Slave
Disclaimer:
All the caracter from the Naruto is Masashi Kishimoto's
This FanFiction is original by Yoshi Funf-kun
Genre: Hurt/Comfort, Romance
Rated: M
Pair: Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
[Slight: SasuSaku, NaruHina, NaruSaku]
WARNING!
OOC, AU, Typo, Sekali lagi ini rate M (MATURE! MATURE SODARA-SODARA! ALIAS BUAT 17+) SUDAH ADA LEMON DI CHAP INI! YANG MASIH DI BAWAH UMUR HARAP HATI-HATI.
BGM: Natsu no Hi To Kimi no Koe - ChouCho [OPENING: Glasslip]
"Eh?" Athemys Hinata melebar mendengar penuturan Sasuke.
Dengan tenang, Sasuke meminum jus tomatnya hingga tanpa menyisahkan satu tetes pun.
"Bagaimana kau tahu jika aku menyukai tomat?" Entah berniat mengalihkan pembicaraan, Sasuke malah menanyakan suatu hal lain.
"I-Itu, Saya m-melihat salad b-buah yang s-saya buat k-kapan hari h-hanya dihabiskan t-tomatnya saja, j-jadi saya p-pikir Uchiha-sama s-suka tomat."
"Hn…," Sasuke hanya berguman.
"A-anno… apa t-tadi Uchiha-sama s-serius soal s-saya kembali s-sekolah?" Hinata mulai mendekati Sasuke.
"Hn." Sungguh jawaban yang ambigu. Tapi Hinata percaya, barusan tuannya mengatakan, "ya" secara tidak langsung.
"B-Benarkah?" Terdengar nada yang sangat berharap dari suara Hinata.
"Hn." Sasuke meraih koran pagi yang telah disiapkan Hinata di atas meja makan. "Dan tidak perlu kau pikirkan masalah uang sekolah, aku akan membayarkannya untukmu."
Rasanya seperti mendapat mimpi di siang bolong. Hinata mencubit pipinya, sakit. Artinya dia tidak bermimpi sekarang.
Uchiha Sasuke yang selama ini dia kenal sebagai sosok yang dingin, kaku, sok, dan sombong ternyata remaja yang sangat baik hati.
Hanya orang bodoh yang melewatkan kesempatan mendapat gratisan seperti ini. Tapi Hinata adalah seorang Hyuuga. Hyuuga tidak bisa mendapatkan apapun tanpa sebuah perjuangan.
"S-saya sangat b-berterima kasih a-atas kebaikan a-anda Uchiha-sama. T-tapi saya a-akan tetap m-membayar biaya s-sekolah saya d-dengan potongan b-bayaran saya."
Onix Sasuke menatap Hinata sejenak. Pelayannya itu tengah menuduk di sampingnya sekarang.
"Sudah kukatakan tidak perlu." Sasuke berbicara dengan satu nafas saja. Sebuah nada memaksa khas seorang bos.
"S-saya tetap a-akan mengembalikannya p-pada Uchiha-sama!" Hinata bersikeras.
Sasuke kembali terdiam sejenak dan mengamati ekspresi Hinata. Gadis pemalu di kelasnya itu sekarang menatapnya garang. Sungguh ekspresi yang jarang. Kembali dialihkannya pandangannya ke arah hot-line korannya. "Kau keras kepala."
Dengan kekuasaanya, Sasuke menyuruh seseorang untuk mengurus seluruh keperluan Hinata untuk kembali bersekolah di KIHS. Awalnya Hinata kembali menolak bantuan dari Sasuke, tapi setelah Sasuke menjeratnya dengan sebuah kata, "memangnya kau bisa mengurusinya sendiri?" Hinata pun menyerah tanpa syarat. Karena memang Hinata tidak tahu prosedur apa saya yang akan dilakukannya untuk kembali bersekolah.
