Mengalah

Starring:

Oh Sehun & Kim Jongin (GS)

with

Park Chanyeol & Byun Baekhyun (GS)

Storyline by Hikaa

Summary:

Jongin adalah seorang anak yang selalu di beda-bedakan dengan Baekhyun oleh kedua orang tua mereka. Jongin juga selalu menurut dan menerima saat di paksa mengalah pada Baekhyun dalam segala hal. Tapi akankah Jongin kembali mengalah pada Baekhyun akan kekasihnya, Oh Sehun?

.

.

.

~ Preview Chapter ~

.

.

.

"Ya, dan kita harus mempersulit usaha mereka untuk kembali menyakiti cucuku." Ucap kakek Kim dengan aura gelap di sekelilingnya.

"Aku setuju, harabeoji." Ucap Henry menyetujui ucapan pria tua yang ssudah ia anggap seperti kakek kandungnya sendiri.

"Kau harus lebih memperhatikan dan menjaga Jongin lebih ketat lagi, Henry-ah. Bukan tak mungkin jika Youngwoon akan menculik Jongin." Ucapan nenek Kim membuat Joonmyun sesak nafas mendengarnya.

Bukankan itu sama saja dengan mengatakan bahwa sangat besar kemungkinannya untuk Jongin di culik? Jahat sekali.

Joonmyun sudah memutuskan bahwa ia akan menjaga dan mempertahankan Jongin di sisinya dengan cara apapun. Ia tak ingin puteri kesayangannya harus merasakan sakit karena luka yang sudah lama ia sembukan.

.

.

.

~ Happy Reading ~

.

.

.

Kim Yejin tengah menunggui suaminya yang masih betah berbaring di atas ranjang yang di sediakan pihak rumah sakit dan menutup kedua matanya sejak kemarin siang.

Di pagi hari yang berhujan dan keadaan kamar inap Youngwoon yang dingin dan terasa sepi semakin membuat perasaan Yejin biru.

Semakin di fikirkan, semakin banyak rasa menyesal dan sakit yang di dapatkan.

Ia sadar apa yang dulu di lakukannya adalah hal yang sangat salah dan bodoh.

Ya, bodoh. Kini ia baru menyadari betapa bodohnya perbuatannya dulu pada Jongin hanya dengan alasan mempertahankan rumah tangganya bersama pria paling ia cintai seumur hidupnya.

Dulu, saat Jongin lahir ke dunia ini, tak ada sosok Youngwoon yang menemaninya di rumah sakit. Hanya ada sang mertua dan Baekhyun kecilnya yang belum bisa berbuat apa-apa.

Ia masih mengingatnya dengan sangat jelas apa yang Youngwoon ucapkan di suatu pagi di ruang inap bersalinnya.

"Aku memaafkan kesalahanmu tapi sampai mati pun aku tak akan menerima anak ini. Sekarang pilihannya ada di tanganmu. Jika kau pilih anak ini, maka kita bercerai. Atau jika kau memilihku, buang jauh-jauh anak ini."

Dan dengan segala kebodohan, rasa bersalah dan rasa takut yang menguasai fikirannya saat itu, dengan berat hati ia menyetujui ucapan sang suami.

Ia mengalami perang bathin yang sangat berat saat itu. Inginnya ia tetap memiliki Jongin sebagai puteri bungsunya dan Youngwoon sebagai suaminya. Tapi kehidupan mengharuskannya untuk memilih.

Ia pernah berfikiran untuk memilih Jongin lalu membawa Baekhyun pergi bersamanya dan meninggalkan Youngwoon. Tapi hidupnya yang sebatang kara membuat ia membatalkan niatnya.

Ibunya meninggal saat melahirkannya dan ayahnya meninggal saat umurnya masih enam belas tahun karena penyakit kanker yang mengerogoti otaknya.

Sejak remaja ia telah bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan membayar biaya sekolahnya.

Ia bertemu dengan Youngwoon saat ia sedang bekerja sebagai tukang sapu di sebuah restoran sederhana yang ternyata berdekatan dengan rumah orang tua Youngwoon.

Sejak saat itu hidupnya mulai membaik. Ia di terima di keluarga Youngwoon yang cukup berada dengan alasan bahwa ia adalah gadis baik dan pekerja keras.

Di usianya yang ke dua puluh tahun, ia menerima pinangan Youngwoon dengan bahagia.

Satu tahun setelahnya ia dan Youngwoon di karuniai seorang bayi kecil cantik yang mereka beri nama Kim Baekhyun.

Hidupnya bersama Youngwoon dan Baekhyun berjalan dengan sangat baik dan sesuai dengan segala harapannya saat muda tentang pernikahan.

Tapi ia sadar, tak ada yang sempurna di dunia ini. Begitupula dengan jalan cerita pernikahannya bersama Youngwoon.

Malam itu ia merasakan sebuah perasaan yang familiar tapi belum di sadarinya. Ia sangat menginginkan tteokbeoki yang biasa di jual di persimpangan komplek perumahannya dengan Youngwoon.

Lalu tak sengaja bertemu dengan Kim Sungjae yang sedang menikmati sojunya dengan tenang. Sebagai isteri yang baik, Yejin berusaha sopan dan ramah pada Sungjae yang berstatus sebagai sahabat Youngwoon sejak SMA.

Tapi niat ramahnya tak berjalan sesuai rencana. Ia ikut mabuk malam itu bersama Sungjae di kedai tteokbeoki langgananya.

