Title: Jebal, Only Look At Me
Cast : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Kim Hyun Joong
Jessica (Kim) Jung
Tiffany (Kim) Hwang
Park Yoochun
Kim (Park) Junsu
Kim Hyuna
And OC dan akan ada yg menyusul
Genre : Angst/Hurt/Comfort/Family/Romance/Drama
Rate : T maybe T+
Warning : GS for uke
Disclaimer : all the characters are not mine, they belong to management, parents, families, and God.
Summary : Kesalahan fatal itu seperti apa? Haruskah ditebus dengan siksaan seumur hidup? Lihatlah aku walaupun hanya 1 kedipan mata kalian saja.
.
.
.
Jebal, Only Look At Me
-Chapter 3 –
.
.
.
.
Saat berhenti dipersimpangan jalan, menunggu lampu hijau bagi pejalan kaki yang hendak menyebrang, Jaejoong melihat seorang anak kecil yang berlari membawa balon dari arah belakangnya. Anak itu tak sadar jika ia sudah ditepi jalan, ia terus berlari sambil menangis, seperti dikejar seseorang.
Jaejoong yang melihatnya pun refleks mengejar anak yang sekarang sudah berada ditengah jalan, ia juga tak memperhatikan sekitarnya. Ia juga tak peduli luka pada tubuhnya. Yang ia pedulikan keselamatan anak itu.
Jaejoong memanggil anak itu, selagi kendaraan tidak terlalu banyak yang melintas.
"Adik kecil jangan lari! kau bisa tertabrak! Hey tunggu kakak"
"hiks..hikss..umma jahat...hikss"
"adik kecil jangan lari Kyyaaaaa..."
"ummaaaaa..."
"JAE!"
"JAE!"
.
.
.
.
Author pov
.
Suasana jalan raya yang biasanya ramai lancar oleh kendaraan yang berlalu lalang itu mendadak menjadi ricuh dan macet. Bagaimana tidak, 2 korban kecelakaan tabrak lari itu masih saja menjadi tontonan publik tanpa ada niatan dari masyarakat untuk menolong mereka.
.
Seorang yeoja yang melihat kejadian itu langsung dengan mata kepalanya sendiri masih merasakan efek shock membuatnya seakan seperti manusia tanpa nyawa, tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya.
.
Di lain tempat tak jauh dari kerumunan tersebut, sesosok namja hanya mematung dengan tatapan kosong memandang kerumunan tersebut setelah tadi ia reflek berteriak di dalam mobil saat melihat orang yang seharusnya dijaga olehnya itu tertabrak hanya untuk menyelamatkan seorang anak kecil. Tangannya masih bergetar kecil diatas setir mobil yang ia pegang, tak disadarinya pula setetes air mata mengalir indah dari matanya. Namja itu pun segera sadar dari dunianya dan perlahan membuka pintu mobil dan berlari menghampiri kerumunan tersebut.
.
"Jae noona, irreonabwa! Ppali irreonabwa! Sadarlah noona" namja tersebut membawa tubuh Jaejoong kepelukannya, menepuk-nepuk pipi Jaejoong agar tersadar.
"nngghh..neohhhmmuhhh appaaahhh...aarggghhh" rintih Jaejoong saat ia membuka matanya perlahan
"noona, jangan tidur. Jangan tutup matamu kita kerumah sakit sekarang ne jebal" namja itu masih saja menepuk pipi Jaejoong, sesekali tangannya yang berada dibawah tengkuk Jaejoong mengelap darah yang keluar dari sisi kiri kepala Jaejoong dengan sapu tangan agar tidak banyak darah yang keluar.
"Noona! Jangan tidur! Buka matamu!"
.
Suara teriakan dari sang namja lantas menyadarkan sosok yeoja yang tengah shock tadi. Air matanya pun meluncur begitu deras dan ia berlari cepat, tak perduli tubuhnya menabrak kerumunan orang-orang tersebut, yang terpenting ia harus menyelamatkan kedua orang yang berarti bagi hidupnya.
.
Kim Jaejoong dan Kim Yunjae.
.
