_ Black Star _
Disclaimer(s):
Character(s) owned by Masashi Kishimoto
Title owned by Avril Lavigne
Song:
Walking Disaster by Sum 41
Warning(s):
Banyak orang yang kehilangan apa yang dimilikinya hanya karena dia lupa untuk mensyukurinya. Syukuri apa yang kau miliki dan hidup yang kau jalani akan terasa berkali lipat lebih indah. (My way of living my life)
- Beginning of Chapter 4 -
- Leaving (Again) -
Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dari café yang didatanginya bersama Sasuke. Dia dan personil team7 beserta kru memang memutuskan hari ini menjadi hari libur bagi mereka sebelum besok mereka akan berangkat ke Otto dan menjalani rangkaian tur yang entah kapan akan berakhir. Dan karena seluruh anggota tim memiliki keluarga yang merindukannya, akhirnya di sini lah Naruto, bersama Sasuke.
Bertanya ke mana keluarga anak berambut kuning itu? Ah, sebaiknya lain waktu saja. Mungkin dia akan berbaik hati untuk bercerita.
Naruto melihat ke arah di mana seharusnya band menyanyi di café itu. Entah kenapa tempat ini terasa sangat familier. Ah, mungkin dulu sebelum pindah ke Tokyo dia pernah bermain ke tempat ini. Atau mungkin menyanyi di sini? Dia ingat dia dulu pernah menyanyi di café tapi tidak ingat café yang mana. Toh bukan hanya satu café tempat dia menyanyi. Yeah, dia menyanyi di café mana pun yang akan membiarkannya menyanyi.
Indahnya masa itu, ketika apa yang dipedulikannya hanyalah menyanyi. Ketika hal yang diinginkannya hanyalah membuat orang lain tidak kesepian seperti dirinya.
Ah, akhirnya Sasuke kembali juga dari kamar mandi. Dia itu seperti wanita saja. Tapi menurut Naruto wajar sih. Dia memang harus mempertahankan penyamarannya agar mereka tidak terganggu fans. Kalau dipikir-pikir, mereka itu seperti sedang berkencan saja…
"Kau mengenali tempat ini?" tanya Sasuke santai setelah duduk dengan tenang di kursinya.
"Sepertinya. Mungkin dulu aku pernah menyanyi di sini. Tapi entahlah. Haah, kenapa aku jadi seperti orang amnesia begini sih? Kalau kau melihat bagaimana Kiba dan Gaara memperlakukanku, kau pasti tau kalau aku memang tidak terlalu pintar. Daya ingatku tidak terlalu bagus. Dan Konoha bukan kenangan yang bagus untukku. Betapa pun aku menghabiskan hidupku dulu di sini,"
"Eh? Apa itu sebabnya kau pergi dari Konoha?"
"Aku kan sudah bilang aku harus menjalankan kontrak. Lagipula aku tidak punya siapa pun di sini,"
"Maksudku dua tahun yang lalu. Kau bisa saja memulai karirmu dari sini,"
"Oh…, eh, kau tau aku pergi dari Konoha dua tahun yang lalu?"
"Sudah kubilang kau bisa menganggapku fans. Kau itu sudah punya halaman Wikipedia mu sendiri, tau,"
"Eh? Benarkah? Internet jaman sekarang suka membahas hal yang tidak penting, ya?"
"Kau mengalihkan topik,"
Naruto hanya mengelus bagian belakang lehernya sambil meringis. "Ehehe…, orang tua ku bercerai. Dan ibu ku tidak mau menyerahkan aku pada ayahku. Jadi dia menyembunyikanku di Tokyo. Berkata kalau dia akan menjemputku begitu ayahku melunak. Tapi dia tidak pernah datang," Naruto tertawa garing, "Bukan hal yang ingin kubicarakan sebenarnya. Tapi ini bukan rahasia, jadi bukan masalah kalau kau tau."
"Boleh aku menambahkan itu di halaman Wiki mu?"
"Eh?"
Sasuke hanya menyeringai melihat wajah Naruto yang kebingungan begitu. Setidaknya itu membuatnya lupa kalau yang barusan dikatakannya adalah masa lalu yang tidak ingin dikatakannya.
"Eh, katamu dulu mungkin kau pernah menyanyi di sini?"
"Sepertinya sih begitu."