Ia tak pernah bisa mengingat apapun yang terjadi malam itu, tak peduli seberapa keras pun ia berusaha. Ingatannya hanya hitam. Tapi dengan samar ia bisa meningat bahwa bukan hanya dirinya dan Sungjae yang berada di dalam kamar motel malam itu.

Ia bisa mengingat dengan samar wajah Yoon Sijang yang sedang menyeringai remeh kearahnya yang sedang terbaring di atas ranjang murahan yang di sediakan pihak motel.

Dan pagi hari setelahnya ia bisa merasakan sebuah lengan tak familiar yang melingkar indah di pinggangnya yang mulai kembali berisi.

Dengan cepat ia menggentakan pelukan ringan itu dari tubuhnya hingga membuat Sungjae terbangun dari tidurnya.

Sungjae meminta maaf hingga meneteskan air matanya pada Yejin. Pria itu benar-benar merasa bersalah karena fikirnya ia telah meniduri isteri dari sahabat terbaiknya sendiri dalam keadaan tak sadarnya.

Yejin masih bisa mengingat dengan jelas apa saja kata-kata permohonan maaf yang pria itu ucapkan padanya disela isak tangis yang luar biasa kencangnya.

Dan Yejin tak sejahat itu untuk tak memaafkan seorang pria yang benar-benar merasa bersalah dan menyesal akan perbuatannya.

Ia dan Sungjae sepakat untuk merahasiakan kejadian memalukan itu pada Youngwoon maupun pada isteri Sungjae sendiri.

Tapi hari itu Youngwoon datang dengan langkah lebar dan langsung menampar wajahnya dengan keras. Bahkan Youngwoon sempat menunjukan foto-fotonya bersama Sungjae yang terlelap di atas ranjang tanpa busana.

Dan semua hal buruk itu terjadi.

Mulai dari Youngwoon yang tak mau mengakui Jongin sebagai puterinya sampai Youngwoon yang membeda-bedakan kasih sayang yang di berikannya pada Baekhyun dan Jongin.

Awalnya Yejin merasa sangat marah dan tak terima pada perlakuan Youngwoon karena walau bagaimanapun juga Jongin adalah puteri yang keluar dari rahimnya sendiri.

Tapi lagi-lagi perasaannya harus di kalahkan dengan ancaman Youngwoon tentang perceraian dan Baekhyun yang tak akan menjadi miliknya.

Dan tanpa sadar ia mulai bersikap buruk pada Jongin seperti yang Youngwoon inginkan.

Bahkan hingga puterinya pergi meninggalkannya untuk mengejar kebahagiaanya bersama keluarga Wu, ia masih bersikap buruk pada Jongin.

Hingga kebenaran itu mulai terungkap.

Di pagi hari yang cerah, keluarganya kedatangan tamu yang sangat tak di inginkan. Sungjae datang bersama sebuah surat berlabelkan lambang rumah sakit ternama di Amerika di tangannya.

Youngwoon marah besar dan memukuli Sungjae dengan membabi buta.

Tapi perkataan yang Sungjae ucapkan saat itu dengan seketika membuat Youngwoon yang di kuasai amarahnya terdiam kaku di tempatnya berdiri.

"Anak itu bukan milikku. Aku mandul sejak lahir, bagaimana bisa Yejin mengandung anakku saat isteriku sendiri pun tak bisa mengandung anakku?!"

Dengan sabar Sungjae menjelaskan alasan keadatangannya hari itu.

Ia menjelaskan segalanya dengan sangat rinci hingga membuat Youngwoon hanya bisa terdiam sambil menangis kencang mendengarnya.

Kejadian belasan tahun itu adalah skenario penghancuran yang Sijang susun. Karena Sijang merasa iri pada Youngwoon yang bisa dengan mudah di angkat menjadi wakil direktut perusahaan di usia yang cukup muda.

Bahkan Sungjae juga menunjukan kertas vonis yang dokter berikan sejak tahun 1990. Empat tahun sebelum Jongin lahir di dunia ini.

Dunia Youngwoon dan Yejin runtuh dengan dahsyat saat itu juga. Apalagi saat Youngwoon yang diam-diam melakukan tes DNA dengan beberapa barang pribadi milik Jongin yang tertinggal di rumah besanya, dan dengan hasil yang semakin membuat hatinya terasa sakit.

Kim Jongin 99,99% puteri kandung Kim Youngwoon.

Jadi malam di mana Yejin amat menginginkan tteokbeoki karena ia tengah mengandung Jongin dalam usia muda. Ia telah memiliki Jongin di dalam rahimnya bahkan sebelum kejadian memalukan itu terjadi.

Dan mulai saat itu lah Youngwoon dan Yejin memulai usahanya untuk meminta maaf pada Jongin yang berada di Beijing. Namun semuanya berakhir sia-sia, Jogin selalu mengabaikan semua usahanya.

Mulai dari telponnya yang selalu di reject oleh Jongin hingga pesan singkatnya yang tak pernah terbalas.

Tapi mereka bisa mengerti dengan baik perasaan kecewa dan benci yang mungkin bersarang dengan erat di hati puteri kecil mereka.

Maka Yongwoon dan Yejin memutuskan untuk membawa pulang Jongin kembali kerumah mereka dan memperbaiki segala hal yang dulu mereka hancurkan pada Jongin.

Semoga saja usaha mereka berhasil.

.

.

.

~ o ~

.

.

.

