpa seizin Temari saat akan memasuki ruangan.
Beberapa menit berlalu, Temari sudah selesai dengan acara mandinya dan juga sudah selesai mengenakan baju kebanggannya, tentunya bukan baju Ibu Shikamaru, melainkan bajunya sendiri yang kemarin ia pakai, dan sekarang sudah kering.
Dan sekarang, Temari akan pamit pulang pada kedua orangtua Shikamaru, karena bagaimana pun juga, ia tidak akan mungkin terus tinggal dikonoha. Dan tentunya kedua adiknya sudah sangat menanti kehadiran Temari.
"Kenapa harus cepat-cepat pergi, tinggalah beberapa hari disini" pinta Ibu Shikamaru pada Temari yang sudah bersiap akan pergi.
"Maafkan aku Bu, bukan maksud menolak. Tapi tempatku bukan disini, lagi pula Gaara dan Kankuro pasti sudah menunggu kedatanganku dirumah?" pinta Temari dengan lembut.
"Jika memang begitu. Ibu tak bisa berbuat apa-apa lagi, ibu hanya memberi pesan, agar kau baik-baik saja saat dalam perjalanan pulang. Pastikan bahwa kau akan pulang dengan selamat" Pesan Ibu Shikamaru
Temari merasa tersanjung mendapat perhatian dari Ibu Shikamaru. Namun sanjungan itu, tetap tak bisa mengubah pendirian Temari. Sebelum pergi, Temari mengucapkan Terimakasih sambil membungkukan badan pada kedua orangtua Shikamaru atas segala kebaikan yang telah Temari terima. Sebelum pergi juga, Ibu Shikamaru memerintah anaknya untuk mengantar Temari hingga mencapai gerbang keluar. Mendapat perintah dari Ibunya, dengan tanpa keraguan, Shikamaru menyanggupi perintahnya tanpa beban. Sesuatu yang patut dipertanyaan.
Dalam perjalanan mereka menuju gerbang utama Konoha, mereka terlihat saling diam mendiami, tak terjadi percakapan sedikit pun. Biasanya Temari yang selalu membuat percakapan sepanjang perjalanan namun kali ini Temari memelih diam sambil menunjukan ekspresi ketidaksukaan pada Shikamaru.
Keadaan ini, membuat Shikamaru heran. Tak biasanya wanita cerewet jadi wanita pendiam seperti ini. satu hal lagi yang membuat Shikamaru heran, Temari selalu terlihat cemberut dan selalu menunjukan ekspresi ketidaksukaan padanya, serta setiap kali ia pandang, Temari selalu membuang muka kesamping. Sebenarnya apa yang membuat dia seperti ini, Shikamaru sama sekali tidak paham dengan ini. jika menyangkut strategi bertarung, Shikamaru memang ahlinya, tapi menyangkut perasaan, Shikamaru termasuk orang yang paling payah.
"Oi, Temari" Panggil Shikamaru, namun tidak mendapat gubrisan dari Temari, masih saja menunjukan wajah ketidaksukaan padanya.
Saat Shikamaru akan memanggil Temari lagi. datanglah Naruto dan Kiba serta anjinya, Akamaru, yang terlihat sedang berlomba lari.
Mereka yang datang tiba-tiba dengan kecepatan tinggi, segera berteriak untuk menyuruh siapa pun yang menghalangi jalan, agar segera menyingkir. Namun Temari tak mendengar seruan itu, karena ulahnya yang tak mau menatap kedepan, ia lebih memilih menegok arah samping yang berlawanan dengan posisi Shikamaru.
"Temari, segeralah menyingkir !" Shikamaru yang sudah menyingkir mencoba untuk memperingatkan Temari yang masih tetap pada posisinya. Karena seruan Shikamaru tak diindahkanya, akhirnya Shikamaru segera menarik lengan Temari cukup kencang, membuat Temari terseret tarikannya. Dan tarikan itu berakhir dalam pangkuan Shikamaru.
Keadaan itu membuat mereka saling menatap satu sama lain, namun suara tepukkan orang-orang membuat mereka kembali pada posisinya semula. Lalu dari kerumunan orang-orang terdengar suara langkah kaki kecil dan besar.