"Nyanyikan satu lagu untukku. Aku suka mendengarmu menyanyi," kenapa nadanya bukan meminta tapi memerintah sih? Uchiha, kau sedang tidak bicara pada bawahanmu, tuan.
Naruto terlihat bimbang. Dia bahkan tidak ingat siapa yang memiliki café ini. Dia tidak yakin akan mendapatkan ijin untuk menyanyi di sini. Tapi melihat panggung yang ada di depan itu, mau tidak mau dia merasa rindu dengan microphone dan gitar akustiknya. Gitar akustik hitam kesayangan Naruto dulu, sekarang bagaimana keadaannya, ya? Mau tidak mau Naruto juga jadi memikirkan itu. Lagipula kalau bukan karena kecelakaan dengan punggungnya itu, tentu saja saat ini dia sedang konser entah di mana (Naruto memang payah dalam hal mengingat nama dan lokasi tempat).
Dan setelah keinginan untuk menyanyi mengalahkan keraguannya akan akankah dia mendapat ijin untuk menyanyi di tempat ini, dia memutuskan untuk berjalan ke arah panggung dan bertanya pada band yang ada di situ perihal bolehkah dia menyanyikan satu lagu.
Setelah mendapat ijin dan meminjam salah satu gitar yang ada di situ, Naruto mulai menarik perhatian orang-orang yang ada di café dengan satu deheman pelan—namun jelas terdengar.
Setelah memastikan semua yang ada di situ memperhatikannya—dan bahkan beberapa langsung mencuri fotonya; mungkin dia sebenarnya juga harus menyamar—dia mendekatkan diri pada microphone dan berkata, "Mungkin ada dari kalian yang mengenalku. Dulu aku pernah menyanyi di sini. Dan aku harap kalian tidak keberatan kalau aku menyanyi di sini hari ini,"
Gelengan kepala antusias jelas terlihat dari arah beberapa gadis-gadis labil yang tersebar lokasinya di café itu.
Dan Naruto mulai memetik gitar akustik yang bersamanya.
I haven't been home for a while
I'm sure everything's the same
mom and dad both in denial
an only child to take the blame
Sorry, mom, but I don't miss you
father's no name you deserve
I'm just a kid with no ambitions
wouldn't come home for the world
Never know what I've become
the king of all that's said and done
the forgotten son
This city's buried in defeat
I walk along these no-name streets
wave goodbye to home…
As I fall...
At the dead-end I begin
to bring a bridge of innocence
satisfaction guaranteed
a pillow-weight catastrophe
Our own mission nowhere bound
inhibitions underground
a shallow grave I
have dug all by myself
And now I've been gone for so long
I can't remember who was wrong
all innocence is long gone
I pledge allegiance to a world of disbelief
where I belong
A walking disaster
the son of all bastards
you regret you made me
it's too late to save me
(you regret you made me
it's too late to save me)
(And she said)
as far as I can tell
it's just voices in my head
am I talking to myself?
'cause I don't know what I just said
(And she said)
as far as where I fell
maybe I'm better off dead
am I at the end of nowhere
is this as good as it gets?
A walking disaster
the son of all bastards
you regret you made me
it's too late to save me
(to save me, to save me, to save me ...)
To save me, to save me, to save me, to save me
A walking disaster
the son of all bastards
you regret you made me
it's too late to save me
I will be home in a while
you don't have to say a word
I can't wait to see you smile
wouldn't miss it for the world
Tepuk tangan keras bersahutan terdengar dari seluruh penjuru café tapi perhatian Naruto hanya tertuju ke satu arah. Kursi di mana Sasuke sedang duduk, atau kalau mau jujur sedang berjalan ke alam mimpi. Apa suara Naruto selembut itu? For hell's sake, that's not even a pop song! And he dares to sleep? Memangnya telinga orang itu terbuat dari apa sih?
Dan meskipun penonton yang mulai menyadari kalau yang ada di depan mereka adalah vokalis team7 dan bukannya orang yang mirip meneriakkan 'encore' dengan semangat, Naruto tetap membungkukkan badannya dan berjalan ke arah mejanya.
Naruto pun merasakan tangannya membentuk kepalan erat begitu menyadari segelas lemon soda yang tadi ada di meja itu sudah kosong. Damn! Padahal si Teme ini kan tau bagaimana Naruto menyukai lemon soda.
