Tao merasakan energi dingin masuk menembus kulit dadanya, menyusup ke dalam tulang rusuknya hingga mencapai jantungnya dan mengalir keseluruh tubuhnya. Meski setiap detik tubuhnya merasa lebih baik, di sisi lain dia merasa tak enak hati saat melihat Lay yang bermandi keringat di depannya, tampak sangat kelelahan.

"Gege, berhentilah kalau kau lelah," gumamnya lemah lantaran dia tak yakin ucapannya akan didengar.

"Sebentar lagi, Tao."

The Time

Author : Lhyn Hatake Colab with Fitri Ratnaningtyas

Genre : Romance , Drama, Fantasy

Rate : Mature

Cast : All EXO Member

Pairing : KrisTao, KrisLay, Etc.

Warning : Abal, gaje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna.

Disclaimer : EXO milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!

Italic : berada dalam permainan waktu Tao, bisa karena dihentikan atau karena kembali ke masa lalu.

.

Pagi setelah berita tentang Tao yang telah sadar menyebar, Xiumin, Chen, Baekhyun dan Chanyeol datang dalam seragam musim dingin mereka. Dan sisanya datang di sore hari setelah pulang sekolah. Hal ini dilakukan karena penjenguk tidak boleh lebih dari enam orang, jadi mereka menerapkan sistem bergilir.

Diantara mereka semua, Kris dan Suho lah yang paling sering berada disisinya. Bahkan saat bukan jam jenguk sekalipun. Suho berada di sana lantaran dia merasa bersalah. Tao sudah mengatakan bahwa dialah yang bersalah dalam hal ini namun tampaknya sang Guardian tak mau menyerah.

Sedangkan Kris. Tao tak ingin mengakuinya, tapi bagaimanapun juga dia melihat dan merasakan bagaimana kecemasan terpancar dari mata namja itu. Kris masih mencintainya, Tao tahu itu. Dan seakan hal itu tak cukup menyakitkan,Tao juga masih sangat mencintai namja itu. Hanya saja, rasa sakit dan kecewa telah membelenggu keberaniannya kuat-kuat. Jadi sekarang Tao takut untuk memberikan hatinya lagi.

Sementara Lay, disetiap kedatangannya dia selalu datang untuk menyembuhkan Tao. Setiap sore hari dia akan datang sendirian dan menguras energinya sampai kelelahan.

"Gege!" Tao meraih tubuh Lay yang limbung dan membawanya untuk duduk di ranjang sakitnya. "Aku sudah bilangkan, jangan memaksakan dirimu Ge... Kau jadi semakin kurus setiap harinya."

"Aku tak apa Tao, tidur sebentar dan banyak makan akan segera memulihkan energiku," ujar Lay pelan, kemudian dibaringkan dirinya di atas tempat tidur Tao, sedikit berdesakan dengan si namja Panda.

"Gomawo Gege," Tao berkata pelan.

Lay diam. Di benaknya berkelebatan berbagai persoalan yang membuat dia dan Tao terjerat dalam satu masalah yang sama. Kilas-kilas gambar yang membuatnya tahu bahwa tak satupun kata terimakasih dari Tao yang pantas di terimanya. Kesalahannya pada namja itu sudah terlalu banyak.

"Gege kenapa diam?" Tao menyentuh bahunya lembut.

Lay tersenyum tipis, lalu menggeleng.

"Sebagai ucapan terima kasihku, bagaimana kalau setelah sembuh aku mentraktir gege es krim setiap pulang sekolah?"

"Tak perlu Tao, kau harus banyak beristirahat setelah keluar dari sini," ucapan Lay terdengar sangat lembut, sangat pantas bila dia diberi gelar Umma sama seperti D.O yang pintar memasak.

"Ah... lalu apa? Apa yang Gege inginkan? Katakan saja, aku akan memberikan apapun yang Gege inginkan."

Kini rasanya Lay ingin menangis. Tao begitu tulus mengucapkan kata-katanya, membuat Lay merasa semakin kerdil di samping namja itu. Tao yang polos, gulir waktu seakan tak pernah sanggup untuk meneteskan noda pada hatinya yang naif. Satu hal yang tak Lay miliki, satu hal yang mungkin membuat Lay merasa kalah.

