Chapter 4

"Berhenti!"

Seorang namja berperawakan tinggi tampak berdiri di depan pintu gudang yang tengah terbuka lebar, mengejutkan semua yang ada di sana termaksuk Baekhyun yang masih berada dalam rengkuhan Yifan.

'Ah! bukannya dia namja aneh yang kutemui tadi pagi?' iner Baekhyun dalam hati seraya melebarkan matanya.

"P-park Chanyeol?"

'Sial!' umpat namja berkata mata itu saat melihat kehadiran Chanyeol yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

"Apa yang kalian tunggu!" serunya meminta anak buahnya untuk maju dan menyerang Chanyeol.

Meskipun sedikit takut, merekapun terpaksa maju, namun belum sempat mendekat dan menyerang, mereka sudah tumbang hanya dengan sekali ayunan yang Chanyeol layangkan kearah mereka.

'Kedua orang itu mudah sekali mengalahkan delapan temanku, tapi mereka kalah hanya dengan satu ayunan?'pekik Baekhyun seraya melebarkan matanya saat melihat dua orang yang sempat menyerang teman-tenanya tadi tumbang begitu saja.

"Sial! Park Chanyeol bukan orang yang mudah kita kalahkan," umpat namja berkaca mata itu dan menatap Chanyeol tak suka.

"Sial!"

"Kalau kita menyerangnya bersama-sama dia pasti kalah,"

"Ayo kita serang,"

"Coba saja," ucap Chanyeol dengan ekspresi datar seraya berjalan dengan santai di tengah-tengah mereka.

"Berhenti!" seru Yifan hingga membuat semua anak buahnya membeku tak bergerak sama sekali, dan hanya menyisakan namja berkacamata itu.

"Kalian tak dapat mengalahkannya meskipun menyerangnya secara bersamaan," ucap Yifan seraya berjalan menghampiri namja berkaca mata itu.

"Tapi Yifan-nim," ia tak melanjutkan ucapannya saat Yifan mengangkat tangannya guna menyuruhnya diam.

'Huhh!'

"Kau seharusnya tau pertemuan ini sangat berbahaya dan berkonsekuensi tinggi," ucap Chanyeol dengan ekspresi datar menatap Yifan.

"Akulah pewaris utama ayahku, mereka tak dapat menghukumku dengan mudah," ucap Yifan seraya memperlihatkan smik nya.

"Kau sudah membunuh lima orang dan sekarang mau membunuh lagi? kau tak boleh melakukannya apapun jabatanmu," ucap Chanyeol mencoba menyadarkan Yifan bahwa yang dilakukannya itu salah.

'Apa yang mereka bicarakan?' iner Baekhyun dalam hati semakin melebarkan matanya.

"Aku tak membunuh manusia, aku hanya mencari pengantin," ucap Yifan membela diri seraya menyunggingkan senyum miringnya.

"Kau bisa mencari pengantin dari bangsa kita, kenapa sampai bertindak gegabah seperti ini?" Chanyeol benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Yifan. Sepertinya namja itu sedang dikuasai oleh nafsu yang haus akan kekuasaan.

'Mereka berdua benar-benar gila dan membuatku ikut gila juga, aku bahkan tak dapat menggerakkan bibirku dan melarikan diri,' iner Baekhyun dalam hati. Ia benar-benar tak mengerti dengan yng terjadi padanya saat ini. Terlebih dengan yang dua namja itu berdebatkan.

"Ada sebuah ramalan yang dapat membuatmu menjadi penguasa tertinggi dengan seorang pengantin manusia," ucap namja berkacamata itu, lalu dibalas tatapan dingin oleh Chanyeol hingga membuatnya begidik ngeri karenanya.

"Kau seharusnya tau, tak mudah menjadikan manusia sebagai pengantin, jadi hentikan pembunuhan ini!" pinta Chanyeol seraya mengalihkan pandanganya kearah Yifan.

Sling

"Lalu kenapa tak kau coba!" seru Yifan seraya mengacungkan pisau yang semula digunakan untuk menggores tangan Baekhyun kearah Chanyeol.

Jump

Dengan kilat Chanyeol sudah menghindar dan melompat tinggi sambil merengkuh tubuh Baekhyun dengan satu tangannya.