Ah, saatnya memesan beberapa gelas lalu kabur…
Sasuke membuka matanya dan melihat ke sekeliling. Ah, dia masih ada di café. Pasti Naruto sedang pergi ke toilet, dia tidak ada di hadapannya soalnya. Sudah berapa lama ya dia tertidur? Dua jam? Sasuke mulai merangkai kata-kata maaf di dalam kepalanya karena sudah membuat Naruto menunggunya terbangun begitu lama—bukan karena dia tertidur ketika mendengarnya menyanyi?
Tapi sebelum kata-kata itu terangkai, seorang waitress datang menghampirinya. Merasa orang itu hanya akan menggodanya—meskipun dia sedang menyamar, dia yakin kalau dia tetap terlihat tampan saat ini—Sasuke memasang pose kerennya.
"Tuan, Anda sudah bangun? Ini bill nya," Eh?
Tentu saja Sasuke tidak menunjukkan ekspresi salah sangka nya. Dia hanya menerima bill yang disodorkan sang waitress.
Sepuluh gelas lemon soda. Segelas cappuccino. Sepiring sandwich. Lima mangkok ramen. Eh?
"Kau yakin ini bill meja ini? Seingatku kami hanya memesan segelas lemon soda dan semangkok ramen,"
"Tuan yang satunya yang memesannya. Dia bilang aku bisa menagihnya pada Anda sebagai permintaan maaf karena Anda meninggalkannya tidur."
Ah, baiklah. Demi Naruto, tidak apa-apa. Dia selalu bisa menagihnya nanti. "Lalu di mana dia sekarang?"
"Dia bilang dia ada urusan dan harus segera pergi,"
Sungguh, jika dia bukan Uchiha Sasuke, dia akan membalik meja yang ada di depannya. Si Dobe itu…
Starting Flashback
Café sudah sepi. Para pengunjung sudah meninggalkan café setelah pengurus café mengatakan jam tutup segera datang. Sudah hampir tengah malam. Tapi jalan di sekitar café tentu belum sepi kalau masih jam segini, bagaimanapu ini adalah malam Minggu. Mungkin dia bisa menunggu sedikit lebih lama lagi. Membantu Kiba membersihkan café tidak terlihat buruk, siapa tau sang bos akan dengan baik hatinya memberinya sedikit uang tambahan—bukan berarti dia memang membutuhkannya, sih. Tapi dia tidak suka keramaian—kecuali saat konser—dan ibunya juga pasti sudah tidur.
Perceraian orang tuanya memang sedikit banyak mempengaruhi hidupnya. Dia memang tidak terlalu mengenal ayahnya karena dia sangat jarang berada di rumah tapi dari hadiah-hadiah kecil yang sering ditinggalkannya di kamar Naruto, dia tau kalau sang ayah sangat menyayanginya. Dan setelah orang tuanya bercerai, sang ibu ngotot untuk tidak lagi menerima apapun dari sang ayah. Tinggal di sebuah apartemen sederhana yang tetap memungkinkan Naruto untuk berjalan kaki ke sekolahnya.
Yang ibunya tidak pernah tau, rekening Naruto tetap bertambah secara teratur setiap bulannya.
"Kau tidak bertengkar dengan ibumu lagi, kan? Kenapa kau tidak segera pulang?" Kiba bertanya di sela-sela mengepel. Kiba adalah teman Naruto sejak kanak-kanak dan sangat mengenal Naruto jadi sangat wajar kalau dia sudah mulai mencium ketidakberesan di apartemen sahabatnya itu.
"Tidak juga. Ini malam minggu dan jalanan masih ramai. Beberapa penggemarku mungkin masih di luar menungguku," Naruto mencoba bercanda. Tapi Kiba sudah tau kalau beberapa hari belakangan Naruto memang enggan berada di apartemen bersama ibunya.
Naruto membuka pintu apartemen yang ditinggalinya perlahan tidak ingin membangunkan ibunya. Dia memang membawa kunci cadangan untuk saat-saat seperti ini.
Tapi sepertinya sang ibu belum tertidur. Lampu kamarnya masih menyala.
"Baginya ini harus tetap menjadi all or nothing. Aku tidak bisa membuatnya bisa memiliki Naruto begitu saja." Mendengar namanya disebut—sepertinya sang ibu sedang menelepon—Naruto mau tidak mau tertarik untuk mendengarkan sedikit.
