Di hari sehari setelah Kuroko Tetsuya dikabarkan menghilang, para mantan anggota tim basket Teiko menerima pesan dari alamat yang sama dan isi yang sama.
[Temui aku di atas gedung SMP Teiko malam ini.
-KT]
~TA~
Try Again
Aomine Daiki's part
By Vira D Ace
KnB isn't mine, I told you!
Rating: T
Genre: Fantasy-Friendship-Tragedy
DLDR!
~TA~
Aomine terbangun di kamarnya dengan napas terengah dan keringat dingin. Sambil mengatur napas, pemuda berkuoit gelap itu meraih ponselnya yang terletak di nakas.
"Masih tanggal 25 Maret," gumamnya, "Tetsu..."
Lagi-lagi terkena loop. Aomine menghela napas, lalu beranjak dari ranjangnya dan melangkah ke kamar mandi.
~TA~
Terlalu lelah untuk menelepon 4 temannya satu-persatu, Aomine memilih untuk mengirimi SMS pada semua temannya. Sambil menatap keluar jendela kelas, Aomine menghela napas. "Kau kemana saja, Tetsu?" gumamnya.
Iris navy bluenya melirik keluar gerbang sekolah. Tanpa sengaja, ieisnya menangkap sosik berjaket dengan surai baby blue menyembul dari tudungnya.
"Tetsu!" teriak Aomine refleks.
Pemuda itu berlari keluarnkelas--mengabaikan panggilan Sakurai yang menyuruhnya tetap di kelas. Aomine mengejar pemuda berjaket itu. Pemuda itu menoleh ke belakang, dan refleks berlari ketika melihat Aomine mengejarnya.
"Chotto, Tetsu!!" panggil Aomine.
Namun pemuda bersurau biru itu menghilang di belokan dekat toko senjata. Aomine menyerah. Pemuda berkulit gelap itu memilih untuk kembali ke Touo Gakuen--yang mana ia memilih bolos sampai istirahat karena sekarang bel sudah berbunyi.
~TA~
"Serius?" suara Akashi terdengar terkejut, "kapan?"
"Tadi pagi," Aomine menghela napas, "aku sempat mengejarnya, tapi malah kehilangan jejak di toko senjata--misdirection sialan!"
"Okay," Aomine merasa Akashi akan membuat keputusan, "kali ini kuijinkan semuanya tidak latihan. Kita berkumpul di stasiun. Khusus hari ini, aku saja yang mengumumkan."
"Akashi," Aomine tercengang.
"Oke, kututup, ya?"
"Oke."
Telepon ditutup. Aomine kembali menghela napas. "Tetsu..."
~TA~
"Dai-chan!"
"Ittekimasu, Satsuki!" Aomine berlari keluar Touo Gakuen sambil menghindari kejaran Momoi.
Ya, seperti di loop-loop sebelumnya, Aomine harus sebisa mungkin lari dari Momou ketimbang diseret latihan ssepeeti loop lalu. Pemuda itu berlari ke stasiun, lalu membeli tiket dan menunggu kereta.
"Tumben belum ada telepin dari Tetsu," Aomine memperhatikan ponselnya.
Kereta datang. Pemuda berkulit gelap itu melangkahkan kakinya ke dalam kereta sambil menjejalkan earphone ke dalam telinganya. Masih ada 15 menit sebelum sampai di Teiko, hingga Aomine memilih untuk mendengar musik.
Kereta berhenti. Aomine melangkahkan kakinya keluar kereta, mencari-cari teman-temannya yang memiliki warna rambut sangat mencolok. Gampang menemukannya karena mereka berkumpul di dekat kios rokok.
"Aominecchi! Kochi yo!" panggil Kise ketika Aomine melihatnya.
Aomine berlari ke arah teman-temannya.
"Oke, semua sudah berkumpul?" tanya Akashi.
"Sudah," jawab Murasakibara, "ah, dimana Mido-chin?"
"Aku di belakangmu, baka!" ucap Midorima kesal.
Aomine sweatdrop.
"Daiki, silahkan," ucapan Akashi lagi-lagi menginterupsi, membuat teman-temannya membisu.
"Mhm," Aomine mengangguk, "aku melihat Tetsu tadi pagi. Aku mengejarnya, tapi malah kehilangan jejaknya di toko senjata--aku baru sadar kalau aku sudah di kota waktu itu. Jadi, kurasa Tetsu masih ada di sekitar Touo selama ini, dan mungkin saja ia sedanv menuju Teiko atau malahan sudah disana."
Kise menganga. Midorima sweatdrop. Murasakibara hanya pasang tampang malas seperti biasa.
"Tak kusangka kau bisa sepintar itu, Aomine," ucap Midorima, "bukan berarti aku memujimu -nanodayo."
"Aku tertohok, Midorima."
"Jadi Kurokocchi masih di Touo saat itu -ssu?!" pekik Kise.
"Sekitaran Touo," ralat Akashi, "dan pelankan suaramu, Ryouta."
"Tunggu. Mine-chin bilang tadi toko senjata, ya?" tanya Murasakibara tiba-tiba.
Aomine menatap Murasakibara. "I-iya. Kenapa?"
"Firasatku buruk," Murasakibara menggaruk tengkuknya.
"Jauhkan itu," ucap Akashi, "ayo per-"
5 pemuda itu terbelak ketika seorang pemuda berjaket dengan surai biru yang menyembul dari tudungnya melewati mereka berlima.
"T-tetsu!" panggil Aomine refleks.
Pemuda itu berhenti. Secepat mungkin Aomine dkk menghampiri pemuda tersebut.
"Jangan mendekat," cicit pemuda itu.
"Eh?"
"Kubilang, jangan mendekat!!!" pemuda itu menarik tudungnya dan mengeluarkan pistol dari sakunya.
Beberapa orang berlari, sisanga mengerubungi 6 pemuda itu.
"Ku-kurokocchi," Kise ingin mendekat, tapi Aomine mencegatnya.
"Turunkan pistolmu, Tetsuya," Akashi menghela napas, "onegai."
Kuroko membidik pistolnya, ke kepalanya.
"Tetsu!!" teriak Aomine.
"Urushai yo," cicit Kuroko, tangannya sudah siap melwsatkan peluru itu ke kepalanya, "aku sudah lelah mati berulang-ulang. Kuharap kali jni aku benar-benar mati!"
Aomine dkk terbelak.
"Tetsu,"
"Jaa, sayonara~"
Dor!
Peluru panas melesat ke kepala si surai biru yang mulai ambruk. 5 pemuda itu terbelak. Teriakan kembali menggema.
~tbc~
