…………………………………………………….
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Friendship / Drama
Rated : T
Main Character : Haruno Sakura
Pairing : SasuSakuNaru
…………………………………………………………….
I, YOU and WE
By : YaraiYarai-chan
Chapter 4
………………………………………………………………………………………………….
"Ada apa kau datang keruangan ku?" Ino tidak mengindahkan pertanyaan dari Sakura. Ia terus saja berjalan medekat ke meja kerja Sakura dan duduk dikursi dihadapan Sakura.
"Entah kenapa, rasanya malas sekali hari ini untuk datang kerumah sakit." Tangan kanannya digunakan untuk menopang wajah yang terlihat sekali sangat tidak bersemangat. Ino memandangi Sakura yang sedang sibuk dengan map-map yang berserak didepannya.
"Apa sih, rahasianya supaya selalu bersemangat bekerja sepertimu?" Tanya Ino yang pandangannya tidak lepas dari map-map dimeja Sakura.
"Bersungguh-sungguh." Jawab Sakura singkat.
"Haahhh….Terima kasih banyak deh, atas jawabanmu." Kini Ino telah mengubah posisi tangannya. Menyilangkan kedua tangannya di atas meja dan mengambil posisi kepala yang nyaman diatas kedua tangannya.
Sakura yang melihat kelakuan sahabatnya itu, hanya bisa memutar bola mata emeraldnya.
"Kau benar-benar bosan, ya?" Ino mengaggukkan kepalanya. Kini matanya sudah terpejam.
"Gimana, setelah laporan ini selesai, kau membantuku?" Ino menegakkan kepalanya, memandang Sakura.
"Membantumu menyelesaikan map-map memusingkan lainnya?" Tanya Ino dengan pandangan mata yang mengatakan –kau-pikir-aku-mau?
"Tidak. Setelah ini, aku rencananya mau kerumah Sasuke."
Ino yang telah kembali meletakkan kepalanya diatas tangannya yang menyilang diatas meja, tiba-tiba mendongak.
"Mau ngapain?"
Perhatian Sakura masih pada map yang tengah ia kerjakan.
"Kau tahu kalau ke-empat orang itu akan pulang sore ini, kan?" Ino mengangguk, menunggu penjelasan lebih lanjut dari Sakura.
"Dan kau tahu juga kalau rumah Sasuke itu sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun tanpa ada penghuninya, kan?" pandangan Sakura masih pada mapnya.
"Kau berencana untuk membersihkan rumah itu?" Sakura mengangguk.
"Kalau kau mau, kau boleh ikut, Ino. Lumayan, untuk membantu."
"……Lebih baik dari pada harus tinggal di rumah sakit."
"Ukh…rumah ini benar-benar kotor." Kata Ino sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan hidung. "Debu dimana-mana." Lanjutnya.
"Maklumlah. Namanya saja rumah kosong." Kata Sakura sambil mengelap kaca didapur rumah Sasuke itu.
Ino membawa kain pelnya kelantai dua. "Aku bersihkan kamar yang diatas dulu, ya. Sepertinya kamar diatas kamar Sasuke-kun." Langkah Ino semangat menaiki tangga.
"Kamar lantai dua, kamar terakhirkan? Habis itu kita pergi belanja!" teriak Sakura pada Ino yang sudah menghilang kelantai dua.
"IYAA…"balas Ino teriak dari lantai dua.
Setelah selesai dengan urusan bersih-bersih didaerah dapur, Sakura berjalan menuju ruang keluarga rumah itu. Ada beberapa sudut yang belum ia bersihkan dari debu-debu yang menimbun. Saat tengah asik mengelap beberapa keramik-keramik kecil di buffet ruang keluarga itu, Sakura menemukan sebuah bingkai foto. Dilapnya sedikit kaca bingkai itu, dan setelah itu tampak gambar empat orang didalamnya. Satu orang laki-laki paruh baya, dua orang anak lelaki, dan seorang wanita paruh baya.
Melihat itu, Sakura tersenyum lembut. Baru kali ini dia melihat foto keluarga Sasuke. Sasuke kecil, sangat imut dan lucu dibanding yang sekarang ini. Dia yakin, anak lelaki satunya pasitlah Uchiha Itachi. Itachi sangat mirip dengan ayahnya dan Sasuke lebih terlihat dominan dengan ibunya.
"Sakura!"
Sakura langsung mengalihkan pandangannya pada Ino yang berjalan kearahnya.
"Kau tahu, aku menemukan apa?" satu alis Sakura naik, dahinya berkerut.
"Apa?" tanyanya sambil meletakkan kembali bingkai foto itu pada tempatnya setelah mengelapnya lagi.
"Aku menemukan ini." Kata Ino sambil menyerahkan sebingkai foto pada Sakura. Melihatnya, Sakura terkaget dan kemudian tersenyum lembut.