"Dia bahkan tidak datang saat anak itu lahir. Apa yang bisa diharapkan dari orang itu? Naruto tiba-tiba menyayanginya seperti ayah yang wajar? Dia bahkan tidak pernah ada di rumah."
"…"
"Siapapun tidak akan mengubah keputusanku. Anak itu tidak akan mengenal ayahnya lagi. Persetan dengan perusahaan besarnya itu."
Naruto bingung. Apa sih yang sedang dibahas ibunya? Kepemilikan akan dirinya? Sungguh, Naruto belum pernah begini berharap segera mencapai usia legal nya untuk memilih sendiri hidupnya. Kadang-kadang ibunya jadi terlalu mengatur dirinya hanya karena dia merasa dia lebih dekat dengan Naruto. Bagaimanapun dia lebih sering di rumah, katanya. Lupakan fakta kalau ibunya bahkan tidak tau betapa Naruto menyukai oranye—dan ayahnya tau.
Dia kemudian berjalan ke kamarnya dan memandang gitar hitam akustik yang selalu dibawanya menyanyi di café. Hadiah dari ayahnya di ulang tahunnya yang ke-lima belas. Dia bahkan baru berencana untuk meminta uang pada ayahnya ketika melihat gitar itu di toko dan benda itu sudah tergeletak manis di kamarnya. Naruto curiga ayahnya menyuruh seorang stalker untuk membuntutinya—tapi itu tidak penting, kan? Yang dia tau ayahnya memang sering memberinya perhatian lewat hadiah-hadiahnya. Karena hadiah-hadiah itu bukan asal diberikan.
Beberapa hari setelah kejadian itu Naruto dikirim ke Tokyo. Naruto tidak pernah mengingat detail dari kejadian itu. Yang dia ingat hanya kata-kata ibunya yang meyakinkannya kalau dia akan datang menyusul. Kata-kata yang bahkan dari awal Naruto tidak pernah mempercayainya. Dan orang-orang berbadan besar yang memaksanya masuk ke dalam pesawat sebelum dia sempat meninggalkan pesan pada ayahnya, juga rasa sakit tak tertahankan di punggungnya ketika dia sadar sudah berada di Tokyo.
Finishing Flashback
Naruto mendengus pelan. Dia mengingat lagi kejadian yang sudah lama tidak ada di memorinya hanya dengan memandang gitar hitam yang sedang dipegangnya. Memakan waktu dua jam untuk menemukan benda itu di gudang apartemen lama nya.
Dia bersyukur ibunya tidak membuang benda ini.
'Kalau ayah dan ibu tidak bercerai, apa ya, yang akan kuterima tahun ini? Apa ayah masih seperti dulu? I really wonder how he's doing now…'
Naruto berjalan menuju kamar hotelnya dengan senyum di wajahnya. Dia sendiri tidak tau kenapa dia tersenyum. Tapi membawa gitar hitam kesayangannya di punggungnya membuatnya merasa kembali menjadi dirinya yang dulu. Mungkin beberapa bulan lagi begitu tur nya selesai dia akan pulang ke rumah besar itu dan berbicara dengan ayahnya. Hanya orang itu yang dimilikinya saat ini—atau mungkin bahkan dia pun tidak.
Dia tidak bisa tidak terkejut melihat ada orang lain di kamar hotelnya. Serius deh, dia tinggal di sini karena dia sedang ingin sendirian.
"Kenapa tadi kau pergi begitu saja?" tanya sosok berambut hitam yang sedang berdiri di samping ranjang di kamar hotel itu.
Dari sini Naruto memang tidak bisa melihat wajah orang itu. Tapi beberapa hari ini mereka selalu bersama sehingga Naruto bisa mengenali orang itu dengan mudah, "Aku ada urusan,"
"Sepuluh gelas soda dan lima mangkok ramen? Perutmu dibuat dari apa sih?"
Naruto hanya memamerkan giginya. Bukan salahnya kan kalau dia punya nafsu yang terlampau besar terhadap soda dan ramen?
"Aku akan menagihmu begitu kau kembali ke Konoha."
"Dan aku harap kau sedang konser di luar kota ketika aku pulang ke Konoha," Naruto masih meringis.