Katakan saja, aku akan memberikan apapun yang Gege inginkan...

Kalau ada yang dia inginkan... kalau ada yang Lay inginkan itu adalah amarah Tao. Lay ingin Tao marah padanya, Tao membencinya, Tao mencacinya, Memukulinya hingga mati bila perlu, kemudian memaafkannya. Memaafkan semua kesalahannya.

"Cepatlah sembuh."

Pada akhirnya setelah jeda diam yang begitu panjang, hanya dua kata itulah yang mampu Lay ucapkan.

Lay bangun dari tidurnya di samping Tao, menatap namja Panda itu, tatapan yang dibalas dengan senyum polosnya. Lay mengacak rambut Tao pelan, kemudian mengecup keningnya hati-hati.

"Saranghae," gumamnya rendah.

'clek'

"Hai Ta- Oh, Lay...?" Suho tampak terkejut mendapati Lay berada di atas tempat tidur Tao bersama namja Panda itu.

"Ya, Hyung," jawab Lay pendek dan terasa agak kaku.

Suho masuk dengan keranjang buah dan kotak-kotak susu di tangannya. Sementara Suho meletakkan bawaannya di meja, Lay turun dari tempat tidur Tao dan merapikan dirinya.

"Aku akan pulang," gumam Lay.

Tao melirik Suho yang menghentikan kegiatannya saat ini, terlihat raut kecewa di wajahnya.

"Gege masih lelah."

"Aku akan baik-baik saja, Tao. Kau beristirahatlah," Lay tersenyum lembut sekilas, lalu melangkah pergi menuju pintu.

Tao menatap Suho yang tengah mengamati punggung Lay. "Kau boleh menyusulnya Hyung."

Tao tak pernah sedekat ini dengan Suho sebelumnya. Dan kedekatan itu tentu saja bukan tanpa pembicaraan. Dan dari sekian banyak pembicaraan itu, Tao dapat menyimpulkan sesuatu. Suho, sang Guardian yang tertutup akan perasaannya tak lagi bisa menyembunyikan goresan-goresan cinta pada matanya untuk sang Unicorn. Dan Tao adalah orang pertama yang berhasil membaca itu.

"Aku tak mengerti, tapi sepertinya dia semakin menjauhiku," Suho mengalihkan pandangannya pada jendela bersalju. Kekecewaan tampak jelas di mata obsidiannya.

Tao diam menatap Suho dengan kasihan.

"Jangan tersinggung, tapi aku benar-benar ingin tahu bagaimana cara Kris mendapatkan perhatiannya."

Tao hampir tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar ini. "Ehem... ummm... mungkin... kau harus banyak terluka, tapi sebaiknya jangan, terluka itu tidak enak."

Secercah senyum jahil muncul di wajah Suho. "Kau benar, mungkin lain kali aku harus berpura-pura tak melihat seranganmu."

"Ya! Hyung! Tak boleh begitu!"

Suho tertawa kecil melihat reaksi Tao yang dinilainya berlebihan. Tao kesal setiap kali Hyung atau Dongsaengnya menggodanya, mengerjainya. Dia tak tahu bagaimana bakat dibully itu begitu suka berada di dirinya, tapi kali ini, Tao bersyukur bakat itu telah membuat Hyungnya yang satu ini tertawa.

.

.

Kris berjalan cepat menuju koridor rumah sakit, begitu terburu. Kalau ada hal yang tak disukainya saat ini adalah melihat bagaimana kedekatan Suho dan Tao, dan setiap kali mendengar Suho mengunjungi Tao sendirian membuatnya tak tahan untuk tidak menghancurkan sesuatu hingga menjadi arang.

Kadang dia merasa kalau elemen-elemen yang ada di tubuhnya dan kesebelas saudaranya sudah disesuaikan dengan karakter masing-masing. Kris melihat contoh yang paling nyata pada dirinya sendiri. Sebelum ia 'diciptakan', ia memang mempunyai karakter yang meledak-ledak, terutama jika berhubungan dengan orang yang dicintainya. Suho, si Dewa Air yang ingin sekali ia bunuh detik ini, memang selalu bisa membuat keadaan menjadi lebih tenang. Ia tidak tahu apakah itu karena elemen air yang ia punya atau memang karakter 'manusia'-nya memang sudah tipikal 'leader' yang bisa membawa ketenangan.

