Side chapter : Sai & Ino

.

.

Lost in Love

.

Warning:

OOC banget, typo(s), Alternate Universe, author galau…

.

Notes:

Sedikit informasi bahwa cerita ini akan dihapus setelah chap terakhir dipublish. #Abisnya kalo mau nerbitin novel gak boleh terbit duluan di tempat lain bok.# :3

Terimakasih atas pengertiannya.

.

.

Enjoy!

.

Bibir merekah, kemeja tanpa lengan, rok mini yang menampilkan betapa putih dan mulusnya sepasang kaki jenjang, sepatu hak tinggi berwarna silver yang begitu serasi, rambut pirang tergerai, mata biru lentik yang kadang menatap kesana-kemari, dan pipi tirus yang diberi sentuhan merah muda.

Sempurna.

Seorang pemuda berkulit pucat bahkan sampai tak berkedip menatapnya, tak juga ingat kapan terakhir kali ia mengambil napas.

Ino sadar dirinya ditatap sebegitu dalam, ingin menerka apa yang ada dalam pikiran si pemuda. Namun, ia hanya bisa menggaruk pipi. Malu.

Melodi telah usai, diikuti pergerakan cepat sang tuan putri yang turun panggung, dan disambut pangeran tampan yang telah menunggu sedemikian lama.

"Pulang sekarang?" Ino mengangguk.

Mereka memang tak bergandengan tangan seperti cerita para puteri dalam dongeng, juga tak menaiki kereta labu sampai di depan rumah saat malam datang.

Kedua manusia tanpa status itu cukup berjalan kaki, karena rumah yang lumayan dekat.

"Kenapa kamu tidak langsung pulang saja? Ini sudah malam." Ino mengeratkan mantel yang baru saja disodorkan Sai, mengingat malam begitu dingin di akhir November seperti ini.

Beruntung langit malam kali ini sedang sumringah, tak perlu ada payung yang merusak atensi keduanya.

"Karena sudah malam, aku tidak boleh membiarkan perempuan berjalan sendiri." Sai memasang senyum, lagi.

Senyum yang ramah, manis, tapi entah mengapa akhir-akhir ini Ino jadi geli sendiri akibat terlalu sering menatap senyuman si pemuda. Seakan hidup pemuda disampingnya selalu diselimuti aura bahagia.

Tidak seperti dirinya.

Lagipula, belum ada frasa yang menyebutkan bahwa hidupnya selama ini bahagia, bukan?

Kerja paruh waktu di dua tempat, orang tua bercerai dan menyebabkan dirinya kesulitan menghubungi keduanya yang sudah beda rumah, ya walaupun sang ibu masih bersedia mengurusi segala biaya kuliah, dan ayahnya pernah satu kali menengoknya di toko kue milik Hinata. Tapi seperti kebanyakan remaja dengan keluarga berantakan, Ino merasa dirinya kesepian. Ia selalu kalut tiap mengingat memori-memori tentang kebersamaan keluarga. Ia tak begitu berminat kuliah sebenarnya, kalau saja dia tidak ingat perjuangan ibunya yang selama ini telah banyak mengeluarkan uang.

Ino janji akan menggantinya suatu hari nanti!

"Melamunkan siapa?" Ino tersentak, lupa pada kenyataan dirinya sudah berada di depan rumahnya sendiri, dan entah sejak kapan wajah Sai sudah sedemikian dekat dengan wajahnya.

Masih dengan senyuman yang sungguh ingin sekali ia singkirkan.

Karena bagi Ino, Sai terlihat keren saat diam, bukannya terlalu banyak mengumbar senyum, apalagi kepada banyak orang.

Tidak boleh.

Senyuman Sai hanya boleh ditujukan pada Ino seorang.

.

Ino, apa yang ada dipikirkanmu?!

.

"Ah, aku tidak melamun kok."

Semuanya terasa begitu cepat saat Sai tiba-tiba saja meraih kenop pintu dan mempersilahkan Ino masuk. Dasar, padahal kan ini rumahnya!

Ino hanya geleng-geleng kepala.

"Masuklah, sudah malam."

"Terima kasih sudah mengantarku." Dan malam itu, mereka berpisah di depan pintu rumah, saling melambaikan tangan sebentar hingga sosok Sai menghilang dalam pandangan.

.

Sai itu orang yang benar-benar menarik, bohong kalau Ino tidak terpesona. Baru beberapa kali menyanyi bersama saja sudah bisa membuatnya terpukau oleh suara tenor si pemuda yang meluruhkan isi hati. Dan lagi, Sai adalah mahasiswa semester 2 di Universitas Keiyo, sama sepertinya, hanya saja berbeda fakultas. Sai memilih bergelut dengan Ilmu Sejarah, sementara dirinya memilih bahasa sebagai langkah awal menitih masa depan.