"Itu foto kelompok kalian, kan?" sakura mengangguk-masih memandangi foto itu.
"Rasanya jadi kangen."
"Tenang, semua akan kembali seperti semula." Kata Ino sambil menepukkan tangan kanannya pelan pada bahu Sakura. Memberi semangat kepada sahabatnya itu.
"Dari pada itu…" Ino mengikuti langkah Sakura yang menuju lantai dua.
"Apa?" Tanya Sakura saat memasuki sebuah kamar yang pintunya dibiarkan terbuka oleh Ino.
"Aku merasa aneh sekali melihat sikapmu belakangan ini."
Sakura meletakkan bingkai foto itu pada meja yang terdapat dikamar itu.
"Aneh kenapa?" tanyanya seraya mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut kamar itu.
"Aku hanya….ingin tahu saja…emm…., sebenarnya, kau ini menyukai siapa sih?"
Pandangan Sakura pada pemandangan diluar jendela kamar Sasuke itu teralihkan pada Ino yang berada di belakangnya. Sakura menghela nafas berat dan kemudian duduk di pinggir kasur.
"Apa maksudmu?"
"Kau mengerti maksudku. Sikapmu pada Naruto belakangan ini sangat berbeda dari sebelumnya. Kau memeluknya lembut sewaktu ia baru pulang dari pertempuran, membuatkannya ramen, dan memberikan ramen buatanmu pada orang lain karena tahu dia sudah mendapatkannya dari orang lain."
"Yah, karena dia sudah mendapatkan ramen dari Hinata mana mungkin dia menghabiskan ramenku." Sakura berkilah.
"Tapi, setelah itu kau terlihat jadi berantakan. Tidak menyelesaikan tugas dari nona Tsunade tepat waktu dan mejatuhkan mangkok ramen itu."
"Mangkok ramen itu jatuh karena aku tidak menaruhnya dengan benar…"
"Jangan berkilah terus, Sakura! Kau harus jujur dengan dirimu sendiri. Tampak sangat jelas, bahwa kini kau menyukai Naruto tapi, kau masih belum bisa melupakan Sasuke, kan?" pandangan mata Ino terlihat sangat serius. Ia menatap Sakura dengan pandangan tajam dan memojokkan.
Sakura terdiam. Kini ia memandangi tangannya yang sedang mencengkram seprei pastel kasur itu.
"Tidak. Bukan begitu. Sebenarnya….."
………….
"Kalian berdua yang membersihkannya?" Tanya Sasuke ketika dia sudah berada diruang keluarga rumahnya.
Sakura yang baru kembali dari arah dapur menjawab, "Ya. Aku dan Ino dari pagi membersihkannya."
"Memangnya, boleh meninggalkan rumah sakit begitu saja?"Tanya Karin yang sekarang duduk di sebelah Sasuke.
"Tidak apa, kalau hanya sekali-sekali. Lagipula, aku tidak sedang punya banyak pekerjaan dirumah sakit dan Ino berkali-kali mengeluh kalau dia bosan hari ini dirumah sakit. Yah sudah, jadinya kami pergi kesini dan membereskan semuanya."kata Sakura panjang lebar.
"Kemarin saja, kau berkata mau menciptakan image atasan yang baik, tapi sekarang kau membolos." Kata Sasuke sedikit menyinggung.
Sakura tersenyum bersalah dan kemudian berkilah, "Tapi, aku sudah izin sebelumnya. Bahkan, aku sudah bilang juga pada Nona Tsunade." Sakura pura-pura memasang wajah cemberut yang lucu. Melihat itu, Sasuke tidak bisa untuk tidak tersenyum dan terkekeh kecil.
"Ternyata kau tidak berubah sepenuhnya, masih seperti anak kecil." Sasuke berkata dengan mencibir.
"Enak, saja!" sakura memukul pelan bahu kanan Sasuke. Sakura tahu, Sasuke memancing obrolan dengannya dan ia menerimanya saja, karena jarang-jarang Sasuke bersikap seperti itu, kan?
"Oh ya, Sakura!" panggil Ino yang baru datang dari arah dapur.
"Kau bisa belikan beberapa bumbu yang tadi lupa kita beli saat belanja? Masakanku sudah hampir siap, nih!"
Sakura bangkit dari duduknya. "Iya, iya, Bu!"
"Cepat, sana! Jangan lama, ya!"
"Baiklaahh….. kau ini tidak kalah cerewetnya dengan ibuku."
"Baguslah, berarti aku adalah calon ibu yang baik." Ino membalikkan badannya dan kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak di bantu dengan Juugo. Suigetsu sedang berada dikamarnya. Sejak sampai dirumah Sasuke, ia langsung mengurung diri di kamar yang disediakan untuknya. Tertidur, mungkin.