Kini Hyuuga Hinata sudah berdiri di depan kelas dengan mengenakan blazer biru tua seragam KIHS yang sangat dirindukannya. Wajah poselennya tertutupi oleh rona merah.
Seluruh penghuni kelas 3-1 hampir semuanya menatap Hinata dengan rindu. Walau Hinata agak pemalu, tapi kehadiran Hinata yang seorang ilmuwan besar sangatlah dibutuhkan. Bagaimanapun kelas 3-1 adalah keluarga.
"Anak-anak, teman kalian Hyuuga Hinata mulai sekarang sudah bisa kembali bersekolah. Sudah lama sekali ya sejak ketidak hadirannya. Hampir sebulan lebih. Tapi sekarang Hyuuga Hinata akan bergabung kembali di kelas ini. Nah, Hyuuga Hinata ada yang ingin kau ucapkan sebelum kita memulai kelas kita?" Kakashi-sensei menatap Hinata dengan senyumannya yang tersembunyi di balik masker hijaunya.
Hinata menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya. Inilah bau kelas 3-1. Bau yang sangat dirindukannya.
Menatap seluruh temannya dari depan kelas sungguh hal yang sangat dirindukannya. Apalagi siswa berambut jabrik kuning yang saat ini sedang menatapnya dengan sebuah cengiran. Hinata sungguh merasa….
"S-saya sangat merasa bahagia bisa kembali lagi bergabung dengan kelas 3-1. S-saya sangat merindukan kelas ini. T-teman-teman, maaf sudah membuat khawatir," Hinata menundukkun kepalanya dalam-dalam.
Air mata sudah hampir keluar dari pelupuk mata Hinata. Kebahagaiaan yang dirasakannya sungguh luar biasa.
Dan detik berikutnya, suara deritan bangku dan hentakan kaki yang kuat menggema di kelas 3-1.
Semua siswi kelas 3-1 segera bangkit dari duduknya dan menerjang Hinata dengan pelukan hangat.
Haruno Sakura berhasil meraih tubuh Hinata dan memeluknya erat.
"Hinata…. Hinata…. Huweeee….," tangisan gadis berambut merah jambu itupun pecah saat berhasil memeluk sahabatnya.
Sesak. Bisa bayangkan tubuhmu di peluk dari beberapa sisi sekaligus. Rasanya pasti sangat sesak, gerah, dan risih. Tapi Hinata sangat menyukai ini. Bahkan Hinata sangat membutuhkan ini.
"S-Sakura-chan… j-jangan menangis," Hinata menekuk senyumannya menatap Sakura.
"Kami merindukanmu Hinata!" Suara cempreng dari seorang gadis blonde bermata aquamarine menyeruak masuk ke dalam telinga kiri Hinata.
"Selamat datang kembali Hinata," Ten-ten tersenyum tulus.
Senyum di bibir Hinata mengembang. Rona wajahnya bertambah. "Terima kasih, teman-teman."
Uchiha Sasuke dari bangkunya hanya menatap datar kehebohan teman-temannya di depan kelas dengan bertopang dagu malas.
"Oy! Teme! Setidaknya sambut Hinata-chan! Dia temanmu juga kan?"
Sasuke tahu suara siapa itu. Suara cempreng yang selalu mengganggunya setiap hari. Suara Uzumaki Naruto.
"Hn, kau saja yang lakukan Dobe."
"Hinata-chan itu… sudah lama tidak masuk sekolah tapi dia tetap manis seperti biasa," Naruto dengan menyilangkan kedua tangannya menatap Hinata yang tengah diserbu oleh seluruh teman perempuannya.
Tidak ada respon dari Sasuke. Remaja raven itu hanya menatap wajah Naruto yang nyengir lima jari.
Sasuke tahu, Hinata memiliki perasaan kepada idiot kuning di sampingnya ini. Dan mungkin saja, alasan utama Hinata sangat ingin kembali sekolah adalah Naruto.