Saat ini jam masih menunjukan pukul delapan malam, Yifan, Joonmyun dan Henry tengah berkumpul di ruang televisi dan menonton acara komedi sambil menunggu Jongin yang belum kembali dari kencannya bersama Sehun.

Yifan tengah mengalungkan lengannya dengan nyaman ke pinggang ramping milik Joonmyun dan Henry tengah menikmati setoples keripik kentang di pelukannya.

"Bagaimana kalau kita membayar bodyguard untuk menjaga Jongin saat di luar rumah saja?" Perkataan tiba-tiba yang Joonmyun ucapkan membuat Yifan mengalihkan perhatiannya pada acara komedi yang sedang di tontonnya pada Joonmyun.

Henry bahkan menghentikan kegiatan nikmatnya menghabisi kripik kentang pedas yang di buat sang mama di tangannya.

"Apa yang kau bicarakan, airen*?Jongin pasti akan marah kalau mengetahuinya." Jawab Yifan dengan pandangan sangsi yang terpampang jelas di wajahnya.

"Benar apa yang baba ucapkan, ma. Jongin tak akan suka dengan ide ini." Tambah Henry menyetujui ucapan sang baba.

"Tapi mama sangat khawatir pada adikmu, Hen-ah." Balas Joonmyun dengan mata yang mulai berkaca-kaca, membuat Henry yang melihatnya ikut merasa sedih.

"Tapi bukan dengan membayar bodyguard untuk menjaga Jongin seperti ini, airen." Ucap Yifan lagi dengan nada perhatiannya.

Ia mengerti sekali denga perasaan khawatir yang saat ini di rasakan oleh isterinya.

"Lalu bagaimana lagi? Kau dengat sendirikan kata eomma, bukan tak mungkin Youngwoon akan menculik Jongin dari kita." Jelas Joonmyun dengan ai mata yang mulai menuruni pipi putihnya.

"Kita bisa melindungi Jongin dengan baik tanpa perlu menyewa bodyguard, airen. Henry bersedia menjaga Jongin lebih ketat lagi dan Sehun pasti mau menjaga Jongin saat ia bersama Jongin. Percaya padaku." Balas Yifan pengertian.

"Lalu bagaimana, Fan? Aku sangat takut. Hiks." Ucap Joonmyun dengan sebuah isak tangis pelan di akhir kalimatnya membuat Yifan yang mendengarnya hanya bisa terdiam pasrah.

Ia mengerti bagaimana perasaan Joonmyun saat ini. Mereka telah menganggap Jongin sebagai puteri mereka sejak Jongin masih kelas satu sekolah dasar hingga saat ini Jongin duduk di tahun terakhir SMA.

Sudah belasan tahun mereka hidup dengan menyayangi Jongin seperti darah daging mereka sendiri, apalagi Henry yang menerima kehadiran Jongin dengan sangat bahagia.

Membuat keluarga semakin terasa sempurna.

"Mama tenang saja. Aku tak akan kemana-mana. Aku akan ikut berjuang bersama mama, baba dan Henry gege." Ucapan Jongin yang telah berdiri di depan pintu masuk membuat Yifan, Joonmyun dan Henry menegang seketika.

Jongin memang telah berdiri di depan pintu masuk sejak Joonmyun mengutarakan niatnya menyewa bodyguard untuk menjaganya.

Jongin mendengar semuanya dengan sangat jelas. Terutama tentang keluarga Kim yang bukan tak mungkin berniat menculiknya.

"Jo-jongin. Sejak kapan kau ada di sana, sayang?" Tanya Joonmyun dengan terbata-bata sambil berjalan menghampiri Jongin yang sedang memegangi tas selempangnya di depan pintu, kemudian memeluknya dengan erat.

"Sejak mama ingin menyewa bodyguard untukku." Jawab Jongin pelan di dalam pelukan hangat milik Joonmyun.

"Jongin-ah. Mama... Mama hanya... Hanya ingin kau... Ingin kau-"

"Aku mengerti, ma." Jongin memotong ucapan terbata milik Joonmyun dengan suara lembutnya.

"Aku mengerti perasaan mama dan aku juga tak ingin jauh dari mama, baba apalagi Henry gege." Ucap Jongin lagi yang kali ini di tambahkan sebuah senyuman manis yang menenangkan di bibir tebalnya, membuat Yifan dan Henry yang melihatnya ikut merasa tenang.

"Sayang. Mama sangat menyayangimu." Ucap Joonmyun dengan suara isak tangis yang mulai terdengar kencang. Ia terharu mendengar ucapan puterinya.

"Jongie juga sangat menyayangi mama. Maka dari itu, mari berusaha bersama-sama." Jawab Jongin dengan senyuman indah, walaupun kedua mata bulatnya mulai tergenangi air mata.

"Tentu, sayang. Tentu." Ucap Joonmyun sambil mengeratkan pelukannya di tubuh ramping tapi berisi milik puterinya.

.

.

.

~ o ~

.

.

.

Suasana kantin sekolah saat istirahat jam makan siang tiba memang selalu ramai seperti ini. Meja-meja yang di sediakan pihak sekolah bahkan tak ada yang kosong. Tapi beruntung sekali karena hari ini Jongin masih bisa menikmati makan siangnya bersama Sehun dan Zitao di sebuah meja yang berada di sudut kantin.

Jujur saja Jongin masih merasa sedikit malu jika bertemu dengan Zitao karena kejadian kemarin sore di kelasnya. Tapi Sehun bilang tak perlu merasa malu pada teman yang sering mempermalukannya. Ah, mengingat ekspresi sebal Sehun saat mengatakannya membuat Jongin tersenyum.