Sakura berjalan menuju pintu depan. "Aku pergi dulu ya, Sasuke, Kar…"
"Aku boleh ikut, Sakura-san?" potong Karin seraya berdiri dari duduknya.
Sakura terdiam sejenak memandangi Karin. "Sebaiknya kau disini saja. Kau kan, baru keluar dari rumah sakit. Istirahatlah!".
"Tidak apa. Aku sekalian ingin jalan-jalan sore." Kata Karin meyakinkan.
"…."
"Baiklah."
" Sasuke, sebaiknya kau istirahat saja dulu sekarang. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh." Pesan Sakura sebelum ia menghilang di balik pintu depan disusul dengan Karin dibelakangnya.
Sasuke beranjak dari duduknya dan kemudian berjalan menuju arah kamarnya. Saat melewati dapur, ia bisa mencium aroma sedap dari masakan Ino. Ia bisa mendengar pula Ino yang menyuruh Jugoo untuk lebih halus lagi memotong daun bawangnya. Sasuke tidak peduli dan berbelok dari arah dapur menuju lantai dua kamarnya.
Rasa rindu menghinggapinya saat ia memasuki kamarnya lagi. Terlihat lebih rapi dan bersih-karena baru dibersihkan. Ia berjalan terus menuju meja yang berada di dekat kasurnya. Mengambil sebuah bingkai foto yang berdiri sendiri disana. Foto tim 7. Ada Kakashi-sensei, dia, Sakura dan Naruto. Sasuke tersenyum kecil melihat ekspresi mukanya dan Naruto didalam bingkai itu. Ekspresi mereka memang sedang tidak baik di foto itu, berbeda dengan Kakashi-sensei yang tersenyum-walau dibalik maskernya dan Sakura yang juga tersenyum manis. Dia mengusap lembut permukaan kaca bingkai itu dan kemudian telunjuknya berhenti pada satu wajah yang tersenyum sangat manis disana, dan tanpa terasa Sasuke pun, ikut tersenyum kecil. Sadar dengan kelakuannya, Sasuke menggelengkan kepalan kuat-kuat.
'Bodoh'.
……
"Hanya ini yang dibeli, Sakura-san?"
"Iya."
"Aku kira kita akan membeli banyak bumbu."
Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya, ini cuma bumbu yang kami-aku dan Ino- lupa beli saat berbelanja pagi tadi."
Kedua gadis itu berjalan beriringan melewati jalan yang sepi dan kemudian masuk kedalam komplek Uchiha.
"Kalian baik sekali."kata Karin tiba-tiba disela kesunyian mereka. Sakura hanya memandang bingung.
"Kalian berdua memberesi rumah Sasuke yang besar itu dan pergi berbelanja lalu memasak."
Sakura tersenyum. "Tidak apa. Lagi pula kami yang mau melakukannya."
"Tapi, kau juga terlalu mengurusi dan mengkhawatirkan kami berti….."
"Teman memang harus saling membantu." Potong Sakura.
Karin tersenyum memandang Sakura yang tersenyum kearahnya. "Kau tahu, Sakura-san? Aku tidak pernah memiliki teman dari dulu. Apalagi, teman perempuan yang baik sepertimu, ini." Sakura diam, tidak tahu harus menanggapi apa.
"Makanya, saat kau mengatakan bahwa teman harus saling membantu, aku merasa sekarang sungguh memiliki seorang teman." Pandangan Karin tak lepas dari Sakura. Kini mereka berdua berhenti terlebih dahulu di pinggir sebuah sungai yang letaknya tak jauh dri rumah Sasuke. Tempat dimana dulu, Sasuke berlatih jurus bola api pertama kali dengan ayahnya.
"Makanya, sekarang kau harus bisa lebih membuka dirimu pada orang lain disekitarmu, Karin. Agar kau memilki banyak teman lagi. Dengan kau terbuka, orang akan mengenal dirimu dan akan menjadi temanmu."
Karin tersenyum lagi, kini senyuman yang lebih tulus dari senyuman-senyumannya selama ini. "Terima kasih."
Mereka berdua duduk di ujung jempatan kecil di atas sungai itu. Mencelupkan kedua kaki mereka ke dalam air sungai yang jernih dan dingin. "Kupikir, duduk disini terlebih dahulu tidak akan membuat Ino membunuh kita karena terlalu lama, kan?" Tanya Sakura dan Karin hanya tertawa kecil.
"…"
"…"
"…" mereka terdiam dalam alunan melodi angin sore yang berhembus.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu, Sakura-san?" Karin memcah keheningan.
Sakura memandang bingung pada Karin.
"Akhir-akhir ini, Ino-san banyak bercerita denganku disela-sela waktunya tentang kau, Sasuke-kun dan Naruto." Sakura masih tetap diam, menunggu gadis itu melanjutkan kata-katanya.