"Kau yakin tidak mau menyapanya Teme?" Naruto kembali memberikan penawaran. Mungkin saja temannya itu hanya malu-malu karena harga dirinya yang tinggi.
"Tidak."
Asal kau tahu Naruto, Hinata bisa kembali bersekolah itupun berkat campur tangan Uchiha Sasuke.
"Haaah…," Naruto menghela nafas panjang. "Baiklah, baiklah."
"HINATA-CHAN!" Naruto dengan suara cemprengnya berteriak memecah kehebohan kelas.
Seluruh pandangan siswa di kelas 3-1 seketika teralih kepada blonde jabrik itu. Termasuk pandangan Hinata.
"SELAMAT DATANG KEMBALI YA! AKU MERINDUKANMU LOH!" dengan wajah tanpa dosa, Uzumaki Naruto berteriak dan kemudian kembali nyengir.
DEG. Seketika darah mengalir ke wajah Hinata sehingga menyebabkan wajah manisnya tertutupi oleh ruam merah.
"A-ah-ah-" Hinata tidak tahu harus membalas apa. Dia kebingungan. Perasaan luar biasa bahagia seketika menghantam dirinya. Jantungnya berdetak sangat cepat seperti akan meledak. Tubuhnya pun menjadi gemetar aneh.
"Naruto kau bicara apa sih!?" Sakura mendekat ke arah Naruto dengan wajah khasnya yang ingin menghajar hingga babak belur.
"T-Tunggu… S-Sakura-chan! Apa salahku!?" Keringat dingin bercucuran dari dahi Naruto.
Dan selanjutnya, ulu hati Naruto menjadi sasaran bogeman Sakura.
Seluruh kelas tertawa melihat pemandangan tersebut.
Hinata tersenyum lembut, ditatapnya Uchiha Sasuke yang sedang menatapnya tanpa minat. Hinata menundukkan kepala dan tubuhnya sebagai ucapan terima kasih dan kemudian tersenyum tulus.
.
.
.
Jam pelajaran pun berakhir. Jam sudah menunjuk di angka 3 sore waktu itu. Seluruh siswa nampak membereskan tas masing-masing dan mulai meninggalkan kelas. Hal itupun dilakukan oleh Hinata.
"Hinata?" Dari arah belakang Haruno Sakura menepuk bahu Hinata.
"Eh? S-Sakura-chan?"
Di belakang Haruno Sakura juga berdiri Yamanaka Ino, dan Ten-ten.
"Pergi ke karaoke yuk? Kita rayakan hari kembalinya kau ke kelas. Jangan khawatir, kami yang traktir!" Yamanaka Ino menimpali.
"Ah." Hinata menundukkan kepalanya. "M-maaf, aku ada pekerjaan."
"Heee? Jangan-jangan kau mau jadi seperti Sasuke-kun yang workaholic ya?" Sakura menatap Hinata kecewa. Begitupun Ino dan Ten-ten.
Dari pandangan Hinata, sosok raven yang dikenalnya baru saja meninggalkan kelas.
"Ah, hahaha," Hinata tersenyum hambar. "A-aku benar-benar minta maaf. Aku a-ada pekerjaan sepulang sekolah."
"Sebentar saja ya!" Ten-ten memohon.
"T-Tidak bisa," Hinata mungkin harus belajar cara menolak dengan tegas.
"Yaaa…," Sakura mendesah kecewa.
"K-kalau begitu, aku permisi ya, j-jaa…," Hinata pun membernaikan diri untuk mengundurkan diri.
Saat Hinata mencapai gerbang sekolah. Sebuah Audi berwarna biru gelap melaju pelan dan kemudian menaikkan kecepatannya saat mencapai jalanan. Itu mobil teman—tuannya—Uchiha Sasuke. Tuannya itu akan kembali pulang malam nanti.
Matahari sudah hampir tenggelam saat mobil Audi tuannya menghilang dari pandangannya.