Mengingat bagaimana perhatian Suho pada Baby Panda-nya membuat badannya kian memanas. Ia memang orang yang paling sulit mengontrol emosi, dan ia sangat tahu itu. Jadi, sebelum praduga dalam dirinya membakar orang lain, dia ingin memastikannya. Memastikan Suho berada pada jarak yang cukup dari Tao-nya.

Namun sesuatu yang lain menghentikannya tak jauh dari pintu yang menyembuyikan Tao di dalamnya.

"Lay!" Kris berlari kearah Lay yang bersandar pada tembok, terlihat sangat kelelahan.

"Ya Tuhan Ge, kontrol kekuatanmu, emosimu bisa membakar apapun. Aku sedang tidak bisa berbuat banyak untuk memulihkanmu seperti biasa jika energimu habis," Kata-katanya terdengar lemah.

Kris meraih kedua lengan Lay dan membantu namja itu berdiri tegak dengan begitu hati-hati, seolah jika sedikit saja ia bergerak kasar, tubuh itu akan pecah atau terluka.

"Kau juga berhentilah membagi energimu padaku," Kris mengingatkan saat dia merasakan aliran dingin di telapak tangannya yang menyentuh lengan Lay.

Kris tidak bodoh, ia tahu diantara semua saudaranya, Lay adalah member yang paling lemah. Selain karena ia bukan tipe petarung yang harus selalu berada di garis aman, Lay juga member yang paling banyak menggunakan energi nya untuk diberikan kepada member lain. Ia selalu berkata hal yang sama, selalu mengingatkan kesebelas saudaranya untuk mengontrol energi masing-masing, tapi terkadang atau bahkan seringkali mereka –kesebelas saudaranya– selalu egois. Bertindak semaunya karena berpikir bahwa sebanyak apapun tenaga yang mereka keluarkan, atau separah apapun mereka terluka, Lay bisa membuat keadaan mereka membaik dengan cepat. Tapi kali ini, Kris baru menyadari, jika Lay terlalu banyak menggunakan elemen penyembuhnya untuk orang lain, Lay yang akan kehabisan energinya, Lay akan menjadi semakin lemah.

Namja mungil itu terlihat pucat. Kris tahuLay harus bekerja semakin keras akhir-akhir ini. Semenjak Tao sadar, Kris tak lagi bisa membantu Lay, membuat sang Unicorn harus merelakan sebagian besar energinya untuk kesembuhan Tao secara total. Ini memang baru pertama kali terjadi, semenjak mereka terbangun dengan kekuatannya masing-masing. Ini adalah kecelakaan terparah sampai ada member yang tidak sadarkan diri selama belasan hari, dan memang Lay selalu merasa yang paling bertanggung jawab atas keadaan semua member terutama jika ada yang terluka. Ya, Unicorn ini memang tidak normal! Sama sekali tidak normal!

Lay terhunyung dan refleks Kris menarik namja itu untuk semakin mendekat dengan tubuhnya, memeluknya erat. Ia tahu Lay tidak dalam keadaan terbaiknya tetapi ia masih memberikan sedikit kekuatan yang tersisa hanya untuknya. Ia tahu, bahkan mungkin bila dibandingkan dengan keadaan Tao saat ini, keadaan Lay jauh lebih parah. Secara fisik ia terlihat baik-baik saja walau lebih pucat dari biasanya, tapi apa yang Lay lakukan tadi, proses healing yang Lay salurkan padanya menjadi bukti bahwa Unicorn ini memang sedang sangat sangat lemah.