"Ino-san sering berkeluh tentang sikap anehmu belakangan ini, yang ia yakini itu ada kaitannya dengan Naruto dan Sasuke-kun." Karin kembali terdiam dan Sakura masih diam, mendengarkan. Namun, ekspresi Sakura terlihat biasa-biasa saja, seperti tahu cepat atau lambat Karin akan mengajaknya mengobrol mengenai masalah ini.
"Ino-san pikir, karena aku adalah satu-satunya perempuan yang dekat dengan Sasuke selama ini, jadinya dia mengajakku untuk berbagi. Ino-san sering bertanya padaku dan inipun sebenarnya adalah pertanyaan ku juga."
"…"
"Apa?"kali ini Sakura bersuara.
"Sebenarnya, siapa yang ada dihatimu sekarang? Sasuke-kun atau Naruto?"
Sakura kembali diam, kini ia memandang lurus kearah sungai.
"Sasuke-kun sebenarnya menyukaimu."
Sakura mengalihkan pandangan bola matanya. Memandang gadis berambut merah yang kini sedang menatapnya tajam.
"Dari mana kau bisa berpikir seperti itu?"
"Kau tahu, Sakura-san? Aku bisa merasakannya. Tatapan Sasuke-kun padamu, cara bicaranya padamu, itu semua menggambarkan rasa sukanya padamu. Dan kau juga menyadari hal itu kan, Sakura-san?"
Sakura masih tetap diam.
"Melihat kau tidak tetap atas pendirian hatimu yang dilain waktu kau sangat baik, perhatian pada Naruto dan diwaktu lainnya, kau sangat lembut pada Sasuke. Jujur, itu membuatku sedikit geram. Aku mengambil resiko besar berkata seperti ini, padamu Sakura-san. Karena.., mungkin saja kau akan menjauhiku dan kita tidak menjadi teman lagi. Tapi, aku merasa aku harus benar-benar mengatakan ini padamu." Karin terdiam dan menarik nafas panjang saat mendengar Sakura berkata, "Lanjutkanlah!"
"Disaat kau bersikap sangat baik dan perhatian pada Naruto didepan Sasuke, aku dapat melihat rasa muak, tidak suka dan benci dari mata Sasuke. Dan disaat kau bersikap lembut pada Sasuke aku juga dapat melihat kesenangan dan kenyaman yang ia rasakan. Aku merasa kau mempermainkan perasaaan Sasuke. Disatu waktu membuatnya terluka dan disatu waktu membuatnya nyaman. Itu…, itu membuatku merasa geram. Aku tahu aku bukan siapa-siapa…., tapi…."
"Mungkin ini karma dari Kami-sama, karena aku pernah menyianyiakan perasaan seseorang yang begitu tulus padaku dan pada akhirnya aku jatuh cinta padanya disaat dia mulai melupakan perasaannya padaku." Jawab Sakura dengan sedikit tidak nyambung dengan pernyataan Karin. Mendangar Sakura berkata seperti itu, Karin berganti diam dan mendengarkan.
"Aku memang menyukai Naruto saat ini dan perasaanku pada Sasuke tak lebih dari perasaan sayang pada sahabat dan saudara sendiri." Karin membulatkan matanya mendengar pernyataan tak terduga dari Sakura. Dia pikir, Sakura menyukai Naruto tetapi tidak dapat melupakan Sasuke.
"Sikap lembutku pada Sasuke, adalah sikap yang selalu kuberikan pada setiap orang yang kuanggap sangat berarti dalam hidupku, sahabatku, saudaraku. Awalnya, aku tidak tahu tentang perasaan Sasuke padaku. Tapi, seperti yang tadi kau katakan Karin, sekarang aku menyadari perasaan Sasuke padaku disaat yang sama ketika aku sadar, perasaan Naruto padaku kini hanyalah sebatas perasaan sayang dan perhatian sahabat dan saudara sendiri." Sakura berhenti. Cairan bening perlahan menetes turun dari matanya.
"Aku pernah berfikir, mungkin ini memang takdir kami untuk menjadi sahabat selalu dan selamanya. Hanya Sahabat."
To be Continued
Lebih panjang dari chap sebelum-sebelumnya. Dan rasanya…..makin ancur aja…..!!!
OMG,OMG…..ada apa ini? Sudah telat-banget- updet, crita makin ancur.....
Haaahh…. Maafkanlah, Yarai ini…….
Kesibukan diskola karena ada banyaknya acara dan PR yang terus datang silih berganti*?* membuat Yarai jadi tidak konsen mengerjakan fic ini….
Maaf, ya……
Thx for Angga Uchiha Haruno, ………, Aya-na Byakkun, Ryuku S. A. J, Misa UchiHatake, Nakamura Kumiko-chan, Intan Sasusaku, elven lady 18, Peaphro, Masahiro 'Night' Seiran.