"Aku tidak menyangka kau bisa seromantis itu dengan Temari-chan. Shikamaru"goda suara seseorang yang muncul.
Suara perempuan itu, terpaksa membuat mereka berdua menoleh bersama, kebelakang, dan menemukan 4 gadis muda sedang berjalan beriringan, mereka adalah Sakura, Ino, Tenten dan Hinata. Dan yang tadi berbicara adalah Sakura.
"Kalian berempat" Ucap Temari dengan senang karena bisa melihat mereka berempat secara bersama, tanpa harus mencari mereka satu persatu.
"Ehem jangan-jangan kalian sedang kencan yah?" Goda Tenten sambil menyenggolkan pundaknya pada pundak Temari.
Namun Temari segera membantah. "Tidak-tidak bukan begitu, Shikamaru hanya mengantarku pergi ke gerbang Konoha. itu juga karena disuruh oleh Ibunya"
Namun ucapan Temari, malah semakin menjerumuskannya pada permasalahan yang lebih kompleks. "disuruh oleh Ibu Shikamaru, berarti barusan kau bertemu ibunya." Tela'ah Ino.
"Berarti kau baru saja dari rumah Shikamaru, dan setauku Bibi Yoshino jarang keluar. Itu artinya tadi malam kau..." pikir Tenten dengan tatapan menggoda.
"...Menginap dirumah Shiakamaru-kun. Itu hanya perkiraanku." Sambung Hinata dengan sedikit malu-malu.
"Aha pemikiran yang bagus Hinata." Ucap Sakura sambil menempuk pundak Hinata dengan perlakuan itu, Hinata hanya tersenyum, senang karena pemikirannya diterima.
Namun saat mereka berempat akan kembali melancarkan aksinya, Temari dan Shikamaru sudah tidak ada tempat. Mereka sudah pergi saat mereka sedang sibuk berbincang. Tepatnya Shikamaru yang menyeret paksa Temari untuk pergi, karena berurusan dengan mereka hanya akan menambah masalah, dan masalah itu sungguhlah merepotkan. Sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Setelah cukup jauh dari 4 gadis sekawan, Shikamaru lalu melepas gengamannya. Setelah terlepas dari gengaman, Temari lalu mengelus-ngelus pergelangan tangannya yang kesakitan akibat cengkraman Temari yang cukup kuat.
"Kenapa harus menyeretku seperti ini. Dengan sebuah ajakan juga, itu sudah cukup." Protes Temari.
"Itu akan memakan waktu yang lama. Lagi pula, jika terus bersama mereka, kita akan terlibat masalah yang kompleks." Imbau Shikamaru.
"Tapi cara yang kasar, bukan sesuatu yang harus dimaklumkan. Bukankah kau pernah bilang, bahwa wanita itu harus diperlakukan dengan lembut. Cobalah untuk mengerti perasaan wanita." Nasehat Temari.
Mendengar nasehat yang seolah permintaan, Shikamaru merasa curiga dengan sikap Temari yang tidak biasa ini. Ada sesuatu yang aneh tentang dirinya.
"Hari ini kau nampak berbeda. Apakah ada sesuatu dariku yang membuatmu marah?" tanya Shikamaru dengan tatapan menelisik.
Mendengar pertanyaan Shikamaru, Temari jadi teringat peristiwa semalam, dimana Shikamaru tengah mengingau. Temari nampak heran, apakah karena Shikamaru mengigau tentang wanita lain, membuat dia jadi seperti ini. Ini perasaan yang rumit baginya.
"A-apa yang kau katakan. A-aku sama sekali tidak cemburu." Ungkap Temari dengan gugup. Namun ungkapan itu, justru membawa pada sebuah jebakan yang akan sulit untuk keluar
Mendapat jawaban seperti itu, Shikamaru yang semula menunjukkan ekspresi kebosanan menjadi bangkit seketika. karena ungkapan itu merupakan sesuatu yang ganjil yang wajib pertanyakan. Shikamaru merasa khawatir, jika Temari memperhatikannya saat tengah memang setiap harinya, Shikamaru selalu memimpikan Katsumi, akibat rasa bersalah yang tak mau hilang.