Sejauh yang Ino perkirakan, sepertinya Sai cukup populer di kalangan para gadis. Terlihat dari gerombolan gadis-gadis berseragam sma yang kerap memenuhi sudut-sudut café di akhir pekan, bahkan kerap memekik seperti kelebihan tenaga saat Sai mulai mengumandangkan sebuah lagu. Bukannya cemburu atau apa, tapi keberadaan gadis-gadis itu sangatlah mencemari indera pendengaran si gadis pirang, kerap ia keluar mencari angin segar saat euphoria kembali lagi dan lagi.

.

Bukan cemburu, oke?

.

Dan Ino pun mulai menerka-nerka, sejak kapan dirinya duduk di samping jendela, menatap bulan purnama dan memikirkan Sai.

.

Lengkap dengan seulas senyum seperti biasa.

.

.

.

"*Mix sandwich, kamu adalah tipe orang dengan kehidupan sosial yang baik, juga bisa beradaptasi dengan baik, Kemanapun kamu pergi, kamu bisa dengan cepat menyesuaikan diri, kamu memiliki daya tarik yang aneh bahkan kepada orang yang tak suka sekalipun akan memperhatikanmu." Ino melongo, menatap aneh Sai yang tiba-tiba bicara tak karuan, menurutnya.

"Seingatku kamu bukan mahasiswa psikologi, iya kan?" Hari ini mereka duduk berdua di teras rumah Ino, pagi-pagi sekali.

Dan mengapa pagi-pagi sekali Sai sudah datang berkunjung? Karena dia sudah pernah berjanji akan membuatkan gadis itu sarapan, jujur saja Sai agak tak rela begiu mendengar cerita Ino yang tak pernah sarapan demi menjaga berat badan.

Padahal Sai yakin, Ino akan tetap seksi meskipun sedikit menggemuk sekalipun.

"Aku hanya mengutip kalimat temanku, dan dia memang anak psikologi." Sai tersenyum, membuat matanya melengkung indah seperti sebuah senyuman juga.

.

Ino mulai mengigit sandwich dalam genggaman, mengunyah sebentar, menelannya perlahan.

Dan –hey, sarapan tidak buruk juga rupanya. Apalagi mendapatkannya secara cuma-cuma.

.

Sepasang mata yang melirik ke kanan kiri membuat Ino mau tak mau mengikuti arah pandang Sai.

"Ada apa?" Sai nampak kaget, hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Benar tidak ada apa apa?" Ino menelisik curiga, apakah Sai tengah bersembunyi dari kekasihnya yang mulai mencurigai kedekatan mereka?

Tapi, dia bukan kekasih Sai, dan benarkah Sai sudah punya kekasih?

Mengapa ia tidak tanya sejak lama, jadi ia tak perlu khawatir tentang perasaannya sendiri.

.

Sai kembali melirik seperti sebelumnya.

.

"Kenapa sih?" Ino tak sengaja membentak, menatap Sai yang justru memandangnya dengan senyuman, lagi.

"Itu, apa pacarmu tidak ke sini? Aku takut kalau tiba-tiba dia datang dan marah karena keberadaanku." Kini Ino justru ingin tertawa, terpingkal-pingkal kalau boleh.

Namun demi menjaga image anggun yang sudah terlanjur melekat, ia hanya berdehem dan kemudian berkata, "Dia tidak akan ke sini."

"Kenapa tidak?"

"Karena aku tidak punya pacar." Ino lanjut makan, sementara ekor matanya lamat-lamat menangkap ada senyuman lagi di bibir Sai.

Pemuda itu ikut mengambil sebuah sandwich ham dalam kotak makanan yang ia bawa, menggigitnya penuh perasaan.

"Eh, jadi isinya bukan hanya satu macam?" Ino mengerutkan dahi, berpikir bahwa pemuda itu benar-benar bangun pagi buta untuk mempersiapkan sekotak penuh roti isi.

"Hanya dua macam, yang kamu makan dan yang aku makan." Ino mengangguk, tak berniat makan lagi, perutnya penuh. "Kenapa kamu memilih yang itu? Ada alasannya lagi?"

"*Sandwich ham, artinya aku adalah tipe orang yang tidak terlalu banyak berpikir, dan selalu memberikan fleksibilitas kepada orang lain. Bukan bermaksud pamer, tapi aku hanya ingin membiarkan orang lain bekerja sesuai dengan gayanya. Karena aku bisa menjaga hubungan dengan baik, maka aku…" Sai berdehem sebentar.