Kris dapat merasakan energi yang Lay salurkan berbeda dari biasanya. Sungguh ada perasaan sakit yang entah darimana melihat Unicorn ini muncul di hadapannya dengan keadaan lemah. Ia ingin berbuat sesuatu, sedikit saja, apapun itu untuk membalas setidaknya sepersekian persen dari apa yang sudah Lay lakukan untuknya selama ini. Jika semua orang melihat bahwa Kris yang selalu melindungi Lay, mereka semua salah. Lay yang selalu ada untuk melindungi gege-nya, karena tanpanya, tanpa Unicorn baik ini, mungkin Kris sudah berakhir dengan membakar dirinya di tiap sesi latihan mereka.

"Lepaskan Gege," ia mengucap lemah. Ia tidak membalas pelukan itu sama sekali, meskipun Lay tidak dapat membohongi diri bahwa pelukan itu membuatnya bisa beristirahat sejenak, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang Gege.

"Jangan memaksakan diri. Itu kan yang selalu kau bilang? Lalu, bisa kah kau terapkan itu pada dirimu sendiri saat ini?"

Detik yang sama Kris menghentikan ucapannya, ia merasa tubuh mungil di pelukannya ditarik kasar oleh seseorang yang tiba-tiba muncul.

"Bisakah kalian berselingkuh di tempat lain, bukan di rumah sakit, tepatnya bukan di depan kamar Tao, Ge?"

Teleporter itu masih memegang bahu Lay erat, menjauhkannya dari Kris. Ia tahu Kai tidak bermaksud bertindak kasar apalagi dengan Lay yang notabene adalah Gege terdekat Kai setelah D.O tentu saja. Tapi perbuatannya kali ini benar-benar memicu kemarahan Kris. Ia tidak pernah suka jika Kai sudah menggunakan kekuatannya, hilang lalu muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang bisa menghentikan atau tahu kemana ia berteleportasi. Kadang bahkan ia muncul tiba-tiba dengan membawa barang-barang aneh yang entah ia dapat dari mana sekedar untuk menakuti para Hyung nya. Ia hanya tunduk pada D.O, selebihnya tidak ada yang bisa menghentikan ulah Evil Magnae satu ini.

"Lepaskan tanganmu dari bahunya, Kai!" Kris berucap dengan suara rendah menahan api keluar dari genggaman tangannya untuk membakar satu-satunya teleporter ini. Kris tahu ia bisa diceburkan ke inti bumi oleh D.O jika sedikit saja menyakiti Kai, tapi kali ini perbuatannya benar-benar tidak bisa ditoleransi.

"Bagaimana jika kau yang kedalam saja biar aku yang membawa Lay ge pulang. Demi Tuhan, Tao sedang sakit Ge, apa yang kau pikirkan dengan memeluk orang lain di depan kamarnya?" Kai merendahkan suaranya berharap perbincangan mereka tidak sampai terdengar oleh Baby Panda.

"Dan Demi Tuhan Kai, Lay juga sedang sak.."

"Cukup! Kalian berdua cukup!" D.O berlari menuju dua namja keras kepala yang mudah sekali terpancing emosi itu. Ia sangat mengenal Kai, dan ia mengenal Kris dengan cukup baik. Uap dingin terlihat keluar setiap kali ia menghembuskan nafas dan keramik terlihat retak di setiap jejak langkahnya pertanda ia sedang tidak bisa mengontrol energi nya keluar dan ini pasti terkait teleporter kesayangannya ini. D.O adalah orang yang hampir selalu paling mudah mengendalikan elemennya, sama seperti Suho, tapi selalu berbeda jika itu menyangkut tentang sang teleporter.

"YA! Kim Jongin! Jangan mengagetkanku dengan berteleport tiba-tiba tanpa memberitahu kau mau kemana! Bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu dan aku bahkan tidak tahu kau ada dimana? Dan lepaskan Lay ge, kau menyakitinya, pabo!" teriakan tertahannya berbanding terbalik dengan menarik Lay lembut ke sisinya.

"Dan kalian berdua jangan coba-coba untuk berkelahi! Ini rumah sakit! Jangan bertindak bodoh Kai, dan kau, Ge…" D.O memberinya death-glare nya yang seolah-olah jika diartikan 'sedikit-saja-kau-melukai-Kai-detik-itu-juga-kukirim-kau-ke-neraka-Ge.".