Ucapan pemuda bernama Uchiha Sasuke yang sekarang telah menjadi tuannya kembali bergema dala telinganya.
"Hubungan kita di kelas tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu padaku. Bersikaplah seperti biasa di kelas. Kau berangkat dan pulang sekolah dengan caramu sendiri. Tentu saja kau tidak mau menumpang di mobilku lalu menimbulkan gossip di sekolah kan?"
Tentu saja Hinata tidak mau.
Setelah ini Hinata akan menuju hotel Sasuke untuk melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Makan malam yang masih hangat sudah tertata rapi. Menu hari ini adalah nasi kare. Tak lupa dengan segelas jus tomat menemani.
Hinata menghela nafas. Bukannya lelah karena telah membersihkan setiap sudut kamar hotel milik tuannya, tapi lelah karena menunggu kepulangan tuannya. Jika tuannya tidak segera pulang, maka dirinya juga tidak bisa segera pulang ke apartemennya.
Menghilangkan bosan, Hinata berinisiatif membersihkan kamar Sasuke.
Ruangan yang serba biru dongker dan sederhana segera menyapa indra penglihatan Hinata saat ia memasuki kamar Sasuke. Sebuah ranjang serba biru dongker, sebuah laci, dua buah lemari, televisi, sebuah AC, dan sound sistem kecil. Cukup Sederhana.
Ruangan itu nampak rapi dan bersih. Terakhir Hinata membersihkan kamar ini adalah dua hari yang lalu. Tapi kamar ini nampak tetap bersih. Tempat tidurnya pun tidak acak-acakkan. Sepertinya tuannya sudah dilatih untuk membersihkan kamarnya sendiri.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal pandangan Hinata. Lemari besar di sudut kamar Sasuke agak terbuka. Hinata mendekatinya untuk mengurangi rasa penasarannya. Dan dari bawah lemari tersebut menyembul sebuah sabuk yang membuat lemari tersebut gagal menutup.
"Di sana kau hanya boleh merapikan tempat tidurku. Selebihnya jangan kau sentuh tanpa izinku."
Ucapan Sasuke berdengung di telinga Hinata.
Seolah tak memperdulikan dengungan di telinganya, Hinata membuka lemari tersebut dengan niat merapikannya dan membuatnya tertutup. Tapi sebelum sempat Hinata melakukan apa yang dipikirkannya, mata athemys Hinata melebar sempurna.
Di balik pintu kayu lemari tersebut, tersembunyi alat-alat yang membuat Hinata shock bukan main.
Tali yang cukup panjang dengan ketebalan yang berbeda-beda tergantung, beberapa tumpuk lilin, dua buah benda semacam cambuk tergantung, borgol besi, penutup mata, selotip hitam, dan beberapa alat lain diam tak bergerak menyaksikan ekspresi Hinata yang saat ini telah berubah sangat ketakutan.
Klek.
"Hinata, kau di san–!?" Uchiha Sasuke yang nampaknya baru saja tiba namun tak menemukan Hinata, memasuki kamarnya dan memergoki Hinata tengah menatap lemari rahasianya dengan ketakutan.
Kaki Hinata terasa lemas. Instingnya terhadap bahaya memeringatkannya untuk segera melarikan diri dari ruangan tersebut.
Dengan susah payah Hinata bangkit berdiri dan bebalik untuk segera kabur dari kamar tersebut.
Tapi sayangnya, pintu kamar tersebut telah dihalangi oleh sang pemilik kamar. Nampaknya Hinata belum menyadari kehadiran Sasuke. Dia masih terlalu kaget untuk menyadari teriakan Sasuke yang berkali-kali memanggil namanya setiba tadi.
Hinata ketakutan. Sangat ketakutan.
Uchiha Sasuke sekarang telah memblokir akses keluarnya dari kamar bahaya ini dengan ekspresinya yang datar.