'Bagaimana bisa ia melompat setinggi ini sambil membawaku?' pekik Baekhyun dalam hati seraya membulatkan matanya terkejut.

"Lihat mataku!" pinta Chanyeol saat mereka sudah turun kembali ketanah dan melepaskan tubuhnya.

"Ah!" pekik Baekhyun terkejut saat tubuhnya bisa digerakkan lagi setelah melihat mata Chanyeol.

Greb

"Sepertinya aku harus membereskanmu terlebih dahulu," ucap Yifan seraya memegang kerah baju Chanyeol. Mereka kini berdiri berhadap-hadapan. Lalu tanpa perhitungan Chanyeol sebelumnya, Yifan sudah memutar tubuhnya dan menendang wajah Chanyeol telak hingga membuatnya terlempar beberapa meter.

'Wow tak mungkin itu kekuatan manusia,' pekik Baekhyun takjub melihat tendangan Chanyeol yang begitu kuat.

'Apa? Bagaimana bisa ia bangun setelah terlempar sejauh itu?' pekik Baekhyun terkejut.

"Kekuatanmu!" pekik Chanyeol terkejut seraya menatap Yifan terkejut. Seolah tak terjadi apa-apa padanya, Chanyeol kembali berdiri dengan kokohnya tanpa mengaduh sekalipun.

"Kau tak bisa mengalahkanku," ucap Yifan seraya menyeringai kearah Chanyeol.

"Apa karena kau telah meminum darah dari lima manusia?" tanya Chanyeol seraya memicingkan matanya kearah Yifan curiga.

"Tepat sekali, semakin banyak aku mendapatkan darah manusia, kekuatanku menjadi lebih hebat," ucap Yifan dengan bangganya dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Meminum darah manusia sudah dilarang oleh bangsa kita ratusan tahun yang lalu, jika Appa dan Dewan mengetahuinya, kau akan kehilangan hak sebagai pewaris dan kau akan dihukum," ucap Chanyeol memperingatkan.

"Jika yeoja ini menjadi pengantinku, semuanya akan berubah," ucap Yifan yang tau-tau sudah merangkul pundak Baekhyun. Padahal posisi Baekhyun berdiri tadi lumayan jauh dari jangkauan Yifan.

"Apa? a-aku beritahu ya, aku ini namja," seru Baekhyun seraya menengok kearah Yifan, tapi sayangnya Yifan tak menyimak dengan benar apa yang ia katakan.

"Menjadi pengantinku adalah suatu kehormatan, karenanya, jika kau bisa-"

'Waaa! dia seperti batu, aku tak bisa mengalahkannya," pekik Baekhyun saat Yifan mendekatkan wajahnya dan menunjukan taringnya yang panjang. Reflek Baekhyun memejamkan matanya saat melihat pemandangan mengerikan didepan wajahnya.

"Hentikan! jangan membunuh manusia lagi!" seru Chanyeol seraya menarik Baekhyun agar menjauh dari Yifan lalu menyembunyikannya di balik punggungnya. Bukannya marah karena Baekhyun diambil paksa darinya, Yifan malah menunjukan Smiknya yang sedikit menyeramkan itu.

"Kalau begitu sebagai gantinya-"

Cush

"-aku bunuh kau!" seru Yifan seraya menusukan belatinya kedada Chanyeol hingga menembus titik vitalnya yaitu tepat di jantungnya.

"Karena aku akan menjadi penguasa, jadi lebih baik bila kau tak ada," bisik Yifan tepat di sebelah telinga Chanyeol.

"Aku tak berniat menjadi penguasa, kau seharusnya mengerti, untuk menjadi penguasa tidaklah harus mengikuti satu keinginan Ughh!" lalu Chanyeol memuntahkan darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Perlu diingat, belati itu diciptakan khusus untuk membunuh bangsa kita," ucap Yifan seraya menunjukan smiknya.

Brugh

Chanyeol yang sudah tak kuat menopang tubuhnya sendiri pun terjatuh kelantai dengan posisi terduduk. Tentu Baekhyun yang melihatnya segera bertindak, biar bagaimanapun Chanyeol secara tak langsung sudah menyelamatkan hidupnya, jadi mau tak mau ia harus menolong namja itu. Dengan keberanian yang ia miliki, iapun segera mendekati Chanyeol dan memapahnya untuk segera keluar dari gudang itu.