"Ada apa denganmu, Jong? Kenapa tersenyum seperti itu. Membuatku takut saja."

Senyuman indah yang terpasang erat di wajah Jongin seketika luntur tergantikan ekpresi wajah datar seperti milik Sehun saat ia mendengar ucapan menyebalkan yang keluar dari bibir tipis milik Zitao.

"Nah. Sekarang kau memasang ekspresi menyebalkan seperti milik Sehun. Kalian benar-benar pasangan menyebalkan." Tambah Zitao sambil menunjuk-nunjuk wajah manis Jongin dengan sumpit yang masih mejepit sepotong kecil danging ayam di tangannya.

"Kau yang menyebalkan, panda." Ucap Sehun sinis sambil menurunkan paksa sebelah tangan Zitao yang dengan kurang ajarnya menunjuk-nunjuk wajah manis milik kekasihnya.

"Aha! Kau pasti masih kesal karena kejadian kemarin sore itu kan? Jangan salahkan aku. Salahkan diri kalian yang berciuman panas seperti itu di dalam kelas." Ucap Zitao dengan santai dengan suara cukup keras. Membuat beberapa siswa lain yang sedang makan di sekitar mereka jadi menatap Jongin dan Sehun dengan pandangan menggoda.

Ahh, Jongin malu sekali di tatapi seperti itu.

Apalagi Sehun yang kini sudah menginjak sadis sebelah kaki Zitao di kolong meja hingga membuat pemuda panda itu memekik keras karena kesakitan.

"Yak! Oh Sehun. Kau kejam sekali padaku! Kakiku sakit sekali karena kau injak." Teriakan kesal Zitao hanya di anggap angin lalu oleh Sehun yang kini memilih untuk melanjutkan makan siangnya dengan tenang, mengabaikan tatapan-tatapan menyebalkan yang mengarah padanya dan Jongin.

"Salahmu sendiri. Kenapa mempermalukan kami seperti itu?!" Ucap Jongin dengan perasaan kesal yang ia tahan dengan sangat keras. Awalnya ia berniat memukulkan apa saja yang bisa di genggamnya kekepala Zitao dengan keras, tapi ia jadi merasa tak tega setelah melihat ekspresi kesakitan yang muncul di wajah itu setelah Sehun menginjak kakinya.

"Sekarang kau juga menyalahkanku?!" Ucap Zitao tak percaya. Jongin itu selalu membelanya saat ia menjadi korban keusilah Sehun, tapi kenapa Jongin malah ikut menyalahkannya.

"Sudah. Jangan ribut lagi. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan." Ucapan bernada serius yang Sehun ucapkan membuat Zitao dan Jongin mengentikan pertengkaran kecil mereka dan mengalihkan perhatian pada Sehun.

"Ada apa, Hun? Ada masalah?" Tanya Jongin dengan suara lembut membuat Zitao memutar matanya sebal. Jongin selalu seperti ini jika berbicara dengan Sehun. Membuat iri saja.

"Ya. Appa menyuruhku melanjutkan kuliahku di SNU." Jawaban yang Sehun ucapkan membuat tubuh Jongin terdiam kaku di tempatnya.

SNU? Bukankah universitas itu ada di Seoul?

"K-kenapa harus SNU? Di Beijing juga banyak universitas bagus." Tanya Jongin dengan suara pelan dan terbata-bata.

"Karena kami akan kembali ke Korea setelah aku menyelesaikan SMA ku di sini. Appa di pindah tugaskan ke Seoul." Jawab Sehun sambil menatap mata Jongin dengan pandangan sendu. Ia tak mau meninggalkan Jongin di Beijing. Tapi ia lebih tak mau meninggalkan kedua orang tuanya di Seoul. Ia adalah anak yang sangat menyayangi kedua orang tuanya.

Jongin yang mendengar ucapan Sehun di tambah dengan pandangan sendu yang Sehun layangkan padanya hanya bisa terdiam dan tak menyadari bahwa setetes air mata mulai menuruni pipi tembamnya.

"Jangan menangis, Jong. Aku jadi tak ingin pergi jika kau menangis seperti ini." Ucap Sehun dengan nada frustrasi yang kental saat ia melihat gadisnya menangis karena dirinya.

"A-aku... Aku... Aku tidak tahu, Hun." Ucap Jongin pelan sambil menahan tangisnya agar tidak pecah di tengah kerumunan siswa di kantin yang sedang sangat ramai seperti ini.

"Bagaimana kalau kau ikut denganku ke Seoul? Kudengar SNU juga memiliki fakultas tehknik yang sangat bagus. Kau kan sangat ingin menjadi arsitek. Kita bisa kuliah bersama di SNU." Ucap Sehun berusaha membujuk Jongin.

Ia memang pernah berpikir untuk membawa Jongin tinggal di Seoul bersamanya, tapi ia merasa sedikit pesimis karena ia tahu Joonmyun ahjumma pasti tak akan mengizinkannya, Joonmyun sangat menyayangi Jongin dan Sehun mengerti itu.

"Sepertinya tak bisa, Hun. Joonmyun ahjumma dan Henry gege tak akan mengizinkannya. Kau tahu seperti apa Joonmyun ahjumma dan Henry gege pada Jongin." Ucap Zitao memecah keheningan yang tercipta karena Jongin yang malah sibuk terdiam sambil memandangi makanannya yang hampir habis dengan pandangan kosong.