Bagaimana ini? Hinata sama sekali tidak bisa membaca ekspresi datar Sasuke.
"M-Maafkan s-saya… U-Uchiha-s-sama…" Hinata mulai terisak.
Dengan tenang Sasuke melangkah memasuki kamarnya.
Hinata masih belum bisa berkedip dengan tenang.
Dengan satu sentakan, tangan kekar Sasuke menarik Hinata dan menjatuhkannya di ranjang miliknya.
"Bukankah sudah kuperingatkan agar tidak menyetuh barangku? Ternyata kau cukup lancang Hyuuga." Ujar Sasuke dingin.
Dengan tenang dilepaskannya jas sekolahnya dan membuangnya sembarangan. Di dekatinya lemari yang merupakan sumber masalah dan membukanya.
"Hn… sepertinya aku memang harus menghukummu atas tindakan lancangmu."
Sakit. Punggung Hinata terasa sakit saat disentak begitu saja ke arah ranjang.
Terlihat tangan Sasuke mengeluarkan tali berketebalan sedang dari lemari gila tersebut.
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Hinata. Menunggu waktunya untuk tumpah.
Uchiha Sasuke terlihat sangat berbeda sekarang. Sangat menyeramkan. Mata kelamnya itu memang biasa menatap sesuatu dengan dingin, tapi kali ini mata kelam itu tidak hanya menatap dingin, tapi seperti sebuah jurang kegelapan yang tak berujung.
Hinata tak berkutik. Sasuke dengan tenaganya, berhasil mengikat seluruh alat gerak Hinata di setiap ujung ranjangnya.
Baru setelah itu Hinata bisa mengedipkan matanya. Dia begitu ketakutan sampai berkedippun dia tak mampu.
Dan setelah sepersekian detik dia berkedip, baru di sadarinya, dirinya sekarang terikat di ranjang tuannya. Karena kesalahannya.
"U-Uchiha-s-sama m-maafkan s-saya…" Hinata kembali mengulang permintamaafaannya.
Uchiha Sasuke sekarang tengah berdiri di sampingnya dengan tatapan dingin dan menarik dasinya lepas.
Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya meminta maaf.
Gelap. Sasuke telah memasangkan dasinya menjadi penutup mata untuk Hinata.
"U-Uchiha-s-sama… t-tolong…. M-maafkan s-saya…," Hinata terisak.
Berikutnya yang bisa Hinata dengar adalah bunyi sesuatu yang sedang digunting. Dan besamaan dengan itu perutnya merasakan desiran dingin udara yang dihasilkan oleh AC di kamar tesebut.
Hinata tercekat bukan main saat merasakan dinginnya stainless-steel gunting menyentuh kulitnya .
"A-apa y-yang a-anda l-lakukan U-Uchiha-S-sama!?"
Tidak ada jawaban.
Breeeet.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Sasuke merobek seluruh pakaian Hinata hingga telanjang. Memperlihatkan dua gumpalan kenyal pada dada Hinata, beserta kewanitaan milik Hinata yang ditumbuhi sedikit rambut di sana.
"Pelacur." Sasuke berguman datar.
Air mata sudah mengalir deras membasahi dasi sekolah Sasuke. Tubuh Hinata menegang luar biasa dan berusaha meronta sekuat tenaga.
"U-Uchiha-s-sama! L-Lepaskan s-saya!" Hinata memberanikan diri berteriak lantang.
Sasuke yang baru saja kembali dari mengambil sebuah cambuk yang berupa helai-helai tali berwarna merah dari lemari hanya bisa tersenyum miring mendengar teriakan Hinata.
Diusapkannya cambuk tersebut pada perut telanjang Hinata dengan ekspresi datar.
Tubuh Hinata semakin menegang merasakan benda halus meraba perutnya. Jantungnya berdetak luar biasa keras.
"….Satu," setleah menggumankan sebuah angka, Sasuke menghempaskan cambuk tersebut pada perut Hinata.