"…selalu populer dikalangan wanita." Sai kini tertawa, tawa yang merdu sebenarnya, hanya saja Ino sudah terlanjur tidak suka pada kalimat terakhir si kulit pucat.

Gadis pirang itu mencibir diam-diam. "Pasti kamu sengaja membuat sandwich ini supaya bisa berkata seperti itu."

Sai kembali terbahak.

"Ayo berangkat, aku sudah sangat terlambat!" Ino beranjak, masih berwajah masam.

"Aku belum selesai makan –hei Ino jangan tinggalkan aku!"

.

.

.

Ino sebenarnya tak pernah ambil pusing berapapun nilai yang ia peroleh dalam setiap lembaran tugasnya, karena poin utamanya kuliah adalah mendapat pengetahuan baru, pengetahuan yang bisa membawa pemikirannya terbuka lebih luas, bukan hanya sekedar mengejar nilai, begitu menurutnya. Tugas-tugas yang menjerat waktu bekerjanya juga selalu ia selesaikan dengan baik, meski terkadang sesuatu yang berbau paragraf ataupun essay selalu membuat berlembar-lembar kertasnya dibubuhi coretan di sana-sini, terkadang perlu revisi, tak jarang pula diminta mengulang dari nol.

Tapi sebanyak apapun mengeluh, Ino rasa hal seperti itu sudah tak ada lagi gunanya, yang terpenting kan patuh pada dosen, niscaya mereka tak akan memberi blacklist pada si gadis Yamanaka. Ino sadar, keterampilannya mengolah kalimat berbahasa asing belum bisa sebaik Hinata, tapi tak masalah. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri untuk tak pernah minder ataupun iri pada sahabatnya itu, karena ibunya pernah berkata padanya bahwa semua orang memiliki takaran mereka sendiri-sendiri. Ia hanya perlu fokus pada usahanya sendiri, daripada berpikir jelek tentang orang lain, terutama sahabatnya sendiri.

Bicara soal Hinata, Ino merasa bersahabat dengan gadis sepolos itu membuatnya mau tak mau gemas sendiri. Ia ingat betul bagaimana Hinata tersenyum dengan pipi memerah menatap punggung si jabrik kuning dari kejauhan meski pemuda itu tak membalas perasaannya, ia tak tega melihat sahabatnya mengalami masa sesulit itu, tapi bagaimanapun mencoba menghentikan, Ino justru takut Hinata salah paham lagi dan bertengkar seperti dulu.

Baginya tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah kisah cinta sepihak, lalu mengapa juga Hinata tidak berpaling ke orang lain saja, bukankah obat dari patah hati adalah jatuh cinta lagi?

"Melamun lagi?" Sepasang mata kelam menatapnya begitu dekat, berlapis senyum yang selalu pemuda itu pamerkan setiap saat.

Ino baru sadar akhir-akhir ini ia sering melamun seperti Hinata.

"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Sai mengerutkan dahi sesaat begitu mendengar pertanyaan si gadis pirang.

"Memangnya salah? Aku kan juga mahasiswa Universitas Keiyo."

"Iya tahu, tapi kenapa kamu datang ke fakultas ini? Kuliahmu sudah selesai?" Ino melirik arlojinya, baru pukul 09.00.

"Begitulah, dosenku pergi keluar kota, hari ini tidak perlu presentasi." Sai menguap, meregangkan otot-otot lengan yang masih terasa kaku akibat posisi tidur yang salah.

Entah mengapa ia selalu mendapat jatah kuliah pagi selama satu minggu penuh.

"Kamu sendiri kenapa tidak masuk?" Sai ikut duduk disamping Ino yang hanya mendesah pasrah, mengeratkan pelukannya pada tas selempang pemberian sang ibu.

"Aku lupa mengerjakan tugas, tidak boleh masuk kelas." Ino terkikik setelahnya, apalagi melihat tanggapan Sai yang justru geleng-geleng kepala dan menghela napas pendek.

"Besok lagi selesaikan tugasmu, meski harus mengorbankan waktu tidur sekalipun." Si gadis 19 tahun itu hanya mengangguk paham, dan beralih menggenggam ponsel.

"Hei, dengarkan kalau seseorang sedang bicara padamu." Sai merebut ponsel si gadis, menyimpan benda persegi panjang itu dalam saku jaketnya sendiri.