"Ya, aku tahu. Tapi aku tak ingin tinggal jauh dari Jongin." Jawab Sehun dengan suara lirih yang membuat Jongin merasa tak tega saat mendengarnya.

"Beri aku waktu untuk memikirkannya, Hun. Aku juga perlu bertanya pada mama dan baba. Aku tak mungkin memutuskannya seorang diri." Ucapan lembut yang Jongin katakan membuat sebuah binar harapan terpancar terang dari wajah putus asa milik Sehun.

"Tentu, sayang. Bicaralah saat kau yakin pada keputusanmu." Jawab Sehun dengan nada bahagia dan wajah cerahnya, membuat Jongin tak kuasa untuk menolak.

"Sebenarnya aku juga tak akan melanjutkan sekolahku di China." Ucapan tiba-tiba yang keluar dari mulut Zitao membuat Sehun dan Jongin yang sebelumnya saling memandang dengan spontan mengalihkan pandangannya pada pemuda yang kini tengah menundukan kepalanya dalam.

Sepertinya obrolan pengisi waktu makan siang mereka akan membahas hal-hal yang cukup serius.

"Apa maksudmu? Kau akan kuliah di luar negeri?" Tanya Sehun dengan nada menuntut.

"Ya. Aku akan melanjutkan kuliahku di Prancis. Aku ingin belajar menjadi patisier* di Paris, seperti cita-citaku." Ucap Zitao dengan sebuah senyuman kecil yang tertanam di bibir tipisnya.

"Kalian tega sekali ingin meninggalkanku sendirian di sini." Ucap Jongin merajuk.

"Makanya kau ikut dengan Sehun agar tidak di tinggal sendirian di sini." Ucapan santai yang di katakan Zitao membuat Jongin berfikir keras di dalam hatinya.

Ia tak ingin jauh dari Sehun. Ia ingin ikut kemanapun Sehun pergi, asal bukan Korea. Ia benar-benar tak ingin menginjakan kakinya kembali di negeri kelahirannya itu. Di tambah keluarganya yang pasti tak akan memberikan restu jika ia ingin pergi ke Negeri itu.

Jongin merasa dilema.

Sepertinya ia akan membahas masalah ini dengan serius nanti malam bersama baba, mama dan gege nya.

.

.

.

~ o ~

.

.

.

Seorang pria paruh baya mulai mengerjapkan kedua matanya pelan. Kepalanya serasa seperi di hantam sesuatu dengan sangat kuat saat ia berhasil membuka kedua matanya dengan sempurna. Sepertinya cahaya terang dari lampu bohlam yang membuat kepalanya sangat sakit. Di tambah lagi dengan jantungnya yang bergetak sangat cepat, membuatnya sedikit sulit untuk menarik nafas.

Saat ia menolehkan kepalanya kearah kanan, ia menemukan kepala Baekhyun yang di hias dengan sebuah jepit rambut berbentuk strawberry yang lucu sedang terletak lemas di atas ranjangnya. Sepertinya Baekhyun sedang tertidur.

Ah, ia mulai mengingatnya sekarang. Pasti saat ini ia sedang berada di dalam kamar inap di sebuah rumah sakit karena kemarin ia pingsan di kantornya.

Ia mengangkat sebelah tangannya yang bebas dari jeratan infus guna mengelus rambut halus kecokelatan milik puteri sulungnya dengan lembut.

Pandanganya mulai mengabur saat ia merasa adanya air yang mulai menggenangi kedua pelupuk matanya. Ia kembali menangis.

Andai ia bisa mengelus lembut rambut milik Jongin seperti ia mengelus rambut milik Baekhyun. Seperti ini.

Rasa sesaknya kembali bertambah saat sebuah perasaan bernama penyesalan yang belakangan ini mulai familiar dengannya kembali datang dan merasuki relung terdalam hatinya.

Apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan perasaan menyakitkan ini? Ia tak ingin lagi merasakan perasaan ini. Yang ingin ia rasakan adalah perasaan lega dan bahagia yang mungkin hanya bisa ia dapatkan saat puteri kecilnya bersedia kembali ke rumah besarnya.

Tapi sepertinya sulit sekali mewujudkannya.

"Appa.. Appa sudah sadar?" Ucapan pelan yang keluar dari bibir tipis milik Baekhyun mengalihkan perhatiannya yang sebelumnya berada di awang-awang.

"Ne, sayang. Appa sudah sadar." Jawab Youngwoon dengan suara paraunya.

"Syukurlah. Appa tak sadarkan diri selama tiga hari. Aku takut." Jawab Baekhyun sambil menangis sedih di hadapan sang ayah. Ia benar-benar takut harus kehilangan ayahnya.

"Appa di sini, sayang. Jangan takut. Appa tak akan meninggalkan, Baekie." Ucap Youngwoon berusaha menenangkan puterinya yang kini malah menangis tersedu-sedu di hadapannya.

"Hiks. Hiks. Hiks." Tapi Baekhyun hanya mampu meresponnya dengan isak tangis yang semakin kencang.

"Aigoo. Kenapa tangisanmu semakin kencang, sayang? Dimana eomma?" Tanya Youngwoon sambil menggerakan ibu jarinya untuk mengusap air mata yang dengan kurang ajarnya menuruni pipi mulus milik Baekhyun.

"Eomma sedang menemui detektif Eun. Ingin membicarakan tentang Jongin." Jawab di sela-sela tangisnya Baekhyun.