Lengkingan kesakitan segera memenuhi kamar pribadi Sasuke.
"….Dua." Lagi. Dihantamkannya cambut tersebut pada paha Hinata.
"…Tiga." Cambukan yang diciptakan Sasuke membentuk bekas berupa guratan-guratan merah pada badan hingga paha Hinata.
"S-Sakit… U-Uchiha-s-sama… m-maafkan s-saya…," Hinata kemabli menggumankan kalimat kosong.
Rasa perih mulai menggerogoti tubuhnya.
Sasuke dengan wajah tanpa ekspresi mulai menurunkan resleting celananya, mengeluarkan miliknya yang sudah mengeras. Tanpa ragu Sasuke menaiki ranjangnya dan tubuh Hinata. Mengarahkan miliknya ke arah mulut Hinata. Menyetuhkan miliknya pada bibir Hinata.
"Kulum." Sebuah perintah tak terbantakan meluncur dari bibir Sasuke.
Hinata yang merasakan bibirnya disentuh oleh sesuatu yang tumpul dan asing lebih memilih untuk terus menutup rapat mulutnya.
Tak kunjung mendapat apa yang diinginkannya, Sasuke dengan geram memencet hidung Hinata sehingga membuat Hinata gelagapan karena kesusahan bernafas. Saat mendapati mulut Hinata terbuka guna mencari udara, Sasuke tak menyianyiakan kesempatan yang ada dan segera menghujamkan miliknya ke dalam mulut Hinata.
"Ug-guuughh…," Mulut Hinata terpenuhi oleh milik Sasuke.
"Hisap. Jangan gunakan gigimu. Jika kau berani-berani menggunakan gigimu, akan kupatahkan kakimu." Nada datar mengalun memasuki telinga Hinata.
Air mata kembali mengalir turun.
Sakit. Tenggorokannya sakit.
Hinata tidak tahu apa yang sedang terjadi. Juga apa yang sudah dimasukkan tuannya ke dalam mulutnya.
Karena Hinata tak segera melakukan apa yang dinginkannya, dengan kesal Sasuke menggenggam kepala Hinata dengan kedua tangannya dan menggerakan kepala lavender pelayannya itu ke depan dan kebelakang. Seketika kejatantanannya yang terbenam dalam mulut Hinata merasakan kenikmatan yang asing.
Asing. Rasanya asing. Walau Sasuke sudah berkali-kali dioral oleh banyak wanita di luar sana, tapi entah kenapa mulut Hinata terasa cukup asing. Dan… sangat nikmat.
"Khhh…" Sasuke mati-matian menahan desahan yang dirasakannya saat miliknya berkedut merespon pijatan dari mulut Hinata.
"KKKKHHH!" Sasuke menyemprotkan sperm miliknya dengan keras pada mulut Hinata. Cukup banyak. Hingga membuat beberapa menetes keluar.
"…..hhhh hhhh…" setelah puas mengeluarkan sisa orgasme-nya pada mulut Hinata, Sasuke mulai menarik miliknya keluar dari mulut Hinata perlahan.
"Telan." Lagi-lagi Sasuke mengucapkan perintahnya.
Hinata tak tahu apa yang baru saja menyembur mulutnya. Tak berniat membuat Sasuke lebih marah lagi, Hinata menuruti apa yang diperintahkan Sasuke. Menelan masuk sperm Sasuke.
Menjijikan. Rasanya sangat menjijikkan.
Ditariknya dasi yang menutupi pandangan Hinata dengan sekali tarik.
Athemys Hinata perlahan membuka. Sebuah kamar gelap mulai menyapa penglihatannya. Di hadapannya, Uchiha Sasuke—tuannya—berdiri dengan lantang dalam keadaan telanjang dan dengan kejantanan yang masih berdiri tegak.