"Ayo!" ajak Baekhyun seraya memapah Chanyeol keluar.

"Jangan biarkan mereka pergi!" seru namja berkaca mata itu saat menyaksikan Baekhyun yang membawa Chanyeol pergi begitu saja.

"Kita dalam masalah, baru saja aku mendapat panggilan bahwa Dewan mendengar pertemuan kita ini, dan sekarang mereka dalam perjalanan menuju kemari," ucap Yifan seraya berdecak pelan.

"Ah!"

"Tak ada pilihan lain, kita akhiri saja untuk hari ini," putus Yifan kemudian seraya berjalan meninggalkan gudang itu.

"Bergeraklah! agar kita tak ketahuan," seru namja berkacamata itu meminta anak buahnya untuk bubar.

"Lagipula Chanyeol akan mati, jadi aku akan mengurus yeoja itu nanti," ucap Yifan seraya menunjukan smiknya.

0

0

Brugh

Tubuh Chanyeol merosot ketanah saat Baekhyun sudah lelah memapah tubuh jangkung itu.

"Bertahanlah sebentar lagi, di dekat sini ada rumah sakit," pinta Baekhyun dengan kekhawatiran yang terlihat jelas.

"Tak ada gunanya kerumah sakit, aku harus mengeluarkan ini," ucap Chanyeol seraya menarik belati yang masih menancap di dadanya.

"A-apa? kau tak bisa menarik belati itu begitu saja!" pekik Baekhyun seraya menahan tangan Chanyeol yang akan mencabut belati itu.

"Ughh!" rintih Chanyeol saat ia berhasil menarik belati itu hingga mengakibatkan darah menyembur dari dadanya.

"APA YANG KAU LAKUKAN? kau berdarah, darahnya bahkan semakin banyak sekarang," ucap Baekhyun panik saat darah Chanyeol terus mengalir keluar.

'Kalau seperti itu dia bisa mati,' gumam Baekhyun seraya menatap Chanyeol ngeri.

"Tunggulah, aku akan pergi mencari bantuan," ucap Baekhyun seraya berjalan meninggalkan Chanyeol dengan ekspresi panik.

"Jangan!" pinta Chanyeol seraya menahan pergelangan Baekhyun.

"Kenapa? aku bahkan tak membawa ponselku, kita harus segera menghubungi 911!" ucap Baekhyun seraya menengok kearah Chanyeol yang tengah menahan tangannya itu.

"Tak ada gunanya," ucap Chanyeol lirih.

"Kau bisa mati sekarang karena mengeluarkan banyak darah, kau harus segera dibawa kerumah sakit!"

"Percuma saja, aku akan segera mati," ucap Chanyeol dengan ekspresi tak terbaca.

"Apa?"

"Jika aku tertusuk di bagian vital dengan belati ini, akan susah untuk disembuhkan, karena belati ini diciptakan khusus untuk membunuh bangsa penghisap darah seperti aku" terang Chanyeol seraya menunjukan belati yang ada di tangannya kearah Baekhyun.

"Kau ini bicara apa sih? penghisap darah apanya? itu berbahaya! berikan padaku!" ucap Baekhyun tak mengerti lalu segera mengulurkan tangannya guna merebut belati itu dari tangan Chanyeol, reflek Chanyeol pun menjauhkan belati itu dan tak sengaja menggores ujung jari Baekhyun hingga mengeluarkan beberapa tetes darah.

"Agh! sial ini sudah yang kedua kalinya," pekik Baekhyun seraya memijit jarinya yang terluka.

Bau darah Baekhyun tercium sampai ke indra penciumannya hingga membuat Chanyeol membeku, disituasi yang mendesak seperti ini, insting Vampire yang sudah lama ia tekan seperti berontak ingin bangkit dan memaksanya untuk segera menghisap darah segar itu.

"Aku ambil ini," ucap Baekhyun saat ia berhasil merebut belati itu.

"Pergilah!" pinta Chanyeol seraya berusaha mengontrol instingnya.