Kim Youngwoon hanya bisa terdiam dan menghela nafas pelan saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Baekhyun.

Yejin tengah menemui detektif Eun untuk membahas tentang Jongin yang ia yakini sekali sebenarnya mereka tengah menyusun rencana untuk membawa Jongin kembali. Ya, semoga saja rencana itu berhasil membuat puteri bungsunya kembali.

.

.

.

~ o ~

.

.

.

Keluarga Wu tengah menikmati quality time mereka bersama malam ini. Joonmyun dan Jongin yang sedang sibuk membahas fashion yang terpampang di sebuah majalah juga Yifan dan Henry yang tengah berperang untuk menumbangkan satu sama lain di dalam video game yang sedang mereka mainkan.

Cuaca yang sedang cerah dan langit yang di penuhi bintang membuat suasanyannya menjadi semakin sempurna bagi Yifan dan keluarga untuk menghabiskan waktu bersama.

'Person 1 Is Lose'

Kalimat besar itu terpampang dengan sangat besar di sebuah televisi datar di hadapan Henry dan Yifan yang kini tengah cemberut karena kembali di kalahkan oleh puteranya.

"Baba kalah lagi. Baba harus membelikanku sepatu yang minggu lalu kutunjukkan pada baba, ya? Bagaimana kalau besok saja belinya? Aku tak ada jadwal kuliah besok." Ucap Henry sambil bersorak senang.

"Apa katamu?! Jangan harap! Dua minggu lalu baba baru membelikan skate board yang kini hanya bersandar tak berguna di kamarmu. Skate board itu mahal sekali, Henry. Dan sekarang kau kembali ingin memeras baba? No no no." Tolak Yifan dengan telak.

"Tapi baba sudah berjanji tadi. Kalau baba kalah, baba akan membelikanku sepatu itu." Balas Henry dengan wajah menyebalkannya.

"Kapan baba berjanji?! Mulai berani menipu baba, huh? Rasakan ini." Ucap Yifan sambil memukulkan bantal sofa yang ada di samping tubuhnya ke tubuh Henry dengan kuat, membuat pemuda itu berteriak meminta pertolongan pada sang mama.

"Mama, help me!" Teriak Henry tak tahu diri. Kencang sekali, bagaimana kalau ada tetangga yang mendengarnya.

"Sudahlah. Lebih baik baba ikut Jongie dan mama saja di sini. Banyak yang ingin Jongie tunjukan pada baba dan semoga saja baba bersedia membelikannya." Ucap Jongin menggoda Yifan yang sedang memukuli Henry dengan bantal sofa.

"No! Pasti dompet baba akan berteriak kelaparan kalau baba ikut melihat majalah itu bersama kalian. Kalian pasti meminta banyak dress, sepatu, tas dan apapun itu yang kalian lihat. No no no."Jawab Yifan sambil terus menggelengkan kepalanya pelan.

"Nah, itu baba tahu. Ya? Ada dress yang sangat indah. Jongie ingin sekali. Kata mama Jongie akan cantik jika memakai dress itu. Ya.. Ya.. Ya..." Ucap Jongin yang sedang berusaha membujuk babanya. Bahkan kini gadis itu sudah duduk di sebelah sang baba sambil memegangi sebuah majalah fashion yang terbuka dan menunjuk-nunjuk sebuah dress putih selutut yang indah.

Membuat Henry berteriak "Terimakasih sudah menyelamatkanku, Jong." dengan keras karena sang baba tak lagi memukulinya dengan bantal sofa. Pemuda sipit itu segera berlari menjauhi sang baba dan mendudukan tubunya di sebelah Joonmyun.

Mata Yifan melirik dress yang Jongin tunjuk dengan cepat. Benar apa yang puterinya ucapkan, dressnya indah sekali. Dress berwarna putih yang hanya di hiasi dengan motif kupi-kupu berwarna biru di bagian bawah dressnya. Sangat simple tapi terlihat sempurna. Ia jadi ingin membelikannya untuk Jongin. Tapi saat matanya melirik nominal harga yang tercetak di bawah gambar dress itu, ia jadi mengurungkan niatnya.

Astaga, hanya sebuah dress seperti itu saja harganya sampai delapan puluh lima dollar. Ya ampun, Yifan heran memikirkannya.

Ia saja hanya membeli sebuah kemeja seharga lima belas dollar dan itu sudah mahal menurutnya. Ck. Ck. Ck. Dasar wanita.

"Baba, bagaimana? Bolehkan? Gege saja di belikan skate board seharga tujuh puluh dollar, masa aku tidak." Ucap Jongin sambil menampilkan wajah mengemaskannya. Wajah yang biasa ia tampilkan saat sedang merayu mama, baba dan gege-nya.

"Tapi ini mahal sekali, Sayang." Tolak Yifan dengan suara pelan. Sebenarnya ia merasa tak kuasa ingin menolaknya.

"Sudahlah, Fan. Belikan saja. Hitung-hitung sebagai hadiah kelulusannya bulan depan." Ucap Joonmyun dengan senyuman.

Yifan yang mendengarnya langsung merasa setuju dengan ucapan sang isteri, tapi tidak dengan Jongin yang malah terdiam kaku hingga tak sadar majalah yang sedari tadi di pegangnya sudah terjatuh ke lantai dengan keras.

Yifan, Joonmyun dan Henry memandang heran Jongin yang tak bergerak di tempatnya duduk saat ini.