"Jae-ah, bangun aegy ini umma! Yunjae-ah bangun sayang!" sama seperti namja tadi, yeoja yang ternyata Junsu itu menepuk-nepuk keras pipi Yunjae.
"Jun..su..ie..uhukk..uhukk..bawahhhh..anakhhh..uhuk..uhukk..ituuhh..ppalliiwaahhh..uhukk.."
"Jae unnie, bertahanlah kita kerumah sakit sekarang. SIAPAPUN TOLONG BANTU KAMI MEMBAWA MEREKA KERUMAH SAKIT ITU PPALI!" Junsu berteriak meminta tolong, dan orang-orang yang ada disana pun membantu Junsu memapah Yunjae dan Jaejoong.
.
.
.
-Seoul Internasional Hospital-
Drrttt
Drrttt
"Yoboseyo?"
"..."
"Ne umma, sepertinya aku terlambat pulang kerumah, aku telah menemukan'nya' umma"
"..."
"ani, saat pulang dari bandara, aku melihatnya kecelakaan dijalan"
"..."
"MWO? haruskah itu? Kita tidak mungkin membuatnya menderita kan? Aku tak tega umma"
"..."
"tapi umma, bukankah orang-orang suruhan appa tel-"
.
CKLEK
.
KRIET
.
BRAK
.
Percakapan namja yang menolong Jaejoong tadi terputus saat melihat Junsu keluar dari ruang perawatan yang ditempati Jaejoong. Namja itu pun memutuskan line teleponnya dan menghampiri Junsu. Raut wajah Junsu yang lemas karena berbagai pikiran membuat namja itu mau tak mau membayangkan hal negatif
tentang Jaejoong.
.
"ehem Junsu-ssi, bagaimana kabar Jae noona? Dia baik-baik saja kan?"
"...hiks..hiks...Jae unnie dia..dia..hikss...hikss..."
"Junsu-ssi waeyo? Apa yang terjadi cepat katakan!" namja itu semakin panik saat Junsu menangis tanpa sadar ia menggoyangkan bahu Junsu keras, berbagai bayangan Jaejoong muncul dikepalanya.
"Su-ie!" suara milik Yoochun menggema di sepanjang lorong lantai 4 rumah sakit itu. Yoochun yang masih lengkap dengan jas putih serta masker dan stetoskop yang menggantung dileher itu menghampiri Junsu yang menangis di atas kursi tunggu. Matanya melirik namja yang berdiri dihadapan Junsu. Tidak peduli seberapa lelahnya ia hari ini. Dengan peluh yang masih mengucur, Yoochun menghampiri Junsu dan memeluknya.
"Su-ie ada apa chagi? Kenapa menangis?"
"Yoo..yoochun hyung..." lirih namja tadi setelah melepaskan tangannya dari bahu Junsu
"Jonghyun, ada apa? kenapa Su-ie menangis?"
"Tadi..tadi Jaejoong noona kecelakaan karena menyelamatkan seorang anak kecil"
"hiks..hiks...chunie..jae unnie..hiks..hiks..."
"ada apa sayang? Bagaiman keadaan Jae noona? Kau yang memeriksa dia kan?" pertanyaan Yoochun perlahan membuat Junsu tenang. Yeoja itu lalu mengelap air matanya kasar dan menghela nafas, menetralkan pikiran dan hatinya
"Tadi, setelah aku mengobati luka-luka akibat kecelakaan Jae unnie, aku sengaaj membuka bajunya karena aku pikir siapa tahu ada luka di bagian yang tertutupi baju. Tapi yang aku lihat...hiks..yang aku lihat tubuh Jae unnie penuh dengan lebam dan memar Chunnie..hiks..hiks..dan..dan aku yakin itu hasil kekerasan..hiks.."
Junsu menjelaskan panjang lebar. Yoochun pun memeluk tubuh Junsu kembali, mencoba menenangkan istrinya yang sedang kalut. Jonghyun yang mendengar hal itu perlahan beranjak pergi meninggalkan Yoochun dan Junsu tanpa pamit.
"Sudahlah chagi, uljimara. Kita berdoa saja supaya Jae noona cepat sadar. Oh ya apakah anak kecil yang disebut Jonghyun tadi adalah Yunjae?"