"Huhh?"

"Aku ingin meminum darahmu, jika kau tak ingin aku meminumnya maka pergilah!" pinta Chanyeol memperingatkan Baekhyun untuk segera pergi menjauh darinya.

"Apa? apa kau salah satu namja menakutkan tadi? atau kau berbicara menyebalkan seperti ini akibat dari kau yang kehilangan banyak darah?" tuduh Baekhyun seraya memicingkan matanya kearah Chanyeol.

"Ini bukan lelucon, aku bisa bertahan bila meminum darahmu, tapi kau bisa mati jika aku lakukan, dengan keadaanku seperti ini, aku tak bisa mengendalikan instingku, jadi pergilah sekarang juga!" ucapnya sekali lagi, berharap itu bisa membuat Baekhyun mengerti akan bahaya yang mengancamnya saat ini.

"Bahkan kondisimu sedang tak baik sekarang," ucap Baekhyun seraya tersenyum geli seolah peringatan Chanyeol hanyalah omong kosong belaka. Malahlan setelah mengatakan itu, ia kembali meraih tangan Chanyeol untuk membantunya berdiri, lalu memapahnya lagi.

"Aku bilang larilah!" pinta Chanyeol kesal. Baekhyun itu benar-benar keras kepala, apa ia tak tau kalau ia sedang dalam bahaya.

"Kau sudah menyelamatkanku, jadi bukankah aku harus membayar hutang budiku padamu?" ucap Baekhyun seraya mempertahankan posisi Chanyeol agar tetap berdiri.

"Ini terlalu berbahaya untukmu," ucap Chanyeol seraya merintih kesakitan.

"Jangan khawatir, aku bisa menangani namja yang sedang sekarat sepertimu," ucap Baekhyun dengan nada jenaka, benar-benar tak mau mengerti bahaya apa yang mengancamnya kini.

Greb

Tanpa dapat dikendalikan lagi, tangan Chanyeol yang semula menyampir dipundak Baekhyun kini beralih menjadi memegang perpotongan antara leher dan bahu Baekhyun.

"Tak nyaman jika kau memegang leherku seperti itu," protes Baekhyun seraya menghentikan langkahnya dan melihat kearah Chanyeol.

"Ini adalah batasku," ucap Chanyeol seraya melebarkan matanya saat tangannya merasakan aliran darah dan denyut nadi Baekhyun yang jelas melalui indra perabanya. Pengendaliannya sudah sampai pada batasnya, tanpa bisa dicegah lagi tangannya bergerak dengan sendirinya mencenggeram sebelah leher Baekhyun.

"Apa? Oh tidak! beraninya kau berpikir untuk meminum darahku!" hardik Baekhyun seraya menjauh dari Chanyeol setelah akhirnya ia mulai menyadari bahaya itu.

Sayangnya Baekhyun melakukan kesalahan yang sama, ia malah menatap mata Chanyeol yang tanpa pengendalian itu hingga membuat tubuhnya terasa kaku tak dapat digerakkan sama sekali.

'Tubuhku tak dapat digerakkan lagi,' iner Baekhyun dalam hati saat tubuhnya terasa kaku.

Greb

Diraihnya kedua bahu Baekhyun, lalu secara perlahan tangannya beralih kesisi leher sambil menyibak kerah baju yang Baekhyun kenakan, diamatinya leher jenjang dan mulus milik Baekhyun dengan bulatnya dengan penuh nafsu yang tak dapat dikendalikan lagi.

"Maafkan aku, aku tak dapat menahannya lagi," bisik Chanyeol seraya menyibak wig panjang Baekhyun dan mendekatkan taringnya di leher jenjang itu.

Blesh

"Aaaarghhh!" jerit Baekhyun ketika merasakan sakit yang teramat sangat saat Chanyeol menancapkan taringnya begitu saja tanpa meringatan. Yang ia rasakan saat ini ialah merinding dan sekujur tubuhnya terasa bergetar hebat saat taring itu menancap semakin dalam.

Dengan susah payah, Baekhyun mencoba menggerakkan tangannya yang terasa membeku itu. Saat ini dapat ia rasakan bagaimana Chanyeol menghisap darahnya dengan begitu rakus hingga membuatnya berdenyut ngilu di sekujur lehernya.