"Cemburu. ! memangnya kau cemburu pada siapa? Apa semalam aku mengatakan sesuatu yang aneh-aneh." Tanya Shikamaru dengan mata menelisik.
Namun dengan cepatnya, Temari segera berjalan lebih cepat dari Shikamaru. Membuat Shikamaru harus mengejar langkah Temari lebih cepat.
"A-apa yang kau katakan? Aku sama tidak mendengarkan?" Jawab Temari dengan gugup. Namun sebenarnya, Temari dapat menangkap apa yang Shikamaru katakan. Ia hanya berbohong untuk mengalihkan pembicaraan.
Tibalah mereka berdua, di gerbang utama Konoha, dengan Shikamaru yang masih bertanya tentang seseorang yang Temari cemburukan. Namun Temari tak mau menjawab, ia malah terus mengalihkannya pada topik lain.
Saat Shikamaru akan kembali bertanya, Temari sudah izin pamit padanya. Terpaksa pertanyaanya harus ditunda.
Saat Temari pergi dan sudah ada pada posisi yang cukup jauh. Shikamaru segera berteriak padanya, tentang sesuatu yang terlupakan. Namun Temari tidak mengubrisnya, dia terus saja jalan lurus tanpa.
"Oi, tidakkah kau lupa tentang kipas besar yang kau tinggalkan?' Teriak Shikamaru. Namun hasilnya nihil. Temari sudah cukup pada posisinya tadi, ia tidak akan mungkin mendengr teriakan Shikamaru.
Karena tak mau ambil pusing, Shikamaru memilih untuk tidak peduli masalah kipas besar yang Temari tinggalkan kemarin. Jika Temari butuh, maka ia akan kembali untuk mengambil kipas besarnya. Jika pun tidak, itu bukan suatu masalah bagi Shikamaru.
Dalam perjalanannya pulang, Temari tak henti menyalahkan dirinya yang bersikap konyol. Bahkan Temari sampai menjitak-jitak kepalanya sendiri karena mengingat kelakuan konyolnya. Sudah jelas-jelas Shikamaru tak bersalah, untuk apa Temari marah. Itu yang Temari pikirkan.
Fiuh, kini Shikamaru dan Temari dalam tempat berbeda, menghembuskan nafas bersamaan untuk mehilangkan rasa jengkel di hati. Mereka sama-sama tengah berpikir tentang pernikahan yang semakin mendekat. Dan juga bepikir, siapa sosok yang akan mengikat janji seumur hidup yang nanti akan menjadi suami/istri mereka kelak. Memikirkan hal itu, membuat mereka repot sendiri. Terutama Shikamaru yang mendapat misi untuk memberi keturunan. Shikamaru akan terlepas dari misi itu, jika sudah mempunyai 2 orang anak. Shikamaru amat bingung, bagaimana ia akan melakukan itu, untuk menyentuh seorang wanita juga sangat susah. Bagaimana ini, dengan seseorang yang tidak ia kenal. Sepertinya takdir memang mengharusnya untuk tinggal di Sunagakure selamanya.
.
.
Bersambung
Shikamaru sudah menunjukkan rasa tertariknya pada Temari,namun Temari masih menunjukkan kebimbangan. Apakah perasaan Temari juga akan berubah seperti perasaan Shikamaru. Dan bagaimana konsep pernikahan Shinto itu. Tunggu di chapter depan.
.
Mohon maaf bila terdapat banyak Typos yang tidak saya sadari.
.
Thanks to Readers and Reviwers
.
Spesial to.
Arum Junnie, GhienaShikaTema, Akiyama Yuki , CharLene Choi yang udah review dichapter kemarin.
.
Maaf lama updatenya, soalnya alur ceritanya tiba-tiba melenceng, jadi mikir lagi dua kali. O, yah di chapter kemarin ada sedikit perubahan dan tambahan di scene Shikatema. Tidak banyak sih, tapi cukup mempengaruhi jalan cerita. o, yah Katsumi Higurashi itu, Insert Character, atau boleh dibilang tokoh imajinasi Author, soalnya gak ada di anime sama manga. bayangin aja kalau katsumi itu mirip sama Temari, cuma rambutnya yang selalu digerai bukan kuncir empat.
.
Akhir kata.
.
RnR please.