"ne, Jae unnie menyelamatkan Yunjae tapi terlambat..hiks..hiks..YA! KAU KAN DOKTERNYA YUNJAE KENAPA DISINI? DIA KAN MASIH DIOPERASI KAU eempphhhhh"
"Su-ie! Ini rumah sakit. Tenanglah sedikit" Yoochun langsung membekap mulut Junsu saat Junsu membentaknya keras. Setelah yakin Junsu tenang ia pun melepaskan bekapannya.
"kau lupa kenapa aku pergi kerja duluan darimu? Itu karena aku ada operasi transplantasi jantung. Dan baru selesai tadi. Tenanglah Su-ie Yujae sudah ditangani dokter jantung yang lain." Setelah itu hening melingkupi mereka.
.
Sementara itu di basement rumah sakit, Jonghyun masih setia diam dibalik kemudinya tanpa ada niatan untuk pergi. Ia masih termenung memikirkan sesuatu. Di ambilnya sebuah gulungan kertas foto yang terikat rapih dengan pita merah dari dalam dashboard mobil. Di tariknya pita itu dan terpampanglah sebuah foto. Foto keluarga besar dengan gaya jaman dulu, sesaat Jonghyun tersenyum menatap foto itu. Diambilnya smartphone dari saku jaketnya
"Yoboseyo, aku ingin kau melakukan tugas yang aku berikan padamu kemarin dengan rapih"
Setelah memastikan perintahnya pada sang anak buah, mobil Jonghyun pun melesat membelah jalanan kota Seoul.
.
.
.
Author pov end
.
.
.
Jaejoong pov
.
"ngghhh..ahh...sakit.." aku melenguh kesakitan saat tersadar dari tidurku. Kukerjap-kerjapkan kedua mataku untuk menyesuaikan cahaya yang masuk melalui retina mataku. Baru aku sadar bahwa kini aku berada dirumah sakit, selang infus dan selang merah dari kantung darah tertancap rapih di punggung tangan dan lenganku.
"umma? Umma cudah cadal?"
Umma? Nuguya? Apa aku 1 kamar dengan orang lain? Tapi rasanya hanya aku yang sendiri dikamar rawat ini. Ku gerakan kepalaku kekanan dan kekiri tapi tak ada ranjang orang lain disini selain ranjangku
"umma, unjae dicini dibawah.." suara anak itu menginterupsi kegiatanku. Aku bangun perlahan berusaha untuk duduk. Aku meringis saat punggungku menyentuh tumpukan bantal yang sudah kususun untuk bersandar
"umma gwaenchana? Ini cemua calah unjae..hiks..kalau caja unjae tidak nakal umma pacti gak cakit hiks..hiks.."
"uljima adik kecil, aku tidak apa-apa, oh ya siapa namamu? Kamu pasti tersesat kan? Aku bukan ummamu"
.
CKLEK
.
"Jae unnie, kau sudah sadar?" perhatianku teralih saat Junsu masuk keruanganku. Ia pun tersenyum dan memelukku pelan, setelah berpelukan dia emnggendong anak kecil yang tadi bersamaku kedalam pangkuannya dan duduk dipinggir ranjangku.
"unnie, apa yang kau rasakan? Adakah sesuatu yang membuatmu kesakitan?"
"ani su-ie, unnie sudah baikan kok" kujawab dengan senyum agar junsu tidak khawatir
"oh ya su-ie sudah berapa lama unnie tidak sadar?"
"unnie koma sudah 10hari unnie"
"MWO? ahh auucchh..se..sepuluh hari?"
"unnie tenang saja ne, kecelekaan kemarin membuat kepala unnie bocor dan kehilangan banyak darah(?) sehingga harus dioperasi, mian sekarang kau harus pakai tudung kepala karena rambutmu kucukur semua. Tapi nanti setelah jahitannya kering dan sembuh benar kau boleh memakai obat penumbuh rambut kok"
.
Aku terkejut mendengar penuturannya, jadi sekarang aku botak? Hiks..hiks..umma..cobaan apa lagi yang kau dan Tuhan rencanakan? Aku hanya ingin menyelamatkan seorang anak tapi kenapa ini balasannya? Aku tulus menyelamatkan anak itu tapi kenapa aku yang menderita. Kenapa aku tidak mati saja sekalian dari pada menanggung beban terus-menerus? Kuusap air mata yang mulai mengalir.