'Tidak! aku tak bisa mati seperti ini!'

Dengan usaha yang ia lakukan, entah kekuatan dari mana ia berhasil terlepas dari hipnotis yang Chanyeol lakukan lalu segera mendorong tubuh namja itu dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Jujur saja tubuhnya terasa lemas saat ini setelah Chanyeol menghisap rakus darahnya tanpa tau malu.

"Apa kau gila? apa yang kau lakukan!" seru Baekhyun seraya menatap Chanyeol nyalang dan memegangi lehernya yang terluka.

'Eh? ada cahaya yang memancar dari tubuhnya,' pekik Baekhyun terkejut saat melihat tubuh Chanyeol dikelilingi cahaya yang menyilaukan. Namun ia tak mau tau dengan apa yang terjadi pada tubuh Chanyeol selanjutnya, dengan sedikit tertatih ia segera pergi meninggalkan Chanyeol yang sepertinya dalam fase penyembuhan diri.

0

0

0

"Uhh! ini sangat menyiksa, aku tak bisa bernafas," rintih Baekhyun seraya memegangi lehernya yang berdenyut sakit. Iapun segera membuang wig yang dikenakannya berharap itu membuatnya lebih baik. Tapi nyatanya itu tak berpengaruh apa-apa baginya, ia malah semakin sempoyongan mana kala matanya semakin berkunang-kunang.

'Apa aku sekarat?' iner Baekhyun dalam hati saat kesadarannya mulai menipis. Tanpa menunggu lama, tubuh Baekhyun segera terkulai di tanah dan meninggalkan pekian orang-orang yang menyaksikannya di sepanjang trotoar.

Di alam bawah sadar Baekhyun.

"Bayiku kau akan diberi dua kehidupan, pertama hidup sebagai seorang manusia berwujud namja," ucap seorang yeoja berambut panjang ikal seraya menimang bayinya.

"Selama kau tak melakukan hal itu, kau akan menghabiskan kehidupanmu sebagai manusia, seorang namja, tapi sayang sekali jika situasinya dirusak, kehidupanmu sebagai namja akan berakhir dan selanjutnya kau akan hidup sebagai yeoja, dengan jalan yang panjang dan sulit," ucapnya seraya mengangkat tubuh bayinya keudara.

"Harapanku, kau dapat menjalani kehidupanmu layaknya orang normal, tapi, semua kembali padamu," ucapnya seraya menyentuh jari mungil bayinya yang kini sudah berada dalam kekapannya lagi.

"Tolong jangan sampai tergigit vampire apapun,"

Deg deg deg

Setelah itu Baekhyun membuka matanya dan segera bangkit dari tidurnya.

"Aaaaa!"

'Apa yang sedang terjadi?' Baekhyun bingung sendiri memahami keadaannya.

"D-ia hidup! Dia hidup lagi! T-tadi dia sudah meninggal," ucap namja itu panik dengan ketakutan yang terlihat jelas di wajahnya.

"Nak, kenapa kau berdarah? apa kau habis berkelahi?" tanya polisi yang satunya seraya menatapnya.

"Bukan apa-apa," ucap Baekhyun dengan entengnya seraya berdiri dengan tegak seolah tak terjadi apa-apa padanya.

"Apa maksudmu? lehermu terluka!" ucap polisi itu seraya menunjuk leher Baekhyun.

"Hehe, ini karena tadi aku terjatuh," ucap Baekhyun seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Setelah mengatakan itu iapun segera beranjak dari sana sebelum polisi itu mengintrogasinya lebih jauh.

"Tunggu!" seru polisi itu saat ia tengah berusaha melarikan diri.

'Sebenarnya apa yang terjadi, padahal aku sangat yakin kalau aku sudah mati,'

-Normal-

Tak beduli dinginnya lantai kamar mandi, Baekhyun masih setia bersimpuh disana setelah melihat pantulan dirinya dicermin yang begitu mengejutkannya. Bagaimana bisa itu terjadi padanya, kakinya terasa lemas saat ini setelah mendapati kenyataan yang tak masuk akal itu.