Tiba-tiba Sasuke mendekat dan langsung memeluk Naruto. Naruto yang kaget tidak melakukan apapun. Toh dia tidak keberatan dipeluk seperti ini. Setahun belakangan hanya Kiba yang memeluknya—bukan dalam konteks romantis—dan dia merasa pelukan dari orang lain tidak buruk juga.
"Teme? Kau kenapa?"
"Aku akan merindukanmu,"
"Eh? Hei? Kau itu kenapa sih? Seperti kita tidak akan bertemu lagi saja. Kau mau ke mana sih?"
"Dobe. Kau yang akan pergi besok, kan?"
Setelah Naruto mendengar itu, secara refeks dia membalas pelukan Sasuke. Hanya aku atau mereka sedang terlihat seperti pasangan yaoi?
"Kudengar bulan depan kau akan konser di Nagoya. Aku akan datang."
"Benarkah?"
"Team7 akan konser di sana dua hari setelahnya. Kiba dan aku butuh liburan juga,"
Sasuke mengeratkan pelukannya. Orang itu terasa lebih dekat sekarang.
"Sasuke, aku tau kita belum lama saling mengenal. Kita juga belum menjalani waktu bersama sebagaimana mestinya. Tapi kau telah menjaga Naru-chan dengan baik selama seminggu ini. Aku akan merestui hubungan kalian sepenuh hati. Ketika kita bertemu lagi, bagaimana kalau kita menyiapkan pernikahan kalian?"
Naruto, Gaara, Kakashi dan beberapa kru yang sedang menunggu keberangkatan pesawat yang akan mengantar mereka ke Otto di bandara hanya mampu melongo melihat Kiba yang bertingkah seolah dia adalah ibunya Naruto begitu. Menggenggam tangan Sasuke yang sudah berkeringat sejak bermenit-menit lalu ketika Kiba memulai kalimat perpisahannya. Sungguh, Sasuke ke sini untuk mengantar Naruto. Kenapa hal seperti ini yang didapatkannya?
"Menikah, ya? Apa benar bisa secepat itu?"
Semua orang menoleh ke arah Sasuke yang barusan berbicara. Siapa yang mau menikah? Dan ketika Naruto berhasil mencerna kalimat Kiba sebelumnya, mau tidak mau wajahnya mulai memerah. Dia dan Sasuke tidak berada dalam hubungan yang memungkinkan hal itu, kan?
Dan setelahnya orang-orang hanya bisa semakin sweatdrop melihat Naruto dan Kiba yang kejar-kejaran seolah mereka belum pernah melakukan itu di taman kanak-kanak.
'Ya, aku juga akan merindukanmu,'
'Untung saja aku sudah mendapat nomer handphone nya,' seorang pria berambut raven menyeringai dengan seramnya. Padahal dia sedang berdiri sendirian di ruang tunggu bandara. Mengabaikan tatapan ngeri orang-orang yang lewat di sekitarnya.
- Ending of Chapter 4 -
Anonymous Reviews' Reply,
Meg chan kamu tu kayak narasi di acara serem gitu deh... tapi aku suka gayamu... menghilangnya naru udah dibahas... yang lainnya belom dulu ya... thanks' rev nya...
Stoiclovehokagewannabe makasii b'day wish nya... amiin... *meringis* ahh, belum saatnya... naru kan emang selalu gitu, to? #dirasengan
thanks' rev nya...
sasunaru4ever nii apdetannya... thanks' rev nya...
natsu ya iyalah... (bikin jadi gak penasaran, ya?) cinta sepihak? belum kepikiran tuh... belum berani pake terlalu banyak tokoh soalnya... hehe... oke, thanks' rev nya...
b suda dilanjutkan... thanks' rev nya...
She Said,
Seharusnya bisa lebih panjang dari ini kalo She mau nulis adegan mereka pisahan di bandara. Tapi karena She gak akan bisa bikin adegan pisahan yang bagus, jadi di skip aja biar gak keliatan jeleknya. Hehe… #kicked
Café di scene pertama itu café yang di flashback Sasu chap lalu.
Jujur, awalnya rencana She masa lalu Naru gak kayak gini. Tapi gara-gara dengerin lagu Walking Disaster ceritanya jadi berubah kayak gini. Semoga bagian lain bisa disesuaikan nantinya… *pray*
Dan maaf soal Kiba yang tiba-tiba bertingkah alay.
Jadi, chap ini gimana?