"Ada apa, sayang? Baba bersedia membelikannya dan menjadikannya hadiah kelulusanmu. Kau tak perlu seperti ini." Ucap Yifan dengan pelan sambil memeluk tubuh Jongin yang masih saja terdiam kaku di dalam pelukannya.

"Dan kau akan kuliah dimana, Jong? Di kampus yang sama dengaku kan?" Pertanyaan yang Henry layangkan semakin membuat tubuh Jongin kaku.

"Jongie, ada apa, sayang?" Kini Joonmyun lah yang bertanya.

"Jongie ingin kuliah di universitas yang sama dengan Sehun. Boleh kan?" Ucap Jongin dengan suara yang sangat pelan.

"Tentu saja boleh, sayang. Mama justru senang jika kau dan Sehun kuliah di kampus yang sama. Mama jadi merasa tenang karena ada Sehun yang akan melindungimu saat di kampus." Jawab Joonmyun dengan senyuman keibuan yang tertanam erat di bibirnya.

"Memang Sehun akan kuliah dimana?" Tanya Yifan saat Jongin hanya diam saja di pelukannya.

"I-itu..., Sehun akan kuliah di..., di.., hmmmm.., di SNU, ba." Ucap Jongin dengan terbata-bata dan dengan suara pelan tapi tetap sanggup di dengar semua orang yang ada di sana.

"SNU? Seoul National University? Kau akan kuliah di Seoul?" Pekikan Henry membuat Joonmyun menajamkan pandangannya pada Jongin.

"Kau ingin kembali ke Korea hanya karena ingin terus bersama Sehun?!" Ucap Joonmyun dengan nada bicara tak percaya.

"N-ne, mama." Jawab Jongin dengan suara pelan sambil menundukan kepalanya dalam di pelukan Yifan.

"Maafkan Jongie." Ucap Jongin lagi dengan suara super pelan yang hanya bisa di dengar oleh Yifan yang tengah memeluknya.

"Ya, sayang. Jangan menangis, baba mengeri keinginanmu. Dulu Baba juga ikut kuliah ke Seoul bersama mama-mu dulu karena ingin selalu bersama mama. Baba mengerti perasaanmu. Biar baba yang akan berbicara pada mama." Ucap Yifan pelan sambil berusaha menenangkan Jongin dengan mengusap-usap punggungnya dengan lembut.

"Terimakasih, baba." Jawab Jongin dengan suara paraunya.

.

.

.

~ o ~

.

.

.

"Jadi bagaimana hasil dari permbicaraanmu dengan detektif Eun?" Tanya Youngwoon pada Yejin tengah menyuapi makan malamnya dengan sabar.

"Entahlah, aku merasa tak yakin. Tadi detektif Eun menyarankan agar kita mendatangi rumah keluarga Wu dan berbicara dengan mereka secara baik-baik. Itu satu-satunya cara yang tersisa." Jawab Yejin sambil terus menyuapi bubur pada sang suami.

"Ya. Aku juga berfikir seperti itu. Apa yang selama ini kita usahakan tak di respon baik dengan baik oleh Jongin. Kurasa satu-satunya jalan adalah berdiskusi dengan keluarga Wu." Balas Youngwoon menyetujui.

"Ya, dan cepatlah sembuh agar kita bisa secepatnya pergi ke Beijing untuk membawa pulang Jongin." Jawab Yejin dengan tersenyum menenangkan.

"Ya, aku akan berusaha agar cepat sembuh. Aku sudah sangat merindukan Jongin." Ucap Yongwoon menyetujui ucapan sang isteri.

.

.

.

~ To Be Continued ~

.

.

.

Author Note:

Happy birthday buat Lu Han Gege walaupun udah telat. Hehe. :D

Hai, saya balik lagi bawa fanfic Mengalah chapter empat, saya harap kalian suka. Saya menulis chapter empat ini selama berhari-hari lho. Saya benar-benar mencuri waktu di sela-sela jam makan siang dan jam sholat dzuhur. Hehe. Setelah sholat dzuhur, saya langsung ngambil handphone dan nulis lanjutan cerita ini di Pollaris Office sambil makan siang, jadi maafkan saya kalau banyak sekali typo di chapter ini. Hehe.

Dan kemarin saya dapet review tidak menyenangkan dari salah satu readers. Sebenarnya saya sudah menunggu review seperti ini sejak lama. Saya justru menunggu review berisi flame alih-alih berisi pujian dan ucapan semangat, karena menurut saya bash adalah sebuah ungkapan semangat paling menguatkan. Diawal saya nulis cerita dengan Kai sebagai Uke/wanita, saya udah di beri peringatan sama salah satu author Kai Uke di FFN ini, dia bilang akan ada HunHan dan KaiSoo stan yang tak akan segan membash cerita saya. Dan benar sekali. Tapi saya gak apa-apa kok. Saya malah cekikikan waktu baca reviewnya. Bahkan sekarang saya juga mulai di terror dengan isi pesan "You bitch." atau "Tolol." atau "Sampah." dan bahkan ada "Mati saja." di e-mail dan bahkan akun line pribadi saya. Ibu saya pasti akan nangis kalau tahu anak yang di rawatnya sejak kecil malah di suruh mati saja oleh oknum tak bertanggung jawab. Tapi lagi-lagi saya cuma cekikikan bacanya. Hehe. Saya ini bukan anak kecil yang akan menciut cuma karena bashing seperti itu, saya ini manusia mental titanium. *Sombong* Jadi untuk para flamers, Selamat berjuang keras untuk meruntukan pertahanan saya. Tembok pertahanan saya lebih tinggdan kuat dari tembok besar China. Haha.