"Kenapa jadi begini, a-aku menjadi yeoja? haha ini tak masuk akal, ini pasti mimpi," racau Baekhyun seraya meratapi yang terjadi padanya kini.

0

0

"Digigit vampire? kembali hidup dan menjadi yeoja, itu hanya mimpi belaka, aku hanya perlu istirahat saja, dan saat aku terbangun, semua akan kembali normal, hanya mimpi, ini semua hanya mimpi," gumam Baekhyun berusaha meyakinkan dirinya seraya meringkuk di ranjangnya.

0

0

0

"Apa kau sudah dengar? semua orang di sekolah kita dikalahkan oleh orang-orang sekitar gudang itu,"

"Aku dengar Jjang dan wakilnya terluka parah,"

"Yang aku dengar sepuluh orang kita dihabisi oleh dua orang saja,"

"Kalau yang ku dengar hanya ada satu orang,"

"Aku dengar kalau semua dirawat dirumah sakit, wakil Jjang juga diperban karena luka-lukanya,"

"Bukankah mereka bilang kalau Jjang yang terluka lebih parah?"

Begitulah bisik-bisik yang tak sengaja Baekhyun tangkap saat ia memasuki area sekolah.

"A-apa itu?" pekik salah satunya terkejut saat melihat kehadiran Baekhyun yang baik-baik saja.

"Gyaaa!"

"Kok bisa?"

"Jjang? kau baik-baik saja? mereka bilang kalau kemarin malam-"

"Jangan tanya hal itu," ucap Baekhyun seraya menunjukan wajah lesunya dan berlalu pergi.

Siing!

Entah mengapa semua yang ada disana merasakan hal yang sama, jantung mereka berdegup kencang kala Baekhyun melewatinya.

"Jjang-,"

"Huhh?"

Mereka menjadi bingung sendiri dengan perasaan masing-masing. Tak mau kehilangan kendali dan berakhir menyatakan cinta lalu dibalas dengan bokeman andalan Baekhyun saat merasa terganggu, mereka pun berusaha mengalihkannya dengan pura-pura sibuk.

"Sial! aku ada tes hari ini,"

"Oh tidak, aku punya PR bahasa inggris hari ini,"

Lalu tersisalah satu orang yang tadi sempat memberanikan diri menanyai Baekhyun tengah berdiri kaku dengan ekspresi wajah yang terlihat aneh sekaligus bodoh.

0

0

'Ini semua bukanlah mimpi, aku pikir yang terjadi semalam hanyalah mimpi, tapi saat aku terbagun tadi, tubuhku masih tetap menjadi yeoja,' gumam Baekhyun seraya berkaca di toilet sekolah.

'Aku melilitkan kain dibagian dadaku, bangaimana jika ada yang tau!' iner Baekhyun seraya menunjukan tatapan horornya. Ia tak tau harus apa jika hal itu sampai terjadi.

0

0

"Jjang! aku sangat khawatir tadi malam, tapi sepertinya kau baik-baik saja," ucap Jongin seraya menepuk pundak Baekhyun dari belakang.

"Gyaaaa!" pekik Baekhyun terkejut. Entah mengapa ia sedikit risih saat Jongin menyentuh pundaknya.

"Ada apa? apa mereka menangkapmu?" tanya Jongin dengan nada khawatir.

"Tidak, aku baik-baik saja," ucap Baekhyun seraya memeluk dirinya sendiri setelah menepis tangan Jongin.

"Jadi kau berhasil kabur dengan aman?" tanya Jongin penasaran.

"Iya kurasa aku beruntung," ucap Baekhyun seraya terkekeh garing.

'Aku tak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya, terlebih pada bagian aku yang menjadi yeoja,'

"Tanganmu?" ucap Baekhyun seraya melihat tangan Jongin yang diperban.

"Hehe mereka mendapatkanku, tapi ini tak seberapa dibandingkan yang lain, ada lima orang yang harus dirawat di rumah sakit," ucap Jongin seraya memijit tengkuknya dan terkekeh garing.

"Ya aku lebih suka itu dari pada-"

'-benar-benar menjadi yeoja,' sambung Baekhyun dalam hati.