"Su-ie, apakah ada yang tahu keberadaanku?"
"aniya unnie, hanya aku, yoochun dan jonghyun yang tahu"
"jonghyun? Ahh ya aku ingat. Kemana dia sekarang?"
"dia sedang ada pekerjaan unnie, dia minta maaf karena belum bisa menjengukmu" aku hanya tersenyum. Lalu kuperhatikan raut wajah anak kecil yang ternyata tertidur dipangkuan Junsu
"Su-ie dia siapa? Kenapa dada bagian kirinya menggembung?"
"ah dia adalah Yunjae, Kim Yunjae. Dia anak yatim piatu. Dulu dia tinggal dipanti asuhan tapi pihak panti menyerahkan Yunjae kesini untuk ditangani. Yoochun adalah dokternya jadi mereka dekat sekali tapi lama-kelamaan Yunjae juga dekat denganku dan sering memanggiku umma"
"umma? Tapi tadi dia juga memanggilku umma"
"haha dia mungkin merasa dekat sekali dengannmu unnie, dia selalu begitu bila dekat dengan seseorang"
"lalu kenapa dengan dada kirinya?"
"emm sebelum aku bercerita, bolehkan yunjae tidur diranjangmu? Kondisinya masih lemah"
"baiklah, kemari" kugeser sedikit tubuhku untuk memberi ruang tidur bagi yunjae, reflek ku elus-elus lembut rambut hitamnya yang lebat, dia menggeliat kecil. Lucu sekali membuatku tertawa.
"Su-ie ceritakanlah, kenapa juga anak ini bisa sampai dijalan waktu itu"
.
.
Flashback
"Annyeong yunjae-ah ^^, loh? Kenapa buburnya tidak dimakan sayang?"
"gak mau! Unjae maunya dicuapin cama uchun appa. Tapi uchun appa gak dateng-dateng hufftt"
"aegy, appa pagi-pagi sekali sudah harus bekerja, ada orang yang butuh pertolongan appa, jadi appa tak sempat jenguk yunjae disini. Yunjae tega orang yang mau appa tolong kesakitan karena Yoochun appa Yunjae tahan disini?"
"ani..ani umma, ne unjae akan makan bubulnya tapi umma yang cuapin unjae ne?"
"haha iya aegy, sini umma pangku"
.
.
"yunjae-ah, bagaimana? Kau senang bermain ditaman ini kan?"
"ne umma! Tapi kenapa unjae halus pake kulci loda? Unjae kan jadi gak bica tangkap kupu-kupu"
"nanti yunjae kelelahan karena lari sayang, lebih baik disini ne"
"tapi unjae mau tangkap kupu-kupu umma"
"aniya, yunjae harus tetap disini, jangan melawan umma, arraseo?"
"tapi umma..."
"ini umma belikan balon untuk yunjae, peganglah"
"hiks..kupu-kupu..kupu-kupu..UNJAE MAU CALI KUPU-KUPU!"
SRAK
DUG
TAP
TAP
TAP
"YUNJAE! Jangan lari kejalan sayang tunggu umma!"
"hiks..hikss..umma jahat...hikss"
"Yunjae jangan lari..."
"ummaaaaa..."
"JAE!"
Flashback end
.
"Setelah kejadian itu Yunjae koma dua hari tapi dihari ketiga ia mendapatkan donor jantung dan akhirnya Yunjae bisa menjadi anak yang tumbuh normal kelak. Dan Yoochun sengaja meletakkan plastik elastis berbentuk masker itu didada kiri untuk menutupi luka Yunjae agar tidak tersenggol oleh Yunjae."
"malang sekali nasib anak ini" tanganku masih setia mengelus rambutnya, dadanya naik turun beraturan menandakan nafasnya normal.
"unnie, lusa adalah pernikahanmu dengan Yunho oppa, apakah kau yakin menikah dengannya?"