"Kembalikan, aku sedang membalas pesan Hinata." Ino mendelik, menatap Sai yang hanya tersenyum, rupanya pemuda itu ingin main-main dengan gadis Yamanaka.

"Kerja terus, kapan ada waktu untuk jalan-jalan denganku?" Pipi Ino memanas mendengar ucapan si manik kelam.

"Me-mangnya kamu pernah mengajakku jalan-jalan?" Ia juga tak sadar sejak kapan berubah gagap seperti Hinata.

Huft, ternyata berteman terlalu lama dengan gadis super polos tidak selamanya berdampak baik. Mengapa seorang Yamanaka Ino bisa nervous begini? Biasanya juga para lelaki yang akan gugup sendiri terkena kerlingannya.

"Oh, jadi kamu benar-benar ingin jalan-jalan denganku?" Sai tersenyum sumringah, membuat wajah panas Ino semakin menjadi.

"SAI!" Sai terbahak.

.

.

.

Usai menertawakan Ino hingga terbahak-bahak, nyatanya pemuda bernama Sai itu benar-benar mengajak si gadis jalan-jalan. Sore itu pukul 17.00, dan jam kerjanya di tempat Hinata sudah berakhir, sesaat setelah bercerita sedikit pada Hinata tentangrencana jalan-jalannya, Ino mendapat wejangan panjang lebar dari si gadis Hyuuga.

"Ino-chan harus dandan super cantik, apa perlu kita pergi membeli baju baru untukmu?"

"Hinata,"

"Ino-chan tahu kan kesan pertama benar-benar menentukan kelanjutan hubunganmu?"

"Hin,"

"Atau kita perlu menyewa penata rias agar penampilanmu sempurna, dan Sai-kun juga akan semakin jatuh cinta padamu."

"…"

"Masih ada dua jam sebelum Sai-kun menjemputmu, mungkin kita bisa cream bath dulu dan menghias kuku tangan serta kuku kakimu, jangan lupa untuk memakai sepatu yang paling baru."

"Hinata, aku hanya akan jalan-jalan bukannya menikah." Ino berdecak sebal, sementara Hinata hanya terkekeh.

"Jangan lupa kamu berhutang cerita padaku setelah ini." Ino hanya menghela napas dan memaksakan senyum.

"Kalau begitu aku pergi dulu ya, Hinata?" Ino berjalan menjauhi toko tempatnya bekerja sejak siang tadi, ada hal lain yang harus ia persiapkan sebelum Sai menjemputnya pukul 19.00 nanti.

Tentu saja persiapannya tidak seperti yang Hinata gambarkan, karena tentu saja persiapannya akan lebih sederhana.

.

Duduk berdua di dalam sebuah rumah makan seafood membuat Ino menahan napas untuk sementara, menatap begitu banyak menu menggiurkan dengan harga fantastis. Tanpa sadar ia meneguk ludah keras. Sepertinya Sai salah tempat makan, yang seperti ini tidaklah cocok untuk kantong mahasiswa.

Dan –oh lihat nama tokonya,

'Sea is Hot'

Apa-apaan, membuat Ino ngeri saja. Pasti si pemilik punya maksud kemesuman terselubung dalam mendirikan rumah makan ramai pembeli ini.

"Rumah makan ini sangat terkenal, aku dan teman-temanku pernah beberapa kali ke sini di akhir pekan." Ino sedikit banyak mengabaikan penuturan Sai, ia masih sibuk membolak-balik menu, mencari harga termurah.

Potato Gnocchi with Lobster and Walnut Butter

Roasted Salmon with Green Herbs

Shallot Vinaigrette

Albacore Tuna with Wassabi Ginger Sauce

Truffled White Corn Polenta

Nah kan, benar-benar tidak ada yang murah. Eh, tapi bukankah Sai yang mengajaknya jalan-jalan? Jadi, Sai juga yang membayar semuanya, iya kan?

"Sepertinya kamu sudah lapar, biar aku saja yang pilihkan untukmu." Sai mengambil alih buku menu, dan segera mencatat makanan yang ia pilih.

Penasaran, Ino melongok apa yang ditulis Sai, sebelum pemuda itu beranjak ke counter.

Scallops with Herbed Brown Butter

Pan-Roasted Orange Maple Sablefish

Fruity Lemon Squash (2)

Ya ampun, semua itu bahkan lebih mahal dari menu-menu yang sempat ia pertimbangkan sendiri tadi.

"Jadi, setelah ini kita kemana?" Sai telah kembali duduk, menatap sumringah Ino yang tampil cantik seperti biasa, ditambah sedikit aksesoris rambut yang membuat si gadis nampak berkilau di mata siapapun yang melihatnya.