Special Thanks To:

Kai886: Baru nemu ya?Selamat bergabung kalu begitu. :D Dan Baekhyun emang suka jahat begitu di fanfic ini. :D Dan soal cepet update, maaf, saya gak bisa janji. ㅠ_ㅠ

jongienini: Pasti di lanjut kok. :D Baekhyun kan gak mau berbagi sama adiknya, serakah ya dia. Dan soal kissing HunKai itu, sebenarnya saya gak yakin dengan scene itu. Tapi kalau menurutmu hot, ya syukurlah. :D

cute: Terimakasih ya sudah bersedia membaca dan merivew fanfic saya. :D

ringdingdong: Terimakasih ya sudah mau baca dan bahkan mereview fanfic saya ini. Ada satu hal yang mau saya bicarakan sama kamu, kamu minta saya untuk menghargai imajinasi kamu sebagai HunHan dan KaiSoo stan tapi kamu tidak menghargai imajinasi saya sebagai HunKai/ChanKai/KrisKai stan. Apa itu adil? Tidak. Saya ini penegak keadilan. Jadi saya tidak akan melakukan suatu hal yang tidak adil bagi kedua belah pihak. Dan soal kata-katamu yang bilang saya tolol itu, terimakasih loh. Satu dosa saya sudah kamu tanggung di akhirat nanti karena kamu malah mengata-ngatai saya. Jadi saran saya, sering-sering ya mengurangi dosa saya. Hehe. :D Jujur saja, review dari kamu malah terasa seperti lecutan semangat untuk saya melanjutkan fanfic-fanfic saya.

novisaputri09: Baekhyun emang serakah di fanfic saya ini dan semoga saja keluarga Kim gagal membawa pulang Jongin lagi ya. :D

kanzujackson jk: Wahh jangan gitu dong, kalau Baekhyun dan orang tua Jongin kamu sembelih nanti mereka mati dan fanfic ini gak akan seru lagi tanpa mereka. Dan jangan begal saya, plisss. ㅠ_ㅠ Sebenarnya saya gak pernah bilang kalo fanfic ini bergenre angst lho. Hehe. Saya senang loh kalau kamu merasa terhibur. :D

parkyayim: Gwaenchanhayo, chingu. Di chapter berapapun kamu mereview, saya tetap cinta kamu. Hehe. Dan fanfic ini pasti saya lanjut sampai kata 'The End' muncul kepermukaan, kamu tenang aja. Dan soal Chanyeol, kamu tungguin aja kehadirannya yaaa. Karena saya penganut save the best for the last. Hehe. Dan terimakasih ucapan semangatnya ya, saya jadi benar-benar merasa semangat untuk mencuri waktu. :D

vivikim406: Waduh, kasian amat kalo Baekhyun harus mati di akhir cerita. ㅠ_ㅠ Dan terimakasih sudah bersedia membaca dan mereview fanfic saya ya. :D

jjong86: Konflik yang sebenarnya belum dimulai. Hehe. Soal satu cowok lagi yang akan melindungi Jongin sepertinya belum bisa saya laksanakan, karena kalau kebanyakan pemain nanti fanfic ini semakin panjang. Dengan empat karakter utama aja saya udah prediksi fanfic ini akan panjang. Hehe.

geash: Sama-sama, chingu. Dan soal alur, semoga saja alur yang saya buat akan sulit kamu tebak ya. Karena saya berusaha menulis cerita yang beda dari yang lainnya. Hehe. Dan Sehun akan saya buat sulit tergoda sama Baekhyun di fanfic ini. *Spoiler*

dnrkaixo: Serius. Dua rius malah. Hehe. Mungkin Baekhyun akan insyaf di chapter terakhir. Hehe. Bisa jadi loh Sehunnya selingkuh dari Jongin. Kamu tunggu aja kelanjutannya yaa. :D

Pembaca: Sugoi? Aaaahhh, arigatou~ Dan sebenarnya saya gak pernah berniat memasukan unsur komedi di fanfic ini, tapi kalau menurut kamu ini lucu ya gwaenchanha. :D

nabilapermatahati: Baekhyun emang tega sama Jonginiee~ ㅠ_ㅠ Benarkah? HunKainya sukses so sweet di sini? Terimakasih. :D

Note Tambahan:

1. Airen: Panggilan sayang yang biasa di gunakan oleh pasangan yang sudah menikah di China. Atau sama seperti panggilan Yeobo di Korea.

2. Patisier: Chef spesialis makanan manis, biasanya passtery, roti, macaroons, bolu-bolu, pudding dan berbagai kue manis yang biasa di sajikan sebagai dessert.

3. Saya belum ngecheck kurs dollar pada rupiah saat ini yang katanya sedang melemah, jadi saya pukul rata $1 = Rp. 14.000.

$85 sekitar Rp. 1.200.000

$15 sekitar Rp. 220.000

$70 sekitar Rp. 980.000

At last, sampai jumpa lagi~

P.S. Untuk yang sering ngirimin saya 'surat cinta' di PM, e-mail dan Line, harap kurangi frekuensi ngirim 'surat cintanya'. Karena saya malah di kgodain dapet pesan line dari pacar saya, padahal pacar saya kan lagi sibuk cari uang. *Lirik Sehun. :D

Wanna review? Thanks before. ;D

.

.

.