D.O menatap Lay sesaat sebelum memapahnya keluar. Meski lirih, Kris masih bisa mendengar D.O berkata ; "Tao sudah hampir sembuh, tapi kenapa Gege malah semakin banyak menyalurkan energinya?"

Kai mengawasi D.O dan Gege nya hingga benar-benar keluar dari rumah sakit. Ia lalu menatap Kris dengan tatapan mengintimidasi.

"Selama ini kami diam bukan karena kami tak peduli."

Kris menatap tajam pada dongsaengnya itu, bukan ia membencinya, tapi ia tak suka perilakunya yang menyebalkan seperti sekarang ini.

"Kalau aku boleh menyarankan, jauhi Lay, dia masih punya kami untuk memperhatikannya. Kalau kau tak ingin benar-benar kehilangan Tao jangan pernah mengalihkan perhatianmu dari dia. Atau," Kai menekankan kata-katanya, "jangan menyalahkan Suho hyung kalau Tao gege benar-benar tak melihatmu lagi. Ikatan itu... mungkin saja bisa tertukar."

Kai menghilang setelah mengatakan kata-katanya sementara Kris terdiam dengan kata-kata Kai yang bergaung di kepalanya.

Benar-benar kehilangan Tao...

.

.

"Hei babe?" Kai muncul mendadak dan langsung melingkarkan lengannya di pinggang D.O yang sedang duduk melamun di kamar mereka.

"ASTAGA KAI! KAU TIDAK BISA BERTINGKAH SEPERTI ORANG NORMAL SEKALI SAJA? JANGAN MUNCUL TIBA-TIBA BEGITU SEPERTI HANTU!" D.O berteriak histeris sambil memukuli teleporter tersayangnya itu.

"YA! APPOOOO! Ini bahkan tidak lebih buruk darimu yang membangunkan ku tiap pagi dengan cara menenggelamkan tempat tidur ini ke dalam tanah, Hyung!" Kai meringis kesakitan mengusap-usap lengannya yang dipukuli D.O dengan brutal.

"Itu satu-satunya cara untuk membangunkanmu!" ia menatap Kai yang masih meringis kesakitan.

Hhh, D.O kembali duduk di samping Kai dan membantu mengelus lengannya. Ia tidak pernah tega jika melihat Kai kesakitan atau apapun terjadi dengannya.

"Maaf. Aku hanya sedang melamun."

"Mengenai Lay ge?" Kai mengamati raut wajah D.O, Ia pun duduk mendekat dan mendekapnya lembut.

"Semuanya. Tao, Lay ge, Kris ge, Suho hyung. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka berempat," D.O menutup matanya, lelah. Bisa dikatakan ia adalah umma di antara mereka. Ia akan menjadi member yang paling freaked-out jika salah satu dari kesebelas saudaranya terkena masalah apapun itu.

"Kau tahu dengan baik karakter mereka. Lay gege, Kris gege, dan Suho hyung sudah cukup dewasa untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan, dan Tao gege? Kurasa ia bukan lagi tipe anak-anak yang mudah meledak-ledak. Masalah mereka hanya mereka yang paling tahu solusi terbaiknya. Sekarang kita semua harus fokus untuk kesembuhan Tao gege"

Ya, teleporter satu ini benar. Saat ini mereka hanya bisa percaya, bahwa keempat orang itu bukan lagi anak-anak yang tidak dapat mengambil keputusan.

D.O tersenyum tipis, "lalu apa yang kau bicarakan dengan Kris ge?"

"Apa? Memangnya aku bicara apa?" Kai mengelak dengan tak meyakinkan.

"Ishhh... kau pasti terlalu keras padanya kan? Jangan menekannya, dia sudah cukup tertekan dengan semua ini."

"Aku tidak bilang apa-apa, cuma bilang 'mungkin saja ikatannya bisa tertukar'"

"Ya! Apa yang kau katakan! Mana mungkin ikatannya tertukar!" D.O bangkit mendadak dan menatap Kai tajam, untuk sesaat Kai yakin lantai di kamarnya bergetar. Melihat mata kekasihnya yang menyala-nyala Kai menciut juga.