"Aku lebih suka duduk-duduk di tepi danau, tapi kalau kamu ada rencana lain tidak apa-apa, aku ikut saja."

Sai nampak berpikir, mulai mempertimbangkan usul si gadis.

"Malam minggu begini biasanya tepian danau sudah ramai, bagaimana kalau cari tempat yang lebih sepi?" Sai mengerling, muka Ino merah padam.

Sejak kapan Sai jadi mesum begini sih?

"Ak-aku tidak suka tempat yang sepi, lagipula kamu terlihat mencurigakan." Ino mengatakannya masih dengan wajah merah, sementara Sai terbahak.

"Tidak lah, aku hanya bercanda."

Bicara tentang malam minggu, ini adalah malam minggu pertama Ino pergi dengan lelaki. Rasanya aneh karena hatinya terus berdesir-desir tanpa ampun, tak tahu juga apakah ia masih sehat jiwa dan raga saat pulang nanti.

.

Jduk!

Aw!

.

Ino tak begitu memperhatikan sebuah batu besar yang menghadang langkahnya, karena sebelumnya ia sedang memasukkan ponsel ke dalam tas.

.

Ya, mau bagaimana lagi, insiden memalukan itu terjadi juga.

.

Tubuh si gadis Yamanaka terhuyung ke depan, wajahnya hampir saja mencium aspal kalau saja jemari si pemuda tidak sigap menangkap lengannya.

"Kamu baik-baik saja?" Ino menatap Sai, kemudian mengangguk. Sedikit malu kedapatan tersandung batu kecil oleh si teman jalan, beruntung saat ini sedang sepi.

"Syukurlah, lain kali hati-hati." Sai tersenyum manis sekali, namun entah Ino yang sedang sensi atau malah masih malu, ia tiba-tiba merasa muak dengan senyum itu.

"Apa kamu tidak bosan terus-terusan tersenyum begitu?" Ino sudah berdiri lagi, lupa berterima kasih.

"Memangnya ada yang salah?" Tautan mereka terlepas.

"Tidak, aku hanya bertanya apakah kamu tidak bosan terus menerus mengumbar senyum?" Ino lanjut berjalan, dengan Sai yang mengekori.

Sepertinya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan bukan ide yang buruk.

"Oh, jadi kamu bosan padaku?" Sai mensejajarkan langkah, menatap Ino yang justru hanya menatap lurus jalan di depan.

"Bukan begitu, astaga-"

"Maaf kalau aku membuatmu bosan."

"Sai,"

"Aku memang tidak bisa melawak, jadi apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak bosan padaku?"

"Sai, aku-"

"Katakan saja aku harus bagaimana, aku akan menuruti permintaanmu, asal kamu tidak bosan lagi padaku."

Astaga, pemuda ini.

Membuat Ino gemas saja.

.

Dasar Sai, padahal kan ia hanya bosan pada senyumnya yang diumbar setiap saat, bukan orangnya!

.

"Aku hanya bosan melihatmu tersenyum terus, bukan bosan padamu." Langkah mereka berhenti, diikuti tatapan Sai yang menyipit tak mengerti.

.

"Lagipula, bagaimana bisa aku bosan padamu? Kamu saja selalu ada di sampingku saat aku membutuhkanmu, bahkan di waktu yang mungkin tidak wajar untuk bertemu."

.

Sai tak bisa berhenti tersenyum sejak saat itu.

.

"Yak Sai, berhenti mengumbar senyum!"

.

END (for SaiIno)

.

.

Big Thanks To:

Riya-Hime, TikaChanpm, Guest 1, Hina Lovers, stainless-steel, Guest 2,

Anunya Naru Mulus TakBerbulu Jujur, saya terkejut liat penname ini. XD

Terima kasih buat semua yang sudah baca dan review di chap sebelumnya.

.

Jujur, saya mulai lelah nulis ini karena endingnya benar-benar tidak tahu harus kemana, ada beberapa kepingan kejadian di dunia nyata yang harusnya begini malah berbalik jadi begitu. Jadi, maafkan saya untuk cerita yang lama-lama tambah membosankan ini. Dan maaf juga baru bisa ngasih side storynya SaiIno, GaaHina nya bener-bener masih ngambang menurut saya sendiri.

Maaf juga untuk alur, diksi, dll yang berantakan. Saya siap menerima kritik dan saran yang membangun, tidak untuk flame.

.

Mohon review setelah membaca, ya?

Aku cinta kalian! :)

.

.

Salam manis,

Waan Mew