"Apa?" pekik Jongin terkejut mendengar apa yang Baekhyun gumamkan. Bagaimana hal ini disebut lebih baik?

"Ah! bukan-bukan, aku mau ketoilet dulu," ucap Baekhyun cepat seraya berbalik arah meninggalkan Jongin.

"Sepertinya ada yang berbeda?" gumam jongin seraya mengeryitkan alisnya mengamati punggung Baekhyun yang menjauh.

'Aku sangat grogi, aku takut mereka tau jika detak jantung ini tak terkontrol,'

Tap

"Kyaaaaaa!" pekik Baekhyun terkejut saat melihat ada tiga orang namja berdiri menghadap tembok sedang buang air kecil di dalam toilet.

"Ahh!"

"Apa?"

Pekik mereka terkejut saat mendengar teriakan seseorang.

'Sial! ini adalah hal biasa yang selalu aku temui, kenapa malah berteriak,' umpat Baekhyun dalam hati seraya menutupi mulutnya dengan kedua tangan.

"Dia yeoja," ucap salah satunya saat tak mengenali Baekhyun karena sebagian wajahnya tertutupi, ditambah jeritan Baekhyun yang melengking bak yeoja itu menambah keyakinannya kalau yang baru saja menjerit itu adalah yeoja.

"Apa yang kalian katakan?" tanya Baekhyun dengan nada tak suka.

'Sial kenapa mereka bisa tahu,'

Greb

"Baj*ng*n! siapa yang kau sebut yeoja?," umpat Jongin seraya mencengkeram kerah namja itu.

"Waaa!"

"J-jongin," pekik Baekhyun terkejut saat melihat Jongin yang tiba-tiba muncul dan membelanya, ia tak menyangka Jongin akan melindungi sampai segitunya.

"Tak tau kah kau? bahwa memanggil Jjang sekolah kita yeoja bisa membuatmu mati!" ucap Jongin geram serya menatap tajam namja itu.

"M-maaf aku tak kau kalau dia Jjang kita,"

"Kalau begitu pergilah!" seru Jongin yang membuat ketiga namja itu berlari terbirit-birit.

"Haha ternyata kau peduli juga," ucap Baekhyun seraya terkekeh pelan.

"Hemm ya," gumam Jongin seraya menengok kearah Baekhyun dengan ekapresi tak terbaca.

'Mengapa dia memperhatikanmu seperti itu? apa dia menyadarinya?' tanya Baekhyun dalam hati.

"A-aku permisi sebentar," ucap Baekhyun cepat seraya berjalan memasuki salah satu bilik toilet.

'Benar, tak mungkin aku menjadi seorang yeoja, jika aku melihatnya sekali lagi, maka aku akan menjadi normal kembali, aku yakin itu semua hanyalah ilusi semata,' gumam Baekhyun dalam hati seraya melepas celana yang ia kenakan. Perlahan ia membungkukan badannya guna memastikan bahwa benda yang bergelantungan diantara kedua pahanya sudah kembali ketempatnya semula, namun hal itu hanyalah harapannya saja, karena nyatanya benda kebanggaannya telah hilang dan tetap berganti dengan miss V. Ia pun segera terduduk lemas dengan posisi berjongkok dilantai setelah menaikan celananya kembali.

'Argh! apa aku benar-benar yeoja?' racau Baekhyun seraya menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.

Setelah itu ia segera keluar dari bilik itu dan mendapati Jongin masih berdiri di sana dan menatapnya aneh.

'Kenapa dia ada di sini? sepertinya dia menguntitku,' iner Baekhyun dalam hati seraya mengeryitkan alisnya curiga. Iapun segera berjalan melewati Jongin tanpa mengatakan apapun.

Grep

"Tunggu!" pinta Jongin seraya menahan bahu Baekhyun.

"Hahh?" gumam Baekhyun seraya memutar kepalanya kebelakang, tempat Jongin berada.

"Baekhyun, kau berubah!" ucap Jongin dengan ekspresi tak terbaca.

TBC

Emm, sigini dulu ya, padahal di manhwa aslinya udah chap 6 loh, ini ada yang 2 chap aku jadiin 1. Sampai jumpa dichap selanjutnya.

-Salam damai inchan88-