"ne su-ie, pernikahan sudah didepan mata, jika dibatalkan akan merusak reputasi keluarga Jung dan Kim"
Aku menjelaskan dengan senyum getir. Entahlah apakah pernikahan itu berarti atau tidak untuk keluarga Jung dan Kim. Aku tidak perduli, hanya berstatus istri dari Jung Yunho saja sudah membuatku senang.
Mungkin jika cintaku dibalas oleh Yunho juga akan membuatku senang dan bahagia.
Mungkin jika aku mempunyai anak dari Yunho akan membuatku serasa wanita sempurna.
Mungkin jika aku bisa mempertahankan rumah tangga sampai kakek nenek akan membuatku merasa bisa mendidik anak-anakku dengan baik kelak.
Mungkin jika permintaan terakhirku dikabulkan Yunho akan membuatku bersyukur bahwa sampai akhir hidupku ada yang memperhatikanku.
Tapi itu semua hanya kata MUNGKIN yang aku harapkan.
.
.
.
.
At morning
"noona! Apa yang kau lakukan sepagi ini? Lukamu belum sembuh benar"
"unnie, kyaa sejak kapan rambutmu cepat tumbuh?"
"tenanglah su-ie, ini hanya wig untuk menutup kepalaku saja. Dan yoochun aku ingin pulang hari ini, besok adalah hari pernikahanku dengan yunho"
"tapi noona luka mu belum sembuh, jangan memaksakan diri"
"ne unnie, aku takut terjadi apa-apa nanti"
"nan gwaenchana, lagipula su-ie sudah memberikan aku resep obat jadi tak masalah"
"lukamu tak bisa dianggap sepele noona, lagi-"
"umma! Jae umma! Unjae kangen cama umma"
"yunjae sayang, sini umma gendong"
TAP
TAP
TAP
HUUPP
"hihihi umma neomu yeppo, emuachh"
"gomawo sayang, yunjae juga sanggggaatt tampan"
"oh karena ada jae umma, su-ie umma jadi yunjae lupakan. hufftt ayo chunnie kita keluar saja"
"anniiii..unjae juga cayang cama cu-ie umma cama uchun appa kok jangan pelgi umma, appa"
"hehe aniya sayang, tadi umma cuman bercanda"
"isshhh apoyo cu-ie umma, jangan cubit-cubit unjae"
"nah yunjae, sekarang jae umma mau pergi dulu ne. yunjae baik-baik disini sama su-ie umma dan chunnie appa"
"jae umma kok pelgi? Nanti yang temenin unjae tidul ciapa?"
"tenang yunjae, kan ada appa"
"tapi apa ngolok telus seling elus-elus pantat unjae waktu unjae tidul dilumah appa, kan geli"
"hahaha tenang aegy, ada su-ie umma, kita tidur berdua ne"
"ne! unjae mau tidul ama cu-ie umma, appa weekkk"
"hahahahaha yasudah yunjae, umma pergi dulu ne"
SREK
TAP
TAP
TAP
"chunnie appa gendong"
HUPP
"yunjae jangan nakal ne, ingat pesan umma semalam. Junsuie, Yoochun-ah aku pamit dulu ne"
"ne ahati-hati dijalan Jae noona"
"itu pasti Yoochun-ah"
"umma celing-celing jenguk unjae ne"
"iya sayang umma janji"
"unnie kami akan datang ke pernikahanmu besok"
"eu..a..ahh ne gomawo, annyeong"
Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan rawat yang selama ini kutempati. Dengan sekali langkah melewati batas pintu itu, maka drama hidupku dimulai kembali.
.
.
.
.
.
.
.
TBC/END? up to readers...
mianhae ne kalo xand updatenya lama..oh ya ini ff emang sengaja gak dipublish di fb dan hanya disini, tapi untuk kedepan mungkin bakal pindah rumah hehe.
SORRY FOR TYPO(S), CERITA NGAWUR, JUDUL GAK SESUAI, ANGST GAGAL, HUMOR GAGAL DLL.
AUTHOR MINTA SARAN DAN KRITIK NE :)
SORRY GAK BISA BALES REVIEW TAPI GOMAWO YANG UDAH REVIEW SEMOGA DAPET PAHALA.
SILENT READERS TANGGUNG DOSA AUTHOR :P