"Akukan cuma bilang 'mungkin'" dia mencicit, "lagipula mereka terlalu berlama-lama dengan masalah ini, Kris ge-Lay ge-Kris ge-Tao ge-Layge-Tao ge dan sekarang Suho hyung malah ikut-ikutan, aku jadi ikut pusing!"

Pandangan D.O melembut padanya,diusapnya pundak namja itu berusaha menenangkan. Ternyata bukan hanya dia yang terlalu mencemaskan keempat saudaranya. D.O memang tahu dan diantara semua orang, D.O lah yang paling tahu siapa Kai. Dibalik sikapnya yang sering kali jahil, yang suka seenaknya dan tak terkendali, Kai memikirkan mereka, memikirkan saudara-saudaranya.

.

.

"...Tao gege benar-benar tak melihatmu lagi. Ikatan itu... mungkin saja bisa tertukar."

Ucapan Kai masih bergema dalam kepala Kris, membuat namja tinggi itu masih berdiam kaku di depan pintu ruangan Tao. Lirih, terdengar tawa Tao yang diiringi suara rendah Suho. Si Dewa Air ada di dalam bersama Sang Pengendali Waktu. Dan bayangan Tao melupakannya, kemudian mengalihkan hatinya pada Suho membuat tubuhnya beku. Tiba-tiba saja udara berubah menjadi sangat dingin dan bayangan senyum Lay tak lagi menenangkan.

Kris membuka pintu sedikit dan suara ceria Tao terdengar...

"...benarkah? Aku tidak tahu kalau yang seperti itu bisa terjadi."

"Tentu saja bohong," Suho menjawab cepat dan selanjutnya namja itu tertawa keras.

"Ya! Hyung... kenapa kau begitu... ishh..."

"Haha... ya Tuhan Tao... sekarang aku baru tahu kenapa Sehun, Kai dan yang lain suka sekali menjahilimu, kau memang menyenangkan untuk dijahili," Suho masih tertawa, Kris tak suka ini. Suho tak pernah tertawa selepas ini sebelumnya, dan saat Sang Guardian menunjukan hal seperti ini, tak seharusnya orang yang bersamanya di dalam sana adalah Tao.

"Hyuuungg... jangan menjahiliku, itu menyebalkan tahu... kenapa kau menjahiliku? Kenapa yang lain suka menjahiliku?" Tao merajuk, Kris tersenyum membayangkan wajah imut dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut. Tapi senyum itu segera lenyap saat menyadari di dalam sana Tao bersama Suho.

"Kurasa..." suara Suho kembali kalem seperti biasa, "alasan yang sama kenapa Kris dan mungkin juga aku, ingin sekali selalu melindungimu."

"Kenapa?"

Kris menutup pintunya. Entah kenapa rasanya dia tak ingin –sangat tidak ingin– mendengar alasan Suho begitu ingin selalu melindungi Tao. Meski tanpa mendengarnyapun Kris telah tahu.

Kris menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Mencoba mengontrol emosi. Dia pun mengetuk pintu sebelum membukanya dan masuk...

_TBC_

Udah lebih panjangkan? Hehe... makasih ama fitri ratnaningtyas yang bikin Chap ini jadi lebih panjang. Untuk Scene disini keknya alurnya bakal lambat ya... coz chap depan masih ngelanjutin Scene Kris ngejenguk Tao. Maaf banyak Typo... Lhyn ga sempet edit...

Maaf buat apdet Lama... dan makasih buat :

KecoaLaut, Brigitta Bukan Brigittiw, Anggik, puzZy cat, AmaterasuUchih1, blue minra, trilililili, Hisayuchi, JaeRyeoCloudnia, Minki 'Light Pearl' Kim, KyuKi Yanagishita, Park Ri Yeon, Aetherion Vienna, Guest, Key shirui Alegra tiqa, Park Seung Ri, Viivii-ken, Nezta, lovelySoo-ie, choi seul mi, Miku, ShikiTeito, Taozi-umma, yoonhae . elfxotics, Zhii g' Log-in, Ciezie, naie, reader kece, Guest, Jin Ki Tao, golden13, halliypanda, DevilFujoshi, hyun hyun, amadorie, Kazuma B'tomat.

Mau lanjut..? rifyu dulu... *gaya pak Oga