Otak Hinata bekerja cepat. Akhirnya dia tahu apa yang sedang terjadi di sini. Uchiha Sasuke, temannya, dan juga tuannya sedang memperkosanya.
Tatapan Athemys Hinata menjadi kosong seketika. Kepalanya ia tundukkan untuk melihat apa yang sedang tuannya coba lakukan.
Sasuke melepas ikatan ikatan pada kaki kiri Hinata.
Apakah ini sudah berkahir? Hukumannya telah berakhir?
Tapi tak diduga, Sasuke menaiki ranjang dengan posisi miring menghadap tubuh Hinata, mengangkat kaki kiri Hinata dengan satu tangannya, dan mengarahkan kejantanannya ke dalam milik Hinata.
Saat ujung kejantanan Sasuke berusaha menerobos masuk ke dalam milik Hinata rasa perih tak tertahankan menyengat Hinata bagai listrik.
"S-Sakit. U-Uchiha-s-s-sama… s-sakit. Nghhhkkk…," Hinata mengigit bibir bawahnya guna menahan sakit.
"Hn, berhentilah bicara pelacur sialan. Kau menikmatinya kan? Disetubuhi olehku yang merupakan dambaan hati setiap perempuan?"
Satu hentakan. Sasuke menghentakkan pinggulnya dengan kuat. Membuat kejantanannya masuk sangat dalam ke dalam milik Hinata.
Ada yang aneh. Ada yang basah dan kental melumuri kejantanannya. Sasuke menunduk untuk memeriksa apakah itu.
Dalam temaran lampu ruang tengah, Sasuke mampu melihat sesuatu yang berwarna merah mengalir dari milik Hinata. Sasuke tercengang seketika.
"Kau… masih perawan!?" Sasuke tak mampu menyembunyikan nada terkejutnya.
Tidak ada jawaban dari Hinata. Hanya terdengar suara isakan dan tubuh Hianat yang mendadak gemetar.
Untuk pertama kalinya. Sasuke merasa bersalah saat meniduri seorang perempuan.
Tapi dia tidak bisa mengikhiri ini begitu saja. Dia masih belum merasa puas.
"Kalau begitu akan kulakukan dengan halus."
Perlahan Sasuke menggenjot pinggulnya ke atas dan kebawah, menggesek dinding milik Hinata yang mencengkramnya kuat.
Lagi-lagi Sasuke merasa asing. Asing dengan segala pijatan yang dilakukan milik Hinata pada miliknya. Baru kali ini, dia merasakan sensasi luar biasa saat mencubu perempuan.
Tidak ada erangan yang terdengar dari bibir Hinata. Biasanya, para perempuan yang disetubuhinya akan mengerang nikmat sesuai irama.
Sasuke hanya bisa menatap nanar tubuh telanjang Hinata sambil merasakan nikmatnya menghujamkan miliknya pada milik Hinata.
Hingga dimuntahkannya seluruh sperm miliknya ke dalam milik Hinata.
-To Be Continuted
A/N:
Yuhuuu~ Lemon akhirnya muncul! BANZAI! :v
Bagaiamana Lemonnya? Semoga tidak mengecewakan m(_ _)m
Oh ya, sekalian pengumuman. Karena saya biasa mengerjakan fiksi ini di hari jum'at sepulang sekolah, mungkin untuk minggu depan akan saya update hari Sabtu sepulang UTS. Saya ada UTS minggu depan sodara-soadara :'v
Tapi sejujurnya saya ini tipe orang yang tidak belajar sebelum ujian. Lalu kenapa saya tidak menulis fiksi ini di haru jum'at seperti biasa? Karena hari Sabtu-nya materi yang diUTSkan itu... KEJURUAN! Saya siswa SMK, jadi Kejuruan tidak bisa dianggap remeh. Hiks.
Oke sekian dari saya.
Thanks for all reviewer, follower, fav'er.
I LOVE YOU SO MUCH!
Mind to review?
Sign-Yoshi Funf-kun
